
''Siapa dia Jevo...?!" tanya Tuan David. Yang terpaksa bangun dari tidur malamnya yang lelap.
Raut marah terlihat jelas di wajah Tuan David. Bagaimana beliau tak marah. Sang putra tengah malam pulang dengan membawa seorang gadis yang tak sadarkan diri karena pengaruh alkohol.
Bukan hanya Tuan David saja yang terbangun. Nyonya Rindi pun juga ikut terjaga karena Jevo. Juga dengan Jeno yang baru saja hendak memejamkan kedua matanya.
Kini, semuanya berada di kamar tamu. Menatap sosok gadis berperawakan mungil dan imut terlelap di atas ranjang. ''Dia Moza. Teman sekelas kita."
Bukan Jevo yang menjawab pertanyaan dari sang papa. Melainkan saudara kembarnya. Jeno.
Nyonya Rindi menatap dengan ekspresi datar ke arah Moza. Entah apa yang ada di dalam benaknya. "Kenapa kamu bawa ke sini, bukannya dipulangkan ke rumahnya." tutur Nyonya Rindi.
"Itu dia ma, jika Jevo bawa di ke rumahnya, Jevo yang akan menjadi tersangka. Dikiranya Jevo yang membuat Moza seperti ini." ujar Jevo.
"Jika kamu tidak melakukannya, kamu tinggal pesan taksi, suruh pak sopir mengantarkan dia pulang. Atau, suruh temannya yang mengantarkannya. Beres." tukas Nyonya Rindi.
"Tidak sesederhana itu ma."
"Lalu?"
Dan terpaksa Jevo sedikit mengarang cerita. Sebab tak mungkin dia jujur di hadapan sang mama. Jika sang papa, Jevo yakin, beliau sudah mengetahui dari mana dirinya.
"Jevo tadi ditelepon kenalan Jevo. Dia mengatakan melihat Moza di club, dan sudah tak sadarkan diri. Dengan beberapa lelaki di sekitarnya. Jevo tahu siapa Moza ma, dia bukan gadis seperti itu." papar Jevo melirik ke arah sang papa yang hanya menatapnya tajam.
Sudah jelas, hanya dengan memandang kedua mata sang papa, Jevo bisa menebak jika sang papa tahu jika dia berbohong. "Jevo ke sana. Tapi Jevo tidak sendirian. Jevo bersama Arya dan Mikel. Mama tanya saja pada mereka berdua." ujar Jevo, menyakinkan sang mama.
"Arya dan Mikel. Mereka sama saja sama kamu. Sama saja bohong mama tanya sama mereka berdua." sinis Nyonya Rindi.
"Lanjutkan." pinta Tuan David mengeluarkan suaranya.
Jevo mengeluarkan ponsel Moza. "Ini ponsel Moza. Jevo menemukannya di saku bajunya."
Jevo memberikan ponsel tersebut pada sang papa. "Papa buka saja. Tidak pakai sandi." ucap Jevo.
Seperti Jevo, pertama yang dibuka Tuan David adalah aplikasi berwarna hijau. Dimana terdapat beberapa penggilan keluar masuk, serta beberapa pesan tertulis.
Merasa penasaran, Nyonya Rindi mendekat ke arah sang suami. Melihat apa yang sang suami baca. "Dia dijebak, dengan membawa nama kamu?" tebak Nyonya Rindi setelah membaca pesan tersebut.
Jevo mengangguk. "Jevo juga berpikir seperti itu ma." ujar Jevo.
Tuan David mengembalikan ponsel tersebut pada Jevo. "Kamu sudah beritahu orang tuanya, jika dia menginap di sini?" tanya Tuan David.
Jevo mengangguk pelan. "Sudah pa." lirih Jevo. Dan Tuan David bisa menebak, jika Jevo pasti berbohong pada kedua orang tua Moza.
"Kalian punya hubungan?" tanya Nyonya Rindi menyelidik.
"Tidak ma. Nomor ponselnya saja Jevo tidak tahu." jelas Jevo tak berbohong.
"Lalu kenapa dia bodoh banget. Mendengar kamu dalam bahaya langsung mencari kamu untuk menolong." ujar Nyonya Rindi, padahal keduanya tak mempunyai hubungan spesial.
"Mana Jevo tahu ma. Lagi pula Moza bukan selera Jevo." ketus Jevo dengan percaya diri.
Jeno tersenyum jahil. "Mama, seperti tidak pernah muda saja. Jeno saja, mendengar Bulan demam langsung mencarinya. Menemuinya dan memastikan keadaannya. Khawatir ma..." ujar Jeno memanas-manasi keadaan.
"Benar juga. Mungkin dia suka sama kamu Jev..." tutur sang mama malah menggoda putranya tersebut.
Jevo menatap kesal ke arah Jeno. "Cckkk,,, ma,,, semua perempuan di sekolah memang suka sama Jevo. Tak terkecuali. Semua. Bukan hanya Moza saja." ketus Jevo dengan tersenyum sombong.
"Heeeehhhh,,,, ralat. Nggak semua. Bulan sama sekali tidak menyukai kamu. Ingat itu...!" seru Jeno dengan nada pelan. Tak terima dengan apa yang dikatakan saudara kembarnya tersebut.
"Yaaaa,,, elaaaaa.... iya,,, iya,, selain Bulan." sahut Jevo. "Tapi siapa tahu, Bulan berubah pikiran." lanjut Jevo dengan suara lirih.
"Sialan,,, kamu bilang apa?! Katakan....?!" seru Jeno.
Jevo tertawa dan langsung berlari keluar kamar. Tentu saja menghindar dari amukan lelaki pencemburu, Jeno.
Dan Jeno, yang tak terima dengan perkataan Jevo, segera mengejar Jevo. "Jangan lari,,, sini kalau berani...!!" teriak Jeno.
"Bulan itu hanya buat Jeno. Kamu jangan macam-macam...!!" seru Jeno.
__ADS_1
"Astaga,,,, lihat mereka pa. Ini sudah malam. Malah teriak-teriak. Mengganggu saja." dengus Nyonya Rindi.
"Biarkan saja." sahut Tuan David, sebab beliau tahu jika Jevo pasti akan masuk ke dalam kamarnya. mengunci pintunya dari dalam. Sehingga Jeno tak akan bisa masuk.
Tuan David dan Nyonya Rindi menatap ke arah Moza yang masih tertidur lelap. "Bagaimana pa? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Nyonya Rindi serba salah.
"Anak itu. Orang mabuk malah dibawa pulang ke rumah. Lagian jadi perempuan kok nggak mikir, dengan mudah dibohongi orang." ketus Nyonya Rindi memandang ke arah Moza yang berada di atas ranjang.
"Pa...." panggil Nyonya Rindi, karena sang suami masih diam, tak menyahuti perkataannya.
"Biarkan saja dia tidur di sini malam ini. Ini sudah malam, besok saja kita bicarakan lagi."
"Tapi pa, dia teman sekelas Jevo dan Jeno. Bukankah besok mereka akan ujian kenaikan kelas." seketika Nyonya Rindi ingat akan hal tersebut.
"Mau bagaimana lagi ma. Dia mabuk, tak sadarkan diri. Lantas, mau kita apakan. Nggak mungkin juga kita pulangkan di ke rumah orang tuanya. Nanti yang ada malah orang tuanya salah paham ke kita. Terutama Jevo." jelas Tuan David.
"Papa percaya sama Jevo?" tanya Nyonya Rindi, pasalnya beliau tahu bagaimana badungnya putranya tersebut.
"Percaya. Papa yakin, sebandel-bandelnya Jevo, dia tidak mungkin merusak seorang perempuan." tekan Tuan David.
"Ya sudah, mama ikut saja apa kata papa."
Nyonya Rindi memanggil salah satu pembantunya. Menyuruhnya untuk menemani Moza tidur di kamar. Serta menggantikan pakaian Moza yang bau alkohol. Menggunakan pakaian tidur miliknya, meskipun agak kebesaran. Tapi lebih baik, dari pada tidur menggunakan pakaian yang Moza gunakan sebelumnya.
Jevo masih tertawa pelan sembari membaringkan badannya di atas ranjang. Nafasnya terlihat masih sedikit terengah karena baru saja berlari, menghindar dari kekesalan Jeno.
"Claudia. Dia ternyata nekat juga. Astaga,,, perempuan macam apa dia. Tanpa hati merusak perempuan lain." cicit Jevo.
Jevo mengambil ponselnya. Terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari Claudia. Juga terdapat pesan tertulis daei dia.
Jevo mengabaikannya. Dama sekali tak ingin membuka pesan apa yang ditulis oleh Claudia pada dirinya. "Claudia. Haaa.... pertama gue bertemu dengan dia." Jevo menjeda kalimatnya, menghela nafas panjang.
"Cantik, seksi, dan terlihat baik. Ternyata, gila. Dia pemain handal. Suhu dari suhu." kekeh Jevo mengingat bagaimana Claudia memanjakan belalainya menggunakan tangan serta mulut Claudia.
"Tapi sayang, gue nggak akan pernah menjadikan perempuan seperti elo sebagai istri gue. Bisa-bisa gue elo selingkuhi terus." cicit Jevo tersenyum.
Tanpa membersihkan badan, tanpa mengganti pakaiannya, Jevo perlahan memejamkan kedua matanya. Masuk ke dalam mimpi dengan mudah.
"Terkurung dalam sangkar mewah." cicit Bulan tersenyum sinis, melihat bagaimana megahnya rumah yang digunakan untuk mengurung mereka berdua.
Bulan mengeluarkan sebuah alat kecil seperti teropong dari dalam saku celana. Mempergunakan alat tersebut dengan baik.
Dengan alat tersebut, Bulan melihat keadaan di sekitar rumah. "Sial,,,." gerutu Bulan, karena pandangannya yang tak bisa jelas dan terhalang pagar rumah, juga beberapa pohon besar.
Bulan meletakkan sepeda motornya di balik pohon besar yang tumbuh subur di pinggir jalan. Melangkahkan kaki, mendekat ke rumah mewah tersebut.
Bulan tidak lewat jalan belakang atau samping, seperti saat dirinya melakukan misi-misi sebelumnya. Melainkan lewat jalan depan.
Hanya berjaga-jaga. Jika kekhawatiran Jeno dan Gara benar, jika semua sudah diatur oleh atasan Bulan serta rekan-rekannya. Dengan tujuan menjebak serta menangkap Bulan menggunakan anak istrinya. Itulah mengapa Bulan mengubah strateginya.
Bulan tak perlu merisaukan kamera CCTV, sebab Gara sudah menyabotasenya, dengan membuat gambar di kamera tak akan pernah berubah. Sehingga, jika Bulan tertangkap kamera tersebut, dia tidak akan terlihat di layar.
Bahkan bukan hanya Bulan. Jika ada orang lain, atau hewan yang melewatinya, tak akan pernah terlihat di layar CCTV.
Bulan naik ke atas pagar tembok yang tidak terdapat tambahan besinya. Memantau keadaan dari atas tembok.
Bulan mengeluarkan kembali teropong kecil yang dia miliki dari saku. Melihat keadaan di sekelilingnya. Bulan tersenyum samar.
"Maaf pak, saya sempat menaruh rasa curiga pada anda." batin Bulan. Sebab keamanan tersebar di semua penjuru rumah. Sehingga Bulan bisa menyimpulkan jika sang atasan tidak menjebaknya.
Bulan melompat turun. Dan langsung mencari tempat bersembunyi. Yakni sebuah pohon besar yang rimbun.
Perlu beberapa menit Bulan berada di balik pohon tersebut. Tak bergerak sejengkalpun. Dirasa keadaan memungkinkan, Bulan memanjat pohon besar tersebut dengan mudah.
Perlahan, Bulan merangkak di antara cabang pohon yang besar. Kedua matanya bagai mata burung hantu yang mengincar mangsanya di malam hari.
Bulan harus bersabar sembari melihat setiap gerak para penjaga yang berkeliling memutari rumah besar tersebut secara bergantian. Mencari celah untuk dia bisa berpindah tempat ke tempat lainnya. Mendekati pintu masuk atau jendela.
Bulan tak bisa melihat semuanya, dia hanya bisa melihat bagian depan dan samping kanan saja. Sehingga Bulan harus memperkirakan semua dengan cermat dan tepat.
__ADS_1
Jika tidak, bisa dipastikan jika hasilnya adalah kegagalan untuk Bulan. Dan tidak mustahil, jika Bulan gagal, kemungkinan besar nyawa anak dan istri pak Bimo juga terancam.
Lebih dari sepuluh menit Bulan mengamati sembari menunggu waktu yang tepat. "Sial,,,! Jika saja gue menemukan jalan tikus di rumah ini. Pasti gue akan dengan mudah masuk dan keluar." gumam Bulan.
Dan sialnya, Bulan juga belum memikirkan cara untuk keluar dari dalam rumah. Membawa anak dan istri pak Bimo, jika dia berhasil masuk.
Wajah Bulan yang datar, perlahan berubah dengan salah satu sudut bibirnya yang terangkat naik. Dapat diartikan, jika Bulan menemukan waktu yang tepat untuk dia masuk.
Pandangan Bulan terarah ke satu garis. Bukan lagi pada para penjaga yang berlalu lalang. Dimana dia akan melewati garis tersebut. "Satu,,, dua,,, tiga,,, empat,,,, lima,,,!!" batin Bulan.
Segera meloncat turun dari atas dan berlari menuju sebuah vas bunga yang sangat besar. Menyembunyikan tubuhnya diantara vas-vas kosong-kosong tersebut.
Beberapa penjaga merasa ada yang aneh, membuat mereka berbalik. Tapi sayangnya, gerak Bulan lebih cepat dari pada mereka. Sehingga mereka tidak bisa melihat sosok Bulan.
Merasa situasi aman, para penjaga kembali melakukan tugasnya seperti sebelumnya. "Orang kaya memang aneh. Untuk apa menaruh beberapa vas sebesar ini, tak ada tanamannya lagi. Heran gue." batin Bulan.
Bulan mencari tempat lainnya. Dimana dia bisa masuk ke dalam rumah. "Brengsek, kenapa banyak sekali penjaganya." geram Bulan.
Membutuhkan waktu hingga lima menit untuk Bulan bisa berpindah tempat lagi. Ke tempat yang Bulan rasa aman untuk dirinya bersembunyi, dan semakin dekat dengan pintu masuk.
Bulan menekan tombol kecil di telinganya. Sebuah alat komunikasi dengan Gara. "Bagaimana keadaan di dalam?" tanya Bulan dengan suara lirih, bahkan seperti berbisik.
"Penjagaan ketat. Sama ketatnya dengan di luar." sahut Gara yang memantau keadaan di dalam lewat kamera CCTV.
Jujur, di markas Gara merasa cemas dengan Bulan. Sebab, mereka menempatkan banyak orang untuk menjaga tempat tersebut.
Tak tanggung-tanggung. Lebih dari lima puluh orang yang sengaja mereka turunkan hanya untuk menjaga rumah mewah tersebut, karena anak dan istri pak Bimo berada di dalamnya.
"Elo teliti dengan cermat. Kapan saat mereka bergantian untuk berjaga di tangga." pinta Bulan.
Meski di belakang pintu masuk tak ada yang menjaga, tapi tepat di bawah tangga ada yang menjaga. Dan posisi mereka dengan mudah bisa melihat jika ada orang yang masuk melewati pintu, atau jendela.
Bulan padahal bisa mempelajari pergerakan mereka dari kamera CCTV. Tapi, Bulan merasa akan malah membuang-buang waktu. Karena bisa saja mereka akan merubah cara kerjanya.
"Ada selang sekitar tujuh detik, saat mereka bertukar posisi. Mereka harus naik dan turun dari tangga." jelas Gara.
Bulan membayangkan apa yang mereka lakukan dari penjelasan Gara. Naik dan turun tangga, yang artinya di setiap ujung tangga, baik atas maupun bawah ada yang menjaga.
"Oke,,, elo katakan jika mereka bertukar posisi." pinta Bulan.
"Oke." sahut Gara.
Bulan dan Gara, keduanya mengamati para penjaga dari tempat yang berbeda, tapi di tempat yang sama. "Mereka bertukar posisi." ujar Gara memberitahu.
"Oke. Setiap mereka bertukar posisi, elo katakan saja. Gue akan mencari waktu yang tepat untuk masuk." tukas Bulan.
"Baik. Elo harus berhati-hati."
Setiap mereka berganti posisi, Gara selalu melaporkannya pada Bulan. Hingga beberapa kali. Tapi Bulan juga belum bergerak dari tempatnya. Sebab dirinya belum menemukan waktu yang tepat antara pertukaran posisi penjaga di luar dan di dalam.
Bulan mendengar dengan cermat setiap Gara mengatakan pertukaran posisi penjaga yang ada di dalam. Dan itu bukan hanya sekali atau dua kali. Sehingga Bulan bisa menebak, berapa menit pertukaran posisi yang mereka lakukan.
Bulan bersiap hendak bergerak. "Tukar posisi." ujar Gara, bersamaan dengan Bulan yang berlari masuk ke dalam rumah, tanpa menutup pintu kembali. Karena akan terlalu lama jika Bulan melakukannya.
Bulan langsung bersembunyi di tempat yang dia sudah tandai dari awal saat dirinya dan Gara melihat ruangan di rumah tersebut lewat kamera CCTV.
"Siapa di sana...??!" seru penjaga.
Membuat beberapa penjaga langsung memastikan jika tak ada penyusup. "Apa kita perlu lihat kamera CCTV?" tanya salah satu penjaga.
"Tidak perlu. Pasti hanya angin." sahut penjaga lainnya. Apalagi angin malam ini berpihak pada Bulan. Sebab malam ini angin berhembus sedikit kencang.
Bulan berdiri, diam bagai patung di balik tiang. Berharap tak ada pembantu yang keluar dari bekalang. "Pembantu." batin Bulan tersenyum samar.
Dengan cepat, Bulan menemukan rencana agar dirinya bisa naik ke atas tangga dengan mudah. "Gue akan menggunakan mereka." batin Bulan.
Apalagi Bulan tahu, jika setiap pintu di rumah ini dijaga oleh dua orang. Dan hanya pintu menuju kamar pembantu perempuan yang tidak dijaga.
Sebuah keberuntungan untuk Bulan. Itupun jika Bulan bisa menjadikan hal tersebut sebagai peluang keberhasilan atas rencananya. "Beritahu gue, jika mereka kembali bertukar posisi." pinta Bulan pada Gara.
__ADS_1
Di lantai dasar, hanya ada dia penjaga. Yakni di bawah tangga. Tapi jangan salah. Di lantai dua dan lantai tiga, banyak penjaga tersebar. Sehingga akan membuat gerak Bulan sangar sulit.
"Jika di film-film, gue pasti sudah berada di dalam kamar mereka dengan mudah." batin Bulan.