PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 180


__ADS_3

Brak.....


Terdengar suara benturan dua benda keras di dalam ruangan. Sepasang mata dengan tajam menatap keempat lelaki yang berdiri sembari menundukkan kepala mereka.


Badan keempat lelaki terasa panas dingin, dengan kaki gemetar dan keringat menetes di dahi mereka. "Bodoh...!! Tolol...!! Bagaimana semua ini bisa terjadi...?!" tanya seorang lelaki tua berambut putih.


Tak ada yang berani bersuara, bahkan mengangkat kepala. Semuanya diam seribu bahasa, masih menundukkan kepala mereka karena rasa takut.


"Jawab...!! Jangan hanya diam saja...!!" bentak lelaki tua di depan mereka.


"Maaf bos. Maafkan kami." lirih salah satu lelaki, tetap dengan kepala menunduk.


Terdengar ketukan pintu dari luar. Yang malah membuat lelaki tua yang mereka panggil dengan sebutan bos bertambah marah. "Masuk...!!" serunya.


"Jangan sampai kamu seperti mereka. Yang datang hanya untuk melaporkan ketidak becusan saja....!! Katakan..!! Ada apa?!" serunya dengan intonasi hang meledak-ledak.


Glek... Seorang lelaki yang baru masuk menelan ludahnya dengan kasar. Sungguh, dirinya sama sekali tidak tahu dan tidak terlibat tentang kejadian ini. Tapi tetap saja terkena dampak kemarahan sang bos besar. Nasib menjadi bawahan.


"Bos, ada Revan di depan. Apa perlu saya suruh pergi." lapornya sembari memberitahu.


Sang bos terdiam sejenak. "Suruh masuk." perintahnya.


Tak berselang lama, Revan masuk setelah lelaki yang melapor pada sang bos keluar dari ruangan. Revan yang baru saja dari hotel, dan tidak tahu apa yang terjadi hanya menatap keempat lelaki yang berdiri dengan raut wajah penuh tanya.


"Terimakasih bos bayarannya. Senang sekali bekerja sama dengan anda." tukas Revan, setelah mengetahui ada tambahan uang di rekeningnya tadi pagi.


"Jika ada pekerjaan lagi. Saya siap. Asal dengan perempuan yang sama. Jujur, saya tidak suka berganti-ganti pasangan." tukas Revan.


Sesungguhnya, Revan sempat merasa aneh dengan Sapna. Lantaran setahu Revan, Sapna belum pernah berhubungan tubuh dengan lelaki.


Tapi Revan bangun, dia tidak menemukan bercak darah di atas sprei setelah semalam mereka melakukannya. Namun Revan berpikir realistis. Sebab memang semua perempuan tidak mengeluarkan darah keperawanannya saat pertama kali berhubungan dengan lawan jenis.


Sebab bisa saja selaput perawan mereka sobek saat melakukan aktifitas sehari-hari. Sehingga mereka para perempuan tidak mengeluarkan darah saat melakukan hubungan intim pertama kali.


Revan juga sempat berpikir cara Sapna bermain di atas ranjang. Sangat lihai dan liar. Namun lagi-lagi Revan berpikir positif. Jika Sapna melakukannya karena dia merasa takut, seandainya video sang mama tersebar.


Revan merasa jika ada yang tidak beres. Semua diam, dengan raut wajah yang berbeda. "Ada apa ini?" tanya Revan dengan mengerutkan dahi.


"Mereka sungguh tolol. Ponsel yang terdapat rekaman Irawan hilang." tukas sang bos memberitahu.


Kedua mata Revan langsung membelalak tak percaya. "Apa..!! Bagaimana bisa...??! Jangan bercanda...!!" tanya Revan tak kalah terkejut dengan sang bos.


"Tanya saja pada mereka." geram sang bos.


Revan memandang keempatnya dengan kesal. "Ckk... Kalian...!!!" geram Revan.


"Ceritakan apa yang terjadi?" tanya Revan menahan emosinya.


Rasa bahagianya langsung lenyap seketika tatkala mendengar apa yang terjadi. Padahal Revan sudah merasa senang. Selain mendapatkan uang, dirinya juga mendapatkan kepuasan di atas ranjang.


Ditambah, dirinya dengan mudah menemukan jalan menghancurkan Jevo lewat Mikel. Sebab yang ada dalam benak Revan, Mikel pasti akan merasa kecewa dengan Sapna. Sehingga dia akan patah hati. Terlebih jika tahu lelaki yang telah merenggut mahkota Sapna adalah dirinya.


Salah satu lelaki menceritakan apa yang mereka alami semalam dengan detail. Revan dan sang bos mendengarkan dengan seksama.


"Perempuan. Cantik dan seksi. Siapa dia?" tanya Revan, seakan menebak apa yang terjadi.


"Selain ponsel. Barang apa lagi yang hilang?" tanya Revan mencoba mencaritahu.


"Dompet kami. Serta barang berharga kami lainnya."


"Mobil?"


"Tidak."


Revan memandang sang bos. "Apa ini murni perampokan, atau memang....." ujar Revan dengan kalimat menggantung.


"Entahlah. Tapi, jika dilihat dari barang mereka yang juga diambil, kemungkinan besar adalah perampokan." ujar sang bos menyimpulkan.

__ADS_1


"Tapi kenapa mereka tidak mengambil mobil?" tanya Revan masih mencurigai sesuatu.


"Bisa jadi, karena mobil akan mudah dilacak." sahut salah satu lelaki yang menjadi korban semalam.


"Tutup mulut kamu. Dan jangan berani berbicara." kesal sang atasan.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Revan.


"Aki akan berusaha mencari tahu siapa perempuan itu. Semoga saja seperti apa yang kita pikirkan. Jika semua ini hanyalah perampokan biasa." tukas sang bos bermaksud menyelidiki.


Sang bos melihat Revan tersenyum samar. "Apa kami tahu sesuatu?" tanya bos menatap curiga pada Revan.


"Tenang saja. Lagi pula, video itu sekarang tidak terlalu penting. Kita tidak membutuhkannya." tukas Revan dengan yakin.


"Bagaimana jika video itu mereka sebarkan?" tanya salah satu korban semalam.


"Diam...!! Kenapa kamu malah memikirkan hal yang tidak berguna...!!" bentak sang bos.


Lelaki tersebut kembali menundukkan kepalanya dengan mengeraskan rahangnya. Tentu saja dia juga sakit hati. Sebab sedari tadi selalu dibentak.


Tapi mau bagaimana lagi. Dia dan yang lainnya hanya bisa diam dan pasrah. Mereka tidak ingin mendapatkan masalah. Atau yang lebih parah, nyawa mereka serta keluarga mereka terpisah dari tubuh.


"Mau video itu tersebar. Tidak berguna bagi kita. Tolol...." hardik sang bos.


Sang bos menatap Revan yang tersenyum penuh makna. "Apa maksud kamu?"


"Bukankah apa yang saya lakukan semalam dengan Sapna sudah cukup. Semua itu bisa kita gunakan sebagai senjata. Menekan Sapna." tutur Revan, membuat sang bos kembali tersenyum.


Sesungguhnya, Revan ingin sekali memiliki video tersebut. Hanya saja, Revan belum berani meminta pada mereka. Revan takut jika rencananya malah akan gagal. Dan dia malah tak mendapatkan uang.


"Benar juga." sahut sang bos tersenyum memandang Revan.


"Ha.... Ha... Hebat kamu anak muda. Kenapa aku tidak berpikir ke sana. Kamu seperti Gara. Sangat jeli. Sayang sekali, dia mengkhianati kami, dan dia sudah tidak ada di dunia ini lagi." cicitnya mengenang salah satu bawahannya yang kini malah menjadi lawan.


Revan hanya tersenyum. Tak berminat mencari tahu atau menanyakan siapa Gara. Baginya semua itu tidaklah penting.


Lagian, salah besar jika Revan disamakan dengan Gara. Kehebatan Revan benar-benar tidak ada sejentikan kehebatan Gara. Jauh berbeda.


Meski begitu, keempat lelaki yang berdiri dengan takut, sekarang bisa bernafas lega. "Dan kalian, jangan senang dulu. Kalian berempat akan tetap menerima hukuman." tegas sang bos.


"Baik bos." sahut keempatnya secara serempak.


Tanpa mereka ketahui, jika perempuan semalam bukanlah Sapna. Dan entah apa yang terjadi, jika mereka mengetahui hal tersebut.


Revan meninggalkan markas mereka dan kembali ke apartemen. Sungguh, sejujurnya Revan sangat malas untuk kembali ke apartemen. Sebab ada Claudia di sana.


Tapi tak mungkin Revan tidak pulang. Tak ada tempat lain yang bisa dia tuju, selain apartemen tersebut. Apalagi sang mama sudah pergi ke luar negeri untuk menghindari semua masalah yang ditimbulkan oleh sang papa.


"Kemana elo semalam?" tanya Claudia begitu Revan kembali ke apartemen.


Claudia duduk dengan menyilangkan kakinya. Menatap ke arah Revan dengan tajam. Dia memang sengaja menunggu kedatangan Revan, setelah semalam Revan tidak pulang ke apartemen.


"Bukan urusan elo." sahut Revan acuh, tanpa menatap ke arah Claudia.


Merasa tidak dianggap, Claudia langsung berdiri. "Revan,,,!! Tunggu...!! Elo pikir elo siapa?! Seenaknya memperlakukan gue seperti itu?!" teriak Claudia dengan emosi, tak terima dengan sikap Revan padanya.


Entah apa alasan Claudia mengatakan hal tersebut. Nyatanya, keduanya bahkan tidak memiliki hubungan spesial. Layaknya sepasang kekasih.


Mereka berdua mempunyai hubungan hanya sekedar karena saling membutuhkan. Hanya sama-sama membutuhkan partner di atas ranjang. Tak lebih dari itu.


Langkah kaki Revan langsung terhenti, mendengar Claudia seakan mengultimatum dirinya dengan perkataan yang menusuk hatinya.


Revan membalikkan badan, membuat dirinya dan Claudia saling bersitatap. "Elo hanya numpang. Jika elo banyak bertingkah, silahkan angkat kaki dari apartemen gue." ancam Revan mengusir Claudia penuh penekanan.


Revan merasa Claudia sekarang sama sekali tidak berguna untuknya. Ditambah sekarang Claudia sedang dalam masa terpuruk. Seperti dirinya. Sehingga dirinya tak perlu takut jika melakukan apapun pada Claudia. Karena Claudia tak akan bisa melakukan apapun yang akan mengancamnya.


Claudia melongo dengan kedua mata terbuka lebar mendengar perkataan Revan yang kasar. Tentu saja Claudia merasa di tampar dengan ucapan Revan yang dia rasa merendahkan dirinya.

__ADS_1


Dengan langkah cepat, Claudia mengikuti Revan masuk ke dalam kamarnya. "Jaga ucapan elo...!! Berani sekali mulut kotor elo berbicara seperti itu..!!" geramnya sembari menunjuk ke arah Revan penuh amarah.


Revan sama sekali tak mengindahkan keberadaan Claudia di belakangnya. Dia tetap dengan santai melepas pakaian yang melekat di tubuhnya, seakan tidak terganggu.


"Revan...!!" panggil Claudia karena Revan tidak menganggapnya.


"Diam Claudia..!! Elo pikir apartemen gue hutan...!!" geram Revan membalikkan badan dan menatap tajam ke arah Claudia, karena Claudia terus berteriak sedari tadi. Membuat gendang telinganya seakan mau pecah.


"Ingat. Ini tempat gue. Apartemen gue. Jika elo terus mengusik ketenangan gue. Enyah dari hadapan gue." tekan Revan memberikan ancaman untuk kedua kalinya.


Tampak kedua pundak Claudia bergerak naik turun. Menandakan nafasnya tidak terkontrol dengan baik karena amarah yang menguasai dirinya.


"Kenapa elo berubah?" tanya Claudia lirih.


Emosi yang sempat naik ke ubun-ubun berangsur menghilang. Claudia ingat, jika saat ini dirinyalah yang membutuhkan Revan. Pikirannya segera bekerja dengan cepat.


Claudia sadar, jika saat ini dirinya tidak mempunyai tempat untuk pergi mengadukan diri. Ke rumah Jevo. Mustahil. Yang ada dia akan ditendang sebelum pintu pagar terbuka.


Hanya Revan. Hanya Revan yang saat ini bisa Claudia andalkan. Sehingga Claudia dengan segera meredam emosinya. "Jangan sampai gue jadi gembel di jalanan." batin Claudia.


Dimana semua kartu kredit sedang dalam pengurusan oleh pihak bank, karena dirinya sempat dirampok. Ditambah, satu-satunya mobil yang Claudia miliki juga ikut raib.


Claudia sadar dirinya tak bisa bertindak seenaknya seperti dulu. Bertindak dan bersikap bagai seorang putri. Apapun yang diinginkannya pasti akan terwujud.


"Kita sama Revan. Sorry,,, gue nggak bermaksud membentak elo. Hanya saja,,, gue kesepian. Semalam elo ninggalin gue. Dan lihat, ini bahkan sudah sore hari elo baru kembali. Sejujurnya, gue juga khawatir. Gue nggak mau terjadi sesuatu sama elo." celoteh Claudia panjang lebar.


Revan tersenyum miring. "Seharusnya elo senang jika terjadi sesuatu sama gue. Elo bisa dengan bebas tingga di apartemen gue. Nggak usah sok peduli." cibir Revan.


"Dan lagi. Gue yakin, elo tidak khawatir sama gue. Tapi khawatir sama diri elo sendiri. Uang sepeserpun elo nggak punya. Pastinyakan perut elo juga butuh asupan." lanjut Revan mengejek Claudia.


Jleb..... Memang benar seperti itulah keadaannya. Claudia mendatangi Revan karena Claudia yakin jika Revan akan menampungnya.


Tapi Claudia tetap menahan emosinya. Meski dirinya ingin sekali berteriak dan memaki Revan serta menonjok wajah Revan yang membuatnya sangat muak.


Claudia berusaha untuk tersenyum setulus mungkin. "Terserah elo, mau percaya atau tidak. Gue nggak maksa."


Revan menggerakkan tangannya. "Keluar dari kamar gue. Gue mau istirahat." usir Revan sama sekali tidak peduli dengan Claudia. Apakah dia sudah makan atau belum.


"Oke. Gue hanya mengingatkan. Jika nanti malam ada pesta pertemuan para keluarga pebisnis. Dan gue mau datang. Jadi,,, gue harap elo bisa datang bersama dengan gue." ujar Claudia, keluar dari kamar Revan tanpa menunggu Revan mengatakan sesuatu.


"Pertemuan keluarga pebisnis." lirih Revan, mengambil ponselnya yang sudah dia taruh di atas ranjang. Lalu mengecek, apakah yang dikatakan Claudia benar, atau hanya akal-akalan Claudia saja.


Claudia kembali ke dapur. Menatap dapur di apartemen Revan dengan perasaan dongkol. "Apa gue harus makan mie rebus lagi." cicitnya, setelah semalam dan tadi pagi dirinya hanya makan mie.


Sebenarnya di apartemen Revan juga ada beras. Hanya saja, Claudia tidak bisa memasak nasi. Meski menggunakan rice cooker.


Bukan hanya beras. Di kulkas ada beberapa sayuran serta telur dan daging ayam. Dan juga bumbu masak. Hanya saja, memang Claudia tidak bisa menggerakkan tangannya untuk memasak.


"Mana buahnya sudah habis." keluh Claudia, sebab semalam dirinya memakan semua buah apel yang ada di kulkas untuk mengganjal perut. Tapi nyatanya dia tetap lapar. Alhasil dirinya memasak mie instans.


Dan semalam adalah pertama kalinya bagi Claudia memasak mie instan. Itupun dia melihat cara memasak mie instan dari kemasan atau bungkus mie instannya.


Memesan makanan. Sempat terbesit dalam benaknya untuk memesan makanan. Tapi dia tidak mungkin melakukan.


Benar kata Revan. Sepeserpun, dirinya tidak memegang uang. "Rampok sialan...!!" geram Claudia mengingat kejadian saat dirinya dirampok, padahal siang hari.


"Jangan terus memikirkan perut. Elo harus pikirkan, apa yanga akan elo pakai nanti malam untuk pergi ke pesta." ujarnya seraya bersedekap dada.


Claudia tersenyum samar. "Tasya. Bukankah dia punya gaun juga." cicit Claudia mengingat jika Tasya mempunyai gaun yang lumayan bagus.


Kenapa Claudia tidak tinggal di rumah Tasya? Tentu saja jawabannya, jika Claudia tidak akan mau tinggal di rumah Tasya yang dia katakan kecil. Padahal, rumah Tasya tidak sekecil itu.


Claudia segera menghubungi Tasya. Bak seorang majikan, meminta Tasya mengantarkan gaun serta sendal dan tas milik Tasya ke apartemen Revan. "Selesai." ujar Claudia setelah selesai menghubungi Tasya.


"Ckk,,,, perut gue lapar. Revan sialan...!! Pasti tadi siang dia makan di luar." cicitnya, menahan lapar karena siang tadi dia tidak makan.


"Bodoh. Kenapa gue nggak sekalian meminta Tasya untuk membawakan makanan." ujar Claudia tersenyum senang.

__ADS_1


Claudia kembali menghubungi Tasya dan meminta Tasya untuk membawakan makanan untuknya. Dasar tidak tahu malu. Benar-benar parasit yang hanya menyusahkan saja.


__ADS_2