
Moza kembali ke rumah sakit, setelah mengambil kotak yang berada di dalam kamar Rani. "Ini om." Moza memberikan kotak tersebut kepada papa dari Rani.
"Maafkan kami sayang, malah merepotkan kamu. Bolak-balik kesini." tukas mama Rani merasa tidak enak merepotkan Moza.
Moza tersenyum ramah. Duduk di samping mama Rani. "Ya ampun tante. Sama seperti siapa saja. Jika tante sama om capek, Moza bersedia menemani Rani. Menggantikan om sama tante." tawar Moza dengan tulus.
"Sayang." mama Rani mengelus rambut Moza dengan lembut. "Kamu memang berhati malaikat."
Papa Rani tersenyum melihat sang istri memeluk Moza. "Pasti Rani akan senang, melihat kalian seperti ini." ujar beliau.
Moza tahu, jika Rani sudah membuka kedua matanya, meski tidak lebar. Memandang ke arah mereka. Sayangnya, kedua orang tua Rani tidak melihatnya, saking sibuk dengan Moza.
Dan itu yang diinginkan oleh Moza. "Elo lihat Rani. Ini yang dinamakan merebut kasih sayang." geram Moza dalam hati, teringat tulisan yang menempel di pintu kamar Rani.
Padahal, Moza sama sekali tidak pernah berniat merebut kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tua Rani untuk Rani.
Sama seperti kedua orang tua Moza, yang juga menyayangi Rani. Sama seperti mereka menyayangi Moza, Moza juga tidak pernah merasa sakit hati atau iri.
Moza malah bersyukur. Dan malah menganggap Rani seperti saudara, sebab memang Moza adalah anak tunggal. Sama seperti Rani.
Yang Moza heran, kenapa Rani sampai punya pemikiran seperti itu. Berpikir dirinya merebut perhatian kedua orang tuanya.
"Ehh,,, Rani,,, sayang..." segera papa Rani menghampiri Rani, saat menyadari sang anak membuka kedua matanya.
Begitu juga mama Rani dan Moza. Mereka segera mendekat ke arah ranjang pasien yang menjadi tempat tidur Rani.
Sang papa menunjukkan sebuah kotak kecil berasal dari kayu. "Sayang, lihat. Moza datang ke sini hanya untuk membawakan kamu ini."
Rani menatap Moza dengan tatapan tak bersahabat. Ada dendam dalam pancaran kedua matanya. Sayangnya, kedua orang tuanya tidak tahu. "Pasti kamu ingin mengucapkan terimakasih." papar sang mama salah menyangka.
"Tidak perlu Rani. Kitakan bersahabat sejak lama. Apapun yang kamu rasakan, aku juga merasakannya." cicit Moza tersenyum manis.
"Papa buka ya." ucap beliau, berharap Rani mendapat semangat untuk sembuh setelah melihat mainannya sedari kecil.
"Memang itu apa isinya om?" tanya Moza.
"Kamu belum membukanya?" tanya papa Rani, yang mendapat gelengan kepala dari Moza. Dan tentu saka Moza berbohong.
"Ini mainan Rani sedari kecil. Saking sayangnya, Rani menjaganya dengan baik. Seperti kalian, saling menjaga satu sama lain." tutur papa Rani.
Moza tersenyum sembari melirik Rani yang menatapnya kesal. "Keadaan sudah seperti itu, bukannya taubat dan memperbaiki diri. Malah tetap jahat." batin Moza.
Papa Rani mendekatkan kotak yang telah dia buka kepada Rani. Kedua mata Rani melebar. Mulutnya terbuka dan tertutup. Seakan ingin mengucapkan sesuatu. Wajahnya memerah menahan emosi yang tak mampu diutarakan.
Rani melirik Moza yang bersikap biasa. Seolah dirinya tak tahu apa-apa. "Moza sialan, dia pasti yang memasukkan dua boneka terkutuk ini ke dalam mainan gue." ucap Rani dalam hati.
"Lihat saja, jika keadaan gue sudah membaik Dan gue sudah sembuh, gue akan membuat hidup elo lebih sengsara." batin Rani.
Yang memang belum tahu jika keadaannya parah. Bahkan, dia akan lumpuh, dan berada di atas kursi roda selama hidupnya.
Ditambah lagi, dia akan kesulitan berkomunikasi. Karena ada gangguan pada pita suaranya, serta tenggorokannya yang terluka parah.
Pihak rumah sakit, serta kedua orang tuanya memang sengaja belum memberitahu Rani. Mereka ingin kondisi mental Rani membaik lebih dulu, sebelum memberitahukannya.
"Lagian, bagaimana perempuan sialan ini bisa selamat." batin Rani.
Sebab, tidak mungkin Moza menang melawan lima orang lelaki tersebut. Dan juga, tempat tersebut jauh dari jalan. Sehingga dapat dipastikan tidak akan ada yang tahu.
"Gue harus mencari tahu. Apalagi, gue sudah menguras semua uang di tabungan gue." batin Rani.
Moza memeluk mama Rani dengan penuh kasih sayang. Keduanya menatap Rani seraya tersenyum. Sang mama mengira, pandangan yang Rani berikan adalah pandangan suka, atas pelukannya yang diberikan pada Moza.
Tanpa sang mama tahu, hati Rani sedang terbakar.
Jika saja Rani dapat berbicara, dia pasti akan berteriak. Jika kedua tangan Rani tidak terluka, dia pasti akan melemparkan benda apapun di sampingnya pada Moza dan sang mama.
Selama beberapa jam, Moza berada di ruangan rawat Rani. Selalu berbincang dengan kedua orang tua Rani seraya tertawa kecil. Dan itu memang Moza lakukan secara sengaja untuk membuat hati Rani memanas.
Rani diam. Menahan amarah yang berada dalam hatinya. Sebab memang hanya itu yang bisa dia lakukan. Bergerak atau bicarapun dia tak bisa.
Sedangkan Bulan, sampainya di perpustakaan, dia segera keluar dari pintu belakang. Berjalan sekitar lima puluh meter, untuk sampai di jalan raya dan mencari taksi. "Sial, gue jadi repot gara-gara mereka." keluh Bulan, kembali pulang ke rumah.
Sebab, Bulan tak punya pilihan lain. Motornya dia sembunyikan di belakang rumah. Jadi, dirinya harus kembali ke rumah. Karena tak mungkin Bulan menghubungi Gara, untuk meminta dijemput.
"Elo kemana saja?!" ketus Gara, setelah Bulan sampai di kediamannya.
Bulan menghempaskan tubuhnya untuk berbaring di atas kursi panjang dan lumayan empuk. "Mereka membuntuti gue seperti anak kucing." keluh Bulan.
Bulan mengubah posisi tidurnya, dengan tengkurap. "Mbok Yem sudah nggak ada. Gue yakin, jika dia disingkirkan karena sudah tidak berguna." ujar Bulan.
"Bisa jadi."
"Apa yang elo dapat."
"Lihat." Gara menunjuk ke layar yang tertanam di dinding.
"Jadi dari dia, Diki bisa memperoleh kursi jabatan." tebak Bulan.
__ADS_1
"Benar. Elo harus berhati-hati dengan atasan elo. Dia nggak sebaik yang elo kira." ucap Gara mengingatkan.
Sejujurnya, Bulan sudah menebak. Jika orang yang terlihat baik padanya selama ini, dia juga yang membawa pisau dan berniat menusuknya dari belakang.
"Bagaimana dengan rekaman yang dicari mereka. Sudah elo temukan?"
"Gue mencoba menyelidiki kematian ketiga rekan elo. Awalnya, rekan elo yang meninggal di lapangan, pada saat misi. Ternyata hanya pengalihan. Apa elo nggak tahu?"
Bulan menggeleng. "Gue melihat sendiri, mereka tertembak tepat di dada. Dan meninggal saat itu juga di tempat." jelas Bulan.
"Itu memang benar. Tapi apa elo nggak curiga. Kenapa mereka dengan mudah tertembak. Kalian di tempat yang sama."
Bulan terdiam, mencerna setiap perkataan Gara. "Gue ingat. Sebelumnya berangkat kita sarapan. Tapi gue dan satu rekan gue nggak makan sedikitpun. Kita berdua hanya minum air putih."
"Dan mereka berdua yang tertembak, makan makanan bekal kalian." tebak Gara.
Bulan mengangguk. Membenarkan ucapan Gara. "Ada sesuatu di makanan mereka. Lihat."
Gara menunjukkan sebuah tulisan pada kertas yang ada di layar. "Elo dapat informasi ini dari mana?"
Di kertas tersebut, tampak jelas hasil laboratorium kesehatan dari kedua rekan Bulan setelah meninggal.
"Bagaimana gue bisa nggak tahu ini semua." ucapnya merasa bersalah.
"Kalau tidak salah. Setelah elo melakukan misi itu, elo langsung kembali ditugaskan untuk menangkap kelompok gue." Gara mencoba mengingat secara detai kejadian yang terjadi setahun yang lalu.
"Benar. Bahkan gue juga tidak sempat datang ke pemakaman mereka." cicit Bulan.
Namun Bulan mendatangi keluarga mereka setelah tugasnya selesai. "Mereka benar-benar merencanakan semuanya dengan baik."
"Lagi pula, mustahil. Dan gue tidak percaya, mereka menggunakan obat terlarang tersebut." tukas Bulan.
"Gue sudah bertanya pada teman gue yang mengerti cara membaca laporan tentang medis ini. Dia mengatakan, jika hanya ada kandungan kecil di tubuh mereka berdua. Yang hanya akan menyebabkan efek mengantuk, serta seakan mereka masuk ke dalam mimpi. Tapi tidak terlalu parah."
Bulan kembali mengingat kejadian tersebut. Saat keduanya tertembak. Dan Bulan hendak menolong, namun dicegah oleh rekannya yang satunya lagi.
"Gue ingat, mereka seperti tertidur." Bulan mengingat, mereka meletakkan kepala mereka di atas senapan laras panjang tersebut.
Namun, tidak seperti dalam keadaan bersiap menembak. Tepatnya seperti sengaja meletakkan kepala di atas senapan, karena mengantuk.
"Lalu selanjutnya?" tanya Bulan.
"Dia dinyatakan dibunuh di rumah karena perampokan. Beberapa barang berharga yang ada di rumah mereka juga menghilang."
Bulan memang tidak tahu pastinya, sebab saat itu dia dikirim di pelosok desa yang sangat jauh dari kota. Bahkan, untuk komunikasipun, mereka kesulitan, karena sinyal yang sangat buruk.
"Tapi ingat, elo harus berhati-hati." Gara takut mereka masih dalam pantauan. Karena sampai detik ini, rekaman yang mereka cari belum ditemukan.
Bulan mengangguk. "Bagaimana dengan kasus pembunuhan yang elo selidiki bersama mereka?" tanya Gara.
"Dia memakai topeng wajah dengan sempurna."
"Bagaimana bisa? Dari mana dia bisa mendapatkannya?" Gara merasa itu suatu yang mustahil. Sebab hanya sedikit orang yang Gara ketahui dapat membuat topeng seperti itu. Dan di negara ini, Gara belum pernah mengetahuinya.
"Itu yang sekarang sedang kita selidiki."
"Apa elo butuh bantuan gue?"
Bulan menggeleng. "Elo fokus ke kasus ini. Tenang saja, mereka berempat dapat diandalkan."
"Baiklah, tetaplah berhati-hati." Gara menjeda kalimatnya. "Bagaimana dengan kelurga elo?"
"Saat ini mereka masih dalam keadaan baik. Makanya, gue harus bergerak cepat."
"Tenang saja. Gue akan berusaha, pihak media tetap meliput berita ledakan itu."
"Tapi elo juga harus berhati-hati. Jangan sampai mereka mencium keberadaan elo lewat perangkat lunak yang elo gunakan setiap waktu."
"Pasti. Elo tenang saja." ucap Gara.
"Sorry, gue harus ke markas anak-anak. Ada yang harus mereka lakukan malam ini."
"Hati-hati."
Bulan meninggalkan kediaman Gara. Dan melajukan motornya menuju ke markas keduanya. Dimana, di markas tersebut sedang terjadi sedikit kehebohan karena ulah Arya yang membawa peralatan rumah tangga, dengan jumlah lumayan banyak.
"Ini semua gara-gara elo!" geram Mikel, dengan kedua tangan sibuk melakukan sesuatu.
Sedangkan Jevo dan Jeno juga cemberut. Berbeda dengan Arya, yang membuat mereka harus melakukan semuanya. Arya tersenyum senang, semua terlihat semua seperti rencananya.
Dari merapikan serta membenahi semua tempat tidur. Menjadikan ruangan yang kosong menjadi kamar mandi. Dengan begitu, saat ini ada tiga ruangan yang dijadikan kamar di tempat tersebut.
"Sayang sekali, kita tidak bisa membuat toilet." keluh Arya.
"Elo jangan membuat ulah lagi." seru Jevo.
Seharusnya mereka bisa menyelidiki pelaku. Bukan malah kerja bakti membenahi tempat ini. "Astaga, capek sekali." keluh Mikel, merebahkan badannya di kursi empuk dan panjang yang baru saja di bawa Arya.
__ADS_1
"Tapi elo yakin, tidak ada yang mengikuti elo ke sini?" tanya Jeno, berharap tempat mereka tetap aman dari orang luar.
Arya menggeleng. "Gue yakin, nggak ada." ucap Arya yakin.
Keempatnya menengok ke arah pintu. Sama seperti ketiga muridnya yang terdiam saat melihat perabot rumah uang berada di markas. Begitu juga dengan Bulan.
"Bu Bulan, sini bu, masuk." cicit Arya, seakan ini adalah rumahnya.
Ketiga rekannya hanya mendesah pelan. Mereka penasaran, apa Bulan akan seperti mereka yang kesal terhadap kelakuan Arya.
Bulan langsung melihat setiap ruangan. Hingga dapur. "Kita membuat dua kamar mandi lagi bu." tukas Arya dengan senang.
"Bukan kita..!! Tapi elo. Elo yang membawa semuanya ke sini, mau tak mau kita bantu elo." ketus Mikel.
Arya tersenyum bangga. "Bu Bulan senang?" tanya Arya.
Bulan hanya bisa menghela nafas panjang. Ingin marah, tapi tak bisa. Ingin menyuruh membuang semua perabot, tapi sudah terlanjur masuk ke dalam dan di tata rapi semuanya.
"Kamu pakai uang siapa?" tanya Bulan pertama kali.
Jeno, Jevo, dan Mikel memandang ke arah Arya. "Tenang bu, semua pakai uang pribadi saya." ucap Arya dengan bangga.
"Jangan sampai, orang tua el..." Bulan menghentikan perkataannya, melirik ke arah Jeno.
Jeno tersenyum dalam hati. Hanya Bulan menuruti perkataannya saja, membuat Jeno merasa senang bukan main.
Bulan lalu melanjutkan lagi kalimatnya. "Kheemm.. jangan sampai orang tua kamu menelisik ke mana perginya, barang-barang yang kami beli."
"Tenang bu, ini semua memakai uang pribadi saya." papar Arya dengan yakin.
Ketiganya baru sadar. Saat Bulan mengkhawatirkan sesuatu, yang sama sekali tak terpikirkan oleh mereka bertiga. "Benar juga." timpal Jevo.
Bulan langsung melihat merk dari salah satu kursi tersebut, segera duduk di depan layar. Jari jemarinya bergerak lincah di atas keyboard.
"Cckkk,,, ibu nggak percaya. Uang ini bukan saya ambil dari bank. Tapi dari celengan gajah di rumah saya." jelas Arya, mampu membaur tangan Bulan berhenti.
"Celengan gajah...!" seru Jeno, Jevo, dan Mikel serempak. Lalu tertawa terbahak bersama.
Arya mengangguk bangga. Sementara Bulan tersenyum samar. Sumpah, ini pertama kalinya Bulan merasa dirinya merasa tidak salah memilih mereka. "Ternyata seru juga." batin Bulan.
"Baiklah, Arya terimakasih karena telah mengisi markas ini. Nanti akan saya ganti semua uang kamu." ujar Bulan.
"Jangan bu...!! Tidak perlu. Saya bukan orang miskin." celetuk Arya, menolak keinginan Bulan.
"Oke. Jika begitu, saya akan langsung memberitahu rencana saya pada kalian, untuk menggagalkan tindakan dokter gadungan tersebut."
"Tapi maaf, saya tidak bisa ikut dengan kalian. Saya ada urusan sendiri yang tak kalah penting." tutur Bulan.
Jeno menaikkan sebelah alisnya. Merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan Bulan. "Apa lagi yang akan terjadi." batin Jeno, setelah Bulan meledakkan tiga tempat sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
"Arya, kamu akan tetap berada di markas. Memantau dari sini. Kamu sabotase setiap kamera CCTV di semua jalan menuju rumah Serra."
"Baik." sahut Arya.
"Jeno, gunakan penyamaran sebaik mungkin. Kamu akan berperan sebagai asisten dari dokter tersebut. Ingat, sebagai asisten, kamu wajib ikut kemanapun dia pergi."
Bulan mengambil kantong kresek yang dibawanya dari luar. Melemparkannya ke arah Jeno. "Tapi jangan sampai kamu masuk ke dalam rumah. Cukup bertemu di jalan secara tidak sengaja."
"Dan Mikel, kamu yang bertugas membuat sang dokter berhenti di jalan. Supaya bisa bertemu dengan Jeno."
"Baik bu."
"Jevo. Gunakan sifat play boy kamu. Untuk masuk ke dalam rumah Serra. Terserah, bagaimana caranya. Mungkin kamu punya kenalan di sekolah Serra."
Jevo terdiam, mengangguk pelan. "Saya paham." Terlihat jika Jevo punya kenalan di sekolah tempat Serra belajar. Atau malah Jevo kenal dengan Serra.
"Kalian bertiga, akan merecoki sang dokter. Sehingga dia merasa kesal. Dan memilih pulang, dari pada memeriksa Serra."
"Baik bu."
"Di saat itu, kamu Mikel. Kamu harus bersiap untuk kembali membuntuti kemana tujuannya dia pergi." jelas Bulan.
"Bu, bagaimana dengan rumah terakhir yang dimasuki oleh dia?" tanya Mikel.
"Sama seperti yang lain. Dia juga sudah meninggal. Namun masih ada sang mama di sana. Dan pastinya dia ditipu olehnya." jelas Bulan yang secara diam-diam sudah mencari tahu dengan cepat.
"Kenapa?"
"Dia membutuhkan uang." jelas Bulan singkat.
"Benar-benar licik."
"Dan sekarang, yang saya takutkan. Dia akan melenyapkan perempuan yang tak tahu apapun itu. Yang menganggapnya sebagai putranya."
"Maksud ibu?"
"Jika dia sudah menjadi dokter, secara otomatis dia juga akan mendapatkan pemasukan yang banyak dari sana. Itu artinya dia tidak lagi memerlukan perempuan tersebut. Dia bisa menjual semua kekayaan milik perempuan yang dipanggilnya mama. Beres bukan." jelas Jeno secara terperinci. Bukan Bulan.
__ADS_1