
Sesuai kesepakatan. Mikel mengantar Sapna untuk pulang ke rumah Bulan. Tak lupa Mikel membawa buku untuk dia belajar di rumah Bulan.
Sebab dirinya diminta Bulan untuk menemani Nyonya Irawan dan Sapna di rumah tersebut sebelum Bulan datang.
Sebab malam ini, Bulan mesti pergi untuk mengambil sesuatu dari tangan Narendra. Yakni satu rekaman bukti kejahatan Tuan Zain bersama yang lain.
Sementara Jevo dan Arya, keduanya mengantarkan Gara untuk kembali ke markas. Keduanya juga ingin menemani Gara di markas. Membuat apartemen Mikel kembali kosong.
Sama seperti Mikel, mereka berdua pulang dahulu ke rumah. Mengambil buku untuk mereka gunakan belajar. Karena besok mereka masih menjalani ujian kenaikan kelas.
Bahkan, keduanya juga membawa seragam sekolah. Untuk mengantisipasi, jika keduanya bermalam di markas. Sehingga mereka tidak kelimpungan dan mempermudah mereka untuk langsung berangkat ke sekolah.
Jeno, jangan ditanyakan. Tentu saja dia pergi menyelinap ke area sekolah untuk mengambil sesuatu yang Bulan butuhkan untuk mengungkap semua kejahatan Tuan Tene bersama yang lainnya.
Mikel duduk dengan sopan di ruang tamu bersama Sapna dan Nyonya Irawan. "Terimakasih, kamu sudah mau membantu kami." tutur Nyonya Irawan dari hati yang paling dalam.
Mereka bukan siapa-siapa keluarga Nyonya Irawan. Bukan kerabat, atau kenalan. Tapi begitu berbesar hati membantu keluarganya yang tengah berada dalam bahaya tanpa imbalan.
"Sama-sama tante. Saya hanya menjalankan apa yang diperintahkan bu Bulan." sahut Mikel dengan sopan tanpa berbohong.
"Tetap saja. Buktinya kamu mau. Padahal kamu bisa menolak apa yang diinginkan Bulan. Kalian memang anak muda berhati emas." puji Nyonya Irawan.
"Beruntung nggak ada Arya. Coba kalau ada Arya." celetuk Sapna mencairkan suasana.
"Besar kepala tuh anak." timpal Mikel dibarengi tawa dari Sapna.
Nyonya Irawan tersenyum. Meski pada kenyataannya, ada rasa yang teramat besar dalam dirinya ingin bertemu dengan sang suami. Tapi beliau paham. Jika tidak bisa sesuka hati melakukannya tanpa memberitahu Bulan.
Terlebih, Bulan mengatakan jika sebentar lagi mereka akan kembali ke rumah mereka sendiri. "Mikel, boleh tante bertanya." pinta Nyonya Irawan.
"Silahkan tante."
"Kamu tahu, kapan Bulan akan mengantar saya dan Sapna kembali ke rumah kami?" Nyonya Irawan tak bisa terus menyimpan rasa ingin tahunya yang ada di dalam hati.
Sapna memegang telapak tangan sang mama dengan hangat. "Ma, mama yang sabar. Bulan dan yang lain sedang berusaha membantu kita. Kita jangan membebani mereka dengan meminta hal lain lagi." jelas Sapna dengan lembut, tahu apa yang dirasakan sang mama.
Nyonya Irawan mendesah pelan. "Maaf. Mama hanya ingin segera bertemu papa kamu. Apalagi,,,,, sebentar lagi kita pasti akan berpisah lagi." papar Nyonya Irawan dengan sedih.
"Kita bedo'a. Semoga papa hanya dipenjara saja. Sehingga mama dan Sapna bisa setiap hari menjenguk papa." Sapna tersenyum menyemangati sang mama.
Dimana untuk kali ini, Nyonya Irawan benar-benar menunjukkan sisi rapuhnya pada sang putri. "Putri mama. Kamu sudah dewasa sayang."
Nyonya Irawan membelai lembut pipi Sapna, lalu mencium kening sang putri dan memeluknya. "Kita akan jalani semuanya berdua ma. Pasti tidak akan terasa berat."
"Bukan berdua. Ada kami." sahut Mikel merasakan kesedihan serta ketulusan yang bersamaan melihat Nyonya Irawan dan Sapna di depannya.
Sapna, gadis yang dulu manja, sekarang seolah tahu dan paham bagaimana kerasnya hidup. Dirinya yang dulu hanya bisa mengeluh dan menengadahkan kedua tangannya, kini perlahan mampu belajar menyesuaikan diri dengan keadaan.
Sapna memeluk sang mama. "Sapna akan bekerja. Sapna akan mencari uang untuk mama." batin Sapna, seakan tahu apa yang ada di depan mata. Jika memang sang papa masuk ke dalam jeruji besi.
Di markas, Gara mempersiapkan semuanya. "Apa yang elo lakukan?" tanya Jevo, sebab sejak masuk ke markas Gara langsung duduk berhadapan dengan keyboard. Tak berpindah tempat duduk sedikitpun. Pandangannya juga fokus ke layar yang ada di depannya.
"Gue harus mempersiapkan semuanya. Hanya tinggal menunggu Bulan dan Jeno. Semoga mereka berdua berhasil. Pulang dengan selamat dan membawa apa yang mereka cari." jelas Gara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar di depannya.
Arya datang dengan membawa nampan yang berisikan tiga buah mangkok. "Jangan lupa mengisi perut. Bukankah kita belum makan malam. Kasihan cacing dalam perut elo."
Arya menurunkan nampan di atas meja. Yang ternyata ada tiga buah mangkok berisikan mie kuah dengan bercampur suwiran daging ayam serta sayuran di dalamnya.
Arya menyodorkan semangkok mie pada Jevo dan juga pada Gara. "Makan dulu. Biar kita bisa konsentrasi penuh."
Jevo dan Gara masing-masing mengambil semangkok mie. "Wanginya saja sudah menggoda, apalagi rasanya." tukas Gara.
"Chef Arya." timpal Arya dengan nada angkuh yang dibalas tawa ringan oleh Jevo dan Gara.
"Sebenarnya, siapa yang bersembunyi di sekolah? Hingga membuat bahan uji kimia di sana?" tanya Jevo di sela-sela makan.
"Seharusnya kalian bisa menebak. Siapa gang berkuasa di sana." ungkap Gara yang malah memberi teka-teki pada keduanya.
"Apa bu Bulan yang meledakkan ruangan itu?" tanya Arya setelah menyeruput mie ke dalam mulut.
Mereka teringat ruangan yang hancur di sekolah, yang bahkan memakan korban jiwa. Bersamaan dengan meledaknya ruangan di sekolah, mereka juga ingat. Ada beberapa tempat yang meledak secara bersamaan.
__ADS_1
Tapi hebatnya, semua tertutup. Bahkan media hanya memberitakannya beberapa hari. Lalu berita tersebut lenyap dengan sendirinya.
"Ya,,,, Bulan yang melakukan semuanya." jelas Gara.
"Sendiri?" tanya Arya takjub.
Gara mengangguk. "Gue sudah mengangkat berita ini ke publik. Tapi elo tahu sendiri, bagaimana kekuatan mereka bertiga." jelas Gara.
"Dan elo kalah." tebak Arya.
Gara menggeleng. "Jika saat itu Bulan memberikan izin, gue pasti akan terus menekan mereka lewat media. Dan menang. Tapi Bulan melarangnya."
"Kenapa?"
"Kemungkinan besar tempat gue akan terendus oleh mereka. Jika gue terus-menerus melakukan perjalanan lewat perangkat lunak. Sehingga nyawa gue yang akan terancam." papar Gara, tidak mengatakan semua alasan Bulan menghentikan tekanannya.
"Bukankah kali ini sama saja. Kita akan menyebarkan lewat media." ujar Arya.
"Cara yang sama. Tapi masalah yang beda. Mungkin itulah yang dipikirkan Bulan." sahut Jevo.
"Benar. Waktu itu, hanya masalah kebakaran beberapa tempat secara bersamaan. Dan mereka mengatakan terjadi kebakaran karena berbagai alasan. Tanpa mengatakan apa gang ada di dalam gedung. Tapi kali ini, masalah besar. Dan gue yakin, semua media akan berbondong-bondong mencari beritanya." imbuh Gara.
"Padahal pihak kepolisian saat itu sudah turun tangan." timpal Arya.
"Seharusnya elo tidak melupakan dua nama besar. Dimana keduanya duduk di kursi dengan jabatan mentereng. Mereka berdua bisa menghentikan penyelidikan kapanpun mereka mau." jelas Gara.
"Pak Darto dan Pak Bimo." sahut Arya yang mendapat anggukan dari Gara.
Di tempat lain, Jeno dengan sangat mudah masuk ke ruangan kepala sekolah. Apalagi semua kamera CCTV sudah di non aktifkan oleh Arya. Sehingga dengan leluasa Jeno bisa bertindak.
"Pak,,,, pak,,,,, kalau mau uang lebih, bekerja yang benar."
Jeno membuka setiap laci yang ada di ruangan. Memeriksa setiap lembar kertas yang ada di beberapa tempat di ruang kepala sekolah.
Sungguh, Jeno tidak menyangka jika sang kepala sekolah terlibat dalam kejahatan ini. Bahkan bukan hanya kepala sekolah. Tapi seluruh penjaga keamanan di sekolah.
Jeno yakin, mereka memang direkrut dan orang yang dipilih oleh kepala sekolah. "Mereka bersandiwara dengan sangat apik." cicit Jeno, dimana dirinya harus mengecoh beberapa petugas keamanan yang berjaga.
"Berarti, orang yang saat itu gue lihat di lantai paling atas adalah kepala sekolah." gumam Jeno mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.
"Mereka benar-benar hebat. Menjadikan kasus Timo untuk menutupi kejahatan mereka. Tapi sayangnya, sekarang Timo sudah tidak ada di dunia. Dan saatnya kalian menyusulnya." lirih Jeno.
Jeno menggunakan senter kecil untuk mencari sesuatu di ruangan kepala sekolah tanpa menyalakan lampu. Tentu saja Jeno tidak ingin ada yang mengetahuinya.
"Apa itu." tanpa sengaja, mata Jeno menangkap lukisan yang terpasang di dinding dengan posisi miring.
Segera Jeno memeriksanya. Dan benar saja, sat dirinya memegang lukisan tersebut, sesuatu jatuh dari belakang lukisan. "Gue kira seperti di film-film. Ada brangkas di balik lukisan. Ternyata tidak."
Jeno berjongkok, mengambil benda yang terjatuh tersebut. Yang ternyata sebuah flash disk. "Ngapain naruh benda seperti ini di sana." ujarnya mencurigai sesuatu.
Jeno menengadahkan kepalanya di mana lukisan tersebut di gantung. "Tanpa sudah payah mencari, elo datang sendiri kawan."
Jeno mencium flash disk tersebut. Memasukkannya ke dalam saku jaket yang dia kenakan. "Gue harus mencari lagi. Siapa tahu ada yang lain." lirih Jeno, tanpa mengecek dulu isi dari flash disk tersebut.
Jeno hanya menebak jika pasti ada sesuatu di dalam flash disk tersebut. Nyatanya benda tersebut di taruh di tempat yang tidak seharusnya.
Merasa waktunya masih lama, Jeno kembali memeriksa setiap jengkal ruangan tersebut. Hingga semua tak luput dari pandangan mata Jeno.
Sialnya, tanpa sengaja Jeno menyenggol sebuah ornamen yang terbuat dari kayu yang dipajang di sudut ruangan. Sehingga ornamen tersebut jatuh ke bawah dan menimbulkan bunyi.
Jeno memegang kepalanya karena merasa terkejut bercampur rasa takut jika ada yang mendengarnya. "Sial...!!" geramnya, dengan segera tangannya terulur mengambil ornamen tersebut. Meletakkannya di tempat semula.
"Siapa di dalam....?!" seru seseorang dengan suara lelaki berteriak di luar ruangan.
"****..." umpat Jeno yang ternyata kecerobohannya menimbulkan masalah untuknya.
Dengan gerak cepat, Jeno mencari tempat persembunyian. Dengan menajamkan indera pendengarannya, Jeno tetap berada di tempat persembunyiannya.
Tepatnya di samping almari yang berada di sebelah meja kursi tempat kerja kapala sekolah. Jeno sebenarnya bisa bersembunyi di bawah kolong meja.
Tapi dia tidak melakukannya. Sebab jika dia ditemukan musuh, maka ruang geraknya akan terbatasi.
__ADS_1
Ceklek....
Terdengar suara pintu terbuka. "Nyalakan lampunya." ujar seseorang.
"Lebih dari dua orang." batin Jeno menebak jumlah mereka.
Lampu menyala. Membuat ruangan seketika menjadi terang. Jeno meraba wajahnya. Kembali menurunkan penutup wajah hang semula dia singkap ke atas.
"Apa kita perlu melapor ke boss?" tanya salah satu dari mereka.
"Melapor apa? Lihat.... Bahkan tidak ada apapun di sini. Semua benda terletak di tempatnya. Lalu elo mau melaporkan apa?!" tanya rekannya dengan jutek.
"Benar. Mereka anggota kumpulan sampah itu." batin Jeno.
"Tunggu. Lihat." ujar salah satu lelaki dengan tangan terangkat dan jari telunjuk menunjuk ke sebelah almari dimana Jeno bersembunyi.
"Bayangan orang." lirihnya.
Jeno tersenyum samar. Menghela nafas pelan. Keluar dari persembunyiannya. "Kelihatannya gue ketahuan." ucapnya dengan santai, menatap ketiganya tanpa rasa takut.
Ketiganya daling berpandangan sejenak. "Tangkap. Jangan sampai dia kabur." ujar salah satu dari mereka.
Salah satu rekannya bergegas mengunci pintu dari dalam. Mengantisipasi jika musuh di depannya yang hanya seorang diri berniat akan kabur dari ruangan.
"Tenang saja. Gue nggak kabur. Justru, kalian yang seharusnya meras khawatir." ucap Jeno santai.
"Cih..... Jangan sombong brengsek. Gue beri pilihan. Menyerah sendiri, atau perlu kita beri bogem mentah..!" serunya bak pendekar hebat.
Jeno mengangkat kedua tangannya di atas. "Aku menyerah." ucap Jeno disertai rawa pelan dan berjalan ke depan mendekati ketiganya.
"Bajingan. Dia sedang meledek kita..!!" geram salah satu dari mereka.
Tanpa sabar, dia maju dengan mengangkat sebelah kakinya untuk menendang Jeno. Tangan Jeno yang semula di atas, dengan cekatan memegang kaki lelaki tersebut.
Melihat rekannya dalam kesulitan, salah satu dari mereka menyerang Jeno. Dengan sigap Jeno menangkisnya dengan kakinya serta memberikan tendangan ke perutnya.
Bersamaan dengan gerakannya menendang perut lelaki tersebut, tangan Jeno yang masih memegang kaki salah satu lelaki bergerak dengan kencang seraya menariknya untuk dia lemparkan ke rekannya yang lain yang berdiri di sebelahnya.
Tiga lelaki terjatuh tepat di depan Jeno. Segera Jeno mengambil senjata api yang dia sembunyikan di balik kemejanya. Menodongkannya ke arah mereka bertiga.
Beruntung, mereka tidak membawa senjata api seperti dirinya. Sehingga Jeno berada dalam situasi aman. "Elo, ambilkan tali itu Cepat...!!" seru Jeno memerintah salah satu dari mereka, untuk mengambil tali yang Jeno lihat di atas meja.
Jeno hanya berdiri dengan pistol berada di tangannya. Melihat salah satu dari mereka mengikat erat dua rekannya.
"Bagus. Sekarang ikat kedua kaki elo sendiri. Cepatt....!!" perintah Jeno yang segera lelaki itu lakukan.
"Good job."
Jeno menyimpan senjata apinya. Lalu mengikat tangan lelaki yang dia suruh untuk mengikat kedua rekannya.
Jeno memastikan tali yang mengikat mereka kencang. Sehingga tidak akan terlepas dengan mudah. Tidak hanya sampai di sana. Jeno mengikat ketiganya menjadi satu.
"Setidaknya besok pagi atasan kalian akan mendapatkan kejutan."
Jeno mencari lakban, dan menempelkannya ke mulut mereka. Sehingga mereka bertiga tidak bisa bergerak dan tak bisa bersuara.
"Tunggu,,, sepertinya ada yang kurang." cicit Jeno.
Jeno duduk di kursi yang biasanya di pakai oleh kepala sekolah. Mengetikkan sesuatu di layar komputer dan mencetaknya.
Jeno mengambil kertas yang baru saja keluar dari mesin printer. Membaca apa yang baru saja dia tulis. "Gue ingin sekali melihat. Bagaimana eskpresi kepala sekolah sialan tersebut." batin Jeno.
Jeno merekatkan kertas tersebut ke salah satu tubuh lelaki di depannya. "Selesai."
Jeno memandang ke arah ketiganya. "Selamat bermalam di hotel yang nyaman ini. Sebelum kalian berpindah tempat." tukas Jeno meninggalkan ruangan kepala sekolah dengan bersiul.
Ketiganya hanya bisa sedikit bergerak. Mereka sadar, jika tidak akan pernah bisa lepas dari ikatan tersebut karena ikatannya cukup kencang.
Jeno melesatkan mobilnya ke markas. Sebab dirinya tahu jika apartemen Mikel sudah kosong tak berpenghuni. "Apa Bulan sudah selesai."
Seketika otaknya memikirkan dang kekasih di saat misi yang dia jalankan berjalan dengan lancar. "Lindungi calon istri hamba,,, Tuhan." lirih Jeno sambil menyetir mobil.
__ADS_1