
Bulan pergi ke toko pakaian sebelum pergi ke rumah keluarga rekannya yang meninggal dengan dalih kerampokan.
Tentu saja Bulan pergi ke sana dengan menyamar. Dirinya tidak ingin keberadaannya terlihat begitu mencolok. Bulan menyamar sebagai seorang lelaki.
Bulan tetap waspada, meskipun sudah menyamar. Dia menghentikan mobilnya tak jauh dari rumah orang yang akan dia datangi.
Kedua mata Bulan mengawasi sekitar rumah, serta jalan di sekitarnya. Bulan tersenyum miring. "Seperti dugaan gue. Bahkan sampai detik ini, mereka masih mengawasi keluarga ini." ucap Bulan.
Melihat seorang penjual dengan gerobak didepannya. Terlihat seperti penjual keliling. Tapi hanya diam di bawah pohon. Dengan mata mengawasi rumah rekan Bulan yang meninggal.
"Mana ada penjual seperti elo. Malam masih berjualan. Siapa yang mau beli." tukas Bulan dengan kesal.
Melihat gelagat dari lelaki di belakang gerobak tersebut. Bulan tak jadi bertamu ke rumah almarhum rekannya.
Bukannya Bulan tidak bisa melawannya saat dia menyerang. Tapi lebih kepada anggota keluarga yang hendak Bulan datangi.
Bulan takut, jika saat Bulan pulang. Mereka akan masuk ke dalam. Mengintimidasi mereka, karena baru saja ada tamu yang datang.
"Pasti mereka akan bicara jujur. Nyawa mereka lebih penting." ucap Bulan.
Karena Bulan datang bukan sekedar bertamu dan menyapa mereka. Tapi Bulan ingin menggali informasi. "Bisa jadi, mereka malah akan dibunuh. Karena gue datangi mereka."
Bulan memutuskan untuk pergi dari sana. Merasa penasaran, Bulan melajukan mobilnya ke alamat salah satu rekannya yang meninggal saat di lapangan bersama dirinya.
Kebetulan, satu diantara mereka tinggal di kota ini juga. Sementara yang satunya tinggal di luar kota.
Sama seperti di alamat pertama. Di sekitar rumah rekan Bulan yang telah meninggal, juga terdapat penjual gerobak keliling.
"Padahal mereka sudah tidak ada di dunia. Tapi, keluarga mereka masih di awasi." ucap Bulan dengan sebal.
Dengan semua yang dilihat, Bulan bisa menebak jika mereka masih getol mencari rekaman tersebut. Bulan memukul stir dengan kencang. "Sebenarnya rekaman apa yang mereka cari. Hingga tega melenyapkan nyawa orang."
Kedua tangan Bulan memegang stir dengan erat. Lalu membenturkan kepalanya dengan pelan di atas stir. "Rekaman apa yang mereka cari." ucap Bulan mengulanginya.
Bulan mencoba menebak dan berpikir. Kiranya dimana rekaman itu berada. Serta apa isi dari rekaman tersebut.
Sedangkan Bulan masih kebingungan dengan seputar rekaman. Ketiga muridnya sudah mulai menjalankan rencananya.
"Gue harus bisa." ucap Arya menyemangati dirinya sendiri, mulai memainkan jari jemarinya di atas keyboard.
"Dia keluar dari rumah." ucap Arya, memberitahu teman-temannya yang ada di lapangan.
"Mikel, dia menuju ke arah elo. Sekitar setengah kilometer lagi dia sampai. Elo bersiap." ucap Arya pada Mikel dan Jeno.
Mikel menyebar paku di sekitar jalan. Sehingga mobil target mereka akan berhenti terpaksa, karena ban mobil pasti akan kempes terkena paku.
Namun Mikel tak seceroboh itu, dia menggunakan penutup wajah. Dan juga beberapa perlengkapan lain agar wajahnya tidak terlihat.
Untuk kamera CCTV yang terpasang di beberapa titik jalan, mereka tidak terlalu mencemaskannya. Sebab Arya segera menghapus kamera yang menyorot para sahabatnya tersebut setelahnya.
"Jeno,,, elo bersiap." seru Mikel dari alat kecil yang tertempel di telinga. Yang mereka gunakan sebagai alat komunikasi.
Mikel segera berlari dan bersembunyi, saat terlihat mobil sang dokter gadungan dengan santai melaju melewati paku yang sudah Mikel sebarkan.
"Mampu elo." tukas Mikel tersenyum jahat.
Semua berjalan dengan baik. Mobilpun berhenti karena bannya kempes. Membuat dokter gadungan turun dan mengecek mobilnya.
Ditendangnya ban mobil yang kempes. "Sial...!!!" serunya melampiaskan amarahnya.
Di lihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Gue bisa kemalaman kalau begini." geramnya. Padahal tangannya sudah sangat gatal ingin melenyapkan Serra.
Sebuah mobil yang tak kalah bagus dari mobil miliknya berhenti tepat di depannya. "Dokter. Mau ke mana?"
Dia mengernyitkan keningnya, saat lelaki yang menurutnya berwajah aneh dengan gigi tongosnya keluar dari dalam mobil tersebut.
"Dokter mau ke mana?" tanya Jeno lagi, dengan penampilan anehnya. Sebab lelaki di depannya menatapnya dengan perasaan jijik.
Padahal, wajah aslinya lebih menyeramkan dari pada wajah Jeno yang saat dia lihat. "Dia tahu pekerjaan gue. Jadi, bisa jadi dia kenal gue." batinnya.
Segera dia memasang senyum di bibirnya. "Ini, saya mau ke rumah pasien. Tapi ban mobil saya kempes." ucapnya melihat ke arah ban mobilnya.
"Sebagai asisten pak dokter, saya siap mengantar bapak." ungkap Jeno, langsung menyebutkan perannya di sini.
"Kena juga gue tipu." batin Jeno.
__ADS_1
Lelaki tersebut tersenyum hambar. "Oohh... iya. Asisten saya." cicitnya dengan ekspresi waja aneh.
Jeno menarik begitu saja lelaki tersebut. Dan mendorongnya masuk ke dalam mobil. Jeno tersenyum menatap Mikel di persembunyiannya.
Jeno memutar balik mobilnya. Mengarah ke rumah Serra. "Bagaimana kamu bisa tahu, saya mau kemana?" tanyanya, menatap Jeno curiga.
Jeno tetap tenang dan santai. "Astaga pak, sayakan asisten pak dokter. Bagaimana sih bapak." ucapnya disertai kekehnya.
Lelaki itu mengangguk percaya. "Bagaimana keadaan Nona Serra, dok?" tanya Jeno, untuk lebih menyakinkan sang dokter abal-abal jika dirinya benar-benar asistennya.
"Jauh lebih baik." sahutnya singkat.
Beberapa kali dia mencuri pandang ke arah Jeno yang sedang menyetir mobil. "Gue tahu, apa yang ada di dalam pikiran elo." tebak Jeno dalam hati.
Tentu saja lelaki di sampingnya sedang mengumpat. Kehadiran sang asisten akan membuat semua rencananya gagal berantakan. "Kenapa gue nggak tahu, jika dokter sial ini punya asisten. Pasti akan merepotkan." ucapnya dalam hati, mengeluh.
"Sampai pak. Mari saya temani. Maaf, jika dokter beberapa kali ke sini, saya tidak ikut. Karena waktu itu saya benar-benar tidak enak badan."
Dengan santai, tanpa menunggu dokter abal-abal, Jeno keluar dari mobil. "Terkejut kan elo." batin Jeno yang akan menjadi bayangan dokter tersebut.
"Apa maksudnya. Dia,,, dia ngikutin gue." dia masih terdiam di dalam mobil Jeno.
Pandangan Jeno melihat ke sekeliling. Dimana ada beberapa pihak keamanan yang masih berjaga di sana. "Mereka jaga, apa main ponsel." ucap Jeno dalam hati.
Melihat semuanya sibuk dengan ponsel. "Serra matipun, pasti tidak ada yang tahu."
Jeno tersenyum ke arah mobil. "Ayo dok." ajak Jeno dengan polos.
"Sial, jika dia terus menempel seperti parasit, gue akan menjadikan elo koleksi gue juga." ancamnya.
"Tapi gue harus selidiki dulu siapa dia." tukasnya, dengan langkah berat turun dari dalam mobil. Dirinya sama sekali tidak tahu, jika ada kejutan besar di dalam rumah Serda.
Sedangkan Jevo sudah berada di dalam rumah Serra bersama teman Serra lainnya. Mereka tampak bercengkerama. "Sepertinya elo sudah tidak memerlukan dokter." celetuk Jevo.
Jevo bisa masuk ke rumah Serra, sebab dirinya ternyata kenal dengan teman dekat Serra. Jevo juga kenal dengan Serra. Tapi hanya sebatas tahu.
Dan malam ini, Jevo harus memainkan peran dengan totalitas. Dia akan meracuni otak Serra dan juga kedua orang tuanya.
Jika Serra sudah tidak membutuhkan dokter lagi. Sehingga dokter tersebut tidak lagi di pakai oleh keluarga Serra. "Jika gue berhasil, dan dia tahu jika gue yang telah menyarankannya. Pasti dia akan murka dan marah sama gue." batin Jevo.
Dan itu artinya rencana mereka berhasil, dan tidak gagal. "Tante juga berpendapat seperti itu." timpal mama Serra.
"Dokter pasti akan bilang iya. Karena Jeno yang akan mengambil alih semuanya, Hingga dokter gadungan akan mengatakan oke." ucap Jevo dalam hati.
"Rencana Bulan memang hebat." pujinya dalam hati.
Tal berselang lama, dokter gadungan datang bersama sang asisten, siapa lagi jika bukan Jeno. "Maaf, jika sebelumnya saya tidak pernah datang mendampingi pak dokter saat berkunjung ke sini. Saya saat itu dalam keadaan hang kurang baik." cicit Jeno.
"Saya asisten pribadi pak dokter." lanjut Jeno memperkenalkan diri.
Tak mau membuang waktu, Jeno langsung memberi kode pada Jevo. "Saya rasa Serra sudah sembuh. Lihat, dia sudah bisa berinteraksi dengan nyaman pada kita." celetuk Jevo.
Sang dokter menatap Jevo dengan tatapan tak suka. Jevo dan Jeno selalu mengingat perkataan Bulan. Jika lelaki tersebut tak pandai menutupi rasa kesalnya.
Oleh karena itu, tugas Jevo membuat kesal dia. Dan Jeno, memperkuat apa yang dikatakan Jevo. Sehingga dokter gadungan tersebut lebih memilih untuk segera keluar dari rumah Serra. Karena tak tahan menahan rasa kesalnya sedari tadi.
"Benar, beberapa hari yang lalu pak dokter juga mengatakan hal yang sama kepada saya. Benarkan pak?" timpal Jeno.
"Ya." sahutnya dengan singkat. Sebab dia sendiri jiga tidak tahu, apa yang dikatakan sang dokter pada asistennya. "Brengsek. Gue seperti orang tolol." umpatnya dalam hati, sebab dia sama sekali tak bisa bergerak sesuai keinginan.
Jevo dan Jeno tersenyum samar. Tampak jelas, jika dia sudah terpancing emosinya. Dan sedang menahan amarah.
"Beliau juga mengatakan, jika ini adalah kunjungan terkahir. Bukan begitu dok." tukas Jeno.
"Benar." sahutnya, lagi-lagi hanya bisa mengikuti apa yang Jeno katakan, seperti seekor kerbau.
"Orang seperti elo ternyata mudah dibohongi juga." ucap Jeno dalam hati.
Tak ingin emosinya meledak di ruangan ini, dia segera pamit. Jeno yang hendak mengantarkannya juga ditolak. Dengan alasan tak ingin merepotkan.
Arya melihat dari layar, segera menghubungi Mikel. "Rencana berjalan tanpa halangan. Dia keluar dari rumah. Elo harus bersiap."
"Oke." sahut Mikel dengan senang.
Tugas Jevo dan Jeno selesai. Keduanya segera pamit pada kedua orang tua Serra serta Serra. Tapi keduanya tak keluar bersamaan. Ada jeda waktu yang mereka atur.
__ADS_1
Keduanya segera kembali ke markas. Sesuai apa yang diperintahkan oleh Bulan.
Sedangkan Mikel, melakukan tugasnya. Mengikuti kemana arah taksi yang ditumpangi dokter gadungan tersebut akan berhenti.
"Kenapa berhenti di tempat seperti ini." cicit Mikel. Saat taksi yang lelaki tersebut tumpangi berhenti di pinggir jalan. Yang sama sekali tak ada rumah disekitar.
Mikel segera membelokkan mobil masuk ke dalam tumbuhan ilalang, supaya tidak terlihat. "Apa yang harus gue lakukan." Mikel merasa ragu, turun dari mobil. Mengikuti dia, atau pergi meninggalkan tempat itu.
Segera Mikel menghubungi Bulan. Belum sempat dia menghubungi Bulan, ponselnya sudah menyala lebih dulu. Yakni Bulan menghubungi dirinya. Menyuruh Mikel kembali ke markas. Sekarang.
Segera Mikel berputar arah. Kembali ke markas. "Huh....!!" teriak Arya merasa plong, misi mereka berjalan dengan lancar.
Beberapa menit, semua kembali berkumpul di markas. Bulan menjelaskan detail rencana pada keempat muridnya.
Bulan menyimpulkan, jika lelaki psiko tersebut mempunyai rasa marah jika mainannya di rebut oleh orang lain.
"Jevo dan Jeno berhasil, dengan begitu dia akan dendam dan kesal pada kalian. Tak mustahil, jika kalian adalah target selanjutnya." papar Bulan.
Dan untuk itu, Bulan juga sudah menyiapkan sebuah rencana. Tentu saja membuat biodata palsu tentang mereka berdua. Dan pastinya, keluarga keduanya sama-sama kaya, dan pastinya lebih kaya dari keluarga Rio.
"Semoga, dia melepaskan wanita yang tak berdosa itu." cicit Bulan.
Merasa kasihan pada seorang wanita yang bermaksud menyayangi putranya. Tapi ditipu oleh bajingan tersebut.
Ditambah, dia akan fokus melenyapkan Jevo atau Jeno. Sehingga dia akan kembali mengesampingkan Serra. Dengan begitu, dia pasti akan memerlukan topeng baru lagi.
"Dari mana dia bisa mendapatkan informasi secepat itu." ucap Bulan dalam hati.
Bukan hanya Jeno. Ketiga temannya mempunyai pemikiran yang sama seperti Jeno. "Kalian pulanglah ke rumah masing-masing." pinta Bulan, sebab besok adalah hari senin, dan mereka akan kembali masuk sekolah seperti biasa.
"Baik bu." ucap keempatnya serempak.
Setelah mereka berempat meninggalkan markas, kini Bulan sendirian di dalam. Dia tersenyum samar. "Pasti orang yang selalu membuntuti gue sekarang bingung setengah mati." ujar Bulan disertai kekehan yang lucu.
Bagaimana tidak. Sudah lebih dari lima jam, mobil Bulan masih terparkir di perpustakaan pusat yang berada di kota. Namun, perpustakaan sudah tutup. Dan Bulan beluk terlihat keluar dari perpustakaan tersebut.
Bulan menyenderkan badannya di kursi empuk yang baru saja di bawa oleh Arya. "Nyaman juga." ujar Bulan, sambil memejamkan kedua matanya.
Saat memejamkan kedua matanya. Barulah Bulan teringat sesuatu. Dimana, salah satu rekannya pernah mengatakan tentang sebuah lubang rahasia di samping pintu rahasia yang terdapat di pintu berbahaya yang ada di markas.
Yakni, jika kita membuka pintu tersebut. Yang terdengar adalah lolongan serigala liar, serta bau anyir dam bau tidak enak, yang menyesakkan indera penciuman.
"Apa mungkin di sana." tebak Bulan.
Bulan menatap ke arah pintu tersebut. Tidak ingin membuang waktu, segera Bulan mempersiapkan diri. Memakai beberapa pelindung badan. Dan juga menyiapkan senjata bius untuk para serigala.
Bulan hanya sekali membunuh serigala tersebut. Yakni saat serigala hendak menyerang murid-muridnya. Dan itu terpaksa Bulan lakukan.
Bulan membuka kunci pintunya. Dengan perlahan tanpa menimbulkan suara, ditutupnya kembali pintu tersebut. Dan di kunci dari dalam.
Bulan menghela nafas dan menghembuskan dengan perlahan. Dirinya tidak berlari, tapi berjalan seperti kapas. Ringan dan tak menimbulkan suara.
Sampai. Bulan sampai di tempat yang Bulan prediksi adalah pintu rahasia. Sampai di sini, semua aman terkendali. Keberadaannya sama sekali tidak disadari para hewan liar tersebut.
Bulan meraba tembok. Serasa ada yang menonjol, Bulan menekannya. Dan pintu terbuka. "Berarti ada di sekitar sini."
Bulan kembali menutup pintu. Dan meraba setiap tembok di sisi-sisi pintu dengan nalurinya. Merasa ada yang janggal. Bulan meraba dengan penuh perasaan. "Ini. Pasti ini." tebak Bulan.
Bulan ingin membukanya. Tapi dirinya sudah kedatangan tamu yang tak dia harapkan. Bulan menengok ke samping.
Tak banyak bicara. Bulan menembak satu persatu dengan pistol bius yang ada di kedua tangannya.
Hampir satu menit, Bulan melepaskan tembakan tersebut. Dan mereka semua terkapar di bawah tak sadarkan diri.
Bulan menetralkan nafasnya kembali. Dan mulai membuka tempat penyimpanan rahasia yang dia perkirakan tempatnya.
Bulan tersenyum senang. Dia melihat ada sebuah kaset seperti DVD berukuran kecil di dalamnya. Tangan Bulan hendak terulur. Tapi Bulan menyadari ada bahaya di belakangnya.
"Sial, bagaimana dia bisa sadar secepat itu." batin Bulan, mendengar suara serigala di belakangnya.
Bulan membalikkan badan bersamaan dengan serigala yang melompat hendak menerkamnya. Keduanya berguling ke bawah.
Dengan terpaksa, Bulan mengambil sebuah pisau kecil yang selalu dia bawa kemana-mana. Bulan Menyingkirkan tubuh serigala yang menimpa tubuhnya.
Segera Bulan bangun, mengambil rekaman tersebut, dan kembali ke atas. Darah terus mengalir dari beberapa anggota tubuh Bulan yang terkena cakaran serigala tersebut.
__ADS_1
Bulan menyimpan rekaman tersebut, lalu mengambil kotak obat. Kedua mata Bulan seakan buram. Bulan terus menggeleng, berharap kesadarannya tetap ada.
Tapi, akibat gigitan dan cakaran yang lumayan banyak, membuat Bulan akhirnya pingsan.