PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 29


__ADS_3

Moza tak segera memejamkan kedua matanya. Setelah sampai rumah. Senyumnya tiba-tiba tersungging sempurna. Mengingat wajah Jevo.


Tapi, seketika senyumnya pudar. Saat mengingat perkataan Arya. "Memang apa salahnya gue menyukai Jevo." ucap Moza cemberut.


"Ehh,,,,, kenapa dia tidak datang." gumam Moza, segera melihat ponselnya.


Dan ternyata benar. Sahabat yang menyuruh dirinya untuk pergi menemuinya di club malam mengirimkan pesan tertulis pada Moza.


Di mana dia meminta maaf, karena pulang lebih dulu. Tanpa menunggu kedatangan Moza. Karena ada kepentingan mendadak. "Apa benar, dia pulang lebih dulu." gumam Moza.


Moza menghembuskan nafas kasar. "Berpikir positif saja. Lagi pula, untuk apa dia menjebak gue. Kita sama sekali tidak pernah bertengkar." papar Moza tidak ingin berburuk sangka.


Di sekolah yang lama, Moza selalu mendapat ancaman. Dan temannya itulah yang selalu ada untuk Moza, saat Moza ketakutan.


Namun, Moza sudah tidak kuat. Menceritakan apa yang dia rasakan pada kedua orang tuanya. Alhasil, dengan kesepakatan bersama, Moza berpindah sekolah.


Namun, Moza dan sahabatnya tetap berkomunikasi melalui ponsel. Mereka tak berhenti saling menghubungi dan bertukar kabar.


Karena itulah, Moza tidak begitu saja percaya. Saat Arya mengingatkannya untuk berhati-hati. Entah pada siapapun itu.


"Dia tidak mungkin memiliki niat buruk." gumam Moza.


"Sudahlah. Gue harus segera memejamkan kedua mata. Jangan sampai besok telat sekolah." ucap Moza, mengambil selimut di bawah kakinya. Menutupkannya hingga ke dada.


...****************...


"Bulan.....!!" geram Gara. Lagi-lagi alat komunikasi mereka tidak terhubung.


Cemas. Itulah yang Gara rasakan. Dengan perasaan campur aduk, mata Gara tetap fokus pada semua area sekolah lewat kamera CCTV yang ada di layar depannya.


Seakan kedua mata Gara tidak berkedip. Hanya untuk memastikan jika Bulan terlihat di salah satu kamera tersebut.


"Semoga elo baik-baik saja." gumam Gara, menjalankan jari jemarinya di atas keyboard. Mencari keberadaan Bulan.


"Apa Bulan masih berada di dalam ruangan itu." tebak Gara. Sebab, ruangan tersebut tidak ada kamera CCTV.


Dan Gara memperkirakan, alat komunikasinya dengan Bulan terputus saat Bulan masuk ke dalam ruangan tersebut. "Ada apa di ruangan itu. Bahkan, alat komunikasi gue bisa terputus." lirih Gara.


Gara semakin mencemaskan keadaan sahabatnya tersebut. Satu-satunya orang yang setelah kejadian mengenaskan dalam hidupnya, selalu ada untuk dirinya. Meski ada saatnya mereka terpisah jarak karena pekerjaan Bulan.


Gara mengatupkan kedua telapak tangannya ke depan mulut. Dadanya berdebar karena rasa khawatir. Gara hanya takut, jika ternyata sosok yang dilihat mereka di atas gedung adalah komplotan mereka.


Yang artinya, saat ini Bulan akan semakin banyak menghadapi musuh. "Seandainya ada operasi penyambungan kaki. Gue pasti mau." ucap Gara aneh.


Bulan pernah menyarankan untuk menyambung kakinya dengan besi seperti pada orang yang mengalami kekurangan seperti dirinya.


Gara menolak mentah-mentah. Dia hanya mau melakukan operasi, jika disambung kembali dengan kaki manusia sebenarnya.


Memang ada. Memang bisa. Gara memang ada-ada saja.


Di sekolah, tepatnya di ruangan tempat Bulan dan Jeno berada. Bulan menyempatkan untuk menendang kedua kaki orang yang telah dia tembak, sebelum pergi. Sehingga mereka berdua kembali berteriak kesakitan.


"Itu pistol kosong, tolol...!!!" seru Bulan mengejek, saat salah satu dari mereka mengambil senjata api yang telah dibuang oleh Bulan di atas lantai, dan mengarahkannya pada Bulan dengan meringis menahan rasa sakit.


Bulan mengajak Jeno meninggalkan area sekolah melewati atap. Sama persis dengan jalan yang dia lewati saat menuju ke ruangan tadi.


Bulan sempat berpikir, kemungkinan besar akan ada orang di lorong sekolahan. Untuk menghemat waktu, Bulan harus menghindari. Apalagi alat komunikasinya dengan Gara terputus.


Ditambah sekarang ada Jeno yang harus dia pikirkan keselamatannya. Meski sebenarnya, Bulan bisa saja meninggalkan Jeno di sini sendiri. Sama seperti saat dirinya dan Jeno datang secara terpisah. Tanpa tahu satu sama lain.


Namun Bulan tentu saja tidak bisa seenak jidatnya. Terlebih Jeno adalah anak didiknya. Selain itu, pastinya Bulan memiliki rencana yang begitu saja terlintas di benaknya, yang akan dia lakukan pada Jeno.


Pergerakan Bulan kali ini berbeda, tadi Bulan dapat sampai ke ruangan dengan cepat. Tidak untuk sekarang. Sebab ada Jeno di belakangnya yang bergerak sedikit lambat.


Selain itu, Bulan juga tidak bisa bergerak bebas seperti saat dia bertindak seorang diri. Kali ini, dia harus memikirkan nyawa orang lain. Jeno. Yakni salah satu anak didiknya di sekolah.


"Gue lebih lambat dari siput." keluh Bulan.


Itulah kenapa, Bulan lebih senang bertindak seorang diri. Dia merasa tidak terbebani. Mesti pada kenyataannya, sesuatu yang dilakukan bersama akan jauh lebih mudah.


Tapi tidak untuk Bulan. Percuma banyak rekan saat menjalankan misi. Tapi sama sekali tidak ada kemistri, atau tidak bisa kompak.


Yang ada malah akan menghambat jalannya rencana yang sedang mereka lakukan. "Kita berpisah sampai di sini. Sebaiknya segera pulang. Sebentar lagi pasti akan ada yang datang."


Seperti yang diperintahkan Bulan, Jeno langsung pulang ke rumah. Sampai di rumah, Jeno masuk ke dalam kamar mandi. Mengguyur badan serta pakaian yang masih melekat di tubuhnya.

__ADS_1


Otaknya terasa panas. Badannya tak sebaik saat dia berangkat. Tulangnya terasa bergetar. "Apa sebaiknya gue cerita ke Jevo." batin Jeno.


Dia memang tahu, jika Bulan adalah agen dari pihak berwajib yang menyamar sebagai tenaga pengajar. Entah dari mana Jeno mengetahui hal tersebut.


Tapi Jeno sama sekali tidak menyangka. Bulan memiliki keahlian yang membuat dirinya hanya bisa terdiam. "Cantik, tapi menakutkan." gumam Jeno, meraup wajahnya yang tersiram air dari atas.


Jeno mengeringkan badannya. Memakai pakaian dan langsung berbaring di atas ranjang empuk di dalam kamarnya.


Pandangan Jeno menatap ke atas. Di mana hanya ada langit-langit kamar yang di lengkapi dengan sedikit aksen.


Jeno mengubah posisi tidurnya menjadi duduk dengan kedua kaki bersila. "Astaga. Kenapa gue sekarang malah nggak bisa fokus."


Jeno memejamkan kedua matanya. Bayangan Bulan dengan tenang menembak empat orang, masih melekat dalam memorinya.


Nafas Jeno tersengal. Dengan keringat mulai membasahi badan. Jeno menjambak rambutnya yang masih setengah basah.


Otaknya seketika kosong. Dirinya sungguh hanya melihat bagaimana menakutkannya Bulan saat beraksi. "Ckkk...." decak Jeno, memukul sendiri kepalanya.


"Enyahlah,,, Enyahalah,,..!!" seru Jeno.


Jeno berdiri. Berjalan seperti seterika. "Apa yang harus gue lakukan besok, saat gue bertemu dengan dia." gumamnya.


Langkah Jeno langsung berhenti. "Apa besok gue nggak masuk saja. Ckk,,, tapi untuk apa juga gue menghindar. Toh, dia sama saja. Juga ada di sana."


Jeno merasa pusing dan bingung sendiri. Padahal semua itu tidaklah perlu. "Apa gue harus memberitahu Jevo." lirihnya.


Sebab, selama ini dirinya dan Jevo sama sekali tidak mempunyai rahasia. Jikapun mereka punya rahasia, pasti akan terbongkar dengan segera. Entah itu untuk Jeno, maupun Jevo.


Sementara Bulan, dia tidak pulang ke rumah. Dia langsung mendatangi kediaman Gara. Memberikan apa yang dia peroleh pada Gara.


"Bulan, apa ini?!" Gara yang sudah tahu apa yang Bulan temukan, bertanya lagi. Hanya untuk menyakinkan diri sendiri.


Pekerjaan Gara di masa lalu. Itulah yang membuat Gara mengetahui banyak hal. "Periksa semua."


"Aku tidak akan bisa bekerja sendiri Bulan." ucap Gara jujur.


Bulan tahu, kenapa Gara mengatakan hal tersebut. Dua masalah yang ada di hadapan mereka, bukanlah perkara kecil.


Dan Bulan tahu, Gara harus fokus pada satu kasus. Itupun karena kasus yang akan mereka hadapi akan membuka sebuah kebenaran dan sebuah skandal besar di kota ini.


"Ya, gue tahu. Dan gue sudah memikirkan siapa yang akan membantu gue untuk menangani kasus pembunuhan berantai." Bulan tersenyum penuh makna.


Gara melirik ke arah Bulan. "Siapa? Jangan mudah percaya dengan orang asing Lan..." ucap Gara mengingatkan.


"Dia bahkan tahu. Jika aku menyamar sebagai tenaga pengajar si sekolah." papar Bulan.


"Jangan bilang bawahan elo yang sekarang menduduki kursi atasan dengan mudah." tebak Gara.


Dirinya tidak ingin, Bulan berurusan dengan manusia macam Diki. Manusia ular.


"Bukan. Siapa juga yang akan bekerja sama dengan lintah seperti dia. Diki. Hanya bisa menghabiskan, tanpa menghasilkan." tukas Bulan mencibir.


"Lalu?" Gara semakin penasaran. Pasalnya, hanya segelintir orang yang mengetahui penyamaran Bulan.


Bulan menatap Gara dengan senyum miring dan alis sebelah terangkat. "Anak didik gue." tekan Bulan.


Gara melotot tak percaya. "Jangan gila. Bagaimana bisa..!! Jangan bercanda...!! Ini masalah serius...!!" seru Gara.


"Bisa. Bukankah sudah gue katakan. Dia bahkan tahu jika gue menyamar."


"Berarti dia berbahaya. Dan elo harus menjauh. Bukan malah menjadikannya rekan." Gara hanya tidak ingin jika sampai Bulan celaka.


Bulan memandang ke layar di depan Gara yang masih menyala. "Gue nggak peduli. Dia rival atau rekan. Tapi dia tahu siapa gue. Dan elo tahu artinya apa."


"Tapi ini terlalu beresiko Bulan." ingat Gara.


"Akan lebih beresiko, jika dia dibiarkan berjalan sendiri. Elo paham, Gara." papar Bulan.


"Apakah elo yakin, akan menggunakannya?" tanya Gara tidak begitu yakin.


Bulan mengangguk. "Gue sudah memikirkannya." tukas Bulan.


Gara hanya bisa menerima setiap keputusan yang Bulan akan jalankan. Gara yakin, Bulan tidak seenak jidatnya melakukan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang.


"Tapi elo harus selalu berhati-hati. Jangan sampai lengah. Tetap waspada."

__ADS_1


"Iya."


"Meski dia masih seorang pelajar, tapi elo nggak tahu. Siapa dan bagaimana sepak terjangnya."


"Tenang saja. Gue akan cari tahu."


"Oke. Gue percaya sama elo."


"Elo selidiki dulu keluarga pembantu gue. Itu yang harus elo lakukan. Sekalian, elo pantau dua orang yang ada di dalam rekaman itu."


"Mereka siapa? Kenapa tidak elo lenyapkan saja sekalian?"


"Memang itu rencana gue." jari Bulan menunjuk ke arah layar di depan Gara.


"Dia, petugas keamanan di sekolah. Sedangkan dia, petugas kebersihan di sekolah."


Gara menatap Bulan. Sekarang Gara tahu, kenapa Bulan membiarkan mereka berdua tetap hidup. "Tenang saja, serahkan pada gue." papar Gara, mengerti apa yang diinginkan Bulan.


"Dan elo nggak perlu bingung, mencari tahu mereka. Atau siapapun dalang di balik ini semua. Mereka akan keluar dengan sendirinya." seringai Bulan.


Secara perlahan, Bulan mulai mengerti cara kerja mereka. Dan dari mereka yang bertugas di lapangan, Bulan akan menemukan siapa yang berada di kursi pimpinan tertinggi dalam rantai permainan ini.


"Elo hanya fokus pada empat orang. Petugas kebersihan. Petugas keamanan. Keluarga pembantu gue. Dan Diki." tekan Bulan.


Sebab tidak mungkin para pimpinan akan turun tangan dan melakukan pekerjaan beresiko ini sendiri. Mereka punya uang, dengan alat tersebut. Mereka bisa mengendalikan sesuatu. Termasuk orang.


Gara mengangguk. Sekarang dirinya benar-benar mengerti. Bagaimana dan kemana pikiran Bulan akan berlayar.


"Gila. Padahal gue nggak berpikir sampai di sana. Tapi Bulan, dengan mudah dapat menebak permainan mereka." batin Gara.


"Cari tahu, bagaimana kedua orang itu bisa bekerja di sekolah."


"Beres."


Baru beberapa detik mereka membicarakan. Sekumpulan orang datang masuk ke area sekolah, dan langsung menuju ke ruang tersebut. "Pakai ini."


Bulan menyerahkan alat dengan ukuran sebesar flash disk pada Gara. "Ini." Gara melihatnya dengan cermat.


"Jangan buang waktu." tegas Bulan.


Segera Gara menyambungkan alat tersebut dengan komputer. Gara melirik ke arah Bulan yang sedang tersenyum miring melihat ke arah layar.


"Bodoh..." seru salah satu dari mereka.


"Lalu mereka berdua meloloskan diri dengan mudah. Dan malah kalian yang terluka...!!" lanjutnya, dengan emosi.


Melihat keadaan ruangan yang kacau. Dua anak buahnya meninggal. Dan dua lagi terluka. "Ingat, jangan sampai boss tahu apa yang terjadi. Kalian paham...!!" perintahnya.


Segera mereka berbagi tugas. Membereskan ruangan. Membawa kedua mayat untuk dibuang. Serta membawa kedua orang yang terluka ke rumah sakit.


Tentunya bukan rumah sakit seperti umumnya. Yakni rumah sakit yang memang khusus untuk mereka para anggotanya.


Bulan tak tinggal diam, melihat ada peluang di depan mata. "Cari mobil itu. Kemana dia akan membawanya." perintah Bulan.


"Gue heran. Kenapa mereka berjalan dengan santai. Tanpa takut gerak mereka akan terekam kamera pemantau CCTV." Gara menampilkan raut wajah bingung.


"Heyyy,,,... Bulan...!!" seru Gara memasang wajah sangar, saat Bulan menampol kepalanya dengan keras.


"Pakai otak elo." geram Bulan. "Kenapa elo mesti berpikir lemot. Pasti ada seseorang yang mengatur semuanya di belakang layar. Sama seperti elo. Dan untuk saat ini, elo harus melipir. Jangan sampai bentrok." pinta Bulan.


"Benar juga." cicit Gara.


"Bukannya lebih baik gue habisi saja." lanjut Gara, merasa mampu.


"Jangan sekarang. Kita harus bermain rapi tanpa tercium. Apalagi sampai saat ini, kita belum tahu secara pasti. Siapa saja yang ikut dalam lingkaran setan ini." Bulan menjeda kalimatnya.


"Kita sudah melangkah. Sebaiknya, kita teruskan saja langkah kita. Sampai kita sendiri yang akan bilang. Ber-hen-ti." tekan Bulan.


"Benar juga. Mereka akan meningkatkan keamanan mereka. Apalagi mereka sekarang tahu, jika ada orang lain yang saat ini sedang menyelidikinya. Jangan sampai mereka semakin meningkatkan kewaspadaan mereka." tutur Gara membenarkan ucapan Bulan.


Keduanya yakin, jika mereka pasti akan mencari dua orang yang sudah mengetahui ruang rahasia tersebut. Yakni Bulan dan Jeno.


"Bulan. Elo yakinkan, anak didik elo bermain dengan bersih?" tanya Gara, takut jika Jeno meninggalkan jejak.


Sebab, jika sampai Jeno meninggalkan jejak. Pasti Bulan akan terseret juga. "Semoga saja." lirih Bulan, yang dirinya sendiri juga tidak tahu.

__ADS_1


__ADS_2