PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 140


__ADS_3

"Siapa?" tanya Jeno tak sabaran, manakala ponsel Gara berdering. Menandakan ada panggilan masuk.


Jeno dan Jevo menoleh ke belakang, di mana Gara duduk di kursi tersebut. "Bulan." sahut Gara, segera menggeser gambar berwarna hijau. Mengangkat panggilan telepon dari Bulan.


Gara hanya diam, tak mengatakan sepatah katapun. Mendengarkan dengan seksama apa yang Bulan katakan di seberang telepon. "Baik." ujar Gara, mematikan sambungan teleponnya dengan Bulan.


Sedangkan Jevo dan Jeno juga tak banyak bertanya. Keduanya tak ingin mengganggu, dan memilih menunggu Gara selesai berbincang dengan Bulan. "Bagaimana?" tanya Jeno begitu Gara mengakhiri telepon mereka.


"Bulan menyuruh kita menyusul. Menyerang dari beberapa arah." jelas Gara.


"Apa yang terjadi?" tanya Jeno mendadak bertambah cemas. Pasalnya tak mungkin Bulan memutuskan untuk mereka ikut terlibat, jika dia tidak dalam keadaan terdesak.


"Kemungkinan besar mereka sudah menyadari jika kedua tawanan mereka hilang tidak ada di tempatnya." sahut Gara.


"Dan itu artinya, mereka sudah mengetahui jika ada penyusup yang masuk." timpal Jevo.


"Sial,,, jika mereka sampai melihat kamera CCTV, pasti mereka akan mudah menemukan Bulan." tukas Jeno semakin khawatir dengan keselamatan mereka yang berada di sana. Terutama sang kekasih, Bulan.


"Tenang saja, kamera sudah gue sabotase. Bukan hanya itu, gue merusak sistemnya. Sehingga kamera di sana tidak akan berfungsi." jelas Gara, membuat Jeno dan Jevo menghela nafas lega.


"Syukurlah." lirih Jeno.


"Panggil Arya dan Mikel. Gue akan mengatakan masing-masing tugas kalian." pinta Gara.


Jevo maupun Jeno tak ada yang keluar dari mobil. Jevo mengambil ponselnya untuk menghubungi Mikel yang berada di mobil belakang mereka.


Tak berselang lama, Mikel dan Arya bergabung dengan mereka. Duduk di kursi belakang bersama Gara yang duduk di tengah-tengah mereka.


"Kalian siap?" tanya Gara memastikan tak ada keraguan dalam benak dan hati mereka.


Gara tidak ingin, tersisa rasa takut dalam hati mereka. Yang nantinya malah akan membuat rencananya gagal berantakan.


"Siap." sahut keempatnya serempak.


"Bulan menginginkan tidak ada yang bisa keluar daei rumah itu." tukas Gara menatap keempatnya secara bergantian.


"Tunggu,, maksud elo..." sahut Mikel menggantung perkataannya.


"Bulan menginginkan kita membungkam semua mulut mereka." timpal Jevo menebak arti perkataan Gara.


"Tepat." tegas Gara.


Arya terdiam. Menundukkan kepalanya. "Jika elo tidak sanggup, elo tidak perlu bergabung. Tetaplah berada si dalam mobil." jelas Gara melirik ke tempat Arya.


"Jangan terlalu lama. Atau mereka akan menemukan Bulan lebih cepat dari kita." pinta Jeno, menginginkan mereka bergerak sekarang.


"Gue ikut." celetuk Arya.


"Elo yakin. Ini bukan permainan. Nyawa elo taruhannya." ujar Mikel mengingatkan. Dan mendapat anggukan dari Arya.


"Baiklah. Gue akan katakan apa yang harus kalian lakukan. Dan kalian harus tahu. Bukan gue yang merencanakan penyerangan ini. Tapi Bulan." jelas Gara.


Berharap dengan membawa nama Bulan, mereka akan melakukan sesuai dengan arahannya. Terutama Jeno. Yang sedari tadi ngotot untuk menyusul Bulan.


Namun Gara bersyukur karena getolnya Jeno meminta alamat rumah yang Bulan sambangi, dirinya akhirnya memberitahu, bahkan juga ikut andil.


Jika saja Jeno tidak memaksa untuk menyusul Bulan, Gara bisa menebak apa yang terjadi. Bulan akan berjuang seorang diri melawan mereka semua.


Gara tidak meremehkan kemampuan yang Bulan miliki. Kembali lagi, untuk apa Bulan mendatangi rumah tersebut. Pastinya nyawa mereka berdua adalah prioritas utama untuk Bulan.


Gara hanya khawatir, jika Bulan akan mengorbankan nyawanya dirinya demi mereka berdua. Apalagi Gara tahu bagaimana sifat dari sahabatnya tersebut.


"Katakan dengan segera." pinta Jeno mendesak Gara. Dirinya tak ingin sampai terlambat datang. Yang malah akan membuat Bulan dalam posisi berbahaya.


Semua yang berada di dalam mobil mengerti dengan sikap kekehnya dan ngototnya Jeno. Semua tak lantas menyalahkan Jeno. Sebab Jeno bertingkah seperti itu tak lepas dari rasa cinta dari Jeno yang begitu besar terhadap Bulan.


Gara mengatakan rencananya pada keempat lelaki tersebut. Juga posisi mereka saat melakukan penyerangan.


Jeno dan Jevo beserta Arya dan Mikel mendengarkan dengan seksama. Tak ada yang bersuara. "Bagaimana? kalian paham? Tanyakan saja jika ada gang tidak kalian mengerti." tanya Gara sekaligus meminta mereka berkata dengan jujur.


"Berarti, kita harus membunuh mereka?" tanya Arya yang memiliki keraguan.


"Mereka semua bersenjata Arya. Bukan senjata kosong tanpa amunisi. Sama seperti kita. Jika elo ingin nyawa elo selamat, elo harus menghilangkan nyawa mereka." jelas Mikel dengan gamblang.


"Seperti kata Gara. Elo akan tetap berada si dalam mobil. Menunggu kita. Dan tidak perlu ikut, jika ada sedikit keraguan di hati elo." tukas Jevo menegaskan.


Kesabaran Jeno sudah mulai menghilang. "Bisa kita berangkat sekarang." pinta Jeno yang merasa malah akan membuang waktu jika menunggu kesiapan dari Arya.

__ADS_1


"Kalian berdua keluarlah. Kembali ke mobil kalian. Kita berangkat sekarang." ujar Jevo.


Arya dan Mikel segera keluar dari mobil, untuk kembali ke mobil mereka. Jeno segera melajukan mobilnya begitu Arya dan Mikel keluar dari mobil.


"Hentikan mobil tepat di depan rumah. Asal jangan di depan gerbang pintu keluar masuk." tukas Gara memberitahu Jeno.


Di belakang mereka, mengekor mobil Mikel yang juga ada Arya di dalamnya. Mikel melirik ke arah Arya yang terlihat gusar. "Sebaiknya elo tetap berada di dalam mobil. Tidak perlu keluar." ujar Mikel.


Mikel hanya takut, rasa ragu di hati dan benak Arya malah akan mencelakakan Arya sendiri. Mikel hanya tidak ingin melihat Arya berada dalam bahaya.


Apalagi mereka akan berhadapan dengan kelompok yang membawa senjata api. Mikel takut Arya malah akan terkena peluru lawan.


Arya terdiam dan menyahuti apa yang Mikel katakan. Terlihat Arya sedang berpikir apa yang akan dia lakukan.


Mikel menghentikan mobilnya, begitu mobil di depannya juga berhenti. Dia segera keluar dari dalam mobil tanpa mengajak Arya, begitu melihat Jevo dan Jeno juga keluar dari mobil.


"Ingat,,, besok kalian akan ujian kenaikan kelas." cicit Gara mencairkan ketegangan mereka.


"Tenang saja, kita tidak akan terlambat bangun." celetuk Mikel.


Tidak ada yang menanyakan atau menatap Arya di dalam mobil. "Kalian bertiga jangan khawatir. Jika ada yang melarikan diri, itu jatah gue." tukas Gara.


Ujung satu bibir Gara terangkat ke atas, seraya mengeluarkan sebuah pistol dari dalam sakunya.


"Elo juga bawa?" tanya Mikel terkejut.


"Cukup kaki gue yang nggak berguna. Bukan kedua tangan gue." tegas Gara.


Jeno dan Jevo beserta Mikel tersenyum sembari mengangguk pelan. "Kalian membawa inikan?" Gara membuka telapak tangannya, memperlihatkan peluru dalam genggamannya.


"Tenang saja. Gue bisa menembak lebih dari dua puluh lima orang." ujar Mikel dengan percaya diri.


Gara tersenyum. "Mulailah bergerak. Berpencarlah. Bulan menunggu tanda keberadaan kalian." tukas Gara yang mendapat anggukan dari ketiganya.


Sepeninggal Jeno dan Jevo juga Mikel, Gara berusaha sendiri berpindah tempat duduk. Dirinya berpindah ke kursi depan. Tepatnya di samping kursi kemudi.


Gara sengaja tidak meminta tolong pada mereka. Tentu saja Gara tak ingin merepotkan mereka, hanya untuk masalah yang menurutnya sepele.


Gara menghela nafas panjang setelah dia berhasil duduk di kursi yang dia inginkan. Sembari menormalkan kembali deru nafasnya, Gara menatap ke arah belakang daei kaca pantau di depannya.


Gara yakin, Arya bukan seorang yang pengecut. Atau seorang yang hanya bisa berdiam diri di saat para temannya dalam kesulitan.


Hanya saja, saat ini Gara merasa Arya dalam dilema. Apalagi dia harus menggunakan pistol. Yang artinya dia akan melenyapkan nyawa seseorang jika ingin bertahan hidup.


Pasti sesuatu yang berat untuk seorang Arya yang belum pernah melakukannya. Untuk Jeno, jangan tanyakan lagi. Meski dirinya selalu berpenampilan cupu, buktinya pertama kali dia bertemu dengan Bulan saat menyelinap ke area sekolah di tengah malam.


Dan Jevo, pastinya dia memang suka kekerasan. Terlihat saat dia dengan santai berada di club malam. Bahkan dia terlihat begitu berkuasa di sana. Bisa ditebak, jika Jevo pastinya lebih dari sekedar pengunjung di sana.


Sementara untuk Mikel, Gara dan Bulan menebak jika dia orang yang banyak teka-teki. Terbukti villa yang menjadi tempatnya menyembunyikan kakek Timo dan Rio beserta mamanya tidak diketahui oleh kedua orang tuanya.


Tapi Bulan maupun Gara tak menyelidiki mereka lebih lanjut. Bagi Bulan, semua orang mempunyai privasi. Dan Bulan menghargainya.


Seperti yang dikatakan Gara, ketiganya berpencar untuk melakukan penyerangan. Gara tetap berada di dalam mobil. Sesuai dengan perkataannya, dia akan menanti musuh yang hendak melarikan diri. Melumpuhkannya dari dalam mobil.


Mikel menyerang dari belakang rumah, sedangkan Jevo dan Jeno dari samping. Ketiganya memanjat tembok pagar.


Gara tidak menyuruh mereka masuk ke dalam. Cukup menyerang mereka dari luar. Dan semua itu Bulan yang menyuruhnya. Entah apa yang Bulan rencanakan.


Dor...... tembakan pertama dilepaskan oleh Jeno. Dengan menembak di tempat seorang penjaga tepat di kepalanya. Jeno tersenyum miring. "Sayang,,, aku datang." lirih Jeno.


Sontak tembakan dari Jeno membawa perubahan besar. Nyonya Irawan dan Sapna segera memastikan semua jendela terkunci rapat dari dalam. Menutup semua gorden dan mematikan lampu. Mereka berdua mengintai dari balik gorden.


"Ma,,, semoga Bulan baik-baik saja." tukas Sapna merasa khawatir sekaligus merasa bersalah.


Mereka berdua bersembunyi, sedangkan Bulan berada di luar. Berjuang untuk keselamatan mereka. "Tenang. Bulan bukan perempuan lemah seperti kita." sahut Nyonya Irawan menenangkan sang putri.


Pada kenyataannya, Nyonya Irawan juga merasa cemas dan takut dengan keadaan Bulan di luar sana. Terlebih beliau sudah mendengar suara tembakan.


Dan Arya yang masih berada di dalam mobil tersentak, dia terkejut mendengar suara tembakan. "Sudah di mulai." lirihnya. Entah apa sekarang yang ada di dalam pikiran Arya.


Untuk Gara, kedua sudut bibirnya terangkat ke atas dengan sempurna setelah mendengar suara tembakan. Pastinya Gara merasa senang. Setelah sekian lama berpuasa memegang senjata, akhirnya dia bisa berbuka puasa.


Gara memejamkan kedua matanya, menghela nafas panjang, membuka kembali kedua matanya dengan sebuah pistol siap di tangannya.


 Bulan segera mencari tempat begitu mendengar suara tembakan sahut menyahut dari luar. Apalagi semua penjaga yang berada di dalam berhamburan keluar rumah untuk mencari tahu apa yang terjadi.


Di tangannya, Bulan tetap memegang pistolnya dengan sikap siap. Siapa tahu masih ada penjaga yang tersisa.

__ADS_1


Memastikan tak ada penjaga di dalam rumah, Bulan berlari menuju ke semua jendela dan pintu. Menguncinya dari dalam. Menutup gorden dengan segera.


"Manusia bodoh. Hanya mendengar suara tembakan semua meninggalkan tempat yang paling inti." ujar Bulan menyeringai.


Langkah kaki Bulan terhenti, saat mendengar derap sepatu dari tangga. Terdengar ada yang menuruni anak tangga dengan cepat. "Lebih dari satu orang." cicit Bulan menebak.


Bulan bersembunyi di balik tiang, dengan mengarahkan moncong pistol ke arah tangga. Bulan melepaskan tembakan begitu dia melihat tiga lelaki menuruni anak tangga.


Bulan berlari ke arah mereka. Mengambil pistol mereka untuk dia simpan dan digunakan nanti. Bulan segera mematikan semua lampu yang berada di lantai dasar.


Beberapa penjaga yang menyadari ada penyusup di dalam rumah, berteriak sembari berusaha masuk dengan mendobrak pintu.


Bulan duduk di kursi dengan santai. Menunggu siapapun yang melewati pintu atau jendela untuk menjadi target selanjutnya.


Prang..... Mereka berhasil memecahkan kaca jendela dan masuk ke dalam. Sayangnya, baru beberapa langkah mereka harus mendapatkan serangan dari Bulan.


Dengan dimatikannya lampu di dalam rumah, mereka tidak bisa melihat posisi Bulan. Sehingga membuat Bulan semakin mudah untuk menghabisi mereka tanpa ampun.


Bulan berdiri. Dengan memegang senjata di kedua tangannya, Bulan berjalan menuju ke jendela yang telah di rusak.


Duduk berjongkok di samping jendela. Menyerang mereka yang berada di luar dengan senjata di tangannya.


"Aaaaa.....!!"


Bulan segera berlari ke arah suara. Dimana pemilik suara tersebut adalah Sapna, putri dari atasannya.


Bulan langsung mendobrak pintu, dan langsung masuk. Dor.... Tanpa basa-basi, Bulan melesatkan sebuah tembakan ke arah jendela yang sudah terbuka.


"Tiarap...!!" seru Bulan, berlari mengambil meja untuk melindungi dirinya dari tembakan.


Nyonya Irawan langsung menarik tangan sang putri. Mengikuti intruksi yang dikatakan Bulan.


Bulan beralih ke sisi lain. Sebab meja yang dia gunakan untuk berlindung pasti akan hancur terkena tembakan.


"Masuk ke kolong ranjang." perintah Bulan.


Nyonya Irawan dan Sapna menggelindingkan tubuh mereka hingga keduanya berada di bawah ranjang tempat tidur.


"Sial...!! Bagaimana mereka bisa tahu ada orang di dalam kamar." gerutu Bulan, membuang pistol di tangannya yang sudah habis pelurunya dan berganti pistol lainnya.


Tembakan tak terelakkan lagi. Bulan menyadari sesuatu. Dia menatap ke belakang. Dimana pintu kamar tetap terbuka lebar.


''Siall...'' umpatnya lagi.


Bulan menyadari, mereka berdua yang berada di bawah ranjang akan mudah terlihat dari luar. "Tante,,, pergilah ke kamar mandi." seru Bulan.


"Hitungan ke tiga,,, keluarlah dan berlari ke sana." perintah Bulan.


"Satu,,, dua,,, tiga..." Bulan mengarahkan pistol ke dua arah. Pintu masuk dan jendela kamar yang telah rusak. Menghujami amunisi ke dua arah tersebut.


Nyonya Irawan dan Sapna segera berlari ke kamar mandi sesuai dengan apa yang Bulan katakan. Satu tembakan dari lawan menyerempet di pipi Bulan. "Iisshhh...." desis Bulan.


Bulan segera bersembunyi di samping almari. Dengan pandangan mengarah ke pintu masuk. Tangan Bulan terulur mengusap pipinya yang berdarah karena terserempet peluru musuh.


Keadaan kamar hening. Tak lagi terdengar suara tembakan. Berbeda dengan kondisi di luar. Dimana suara tembakan terus bersahutan.


"Gue harus menutup pintunya. Jika tidak, gue yang akan kehilangan nyawa." cicit Bulan, menunggu waktu yang tepat.


Bulan mengintip ke arah jendela dari tempat persembunyiannya. "Ckk,,,," decak Bulan, melihat ada bayangan orang di samping jendela.


Bulan tersenyum miring. Dengan satu gerakan, Bulan naik ke atas almari. Memang, terlalu beresiko. Sebab lawan akan dengan mudah melihat keberadaannya.


Namun, Bulan pastikan mereka tidak akan menaikkan pandangannya ke atas. Sebab sedari tadi, lawan terus menatap lurus ke depan. Dan itulah yang membuat Bulan nekat mengambil keputusan tersebut.


Bulan mengamati pintu masuk, serta jendela yang telah rusak. Berpikir apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


"Berkurang." cicit Bulan, menebak jika suara deru peluru semakin berkurang. Bulan yakin, jika rekan-rekannya di luar pasti dalam keadaan aman. Asal mereka tidak masuk ke dalam.


Bulan melompat jauh ke sebelah tembok yang di sampingnya terdapat jendela rusak. Dor... dor.... Dengan dia kali tembakan, Bulan menyingkirkan musuh.


Bulan segera berlari ke arah pintu dan menutup pintu kamar. Mengganjalnya dengan meja. Sebab kunci pintu telah rusak.


Tak ingin membuang kesempatan, Bulan segera berlari keluar rumah melewati jendela yang rusak. Tak lupa Bulan menutup gorden jendela kembali. Berharap tak ada lawan yang menyadari jika jendela rusak.


Dengan dua buah senjata api di tangannya, Bulan mulai beraksi melumpuhkan satu persatu musuh di luar rumah.


Meski dirinya yakin, jika ada beberapa musuh yang masuk ke dalam rumah untuk bersembunyi. Atau malah sedang mencari tawanan mereka.

__ADS_1


__ADS_2