
Claudia tersenyum aneh, berdiri di tengah jalan. Menghadang jalan dari Moza. "Gue peringatkan. Jangan jadi ******,, mu-ra-han." sindir Claudia.
Moza mengerutkan dahinya. Lalu tersenyum miring. Sepertinya Moza bisa menebak, kenapa Claudia secara tiba-tiba berkata seperti itu. "Pasti karena tadi." batin Moza.
"Apa? Siapa? Siapa yang ******. Ayo katakan kakak kelas?" pinta Moza, seperti sedang mengejek Claudia.
Moza bersedekap dada. "Gue heran, kenapa Jevo masih suka dan mau sama elo." Moza tak mau kalah dengan apa yang dilakukan Claudia pada dirinya.
"Iiiiisshhh....." Moza mendesis, saat tangan Claudia mencengkeram erat rahangnya. Moza tak melawan, dia ingin lihat, sejauh mana Claudia akan menggertak dirinya.
Claudia mendekatkan bibirnya ke telinga Moza. "Jika elo tetap nekat mendekati Jevo, gue nggak akan segan-segan membuat hidup elo bagai di neraka. Tanam di otak elo." ancam Claudia, melepaskan tangannya di rahang Moza, sembari mendorongnya ke belakang.
Claudia tersenyum remeh memandang Moza yang sedang mengelus rahangnya yang masih teras sakit. Meneruskan langkahnya dengan bahu menyenggol keras tubuh Moza. Hingga tubuh Moza sedikit oleng.
Moza hanya menahan emosinya. Dirinya sadar, jika dia adalah murid baru. Dan tak baik untuk dirinya membuat masalah di awal dia masuk. Yang malah akan di cap sebagai pembuat onar.
"Iblis betina." geram Moza dengan kesal.
Seorang murid lelaki tiba-tiba menyenderkan punggungnya di tembok dekat Moza berdiri. "Gue heran, kenapa kalian begitu menggilai Jevo."
Dia memandang Moza dengan tatapan memindai. Dari ujung kaki hingga ujung kepala. Menilai berapa seharusnya dia memberi nilai pada penampilan Moza.
"Gue bahkan lebih baik dari Jevo, jika elo mau." ucapnya dengan percaya diri, mengerlingkan sebelah matanya dengan genit.
Dia terus menatap Moza dengan tatapan mesum, mengusap dagunya sendiri secara berulang. "Bagaimana? Mau jadi pacar gue." tawarnya.
Moza merinding di buatnya. Segera Moza meninggalkan murid lelaki tersebut. "Dia kira gue nggak tahu apa. Siapa dia. Menjijikkan. Sok lebih oke dari Jevo. Nggak mungkinlah." gumam Moza.
Moza menghentikan langkahnya. Mengedipkan kedua matanya dengan lucu. "Kenapa gue membela Jevo. Mereka pasti sama saja." pikir Moza.
Sebab, Jevo juga berpacaran dengan Claudia. Sementara Moza tahu bagaimana kelakuan Claudia di luar sekolah. Sangat tidak baik untuk di contoh.
"Ya, mungkin karena Jevo pernah menolong gue. Makanya gue merasa berhutang budi. Benar." ujar Moza pada dirinya sendiri, saat dia membandingkan mereka berdua.
Moza tahu, jika Claudia dan murid lelaki tersebut mempunyai hubungan. Semalam, saat berangkat ke club malam.
Moza tanpa sengaja melihat Claudia bersama dengan murid lelaki tersebut. Berada di dalam mobil, sedang bercumbu mesra.
Moza merinding bercampur mual, saat dia kembali mengingat adegan Claudia bersama lelaki tadi di dalam mobil. "Menjijikkan." gumam Moza.
"Jevo. Apa yang mereka lihat dari elo. Hingga mereka berlomba-lomba untuk mendekati elo." ucap murid lelaki tersebut dalam hati, merasa jika semua tidak adil.
Dirinya bahkan tidak kalah dari Jevo. Tampan, anggota tim basket, dan yang pasti juga berasal dari kelurga kaya raya.
Dia tersenyum iblis. Sebuah rencana kotor masuk ke dalam otak kecilnya. "Jika gue tidak bisa menghancurkan Jevo, kenapa tidak Jeno saja." seringainya.
Dia berpikir jika Jeno si culun akan dengan mudah dia permainkan. "Benar, pasti Jevo juga akan merasakan sakit, saat saudara kembarnya merasakan kesakitan."
"Heh,,, heh,,, heh,,,, Jeno, culun.... sebentar lagi, kita akan bermain-main." ucapnya dengan tertawa menggunakan nada rendah yang menakutkan.
Semua murid di sekolah tidak ada yang berani mencari masalah dengan Jeno, karena mereka takut dengan Jevo.
Kenyataannya, tanpa ada Jevo. Seorang Jeno juga bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik.
Segera murid lelaki tersebut mengejar Claudia. Bahkan, dia langsung masuk ke dalam mobil Claudia.
Claudia terkejut melihat siapa yang dengan berani masuk ke dalam mobilnya tanpa permisi. "Elo....!!" geram Claudia tertahan.
Dia tersenyum tanpa rasa bersalah. "Iya, ini gue." ucapnya dengan santai.
"Elo masih waraskan, ini di sekolah, bego..!!" hardik Claudia, dengan nada rendah.
"Kalau gue gila, elo nggak akan mau sama gue." ujarnya. "Ayolah Clau,,,, cari tempat nyaman buat kita berbincang." ajaknya kemudian.
"Turun..!!" usir Claudia.
"Yakin." sahutnya tersenyum, sembari memainkan alisnya naik turun. "Elo nggak lihat, ada siapa saja di sekeliling elo." lanjutnya.
Claudia baru menyadari, jika Jevo dan kedua temannya sedang berjalan menuju area parkir. Claudia memukul keras stir mobil di depannya.
Menatap murid lelaki yang duduk di sampingnya dengan tatapan tajam menghunus. Segera Claudia melajukan mobilnya.
"Sudahlah baby, tidak perlu pikirkan Jevo. Tanpa dia, elo bisa bersenang-senangkan." ujarnya dengan kalimat penuh makna.
Claudia menghentikan mobilnya di tepi jalan, setelah di rasa keadaan aman. "Sekarang elo turun." usirnya.
"Ayolah Clauuu,,,, elo nggak lihat, milik gue kangen masuk sarang elo." dia menatap Claudia dengan tatapan mesum.
"Gue nggak bisa. Gue ada janji dengan Jevo. So, lebih baik elo turun dari mobil gue. Sekarang." tekan Claudia, kembali mengusirnya.
__ADS_1
Murid lelaki tersebut mengeraskan rahangnya. "Elo pikir gue apa, elo bisa singkirkan, saat elo mau bersama Jevo. Dan elo bisa ambil, saat elo ditolak Jevo. Tidak semudah itu Claudia,,,, sayang." ucapnya dalam hati.
Dia mengambil ponsel dari dalam sakunya. "Gue kangen dengan elo yang seperti ini." ucapnya, dengan memutar sebuah video.
Tubuh Claudia menegang, mendengar suara yang tak asing di telinganya. Suara miliknya yang sedang meracau karena rasa nikmat yang diberikan lelaki di sampingnya.
"Revan...!!" seru Claudia dengan nada rendah. Menyiratkan rasa kesal yang amat luar biasa.
Claudia merebut ponsel yang ada di tangan Revan. Menghapus beberapa video, dimana pemeran utama wanitanya adalah dirinya dengan pemeran lelaki adalah Revan sendiri.
"Berani sekali elo." Claudia menatap tajam ke arah Revan. Tak menyangka, jika Revan akan merekam setiap adegan saat mereka bersama.
Bukan hanya satu kali, tapi saat keduanya sedang memadu kasih di semua tempat dan waktu yang berbeda.
Revan mengambil kembali ponselnya di tangan Claudia. "Jangan khawatir Clauuu,,, gue masih punya banyak salinan di rumah." cicit Revan.
Memberitahu, jika apa yang dilakukan Claudia barusan sama sekali tidak ada gunanya. Sebab, Revan masih menyimpan video itu di tempat lain.
"Elo, menjebak gue."
"Ayolah baby,, kapan aki menjebak kamu. Bukankah kita saling menikmati." ucap Revan disertai kekehan kecil.
Revan mendekat ke arah Claudia. "Batalkan janji kamu dengan Jevo sayang. Manjakan aku sekarang." bisiknya, dengan tangan sudah berada di paha Claudia. Mengelusnya naik turun dengan lembut.
Claudia masih terdiam. Melirik Revan dengan kesal. "Aku menginginkanmu Clau,,," Revan mencondongkan tubuhnya ke depan. Menempatkan wajahnya di depan dada Claudia.
Terjadilah sesuatu seperti yang Revan harapkan. Tampak mobil Claudia sedikit bergoyang. Beruntung, Claudia menghentikan mobilnya di tempat yang sepi. Jika tidak, pasti sekarang mereka berdua sudah berada di kantor polisi.
Seperti yang direncanakan, Jeno dan Jevo, serta kedua teman Jevo bertemu di sebuah tempat. Tentu saja Jeno ingin menjelaskan sesuai apa yang diinginkan oleh Bulan.
Jevo seolah lupa, jika setelah sekolah, dirinya sudah berjanji akan bertemu dengan Claudia.
Jevo tertawa lepas mendengar semua yang dikatakan oleh saudara kembarnya. Begitu juga dengan Mikel dan Arya.
Tentu saja ketiganya tidak serta merta semudah itu percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jeno. "Bercanda elo memang gokil." seru Jevo.
"Jeno,,, elo ngajak kita ketemuan cuma buat ngeprank doang." celetuk Arya.
"Astaga, perut gue sampai sakit." ucap Mikel masih menyisakan nada tawanya, dengan tangan berada di depan perut.
Jeno menatap kesal kearah mereka bertiga. "Gue nggak bercanda...!!" seru Jeno dengan nada kesal.
Tawa mereka perlahan mereda, melihat ekspresi wajah Jeno yang tampak marah. "Kalian pikir gue badut. Kalian pikir lucu." sarkas Jeno.
"Elo coba berpikir. Bulan, seorang perempuan. Agen rahasia. Nggak masuk di akal brother." lanjut Jevo.
Jeno merasa, dirinya akan sama seperti mereka. Saat dia tidak mengalami kejadian itu secara langsung. Tidak percaya.
Jeno mengeluarkan sesuatu dari dalam saku. "Nanti malam, bu Bulan meminta kita ke tempat ini."
Jevo mengambil dan membacanya. "Gila, ini tempatnya jauh. Meski masih satu kota, tapi tempat ini termasuk pelosok. Elo yakin?" Jeno mengangguk.
Arya mengambil kertas kecil dengan Mikel ikut membacanya. "Jennn, yang bicara sama elo benar bu Bulan kan?" tanya Arya. Yang diangguki oleh Mikel.
Jeno mendengus sebal. Dia bisa menebak apa yang ada dalam otak Arya dan Mikel. "Elo pikir gue bicara sama hantu." ketus Jeno.
"Bisa jadi." cicit Mikel, apalagi tempat yang akan mereka tuju malam nanti adalah tempat yang biasa dikatakan angker oleh kebanyakan orang.
"Iihh,,, tiba-tiba bulu kuduk gue merinding." lanjut Mikel, memegang tangannya sambil bergidik ngeri.
"Jika benar bu Bulan, ngapain minta ketemuan di tempat seperti ini. Kenapa tidak di restoran. Atau mungkin di rumahnya." ujar Arya, mencoba berpikir realistis.
"Terserah kalian, mau ikut atau tidak. Yang penting gue sudah memberi tahu. Nanti malam gue akan ke sana jam delapan malam." ucap Jeno, dan langsung meninggalkan mereka bertiga.
"Jevvv,,,, bagaimana?" tanya Arya.
Jevo diam, memandangi Arya dan Mikel bergantian. "Elo ikut Jeno apa nggak?" tanya Mikel.
"Gue ikutlah. Bagaimana jika semua ini hanya jebakan. Mana mungkin gue biarin Jeno pergi sendirian."
"Tapi, kalau seandainya jebakan, jebakan siapa. Perasaan Jeno nggak punya musuh. Dan ngapain Jeno harus mengajak kita bertiga." ujar Mikel mencoba menerka.
"Apa target dia adalah kita. Tapi dia menggunakan Jeno." tebak Arya kemudian.
"Ckkk,,, sudahlah. Gue malah pusing mendengar ocehan kalian yang tidak bermutu. Nanti malam kita temani Jeno ke sana. Jam delapan kita berangkat. Titik." ujar Jevo memutuskan.
"Okelah. Dari pada kita penasaran juga. Benar bu Bulan, atau bukan." timpal Mikel.
"Jangan lupa, persiapkan diri." sahut Arya.
__ADS_1
Ketiganya berpencar. Menuju ke rumah atau ke tempat tujuan masing-masing. Sebelum nanti malam mereka akan pergi bersama ke tempat yang sudah Jeno katakan.
Sementara itu, Gara terus mengulang apa yang terekam di dalam ruangan yang saat ini sudah seperti sedia kala.
"Diki." gumamnya, melihat wajah beberapa orang yang memperbaiki ruangan dengan sangat cepat dan terampil.
Ya, Gara mengenali wajah mereka. Gara masih ingat dengan jelas. Mereka adalah anak buah Bulan, saat penyerangan terhadap kelompoknya saat itu.
"Bulan, dia dikelilingi orang yang berbahaya." lirih Gara.
Dengan jabatan yang Diki miliki saat ini, tidak mustahil baginya hanya dengan mengeluarkan suara, para bawahan akan melakukan semua perintah yang keluar dari dalam mulutnya.
"Aku harus mencari tahu, bagaimana Diki bisa naik jabatan secepat ini."
Gara berpindah ke layar yang berada di sebelahnya. Dimana layar tersebut menampilkan lorong-lorong rumah sakit tempat mereka merawat dua orang yang ditembak kakinya oleh Bulan.
Sementara Gara mencari asal usul semua barang yang ada di dalam mobil box yang ditemukan oleh Bulan, Bulan sendiri sedang bersantai di rumah.
Bersantai, bukan arti benar-benar bersantai. Bulan menyuruh mbok Yem untuk memijat badannya. "Enak sekali mbok." cicit Bulan, terlihat begitu menikmati pijatan mbok Yem, dengan tubuh tengkurap.
"Mbok Yem belajar memijat dari mana?" tanya Bulan, mulai memancing pembicaraan.
"Tidak belajar Nona. Hanya otodidak saja." ujarnya.
"Emmm...."
"Kelihatannya hari ini capek sekali?"
"Iya mbok, menghadapi anak-anak memang sungguh melelahkan. Bagiamana kalau Bulan besok punya akan sendiri ya?" kekeh Bulan dengan kedua mata terpejam.
"Tidak akan capek kok Non, apalagi kalau kita ikhlas menjalani dan melakukannya."
"Anak mbok masih bekerja di luar kota, atau sudah pulang?"
"Masih bekerja Non."
"Lantas mbok di rumah sama menantu?"
"Tidak Non, mbak sendirian. Menantu mbok di rumah kedua orang tuanya."
"Kalau begitu, nanti malam mbok menginap di sini saja. Nunggu rumah saya."
"Memang Non mau ke mana?"
"Mau jalan sama teman."
"Baik Non."
Bulan tersenyum samar. Padahal baru beberapa hari kemarin, anak dari mbok Yem masuk ke rumah Bulan secara diam-diam.
Merasa badannya lebih segar, Bulan segera masuk ke dalam kamar. "Kita lihat, siapa tamu kita malam ini." gumam Bulan.
Bulan menghubungi Gara. Menyambungkan kamera CCTV di rumahnya dengan layar yang ada di kediaman Gara.
Bulan memang merencanakan semuanya. Bulan ingin tahu, apa hang dilakukan mbok Yem, saat dirinya tidak ada di rumah.
Jika pagi hingga siang hari, mbok Yem hanya keperjakaan tugasnya sebagai pembantu. Tidak lebih. Sebab, Bulan sudah melihatnya dari kamera CCTV.
Siapa tahu, mbok Yem akan mengajak temannya masuk, jika malam hari.
Bulan meninggalkan rumah sekitar pukul tujuh malam. Dirinya berdandan dengan sangat cantik. Sehingga Mbok Yem mengira jika Bulan akan berkencan.
Bulan sadar, jika sejak keluar dari rumah. Ada sebuah motor yang mengikuti dirinya. Bulan menyetir dengan santai. Seolah dirinya tidak risau dengan penguntit tersebut.
Mobil Bulan berhenti di depan sebuah restoran. Bulan masuk ke dalam restoran. "Kita lihat, sampai mana elo akan mengikuti gue." cicit Bulan, naik ke dalam lift. Berhenti di lantai tertinggi di gedung tersebut.
Bulan dengan langkah santai berada di lantai paling atas. Sebuah roof top dengan pemandangan yang cantik. Tampak lampu menyala rapi, terlihat dari tempat Bulan berdiri.
Bulan mengeluarkan pakaian dari dalam tas yang dia bawa. Dan segera berganti berpakaian. Serta menyamarkan penampilan. "Gila, gue oke juga jika jadi lelaki."
Bulan memasukkan pakaian yang sudah dia lepas dari tubuhnya ke dalam tas tersebut. Menaruh di sebuah keranjang usang yang berada di pinggir roof top.
Dengan langkah tenang, Bulan kembali turun dari lantai atas. Berjalan di area perkiraan dengan langkah santai.
Bulan tersenyum. Melihat lelaki yang menguntitnya tadi celingukan di dalam restoran. "Pasti sedang mencari gue." gumam Bulan.
Bulan tak segera masuk ke dalam mobil miliknya. Dia menunggu saat yang tepat, untuk masuk dan meninggalkan restoran tersebut.
Dirasa semua aman, Bulan menekan sebuah benda kecil di telinganya. "Hapus semua jejak gue di kamera CCTV. Dan jangan lupa, pantau setiap sudut rumah gue." pinta Bulan sembari mengingatkan, tentu saja pada rekannya, Gara.
__ADS_1
Bulan masuk ke dalam mobil. Melajukan mobil tersebut dengan kecepatan sedang membelah kota yang masih terlalu padat dengan kendaraan berlalu lalang.
Tujuannya adalah tempat di mana dia akan bertemu dengan anak didiknya.