
"Elo tunggu di kamar sebelah. Ntar kalau gue sudah selesai, gue hubungi elo." tukas Mikel.
Yang ternyata hotel tempat Revan mengajak Sapna bertemu adalah hotel milik keluarga dari teman Mikel. Sehingga Mikel meminta bantuan pada temannya tersebut.
Beruntung teman Mikel bisa mengabulkan apa yang Mikel inginkan. Meski apa yang Mikel minta menyalahi prosedur.
Namun Mikel menjelaskan apa yang terjadi. Sehingga Mikel dan Jevo bisa dengan mudah menjalankan rencana yang sudah dikatakan oleh Bulan dengan lancar.
"Gue tunggu kabar baik dari elo, brow." ujar Jevo masuk ke dalam kamar di sebelah kamar yang akan Mikel masuki.
"Oke." Mikel segera masuk ke dalam. Dirinya tak ingin Revan masuk terlebih dahulu.
Mikel mencari tempat aman untuk bersembunyi. Tiba-tiba ponsel Mikel bergetar. Menandakan ada pesan masuk ke dalam ponselnya.
Bulan. Dialah orang yang mengirimi pesan tertulis pada Mikel. "Benar juga." lirih Mikel, setelah membaca pesan dari Bulan.
Dimana Bulan meminta Mikel untuk menjebak Revan dan merekamnya. Sehingga dengan rekaman tersebut, keadaan akan berbalik. Dimana Revan yang akan diancam.
Sepertinya Bulan sengaja menambahkan rencana tambahan. Dirinya ingin berjaga-jaga, apabila tidka bisa menemukan rekaman video Nyonya Irawan yang berada di tangan Revan.
Selesai membaca pesan dari Bulan, Mikel kembali bersembunyi dengan baik. Dirinya belum kepikiran bagaimana cara menjebak Revan, dengan memvideokan sesuatu yang berhubungan dengan Revan.
"Lebih baik dipikirkan nanti saja. Setelah semua aman terkendali." batin Mikel.
Segera Mikel memasang sikap waspada, saat indera pendengarannya menangkap suara pintu terbuka dari luar. "Semoga itu Revan." batin Mikel berharap.
Salah. Mikel melihat beberapa lelaki datang ke dalam kamar tersebut. "Bukan Revan. Lalu siapa mereka? Mau apa mereka masuk ke kamar ini?" tanya Mikel dalam hati.
Di tempatnya bersembunyi, Mikel masih diam tak bergerak. Mengawasi apa yang dilakukan beberapa lelaki tersebut.
"Kamera tersembunyi." batin Mikel, melihat mereka meletakkan beberapa kamera kecil di beberapa sudut ruangan.
Terdengar salah satu lelaki meminta rekannya untuk segera mengakhiri pekerjaan mereka dan segera keluar.
Sebelum mereka sempat keluar, seorang lelaki muda masuk. Dan itu adalah Revan. "Sudah selesai?" pertanyaan awal yang Revan keluarkan dari dalam mulutnya.
"Ingat bocah, kerjakan dengan baik. Maka elo akan dapatkan banyak uang." sahut seorang lelaki.
Mikel mengerutkan keningnya. Mencoba menebak apa yang sedang terjadi. "Mereka bukan orang suruhan Revan." batin Mikel.
"Jangan sampai bos kecewa. Nyawa elo taruhannya." ancam salah satu lelaki tersebut pada Revan, lalu mengajak semua rekannya untuk keluar dari kamar hotel.
Sebelum keluar dari kamar, seorang lelaki memberikan sebuah benda kecil pada Revan. "Tekan, bila film terpanas akan dimulai." ujarnya denhan seringai licik.
Revan menerima benda tersebut tanpa mengatakan apapun. "Brengsek. Berani sekali mereka mengancam gue." geram Revan lirih.
Revan menatap benda kecil di tangannya. "Dengan memainkan ini, gue akan mendapatkan dua keuntungan. Uang, serta kehancuran Mikel. Yang artinya kehancuran Jevo." ujar Revan.
"Jadi mereka ingin merekam apa yang dilakukan Revan dan Sapna. Bodoh.....! Bahkan peralatan mereka masih sangat jadul." batin Mikel mengolok mereka dalam hati.
"Sapna. Jangan salahkan gue. Salahkan takdir elo. Kenapa elo mempunyai kekasih Mikel. Sahabat dari seseorang yang sama sekali tak bisa gue sentuh. Jevo." ujar Revan dengan sorot mata penuh kebencian.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Revan begitu menginginkan kehancuran Jevo. Padahal, seingat gue Jevo sama sekali tidak pernah mempunyai masalah dengan Revan." batin Mikel mencoba mencari jawaban.
"Claudia. Dia tidak bisa membuat gue menghancurkan Jevo. Dan ya,,,, gue sudah bosan dengan badannya. Sekarang, ada Sapna. Meskipun dia bukan kekasih Jevo, setidaknya dia perempuan yang spesial di hati sahabat Jevo. Mikel." lanjut Revan.
Revan membanting tubuhnya di atas kasur empuk dengan keras, sehingga tubuh Revan masih bergerak naik turun di atas ranjang empuk tersebut. "Rekaman. Gue juga penasaran bagaimana rekaman tersebut. Sial,,,.seandainya rekaman itu ada di tangan gue. Gue pasti yang berkuasa." ungkap Revan, tanpa tahu ada sepasang telinga yang mendengarkannya.
"Tapi setidaknya gue akan merasakan nikmatnya membobol gawang seorang perawan. Tidak seperti Claudia. Cih.....*****." lanjut Revan dengan nafa menjijikkan.
"Jadi,,, selama ini Revan dan Claudia memang sering berhubungan. Dan rekaman yang Revan gunakan untuk mengancam Sapna tidak ada di tangannya. Bahkan dia juga tidak tahu. Lalu dimana?" batin Mikel langsung penasaran.
"Gue harus segera memberitahu bu Bulan dan yang lainnya. Jangan sampai mereka mengerjakan sesuatu yang hanya akan membuang waktu mereka." batin Mikel.
Pintu kamar diketuk dari luar. Membuat Revan segera bangun dari atas ranjang. "Pasti itu Sapna." tukas Revan dengan semangat membuka pintu.
Sesuai apa yang Revan pikirkan. Seorang perempuan cantik berdiri di depan pintu kamar. Dan tentu saja dia adalah Sapna.
"Silahkan masuk." cicit Revan, sangat menjijikkan di telinga Sapna.
Revan duduk di tepi ranjang. Menatap ke arah Sapna yang berdiri di depannya seolah ingin memakan serta menelanjangi Sapna.
"Gue harus percaya dengan Bulan." batin Sapna. Menangkan deru jantungnya yang berdetak tak biasa karena perasaan takut.
Untuk membuat Sapna tenang, dan rencana mereka berjalan dengan lancar, Mikel memberi gerakan kecil. Berharap Sapna melihatnya, dan tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
__ADS_1
Sebenarnya, Mikel bisa saja langsung menyerang Mikel dan melumpuhkan gerakannya. Hanya saja, itu kurang mengasyikkan. Terlebih sekarang Mikel tahu jika Revan hanyalah sebuah pion bagi seseorang.
Sapna menghembuskan nafas lega. Seperti yang diinginkan Mikel, Sapna melihat gerakan kecil pertanda jika rekan ada di dalam kamar.
"Baiklah. Dengan begini gue akan melakukan tugas gue dengan baik." batin Sapna.
Dimana dirinya telah mendapatkan pesan tertulis yang dikirim oleh Mikel sebelum datang ke hotel. Sehingga Sapna tahu apa rencana mereka. Dan tahu apa yang harus dia lakukan.
Sapna mengatur deru nafasnya. Menghilangkan perasaan takutnya. Apalagi sudah ada Mikel di ruangan tersebut.
"Apa yang harus gue lakukan?" tanya Sapna dengan ekspresi polosnya.
Revan tertawa lirih mendengar cara Sapna berbicara dengannya. Tak lagi sama seperti saat mereka berada di perusahaan pagi tadi. Dimana Sapna bertutur kata dengan sopan. Layaknya bawahan pada atasannya.
"Gue... Oke. Terserah elo mau berbicara dengan gaya apa. Itu malah membuat kita tak lagi canggung saat berada di atas ranjang." ujar Revan blak-blakan.
"Katakan, apa yang harus gue lakukan?" tanya Sapna sekali lagi, karena pertanyaannya belum dijawab oleh Revan.
Revan berdiri. Mulai melepaskan kancing bajunya satu persatu. "Gue yakin, meski elo belum pernah melakukannya. Elo nggak sepolos itu bukan." ujar Revan dengan melemparkan kemejanya ke lantai dengan sembarangan.
Revan melepaskan sabuk yang melilit di perutnya. "Puaskan gue di atas ranjang." pintanya dengan santai.
Sapna menatap Revan dengan tatapan jijik. "Tampan. Gue akui itu. Badannya juga oke. Sayang, jelmaan iblis." ejek Sapna dalam hati.
Sapna melemparkan tas selempangnya di atas kursi. "Gue harus mengalihkan perhatian lelaki gila ini." batin Sapna, sehingga Mikel bisa bergerak dengan bebas.
Revan melepas celana panjangnya. Hanya menyisakan boxer yang melekat di tubuhnya. Revan menyimpulkan Sapna setuju dengan apa yang akan mereka lakukan. Karena Sapna datang ke hotel sebelum pukul setengah sepuluh.
Sapna melepaskan cardigan panjang yang melekat di tubuhnya. Memperlihatkan tubuh atasnya yang hanya menggunakan tengtop press badan.
Revan meneguk ludah dengan sulit. Padahal Sapna hanya membuka cardigannya. "Dasar otak mesum. Padahal gue masih menggunakan celana jeans panjang." batin Sapna merasa jijik melihat cara Revan menatap ke arahnya.
Di saat Revan hendak membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Sapna mencegahnya dengan memegang lengannya. "Waoww... Gue nggak m!nyangka. Elo bener-benar menyayangi nyokap elo." ujar Revan.
"Apa elo nggak suka?" tanya Sapna dengan kedua mata menggoda Revan.
"Suka. Sangat suka." sahut Revan dengan hembusan nafas terdengar tak biasa karena menahan hasrat.
Revan masih berdiri, dengan Sapna di depannya. Sapna memeluk pinggang Revan, mengarahkan Revan ke tempat dimana Mikel bersembunyi.
Keduanya semakin dekat dengan Mikel. Dan Mikel, sudah bersiap dengan tisu yang dia berikan obat bius.
Sapna memainkan jari lentiknya di dada bidang Revan. "Gue nggak pernah melakukan sebelumnya. Hanya insting saja. Dan....." ucap Sapna, mendekati telinga Revan.
Hembusan nafas Sapna yang menerpa wajah Revan, membuat Revan menahan nafasnya, dengan memejamkan kedua matanya.
"Emmm....." teriak Revan berontak, saat Mikel membekapnya dari belakang.
Sapna tak hanya diam melihat apa yang Mikel lakukan. Dia membantu Mikel dengan memegang erat kedua tangan Revan.
"Syukurlah...." badan Sapna terasa lemas. Rasanya sangat lega. Melihat Revan memejamkan kedua matanya tak berdaya.
"Hubungi bu Bulan. Katakan jika rekamannya tidak ada di tangan Revan." pinta Mikel pada Sapna.
Sapna segera menghubungi Bulan. Mengatakan pada Bulan, seperti apa yang dikatakan oleh Mikel. Sementara Mikel menghubungi Jevo, untuk Jevo segera ke kamar dimana dirinya dan Sapna berada.
Mikel dan Sapna membawa Revan untuk mereka baringkan di atas ranjang. "Apa yang harus kita lakukan?" tanya Sapna.
"Kita tunggu Jevo datang." sahut Mikel.
Tak berselang lama, Jevo datang untuk bergabung dengan Mikel dan Sapna. "Ternyata Revan hanyalah pion. Ada penggerak di belakangnya. Gue mendengar sendiri, jika Revan tidak mengetahui rekaman tersebut." jelas Mikel, setelah Jevo datang.
"Bulan sedang menuju ke sini." ujar Sapna memberitahu.
"Kita tunggu Bulan." timpal Jevo, menahan amarahnya.
Dimana Jevo sangat ingin sekali memukul wajah Revan sampai babak belur. "Benar. Hanya bu Bulan yang bisa memutuskannya. Apalagi kita tidak tahu apa yang terjadi dengan detail." sahut Mikel sepemikiran dengan Jevo.
Sembari menunggu kedatangan Bulan, ketiganya menggeledah kamar hotel tersebut. Siapa tahu mereka menemukan sesuatu yang bisa mereka jadikan petunjuk.
Bulan langsung memeriksa ponsel milik Revan begitu dia sampai di kamar tersebut. Mengirimkan semua data yang ada di ponsel Revan pada Gara. Tak lupa, Bulan meminta Gara untuk menyabotase ponsel milik Revan, sehingga mereka akan tahu lebih banyak.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Jevo.
Bulan tersenyum memandang Revan yang tergeletak dengan kedua mata terpejam di atas ranjang. "Seperti yang mereka inginkan. Kita akan memberikannya dengan senang hati." ujar Bulan tersenyum penuh makna.
__ADS_1
Tiba-tiba Jeno menutup kedua mata Bulan menggunakan telapak tangannya. "Jeno...!! Apa-apaan kamu?!" geram Bulan.
"Aki tidak suka kamu melihat tubuh lelaki lain. Padahal tubuhku jauh lebih bagus dari milik Revan." cicit Jeno membuat semua melongo tak percaya.
Jeno cemburu hanya karena Bulan menatap ke arah Revan yang tertidur di atas ranjang, karena imbas dari obat bius yang dia hirup. Dimana Revan hanya memakai boxer saja.
"Tuhan,,,,!! Jeno....! Elo benar-benar ya..." geram Arya menggeleng heran.
Sapna tersenyum melihat sikap Jeno yang dia anggap lucu. "Tuhan, berikan hamba kekasih seperti Jeno." goda Sapna menahan tawanya.
"Jangan harap. Jeno hanya satu. Dan dia hanya untuk my moon." tukas Jeno dengan sombong.
"Mana Jeno yang pendiam dan dingin pada perempuan. Hilang sudah sosok itu." seloroh Arya.
Jeno sama sekali tidak menghiraukan omongan Arya. "Jangan lihat dia sayang." pinta Jeno.
Jevo dan Mikel hanya tersenyum samar melihat keposesifan seorang Jeno pada Bulan.
Tak mau terlalu panjang urusannya, Bulan membalikkan badan. Bulan hanya bisa menghela nafas panjang. "Jevo,,, carikan seorang perempuan. Dia yang akan menggantikan Sapna." pinta Bulan.
"Dengan senang hati." Dengan mudah Jevo bisa menebak apa yang ada di dalam benak Bulan.
Jevo sedikit menjauh dari mereka. Entah siapa yang sedang Jevo hubungi. Pastinya Jevo sedang melakukan apa yang Bulan inginkan.
"Ini,,, bagaimana dengan ini?" tanya Mikel, memberikan benda kecil pada Bulan.
Bulan mengambil benda tersebut. "Benda ini akan tetap berguna." tutur Bulan, meninggalkan benda tersebut di atas meja.
Semuanya meninggalkan kamar hotel tersebut. Meninggalkan Jevo dan Revan yang masih belum sadar.
Jika Mikel mengantar Sapna pulang sebelum dia kembali ke markas, Bulan dan Jeno serta Arya langsung menuju ke markas. Hanya saja mereka tidak memakai mobil yang sama.
Arya seorang diri mengendarai motor. Sebab dirinya tadi sedang berada di area parkir apartemen Revan, saat Mikel menghubunginya. Beruntung Mikel menghubungi Arya sebelum Arya masuk ke dalam apartemen Revan.
Sedangkan Bulan dan Jeno semobil. Sebab keduanya memang berencana pergi ke perusahaan Tuan Tene, berdua. Tapi gagal karena pemberitahuan dari Mikel.
"Kita harus menyelesaikan malam ini." ujar Jeno, sembari menyetir mobil.
Bulan melirik ke arah Jeno yang memasang ekspresi kesal. Bulan tahu alasan Jeno menginginkan masalah ini kelar malam ini juga.
"Iya." sahut Bulan, yang memiliki pemikiran sama dengan Jeno. Keduanya tak mungkin akan pergi berkunjung ke desa dimana kedua orang tua Bulan tinggal jika masalah ini belum selesai.
Di hotel, Jevo menjelaskan pada sang perempuan yang sempat dia hubungi apa tugas dia.
"Paham?" tanya Jevo, setelah menjelaskan tugas perempuan tersebut.
"Sangat paham." jawabnya dengan yakin.
"Elo sudah membawa apa yang gue katakan?"
Sang perempuan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Sebuah topeng. "Bagus. Gunakan benda itu. Jangan sampai wajah elo terlihat."
"Baik bos."
"Tenang saja. Jika elo melaksanakan tugas elo dengan baik, gue akan memberikan imbalan uang yang sepadan."
"Oke."
Jevo memainkan benda yang ditinggalkan dengan sengaja oleh Bulan. Benda yang dipergunakan untuk menyalakan alat rekaman yang terpasang di beberapa sudut ruangan.
"Gue ada di kamar sebelah. Segera hubungi gue, jika elo melihat lelaki itu akan sadar."
"Siap."
"Lakukan sebelum dia sadar sepenuhnya."
"Tenang saja bos. Gue akan memanjakan dia di ranjang. Hingga dia tidak ingin berhenti." tukasnya dengan yakin.
Jevo pergi meninggalkan kamar tersebut. Menunggu kabar baik dari perempuan bayaran yang dia perintahkan menggantikan posisi Sapna.
Jevo menyalakan ponselnya. Dimana Bulan sudah menaruh kamera kecil miliknya di satu sudut ruangan. Membuat Jevo bisa melihat apa yang terjadi di dalam kamar sebelahnya.
Tidak lebih dari lima belas menit, Jevo melihat Revan bergerak pelan dari layar ponselnya. Dan sang perempuan bayaran segera menghubungi Jevo. "Mulai, dan lakukan sekarang." perintah Jevo.
Jevo menekan tombol yang berada di benda kecil yang ada di tangannya. Dengan kedua mata menatap ke layar ponsel, seakan dirinya sedang menyaksikan siaran langsung.
__ADS_1
"Revan,,, elo yang akan gue hancurkan." ujar Jevo, tanpa rasa jijik menyaksikan apa yang ada di layar ponsel.
Hasrat Jevo juga tidak terpancing dengan apa yang dia tonton. Jevo, dia memang pemain. Tapi jangan remehkan, pertahannya.