PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 22


__ADS_3

"Ckk,,,, gara-gara kedatangan orang tua Jevo, pekerjaan gue jadi terbengkalai. Itulah kenapa gue nggak suka menyamar menjadi guru." gumam Bulan mengeluh.


Awalnya Bulan ingin segera bertemu dengan Gara. Bertanya hasil penyelidikan rambut yang dia temukan di ruang kosong untuk di teliti oleh Gara.


Setelah itu Bulan ingin memantau keadaan gadis yang telah di selamatkan. Tapi semuanya tidak berjalan sesuai dengan rencana.


Pekerjaannya menjadi guru sungguh membuat Bulan harus pandai-pandai memainkan waktu. Di lorong, Bulan menghentikan langkahnya.


Semua murid dan guru sudah pulang. Sebab jam mengajar sudah selesai. Dan mereka sudah kembali ke rumah masing-masing. Hanya ada satpam dan beberapa petugas kebersihan. Dan dirinya, yang memang mempunyai keperluan untuk tetap berada di sekolah.


Dan sekarang semuanya sudah selesai. Bulan bermaksud untuk segera meninggalkan sekolah dan menuju ke tempat tinggal Gara.


Keadaan lorong yang sepi, semakin memudahkan Bulan mendengar suara yang menurutnya sangat aneh. Suara langkah kaki yang terkesan di buat tidak terdengar.


Bulan menggerakkan kepala pelan, ke kiri dan kanan. Menajamkan indera pendengarnya. "Langkah ini, tidak jauh dari sini." batin Bulan.


Bulan tersenyum. "Pasti ada yang ketinggalan di sana." tebak Bulan.


Seseorang melangkahkan kaki ke ruangan kosong yang semalam Bulan sambangi. "Semoga kita bertemu di sana, kawan." seringai Bulan.


Bulan membelokkan arah jalannya. Melangkahkan kakinya dengan santai ke ruangan tersebut.


Tebakan Bulan tepat. Seseorang masuk ke dalam ruangan yang telah kosong. Dengan santai, Bulan mengikutinya untuk masuk.


Kosong. Tidak ada satu orangpun di dalam ruangan itu. Bulan menghirup udara dalam-dalam. "Ada aroma lain di dalam sini." gumam Bulan yakin.


Bulan bersikap waspada. Pandangan matanya menelisik setiap sudut ruangan. Dirinya yakin, ada sesuatu di dalam sini. Tapi apa. Bulan bekum mengetahuinya secara pasti.


Tak mungkin Bulan beraksi sekarang. Bisa-bisa penyamarannya terbongkar. Tidak lucu bukan, menyamar dua hari dan langsung terbongkar.


"Kecoak akan mengadakan party jika penyamaran gue terbongkar." batin Bulan.


Bulan memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut. Bulan tersenyum samar. Dia merasakan ada pergerakan di dalam.


"Tebakan gue benar. Ada ruangan lain di dalam ruangan tersebut." batin Bulan.


Bukan hanya pergerakan di dalam ruangan. Bulan juga merasa ada sepasang mata yang sedang mengawasi dirinya.


"Ada apa ini. Apa mereka saling berhubungan." tebak Bulan dalam hati. Mengetahui ada dua orang misterius di sekitarnya. Dengan tempat yang berbeda.


Seseorang keluar dari persembunyiannya, setelah memastikan Bulan tidak ada di sana. "Huuuffttt,,, hampir ketahuan. Lebih baik gue bergerak malam saja." ucapnya.


Bergerak pelan, keluar dari ruangan tersebut. Merasa jika tidak ada orang yang melihat dan memperhatikan gerakannya.


Dari tempat lain, seseorang lelaki tersenyum. "Bulan, guruku yang cantik." ucapnya tersenyum penuh arti.


Pandangannya teralih pada sosok lelaki menggunakan topi sebagai penutup wajah yang baru saja keluar dari ruangan.


"Satu ekor tikus sudah masuk perangkap. Cara yang ampuh, untuk memanggil tikus-tikus yang lain." seringainya, rencananya berjalan dengan lancar.


"Bulan, guruku tersayang. Seharusnya anda harus mengucapkan terimakasih ke saya. Karena sudah membantu pekerjaan anda. Meski tanpa sengaja. Polwan cantik." gumamnya.

__ADS_1


Bulan mengendarai mobilnya ke rumah terlebih dahulu sebelum mendatangi kediaman Gara. Bulan sadar, jika dirinya masih selalu diawasi.


Bulan meletakkan sebuah benda kecil di telinganya. Mendengarkan suara gadis yang dia tolong. Bulan tersenyum tipis, mendengar setiap perkataan yang keluar dari bibir gadis tersebut.


"Dia meminta pulang." cicit Bulan, dengan tangan berada di stir mobil.


Bulan bisa menebak, jika gadis yang belum dia ketahui namanya tersebut sedang dalam keadaan dilema. "Pasti sekarang dia tengah berpikir. Kenapa dirinya bisa ditemukan di gedung. Bukan di tempatnya terkubur." kekeh Bulan.


Bulan menyimpulkan, dia adalah gadis yang cerdas. Tidak serta merta menceritakan semuanya pada polisi. Tentang apa yang terjadi padanya. Semua yang dia alami sejak semalam. "Good job girl. Elo pasti memikirkan keselamatan kedua orang tua kamu."


Bulan yakin, saat si pelaku sadar jika mainannya hilang, dia akan segera mencari mainan tersebut. Merebut dan mengambil kembali mainan yang hilang, yang sudah di klaim sebagai miliknya.


Kesimpulan tersebut didapat Bulan dari setiap korban yang ditemukan dengan tidak bernyawa di setiap tempat. "Dia memiliki banyak tempat yang tidak bisa diakses oleh orang dengan mudah."


Terbukti Bulan merasa cukup kesulitan menemukan lokasi tersebut. Meski dirinya menemukan tak sampai lebih dari tiga puluh menit.


Namun hal itu adalah rekor terlama Bulan menemukan sesuatu. "Sepertinya dia hapal setiap sudut dan seluk beluk kota." gumam Bulan, merujuk ke satu pemikiran.


Disaat Bulan sedang melajukan mobilnya dengan santai dan telinga fokus pada suara sang gadis. Sebuah mobil tiba-tiba melintas di depannya.


Membuat Bulan segera banting stir ke kiri. "****." umpat Bulan, memukul stirnya dengan kuat saat mobilnya telah terhenti.


Yang membuat Bulan merasa lega, tidak ada kendaran lainnya di belakang mobilnya. Sehingga tidak terjadi kecelakaan beruntun.


Beruntung Bulan selalu memakai sabuk pengaman. Sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidka diinginkan. Hanya ada rasa terkejut yang Bulan rasakan.


Sementara mobil yang tiba-tiba melintas di depan Bulan, dia menabrak pengemudi lainnya yang berasal dari arah berlawanan dengan Bulan.


"Beruntung jalan sedang sepi." lirih Bulan mengamati jalanan yang cukup lenggang tanpa banyak kendaraan.


Seorang perempuan cantik keluar dari dalam mobil. Tampak dia marah-marah. Memaki mobil yang dia tabrak. Sementara dari dalam mobil yang ditabraknya, turunlah perempuan paruh baya dengan putranya.


Terlihat mereka sedang beradu mulut. Beruntung ada aparat di sekitar mereka. Sehingga tidak terjadi baku hantam.


"Huhhh,,,, kenapa sih hari ini terasa panjang. Kapan gue akan ke tempat Gara." keluh Bulan.


Dan di sinilah saat ini Bulan berada. Di kantor polisi. Bersama dengan tiga orang yang berada di dalam mobil yang berbeda. Akibat kecelakaan yang untungnya tak sampai memakan korban jiwa.


Semenjak tadi, gadis yang mengendarai mobil dengan seenaknya beradu argumen dengan perempuan paruh baya yang di tabraknya, tanpa merasa bersalah.


Sedangkan Bulan hanya diam menyimak hal yang menurutnya sangat tidak penting. Dan seorang lelaki muda mencoba dengan sabar menenangkan sang ibu yang berdebat dengan perempuan yang menabrak mobilnya.


Bahkan para polisi menggeleng kesulitan untuk menangani dua perempuan berbeda umur tersebut yang sedari tadi beradu mulut.


Brak..... Bulan menggebrak meja dengan keras. Semuanya terkejut. Seketika suasana menjadi hening.


Seorang polisi muda tersenyum sedari tadi dengan mata memperhatikan Bulan. yang diam dan cukup tenang.


"Hey...." seru perempuan muda tersebut, namun kalimatnya tergantung saat Bulan menatapnya dengan tajam.


Bulan berdiri. "Duduk." perintah Bulan menatap tajam kepada perempuan yang sedari tadi selalu mengeluarkan suara cemprengnya.

__ADS_1


"Kita selesaikan secara kekeluargaan. Sekarang. Di sini." tegas Bulan.


Beberapa polisi yang berada di sekitar Bulan hanya bisa mengedipkan kedua matanya dengan aneh. Mereka juga merasa terintimidasi dengan ekspresi wajah Bulan.


"Selesaikan urusan kalian. Saya yakin, kalian bukan dari keluarga yang kekurangan uang." sarkas Bulan, ingin cepat keluar dari kantor polisi.


"Baik Nona, kami akan menyelesaikannya dengan baik-baik." sahut pemuda yang juga merasa pusing mendengar perdebatan sang ibu dengan perempuan yang menabrak mereka.


"Bukan masalah uang. Tapi...." ucap sang ibu terpotong oleh suara sang anak.


"Bu, berapa lama lagi kita akan berada di sini. Lihat sekarang jam berapa." tampak sang putra menahan rasa kesal.


"Benar kata Nona ini. Semuanya akan cepat selesai jika kalian mau bekerja sama." tukas seorang polisi.


Bulan tak segera meninggalkan kantor polisi. Dirinya baru ingat jika sahabatnya menjabat sebagai kepala polisi di kantor ini.


(Maaf jika othor kurang tahu nama jabatan apa saja di kepolisian. Soalnya othor memang tidak tahu sama sekali. 🙏)


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang polisi muda dengan wajah rupawan. Sebab Bulan masih duduk di kursi. Sementara semua orang yang terlibat kecelakaan tadi sudah meninggalkan tempat ini.


"Kamu bisa pergi. Dia tamu saya." ucap sang atasan yang entah sejak kapan berada di samping mereka.


Dia menatap Bulan dan sang atasan yang masuk bersama ke ruang kerja atasannya tersebut. "Mau minum apa?" tanya Diki menghilangkan sikap resmi saat berdua dengan Bulan.


Begitu juga dengan Bulan. Saat mereka hanya berdua, Bulan juga bersikap santai pada Diki.


"Terimakasih. Tidak perlu." sahut Bulan.


Diki tersenyum. Mengambil sebotol air mineral dalam kemasan. Memberikannya pada Bulan. "Bagaimana penyelidikan kamu?"


Bulan meneguk air tersebut. Lalu menutup kembali botol kemasan di tangannya, seraya menatap Diki dengan tatapan penuh tanya.


Diki terkekeh pelan. "Elo kira, misi elo benar-benar di rahasiakan?" ledek Diki.


"Menurut elo?" Bulan malah balik bertanya.


"Seharusnya elo sudah tahu. Apa yang orang atas inginkan dari elo. Dari orang seperti kita." papar Diki.


Bulan menipiskan bibirnya. "Gue sedang menikmati proses dan juga waktu. Jadi, semua baik-baik saja."


Bulan sebenarnya juga terkejut, mendengar jika Diki tahu mengenai misi yang sedang dia jalankan. Namun Bulan memang sangat terampil memainkan raut wajahnya, supaya tetap terlihat datar.


Selesai berbincang ringan dengan Diki, Bulan meninggalkan kantor tersebut. Tujuannya adalah rumahnya, bukan tempat tinggal Gara.


"Ini pertama kalinya Bulan menemui Diki setelah kenaikan jabatan yang diperoleh Diki. "Diki, gue jadi penasaran. Bagaimana elo bisa mendapatkan kursi tersebut."


Bulan melepas pakaian yang menempel di tubuhnya satu persatu. Melemparkannya ke keranjang pakaian kotor. "Gue juga harus menyelidik, kenapa dan bagaimana Diki mengetahui misi yang saat ini tengah gue jalankan."


Bulan merasa misi tersebut adalah misi rahasia. Dan tidak semua dan sembarang orang bisa mengetahuinya.


Bulan merasa ada sebuah permainan di atasnya. Para petinggi sedang melakukan permainan. Dengan bidaknya adalah bawahan mereka. Termasuk dirinya sendiri, yang berperan sebagai pion.

__ADS_1


Tangan Bulan yang hendak melepas bra terhenti. Merasa ada tamu tak diundang yang masuk ke dalam rumahnya. "Apa mungkin mbok Yem kembali lagi." tebak Bulan.


Saat Bulan datang, mbok Yem sudah tidak berada di rumah. Menandakan jika mbok Yem telah pulang.


__ADS_2