PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 30


__ADS_3

Semua kegelisahan Jeno selama berada di rumah tidak terjadi. Beruntung dirinya tetap masuk ke sekolah. Awalnya dia akan izin untuk tidak masuk ke sekolah. Hanya untuk menghindari bertemu dengan Bulan saat berada di sekolah.


Di dalam kelas, bahkan di area sekolah. Bulan bersikap seperti hari sebelumnya. Sama sekali tidak menghampiri Jeno dan mengajaknya berbicara atau mendesak Jeno untuk mengakui suatu hal. Seperti yang Jeno sempat pikirkan dan takutkan.


Hal tersebut tentu saja membuat Jeno tampak lega. Sekaligus penasaran. Penasaran, kenapa seolah Bulan bersikap biasa, padahal semalam terjadi sebuah kejadian yang membuat keduanya terlibat di dalamnya.


"Hay,,, kak Jeno...." sapa Sella menghampiri Jeno yang seperti biasa. Suka menyendiri di bangku samping sekolah dengan memegang buku.


Jeno hanya menatap Sella sekilas. Lalu fokus pada buku yang dia pegang. "Sella boleh duduk di sinikan?" tanya Sella dengan senyum manisnya. Tanpa menunggu jawaban dari Jeno, Sella sudah mendaratkan pantatnya di kursi samping Jeno.


Jeno sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Sella di sampingnya. Bagi Jeno, ada Sella ataupun tidak di sampingnya sama saja.


Pandangan Jeno fokus ke buku. Meskipun tidak dengan pikirannya. Tentu saja Jeno memikirkan kejadian semalam. "Kenapa pihak sekolah tidak tahu apapun." batin Jeno.


"Bukankah ada kamera CCTV. Apa jangan-jangan, mereka sudah menyabotase kamera pengintai di seluruh sekolah ini." batinnya lagi.


Dirinya melihat sendiri bagaimana kacau dan rusaknya ruangan yang meledak semalam. Mustahil, jika pihak sekolah tidak mengetahui kejadian semalam.


"Apa tidak ada petugas kebersihan yang masuk?" cicit Jeno.


"Tunggu, pihak kebersihan. Bukankah semalam...." Jeno baru tersadar, jika dua orang yang di tembak Bulan di masing-masing kakinya pernah dia temui di sekolah ini.


Semalam. Pikiran Jeno hanya penuh dengan Bulan. Sehingga dia sama sekali tidak memikirkan hal lain. "Apa dia tahu. Sehingga dia tidak membunuhnya seperti yang lain." batin Jeno menebak tindakan yang Bulan lakukan semalam.


"Jika pihak sekolah tidak tahu. Ada dua hal penyebabnya. Kamera CCTV sudah mereka kuasai. Atau memang ada orang dalam di permainan ini." batin Jeno mencoba menerka apa yang terjadi.


Sella merasa jika ada sesuatu yang sedang Jeno pikirkan. Sella sadar, jika pandangan kedua mata Jeno tidak terarah pada buku yang dipegangnya. Tapi menerawang jauh.


"Kak Jeno ada masalah. Mungkin, Sella bisa membantu?" Sella mencoba untuk mendapat sedikit perhatian dari Jeno.


Namun Jeno sama sekali tidak menggubris perkataan atau pertanyaan dari Sella. Baginya, suara Sella seperti suara lalat yang sedang terbang.


"Huh,,,, kenapa sih. Gue di cuekin terus." batin Sella kesal.


Sella melirik ke arah Jeno dengan kesal. "Seharusnya kak Jeno senang. Cowok berpenampilan seperti dia ada yang mendekati. Dan itu gue." batin Sella.


Sella merasa Jeno yang berpenampilan culun, seharusnya dengan mudah bisa dia dekati. Anehnya Sella, semua perempuan menjauh dari Jeno, dan mereka merapat pada Jevo.


Tapi Sella malah mendekati Jeno. Menurut Sella, ketampanan Jeno sama persis dengan Jevo. Sebab mereka berdua adalah saudara kembar.


Kenapa Sella harus mendekati Jevo, yang artinya akan bersaing dengan banyak wanita. Jika Sella bisa mendapatkan Jeno, yang sama persis seperti Jevo.


Sella berpikir akan merubah penampilan Jeno. Saat Jeno sudah menjadi kekasihnya. Tapi, apa semudah itu, Sella akan mendapatkan hati Jeno.


Awalnya, memang Sella menyukai Jeno karena Jeno telah menolongnya. Tapi, semakin ke sini, Sella membandingkan penampilan yang amat berbeda antara Jevo dan Jeno. Padahal mereka saudara kembar.


"Sabar Sella,,, sabar." batin Sella menenangkan hatinya sendiri.


"Loh..." Sella melongo saat dengan santai tanpa mengatakan apapun, Jeno berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan dirinya begitu saja.


Sahabat Sella, sekaligus teman sekelasnya, Mita menghela nafas melihat Sella ditinggalkan begitu saja oleh Jeno.


Mita mendekati Sella yang menatap punggung Jeno dengan tatapan kesal. "Bukankah sudah gue bilang, Jeno itu orangnya susah didekati."


Tatapan kesal Sella beralih pada sahabatnya, yang kini duduk di sebelahnya. Tempat di mana tadi Jeno duduk di sana.


"Benar-benar tidak tahu diri." sinis Sella, mengolok Jeno.


Mita hanya diam tak menyahuti perkataan Sella. Dirinya tahu, dibalik sifat kalem yang ditunjukkan Sella di depan semua orang, dirinya bisa berbuat nekat.


Sella bagai seseorang yang mempunyai kepribadian ganda. Di mana dirinya akan dengan baik menggunakan topeng di wajahnya sesuai dengan keadaan.


Tubuh Jeno menghilang saat dia berbelok arah. Membuat Sella tampak sangat kesal. Padahal Sella berharap Jeno akan membalikkan badan. Melihat kembali ke arah dirinya.


Di kelas, Moza mendekati kursi Jevo. "Kenapa?" tanya Jevo ketus.


Moza berani mendekati Jevo, karena saat ini waktu istirahat. Sehingga kebanyakan dari para murid lebih memilih meninggalkan kelas. Hanya ada dirinya dan Jevo yang berada di dalam kelas saat ini.


"Terimakasih." cicit Moza.


"Hemm..." sahut Jevo dengan cuek, dengan kedua mata tetap fokus pada layar ponselnya.


Moza ingin mengeluarkan suaranya kembali. Tapi tertahan, saat seorang siswa yang dikenal sebagai kekasih dari Jevo masuk ke dalam kelas mereka.

__ADS_1


Claudia memandang sinis pada Moza. Sella tahu diri, segera kembali ke tempat duduknya. "Hay sayang." sapa Claudia, mengambil kursi di sebelahnya. Dan duduk tepat di samping Jevo.


Claudia menyenderkan kepalanya dengan mesra di bahu Jevo. "Semalam kemana sih. Susah banget di hubungi?" tanya Claudia dengan suara manja.


"Maaf sayang, semalam aku nggak bisa keluar rumah. Mama sama papa ada di rumah." jelas Jevo.


"Ooo,,, pantes." ujar Claudia. Sebab, memang Jevo tidak akan bisa keluar rumah saat malam hari. Jika orang tuanya berada di rumah.


Claudia mendekatkan bibirnya ke telinga Jevo. "Aku kangen. Nanti kita keluar yuk. Pulang sekolah. Jalan-jalan." bisik Claudia mengajak Jevo.


Jevo mengelus pipi mulus Claudia. Mengecup singkat pipi milik Claudia. "Oke." ucap Jevo mengerlingkan sebelah matanya.


Claudia memeluk erat lengan Jevo. "Makin sayang." ucapnya manja.


Moza hanya menampilkan wajah biasa. Tapi, telinganya mendengar apa yang dibicarakan oleh mereka berdua.


"Nggak keluar rumah. Lantas semalam siapa? Hantu." batin Moza. "Dasar pembohong." lanjut Moza hanya berani mengungkapkan dalam hati.


Entah kenapa, ada perasaan kesal saat Moza melihat bagaimana Jevo memperlakukan Claudia. "Tadi sama gue ketus amat. Giliran sama ulat bulu saja, nempel. Geli banget." sungut Moza dalam hati.


Beberapa jam kemudian, jam pulang berbunyi, tanda berakhirnya pelajaran berbunyi. Semua murid pulang ke rumah masing-masing.


Di parkiran, Jeno tanpa rasa curiga masuk dan mengendarai mobilnya seperti biasa. Melajukan mobil meninggalkan area sekolah.


Citttzzz..... Jeno mengerem mobil dengan mendadak. Membuat mobil yang dia kendarai berhenti detik itu juga. Beruntung, tidak ada kendaraan lain di belakangnya.


"Hay..." sapa Bulan, duduk dengan santai di kursi belakang. Seolah berhentinya mobil secara mendadak sama sekali tak berpengaruh untuk dirinya.


Jeno menatap Bulan dari kaca pantau. "Se-sejak kapan? Bagaimana bisa?" cicit Jeno, menelan ludah dengan kasar.


Jeno yakin, saat dirinya masuk ke dalam mobil, Bulan belum ada di kursi belakangnya. Dirinya yakin itu. "Sudahlah. Ayo cepat, jalan lagi." pinta Bulan bagaikan seorang atasan sedang memerintahkan bawahannya.


"Bu...."


"Kamu mau, polisi datang ke sini." tutur Bulan. "Lihat." Bulan menunjuk ke sebuah rambu-rambu.


"Ckk,,," decak Jeno, kembali menjalankan mobilnya. Sebab mobil maupun kendaraan lain di larang berhenti di jalan tersebut.


"Bu,,, ibu mai ngapain??!" teriak Jeno.


Bulan berpindah duduk, dirinya saat ini duduk di kursi depan. Tepat di samping Jeno. "Seharian kita berada di sekolah. Pasti kamu juga lapar. Bagaimana kalau kita mampir ke warung makan. Sekalian ada yang ingin saya bicarakan." jelas Bulan.


"Tenang saja, saya tidak akan menculik kamu." ucap Bulan disertai kekehan kecil, pasalnya Jeno melirik waspada ke arahnya.


"Lagi pula, saya tidak ingin berurusan dengan Tuan David." canda Bulan.


"Lepas seragam kamu. Kenakan kaos itu saja. Saya tidak ingin dicurigai sebagai tante-tante girang." celetuk Bulan.


Layaknya kerbau yang dicocol hidungnya, Jeno mengikuti apa yang di katakan Bulan. Dan juga ke mana Bulan akan membawanya.


Bulan melepaskan kardigan yang ada di tubuhnya. Menyisakan kemeja lengan pendek yang melekat sempurna di tubuh seksinya.


Bulan menggelung asal rambut panjangnya menjadi satu ke atas. Memperlihatkan leher jenjang dan mulus. "Bagaimana, kamu suka tempatnya?"


Jeno segers mengalihkan pandangan dari Bulan. Meski dia masih pelajar SMA kelas dua, tapi dia sudah termasuk lelaki dewasa.


Sesuatu dalam tubuhnya meronta saat melihat pemandangan indah di depan matanya. "Kenapa dia jadi guru. Bukan model saja." batin Jeno.


Bulan memesan ruangan khusus. Di mana, saat jendela terbuka, akan ada pemandangan indah sepanjang mata memandang.


Seorang pelayan masuk. Menurunkan berbagai jenis makanan di atas meja. "Saya memesan makanan spesial di sini. Semoga kamu suka." papar Bulan, memesan makanan tanpa menanyakan terlebih dahulu pada Jeno.


Bulan mengambil makanan, menaruhnya di dalam piring. "Saya tidak punya banyak waktu." ujar Jeno.


"Astaga, saya lupa. Bukankah kamu harus membantu papa kamu untuk menjalankan perusahaannya. Kenapa saya sampai lupa."


Jeno memandang intens ke arah Bulan yang tetap menikmati makanan di atas piring miliknya. Jeno merasa membuang-buang waktu. Dia berdiri.


Tapi perkataan Bulan selanjutnya mampu membuat Jeno berpikir beribu kali untuk meninggalkan tempat ini. "Dan juga sibuk menyelidiki kasus pembunuhan berantai bersama saudara kembar kamu, dan juga kedua teman kamu."


Bulan meneguk sedikit air minumnya. "Emmm,, siapa nama mereka. Arya dan Mikel. Benar?"


Jeno kembali mendaratkan pantatnya di depan Bulan. "Makan dulu, pembicaraan kita akan memakan waktu lama." tutur Bulan dengan tenang.

__ADS_1


Jeno hanya menghela nafas panjang. Melakukan apa yang Bulan katakan. Makan. "Apa ibu menyamar untuk perkara itu, atau ada tujuan lain?" tanya Jeno di sela-sela makannya.


"Semua yang kamu tanyakan jawabannya adalah, benar."


"Maksudnya?"


"Saya ingin mengajak kamu untuk bekerja sama. Mengungkap siapa pelaku pembunuhan berantai yang selama ini meresahkan semua orang. Bagaimana?"


Jeno menatap Bulan dengan pandangan menyelidik. "Saya tidak punya kesabaran, untuk memberikan waktu berpikir pada kamu. Jawab sekarang. Atau berarti tidak." tegas Bulan.


Bulan dan Jeno saling bersitatap. Bulan menaikkan sebelah alisnya. "Baiklah. Saya mau."


Bulan mengangguk. "Tapi ada syaratnya." ujar Jeno berganti memberi penawaran.


"Jevo dan kedua temannya harus ikut dalam misi ini." pinta Bulan.


Bulan sudah memperkirakan jika Jeno akan meminta hal tersebut. Bulan berpikir, jika selama ini mereka bekerja berempat.


Pasti jika Jeno ingin bekerja sama dengan Bulan, Jeno juga akan mengajak timnya yang lama. Oleh karenanya, Bulan sudah menyelidiki tentang Mikel dan Arya.


"Setuju."


Bulan mengeluarkan sebuah kertas kecil dari dalam saku kemejanya. "Ajak mereka bertiga ke tempat ini. Nanti malam."


Jeno mengambil kertas yang disodorkan oleh Bulan. "Pukul sepuluh malam. Jangan sampai lebih. Dan ingat satu hal. Jangan sampai ada yang mengetahui tempat ini. Selain kalian berempat. Paham." tekan Bulan.


"Oh iya,,, saya perlu mengingatkan kamu. Jangan pernah kamu ceritakan pada siapapun, tentang kejadian kemarin malam."


"Kenapa?"


"Nanti akan saya jelaskan jika sudah waktunya. Yang pasti, semua itu tidak ada hubungannya dengan apa yang akan kita selidiki bersama." jelas Bulan.


Bulan meninggalkan Jeno yang masih berada di dalam ruang makan. Mata Jeno melihat ke arah tulisan pada lembaran kertas kecil di tangannya.


Antara ragu dan penasaran. Ragu bercampur rasa takut. Jika ternyata semua adalah jebakan Bulan. "Tapi untuk apa Bu Bulan menjebak kami?" cicit Jeno berpikir.


Penasaran. Pasalnya, setahu Jeno tempat yang tertulis di kertas tersebut adalah sebuah tempat yang jauh dari kota. "Perjalanan dari sini ke sana saja memerlukan waktu selama satu jam." tutur Jeno.


Segera Jeno menghubungi Jevo. Serta mengajaknya untuk segera bertemu. "Jangan lupa. Ajak kedua teman kamu." pinta Jeno pada Jevo, saat keduanya berbicara lewat ponsel.


Pergi dari tempat tersebut, Bulan segera melakukan panggilan telepon dengan seseorang yang dia percaya bisa menjaga keluarganya yang tinggal di kota lain.


"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Bulan pada seseorang di seberang telepon.


"Baik. Langsung hubungi gue, jika ada hal yang mencurigakan. Jangan bertindak seorang diri. Terlalu beresiko." pinta Bulan pada orang tersebut.


Saat Bulan mengambil misi ini untuk pertama kali, dia sama sekali belum menaruh curiga. Semua berjalan seperti sebelumnya.


Bulan juga tidak terlalu mengkhawatirkan keluarganya, yang tidak tinggal satu kota dengannya.


Tapi semua berubah, saat Bulan mulai menyadari dan mengetahui satu demi satu masalah yang tersembunyi di balik misinya kali ini.


Seketika otak Bulan tertuju pada keselamatan keluarganya. Yang pastinya tidak tahu apapun. Dia membayar mahal seseorang untuk mengawasi dan selalu memantau keluarganya.


Mengabari setiap kejadian, atau apapun itu yang menimpa keluarganya. Meski hanya perkara sepele.


Bulan hanya tidak mau, keluarganya terkena getah dari pekerjaannya yang berbahaya ini.


Sementara Serra akhirnya melakukan terapi untuk memulihkan kondisi psikisnya, setelah diselamatkan oleh Bulan dari penculikan tersebut.


Namun dirinya meminta untuk di dampingi oleh kedua orang tuanya, saat melakukan terapi tersebut. Serra belum bisa percaya dan masih sedikit menyisakan rasa takut, saat berduaan dengan orang yang belum dia kenal.


Serra juga melakukannya karena tidak tega melihat sang mama yang terus merengek, meminta kepadanya untuk mengikuti terapi.


Tanpa mereka sadari, beberapa hari ini seseorang dengan santai dan tenang mengawasi keadaan rumah mereka tanpa rasa takut.


Bahkan, beberapa orang yang ditugaskan oleh pihak berwajib, seakan tidak tahu. Jika ada seseorang berbahaya yang berada tak jauh dari kediaman Serra.


Orang yang selama ini dicari oleh mereka. Orang paling berbahaya di kota ini. Dan saat ini menjadi buronan. Sayangnya tak ada yang mengetahui wajahnya.


Dan pihak berwajib menduga jika Serra mengetahui wajahnya dengan pasti. Mereka berharap, setelah mengikuti terapi yang di lakukan oleh psikiater, Serra bisa di ajak kerja sama.


Mendeskripsikan bagaimana wajah dari pelaku. Sehingga mereka bisa segera menangkapnya.

__ADS_1


__ADS_2