
"Elo kenapa?" tanya Arya, melihat Jeno seperti tak tenang. Selalu mengubah posisi duduknya. Terlihat sangat gusar.
Jeno menggeleng. Tapi tetap saja Arya yang duduk di dekatnya bisa merasakan bahkan melihat ketidaktenangan dari rekan sekaligus temannya tersebut.
Jeno mengambil segelas air di depannya, lalu meneguknya hingga tandas. Keempat pemuda tersebut masih menggunakan penutup wajah, sesuai apa yang diperintahkan oleh Bulan. Dan hanya memperlihatkan kedua matanya.
Namun, karena mereka sedang makan, mereka menyingkapnya bagian bawah sampai di hidung. Supaya makanan bisa masuk ke dalam mulut mereka dengan mudah.
Arya menggeser duduknya, untuk lebih dekat pada Jeno. "Elo khawatir sama bu Bulan?" tanya Arya berbisik di samping telinga Jeno.
Jeno menoleh ke arah Arya tanpa menyahuti ataupun mengangguk. Lalu dia kembali menatap ke arah piringnya, dimana makanan di atasnya masih tersisa begitu banyak.
Mikel menjawil pundak Arya, sebab dia duduk di belakang Arya dan Jeno. Sehingga dia melihat tingkah keduanya.
Arya segera menoleh ke belakang. Dilihatnya Mikel memainkan kedua alisnya naik turun, isyarat jika dia sedang bertanya. Arya mengangkat kedua pundaknya lalu menggeleng.
Tanpa berkata apapun, Jeno berdiri. Meninggalkan piring berisi makanan begitu saja dan masuk ke dalam salah satu kamar di dekat ruang tengah.
Pastinya mereka yang berada di luar bertanya-tanya apa yang Jeno lakukan. "Teman kalian kenapa?" tanya mama Rio.
"Kebelet pipis tante." sahut Arya.
Jeno segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Gara. "Sumpah, gue nggak bisa tenang. Katakan. Dimana Bulan sekarang berada." pinta Jeno pada Gara di seberang telepon.
Jeno duduk di tepi ranjang, sementara tangan kirinya memegang ponsel, tangan kanannya dia letakkan di jidat. Raut wajahnya tampak sangat frustasi. Tentu saja dia sedang mengkhawatirkan sang pujaan hati.
Jeno terdiam. Mendengarkan lawan bicaranya di ponsel. Jeno berdiri, dengan tangan kanan berkacak pinggang. "Tetap saja, gue nggak bisa tenang. Sebelum gue tahu dengan mata kepala gue. Jika Bulan baik-baik saja." tekan Jeno dengan nada rendah.
Gara meminta Jeno untuk tetap berada di villa bersama yang lain. Tak perlu mengkhawatirkan Bulan. Sebab Gara yakin, Bulan bisa mengatasi semuanya seorang diri.
"Gara please,,, beritahu gue. Dimana Bulan berada. Gue bisa gila." pinta Jeno memelas.
Jeno terdiam, kembali mendengarkan apa yang Gara katakan. "Tidak. Gue berjanji. Gue nggak akan merecoki dia. Gue nggak akan muncul di hadapannya. Gue akan melihat dari jarak jauh. Tolonglah Gara.... beritahu gue." pinta Jeno dengan kekeh.
Gara juga masih belum mau memberitahu Jeno mengenai keberadaan Bulan saat ini. Gara takut, Jeno malah akan mengacau jika datang ke tempat itu. Dan dirinya yang akan mendapat murka dari Bulan.
Tuttt.... tutt.... Jeno menatap ponselnya dengan ekspresi kesal. Gara mematikan ponselnya sepihak. Yang artinya Gara tidak memberitahu dimana keberadaan Bulan saat ini.
Jeno menggenggam erat ponselnya, dan hendak membantingnya. Tapi dia urungkan. "Gara...!! Elo,,,, menyebalkan...!!" geram Jeno menendang angin di depannya dengan kedua telapak tangan mengepal kuat.
"Aaaa...!!" seru Jeno memukul ranjang empuk di sampingnya. Sehingga tangannya tentu saja tak terasa sakit.
Jeno mengusap wajahnya dengan kasar. Dia menengok ke arah pintu, dimana dia mendengar pintu terbuka dari luar.
Dan ternyata yang membuka pintu adalah saudara kembarnya. Jevo. "Elo kenapa?" tanyanya melihat wajah kusut Jeno.
Jeno mendaratkan pantatnya dengan kasar di tepi ranjang tempat tidur. "Gara sialan. Dia bahkan tidak memberitahu gue, dimana Bulan sekarang berada." kesal Jeno.
"Mungkin itu permintaan Bulan. Dia tidak ingin rencananya terganggu." Jevo mencoba memberi pengertian pada Jeno, saudara kembarnya.
"Tapi gue khawatir. Dia seharusnya paham." ketus Jeno.
Jevo tak lagi bisa berkata apapun. Apalagi Jevo merasa jika Jeno benar-benar khawatir pada Bulan. "Elo mau kemana?" tanya Jevo, saat Jeno berdiri.
"Ke markas." sahut Jeno tanpa membalikkan badan menatap lawan bicaranya.
Jevo bisa menebak, pasti Jeno akan mendesak Gara untuk mengatakan dimana Bulan sekarang berada. Jevo tersenyum. "Cinta memang bisa membuat seseorang berubah." cicitnya, mengikuti Jeno yang keluar dari kamar.
Jeno yang dulu selalu lempeng. Dan tanpa ekspresi. Sekarang mengeluarkan berbagai macam ekspresi. "Mau kemana dia?" tanya Mikel, melihat Jeno berjalan keluar villa.
"Biarkan saja. Tak perlu khawatir." Jevo kembali duduk bersama dengan yang lain.
Di sebuah gang kecil, Timo berhenti, setelah memastikan jika tak ada yang mengejarnya. "Keparat...!! Siapa sebenarnya mereka bertiga." umpat Timo dengan nafas tersengal.
Timo menyandarkan badannya di tembok. Tangannya terulur mengelus wajahnya. "Gue masih memakai wajah Rio." gumamnya.
Timo berpikir sejenak. Heran bercampur penasaran, apa yang Rio lakukan. Hingga dikejar oleh tiga orang tersebut. "Apa mereka musuh Rio." tebak Timo yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi.
Bulan berdiam di atas pagar tembok yang digunakan Timo sebagai senderan. Mendengarkan dengan seksama apa yang Timo katakan seorang diri.
"Apa mereka teman kuliah Rio. Atau,,, teman bermain. Aaaa....!!! Sialan....!! Siapapun mereka, mereka benar-benar keparat...!!" ujarnya dengan nada marah.
Timo tertawa lepas. "Tapi tetap, gue pemenangnya. Tiga lawan satu. Dan gue the winner..." ujarnya dengan bangga.
Bulan yang mendengar tersenyum miring. Bulan masih tetap diam dan tenang. Tak terlihat ingin segera menangkap Timo.
Tawa lepas Timo langsung menghilang. "Perempuan tadi. Dia benar-benar cantik dan seksi. Aaahh... Kenapa gue nggak tahu, jika Rio punya teman seperti itu. Sialan." ucapnya menatap ke arah selangkangannya sambil tersenyum mesum.
"Selama ini, korban gue banyak yang perempuan. Cantik dan seksi. Tapi entah kenapa, gue merasa dia berbeda." lanjutnya.
__ADS_1
"Rio bedebah. Apa yang elo lakukan. Masalah apa yang elo perbuat. Jika saja dia benar-benar teman Rio, pasti akan gue jadikan mainan gue. Dan akan gue perlakukan dengan khusus." cicitnya menyeringai.
Bulan menaikkan sebelah alisnya. "Mainan. Elo mau buat gue sebagai mainan. Akan gue kabulkan." batin Bulan tersenyum miring.
Bulan berdiri. Menengok ke kanan dan kiri. Melihat dengan seksama medan di sekitarnya. Dan,,, bruk... Bulan meloncat ke bawah. Tepat berada di samping Timo.
Timo begitu terkejut dengan kedatangan Bulan yang secara tiba-tiba. "Hay." sapa Bulan dengan ramah.
Timo melihat Bulan, lalu mengalihkan pandangannya ke tembok, dimana Bulan berdiri tadi. Timo langsung bersikap waspada. "Siapa elo?" tanya Timo.
"Rio, masa elo lupa sama gue." cicit Bulan tersenyum miring. "Gue Bulan. Ingat." lanjut Bulan menyebut nama aslinya.
Bagi Bulan, tak perlu menyebutkan nama palsu atau pura-pura menjadi orang lain. Sebab, Bulan memastikan jika sekarang dia akan memasukkan Timo ke dalam jeruji besi.
"Bul-Bulan, Bulan." cicit Timo.
Bulan mengangguk, berjalan ke depan dengan tenang. Sedangkan Timo melangkahkan kakinya mundur, menjauh dari Bulan.
"Bagaimana elo bisa tahu gue ada di sini?" tanya Timo, masih dengan berjalan mundur. Sebab Bulan terus berjalan maju.
"Astaga, mungkin karena kita masih ada ikatan batin. Baby." Bulan mengedipkan sebelah matanya. Terlihat begitu menggoda dan cantik.
Timo mencoba menetralkan degup jantungnya karena rasa khawatir dan rasa takutnya. Setelah dia tahu, jika mereka mengenalinya sebagai Rio. Bukan Timo.
Bulan menghentikan langkahnya, disaat Timo juga menghentikan langkahnya. "Maaf, setelah kecelakaan itu, gue benar-benar tidak ingat apa yang terjadi. Dan siapa elo." tukas Timo, memandang Bulan dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Begitukah?" tanya Bulan dengan nada menggoda.
Bulan merogoh saku celananya. Entah apa yang sedang dia ambil dari dalam saku. Dan Timo menatap Bulan penuh hasrat.
Apalagi Bulan sengaja melepas jaketnya, hanya memakai kaos berlengan pendek dengan celana jens panjang. Memperlihatkan bentuk tubuh yang diinginkan para lelaki, bahkan perempuan.
Bulan memang memanfaatkan pikiran mesum dari Timo. Saat dia mendengar perkataan Timo dari atas pagar tembok.
Sebab, awalnya Bulan ingin melumpuhkan Timo dengan menyerangnya. Memojokkannya di jalan buntu yang ada di belakang Timo.
Namun, setelah Bulan mendengarkan apa yang Timo katakan, Bulan merubah rencananya. Kenapa meski memakai tenaga, jika pakai sedikit trik saja bisa melumpuhkan lawan.
Timo melangkahkan kakinya ke depan dengan mata tetap tajam menatap wajah cantik Bulan. Dan,,,,,, brugh.... "Aaaa...." Timo memegang tengkuknya. Lalu jatuh terjerembab ke tanah.
Bulan hanya bisa melongo melihat siapa yang datang dengan tiba-tiba seperti dirinya. Mendarat tepat di belakang Timo. Dan menyaksikan apa yang yang terjadi tanpa bisa berkomentar.
Gluk... Bulan menelan ludahnya dengan susah. Menatap ekspresi Jeno yang sangat garang. Spontan Bulan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, mengetahui kemana arah pandangan Jeno.
Dengan ekspresi lucu bercampur bingung, Bulan menurunkan tangannya. Mencoba bersikap biasa. "Khem.. Dari mana kamu tahu, aku ada di sini?" tanya Bulan mengalihkan pembicaraan.
"Pasti Gara. Ember banget sih mulutnya." lirih Bulan yang masih bisa di dengar Jeno.
Jeno tersenyum sinis. "Beruntung aku datang tepat waktu. Coba kalau tidak, pasti lelaki brengsek ini sudah menyentuh kamu." tukas Jeno dengan kaki menendang tubuh Timo yang tergeletak tak berdaya.
Bulan menatap Jeno dengan kesal. "Kamu pikir aku perempuan apaan." sengit Bulan tak terima dengan ucapan Jeno.
"Eeehhh... Mau apa?!" seru Bulan bertanya, saat Jeno melangkahi tubuh Timo dan mendekat ke tempat Bulan.
"Mau kamu."
Jeno langsung meletakkan tangannya di pinggang Bulan yang ramping. "Jangan begini. Nanti Timo bangun." tegur Bulan.
"Jeno... Kamu mau apa sih?!" Bulan memukul lengan Jeno, dimana tangan Jeno masuk ke dalam saku celana Bulan.
Jeno menoyor pelan kening Bulan. "Jangan berpikir mesum." Jeno mengeluarkan sebuah sapu tangan dari dalam daku celana milik Bulan.
Bulan hanya bisa memonyongkan bibirnya. "Kok Jeno tahu." batin Bulan memandang ke arah di mana Jeno berasal.
"Tapi kenapa gue nggak merasakan kehadirannya." batin Bulan lagi. Menebak jika Jeno lumayan lama nangkring di atas pagar tembok tersebut.
Jeno jongkok, bukan hanya membekap hidung Timo dengan sapu tangan yang telah Bulan beri obat bius. Tapi Jeno melilitkan di wajah Timo, dan menalinya di belakang kepala sapu tangan tersebut.
"Beres." Jeno menepuk-nepuk tangannya, seperti sedang membersihkan sesuatu.
"Astaga. Jeno, apa-apaan kamu." ujar Bulan.
"Tidak apa-apa sayang. Dengan begitu, dia terus menghirup obat bius itu." cicit Jeno dengan senyum.
"Ka....."
Cup... belum selesai Bulan berbicara, Jeno sudah mendaratkan bibirnya dengan singkat di bibir seksi milik Bulan.
Jeno mengelus lembut pipi kanan Bulan, dengan tangan kiri ditaruhnya di tembok. Sehingga tubuh Bulan terkurung oleh tubuh kekar Jeno. "Kamu membuat aku khawatir sayang. Sangat." lirihnya, menatap seluruh wajah Bulan dengan tatapan mendamba.
__ADS_1
"Mau ke mana? Di sini saja sebentar." pinta Jeno, saat Bulan hendak mendorong tubuhnya.
"Pintar sekali bocah ini mencari kesempatan." batin Bulan, yang sebenarnya dia juga merasa senang.
Bulan menaruh kedua telapak tangannya di dada bidang milik Jeno. "Dari mana kamu tahu, jika aku di sini. Pasti Gara." tebak Bulan langsung.
Cup,,,, Jeno mengecup kening Bulan, lalu mengangguk. Bulan menatap Jeno dengan tatapan intimidasi. "Kenapa? Hem..." Jeno menyingkirkan helaian rambut yang ada di wajah Bulan.
"Kamu pasti mengancamnya." tebak Bulan.
Jeno menggigit telinga Bulan. "Geli Jeno..." lirih Bulan, terdengar sangat merdu di telinga Jeno.
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu. Hemm..." Jeno mempertemukan hidungnya dan hidung Bulan, lalu menggosok-gosoknya.
"Gara biasanya sangat sulit. Apalagi aku sudah mengatakan untuk tidak memberitahu siapapun." tukas Bulan.
Jeno mengambil kedua tangan Bulan. Menaruhnya dikedua pundaknya. "Mungkin karena dia tahu, aku benar-benar khawatir. Dan akan gila, jika tidak mengetahui keadaan kamu." tukas Jeno, menaruh kedua tangannya di pinggang ramping Bulan.
"Tatap aku sayang." tegur Jeno, dengan memegang dagu Bulan, saat Bulan hendak menatap Timo. Memastikan Timo masih tertidur pulas.
"Jeno..." ujar Bulan, saat badan Jeno merangsek maju. Menjadikan tubuhnya dan tubuh Jeno bersentuhan. Apalagi, tangan Jeno menekan pinggangnya. Sehingga perut mereka bersentuhan.
"Apa begini car berpacaran kalian?" lirih Bulan, sebab wajahnya tepat di hadapan Jeno.
"Mana aku tahu. Ini pertama kalinya aku dekat dan memperlakukan seorang perempuan seperti ini." tukas Jeno, mulai mengendus wangi kulit wajah Bulan.
"Padahal pagi tadi kamu tidak mandi. Tapi kenapa tetap wangi." goda Jeno, yang mendapat pukulan gemas dari Bulan.
Jeno hanya terkekeh pelan. "Jika saja aku sudah lulus SMA, aku pasti akan segera menikahi kamu." bisik Jeno, dengan hidung berada di leher samping milik Bulan.
Bulan merasa geli bercampur rasa yang sangat aneh. Tapi dia menahannya. "Siapa juga yang mau menikahi kamu." celetuk Bulan.
"Terserah kamu, mau atau tidak. Yang penting aku mau menikahi kamu." kekeh Jeno.
"Kamu murid aku, Jeno." ujar Bulan mengingatkan.
"Masa bodo. Kita sepasang kekasih." ujar Jeno, membuat kedua mata Bulan melebar sempurna.
Bulan mendorong tubuh Jeno, sehingga keduanya saling bertatapan. "Sepasang kekasih. Sejak kapan? Jangan aneh-aneh." tukas Bulan.
"Sejak aku menyukai kamu." sahut Jeno dengan tenang.
Bulan mengerutkan keningnya. Jeno kembali mendekat tubuhnya ke tubuh Bulan. "Lagi pula, tubuh kamu tidak bisa berbohong. Kamu selalu menikmati sentuhan yang aku berikan." bisik Jeno, mampu membuat mulut Bulan terbungkam.
Jeno memegang dagu Bulan. "Tatap aku sayang." pinta Jeno dengan lembut memperlakukan Bulan bagai benda langka.
Jeno mendekat, menempelkan bibirnya pada bibir Bulan. "Jeno..." Bulan kembali mendorong tubuh Jeno.
Jeno hanya bisa memejamkan kedua matanya, manahan rasa kesal di hatinya. "Ada yang datang. Kamu cepat pergi." usir Bulan, merasakan jika ada yang datang.
"Cepat." tukas Bulan.
Jeno hanya bisa menghela nafa kasar. "Pakai ini." Jeno melepas jaketnya, memberikannya pada Bulan. Dengan segera Bulan memakai jaket milik Jeno.
"Jaket aku ada di sebelah tembok." ujar Bulan memberitahu. Jeno mengangguk, berlari untuk bersembunyi.
Bulan segera berjongkok, melepas sapu tangan di wajah Timo. Lalu memasukkannya kembali ke dalam saku celana.
"Bulan." panggil Andre, berlari ke arah Bulan bersama dengan Hilman.
"Maaf, aku menyusul." tukas Andre. Bulan hanya mengangguk.
Hilman menatap Bulan dengan rasa sungkan. ''Maaf. Mengacaukan semuanya." tukas Hilman.
"Kita bawa Timo ke kantor." pinta Bulan.
"Kita naik apa?" tanya Andre.
"Mobil Timo." sahut Bulan.
Andre dan Hilman mengangguk. Sekarang mereka mengerti, kenapa Bulan menyuruh mereka untuk menggunakan satu motor dan berboncengan.
"Kalian mau apa? Bawa saja mobilnya ke sini." ujar Bulan, saat mereka berdua hendak menggotong tubuh Timo.
"Satu orang saja." ujar Bulan, saat mereka berdua hendak pergi bersama.
Hilman segera berlari mengambil mobil Timo. Dan melakukan apa yang Bulan perintahkan.
Di tempatnya bersembunyi, Jeno melihat dengan jelas keberadaan dua lelaki di samping Bulan. "Parasit." gumam Jeno, karena merasa keduanya adalah pengganggu. Datang di saat yang tak tepat.
__ADS_1
Tak ingin ketahuan keberadaannya, Jeno segera pergi meninggalkan tempat persembunyiannya. Diambilnya jaket milik Bulan, lalu dia pakai. Segera dia kembali ke villa. Untuk berkumpul dengan yang lain.
Sedangkan Bulan dan Andre mengendari motor tepat di belakang mobil yang dikemudikan oleh Hilman. Dimana Timo tertidur pulas di dalamnya. Mereka langsung membawa Timo ke kantor polisi.