PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 167


__ADS_3

Bulan memutuskan untuk mengakhiri misinya sebagai seorang pengajar begitu kasus yang menyeret nama pak Bimo terekspos ke publik dan ditangani pihak berwajib.


Dimana sekarang para penjahat tersebut tengah menunggu sidang keputusan hakim, terkait apa yang akan mereka terima sebagai hukuman atas tindakan yang telah mereka lakukan selama ini.


Pihak berwajib menangkap semua orang yang terlibat dalam kasus tersebut. Meski mereka hanya sebagai orang suruhan dengan bayaran rendah sekalipun.


"Harumnya,,,,'' cicit Bulan, ketika hidungnya mencium bau enak yang berasal dari makanan yang dimasak Nyonya Irawan.


"Duduklah. Kita makan bersama." pinta Nyonya Irawan.


Setelah meninggalkan rumah, Nyonya Irawan serta Sapna memang tinggal di rumah Bulan sesuai keinginan Bulan.


Apalagi Bulan juga tinggal seorang diri. Sehingga dirinya tidak akan kesepian karena kehadiran mereka berdua. Bulan juga melarang keduanya saat mereka hendak mencari rumah kontrakan.


Bulan tersenyum, duduk di kursi yang kosong. "Sapna mana tante?" tanya Bulan tidak melihat putri dari Nyonya Irawan.


"Sapna ada di sini." seru Sapna sebelum sang mama menyahuti pertanyaan Bulan.


Bulan menatap dengan intens ke arah Sapna. Penampilan Sapna yang berbeda menjadi fokus pertama Bulan. "Mau ke mana?"


"Mau wawancara pekerjaan." jawab Sapna, mendaratkan pantatnya di kursi dekat sang mama. Yang berseberangan dengan tempat duduk Bulan.


"Memang kamu mau wawancara kerja di mana?" tanya Bulan.


"Ada,,,, di sebuah perusahaan. Beberapa hari yang lalu aku memberikan lamaran kerja ke beberapa perusahaan. Dan akhirnya, ada yang memanggilku. Meski bukan perusahaan besar, setidaknya aku bisa mencari uang dari sana. Sekaligus belajar mandiri. Tapi,,, jika aku diterima." jelas Sapna tersenyum senang.


"Pasti diterima. Dengan melihat penampilan kamu saja, aku yakin jika kamu akan diterima. Semangat.'' seru Bulan memberikan semangat pada Sapna.


"Makasih... Pasti aku semangatlah." sahut Sapna dengan yakin.


Nyonya Irawan diam, melihat kedua perempuan muda di depannya berbincang. "Bagaimana jika mama juga mencari pekerjaan?" tanya Nyonya Irawan membuat Sapna dan Bulan terdiam.


Nyonya Irawan paham dengan pandangan keduanya pada beliau. "Eiitss,,, jangan remehkan mama. Dulu, mama juga pekerja kantoran. Ya,,,, tapi mungkin kalau sekarang sudah tidak mungkin kerja di sana lagi. Tapi mama bisa bekerja di toko kue, atau restoran."


"Jangan ma."


"Jangan tante."


Bulan dan Sapna menjawab secara bersamaan. "Kalian tidak percaya, jika maka sanggup bekerja."


"Bukan seperti itu tante. Jika tante bekerja, siapa yang akan membersihkan rumah. Siapa yang akan memasak." jelas Bulan beralasan.


"Benar kata Bulan ma,,,, Mama di rumah saja. Menjaga rumah. Biar Sapna yang bekerja." timpal Sapna, yang tidak ingin sang mama bersusah payah mencari uang.


"Baiklah. Mama menurut saja pada kalian." ujar Nyonya Irawan setuju, meski sebenarnya beliau ingin sekali membantu sang putri.


Ketiganya melanjutkan sarapan mereka dengan makanan yang sudah dimasak oleh Nyonya Irawan.


Nyonya Irawan juga merasa sungkan dan tidak enak hati jika harus tinggal di rumah Bulan. Menumpang hidup gratis. Hanya makan dan tidur.


Sapna tahu, kenapa sang mama ingin bekerja dan menghasilkan uang. Meski keduanya belum genap seminggu tinggal di rumah Bulan, tapi baik Sapna maupun Nyonya Irawan bukan parasit, yang hanya ingin numpang hidup enak pada Bulan.


Dengan Bulan memperbolehkan mereka berdua tinggal di rumah tersebut, membuat keduanya sudah sangat senang. Dan karena telah diterima dengan baik untuk tinggal di rumah Bulan, keduanya mana mungkin hanya berpangku tangan. Duduk manis di rumah.


"Kenapa?" tanya Bulan, menyadari Sapna menatapnya dengan lamat.


"Kamu cantik. Pantas saja Jeno tergila-gila dengan kamu." puji Sapna, dimana Bulan memakai seragam kerja berwarna coklat dengan memakai rambut palsu sepundak.


"Terimakasih." jawab Bulan dengan centil sembari mengedipkan sebelah matanya. Membuat Sapna dan Nyonya Irawan tertawa lepas..


Hari ini, hari pertama Bulan kembali bekerja di kantor sebagai abdi negara. Menunjukkan jati dirinya secara langsung sebagai pengayom masyarakat.


"Kita berangkat bareng saja." ajak Bulan.


Sapna mengangguk. Sebab mereka memang searah. "Oke. Dengan senang hati. Lumayan, mengirit ongkos." canda Sapna yang sebenarnya berkata jujur.


Bulan bangga dengan sosok Sapna. Meskipun dirinya berasal dari keluarga berada. Dan tidak pernah hidup susah, tapi kali ini dia tanpa mengeluh menjalani takdir di depannya.


Keduanya berangkat meninggalkan rumah setelah selesai sarapan dan berpamitan pada Nyonya Irawan. Bulan menurunkan Sapna di depan kantor, dimana Sapna akan melakukan wawancara.

__ADS_1


"Aku menanti kabar baik." ujar Bulan melongokkan kepalanya di jendela mobil.


Sapna mengacungkan jempol tangannya mengarah pada Bulan. Dan bergegas masuk ke dalam kantor. Dirinya tidak ingin sampai terlambat datang yang akan mendapatkan nilai minus dari atasan.


"Perusahaan ini." batin Bulan merasa familiar dengan plakat nama yang terpasang di depan perusahaan tersebut. "Gue harus menyelidikinya." lanjut Bulan dalam hati.


Sampai di kantor, Bulan langsung memperkenalkan diri sebagai kepala kantor yang baru. Menggantikan posisi pak Bimo yang kosong. Yang pastinya sudah mendapatkan mandat dari kantor pusat.


"Selamat datang bu." tutur anggota lainnya menyapa Bulan dengan sopan dan ramah.


"Terimakasih. Silahkan bekerja seperti biasa." tukas Bulan sembari menggerakkan tangannya dan masuk ke dalam ruangannya tetap dengan ekspresi datarnya.


"Jika atasannya seperti dia, gue betah berlama-lama di kantor." celetuk anggota yang berjenis kelamin lelaki.


"Aku dengar dia masih jomblo. Sendirian." sahut yang lain.


"Dan pastinya masih muda."


"Tapi jangan salah. Seharusnya kalian tahu, kenapa dia diangkat menggantikan posisi pak Bimo."


"Semua juga tahu siapa dia. Hanya anggota yang baru dididik saja yang tidak tahu."


"Jangan berisik. Sebaiknya kalian bekerja. Dari pada kena tegur." ujar yang lain mengingatkan.


Bulan memandangi kursi yang biasanya ditempati oleh pak Bimo. Menyentuh pelan kursi tersebut, lalu duduk di atasnya dengan nyaman. "Sekarang gue yang duduk di sini." cicit Bulan tak pernah terpikirkan sebelumnya.


Bulan tersenyum miring. "Sepertinya gue nggak akan mendapatkan misi lagi." cicit Bulan, paham dengan jabatan yang dia sandang sekarang.


Bulan merasa ada yang kurang. Mungkin karena Bulan belum terbiasa dengan pekerjaan barunya ini. Sebab biasanya Bulan akan pergi ke lapangan dan menjalankan misi berbahaya.


Bukan duduk manis di kursi sembari memerintahkan bawahannya. "Semoga gue bisa." lirih Bulan mulai menggerakkan tangannya untuk melihat satu-persatu tumpukan berkas di tangannya.


Di sebuah rumah mewah, seorang perempuan sedang uring-uringan. Dirinya bertengkar dengan sang mama.


"Ma....!!! Stop meminta uang pada Claudia...!!" bentak Claudia pada sang mama.


Niat jahat Claudia bersama sang pengacara untuk mengamankan harta Tuan Zain memang berhasil dengan baik.


Melainkan Claudia hanya mendapatkan sebagian kecil dari harta tersebut. Berbanding terbalik dengan sang pengacara yang mendapatkan bagian banyak.


Intinya, Claudia merasa ditipu oleh sang pengacara. Tapi Claudia juga tidak berani berbicara atau mencari pengacara lain untuk menggugat pengacara tersebut.


Sebab Claudia tahu, jika dirinya akan semakin kehilangan banyak uang jika menyewa jasa pengacara lain. Dan yang Claudia pikirkan, jika sampai harta yang telah dia amankan malah akan raib dari tangannya.


"Claudia....! Jangan membentak mama. Uang itu juga uang mama...!!" seru sang mama tak mau kalah.


Claudia hanya tersenyum kecut. Niatnya melanjutkan kuliah ke perguruan mentereng terpaksa kandas. Dirinya juga harus berhemat, karena semakin lama uangnya akan habis. Sebab tidak ada pemasukan sama sekali.


"Kalau kamu tidak mau memberikan mama uang. Mama akan jual rumah ini." ancam sang mama tersenyum senang.


"Jangan gila ma. Lalu kita akan tinggal di mana?!" seru Claudia merasa pusing dengan sikap sang mama yang ternyata lebih kekanak-kanakan dari pada dirinya.


"Kenapa? Kamu takut, jika mama sampai menjual rumah ini." ujar sang maka malah semakin menantang.


"Terserah mama. Lebih baik kita hidup sendiri-sendiri. Claudia muak dengan mama." Claudia meninggalkan sang mama untuk pergi ke kamar.


"Claudia.....!!! Kamu mau ke mana. Anak itu. Padahal aku tahu, jika dia memperoleh banyak uang." geram sang mama yang mempunyai hobi sama dengan Claudia. Berfoya-foya dan menghamburkan uang untuk hal yang tidak penting.


Di dalam kamar, Claudia memasukkan sebagian pakaiannya ke dalam koper. Sebab tak mungkin dirinya membawa semua pakaiannya.


"Revan. Semoga dia mau menampung gue." cicit Claudia, dimana hanya terbesit nama Revan dalam benaknya.


Claudia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi layaknya seorang pembalap. Dia memilih jalan yang sepi, bukan jalan utama. Tujuannya adalah supaya dia lebih cepat sampai di apartemen Revan tanpa harus terjebak kemacetan.


Tapi siapa yang akan mengira, jika hari ini dirinya benar-benar sial. Tiba-tiba mobilnya berhenti sendiri karena semua ban mobilnya kempes.


"Aaa....!!" teriak Claudia seraya menendang ban mobilnya yang ternyata terkena paku.


Tiba-tiba beberapa lelaki dengan penutup wajah menggunakan topeng menghampirinya dengan memperlihatkan senjata tajam di tangan mereka. "Berikan apa yang elo punya. Dan segera pergi."

__ADS_1


"Sial...!! Pasti mereka sengaja menyebar paku di jalan." batin Claudia merasa ketakutan jika mereka berbuat jahat pada dirinya.


Alhasil, Claudia mau tak mau menyerahkan apa yang dia bawa. Yakni mobil dan ponsel. Tak ketinggalan tas Claudia yang berisi uang dan beberapa kartu kreditpun ikut mereka bawa.


Claudia berjalan menuju jalan utama dengan terus mengomel. Mengutuk kelakuan mereka yang telah membegalnya. "Penjahat sialan." gerutunya.


"Sial...!! Sial...!! Mana gue nggak ada uang sepeserpun." keluh Claudia berhenti berjalan. Sedikit menunduk dengan kedua tangan berada di lutut.


Tiiiiit..... Suara klakson mobil membuyarkan fokus Claudia. "Sella." lirih Claudia.


Tapa keluar dari mobil, Sella berbicara dengan Claudia. Hanya melongokkan kepalanya dari jendela mobil. "Elo nggak jadi kerekan, hanya karena papa elo masuk penjara." ejek Sella tersenyum remeh.


"Sell... Sudah. Lebih baik kita pergi." ajak Mita tak ingin Sella mencari masalah dengan Claudia.


Claudia mendekat ke mobil Sella. Terdiam sejenak dengan memandang Sella. "Gue baru saja kena sial brengsek. Mobil, ponsel, sama tas gue diambil rampok....!!" seru Claudia dengan amarahnya.


Sella tersenyum tak percaya. "Benarkah. Astaga kasihan sekali. Apakah perlu saya antar ke kantor polisi." tanya Sella hanya sekedar basa-basi. Padahal dirinya sedang mengejek Claudia.


Tapi siapa yang menyangka, jika Claudia setuju dengan tawaran Sella. Yang pada akhirnya Sella dan Mita mengantarkan Claudia ke kantor polisi. Meski Sella sangat tidak ikhlas membantu Claudia.


"Dia kira gue sopirnya." gerutu Sella dalam hati.


Sella dan Mita memang baru saja dari sekolah. Hari ini hari terakhir mereka melaksanakan ujian kenaikan kelas. Tapi tidak dengan Sella. Sebab dirinya absen beberapa hari. Sehingga harus melakukan ujian susulan untuk beberapa hari ke depan.


"Keluar." usir Sella setelah mereka sampai di depan kantor polisi.


"Antar gue. Ayo..." ajak Claudia memaksa.


"Ogah." tolak Sella merasa Claudia semakin menyusahkannya.


Mita hanya diam. Dirinya tidak mau ikut campur perdebatan dua perempuan di depannya. Dan memilih mencari aman.


"Kalau elo nggak mau antar gue, gue akan tetap berada di dalam mobil elo." kekeh Claudia malah mengancam Sella.


"Elo..." Sella menatap tajam ke arah Claudia dengan perasaan kesal.


Sedangkan Claudia tersenyum santai tanpa beban. "Elo memang menyusahkan saja." geram Sella, yang akhirnya mau mengantarkan Claudia masuk ke dalam kantor polisi bersama dengan Mita.


Sella dan Mita masih menggunakan seragam sekolah SMA. Dan Claudia berpakaian bebas yang pastinya terlihat seksi. Beruntung, para lelaki yang merampok Claudia hanya mengambil barang-barang Claudia tanpa melakukan pelecehan pada Claudia.


"Bagaimana kejadiannya?" tanya petugas kepolisian yang menerima laporan dari Claudia.


Claudia menceritakan kronologi kejadian yang baru saja dia alami. Sedangkan Sella dan Mita duduk di sebelah Claudia.


"Baik. Kami akan menindak lanjuti laporan anda. Silahkan tinggalkan nomor ponsel yang bisa dihubungi. Kami akan menghubungi anda setelah penyelidikan lebih lanjut." tukas sang petugas.


"Jadi kamu tidak bertindak sekarang?!" tanya Claudia yang menginginkan mobil dan barangnya kembali saat ini juga, berucap dengan tidak sopan.


"Maaf Nona, kami akan melakukan pengejaran. Tapi kami juga harus memeriksa TKP terlebih dahulu. Dan melakukan penyelidikan lebih lanjut." jelas sang petugas.


Brak...... Claudia menggebrak meja di depannya dengan keras. Dirinya tidak terima dengan penjelasan sang petugas.


Sella yang juga terkejut menatap Claudia dengan aneh. "Bikin malu gue saja." batin Sella ingin segera pergi meninggalkan Claudia sendiri.


Sedangkan Mita hanya bisa mengelus dada karena rasa keterkejutannya. "Dasar nggak punya sopan." batin Mita.


"Saya mau mobil saya kembali sekarang. Astaga...!! Kenapa kalian suka sekali menunda pekerjaan. Gue datang melapor. Dan kejadiannya baru saja. Seharunya kalian segera bergerak cepat." teriak Claudia membuat dirinya mendapatkan perhatian dari semua orang.


"Mita... Suruh Claudia diam. Gue malu." bisik Sella, menyadari jika mereka menjadi pusat perhatian. Yanga hanya Mita tanggapi dengan senyuman.


"Maaf Nona. Kami akan mencari mobil anda sesuai prosedur. Jadi tolonglah, bersabar. Jangan mempersulit kami. Dan juga anda sendiri. Kami akan bekerja dengan baik, dan semaksimal mungkin." papar seorang anggota yang juga mendengar keluhan Claudia.


Bukannya menerima penjelasan para petugas dengan baik, Claudia malah semakin membuat keributan. Dimana suara Claudia terdengar sampai ke dalam ruangan tempat Bulan berada.


"Suara itu." lirih Bulan merasa sering mendengar suara perempuan yang berteriak tak henti dari tadi.


Karena merasa penasaran, Bulan beranjak dari duduknya. Keluar dari ruangannya untuk memeriksa apa yang terjadi di luar.


"Ada apa ini?" tanya Bulan melihat beberapa orang berkumpul.

__ADS_1


Kedatangan Bulan membuat beberapa orang menyingkir dengan sopan. Sebab mereka tahu siapa Bulan.


__ADS_2