PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 196


__ADS_3

"Senyum dong sayang." pinta Jeno melihat ekspresi Bulan yang datar.


"Kamu ada-ada saja. Kamu sebenarnya mau ngajak aku ke mana sih. Bukannya pulang." gerutu Bulan.


Bulan sendiri juga tidak tahu jika Jeno tidak akan mengantarkannya pulang. Dia baru menyadari saat mobil yang dikemudikan oleh Jeno berbelok ke arah lain. Bukan melewati jalan yang seharusnya.


"Mumpung ada waktu. Aku mau pergi berdua sama kamu."


"Bukannya sejak kemarin kita selalu bersama." sahut Bulan.


"Memang bersama, tapi tidak berdua. Beramai-ramai. Coba ingat lagi. Sejak kemarin mana ada aku bisa pegang tangan kamu seperti ini." cicit Jeno mengambil tangan Bulan dan memasukkan jari jemarinya ke sela jari jemari Bulan. Sehingga jari jemari keduanya saling bertautan.


"Fokuslah menyetir." pinta Bulan.


"Yang ada, kamu sibuk sendiri saat di rumah." celoteh Jeno seperti sedang mengadu. Sementara tangan kananya berada di stir mobil.


"Kamu jangan ngawur. Masa aku membiarkan ibu sama tante Rindi dan yang lain sibuk di dapur. Sementara aku malah berduaan sama kamu. Yang ada, kita tidak akan mendapatkan restu." jelas Bulan menahan senyum gemasnya pada sang kekasih.


"Makanya, sekarang aku mau pergi sama kamu. Hanya berdua. Tidak ada yang menganggu." tekan Jeno tak ingin ditolak.


Percakapan keduanya terhenti saat ponsel Bulan berdering. Bulan melepaskan tangannya dari genggaman Jeno. Mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. "Siapa?" tanya Jeno.


"Om David." sahut Bulan dan langsung menggeser tombol berwarna hijau di layar ponsel. Menerima panggilan telepon dari calon mertua.


Jeno diam, dirinya membiarkan Bulan berbicara lewat ponsel dengan sang papa. "Ada apa?" tanya Jeno setelah Bulan mematikan panggilan telepon dari Tuan David.


"Papa kamu hanya memberitahu. Jika Sapna dan tante Irawan sementara akan berada di rumah kamu, selama aku belum kembali." jelas Bulan.


Jeno tersenyum sempurna. "Lihat, bahkan papa juga mengerti dan mendukung keinginanku." cicit Jeno.


Seperti sebelumnya, Bulan hanya bisa pasrah dengan keinginan brondong tampannya tersebut. Bagi Bulan, tidak masalah pergi berdua. Asal baik dia ataupun Jeno bisa membatasi tindakan mereka.


"Kamu mau ajak aku ke mana sih?" tanya Bulan penasaran.


"Ada. Pasti kamu akan suka." sahut Jeno dengan yakin.


"Tapi aku nggak bawa baju ganti."


"Tidak apa-apa. Nanti kita bisa beli." sahut Jeno dengan santai.


Ekspresi wajah Bulan perlahan berganti. Kini, Bulan menikmati perjalanannya. Apalagi di kanan kiri jalan tampak berbagai macam tanaman dengan bunga bermekaran, meski jalan yang mereka lalui tidak mulus. Bahkan sangat berbahaya, sebab jalan telah rusak berat. Dan ada beberapa lubang.


"Indahnya." lirih Bulan melihat ke samping. Membuka jendela mobil. Menatap indahnya bunga-bunga dengan berbagai warna di tepi jalan.


Jeno juga memperlambat laju kendaraannya. Dirinya juga ingin menyenangkan hati sang kekasih dengan membiarkan Bulan melihat keluar mobil tanpa mengganggunya.


"Apa perlu mobilnya aku hentikan?" tanya Jeno.


"Tidak perlu. Segini saja." tolak Bulan, tahu jika Jeno sudah memperlambat laju mobilnya.


"Siapa yang menanamnya ya...?" tanya Bulan membuat Jeno tersenyum.


"Kita mampir dulu, isi bensin." ujar Jeno, mengarahkan mobilnya ke SPBU yang ada di depan mereka.


"Sayang, aku mau ke kamar kecil sebentar. Kamu duduk di sini ya." pinta Jeno, supaya Bulan pindah ke kursi kemudi.


Bulan mengangguk. Segera pindah ke kursi kemudi begitu Jeno keluar dari mobil. Mengambil kendali mobil. "Lumayan rame juga." cicit Bulan melihat antrian di depannya.


Sudah lebih dua menit, Bulan mengantri seorang diri. Kepalanya menoleh ke samping. Tanpa sengaja melihat Jeno sedang berbincang dengan seorang perempuan yang memakai gaun rumahan sederhana, terlihat begitu anggun.


"Siapa dia?" tanya Bulan lirih pada dirinya sendiri. Apalagi dilihatnya, Jeno menampakkan senyumnya dari tadi selama dia berbincang dengan sang perempuan.


Bulan menatap ke arah Jeno dengan tajam. "Genit banget sih. Astaga... Mana ninggalin gue sendiri di sini." gerutu Bulan melihat Jeno begitu ramah dengan perempuan tersebut.


"Awas saja, gue tinggal elo." ancam Bulan bermonolog.


Bulan selesai mengisi mobil Jeno dengan BBM. Perlahan Bulan melajukan mobil meninggalkan SPBU, tanpa mempedulikan Jeno yang berlari ke arahnya.


"Sayang....!!" teriak Jeno, menyuruh Bulan menghentikan mobilnya.


Bulan pun menghentikan laju mobilnya. "Kamu kok ninggalin aku sih." cicit Jeno masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi kemudi setelah Bulan berpindah kursi di samping kemudi.


Bulan hanya diam, tidak menjawab apa yang dikatakan Jeno. "Salah sendiri, malah asik dengan perempuan lain." batin Bulan dongkol. Tapi hanya berani dia katakan di dalam hati.


Gengsi. Bulan tidak mau jika Jeno tahu bahwa dirinya sedang kesal karena Jeno berbicara dengan perempuan lain, apalagi memperlihatkan senyum menawannya.


Bulan hanya malu. Pasti Jeno akan semakin meledeknya. Mengatakan dirinya bucin atau apalah. Dan Bulan tidak ingin semua itu terjadi.


Jeno menatap sekilas ke arah Bulan. "Kenapa lagi dia?" tanya Jeno pada dirinya sendiri dalam hati, melihat sang kekasih mode cuek. Padahal tadi Bulan sudah mau tersenyum dan berbicara dengannya.


Jeno yang tidak tahu kenapa Bulan tiba-tiba mendadak menjadi pendiam kembali, memilih diam. Jeno khawatir jika dirinya banyak tanya, maka Bulan akan semakin kesal padanya.


"Lihatlah. Sama sekali tidak mau menjelaskan siapa perempuan tadi." batin Bulan semakin dongkol, melihat Jeno hanya diam.


Sekitar empat puluh menit dari SPBU, Jeno mengurangi laju mobilnya. Tampak hamparan air berwarna biru di depan mereka. Dengan pasir berwarna putih. Bersih, tak ada sampah berserakan.


Bahkan pengunjungnya juga bisa dihitung dengan menggunakan jari. "Pantai ini masih alami. Belum banyak yang tahu jika ada pantai seindah ini di tempat ini. Kebanyakan mereka yang datang adalah penduduk sekitar." jelas Jeno.


Bulan mengangguk, dengan mata memandang pemandangan indah di depan mata. "Mungkin karena jalannya juga lumayan sulit. Meski kanan kiri jalan di tumbuhi banyak bunga yang indah." sahut Bulan.


"Ayok,,, turun." ajak Jeno.


Dengan senyum di bibir, Bulan keluar dari mobil. Rasa jengkelnya pada sang kekasih langsung lenyap melihat keindahan yang terpampang di depan matanya.


Bulan merentangkan kedua tangannya ke samping. "Anginnya tidak terlalu besar." tukas Bulan merasakan hembusan angin yang mengarah pada dirinya.


Jeno menggandeng tangan sang kekasih. "Kita ke sana." ajak Jeno, mencari tempat yang nyaman untuk mereka berdua bisa duduk.

__ADS_1


Bulan dengan senyum di bibir mengikuti kemana sang kekasih membawanya. Tapi senyum tersebut langsung lenyap saat melihat sosok perempuan yang baru saja dia lihat saat di SPBU, dan dia juga yang tadi berbicara dengan Jeno.


"Jeno...!!" panggilnya dengan akrab.


"Hay....." sahut Jeno.


Bulan hanya diam, saat melihat tangan Jeno melepaskan tangannya begitu saja saat sang perempuan datang menghampiri mereka. "Sabar Bulan.... Seharusnya elo tahu arti kata sabar melebihi siapapun." batin Bulan menenangkan dirinya sendiri.


"Gisha, elo sudah sampai?" tanya Jeno.


Sang perempuan yang dipanggil dengan nama Gisha oleh Jeno tersebut mengangguk. "Kenalkan, dia Bulan." Jeno kembali memegang lengan Bulan.


Bulan tersenyum tipis sembari mengangguk pelan. "Dia kekasih gue." lanjut Jeno memperkenalkan Bulan.


"Gue. Elo." batin Bulan, semakin bertanya-tanya siapa perempuan bernama Gisha ini. Sebab selama dia kenal dengan Jeno, dia jarang mendengar Jeno memanggil orang lain dengan sebutan gue dan elo.


Tapi kali ini, Jeno tampak akrab dan terlihat santai. "Padahal Jeno pernah bilang jika dia tidak pernah dekat dengan perempuan sebelum dengan gue. Lah,,, lalu dia siapa?" tanya Bulan semakin dibuat penasaran.


"Gisha. Teman Jeno." ujar Gisha, mengulurkan tangannya pada Bulan.


Bulan menerima uluran tangan Gisha sembari menyebutkan namanya. "Bulan."


"Gue dulu tetangga tante Rindi dan om David. Makanya gue akrab dengan Jeno. Rumah kedua orang tua aku ada di samping rumah mereka. Tapi kami pindah ke luar kota. Jadi tidak pernah ketemu." jelas Gisha.


Bulan hanya diam, menyimak apa yang Gisha katakan. Tanpa bertanya apapun dan menyela kalimatnya.


"Kalian juga masih pertama kali ke sini?" tanya Gisha mendapat anggukan dari Jeno.


"Sama. Gue juga."


"Elo sendiri?" tanya Jeno.


Gisha menggeleng. "Sama sepupu aku. Tapi dia bawa pacarnya. Jadi begini deh. Sendirian." keluh Gisha.


"Bagaimana jika gue ikut kalian saja. Nggak enak jika sendirian." pinta Gisha dengan kedua mata berharap mendapatkan izin.


"Boleh." sahut Jeno tanpa meminta persetujuan Bulan.


"Bolehkan sayang?" tanya Jeno, padahal dia sudah menjawabnya.


Tentu saja Bulan hanya bisa mengangguk, sebab Jeno sudah menyetujuinya terlebih dahulu. "Yes...." seru Gisha.


Ketiganya jalan beriringan. Dengan Jeno berada di tengah. Gisha yang aktif, selalu mengajak Jeno berbincang. Sehingga Bulan hanya diam.


"Tahu begini gue ngajak anak-anak." batin Bulan kerasa sendiri. Meski tangannya di genggam oleh Jeno.


"Duduk di sana yuk. Lihat, tempatnya sepi dan nyaman. Ada yang jualan makanan juga." ajak Gisha. Secara tiba-tiba, Gisha memegang lengan Jeno dan menariknya. Sehingga cekalan di lengan Bulan terlepas.


"Hufftt.... Gue kayak tante-tante ngasuh dua keponakan." gerutu Bulan mengikuti langkah keduanya.


"Pacar elo nggak apa-apakan, gue ikut kalian?" tanya Gisha.


"Nggak. Dia baik kok." sahut Jeno.


Ketiganya duduk di kursi dengan beberapa camilan yang sudah dipesan Gisha berada di atas meja. Bulan makan camilan dengan ekspresi datar. Memandang ke depan, dimana dia hanya melihat hamparan air yang berwarna biru.


"Mau kemana?" tanya Jeno, melihat Bulan berdiri dari duduknya.


"Kamar kecil."


"Mau aku antar?"


Belum sempat Bulan menjawab, Gisha terlebih dahulu mengeluarkan suaranya. "Ya nggaklah Jeno. Masa elo nganter dia. Bulan kan mau ke toilet perempuan." sela Gisha.


Bulan lantas segera meninggalkan keduanya untuk pergi ke toilet. "Dia nggak akan hilang." tegur Gisha, saat Jeno memandang Bulan yang berjalan menjauh dari mereka.


Selesai dari buang air kecil, Bulan ragu untuk melangkahkan kakinya kembali ke tempat Jeno. "Terus gue mau kemana?" tanya Bulan merasa seperti orang bodoh.


Bulan mencari tempat duduk. Mengeluarkan ponselnya. "Jangan seperti anak kecil Bulan. Itu namanya elo menyusahkan." gerutu Bulan pada dirinya sendiri.


Bulan ingin sekali menghubungi Jevo atau yang lainnya. Meminta mereka menyusul dirinya. Tapi Bulan enggan melakukannya. Apalagi mereka pasti baru sampai di rumah. Dan juga membutuhkan istirahat.


"Gue kayak anak kecil saja." Bulan tersenyum lucu. Menghela nafas pelan. Padahal Bulan memang selalu sendiri saat melakukan misi.


"Aneh. Ngapain juga gue bingung. Bukankah selama ini gue memang sendirian." cicitnya tersenyum miring.


Bulan memegang tenggorokannya yang kering dan membutuhkan pengairan. "Minum es sepertinya enak." tukas Bulan dengan kedua mata mencari apa yang dia inginkan.


"Itu dia." Bulan melihat sebuah warung kecil yang berada di tepi jalan raya.


Tanpa memikirkan Jeno yang mungkin sedang menunggunya kembali, Bulan memilih mencari apa yang dia inginkan.


"Bu, satu mangkuk soto sama es jeruk satu." Bulan memesan makanan pada pemilik warung.


Duduk di sebuah kursi dengan tenang, menunggu pesanan datang. Tak lama pesanan datang. Dengan senang, Bulan melahap soto yang dia pesan. Tak menghiraukan ponselnya yang saat ini sedang bernyanyi, meminta di periksa.


Jika Bulan sedang menikmati semangkok soto, berbeda dengan Jeno yang terlihat khawatir karena sang kekasih belum juga kembali ke meja mereka.


"Kemana Bulan?" batin Jeno, yang sekarang menghiraukan ocehan Gisha.


"Jeno....!! Kamu dengar nggak sih. Kamu kenapa?!" tanya Gisha, merasa Jeno sama sekali tidak menganggapnya.


"Bulan. Kenapa dia belum kembali." tukas Jeno memandang ke arah dimana Bulan pergi.


"Gue pikir kenapa. Mungkin dia masih berada si kamar mandi. Tahu sendiri, perempuan jika sudah berhadapan dengan cermin pasti lama."


"Sial...!! Kemana Bulan?" batin Jeno.

__ADS_1


"Telepon saja." saran Gisha.


Jeno melakukan apa yang disarankan Gisha. Sayangnya, panggilan teleponnya tidak diangkat oleh Bulan.


"Eehh.... Kemana?" tanya Gisha, melihat Jeno tanpa mengatakan apapun beranjak dari duduknya.


"Cari Bulan." sahut Jeno tanpa melihat ke arah Gisha, merasa cemas dengan sang kekasih. Apalagi Bulan mengabaikan panggilan teleponnya.


"Ikut...!!" seru Gisha, kembali mengekor di belakang Jeno.


Kedua mata Jeno melihat sekeliling. Dirinya yakin jika Bulan sudah keluar dari kamar kecil. Gisha langsung memegang lengan Jeno. "Cari kemana?" tanya Gisha.


Jeno tidak menjawab apa yang ditanyakan Gisha. Dia terus berjalan dengan menajamkan indera penglihatannya. Berharap akan menemukan sang kekasih.


Gisha memutar kedua matanya dengan jengah. Dirinya sudah sangat bahagia bisa bertemu dengan Jeno. Dan ingin melepaskan rindu dengan dia. Nyatanya, tak sesuai apa yang dia harapkan.


"Itu dia." gumam Jeno melihat sang kekasih duduk di sebuah warung terbuka di tepi jalan. Sedang menyantap sesuatu.


"Jangan cepat-cepat jalannya Jeno." pinta Gisha tidak bisa mengimbangi langkah kaki Jeno.


Tapi Jeno abai, seakan tidak mendengar apa yang Gisha katakan. Yang ada di pikirannya hanyalah sang kekasih. Tak ada yang lain.


"Sayang,,, kok kamu di sini? Aku nunggu kamu di sana. Khawatir karena kamu belum kembali." tutur Jeno duduk di sebelah Bulan.


Bulan tersenyum. "Aku lapar." sahut Bulan dengan santai.


"Bulan,,, elo bagaimana sih. Kasihan Jeno, cemas karena elo nggak balik-balik." timpal Gisha yang duduk di sebelah Jeno.


"Maaf." sahut Bulan dengan santai.


Jeno melepaskan tangan Gisha yang masih berada di lengannya. Jeno menyadari sikap sang kekasih yang dingin. Seperti saat pertama kali dia bertemu dengan Bulan.


"Apa ada sesuatu?" tanya Jeno.


Bulan menggeleng. "Tidak ada. Memangnya kenapa?" sahut Bulan, sekaligus bertanya pada Jeno.


Jeno menatap intens ke arah sang kekasih. Dirinya yakin jika ada yang di sembunyikan oleh Bulan. "Ada apa sebenarnya?" tanya Jeno dalam hati.


Tanpa dia sadari, jika sebenarnya Bulan sedang merasa cemburu. Dan tidak nyaman ada Gisha diantara mereka.


"Setelah ini kalian mau kemana?" tanya Gisha tiba-tiba.


"Pulang." sahut Bulan, masih menikmati soto di depannya.


Jeno langsung terdiam. Menatap sang kekasih dengan seribu pertanyaan di dalam benaknya. "Ya... Kok pulang. Padahal nanti malam di sini ada pesta kembang api." ujar Gisha memberitahu.


"Gue nggak bawa baju ganti." sahut Bulan setelah menyeruput es jeruk di gelas.


"Beneran elo mau pulang?" tanya Gisha pada Jeno.


Jeno terdiam. Belum menjawab pertanyaan dari temannya sekaligus orang yang pernah menjadi tetangganya tersebut.


"Jangan pulang ya. Bermalam saja di sini. Elo lihat, disana ada penginapan." rayu Gisha sembari menunjukkan tempat penginapan yang dia maksud.


"Bu.... Sudah...?!" panggil Bulan pada pemilik warung. Karena dia ingin membayar makanan dan minuman yang sudah dia masukkan ke dalam perutnya.


Sang pemilik warung datang, dan menyebutkan jumlah uang yang harus di bayar oleh Bulan. "Terimakasih mbak." tutur sang pemilik warung.


Bulan tersenyum sembari mengangguk. "Serius kamu mau pulang. Nanti malam ada pesta kembang api. Kamu nggak mau lihat." tanya Jeno memastikan.


"Bener Bulan. Nanti kita lihat bersama. Sepupu aku sama pacarnya juga akan menginap di sini. Jadi akan rame." timpal Gisha dengan semangat.


"Katanya berdua. Ini apa. Yang ada malah rombongan. Tahu gitu ngajak yang lain. Sekalian om David sama tante Rindi dan tante Irawan." batin Bulan.


Bulan menggeleng. "Nggak. Sudah sering lihat kembang api." tolak Bulan.


"Kalau Jeno masih mau di sini, elo pulang sama siapa?" tanya Gisha.


Bulan tersenyum manis. "Sendirilah. Memang gue anak kecil, kemana-mana harus ada temannya." sindir Bulan.


Bulan berdiri, beranjak dari duduknya tanpa berpamitan dengan Jeno. "Sebentar. Elo disini dulu. Gue mau bicara dengan Bulan." pinta Jeno pada Gisha untuk dia tidak mengikutinya.


Jeno langsung menghentikan langkah Bulan dengan memegang lengannya. "Kamu kenapa sih sayang? Apa aku ada salah?" tanya Jeno dengan lembut.


Bulan menggeleng sembari tersenyum tipis. "Nggak ada. Pengen pulang saja. Mau istirahat di rumah. Kalau elo masih mau di sini sama Gisha. Elo disini saja. Biar gue nyari ojek." jelas Bulan.


"Elo." cicit Jeno, mendengar Bulan memanggilnya dengan kata elo.


Benar. Jeno bisa menebak jika sang kekasih sedang marah padanya. "Katakan ada apa? Kalau kamu nggak terus terang, mana aku tahu." pinta Jeno dengan sabar, dan tidak terpancing emosinya.


Bulan memutar kedua matanya dengan jengah. "Gue mau pulang. Elo dengar nggak sih. Jika elo masih mau di sini. Ya elo di sini saja. Bahkan menginap di sinipun, gue nggak akan melarang. Lagi pula sudah ada Gisha." ujar Bulan dengan ekspresi kesal.


Jeno sekarang tahu apa yang terjadi. Perlahan, kedua sudut bibir Jeno terangkat ke atas. "Dia cemburu." batin Jeno girang.


Sungguh, padahal Jeno sama sekali tidak kepikiran untuk membuat Bulan cemburu. Bahkan dia sangat takut, jika Bulan meninggalkannya.


Jeno hanya berpikir bahwa Gisha adalah tetangga sekaligus teman lamanya yang sudah lama tidak bertemu. Sehingga dia berbincang atau mengobrol banyak dengan Gisha. Menanyakan tentang keluarganya dan Gisha sendiri.


Jeno sama sekali tidak menyangka jika hal sekecil ini akan memantik api cemburu di hati Bulan. "Tapi tak apalah. Gue senang." batin Jeno.


Cup.....


Jeno dengan singkat mencium pipi sang kekasih. "Jeno...!!" geram Bulan memandang Jeno dengan kedua mata membulat sempurna.


Tapi Jeno malah tersenyum sempurna. "I love you." ujar Jeno.


"Apa sih." sahut Bulan merasa aneh dengan sikap Jeno. Tadi merasa Jeno mengabaikannya. Dan sekarang memperlakukannya dengan penuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2