PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 69


__ADS_3

"Bu, mobil siapa di depan?" tanya pak Cipto menghampiri sang istri dengan Bintang yang mengekor di belakangnya.


"Bapak duduk dulu, Bintang juga." pinta bu Asri. Supaya mereka lebih enak berbincang, meski mereka duduk di kursi ruang makan yang tidak terlalu lebar tersebut.


"Bulan pulang pak." tutur bu Asri, memberitahu keduanya.


Bintang tersenyum cerah. "Mbak datang bu? Kapan? Sekarang di mana?" cecarnya bertanya pada sang ibu.


"Terus mobil siapa di depan. Apa mobil Bulan?" tanya pak Cipto, pasalnya sang anak selalu menaiki motor saat berkunjung ke rumah.


"Nggak mungkin yah, itu mobil sport. Harganya sangat mahal. Semua tanah ayah, jika dijual, belum tentu cukup untuk membelinya." jelas Bintang.


"Kalian ini, ibu belum selesai berbicara. Sudah ngobrol dulu. Malah meributkan mobil." tegur bu Asri.


Pak Cipto dan Bintang hanya tersenyum kaku. "Bulan berkunjung tidak sendiri. Dia membawa teman. Namanya Jeno. Dia itu, putra dari atasan Bulan. Jadi ibu menyimpulkan, jika mobil itu mobil milik Jeno." jelas bu Asri dengan gamblang.


Pak Cipto dan Bintang manggut-manggut. "Lalu mbak sama temannya kemana bu?"


"Mbak kamu ada di dalam kamarnya. Membersihkan diri. Sementara Jeno, ada di kamar kamu."


"Kok di kamar Bintang?" tanya Bintang heran.


"Terus mau di kamar siapa. Di rumah ini, hanya ada empat kamar. Kamar yang satu sudah ditempati pekerjanya bapak. Masa ibu nyuruh dia satu kamar sama mbak kamu." papar bu Asri.


"Lagian dia tamu. Kita harus menjamunya dengan baik. Lagian, ibu yakin, mereka nggak akan lama. Sore nanti pasti sudah balik ke kota mereka."


"Iiihhh,,,, ibu ngusir mbak Bulan." tuduh Bintang.


"Biasanya begitu." tukas bu Asri.


Sementara orang yang Bulan suruh untuk menjaga keluarganya, dia selalu langsung menuju kebun setelah sholat berjamaah dari masjid.


Dan Bulan juga belum mengetahui, jika kelaurganya sudah mengetahuinya. Juga dengan orang suruhannya yang tinggal di rumahnya.


"Bu ingat, jangan sampai Bulan mengetahui jika orang suruhannya tinggal di rumah ini." lirih pak Cipto mengingatkan.


Bu Asri dan Bintang mengangguk. "Iya bu. Ibu juga jangan lupa. Ruangan itu masih menjadi gudang. Bukan kamar." tukas Bintang.


Bu Asri mengelus dadanya. "Syukurlah, ibu tadi nggak keceplosan." bu Asri meras lega.


"Ingat Bintang, perlakukan teman mbak kamu dengan baik." tutur sang ayah.


"Iya." Bintang berdiri dan masuk ke dalam kamar.


Bintang tidak menemukan siapapun di dalam kamarnya. Namun terdengar suara gemericik dari kamar mandi.


Sembari menunggu teman dari Bulan selesai mandi, Bintang segera berganti pakaian. Tepat Bintang selesai berganti pakaian, Jeno juga keluar dari kamar mandi.


Keduanya saling terdiam sesaat dan bersitatap. "Apakah dia Bintang. Calon adik ipar gue." batin Jeno, pasalnya wajah lelaki yang berdiri di sisi kamar yang berlawanan dengannya mempunyai wajah yang sama dengan yang ada di foto.


"Pasti dia Jeno. Teman mbak Bulan. Tapi, kenapa kelihatannya masih muda sekali. Kayak seumuran gue saja." batin Bintang.


Bintang dan Jeno saling tersenyum. "Pasti kamu temannya mbak Bulan." tebak Bintang berjalan ke arah Jeno.


Demikian pula dengan Jeno yang berjalan mendekat ke tempat Bintang berada. Jeno mengulurkan tangannya. "Jeno." ucap Jeno menyebutkan namanya.


Bintang menyambut uluran tangan Jeno. "Bintang." ucap Bintang, juga memperkenalkan dirinya pada Jeno.


"Maaf, saya lancang masuk. Padahal pemiliknya tidak ada." tutur Jeno, merasa tidak enak hati.


Bintang tersenyum. "Tidak apa-apa. Bukankah ibu yang menyuruh kamu." tukas Bintang.


Jeno mengangguk pelan. Jeno duduk di tepi ranjang, sementara Bintang mengambil kursi yang biasanya dia gunakan untuk belajar. "Kamu kelas berapa?" tanya Jevo, melihat banyaknya buku SMA tertata rapi di atas meja belajar Bintang.


"Kelas satu SMA." tukas Bintang.


Jeno tersenyum. "Amanlah, guekan kelas dua. Setidaknya lebih tua dari dia." batin Jeno nyleneh.

__ADS_1


"Emm,,, kamu sendiri, masih sekolah, apa sudah bekerja?" tanya Bintang hati-hati.


"Masih sekolah. Kelas dua SMA." sahut Jeno.


"Ooo... dua SMA." timpal Bintang. "Eeehh... dua SMA." Bintang tercengang, kembali mengulang kalimatnya.


"Iya, kenapa wajah aku boros ya." canda Jeno tertawa pelan.


"Ehh,,, bukan." segera Bintang menimpalinya. "Kata ibu, kamu teman mbak Bulan." cicit Bintang.


"Iya, saya anak dari atasan kak Bulan. Tapi juga berteman dengan kak Bulan." jelas Jeno.


"Ooo,,,,," sahut Bintang mengerti.


Jeno merasa, ibu dan adik Bulan sangat humble. Keduanya sangat asyik dan terlihat baik. "Tinggal ayah dari Bulan. Semoga ayah Bulan, seperti ibu dan adiknya." batin Jeno dalam hati, berharap bisa diterima di tengah-tengah keluarga Bulan. Meski dengan sebuah kebohongan.


"Tapikan gue nggak bohong seratus persen. Nama gue beneran Jeno. Lalu gue masih sekolah kelas dua SMA. Semua jujur, hanya mengaku sebagai anak dari atasan Bulan saja. Bukan kebohongan yang besar." ucap Jeno dalam hati.


"Kamu sudah selesai? Jika sudah, sebaiknya kita keluar. Atau, kamu mau istirahat." tanya Bintang, sekaligus memberi saran.


Jeno masih terdiam. Seperti sedang memikirkan sesuatu. "Jika Bintang sudah ada di rumah, berarti ayah Bulan juga sudah datang. Nggak baik juga, kalau gue tetap berada di dalam kamar." batin Jeno.


Jeno tersenyum. "Kita keluar saja." tukas Jeno.


Mungkin, karena Jeno dan Bintang seumuran. Itulah mengapa mereka bisa cepat akrab. Dan bahkan berbincang santai layaknya teman. Padahal keduanya baru bertemu.


Keduanya keluar dari kamar Bintang. Jeno memandang seorang lelaki yang sedang duduk di kursi sedang menyeruput kopi di dalam cangkir.


Jeno bisa menebak, jika lelaki tersebut adalah ayah dari Bulan. "Pak,,, ini Jeno. Temannya mbak Bulan." tukas Bintang, memperkenalkan Jeno pada sang ayah.


Segera Jeno bersalaman dengan Pak Cipto. "Saya Jeno pak." ujar Jeno memperkenalkan diri, meski Bintang sudah menyebutkan namanya pada sang ayah.


Pak Cipto mengangguk pelan. "Saya Cipto, ayahnya Bulan." sahut Pak Cipto.


Ada perasaan grogi di hati Jeno. Tentu saja dirinya merasakan hal yang tidak bisa dijabarkan dalam benaknya. Takut, grogi, cemas.


Mungkin karena yang ada di depannya, adalah ayah dari perempuan yang dia cintai. "Kamu masih sekolah, atau sudah bekerja?"


"Kamu siapa?" tanya pak Cipto, meski sang istri sudah menceritakan semuanya tadi di dapur.


Pak Cipto ingin Jeno menjelaskannya pada dia. Jeno tersenyum kaku. "Saya anak dari atasan kak Bulan, pak."


Bintang asyik bermain ponsel di samping Jeno. Tentu saja dirinya hanya berpura-pura memainkan ponsel. Padahal, telinganya terbuka lebar mendengarkan setiap obrolan mereka.


Jeno melirik ke arah ponsel Bintang. Tampak Bintang sedang memainkan game di ponselnya. "Kenapa kamu bisa ke sini bersama dengan Bulan?"


Jeno terdiam. Semua rangkaian kalimat yang sudah dia siapkan di dalam benaknya, sudah hilang entah kenapa dan kapan.


"Kita tidak sengaja bertemu di jalan yah." tukas Bulan, yang tiba-tiba muncul. Bulan segera berjabat tangan seraya mencium punggung telapak tangan sang ayah.


Jeno tercengang menatap penampilan Bulan. Ini pertama kalinya bagi Jeno melihat penampilan. Tidak seperti hari-hari biasa, Bulan kali ini nampak terlihat begitu manis.


Dengan dress rumahan lengan singlet berwarna kuning polos, dengan panjang mencapai mata kaki. Dan tali terikat di pinggangnya. Menjadikan tubuh Bulan terlihat seksi di mata Jeno.


Jeno segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Tentu saja dia tidak ingin keluarga Bulan melihat dengan jelas bagaimana ekspresi wajahnya saat ini.


Begitu juga Bintang. Ponselnya langsung dia taruh, lalu memeluk sang kakak dengan erat. "Kamu itu." ucap Bulan, membalas pelukan dari Bintang.


"What... Kenapa sampai ada adegan peluk memeluk. Seharusnya itu gue, bukan Bintang." ucap Jeno dalam hati.


Tentu saja Jeno merasa tak rela dan merasa iri dengan Bintang yang dengan mudah memeluk pujaan hatinya. Meski Bintang sendiri adalah adik dari Bulan.


Bulan tersenyum samar melihat ekspresi Jeno. Dirinya tahu, jika Jeno pasti sedang dibakar cemburu.


Bulan tersenyum penuh makna. Ide jahil dan konyol terbesit dalam benaknya. Bulan mengurai pelukannya pada sang adik.


Menangkupkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Bintang. "Adik mbak makin cakep aja. Udah punya pacar?"

__ADS_1


Bintang menggeleng. "Bohong, pasti bohong...." tukas Bulan.


Cup,,,, cup,,, cup,,, Bulan mendaratkan bibirnya di kedua pipi Bintang, juga dengan dahinya. Jika sang ayah tersenyum senang dengan keakraban serta kasih sayang yang Bulan berikan pada sang adik. Berbeda dengan Jeno.


Jeno melotot tak percaya. "Hoeyy.....!!" seru Jeno berdiri dari duduknya, tak sadar jika sekarang dirinya sedang di rumah Bulan.


Semua mata menatap ke arah Jeno dengan aneh. Juga Bulan, yang pastinya hanya sebuah sandiwara. Seolah dia tidak tahu apa-apa.


Bahkan, saking serunya suara Jeno, Bu Asti yang sedang menyiapkan sarapan, sampai menghampiri mereka.


"Ada apa?" tanya bu Asri langsung bertanya.


Bulan tersenyum samar. Ingin sekali Bulan tertawa lepas melihat apa yang dilakukan oleh Jeno. "Ehh.... Tidak bu, ada nyamuk menggigit kaki saya. Iya... Maaf, semuanya." Jeno tersenyum kaku.


"Astaga, ibu pikir kenapa." tutur bu Asri mengelus dadanya, merasa lega.


Jeno tersenyum canggung. "Maaf." cicitnya, kembali duduk di kursi.


Jeno memandang kesal ke arah Bulan yang menahan senyum sembari memandang ke arah lain. "Pasti dia sengaja. Awas saja. Gue akan balas dia." batin Jeno, menebak jika Bulan sengaja melakukannya.


Tanpa keduanya sadari, pak Cipto merasa ada yang aneh dengan keduanya. Tapi, beliau hanya diam. Membiarkan semuanya. Toh apa yang ada dalam pikirannya belum tentu benar.


Sementara Bintang juga merasa ada yang aneh dengan Jeno. Hanya saja, Bintang sendiri juga tidak terlalu mengerti. Apalagi mereka juga baru bertemu, serta berkenalan beberapa menit yang lalu.


Di tempat lain, Jevo beserta Arya dan Mikel pergi ke sekolah seperti biasa. Lagi-lagi, langkah kaki mereka dihadang oleh seorang siswi.


Siapa pagi jika bukan Sella. Murid perempuan kelas satu yang menyukai saudara kembar Jevo. Yakni Jeno. "Pagi,,,," sapa Sella, menampilkan senyum manisnya.


Ketiganya menghentikan langkahnya, tanpa menyahuti sapaan dari Sella. "Jeno mana?" tanya Sella dengan ramah.


Jevo hanya memandang Sella sekilas, lalu melangkahkan kakinya kembali. "Elo punya nomor teleponnya. Kenapa mesti tanya ke kita." ketus Mikel, menyusul Jevo.


"Ccckk.... Elo pikir Jeno balita, yang perlu di asuh." tukas Arya, tersenyum miring. Melanjutkan langkah kakinya.


Sella meradang. "Sial. Gue sudah berusaha bersikap baik. Tapi mereka memang menyebalkan. Sumpah.... Jika begini caranya, gue nggak akan pernah mendapatkan Jeno." geramnya.


Mita, teman dari Sella menepuk pundak Sella dari belakang dengan pelan. "Udahlah Sell,,,, elo fokus belajar saja. Jeno itu nggak suka sama elo." tutur Mita.


Sella menepis tangan Mita di pundaknya dengan tatapan kesal. "Elo itu teman gue apa bukan sih. Bukannya membantu, malah menjatuhkan. Sialan." Sella berjalan, menabrak bahunya dengan sengaja ke lengan Mita.


Mita hanya bisa menghela nafas. "Sella,,, Sella. Apa sih yang elo cari dari Jeno. Astaga, apa hebatnya sih, bisa masuk ke dalam keluarga Pramudya." gumam Mita, yang memang sangat berbanding terbalik dengan temannya, Sella.


Jevo beserta dua sahabatnya sampai di dalam kelas, dan langsung duduk di bangku mereka. "Apa elo juga merasa, ada yang sedang mengawasi kita." lirih Mikel.


"Bukan kita. Tapi Jevo." tukas Mikel.


"Revan. Gue tahu, jika dia sedang merencanakan sesuatu untuk gue. Dan gue sama sekali tidak peduli." ujar Jevo.


Kedua sahabat Jevo juga tahu, jika Revan sedari dulu memang membenci Jevo. Entah apa alasannya. Tapi keduanya seolah bisa menebak. Jika Revan melakukannya atas dasar sakit hati serta merasa iri pada Jevo.


"Penyakit iri, memang sulit untuk dihilangkan." ketus Arya.


Jevo sendiri juga tidak tahu, kenapa Revan membenci dirinya. Padahal, selama ini dia dan Revan sama sekali tidak pernah terlibat masalah apapun.


Bahkan, dirinya dan Revan juga sama sekali tidak pernah bertegur sapa. Atau berbincang. "Elo nggak pengen menyelidiki, apa yang membuat Revan bersikap seperti otw ke elo?" tanya Mikel.


"Untuk apa? Pekerjaan kita terlalu banyak. Apa harus, gue nambah beban yang sama sekali tidak penting di pundak gue." ketus Jevo.


Moza datang, masuk ke dalam kelas dengan tangan menantang sebuah wadah kecil. "Untuk kamu." ucapnya, meletakkannya di atas meja Jevo.


Mikel dan Arya, serta beberapa murid di jelas menatap Moza dengan tatapan aneh. "Itu sebagai tanda minta maaf. Karena kemarin membuat kamu terlibat masalah." segera Moza menjelaskannya.


Meski apa yang Moza sebutkan sebagai alasan tersenut tidak benar. Sebab, Moza memang ingin memberi makan yang dia masak sendiri pada Jevo.


Jevo mengacuhkannya. Membiarkan benda tersebut tetap berada di atas mejanya tanpa menyentuhnya sama sekali.


"Biarkan saja di situ. Nanti Jevo akan memakannya." papar Arya, merasa iba melihat raut wajah Moza.

__ADS_1


"Benar. Duduklah ke kursi elo." timpal Mikel.


Moza tersenyum, lalu duduk di kursinya. "Semoga Jevo suka." ucapnya dalam hati.


__ADS_2