PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 171


__ADS_3

"Siapa dia sayang?" tanya Nyonya Rindi pada Bulan, melihat sosok yang belum pernah dia tamui sebelumnya.


Ketiganya sampai di rumah Tuan David. Dan kebetulan, Tuan David tidak kembali ke perusahaan setelah makan siang. Sehingga beliau bisa bertemu Bulan dan Sapna.


Setelah bersalaman dengan Nyonya Rindi dan Tuan David, Bulan mengajak Sapna untuk duduk di kursi dengan sopan.


Tampak ekspresi Sapna yang masih sayu dan sembab, karena selama berada di mobil dia tidak berhenti menangis.


"Dia Sapna ma. Putri dari om Bimo dan tante Irawan." jelas Jeno yang duduk di sebelah Bulan.


Nyonya Rindi dan Tuan David sejenak saling pandang. Tentu saja mereka berdua sangat kenal dengan sosok tersebut. Juga musibah yang baru saja dialami oleh keluarga Sapna.


Tak hanya Tuan David dan Nyonya Rindi, Jevo juga duduk di kursi bersama yang lain. "Sekarang Tante Irawan dan Sapna tinggal di rumah Bulan, tante." ungkap Bulan tersenyum ramah.


Nyonya Irawan tersenyum tulus, memandang ke arah calon menantunya. "Akhirnya tante bisa lihat kamu memakai seragam itu." cicitnya.


Bulan tersenyum malu sembari mengangguk. Tangannya masih setia memegang lengan Sapna. "Maaf tante, Bulan belum ganti baju." ujar Bulan melirik ke arah Jeno.


Semua tahu, dan bisa menebak kenapa Bulan melirik ke arah Jeno. Pasti Jeno yang mengajak Bulan datang ke sini dengan berbagai alasan. Yang akhirnya Bulan setuju dengan Jeno.


"Tidak apa sayang. Kamu tetap cantik kok." sahut Nyonya Irawan.


"Kenapa Sapna bisa bersama kalian?" tanya Jevo yang sedari tadi merasa penasaran melihat Sapna datang bersama Bulan dan Jeno. Ditambah keadaan Sapna yang sepertinya tidak baik-baik saja.


"Kami tidak sengaja melihat Sapna berdiri di pinggir jalan." jelas Bulan dengan jujur sembari menggeleng.


Seakan mengatakan pada Jevo jika dirinya juga tidak tahu kenapa Sapna seperti itu.


Sebagai seorang ibu, Nyonya Rindi bisa menebak jika Sapna tengah tertekan secara psikologis. Beliau beranjak dari duduknya, dan kembali duduk di samping Sapna.


"Kamu putri Irawan. Cantik sekali." puji Nyonya Rindi mengelus rambut Sapna.


Sapna tersenyum samar. Terlihat jika Sapna sama sekali tidak mempunyai gairah untuk hidup. Seakan dirinya ingin menghilang dari dunia.


"Sayang, jika kamu ada sesuatu, katakan saja. Jangan dipendam sendiri. Tante tahu, kamu tidak mungkin bercerita dengan mama kamu. Karena kamu tidak ingin mama kamu sedih dan kepikiran. Tapi kamu bisa bercerita dengan kita. Seandainya kamu tidak nyaman berbicara di sini, ajak seseorang untuk mendengarkan apa yang kamu rasakan. Mungkin dengan calon menantu tante, Bulan." papar Nyonya Rindi panjang lebar, tersenyum memandang Bulan.


Blusshh..... Kedua pipi Bulan perlahan berubah warna sedikit memerah tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya akan apa yang diucapkan Nyonya Rindi. Calon menantu.


Padahal Nyonya Rindi sedang memberitahu Sapna, tapi yang salah tingkah karena ucapan beliau malah Bulan. Sebisa mungkin Bulan menyimpan ekspresi senangnya dan menahan kedua sudut bibirnya yang sangat ingin tertarik ke atas.


"Tahan Bulan.... Tahan. Jangan buat diri elo malu. Hanya dibilang calon menantu saja sudah buat elo kelimpungan. Dasar." ucap Bulan dalam hati.


Tangan Jeno perlahan bergerak di belakang tubuh Bulan. Dengan pelan, Jeno mengelus pinggang Bulan. Membuat perasaan Bulan semakin tak karuan.


Bulan menahan nafas sejenak. Sedikit menegakkan badannya. Berharap Jeno mengerti apa yang dia inginkan. Yakni menyingkirkan tangannya dari pinggangnya.


Hanya saja, mana mungkin Jeno melakukan hal tersebut. Jeno malah mengelus hingga punggung Bulan. Membuat Bulan sangat tidak nyaman akan tindakan Jeno.


Jeno tahu jika Bulan tidak nyaman. Hanya saja, Jeno semakin suka menggoda Bulan. Ditambah ekspresi Bulan yang memendam sesuatu. Sungguh menggemaskan di mata Jeno.


Jevo tersenyum samar. Tahu kemana arah tangan Jeno bermuara. "Sial...!! Gue kira Jeno lugu. Tenyata." batin Jevo salah menebak. Bisa jadi Jeno lebih gila dari pada dirinya.


Mau tak mau, Bulan melepaskan tangannya pada lengan Sapna, dengan santai mengalihkan tangannya ke belakang untuk memegang tangan Jeno, supaya tak bergerak semaunya.


Bulan melirik tajam ke arah Jeno yang tampak tersenyum acuh. "Astaga Jeno..." geram Bulan dalam hati. Dimana Jeno malah meremas pelan serta meraba telapak tanga Bulan dengan lembut.


"Sapna hanya tidak mau membuat orang lain susah karena masalah Sapna." cicit Sapna mau bersuara.


"Cckk,,, katakan saja. Jangan bertele-tele." tukas Jevo.


"Jevo...." tegur Tuan David dan Nyonya Rindi.


"Ma... Pa,,, memang dia mau melakukan apa? Dia nggak punya power. Dia nggak punya kemampuan apapun. Elo pikir elo Bulan. Elo bisanya hanya menangis. Nggak nyusahin gimana." sarkas Jevo mendapat tatapan tajam dari kedua orang tuanya.


Jeno langsung melepaskan tangannya yang dipegang Bulan. "Heeyy.... Jangan bawa-bawa nama kekasih ku." tegur Jeno, tak suka cara Jevo memuji Bulan. Jevo menatap Jeno dengan malas.


"Lebih baik kamu ke belakang saja." usir Nyonya Rindi, merasa Jevo malah membuat Sapna ketakutan. Yang akhirnya malah tak mau mengatakan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Astaga mama... Asal mama tahu, dia tuh sudah enak. Ngomong saja. Nggak usah pake banyak drama. Ingat Nona...!! Elo nggak bakal bisa menyelesaikan masalah dengan air mata." sinis Jevo menohok, dengan perkataannya yang pedas.


Jeno semakin mendekatkan dirinya ke Bulan. Menaruh dagunya di pundak Bulan. "Jeno." lirih Bulan tidak percaya dengan apa yang Jeno lakukan di saat seperti ini.


Jeno tersenyum imut, menggoda Bulan dengan kedua matanya. Bulan hanya bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Tuan David hanya menggeleng pelan melihat tingkah Jeno. "Sangat bahaya, jika mereka tidak segera dinikahkan." batin Tuan David.


Beliau percaya dengan pendirian Bulan. Tapi tidak dengan sang putra. Jeno. Terlihat sangat nyata Jeno begitu menggilai Bulan.


Tuan David hanya khawatir jika Jeno mempunyai pikiran buruk. Secara dia seorang lelaki. Dimana Tuan David melihat dengan jelas keinginan sang putra untuk memiliki Bulan secara penuh.


Beliau hanya tidak ingin keduanya melakukan kesalahan sebelum sah sebagai suami istri. Baik di mata hukum atau agama.


"Benar kata Jevo. Air mata nggak akan bisa menyelesaikan masalah. Cukup speak up. Pasti kita akan bantu. Kamu malah akan semakin menyusahkan kami, jika masalah yang kamu hadapi semakin besar." ucap Jeno masih dengan dagu di atas pundak Bulan.


Sedikit saja menggerakkan wajahnya ke kanan, pasti hidung Jeno akan melekat di pipinya. "Minggir." lirih Bulan mendorong pelan tubuh Jeno.


Jujur, Bulan merasa risih dan tidak enak hati dengan kedua orang tua Jeno. "Iya... Salahkan saja pada kamu. Kenapa begitu menggoda." lirih Jeno. Bisa-bisanya melontarkan kalimat seperti itu di saat seperti ini.


Bulan memutar kedua bola matanya dengan jengah. "Sapna,,, benar kata Jevo dan Jeno. Jika kamu menunda untuk menyelesaikan masalah, yang ada akan semakin membesar. Kamu tidak memikirkan tante Irawan." tutur Bulan.


Sapna menatap Bulan dengan intens. Kedua kelopak matanya sudah mengumpulkan air yang siap meluncur ke kedua pipinya.


"Jika kamu tidak nyaman bicara di sini, kita bicara di rumah saja." lanjut Bulan, yang mendapat anggukan dari Sapna.


Bulan merangkul hangat Sapna. "Itu lebih baik." Bulan mencubit pipi Sapna, dimana Sapna memperlihatkan senyum kecilnya.


"Minum dulu minuman kalian. Nanti dingin." ujar Tuan David.


"Baik Om." sahut Bulan, mengambil secangkir teh di depannya. Diikuti oleh Sapna juga.


"Sayang,,, kapan kita berkunjung ke rumah orang tua kamu?" tanya Nyonya Rindi.


Bulan tersenyum kaku. Dirinya sudah menebak jika pertanyaan ini akan dia dengarkan dari keluarga Jeno.


"Ooo,,,,, sayang... Itu terlalu lama." sahut Jeno dengan tidak sabar.


"Lama. Enam hari lagi. Tidak lama." timpal Bulan.


"Ayolah, bagaimana kalau besok saja." ajak Jeno seenak jidatnya.


"Ckk,, kamu itu. Aku belum izin. Papa juga. Eh.... Maaf. Maksud Bulan om David. Beliau kan juga harus mengatur waktu." jelas Bulan dengan menahan malu. Karena keceplosan memanggil Tuan David dengan panggilan papa.


Semua yang ada di ruangan tersenyum lebar mendengar Bulan memanggil Tuan David dengan sebutan papa. "Tidak masalah. Om juga sudah siap kamu panggil papa." gurau Tuan David, meski perkataan itu bukan sebuah kebohongan.


"Cie..... Papa. Cie.... Nanti kamu panggil aku apa?" ujar Jeno ikut menggoda Bulan.


Bulan tak bisa berkata-kata. Dia memukul pelan paha Jeno. Dengan masih menahan malu. "Mulut elo Bulan,,,, astaga,,, gue pengen menghilang saat ini juga." batin Bulan merasa sangat amat malu.


"Panggil mas Jeno saja." celetuk Sapna tertawa pelan. Ikut menggoda Bulan.


Melihat wajah memerah Bulan menahan malu, seketika membuat Sapna merasa beban dalam hidupnya lenyap. Apalagi dia tidak pernah melihat Bulan salah tingkah seperti ini.


"Mas Jeno. Aaa...!! Mau...!!" seru Jeno memeluk tubuh Bulan dari samping.


"Aiisshh... Kalian berdua. Stop bersikap mesra dihadapan gue. Geli tahu nggak." celetuk Jevo yang sebenarnya iri.


"Alahhh... iri,,, bilang kawan. Sana cari perempuan. Tapi jangan Claudia." seloroh Jeno menggoda saudara kembarnya.


"Ada Sapna. Kenapa tidak dengan Sapna saja." celetuk Nyonya Rindi, mendapat senyum kaku dari Sapna.


"Mama,,,, Mana mau Sapna sama Jevo. Dia punya tipe lelaki sendiri." papar Jevo menggoda Sapna dengan memainkan kedua alisnya naik turun.


"Tidak tante. Sapna hanya ingin cari kerja dulu. Apa sih Jevo." sinis Sapna dengan ekspresi kesal.


"Gue tahu kaleee....siapa yang elo suka." Jevo semakin gencar menggoda Sapna.

__ADS_1


Sapna tersenyum memandang Tuan David dan Nyonya Rindi secara bergantian. Lalu melotot ke arah Jevo.


Tuan David hanya tersenyum melihat perdebatan kecil mereka. Membuat suasana rumah tampal ceria. "Ingat Jeno,,, Bulan,,, jangan sampai hubungan kalian melampaui batas." ujar Tuan David mengingatkan.


"Iya om. Bulan pastikan, kita akan berhubungan sehat." sahut Bulan.


"Beres pa." timpal Jeno.


"Beres pa... Elo yakin, bisa menahannya." ledek Jevo tersungging remeh.


"Papa setuju dengan Jevo. Malah papa sanksi sama kamu."


"Pa... Jeno anak papa. Masa nggak percaya dengan keteguhan hati dan pendirian Jeno." papar Jeno mendramalisir ucapannya.


"Memang Jeno itu Jevo." cibir Jeno menatap ke arah Jevo dengan ekspresi menyebalkan.


Jevo mengambil bantal kursi, melemparkannya pada Jeno. "Gue kenapa? Gue nggak ada urusan sama hubungan elo." sungut Jevo dengan kesal, seakan Jeno sedang memberitahu kelakuan dirinya di luar sana.


"Sudah... Kalian ini. Pa,,, kapan papa bisa pergi. Mumpung Bulan di sini. Kita bicarakan sekalian. Biar beres." pinta Nyonya Rindi, yang sejujurnya beliau juga ingin segera bertemu dengan calon besannya.


Bulan berharap Tuan David menjawab belum siap karena masih sibuk. Jujur, Bulan sendiri juga belum siap untuk mengenalkan Jeno pada kedua orang tuanya.


Hanya satu masalah yang ada di pikiran Bulan. Usia Jeno dan usianya. Bulan takut kedua orang tuanya tidak setuju akan hal tersebut.


Apalagi dirinya belum memberitahu jika dirinya berhubungan dengan Jeno. Lelaki yang pernah menemaninya pulang beberapa bulan yang lalu.


Bulan berencana akan pulang seorang diri. Mengatakan serta menjelaskan pada orang tuanya akan hubungannya dengan Jeno.


Sehingga Bulan bisa tahu, apakah kedua orang tuanya menyetujuinya atau tidak. Ketakutan terbesar Bulan, adalah mereka tidak menyetujui Bulan berhubungan serius dengan Jeno.


Bulan khawatir, keluarga Jeno yang sudah dengan senang hati pergi mengunjungi keluarganya akan mendapatkan rasa sakit hati jika kedua orang tuanya menolak.


"Apa gue mengatakannya saja lewat telepon." batin Bulan. Sebab setiap malam dirinya selalu menyempatkan menghubungi kedua orang tuanya meski hanya sebentar.


"Kalau papa,,, kapan saja bisa. Terserah kalian." jelas Tuan David, membuat Bulan menghela nafas panjang.


"Pupus sudah." batin Bulan.


"Ada apa?" tanya Jeno, melihat Bulan menyembunyikan sesuatu.


"Emmm... Tidak. Tidak ada apa-apa." sahut Bulan berbohong.


Jeno menggenggam kedua telapak tangan Bulan dengan hangat. "Jangan memikirkan hal terlalu jauh. Kita lakukan dan kita jalani saja apa yang ada di depan. Jangan berpikir yang malah membuat kamu pusing." tutur Jeno dengan bijak.


Jeno mengelus rambut Bulan, seakan tahu jika Bulan sedang memikirkan sesuatu yanga membuat Bulan menjadi merasa tertekan.


Bulan mengangguk. "Iya. Terimakasih." sahut Bulan.


Entah kenapa, hanya dengan mendengar kalimat hang diucapkan Jeno, membuat rasa cemas di hati Bulan menghilang.


 "Jeno." batin Tuan David dan Nyonya Rindi. Tentu saja mereka melihat sisi lain dari sang putra.


Keduanya tersenyum senang dengan cara Jeno menenangkan hati Bulan. Sangat dewasa dan terlihat tenang.


"Jadi bagaimana? Kapan kita berkunjung ke rumah orang tua Bulan?" tanya Nyonya Rindi sekali lagi, karena belum mendapatkan jawaban pasti.


"Besok lusa ma." jawab Jeno.


Bulan memandang kesal ke arah Jeno. Seenaknya saja memutuskan tanpa bertanya dulu pada dirinya. "Egois sekali." batin Bulan.


"Besok kamu izin. Besok lusa baru kita ke rumah ayah dan ibu." jelas Jeno.


"Bapak dan ibu." tekan Bulan, membenarkan panggilan Jeno pada kedua orang tuanya.


Jeno mencubit gemas hidung mancung Bulan. "Iya. Bapak dan ibu. Mama dan papa." canda Jeno mengingatkan Bulan kembali bagaiman di memanggil sang papa.


"Sudah... Kasihan calon menantu mama. Lihat, pipinya seperti buah tomat yang masak." kelakar Nyonya Rindi, disambut tawa oleh semuanya.

__ADS_1


Sapna tersenyum senang melihat keluarga Jeno menerima baik kehadiran Bulan. "Perempuan seperti kamu memang pantas mendapatkan kebahagiaan." batin Sapna ikut bahagia.


__ADS_2