PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 195


__ADS_3

"Lihat,,,, kenapa Jeno dan bu Bulan malah berjalan mengarah ke sana?" tanya Arya yang melihat mobil yang dikemudikan oleh Jeno berbelok ke arah lain. Tidak berbelok sama dengan mobil yang dikemudikan Jevo.


"Mikel... Kenapa kita tidak mengikuti mereka saja?" tanya Arya menoleh ke belakang. Menatap mobil milik Jeno yang menghilang ditikungan.


"Biarkan saja mereka berdua pergi bersama. Jangan menjadi parasit." sahut Mikel.


Arya kembali menghadap ke depan dengan cemberut. "Bagaimana om David dan tante Rindi mengizinkan mereka pergi berdua. Itukan sangat berbahaya. Astaga.... Jangan sampai kita memiliki keponakan sekarang. Tuhan,,,,, semoga Jeno tidak khilaf." oceh Arya.


"Aaw....!" seru Arya, saat pundaknya dipukul dari belakang. Siapa lagi pelakunya jika bukan Gara.


"Bilang saja jika elo mau ikut. Pake ngoceh nggak jelas." tukas Gara.


Arya mengelus pundaknya yang dipukul Gara. "Gue sama sekali nggak pengen ikut. Gue hanya berpikir positif. Bagaimana jika mereka berdua khilaf. Dan ,,,, ya... Mereka melakukan kikuk kikuk. Dan jadilah Jeno junior." celoteh Arya.


"Itu namanya elo berpikir negatif. Bukan positif." sahut Mikel sembari menyetir.


"Lagi pula, tidak mungkin Bulan sampai kelepasan. Apalagi hamil duluan." ujar Gara dengan yakin.


"Gue setuju sama elo. Bu Bulan perempuan hebat. Dia bisa menjaga kehormatan dan harga dirinya. Jika saja Jeno kelepasan, pasti bu Bulan bisa menghentikannya." sahut Mikel sepemikiran dengan Gara. Mematahkan pikiran negatif Arya.


Arya memainkan bibirnya dengan kesal. Sejujurnya dia percaya dengan Jeno dan Bulan. Jika mereka tidak akan melakukan hal diluar batas.


Tapi sejujurnya, Arya hanya ingin ikut kemana Jeno dan Bulan pergi. "Jika Bulan perempuan seperti itu, pasti sekarang dia sudah hamil. Apa elo lupa, jika dia selalu berada di dalam misi. Dan dia perempuan satu-satunya." ujar Gara.


"Betul. Dan jika itu terjadi. Mana mungkin sekarang bu Bulan menjabat sebagai kepala kantor." timpal Mikel.


Arya hanya berniat mengompori mereka yang berada di mobil untuk menyusul kepergian Jeno dan Bulan. Dirinya sama sekali tidak meragukan Bulan maupun Jeno.


Tapi yang ada dirinya malah kena omelan dari dua orang di dekatnya. Mikel dan Gara. "Nasib. Nasib. Padahal gue hanya ingin ikut mereka berdua jalan-jalan. Malah kena omel." batin Arya.


"Kelihatannya kalian begitu percaya sama bu Bulan." ujar Arya dengan santai.


"Percaya. Sangat percaya. Hanya dia satu-satunya orang yang saat ini bisa gue percaya dengan sepenuh hati." ujar Gara tanpa melihat bagaimana ekspresi perempuan yang saat ini duduk di sebelahnya.


Arya dan Mikel paham kenapa Gara berkata seperti itu. Sebab keduanya tahu jalan cerita kehidupan Gara. "Sapna, elo kenapa, sakit gigi?" tanya Arya, dimana Sapna hanya diam tak bersuara.


"Tidak. Masih mengantuk saja." jawab Sapna dengan asal. Terlihat ekspresi Sapna yang malas dan membuang wajah ke samping. Tepatnya ke jendela samping.


Gara menoleh ke arah Sapna. Gara yang memang tidak peka, tidak tahu jika saat ini Sapna sedang meras kesal akan kalimat yang terakhir dia ucapkan.


"Kenapa gue marah dan kesal mendengar Gara berkata seperti itu. Memangnya kenapa, toh apa yang dikatakan Gara benar adanya. Mereka kenal lebih dulu. Dan pastinya mereka juga banyak menghabiskan waktu bersama. Sapna,,, sadar. Elo nggak boleh seperti ini." batin Sapna menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Sapna sendiri juga tidak tahu, kenapa tiba-tiba dirinya merasa seperti ingin marah saat mendengar Gara memuji Bulan. Padahal wajar jika Gara melakukannya. Karena memang hanya Bulan yang Gara kenal.


"Kamu mengantuk?" tanya Gara yang memang benar-benar tidak mengerti jika Sapna sedang marah pada dirinya.


"Hem..." sahut Sapna sembari menyenderkan punggungnya di kursi dengan kedua mata terpejam.


Di belakang kemudi, Mikel melihat keduanya dari kaca pantau yang ada di depannya. Senyum samar terlihat di bibir Mikel.


Mikel bisa menebak kenapa Sapna bertingkah seperti itu. Tapi yang membuat Mikel ingin terus tersenyum adalah sikap Gara yang memang terlihat tidak tahu jika Sapna sedang marah pada dirinya.


"Astaga.... Lucu sekali mereka berdua." batin Mikel.


Gara yang memang polos, tidak mengerti jika Sapna sedang ngambek. Dan Sapna yang tiba-tiba merajuk karena rasa cemburunya pada Gara yang memuji Bulan.


Sedangkan Arya sedang sibuk dengan ponselnya. Bermain game di dalam ponsel untuk menghilangkan jenuhnya. "Coba saja kita mengikuti Jeno dan Bu Bulan. Pasti akan lebih menyenangkan." batin Arya.


"Cckk...." decak Arya merasakan suasana hatinya tidak enak.


"Elo kenapa sih Ar....?!" tanya Mikel dengan nada sedikit tinggi.


"Apa kita harus pulang? Kenapa kita tidak mengikuti Jeno dan bu Bulan saja. Pasti mereka berdua hendak pergi ke tempat yang menyenangkan. Aaa....!! Menjengkelkan kalian...!!" seru Arya marah tanpa sebab.


Gara dan Mikel tertawa lepas. Sekarang mereka tahu, kenapa sedari tadi Arya kekeh ingin Mikel mengikuti mobil Jeno dan Bulan. Ternyata Arya hanya ingin ikut kemana mereka pergi.


Tapi segera Sapna memejamkan kedua matanya kembali. Dirinya tidak ingin sampai ketahuan jika sedang menatap Gara dengan pandangan terpesona.


 "Jadi elo iri. Elo ingin berlibur juga?" tanya Mikel, lebih tepatnya menebak apa yang diinginkan Arya.


"Benar. Kenapa..!! Masalah...!!" ketus Arya.


Gara masih tertawa, meski sudah tidak seperti tadi. "Biarkan mereka pergi berdua Ar,,, memang elo mau kadi nyamuk, mengganggu Jeno dan Bulan." timpal Gara.


"Kitakan bisa ke tempat lain. Tidak meski mengekor kemana perginya mereka berdua." ujar Arya tetap kekeh.


"Makanya ini gue terus. Nggak mengekor kemana perginya Jeno dan Bulan." ledek Mikel.


"Elo nggak asik." ketus Arya.


"Mikel,,,, nanti elo ajak dia pergi. Jalan-jalan, berdua sama elo." goda Gara.


"Yang ada bertiga." sahut Arya masih meras kesal. Tidak mungkin Arya hanya keluar dengan Mikel. Berdua. Karena biasanya mereka akan keluar bertiga. Dengan Jevo.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, suasana di dalam mobil hening. Arya sudah mulai tenang dan kembali bermain game di ponselnya.


Mikel fokus menyetir. Apalagi mereka sudah mulai memasuki jalan perkotaan yang tampak ramai. Sehingga dibutuhkan konsentrasi saat menyetir.


Sapna yang awalnya hanya berpura-pura tidur, malah tidur beneran. Gara tersenyum melihat Sapna lelap dalam tidurnya.


Perlahan, Gara menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Sapna hingga keduanya tidak berjarak. Menaruh tangannya di belakang leher Sapna dengan pelan. Lalu dengan hati-hati menarik kepala Sapna untuk dia letakkan di dekat dadanya.


Mikel yang melihat keduanya dari kaca pantai tersenyum senang. Dia berharap, hubungan cinta Gara dan Sapna berjalan lancar seperti hubungan cinta Bulan dan Jeno.


Di mobil satunya yang dikemudikan oleh Jevo, Nyonya Irawan masih menerka-nerka dengan siapa sang putri menaruh hatinya.


"Apa Mikel?" batin Nyonya Irawan, sebab dirinya beberapa kali melihat Sapna berbincang santai dengan Mikel. Dan keduanya cukup terlihat begitu dekat.


"Sudahlah. Denhan siapapun Sapna berhubungan, asal lelaki itu membawa dampak positif untuk Sapna. Aku akan mendukungnya. Tapi, jika dia malah akan membawa Sapna dalam bahaya. Tentu saja aku akan melarangnya." batin Nyonya Irawan, menginginkan sang putri mendapat lelaki yang bisa melindunginya.


Pandangan mata Nyonya Irawan mengarah ke depan. Tepatnya pada Jevo yang berada tepat di depannya.


Nyonya Irawan tersenyum mengingat Nyonya Rindi ingin menjodohkan Jevo dengan Sapna. Tapi beliau paham, rasa suka tidak bisa dipaksakan. Terlebih Nyonya Irawan melihat Jevo sama sekali tidak memiliki ketertarikan pada sang putri.


"Yang ada, Sapna malah akan hidup dalam tekanan. Dan tidak akan bahagia." batin Nyonya Irawan, jika Sapna menikah atau menjalin hubungan dengan lelaki yang tidak mencintainya.


"Jeng, tinggallah dulu di rumah kami. Bulan masih pergi dengan Jeno. Dam kita tidak tahu kapan dia akan kembali." pinta Nyonya Rindi, membuyarkan lamunan Nyonya Irawan.


Belum sempat Nyonya Irawan menjawab apa yang dikatakan oleh Nyonya Rindi, Jevo terlebih dahulu mengeluarkan suaranya.


"Benar tante. Jika Revan tahu kalian hanya berdua tanpa ada bu Bulan. Bukankah itu berbahaya." tukas Jevo yang belum mengetahui jika sekarang dan selamanya dirinya tak akan bisa bertemu dengan Revan lagi.


"Benar kata istri saja dan Jevo. Biarkan Bulan pergi dengan tenang. Apalagi, selama ini Bulan selalu berpikir dan bekerja dengan keras. Sebaiknya kita beri waktu dia untuk bersantai menikmati hidup." timpal Tuan David.


Nyonya Irawan setuju dengan apa yang mereka katakan. Hanya saja, beliau merasa sungkan. "Apa kita tidak akan merepotkan kalian?" tanya Nyonya Irawan dengan hati-hati.


"Tidak tante. Justru kita akan semakin repot jika terjadi sesuatu dengan tante dan Sapna. Disaat bu Bulan sedang tidak ada bersama kita." jelas Jevo.


"Baiklah. Terimakasih. Dan maaf, saya dan Sapna selalu merepotkan semuanya." cicit Nyonya Irawan merasa selalu menjadi beban.


"Jangan berkata seperti itu. Saya senang bisa membantu jeng." tutur Nyonya Rindi dengan tulus.


"Biar saya beritahu Arya." ujar Tuan David. Sebab beliau tidak punya nomor ponsel Gara. Dan beliau juga tidak mungkin menghubungi Mikel yang sedang menyetir.


"Hubungi bu Bulan juga pa. Biar dia tidak khawatir saat pergi dengan Jeno." ujar Jevo mengingatkan.

__ADS_1


"Akan papa lakukan." sahut Tuan David sudah sibuk dengan ponselnya, hendak menghubungi Arya. Yang setelahnya, Tuan David juga menghubungi Bulan seperti yang dikatakan Jevo.


__ADS_2