PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
Terlalu Nyaman


__ADS_3

Setelah peristiwa kemarin, Ayumi semakin menempel padaku. Sedikit-sedikit minta diantar ke mana pun pergi. Dia merasa memegang kartu As-ku, selalu mengatakan dengan manja apa yang dulu telah kujanjikan padanya jika aku menolak. Aku memang pernah berjanji akan melindunginya. Gadis ini memang harus benar-benar diberi perhatian ekstra. Namun, hal itu malah membuatku terpojok. Pinter juga akalnya ini anak. Ck!


Demi janjiku, aku selalu menuruti keinginan dia untuk menjadi penjaga. Aku tak keberatan selama ada waktu kosong. Kami sering pergi di hari Minggu. Ke mall, bioskop, toko buku, makan di luar, memenuhi undangan teman-temannya dan sebagainya. Tanpa kusadari sikapku yang membiarkan terbiasa dekat, menjadi ancaman. Bagiku juga dirinya. Ayumi terlalu nyaman berada di dekatku hingga aku tak memiliki waktu bebas. Bahkan saat hari kerja pun, dia selalu mencari alasan agar bisa bertemu denganku. Dan aku mulai merasa terganggu.


Aku pun selalu dijadikan tempat curhat dadakan baginya. Semua masalah sepele anak sekolahan aku tahu. Ada tanya di hati, apakah lingkungan sekolah Dilara juga demikian? Rasa was-was yang tiba-tiba muncul membuatku gusar.


Hal itu membuatku terus memantau kegiatan Dilara. Pergi ke mana? Dengan siapa? Ada keperluan apa? Siapa saja temannya? Dan jika aku tak mengenal teman Dilara atau dia pergi dengan teman laki-laki, tak akan kuizinkan. Hasilnya, Dilara ngambek. Sudah berapa kali dia memblokirku. Dari akun sosial media hingga kontak pribadi. Jujur, aku begitu khawatir terhadapnya. Melebihi rasa khawatirku terhadap Ayumi.


Galih pun setali tiga uang dengan adiknya. Tak mau tahu saat kumintai tolong. Jangankan menjaga, sekadar mengontrol aktivitas Dilara pun dia tak mau.


"Lu kakak macam apa, sih, Lih? Masa adiknya pergi ke mana lu nggak tahu," omelku.


Kutu busuk itu hanya terkekeh, lalu muncullah beribu alasan juga pembelaan. Aku semakin putus asa dan khawatir. Jadi, jalan satu-satunya adalah ibu. Beruntung wanita yang kucintai itu mau menolongku. Beliau akan sigap bertanya kepada Dilara ketika gadis itu akan pergi maupun ketika dia pulang dari bepergian. Aku mulai lega ketika mendengar laporan ibu tak ada mengindikasikan tindak Dilara yang menyimpang.


Keyakinanku sebenarnya kuat dan aku pun percaya pada Dilara. Hanya saja, kita tidak tahu orang mana yang akan menjadi penyebab Dilara terjerumus. Tetap harus ada yang mengontrol.


"Bang!" Sebuah notifikasi masuk. Ayumi. Dia selalu tahu jamku pulang kantor. Pasti saja menghubungi.


"Ya."


"Ada acara ultah temen nanti malam. Temenin, ya."


Aku menghela napas berat, "Nggak bisa, Ay. Abang capek."


"Nggak mau tahu! Jam tujuh harus udah sampe di rumah."


Lah, maksa dia. Aku menggaruk kepala yang tak gatal.


****


Pukul tujuh, tiba juga aku di rumah Ayumi. Terpaksa karena anak itu tak hentinya meneror. Menelepon sampai aku berkata "iya". Bikin jengkel emang! Untung ponakan.


Kulihat Ayumi keluar dengan baju kurang pantas. Pakaian itu menampakkan bahu putihnya dan memiliki panjang hanya sebatas paha. Pahanya yang putih mulus itu pun terekspos sempurna. Ck! Aku tak suka karena pakaian itu terlalu seksi untuk gadis seusianya.

__ADS_1


Belum lagi cara Ayumi memoles wajah. Bibirnya diusap dengan lipstik warna merah menyala, pipinya semerah tomat dan di kelopak matanya terdapat aneka warna yang membuatku bergidik ngeri. Bukan karena aneh atau tak cantik, tapi Ayumi belum pantas dandan menor seperti itu. Entah untuk siapa dia melakukan itu. Apakah untuk menarik hati teman lelakinya yang lebih menginginkan tubuh daripada ketulusan cinta seorang gadis? Naif!


"Ayo, Bang. Udah telat, nih," gerutunya seraya melihat arloji dan berjalan dengan susah payah ke arahku. Kulihat penampilannya dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah. Sepatu dengan hak setinggi kurang lebih tujuh sentimeter itu bisa membuat tubuhnya limbung jika berjalan tak seimbang. Dan berakibat fatal pada bagian tubuhnya akan cedera.


"Kok, liat aku gitu amat. Cantik, ya?" tanyanya seraya mengerling.


Aku mengulum senyum dan menyembunyikannya dengan membuang pandangan ke arah lain. Jujur, aku merasa Ayumi tengah menggodaku sebagai seorang pria dewasa, bukan sebagai abang.


"Dandanmu aneh. Kayak ondel-ondel masuk ke dalam got. Perbaiki! Baru kita berangkat."


Ayumi mendelik, bibir yang kini cemberut itu menggerutu dan terus protes.


"Lakukan atau abang nggak mau antar."


Kaki Ayumi menghentak, tapi tak juga berbalik ke dalam. Dia terus melenggang menuju ke arahku, tapi tak berhenti. Dia berjalan ke arah pintu gerbang yang tertutup.


"Sepatumu itu juga bisa membahayakan. Masih ada waktu untuk ganti."


"Nggak! Kalau Abang nggak mau antar, aku bisa berangkat sendiri," ancamnya. Dasar keras kepala! Ngeyel! Aku bergegas menyusulnya sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Dan benar saja, dalam jarak satu langkah aku hendak mencapainya, Ayumi keseleo, tubuhnya limbung. Namun, berhasil kutangkap dan mendekapnya ke dalam pelukan. Ayumi melotot saat menyadari wajah kami hanya berjarak beberapa senti saja.


"Sembilan!" teriakku.


"'Ntar!" balasnya.


Aku menghirup udara dari hidung dan mengeluarkan dari mulut dengan pelan. Sedikit bergeser ke dinding dekat pintu, lalu menyandarkan punggung di sana. Diam sambil menghitung cepat satu sampai sepuluh. Tepat di hitungan sepuluh, Ayumi keluar. Baju yang dia kenakan kini dress bergambar bunga sakura kecil yang lebih sopan. Berwarna putih tulang. Dan hiasan wajahnya pun lebih natural. Aku mengacak rambutnya yang dibiarkan tergerai, sebelum berjalan keluar.


Kami tiba di salah satu kafe yang letaknya agak jauh dari rumah. Dilihat dari banyaknya kendaraan yang terparkir dan susahnya aku mencari lokasi, kafe itu masih banyak dikunjungi orang. Setelah mengitari halaman depan kafe yang luas, aku memarkirkan mobil di ujung jalan keluar.


Aku segera keluar dari mobil dan berjalan cepat ke arah pintu masuk. Ayumi bergegas mengikuti, jalannya sedikit lebih cepat setelah mengganti alas kakinya dengan sepatu kets saat kulirik sekilas tadi. Pintu kaca itu kudorong perlahan, aroma minuman keras menguar. Dentuman musik pun menyambut memekakkan gendang telinga. Aku menatap ke arah Ayumi dengan pandangan penuh tanya.


Kulihat gadis itu mengangkat kedua bahunya perlahan dan menggeleng. Aku menghela napas pendek, menggandeng tangan dan mencari keberadaan teman-temannya. Di sebuah meja besar dekat dengan panggung di mana band tengah menyajikan lagu-lagu metal, ada serombongan anak seusia Ayumi. Langkahku terhenti dan bertanya kepada Ayumi apakah mereka temannya. Setelah gadis itu membenarkan, aku kembali menyeretnya ke sana.


Kedatangan kami disambut gembira oleh mereka. Beberapa gadis tampak berbisik seraya melirik ke arahku, lalu terkikik malu. Menyembunyikan wajah mereka di kedua telapak tangan.

__ADS_1


"Siapa yang ulang tahun?" tanyaku tanpa basa-basi.


Beberapa anak menunjuk ke arah pria berpotongan cepak yang duduk di kursi sebelahku berdiri. Aku menarik tangan Ayumi dan memutar badannya ke arah pemuda itu.


"Ucapkan!"


Meski sempat bingung, pada akhirnya Ayumi paham juga. Dia mengucapkan selamat ulang tahun seperti apa yang kuperintahkan. Aku pamit tanpa duduk atau ikutan minum bersama mereka. Entah apa jadinya jika Ayumi kutinggalkan di sana sendiri dengan suguhan bir dan kentang goreng. Acara ulang tahun macam apa ini? Aku terus menarik Ayumi ke luar. Tak peduli mulut gadis itu terus mengeluarkan protes dan makian.


Tiba di parkiran, omelan gadis itu tak juga berenti bahkan ketika kami telah berada di dalam dan memasang sabuk pengaman. Hingga dering telepon menghentikan ucapannya. Kulihat nama yang menelepon. Dilara, tanpa pikir panjang dan disertai senyuman aku mengangkat teleponnya.


"Hai, Dil. Udah nggak marah?"


"Kakak sehat?"


"Sehat. Kamu?"


"Kata Ibu Kakak sakit. Dila khawatir."


"Eeee itu. Iya kemarin sempet kecapaian, sih, tapi ...."


"Kapan kita pulang?" teriak Ayumi menghentikan ucapanku.


"Kakak lagi sama cewek? Oh, maaf Dila ganggu."


Sambungan terputus dan ketika kutelepon balik, nomor kembali diblokir. Aku membenturkan kepala ke sandaran kursi mobil.


Sialan!


Bersambung


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Mohon maaf lahir batin semuanya. 😊😊😊😊

__ADS_1


Selamat membaca.


__ADS_2