PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 181


__ADS_3

Bulan dan keluarga Jeno masih berada di belakang rumah, menikmati suasana sore hari. Perkataan Nyonya Rindi mampu membuat Bulan syok seketika.


"Bulan,,, bagaimana jika nanti malam kamu ikut kami pergi ke pesta. Jevo dan Jeno juga ikut. Bahkan Arya dan Mikel juga ada di sana." ajak Nyonya Rindi dengan tiba-tiba.


"Hah...." seketika Bulan melongo karena terkejut.


Bukan hanya Bulan yang terkejut. Tapi Jevo dan Jeno. Keduanya saling pandang sejenak. Lalu menatap Bulan.


Jeno menatap Bulan dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah dirinya tak ingin Bulan ikut, atau malah berharap Bulan untuk ikut.


"Bagaimana pa? Apa boleh?" tanya Nyonya Rindi meminta persetujuan sang suami.


Tuan David mengangguk. "Kenapa tidak. Boleh saja. Asal Bulan mau. Tapi jangan memaksa ma." tukas Tuan David.


"Iya pa. Memangnya nanti malam kamu ada acara?" tanya Nyonya Rindi.


"Nggak ada tante." jawab Bulan dengan jujur. Ingin sekali Bulan berbohong. Jika nanti malam dirinya ada kesibukan. Hanya saja Bulan tak enak hati. Terlebih pada keluarga Jeno.


"Ya sudah. Kamu ikut kami saja." ajak. Nyonya Rindi kekeh.


"Ma...." tegur Tuan David, tidak ingin Bulan ikut karena terpaksa.


Nyonya Rindi hanya melirik acuh pada sang suami. Ini benar-benar kesempatan emas dan langka. Bisa mengajak Bulan datang ke acara besar.


Sepertinya keluarga Nyonya Rindi bisa menebak apa yang ada di dalam benak Nyonya Rindi. Tentu saja beliau ingin memamerkan Bulan sebagai kekasih sang putra.


Bulan tersenyum kaku. "Memangnya nggak apa-apa tante? Emm,,, lalu, kekasih Jevo apa juga ikut?" tanya Bulan dengan hati-hati.


Bulan bukannya malah senang mendapat kesempatan besar ini. Dirinya hanya sekedar kekasih bagi Jeno. Dan tentu saja dia tidak ingin membuat keluarga Jeno menjadi bahan perbincangan.


"Gue nggak punya kekasih." tukas Jevo.


"Claudia." sahut Bulan, seakan menanyakan status Jevo dengan Claudia, yang selama ini dia lihat keduanya selalu bersama.


"Kenapa elo mesti tanya. Seharusnya elo tahu. Dasar." kesal Jevo membuang wajahnya sembari memasang ekspresi malas.


"Claudia, astaga sayang. Kamu pikir Jevo serius sama Claudia. No....!! Jika dia serius, berarti dia siap dicoret dari kartu keluarga." tegas Nyonya Rindi, menatap sebal ke arah Jevo.


Bulan tersenyum canggung. Sebenarnya dia tidak ingin membahas Claudia. Hanya mencari alasan supaya tidak ikut ke pesta.


Tapi Bulan sadar, jika dirinya tidak bisa menolak apa yang diinginkan sang calon mertua. "Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Jeno, melihat Bulan seakan memikirkan sesuatu.


"Ehh.... Tidak." sahut Bulan segera.


Jeno menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Bulan. Membawa telapak tangan Bulan dalam genggamannya. "Kenapa? Apa kamu memikirkan pandangan orang lain? Iyakan...? Pasti." cicit Jeno menebak.


Bulan menggeleng, dengan ekspresi menyimpan sesuatu. "Jangan berbohong. Aku tahu sayang. Pasti kamu masih merasa tidak pantas berada di keluarga ini. Bersanding dan duduk di sebelah aku. Hanya karena perbedaan umur kita." jelas Jeno.


"Astaga.... Sayang,,,,, benar apa yang dikatakan Jeno?" tanya Nyonya Rindi.


Langsung semua mata menatap ke arah Bulan. Menunggu apa yang Bulan katakan. "Benar tante. Bulan merasa sedikit was-was akan pandangan mereka. Perbedaan umur Bulan dan Jeno. Apalagi, beberapa bulan terakhir ini, Bulan mengajar di sekolah Jeno."


"Kenapa kamu harus berpikir sejauh itu? Kami saja sama sekali tidak mempermasalahkannya. Kami sebagai orang tua Jeno, tidak membutuhkan masukan mereka, untuk menentukan siapa yang layak dan cocok menjadi menantu kami." sahut Tuan David.


"Benar. Kamu tidak perlu memikirkan masalah sekecil itu. Yang terpenting kamu masih sendiri. Jeno juga sendiri. Beres. Apalagi yang menghalangi kalian untuk bersama." timpal Nyonya Rindi.


"Lagi pula, sekarang sudah banyak hubungan yang mempunyai perbedaan usia. Dimana sang perempuan lebih tua. Jika gue lihat, perbedaan usia elo sama Jeno nggak terlalu jauh. Yang perbedaan usianya lebih jauh dari kalian malah banyak." tukas Jevo ikut menenangkan Bulan.


"Kamu dengarkan. Jangan berpikir, apa yang belum terjadi ke depannya. Nanti kamu malah selalu berpikir negatif terus. Dan malah cemas tak beralasan." tutur Jeno mendapatkan anggukan serta senyum manis dari Bulan.


Tuan David dan Nyonya Rindi terharu, melihat bagaimana Jeno menenangkan Bulan. "Anak mama sudah dewasa." batin Nyonya Rindi.


"Memang, perempuan yang tepat bisa membawa kamu menjadi lebih baik dan dewasa. Semoga Jevo juga mendapatkan perempuan yang tepat untuknya." batin Tuan David, berharap kedua putranya diberikan pasangan yang bisa membawa kebahagiaan untuk mereka.


"Gila. Ternyata Jeno bisa bersikap sedewasa itu. Gue saja mungkin akan cuek jika kekasih gue seperti itu." batin Jevo tersenyum senang melihat saudara kembarnya mendapatkan perempuan yang tepat untuknya.


"Bagaimana, kamu ikut?" tanya Nyonya Rindi untuk kesekian kalinya.


"Tapi Bulan tidak punya gaun tante. Sendal berhak tinggi juga tidak punya." cicit Bulan dengan ekspresi lucu, mampu membuat semua orang tertawa melihat ekspresinya.


"Kenapa kamu mesti bingung. Ada mama, semua beres." sahut Jeno.


"Betul. Setelah ini, kita akan bersiap bersama." timpal Nyonya Rindi.


"Biar Bulan naik motor saja tante." ujar Bulan, mengira jika dirinya dan Nyonya Rindi akan pergi ke salon.


"Untuk apa? Memang kamu mau kemana? Naik motor segala."

__ADS_1


Jeno mengelus pelan rambut palsu yang dikenakan Bulan. "Ma,,,, mungkin Bulan berpikir mama akan mengajak dia pergi ke salon." tebak Jeno.


"Benar, kamu berpikir begitu?"


Bulan mengangguk polos. "Iya tante." sahut Bulan.


"Meski gue sebetulnya sangat malas pergi ke salon. Karena salon adalah musuh utama gue." batin Bulan teringat beberapa bulan yang lalu, dia menghabiskan waktu lama di salon hanya untuk menyambung rambutnya.


Nyonya Rindi tertawa lepas. "Haa.... Haa... Astaga sayang. Kita tidak perlu ke salon. Cukup di rumah saja. Oke."


Bulan menatap Nyonya Rindi dengan tatapan penuh tanya. Seketika Bulan teringat jika keluarga Jeno bukan keluarga sembarangan. "Ehh.... Iya tante." sahut Bulan.


"Bulan bodoh. Mereka kaya dan berkuasa. Pastilah mendatangkan orang salon ke rumah. Memang elo." batin Bulan mengejek dirinya sendiri.


"Memang biasanya kamu perawatan di salon mana? Nanti biar tante undang mereka ke sini?"


"Hah... Bulan,,, perawatan tante?" tanya Bulan memastikan apa yang ditanyakan Nyonya Rindi.


"Iya,,, kamu sayang. Pasti kamu lebih nyaman jika yang menangani kamu salon langganan kamu."


"Salon langganan. Saya saja pergi ke salon hanya satu kali. Apa itu bisa disebut langganan?" tanya Bulan polos.


Semua terdiam. Tidak untuk Jeno yang tersenyum memandangi wajah cantik sang kekasih. "Ma... My moon bukan mama. Dia bulan, meski tanpa perawatan salon, kulitnya jauh lebih baik dari pada mama." goda Jeno sekaligus memuji kemulusan kulit Bulan yang memang natural.


"Serius,,, elo nggak pernah ke salon?" tanya Jevo menyelidik.


"Pernah. Satu kali. Saat menyambung rambut." jelas Bulan dengan jujur.


Nyonya Rindi masih memandang Bulan dari bawah sampai atas. "Benar-benar cantik natural." lirih beliau yang hanya bisa di dengar Tuan David.


"Oh iya ma,,,, apa titipan Jeno ada?" tanya Jeno, seketika teringat saat Bulan mengatakan rambut.


"Sudah. Tapi belum dikirim. Katanya sih nanti malam dikirim." jelas Nyonya Rindi.


Nyonya Rindi menebak jika Bulan belum tahu jika Jeno memintanya untuk mencarikan sampo atau obat herbal yang aman dikonsumsi untuk membuat rambut Bulan segera memanjang kembali.


Bulan hanya diam. Dia tidak bertanya pada Jeno mengenai titipan yang baru saja disebutkan Jeno. Baginya, Jeno juga perlu mempunyai privasi. Dan tak melulu dirinya harus mengetahui apa yang Jeno inginkan dan lakukan.


Dan saat ini, Bulan serta Nyonya Rindi berada di sebuah ruangan. Bukan kamar tidur Nyonya Rindi, maupun Jeno. Yakni kamar tidur yang biasanya digunakan oleh para tamu yang datang ke rumah beliau.


Semua Nyonya Rindi lakukan supaya Bulan lebih terasa nyaman. Dan satu lagi, Nyonya Rindi tidak ingin ada yan mengganggu mereka. Bahkan sang suami ataupun kedua anaknya.


Tuan David terlihat memegang koran. Dimana semua yang ada di dalamnya adalah berita yang membicarakan masalah bisnis dan politik.


Sedangkan Jevo dan Jeno, keduanya asyik bermain catur. Saling lawan untuk membuat musuh kalah.


Di dalam, Bulan yang sedang dirias melirik ke arah Nyonya Rindi yang terlihat rileks dengan memejamkan kedua matanya. Menikmati para perias memberikan riasan di wajahnya.


Berbeda dengan Bulan yang merasa semua ini terlalu lama dan membuatnya bosan. "Nona bisa memainkan ponsel, jika bosan." bisik seorang perempuan yang memakaikan riasan pada Bulan.


Sang perempuan sengaja berbisik, tentu dia bisa menebak situasinya. Sebab dirinya belum pernah melihat Bulan saat dipanggil ke kediaman mewah rumah Tuan David.


Bulan tersenyum dan mengangguk. Melakukan apa yang dikatakan perempuan tadi. "Mbak, jangan terlalu tebal dan menor ya. Saya tidak suka." pinta Bulan.


"Iya Nona. Sebenarnya Nona sudah cukup cantik meski tanpa make-up. Jadi saya hanya memberi sentuhan sedikit dan tipis-tipis saja." sahutnya tersenyum senang.


Keduanya telah selesai merias wajah dibantu perias langganan Nyonya Rindi, yang memang sengaja di panggil untuk datang.


"Lihatlah,,, padahal belum memakai gaun. Kamu sudah terlihat begitu cantik sayang." puji Nyonya Rindi takjub melihat perubahan Bulan.


"Nona Bulan memang sudah cantik Nyonya, hanya poles sedikit langsung berubah." timpal sang perempuan yang merias Bulan.


"Terimakasih tante, terimakasih mbak. Tapi sayang, Bulan memakai rambut palsu." cicit Bulan merasa ada yang kurang.


Sebelum perias datang ke rumah Tuan David, Nyonya Rindi memberi tahu pada mereka jika calon menantunya akan menggunakan rambut palsu.


Beliau juga mengirimkan foto gaun yang akan dikenakan Bulan. Sehingga perias bisa mempersiapkan rambut palsu yang akan Bulan kenakan, yang tentunya serasi dengan gaun tersebut.


"Tidak masalah. Lagi pula, rambut kamu seperti itu karena demi menyelematkan nyawa orang. Seharusnya kamu bangga." tutur Nyonya Rindi, tidak ingin Bulan merasa minder.


"Nona hebat. Berani mengorbankan rambutnya. Saya salut dengan Nona." sahut sang perias mengacungkan dua jempol tangannya ke atas untuk memberikan apresiasi pada Bulan.


Nyonya Rindi belum memberitahu Bulan perihal sampo yang dia beli. Dimana Jeno yang menginginkannya, sebab tak tega sang kekasih selalu mengeluh dengan rambutnya yang tak kunjung panjang.


Nyonya Rindi sengaja belum memberitahu, sebab barangnya belum ada. Dan beliau akan langsung memberikan pada Jeno jika barangnya sudah sampai, supaya Jeno sendiri yang memberikan pada Bulan.


Nyonya Rindi dan Bulan mengganti pakaian mereka dengan gaun yang baru saja Nyonya Rindi beli dari seorang desainer langganannya.

__ADS_1


Jika Nyonya Rindi berganti di kamar ganti, tidak untuk Bulan. Untuk menghemat waktu, Bulan berganti di kamar mandi saat Nyonya Rindi berada di kamar ganti.


Bulan menatap tampilannya dari pantulan cermin. "Gila. Bisa pas gini di tubuh gue." cicit Bulan memegang beberapa bagian tubuhnya yang sudah tertutup gaun indah.


Kembali, Bulan menatap dirinya dari pantulan cermin. Bulan tersenyum sendiri. "Sumpah. Ternyata gue cantik juga jika berdandan."


Bulan merasa wajah yang ada di cermin bukanlah wajahnya. "Perias itu memang sangat hebat." puji Bulan merasa dirinya cantik.


"Gaunnya pasti sangat mahal." tutur Bulan memindai betapa indah gaun yang melekat di tubuhnya.


Gaun yang Bulan kenakan berwarna putih tulang dengan pernak-pernik yang tersebar di seluruh gaun.


Bukan pernak-pernik biasa. Melainkan permata yang memang berukuran kecil dengan berbagai warna. Memperlihatkan betapa mewahnya gaun tersebut.


Gaun tersebut bukan gaun terbuka. Gaun yang dipilihkan Nyonya Rindi benar-benar sesuai keinginan Bulan dan Jeno. Tertutup. Berlengan panjang, dengan sedikit aksen di bagain pergelangan tangan yang berbentuk kerutan.


Bahkan gaun yang Bulan kenakan menutupi leher jenjang Bulan dengan panjang menutupi kaki jenjang Bulan. Tak ada kulit Bulan yang terlihat, selain telapak tangan dan wajah.


Tapi jangan salah mengira. Meski begitu Bulan terlihat begitu cantik bak putri kerajaan dongeng. Apalagi, gaun yang melekat di tubuh Bulan mencetak bentuk tubuh Bulan bagian pinggang ke atas, terlihat begitu seksi.


Sebab pinggang ke bawah berbentuk payung, sehingga mempermudah Bulan untuk melangkahkan kedua kakinya.


"Sayang... Apakah kamu sudah selesai?" tanya Nyonya Rindi berteriak dari luar kamar mandi.


Seketika lamunan Bulan buyar. "I-iya tante." sahut Bulan.


Klek.....


Bulan membuka pintu kamar mandi. Nyonya Rindi dan beberapa perempuan yang merias mereka tertegun melihat kecantikan Bulan.


"Benar-benar menantu idaman." celetuk Nyonya Rindi tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya terhadap penampilan Bulan yang begitu menawan.


"Pasti Jeno akan semakin cinta sama kamu." lanjut Nyonya Rindi. Dimana Bulan tersenyum malu, sebab sedari tadi terus mendapatkan pujian dari mama Jeno.


"Atau jangan-jangan Tuan Muda Jeno malah tidak rela jika Nona Bulan dilihat banyak mata." celetuk salah satu perias.


"Wah.... Gagal pergi ke pesta." sahut perias lainnya.


Di saat Bulan mendapatkan pujian serta ledekan, di luar ketiga lelaki yang sudah siap dengan setelah jas melekat di tubuhnya menunggu kedatangan mereka berdua.


"Lihatlah. Kita hanya butuh beberapa menit untuk bersiap. Sedangkan mereka berada di dalam lebih dari satu jam." keluh Jevo.


"Jangan mengatakan hal itu di depan mama. Kalian tahukan, bagaimana sensitifnya mama jika kita membahas masalah seperti itu." sahut Tuan David.


"Benar. Sangat galak." tukas Jevo.


"Kasihan my moon. Pasti dia sangat bosan. Selama ini dia tidak pernah duduk lama hanya karena memakai riasan." ujar Jeno.


Malam ini, penampilan Jeno benar-benar berbeda dari sebelumnya. Tak ada Jeno yang culun dan cupu. Jeno melepas kaca mata yang selama ini dia gunakan. Bahkan model rambutnyapun sama dengan milik Jevo. Juga pakaian keduanya sama. Tak ada bedanya.


Benar-benar bagai pinang dibelah dua. Jika bukan orang terdekat, pasti tidak akan bisa membedakan mana Jevo dan mana Jeno. Apalagi postur tubuh keduanya yang memang sama.


Jevo menatap Jeno penuh maksud. Dia beranjak dari duduknya dan duduk tepat di sebelah saudara kembarnya. "Bagaimana jika kita sedikit bermain?" ajak Jevo tersenyum sembari memainkan kedua alisnya naik turun.


Jeno mengernyitkan dahinya, belum mengerti maksud perkataan Jevo. Tapi dia mencium bau licik dari saudara kembarnya tersebut. "Kita berdua bagai pinang di belah dua. Menurut elo, apa Bulan bisa membedakan kita." tutur Jevo.


Jeno langsung bisa menebak apa yang Jevo inginkan. Sedangkan Tuan David hanya diam. Membiarkan kedua putranya melakukan apa yang mereka inginkan. Asal tidak membahayakan.


Jeno hanya diam. Memandang tajam ke arah Jevo. "Kenapa? Takut. Iya.... Takut jika Bulan salah memilih. Benarkan. Bulan mengira gue itu elo." ujar Jevo membuat Jeno semakin kesal di buatnya.


"Gue juga penasaran. Apa Bulan benar-benar mencintai elo. Atau hanya sekedar su-ka." ujar Jevo semakin membuat Jeno panas.


Jujur, dalam hati kecil Jeno terdapat ketakutan seperti yang Jevo katakan. Jika Bulan salah mengira Jevo adalah dirinya.


Tapi di sisi lain, Jeno juga penasaran. Apakah Bulan bisa mengenali dirinya. Dan bisa membedakan mana dia, dan mana Jevo.


"Berani?" tantang Jevo.


"Oke." sahut Jeno.


"Bagus. Tidak ada yang harus elo lakukan. Jika Bulan salah atau benar. Santai saja." tukas Jevo.


Memang tidak ada taruhan. Tapi jika Bulan salah mengenali, maka dirinya pasti akan menjadi bahan candaan untuk Jevo seumur hidupnya.


"Jika elo setuju. Gue dan elo akan berdiri berdampingan. Tampilkan ekspresi datar. Dan jangan mengeluarkan suara. Bagaimana? Biar papa yang menyuruh Bulan untuk memilih." jelas Jevo.


"Kenapa kamu membawa papa dalam permainan kalian. Papa tidak mau." tolak Tuan David.

__ADS_1


"Sayangnya papa tidak punya kuasa untuk menolak." tukas Jevo dengan santai, memandang sang papa dengan senyum tengilnya.


__ADS_2