
Di sebuah jalan sedikit jauh dari rumah di mana Bulan sekarang berada. Jeno dan yang lainnya menghentikan mobil
"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Jeno. Padahal Gara sudah memberitahukan alamatnya. Dan Jeno tahu, jika rumah tersebut masih jauh di depan.
Namun Gara malah menyuruhnya untuk menghentikan mobil mereka di sini. "Gue harus melihat kondisi dulu. Bukankah sudah gue katakan. Jangan bertindak gegabah. Bulan ada di dalam." tukas Gara, sembari mengambil laptop yang dia taruh di kursi sampingnya.
"Jeno,,, sabar. Kita belum pernah melakukannya. Biar Gara yang memimpin." ujar Jevo mencoba membuat Jeno mengerti, jika mereka masih bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa.
Jeno tidak menyahuti perkataan keduanya. Dia menatap lurus ke depan. Tentunya perasaannya masih cemas dan khawatir.
Gara mengambil ponsel dari saku pakaiannya. Mencoba memberitahu Bulan, jika mereka berlima menyusulnya. Juga memberitahu posisi mereka saat ini pada Bulan.
Tentu saja Gara tak ingin gegabah dan menjadi orang yang tak mempunyai otak. Masuk dan menyerang rumah tanpa mengetahui apapun. Yang ada nyawanya akan melayang saat itu juga.
"Kita tunggu perintah Bulan." tukas Gara, membuat Jevo dan Jeno yang berada di kursi depan menoleh ke arahnya. Sebab Gara duduk di kursi belakang mereka.
"Gue memberitahu Bulan. Kita sama sekali tidak tahu keadaan di sana. Hanya Bulan yang tahu." jelas Gara.
"Padahal elo bisa tetap berada di markas. Memantau dari layar laptop seperti biasanya." sahut Jeno merasa kesal karena Gara ngotot ingin ikut mereka.
Gara tersenyum kaku. "Maaf,,,, gue nggak kepikiran sampai ke sana." cicit Gara menyesal.
Juga dengan Mikel dan Arya yang merasa heran. "Apa bu Bulan ada di sekitar sini?" tanya Arya. Dimana kedua matanya hanya melihat pohon yang berjejer rapi di tepi jalan. Tidak ada rumah satupun.
"Kelihatannya tidak di sini." sahut Mikel. Menebak jika Gara sengaja menghentikan mobil di sini.
"Kita tetap di dalam, atau keluar?" tanya Arya meminta pendapat.
"Tetap di dalam saja. Jika ada yang perlu kita kerjakan, pasti mereka akan memberitahu kita." tukas Mikel. Arya mengangguk, membenarkan ucapan Mikel.
Di dalam kamar mandi pembantu, Nyonya Irawan dan Sapna saling berpelukan. "Bulan." Nyonya Irawan baru tersadar dengan rambut Bulan yang dipotong pendek menyerupai seorang lelaki.
Nyonya Irawan sempat tertegun. Bukankah mereka baru saja bertemu. Dan semua masih baik-baik saja. Rambut Bulan juga masih panjang, normal. Tapi sekarang. Rambut Bulan dipangkas pendek.
Bulan tersenyum memamerkan deretan giginya yang bersih dan rapi. "Maklum Nyonya, saya bukan pekerja salon." tutur Bulan mengusap kepalanya sendiri.
Dimana Bulan sempat melihat dari pantulan kaca, jika dirinya tidak memotong rambutnya dengan rapi. Sehingga ada beberapa bagian yang petak. "Nyonya tenang saja. Mereka tidak mencurigai saya." lanjut Bulan.
Bulan tetap memperlihatkan senyum tulusnya. Tak ingin kedua orang yang dia akan selamatkan merasa bersalah dengan keputusan yang dia ambil atas kesadaran diri. Tanpa paksaan dari siapapun.
"Bulan harus menyamar sebagai lelaki, saat keluar dari kamar itu." cicit Sapna dengan nada bergetar. Menatap Bulan dengan rasa bersalah.
Rasanya ingin sekali Sapna menangis. Bahkan Bulan rela memangkas mahkota di atas kepalanya. Dan terlihat layaknya seorang lelaki.
"Jangan khawatir Nyonya,,, Nona,,, rambut saja, kenapa meski bingung, mereka bisa tumbuh kembali. Kebetulan, rambut saya sangat subur." ujar Bulan menghibur keduanya.
Padahal, disini Bulan yang memangkas rambutnya. Tapi, Bulan juga yang malah merasa tak enak hati. "Maaf, kami menyusahkan kamu." tutur Nyonya Irawan.
"Jangan berkata seperti itu Nyonya. Ini sudah menjadi tugas saya." sahut Bulan dengan bijak.
Nyonya Irawan tersenyum sumbang. "Tugas. Tugas kamu. Bahkan, jika kamu tidak menuruti perintah suami saya, kamu juga tidak akan dihukum." ujar Nyonya Irawan terdengar getir.
"Saya ikhlas melakukannya Nyonya." Bulan tak ingin Nyonya Irawan salah paham. Mengira jika sang atasan, atau suami dari Nyonya Irawan, pak Bimo menekan Bulan. Sehingga Bulan melakukan permintaan beliau.
Dari ucapan Nyonya Irawan, Bulan menyimpulkan jika istri dari atasannya tersebut sudah tahu apa yang terjadi.
"Ini bukan tugas resmi. Tidak masalah jika kamu menolak." tutur Nyonya Irawan dengan tatapan sendu.
Sapna terdiam. Mencerna setiap perkataan sang mama. "Kenapa mama berbicara, seolah di sini papa yang bersalah atas terkurungnya aku dan mama." batin Sapna mulai menebak.
Bulan segera mengalihkan pembicaraan mereka. Dirinya tak ingin membahas hal yang sangat pribadi dalam keluarga mereka. Sebab semua itu bukan wewenang dari Bulan.
Disini, Bulan hanya menolong. Menyelamatkan dua nyawa tak bersalah. Dan juga, Bulan melakukannya karena rasa hormat pada sang atasan yang selama ini memperlakukannya dengan baik.
"Maaf Nyonya, apa sudah ada yang masuk ke kamar ini?" tanya Bulan.
Nyonya Irawan mengangguk pelan. "Beberapa waktu yang lalu, aku mendengar suara pintu terbuka. Tapi tak lama, pintu itu tertutup kembali." jelas Nyonya Irawan.
Bulan mengangguk paham. Sesuai dengan apa yang dia tebak. Jika mereka menggeledah setiap ruangan secara berkala setiap beberapa jam sekali. "Hanya itu saja, Nyonya?" tanya Bulan memastikan.
"Iya."
Semua terdiam sejenak dengan masih berdiri di dalam kamar mandi. Seolah mereka sedang berpikir di dalam benaknya masing-masing.
"Kita harus segera keluar, sebelum mereka menyadari jika Nyonya dan Nona sudah tak pagi berada di dalam kamar." cicit Bulan.
Sebab tak mustahil, mereka juga akan masuk ke dalam kamar yang selama ini digunakan untuk menahan istri dan anak atasannya tersebut.
Dan jika itu sampai terjadi. Selesai sudah. Mereka pasti akan segera meningkatkan keamanan. Yang dimana, Bulan harus bersiap mengeluarkan senjata untuk melawan mereka.
__ADS_1
Bulan ingin membawa keduanya keluar dari rumah tanpa ribut dan tanpa ada benturan. Tapi Bulan sendiri juga tidak tahu, apalagi dirinya masih berada di kamar pembantu dengan keduanya.
"Jangan panggil saya dengan sebutan itu. Cukup panggil nama saya saja. Sapna." pinta Sapna menjeda kalimatnya.
"Kelihatannya, umur anda juga diatas saya. Tak baik, jika anda terlalu formal pada saya." lanjut Sapna.
Bulan hanya tersenyum. "Benar kata Sapna. Panggil putri saya namanya saja. Dan saya. Panggil saya tante. Jangan Nyonya. Ini perintah." tegas Nyonya Irawan dengan ekspresi dibuat berwibawa.
Bulan terkekeh pelan. "Baiklah, jika perintah. Maka saya akan dengan senang hati melakukannya. Nyo,,,, ehhh,,,, Tante dan Sapna." tukas Bulan.
Ketiganya tertawa pelan. "Husstt...." Bulan menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya. Menyuruh keduanya untuk diam. Semua lantas mengubah ekspresi mereka dalam sekejap.
Bulan menempelkan telinganya ke tembok di sebelahnya. Dimana, di sana adalah area samping rumah. Atau lebih tepatnya halaman luas di samping rumah yang ditanami beberapa macam pohon.
Nyonya Irawan dan Sapna terdiam dan saling memegang tangan. Jujur saja, mereka pastinya merasa takut. Apalagi melihat wajah Bulan yang tampak tegang dan serius.
Bulan kembali ke posisi semula. Mengambil sebuah senjata dari tangannya. Sebuah pisau lipat yang sempat dia gunakan untuk menghabisi nyawa seorang penjaga di kamar atas. Dimana pakaiannya Bulan kenakan saat ini.
"Ada yang menyadari keberadaan kita." lirih Bulan.
Nyonya Irawan dan Sapna langsung menegang. Sungguh, rasa aman yang sempat mereka rasakan hilang seketika. "Mungkin kita terlalu keras bersuara." sahut Nyonya Irawan menebak, dimana Bulan mengangguk.
Bulan menggerakkan tangannya, sebagai isyarat untuk mereka berdua terap berada di dalam kamar mandi. "Mau kemana?" tanya Sapna lirih.
Bulan hanya menunjuk ke arah depan. Lalu membuka pintu kamar mandi dengan pelan, supaya tidak menimbulkan bunyi. Bulan bersembunyi di balik pintu. Menunggu mangsa datang, untuk selanjutnya dia eksekusi.
Bulan memejamkan kedua matanya sebentar. Dengan tangan memegang pisau lipat yang tajam. Bulan tidak menggunakan senjata api, karena tidak ingin menimbulkan suara yang malah akan memancing semua penjaga mengetahui jika ada penyusup masuk.
Bukannya Bulan takut melawan mereka semua. Hanya saja Bulan ragu, karena ada dua nyawa yang harus dia prioritaskan.
Ditambah, keduanya perempuan bisa gang tidak pernah bersentuhan dengan kerasnya dunia. Bulan hanya takut, mereka malah akan menjerit ketakutan saat mendengar suara tembakan. Dan yang ada malah nyawa mereka semua terancam.
Bulan bersikap waspada, saat melihat handle pintu bergerak. Bulan menebak ada yang ingin membuka pintu dari luar.
Bulan memandang ke bawah. Dimana dia melihat bayangan orang yang hendak masuk. Semua karena kamar pembantu dalam keadaan gelap. Tapi lampu di depan kamar menyala terang. Sehingga jika pintu terbuka, maka akan ada cahaya yang masuk beserta bayangan orang tersebut, karena terkena sinar lampu dari luar.
"Biar gue yang masuk. Elo berjaga di sini." tukas salah satu penjaga.
"Lebih dari satu orang." batin Bulan denhan sikap bersiap menyerang.
Seorang lelaki masuk, dengan sebuah pistol terangkat ke depan. Bersiap menembak siapapun di depannya.
Bulan menendang pintu, sehingga pintu tertutup kembali. Sehingga lelaki di depan kamar terkejut. Bulan segera menyeret tubuh lelaki tersebut ke pojok kamar. Meletakkan di sana.
Bulan menyeringai melihat lelaki tersebut meregang nyawa. Bulan berubah posisi. Tidur di atas ranjang. Seolah dirinya salah satu dari pembantu tersebut.
"Hey,,,, ada apa? Elo baik-baik saja..?!" seru rekannya dari luar, perlahan membuka pintu dengan pistol mengarah ke depan.
"Elo dimana?!" seru lelaki tersebut, menanyakan keberadaan rekannya.
Bulan menyipitkan sebelah matanya. Memperhatikan pergerakannya. Lelaki tersebut menggerakkan salah satu pembantu. "Sial,,, mereka tidak tertidur. Berarti ada penyusup masuk." tukasnya.
Tanpa menurunkan senjata, dia merogoh sakunya. Mengambil ponsel hendak menghubungi rekannya yang berada di luar.
Belum sempat dia melakukannya, dia sudah dikejutkan dengan pergerakan Bulan. Langsung dia mengarahkan pistolnya hendak menembak ke arah Bulan.
Sayang sekali, Bulan bergerak lebih cepat dari pada dirinya. Bulan segera merebut pistol dari tangannya. Tak ingin lelaki tersebut menarik pelatuknya. Saat dia meringis kesakitan.
Lelaki tersebut terjatuh ke lantai dengan tangan memegang perut, dimana darah terus keluar dari dalamnya.
Bulan menendang lelaki yang tengah kesakitan di depannya. "Ka-ka-kamu..." ucapnya lirih, menggunakan kekuatan terakhir.
Bulan berjongkok. "Aku,,,, malaikat pencabut nyawa." seringai Bulan menakutkan lawannya yang hampir kehabisan nafasnya tersebut.
Dirasa dia sudah tak bernyawa, Bulan menyeretnya untuk diletakkan bersama dengan temannya yang ada di pojokan kamar.
Bulan mengambil kedua pistol mereka. Menyimpannya di balik jas yang dia kenakan. "Pasti sebentar lagi mereka akan menyadarinya." lirih Bulan menebak.
Dan benar saja, terdengar suara riuh dari luar. Bulan sedikit membuka pintu, dan terlihat beberapa penjaga berlalu lalang dengan seorang berteriak memberikan perintah.
"Sial...!! Mereka tahu terlalu cepat." papar Bulan tak mengira mereka tahu jika Nyonya Irawan dan Nona Sapna tidak ada di kamarnya.
Padahal Bulan sama sekali belum memikirkan cara untuk mengeluarkan keduanya daei dalam rumah. Namun sekarang situasinya malah semakin sulit.
Bulan merasa ponselnya bergetar beberapa kali. Segera dia mengeluarkan ponsel. Melihat siapa gang menghubunginya. "Gara." lirih Bulan, segera membuka beberapa pesan tertulis yang Gara kirimkan padanya.
"Gara,,,,!!" geram Bulan tertahan, mengetahui mereka malah menyusul Bulan untuk datang ke rumah ini dari pesan yang ditulis oleh Gara.
Bulan terdiam sejenak. Suara ribut di luar semakin dia dengar. Apalagi terdengar suar teriakan dari mereka yang mengatakan tidak menemukan keberadaan kedua tahanan yang mereka jaga. "Pasti sebentar lagi mereka akan menggeledah tempat ini." batin Bulan.
__ADS_1
Bulan segera menghubungi Gara. Dengan cepat terbesit sebuah rencana di dalam benaknya. "Mereka semua harus menyusul rekan mereka. Jangan sampai ada mulut yang berbicara." Bulan menatap kearah dua lelaki yang tak bernyawa di pojokan kamar sembari menyeringai penuh makna.
Terlihat Bulan dengan ekspresi serius berbicara dengan Gara menggunakan ponselnya. Tak lebih dari dua menit, obrolan mereka berakhir. "Bodoh. Padahal bisa menyisakan satu orang di markas. Memantau kita dari layar laptop." geram Bulan.
Tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan mereka. Terutama Gara. Bisa-bisanya malah ikut pergi mengikuti keinginan mereka.
Bulan kembali ke kamar mandi. "Tante, Sapna,,, kalian berbaringlah di ranjang. Tidurlah seperti mereka." pinta Bulan.
Nyonya Irawan dan Sapna mengikuti apa yang Bulan katakan. "Ingat, jangan bergerak meski ada yang menyentuh kalian." jelas Bulan.
Nyonya Irawan dan Sapna menarik selimut hingga menutupi dada mereka. "Sepertinya mereka tahu, jika ada penyusup masuk. Dan juga, mereka pasti menyadari jika semua pembantu bukan tertidur, tapi pingsan karena obat bius."
Meski keadaan remang, Bulan melihat wajah cemas dari raut wajah keduanya. "Ingat, jangan pernah melakukan apapun. Apapun yang terjadi, tetap berada di atas ranjang. Meski kalian mendengar suara apapun."
"Baik." sahut Nyonya Irawan.
"Jika bukan saya yang menjemput atau membangunkan kalian, jangan pernah membuka mata kalian. Tetaplah berpura-pura pingsan." pinta Bulan.
"Baik." sahut keduanya serempak.
Bulan mengeluarkan dua buah senjata api. Dia pegang di masing-masing tangan. "Bulan..." panggil Sapna, membuat Bulan yang hendak memegang handle pintu menengok ke belakang.
"Hati-hati. Kami menunggu kamu." cicit Sapna dengan ekspresi sendu.
"Pasti. Ingat semua yang saya katakan. Tolong bantu saya." tukas Bulan.
Nyonya Irawan dan Sapna hanya bisa melihat tubuh Bulan menghilang di balik pintu. Untuk selanjutnya, keduanya tak tahu apa yang terjadi.
Keduanya masih membuka matanya. Tak ada percakapan di antara mama dan anak tersebut. Indera pendengarannya dengan fokus menangkap suara yang ada di luar.
Sebisa mungkin, keduanya tetap menjaga kedua matanya agar tetap terbuka. Bisa bahaya jika sampai mereka memejamkan mata karena tertidur. Yang ada mereka akan terkejut jika ada orang yang masuk ke kamar. Dan mereka malah akan ketahuan. Sehingga Bulan lah yang akan mendapat masalah.
Di luar, Bulan mengendap perlahan bagai cicak yang hendak menerkam calon makanannya. Sikap waspadanya tetap terjaga. Kedua matanya bagai elang yang mencari mangsa.
Bukan hanya kedua matanya yang waspada dan bekerja. Namun juga kedua indera pendengarannya. Dengan teliti Bulan fokus pada keadaan sekeliling.
Bulan berhenti di bali pilar besar. Dimana di depannya ada sebuah pintu. Entah apa yang Bulan pikirkan. Dirinya bisa saja menembak beberapa orang yang berlalu-lalang mencari keberadaan Nyonya Irawan dan Nona Sapna, tapi Bulan tidak melakukannya.
Sepertinya, Bulan menunggu sesuatu untuk bergerak. "Lama sekali mereka." cicit Bulan yang mulai tidak sabar, apalagi dia mendengar suara sepatu mendekat ke arahnya.
"Pasti ada yang ingin memeriksa kamar pembantu." batin Bulan tersenyum samar.
Dan benar saja. Mereka ada tiga orang. Berjalan ke arah kamar pembantu. "Sambil menunggu Gara dan yang lain. Tak masalah jika gue bermain-main dengan mereka." batin Bulan, menyimpan kembali senjata apinya.
Bulan mengambil dua pisau lipat dari dalam kantong ajaibnya. Menyimpannya di dalam telapak tangan yang menggenggam erat. Berjalan di belakang ketiga lelaki tersebut dengan santai.
Dua orang lelaki berada di depan kamar. Keduanya menatap ke arah Bulan yang menghampiri mereka. Menatap Bulan dari ujung kaki hingga kepala.
"Elo orang baru. Gue nggak pernah lihat." cicit salah satu dari mereka.
Bulan hanya diam. Berjalan dan berhenti di tengah keduanya yang saat ini menatap heran ke arah Bulan. Sreeettt..... dengan sekali gerakan, Bulan menebas keduanya tepat di leher mereka. Membuat keduanya langsung terjatuh tak bernyawa.
Bulan masuk, membuka pintu dengan lebar. "Kenapa elo masuk, tunggu di luar." seru rekannya yang berada di dalam. Dia mengira jika yang masuk adalah temannya. Lantaran kamar dalam keadaan gelap.
Bulan mengernyitkan dahinya, apalagi dia melihat lelaki tersebut hendak membuka sabuknya. Bulan mendengus sebal. "Bisa-bisanya dia memikirkan syahwatnya di saat seperti ini." batin Bulan.
"Ckk,,, kenapa elo malah berdiri seperti patung. Mengganggu saja." kesalnya, karena apa yang dia inginkan gagal terpenuhi.
Beruntung Bulan datang tepat waktu. Jika tidak, pasti Sapna akan berteriak. Sebab lelaki tersebut berada di samping ranjang yang ditempati Sapna.
Dia membenahi sabuknya. Hendak pergi meninggalkan kamar. Bulan memegang pundak lelaki tersebut. "Elo kenapa? Aneh banget." tuturnya.
Jlebb... "Aaaa...!!" seru lelaki tersebut dengan suara tertahan menahan rasa sakit karena Bulan menusuk ulu hatinya dengan pisau.
Bulan mencabut pisaunya. Mengelapnya pada pakaian lelaki tersebut. "Bulan,,, kamu baik-baik saja?" tanya Sapna dengan suara bergetar.
"Tutup mata kalian, jika takut." sahut Bulan.
Bulan menyeret tubuh lelaki tersebut, dia letakkan bersama dua penjaga lainnya yang lebih dulu dia lenyapkan. Kemudian segera menyeret dua tubuh yang berada di luar. Untuk ditaruh di tempat yang sama.
Dorr..... dorr.... dor.....
Terdengar suara tembak bersahutan dari luar. Bulan tersenyum miring. "Mereka akhirnya datang." tukas Bulan.
"Tante,,, Sapna. Kalian bisa bangun. Ikut saya untuk keluar. Sekarang." pinta Bulan.
Segera Nyonya Irawan dan Sapna mengekor di belakang Bulan. "Masuklah kalian. Kunci pintunya dari dalam. Jangan pernah membuka, jika bukan aku yang datang." pinta Bulan, meminta keduanya masuk ke dalam sebuah kamar yang berada di posisi paling depan. Dekat ruang utama.
"Baik. Kamu berhati-hatilah Bulan." tukas Nyonya Irawan.
__ADS_1
"Kalian tenang saja. Bantuan sudah datang. Saya yakin, kita akan keluar selamat." ujar Bulan, sebelum meninggalkan mereka berdua di dalam kamar.