
Kutatap seraut wajah penuh kekhawatiran di sana. Aku diam dan menunggunya menurunkan ego. Sengaja tak kusapa apalagi kutawarkan tumpangan yang aku yakin saat ini sangat dia butuhkan. Sesekali pandangan kami bertemu, tapi mulut tetap mengunci. Saling menunggu siapa yang menyapa terlebih dulu. Jelas, aku tak mungkin mau melakukannya karena tujuanku memancingnya mengatakan, "Kak, antar aku."
Namun, hingga menit jarum berada di angka tiga puluh, gadis itu bersikukuh. Diam tak bergerak di tempatnya berdiri. Hanya bibir mengerucut juga mata berkabut yang tampak. Meminta belas kasih.
Hah! Tak akan kuberi sebelum dipinta. Tiga hari aku tak diacuhkan. Padahal selama itu pula aku mencoba merayu, meminta maaf, juga mengaku salah. Hasilnya? Dia masih menyatakan perang. Oke, aku terima tantangannya. Sekarang mari kita buktikan, siapa yang akan jadi pemenang? Aku tersenyum sinis saat matanya mengarah kepadaku.
Sukses membuatku perlahan berjalan mendekat. Egoku jatuh dan hancur berkeping kala mata itu memunculkan sorot penuh iba. Tepat di hadapannya, kutatap dia dengan pandangan lembut. Namun, yang kudapat malah sebaliknya.
"Kakak adalah kakak. Beda dengan bang Aul. Kalian meski sama, tapi beda. Sikap bang Aul ke aku nggak kayak gini. Dan yang kusuka itu bang Aul bukan kakak."
Skak mat! Jleb! Ucapannya sukses membuat hatiku terkoyak. Cahaya mentari pagi yang berkilau berubah serupa kilatan sinar lampu mobil yang menyorot mata. Pedih.
Gadis berambut panjang itu, tanpa rasa bersalah pergi begitu saja. Tak mau bertanggung jawab pada hati yang baru saja tertoreh sembilu.
"Lalu, apa maumu?" tanyaku parau. Ada keraguan dan ketakutan di getar suaraku. Terdengar sangat jelas di telinga.
"Kita putus."
Aku menghela napas panjang. Akhirnya, kata yang kutakutkan keluar juga dari mulutnya. Putus! Asem! Pagi-pagi sudah dapat sarapan pahit begini. Aku mengepalkan kedua tangan. Menahan nyeri yang semakin lama semakin tak tertahan rasanya.
"Oke," jawabku putus asa. Terlalu gengsi untuk memohon padanya untuk tetap tinggal. Terlalu angkuh untuk mengatakan bahwa sebenarnya aku begitu mencintainya.
Mengabaikan segala rasa perih, dengan cepat aku menghampirinya. Menarik pergelangan tangan mungil dan halus itu menuju motor. Memaksanya duduk di boncengan belakang, sementara aku memasangkan helm di kepalanya. Lama kedua tangannku berada di kedua sisi helm setelah benda itu terpasang sempurna. Menatap lekat wajah ayu yang selalu kurindukan.
Tatapan Dilara tajam menghunus, bibirnya tak sedikit pun menyungging senyum. Dia, marah. Aku menghela napas. Tahu apa inginnya. Baik, akan aku beri.
Selama di perjalanan tak seperti biasa. Ada jarak di antara kami. Gadis itu tak lagi mau berpegangan. Ck! Macam tukang ojek aja aku.
"Kamu pikir kakak tukang ojek?"
Gadis itu diam. Aku tak tahu rupa ekspresi wajahnya. Hanya menduga, pasti bibirnya sedang mengerucut. Takut, terjadi sesuatu, segera kutarik satu lengannya hingga tubuh itu menabrak punggungku. Lalu, melingkarkan tangannya ke perutku dan menahannya agar tetap di sana. Dia menolak, terasa saat mencoba melepas cekalanku. Namun, aku bersikukuh. Dia diam, sadar mungkin percuma meronta.
__ADS_1
Momen itu, kuresapi. Kunikmati karena bisa jadi ini yang terakhir kali.
Seolah dejavu, peristiwa yang kualami saat pertama kali kami jadian terulang kembali. Kali ini, bukan dengan rasa bahagia, tapi terluka. Meski aku menatap punggung yang sama saat Dilara hilang di kerumunan siswa lain.
Pagi selanjutnya, adalah pagi yang menyiksa. Melihat Dilara dijemput si bocah tengik dengan wajah bahagia. Andai, aku bisa 'skip' pagi, betapa senangnya hati. Namun, aku tak berdaya karena sudah terbiasa setiap matahari terbit, yang kulihat rumah itu juga penghuninya, Dilara.
Semua rasa kecewa, amarah dan sedih kularungkan dalam bait-bait puisi, prosa juga sajak. Agar Dilara tahu bahwa aku menyimpan kepedihan untuknya.
She's Gone
Jangan jadi terbiasa dengan segala obralan kita, sapaan kita, juga kebersamaan kita.
Aku hanya takut, semua itu mencipta rindu. Takut, jika kebiasaan itu akan jadi pahit saat tak lagi ada.
-Rizaul Kaffi-
Setelah memposting itu, aku pun tak lagi minat menanti komentar atau like yang bertubi-tubi hadir menghiasi statusku itu. Bahkan aku tak tertarik jika jempol Dilara mampir di sana. Sakit hati saat dia begitu tegas mengatakan bahwa Rizaul Kaffi-lah yang dia suka. Bukan aku.
Puas berkeliling, aku pergi ke rumah Dilara. Saat itu dia sedang duduk di ruang tamu sembari membaca buku novel karangan penulis terkenal. Wajah ayunya tertutup buku sehingga hanya tampak kaki yang salah satunya menumpu kaki lainnya.
"Assalamu'alaikum!" sapaku. Tanpa menunggu jawaban, aku masuk dan duduk di depan Dilara. Gadis yang rambutnya dibiarkan tergarai itu membenarkan posisi duduknya menjadi tegak. Menutup bukunya, lalu memandangku heran.
"Kak Galih ada di kamarnya, tuh. Masuk aja, Kak." Usai berkata, Dilara bangkit hendak pergi dari hadapanku.
"Rizaul Kaffi! Apa yang membuat kakak beda dengannya? Kakak adalah dia. Dia adalah kakak, Dilara!"
Dilara bergeming. Badannya tetap berdiri menghadap arah kamarnya.
"Kakak membuat sosok Rizaul Kaffi demi kamu. Inspirasi kakak dalam menulis puisi itu kamu. Puisi kakak sendiri itu kamu. Jadi, apa yang beda?"
Dilara tampak menghembuskan napas panjang sebelum menengadahkan kepala.
__ADS_1
"Hanya beda nama, Dil. Jika kakak mengubahnya menjadi lain, apa kamu juga masih suka padanya? Yang balas komen dan inbox kamu itu kakak. Semua rasa itu berasal dari sini." Aku menunjuk dadaku. "Hati."
"Bang Aul nggak pernah protes."
Aku berdiri dan tertawa sumbang. "Kamu ingin agar kakak bersikap seperti Rizaul Kaffi saat menyapamu di inbox?"
"Terlambat, Kak. Kita sudah putus."
"Ayolah, hanya masalah begitu kamu minta putus. Apa ... cowok yang menjemputmu itu pacar barumu?" tanyaku diiringi hati yang berdenyut nyeri saat kata-kata itu terpaksa kuucapkan.
Namun sebagai gantinya, ucapan itu membuat Dilara menatapku. Mata gadis itu berkaca-kaca, bibir merahnya bergetar. "Aku tak begitu mudah jatuh ke pelukan cowok lain, Kak."
Aku menatapnya lembut setelah tadi sempat memandangnya tajam. Senang dan sedih menjadi satu. Kuusap wajah dengan kasar. "Baiklah. Tetap seperti itu hingga kakak menemukan cara agar kamu memaafkan kakak," tuturku, lalu bergegas pergi.
Sebenarnya aku setengah bingung, apa yang dimaksud Dilara aku dan akun Rizaul Kaffi beda. Padahal akun itu aku yang menggerakkan. Rasa yang kualirkan melalui akun itu milikku. Ah! Aku mengembuskan napas senang kasar. Mengacak rambut sebekum berjalan pulang dengan gontai.
"Napa, lu?" tanya Galih yang baru datang dari samping rumah.
"Dari mana lu?"
"Elah. Ditanya ganti nanya. Ini! Habis metik mangga di kebun samping rumah. Mau?"
"Ogah!"
"Ya udah. Pulang sana!"
"Nggak disuruh pun gue juga pulang."
"Tampang lu begitu kayak macan kehilangan taringnya. Lebay!"
"Suek, lu!"
__ADS_1
Galih tertawa terbahak-bahak sambil masuk rumah dengan cepat hingga aku tak sempat untuk membalas ejekkannya atau sekadar meninju tubuh kurusnya.