
Jevo dan Arya, serta Mikel duduk di kursi panjang dengan santai. Pandangan mata Jevo mengarah kepada sosok yang tidak asing di matanya. Berjoget di lantai dansa dengan badan terlihat tak stabil.
Arya menatap Jevo yang sedari tadi sama sekali tak menyahuti percakapan mereka. Membuat Arya penasaran.
"Elo lihat apa?!" tanya Arya dengan nada tinggi, sebab suara dentuman musik yang memecah gendang telinga membuatnya harus berteriak saat berbincang.
Bukannya berada di rumah untuk belajar, ketiganya malah mendatangi surga dunia. Beralasan mencairkan otaknya, sebab besok mereka akan melangsungkan ujian kenaikan kelas.
Dan di sinilah mereka berada. Di tempat yang penuh dengan bau alkohol serta bau rokok. Dan juga suara musik DJ yang berdentum keras.
Namun, ketiganya tidak meminum minuman yang mengandung alkohol, dan juga tidak merokok. Hanya sekedar melihat wanita cantik dan seksi yang kekurangan bahan pakaian untuk menutupi tubuh molek mereka. Serta para lelaki yang memang suka berada di tempat seperti itu.
Mikel menatap Arya sembari menaikkan kedua alisnya, Arya hanya menggedikkan kedua pundaknya pelan. Keduanya lantas mengalihkan pandangan ke tempat dimana kedua mata Jevo terfokus. "Gue seperti kenal tu perempuan." tukas Mikel, sembari meneguk sedikit air berwarna biru di dalam gelas di tangannya.
"Moza,,,, bukankah dia teman sekelas kita." tebak Arya menajamkan kedua matanya.
Mikel semakin mempertajam pandangannya. Seolah memastikan apa yang dikatakan Arya benar adanya. "Benar, dia Moza." ujar Mikel.
"Waaahhh,,,, gue kira cupu,,, ternyata suhu....!!" seru Arya tertawa pelan, melihat Moza yang sedang berjingkrak serta meliuk-liukkan tubuhnya di lantai dansa.
"Kesadarannya sudah lima puluh persen. Sepertinya dia mabuk." tebak Mikel.
"Lihat siapa yang ada di sekitar Moza dengan baik." pinta Jevo pada Arya dan Mikel.
Keduanya lantas memperhatikan. "Mereka." tukas Arya dan Mikel bersamaan.
"Bukankah mereka kacungnya Revan. Ngapain mereka di sini?"
"Merayakan ujian mereka yang sudah selesai." celetuk Arya. Sebab kelas tiga baru saja melakukan ujian kelulusan.
"Kalau lulus, kalau tidak. Nyahoook....!!" seru Mikel.
"Setahu gue, Moza nggak kenal sama mereka. Tapi,,, entahlah. Gue juga nggak tahu." lanjut Mikel lagi.
"Para begundal semut ada di sana. Pemimpin mereka dimana?" tanya Arya dengan kalimat uniknya. Mencari keberadaan Revan.
Jevo dan keduanya mencari keberadaan Revan hanya dengan melihat di sekitar lantai dansa dari tempat duduk mereka.
Mikel melihat sosok yang mereka cari. Sedang duduk di kursi tinggi single, bersama seorang perempuan yang berdiri di sampingnya. "Itu dia, Revan." ujar Mikel menunjuk dengan jarinya dimana dia melihat sosok Revan.
"Tapi, siapa perempuan itu? Seperti kenal." lanjut Mikel.
"Claudia." sahut Jevo menyandarkan badannya di kursi.
"Claudia." gumam Arya menatap Jevo intens.
Ketiganya terdiam dengan pikiran di otak kecilnya masing-masing. Tentu saja karena yang mereka tahu, Moza pernah mempunyai masalah dengan Claudia. Pastinya karena Jevo.
Jevo teringat dimana dirinya pernah menolong Moza dari beberapa lelaki yang hampir melecehkannya. Dan hal tersebut direncanakan oleh teman dekat Moza sendiri.
Jevo yakin, jika tidak mungkin Moza datang ke tempat seperti tanpa alasan. Jevo menebak jika ada sesuatu, yang membuat Moza mendatangi tempat seperti ini. "Gue akan membawa Moza pergi. Kalian hadang Claudia dan Revan." pinta Jevo.
"Oke." sahut Arya dan Mikel bersamaan tanpa menanyakan alasan Jevo melakukan hal tersebut.
Arya dan Mikel beranjak dari tempat duduknya terlebih dahulu. Mereka berjalan perlahan sembari membicarakan rencana keduanya mengalihkan perhatian Revan dan Claudia dari Moza yang hendak di bawa Jevo.
Entah apa yang mereka berdua rencanakan. Arya menghentikan langkahnya, sementara Mikel berbelok arah. Kedua mata Arya masih terus menatap ke arah Claudia dan Revan yang tampak berbincang dengan pandangan mereka menuju lantai dansa.
Dan Jevo, dia mengamati apa yang dilakukan Arya serta Arya. Sembari melihat kearah Moza. Meski lampu tak begitu terang, tapi Jevo bisa melihat saat tangan Moza beberapa kali menepis tangan-tangan lelaki yang ingin menyentuh tubuhnya.
Jevo menaikkan sebelah alisnya, melihat rekan Revan memberikan minuman pada Moza dengan sedikit memaksanya.
Jevo berdiri dari duduknya. Berjalan menuju ke arah lantai dansa. Kesabarannya tak bisa ditambah lagi. Bersamaan dengan Jevo yang berjalan ke arah Moza, Mikel terlihat kembali menghampiri Arya dengan seorang perempuan seksi dan cantik di sebelahnya.
"Elo tahukan, apa yang harus elo lakukan?" tanya Mikel memastikan, supaya rencananya berjalan sesuai apa yang dia dan Arya harapkan.
"Tenang boss, gue akan melakukannya dengan baik." tukas sang perempuan dengan yakin.
"Oke elo berjalan di belakang gue. Jangan terlalu dekat. Ingat, langsung lakukan saat Claudia pergi." tutur Mikel.
"Cepat, Jevo sudah bergerak." ajak Arya yang melihat Jevo menuruni anak tangga.
Arya dan Mikel berjalan ke arah Claudia dan Revan. "Kita mulai." ujar Mikel.
"Clau... elo di sini. Sama dia?" tanya Arya, menatap Revan yang duduk di sebelah Claudia dengan tangan berada di pinggang ramping Claudia.
Arya dan Mikel menatap ke arah keduanya dengan tatapan menyelidik. Padahal, keduanya hanya berpura-pura saja.
Claudia segera menepis tangan Revan. Ada rasa gugup bercampur cemas. Bagaimana tidak, tiba-tiba Mikel dan Arya melihat dirinya ditempat ini bersama dengan Revan.
Pastinya Claudia takut jika kedua lelaki di depannya mengadu pada Jevo. "Kita tidak sengaja bertemu." ujar Claudia beralasan.
"Alasan..!!" ketus Arya.
"Kita pergi saja. Nggak penting." timpal Mikel.
"Tunggu." Claudia menghentikan langkah Mikel dengan memegang lengan Mikel.
__ADS_1
"Lepas." ketus Mikel menghempaskan tangan Claudia dengan kasar.
Claudia segera mengangkat kedua tangannya sembari tersenyum palsu. "Oke,,,, kalian bersama Jevo?" tanya Claudia.
Arya dan Mikel saling pandang sejenak. "Apa peduli elo. Cabut." ajak Mikel pada Arya. Sehingga mereka berdua berlalu meninggal tempat.
"Sial,,, Dua lelaki sialan itu bisa berada di sini. Pake lihat gue lagi." cemas Claudia, menatap ke arah Mikel dan Arya.
"Sudahlah sayang. Tenang, kita lanjutkan rencana kamu." Revan kembali menaruh tangannya di pinggang ramping Claudia.
"Tenang...!! Tenang...!! Mereka bisa mengadu pada Jevo. Pasti Jevo akan percaya dengan dua budak itu." kesal Claudia.
"Biarkan saja. Masih ada gue. Oke." ujar Revan, padahal dirinya beberapa kali telah disakiti oleh Claudia. Tapi entahlah, seolah Revan sangat menginginkan Claudia. Entah karena cinta, atau tubuh Claudia. Atau mungkin karena hal lain.
"Mau kemana...?! Claudia....!" teriak Revan memanggil Claudia yang berjalan cepat menyusul kepergian Mikel dan Arya.
"Brengsek....!! Jevo....!! Sialan....!! Kenapa semua orang selalu memandang elo sebagai yang pertama. Kenapa...!! Padahal elo sama seperti gue. Bajingan....!!" teriak Revan tak terima, lagi-lagi Claudia meninggalkannya karena lebih memilih Jevo.
Ekspresi kemarahan Revan lenyap, manakala kedua matanya tanpa sengaja melihat sosok Jevo yang berada di lantai dansa. "Jevo..." lirih Revan, ingin memastikannya.
Sayangnya, perempuan suruhan Mikel datang tepat waktu. Dia langsung berdiri di depan Revan, menaruh kedua tangannya di leher Revan, dan menggoda Revan.
Lelaki seperti Revan, pasti akan mudah tergoda. Apalagi, perempuan yang berada di depannya bukan wanita sembarangan.
Perempuan tersebut adalah primadona di tempat ini. Sangat sulit untuk dekat dengannya. Bahkan menghabiskan malam bergairah dengannya.
Karena perempuan tersebut selalu pilih-pilih jika ada lelaki yang hendak menginginkan dirinya untuk dimanjakan di atas ranjang.
Dan hal tersebut bukan perkara banyaknya uang yang di tawarkan padanya. Sebab, ada seseorang lelaki yang menawarinya uang sangat banyak, tapi dia menolak dengan tegas.
"Hay...." sapa perempuan tersebut dengan gayanya yang bisa menghipnotis lawan jenis dengan mudah.
Revan meneguk kasar ludahnya. "Gila... Mimpi apa gue semalam." batin Revan menatap paras cantik perempuan di depannya dengan intens.
"Claudia,,,, elo sama sekali tak sebanding dengan dia." puji Revan, membandingkan Claudia dengan perempuan di depannya.
"Gue rela kehilangan Claudia, asal ada dia." batin Revan.
"Bisa temani gue." ucapnya tepat di depan wajah Revan, sehingga hidung Revan dan hidung perempuan tersebut saling bersentuhan.
Revan memejamkan kedua matanya dan menghela nafa dalam-dalam. "Berhasil." batin sang perempuan tersenyum samar.
Dijilatnya pipi Revan, hingga ke daun telinga. Lalu dia menggigit gemas daun telinga Revan. "Temani aku baby...." bisiknya dengan nada menggoda.
Membuat aliran darah Revan berdesir hebat. Bahkan, hanya sedikit sentuhan, belalai Revan sudah siap untuk bertempur.
Di bawah, tepatnya di lantai dansa. Tanpa mengatakan apapun, Jevo langsung memukul beberapa lelaki yang dia kenal sebagai teman sekaligus budak dari Revan.
Semua yang sedang menggerakkan tubuhnya di lantai dansa berteriak dan menyingkir. Jevo mengangkat sebelah tangannya ke atas, mengisyaratkan pada DJ untuk tetap menyalakan musik.
Tak ada yang berani mendekat atau membantu. Mereka cukup tahu siapa Jevo. Beberapa lelaki bajunya hitam dengan tubuh besar tinggi mendekat. Mereka adalah pihak pengaman dari tempat ini.
Jevo segera merengkuh tubuh mungil Moza untuk dibawa ke dalam pelukannya. Moza berusaha berontak. Sayangnya, kekuatannya bagai seekor lalat yang sedang hinggap. "Singkirkan mereka." pinta Jevo dengan angkuh.
"Baik." ucap mereka serempak.
Semua yang ada di tempat tersebut hanya bisa berbisik-bisik. Semua tahu siapa Jevo. Putra dari pasangan Tuan David dan Nyonya Rindi. Dan dia mempunyai seorang saudara kembar.
Tapi bukan itu yang menjadi pertanyaan semua orang yang ada di tempat hiburan tersebut. Yakni, kekuasaan yang Jevo miliki di tempat tersebut.
Bahkan, siapapun yang berada di sana tak ada yang berani menyinggung atau menyentuhnya. Bukan hanya itu, pihak keamanan di tempat tersebut selalu menundukkan kepala mereka di hadapan Jevo. Dan selalu mengikuti apapun yang Jevo katakan tanpa berani membantah.
Tersebar desas desus, jika Jevo lah pemilik dari tempat hiburan tersebut. Tapi semua terbantahkan saat ada lelaki yang datang mengunjungi tempat tersebut dan mengaku sebagai pemilik tempat hiburan ini.
Mereka hanya bisa menebak, jika Jevo dan si pemilik tempat hiburan saling kenal, atau keduanya bersahabat. Sehingga Jevo bisa berbuat sesukanya di tempat ini.
Dengan mudah Jevo bisa membawa Moza pergi meninggalkan tempat yang penuh cahaya serta suara dentuman musik.
"Lepas....!!" seru Moza dengan suara pelan, saat Jevo menaikkannya di atas pundak. Seakan Jevo sedang membawa sebuah karung di pundaknya.
Moza hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Jevo. Dikarenakan Moza sama sekali sudah tidak sepenuhnya sadar. Dirinya sudah banyak mengkonsumsi minuman beralkohol.
Dua orang petugas mengekor di belakang Jevo. Dengan sigap salah satu dari mereka membuka pintu mobil milik Jevo.
Dengan pelan, Jevo menaruh tubuh Moza di kursi mobil bagian depan, samping kemudi. Memasangkan sabuk pengaman ke tubuh Moza.
''Ingatkan wajah perempuan ini dengan baik. Jika dia datang ke sini, segera beritahu aku." pinta Jevo.
"Baik boss." jawab keduanya serempak.
Jevo pergi dengan membawa Moza meninggalkan tempat tersebut. Dilihatnya sejenak Moza yang tak sadarkan diri di sampingnya.
"Bukannya belajar, malah keluyuran." tukas Jevo. Padahal, dirinya juga sama. Masih bisa-bisanya menggerutu tindakan orang lain.
Jevo merasa bingung mau membawa Moza kemana. "Ckk,,, menyusahkan." decak Jevo. Sebab tak mungkin dia membawa Moza pulang ke rumah Moza.
Bisa-bisa dia akan menjadi tersangka. Dan disalahkan oleh kedua orang tua Moza. Jevo menghentikan mobilnya di tepi jalan.
__ADS_1
Segera Jevo mencari ponsel milik Moza di saku pakaian Moza. "Untung ada." cicit Jevo menemukan benda pipih tersebut.
Kedua mata Jevo membola, mendapati ponsel Moza bisa dia buka dengan mudah. "Ceroboh. Bagaimana bisa dia tidak mengunci ponselnya dengan sandi." tukas Jevo merasa heran.
Sebab, jaman sekarang sangat sedikit atau jarang sekali pemilik ponsel tidak mengunci ponselnya dengan sandi. Kebanyakan dari mereka pasti menggunakan sandi untuk mengunci ponsel mereka.
Aplikasi yang dibuka pertama oleh Jevo adalah aplikasi berwarna hijau. Sebab Jevo ingin mengirimkan pesan pada orang tua Moza. Tentunya mengatakan jika malam ini, Moza tidak akan pulang dan menginap di rumah teman.
Lagi-lagi Jevo dibuat penasaran setelah membuka aplikasi hijau tersebut. Bagaimana tidak. Ada sebuah pesan dari nomor yang tidak terdapat namanya, hanya tertera nomor saja.
Dari pada penasaran, Jevo membukanya. Dan keputusannya membawanya menemukan alasan Moza mendatangi tempat hiburan malam tersebut.
Jevo mengelus dagunya berulang sembari membaca pesan tersebut. Apalagi, di pesan yang dikirimkan oleh seseorang pada Moza menyebutkan namanya.
Jevo mengeratkan rahangnya. Menatap dengan iba pada sosok perempuan yang tak sadarkan diri di kursi sampingnya. "Elo bodoh sekali. Elo pikir, gue selemah itu. Tolol." dengus Jevo menahan amarahnya.
Dengan perkataan sangat jelas, bahkan berulang. Sang pengirim pesan mengatakan pada Moza jika Jevo dalam keadaan bahaya. Jevo sedang berada di tempat hiburan malam. Dan sedang dikeroyok oleh banyak orang tak dikenal.
"Stupid. Lagian, elo kenapa nggak bisa berpikir sih Moza.....!! Gue punya Mikel, ada Arya. Ada Jeno. Astaga,,,, otak elo terbuat dari apa....!!?" geram Jevo, bisa-bisanya Moza bertindak tanpa berpikir.
Jevo hanya bisa menghela nafas. Jevo kembali ke niat awal membuka ponsel Moza. Memberitahu kepada orang tua Moza, jika Moza tidur di rumah teman. Tentunya Jevo berpura-pura sebagai Moza.
"Lagian mereka di tempat itu pasti nggak kenal elo. Seharusnya elo mikir, kenapa dia bisa menghubungi elo. Daei mana di dapat nomor elo. Kenapa yang dihubungi elo. Gue dan elo,,, kita nggak punya hubungan. Astaga... Nggak habis pikir gue sama kebodohan elo." omel Jevo.
"Sial,,, percuma gue ngomel. Orangnya saja nggak sadar. Gue bunuh pun juga nggak bakal berontak." dengus Jevo merasa dirinya malah lebih bodoh dari Moza, karena berbicara sendiri.
"Claudia. Pasti dia." tebak Jevo.
Lantas siapa lagi jika bukan Claudia pelakunya. Tuduhan Jevo pada Claudia sangat beralasan, ditambah Jevo melihat sosok Claudia di tempat tersebut.
Dan malah bersama dengan musuh Jevo, Revan. Apalagi, disekitar Moza berada, ada beberapa lelaki yang biasanya menguntit kemanapun Revan pergi.
Jevo menyimpan ponsel Moza ke dalam saku jaketnya. "Huuhhh,,,,, gue bawa kemana dia. Tuhan.....!!" Jevo merasa kepalanya pening.
Niat membantu, sekarang dirinya sendiri yang malah kebingungan. Jevo terdiam sejenak. Memikirkan akan dibawa kemana Moza.
Jika di bawa ke hotel, pasti akan berbuntut panjang. Meski dia tak melakukan apapun pada Moza. Ke apartemen, malah lebih parah. Pasti nanti akan ketahuan sang papa. Dan dirinya malah akan berada dalam kesulitan.
Jevo tersenyum samar. Dia menemukan ide, dibawa kemana Moza gang sudah tak sadarkan diri ini. "Salah sendiri. Kenapa bodoh banget." cicit Jevo tersenyum sinis.
Jevo juga sama sekali tak peka. Moza dan dirinya tak mempunyai hubungan spesial. Bahkan mereka berdua tidak berteman.
Tapi Moza malah percaya dengan kabar yang diberikan orang yang tak dia tahu, jika dirinya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Moza mengabaikan keselamatannya. Dan memberanikan diri mendatangi tempat yang selama ini belum pernah dia datangi. Hanya untuk menolong Jevo.
Apalagi alasan Moza melakukan semua itu. Jika bukan karena Moza menyukai Jevo. Sialnya, Jevo sama sekali tidak berpikir sampai sejauh itu. Dan malah mengatakan jika Moza sangatlah bodoh.
Di tempat hiburan, Claudia berlari ke sana ke sini. Mencari sosok Arya dan Mikel yang tiba-tiba menghilang. "Sialll...!! Kemana perginya dua curut itu...!" serunya dengan wajah memerah karena rasa marahnya.
Tampak jelas raut wajah Claudia menampilkan perasaan cemas, takut, serta kesal yang bercampur menjadi satu. "Aaa....!!" seru Claudia meninju tembok di sampingnya.
"Bagaimana jika Mikel dan Arya mengadu dan menceritakan pada Jevo. Aaaa...!!! Kenapa bisa seperti ini. Tidak...!! Gue nggak boleh kehilangan Jevo." tukas Claudia terlihat khawatir.
Mikel dan Arya yang berada di dalam ruangan melihat apa yang dilakukan Claudia. "Sampai mati, tanta Rindi dan om David tidak akan menerima elo. Cacing kepanasan." celetuk Arya.
Mikel hanya tersenyum mendengar perkataan Arya yang dirasanya lucu. "Lagi pula, Jevo juga nggak suka sama dia." sahut Mikel.
Mikel dan Arya tetap berada di ruangan dengan tenang dan santi. Menunggu Claudia pergi dari tempatnya.
"Revan." gumam Claudia teringat Revan dan rencananya menjebak Moza.
Segera Claudia kembali ke tempat dimana Revan berada. Tapi Claudia tidak menemukan sosok Revan. "Kemana dia?" tanya Claudia pada diri sendiri, melihat sekeliling mencari Revan.
"Loh...." Claudia mengedipkan kedua kelopak matanya menatap ke lantai dansa. Dimana sudah tidak ada sosok Moza dan juga beberapa lelaki teman Revan, tapi Revan memperlakukan mereka seperti bawahannya.
"Mereka juga, kemana perginya." tukas Claudia.
Claudia mencoba menghubungi Revan mengira jika Revan beserta teman-temannya membawa pergi Moza. "Tidak sabar sekali mereka. Membawa pergi Moza tanpa izin dari gue." dengus Claudia kesal, dengan ponsel berada di samping telinganya.
"Kemana sih Revan...!?!" geram Claudia, sebab panggilan teleponnya tersambung, tapi tak diangkat oleh Revan.
"Aaa.... Menyebalkan. Kenapa semua malah semrawut seperti ini." kesal Claudia.
Di sebuah kamar, seorang perempuan duduk di kursi. Dengan seorang lelaki muda duduk di bawah, dengan tiga lelaki berbadan tegap berdiri di samping sang lelaki.
"Brengsek...!! Siapa yang menyuruh elo..?!" seru Revan tak terima.
Buk.... Sebuah pukulan mendarat di kepala Revan. "Berbicaralah yang sopan." tegur salah satu dari ketiga lelaki tersebut.
Sedangkan sang perempuan suruhan Mikel memainkan ponsel dengan tenang dan santai. "Sudah, jangan banyak bicara. Jika waktunya, dengan senang hati gue akan menyuruh elo keluar dari kamar ini." ujar sang perempuan.
"Lelaki seperti elo. Elo pikir gue tertarik. Hah,, hah,, hah,, mimpi." ejek sang perempuan sembari tertawa remeh.
Beberapa menit kemudian, Revan dibebaskan. Tentunya sang perempuan sudah mendapatkan perintah dari Mikel. "Jangan banyak bertingkah, jika masih sayang nyawa." ujar sang perempuan pada Revan, saat Revan sudah berada di ambang pintu.
Tak dapat dibayangkan, bagaimana perasaan serta emosi Claudia. Jika dia mengetahui bahwa Moza tidak berada di tangan Revan. Melainkan bersama Jevo.
__ADS_1