PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 115


__ADS_3

"Apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Rio, merasakan pergerakan di kursi sebelahnya, yang artinya ada seseorang yang baru saja mendaratkan pantatnya.


"Kita tunggu dulu, jika pembuatan video berjalan dengan lancar, rencana Bulan berarti juga berjalan dengan baik." sahut Jevo.


"Jika sebaliknya?" tanya Rio, menanyakan jika mereka mendapatkan kegagalan.


Keadaan hening sejenak. Itulah yang sebenarnya mereka takutkan. Tapi, sebisa mungkin mereka berpikir positif. Berharap jika kakek Timo bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik.


"Entahlah. Kita harus memberitahu dengan segera pada Bulan. Hanya dia poros dan tumpuan utama kita." tukas Jeno.


Mikel berdiri, tentunya dia akan melihat Arya. "Kalian tunggu di sini." tukas Mikel. Yang mendapat anggukan dari yang lain.


Mama Rio hanya diam, menggenggam telapak tangan sang putra dengan ekspresi cemas. Harapan beliau tentu saja sama dengan yang lain.


Pintu terbuka dari luar, Arya mengangkat tangan kirinya sembari mengangkat jempolnya. Tanpa melihat siapa yang datang. Arya hanya menebak jika yang mendatanginya pasti salah satu dari temannya.


Mikel langsung tersenyum sempurna, sebab secara tak langsung Arya mengatakan jika semua berjalan dengan lancar, sesuai apa yang mereka kehendaki.


Mikel mengambil kursi di pojok ruangan. Duduk di dekat Arya yang tengah menatap layar di depannya. "Bagaimana?" tanya Mikel, juga mengarahkan pandangannya ke layar di depannya.


"Seharusnya Gara berterimakasih dengan gue." tukas Arya memainkan kedua alisnya naik turun.


"Cckk,,, dasar. Lagian ini juga bukan ide elo..!!" ketus Mikel.


"Wwiihh,,, tapi gambar di video sangat nyata. Elo lihat sendirikan. Nggak ada satu semut sama sekali." ujar Arya membanggakan dirinya.


"Itu karena gue memakai merknkamera CCTV yang te. op. pe.. Paham...!" kesal Mikel.


"Alaaahh,,, nggak ngaruh. Kalau operatornya bukan gue, pasti hasilnya akan seperti amatir. Jelek." sanggah Arya, tetap membela diri sendiri.


Mikel dan Arya malah berdebat di ruangan. Tapi kedua mata mereka tetap fokus pada kakek Timo yang sedang membuat topeng tersebut.


Rasa lapar di perut mereka seakan langsung lenyap seketika. Berganti dengan perasaan senang bercampur rasa cemas akan hasil akhir dari penyelidikan mereka.


Sedangkan di tempat lain, Bulan tak langsung masuk ke dalam kantor polisi. Dirinya menunggu rekaman video kakek Timo dikirimkan padanya, di sebuah rumah makan kecil yang ada di sebelah kantor polisi.


Juga dengan Gara, dirinya sama seperti Bulan. Yang menunggu rekaman video kakek Timo. Sebab, Bulan juga sudah menghubunginya. Jika pihak televisi menyetujuinya.


Di depan Gara, ada tiga layar yang masih dipenuhi oleh semut-semut kecil. Tiga layar tersebut adalah tiga saluran televisi yang akan dia sabotase perangkat lunaknya.


Tinggal menunggu perintah dari Bulan, dan semua akan Gara lakukan. Menyiarkan semua kelakuan Timo di televisi. Serta bukti-buktinya. Dan juga beberapa video yang berhasil mereka ambil.


Sehingga Gara akan mengendalikan tiga siaran di televisi tersebut dengan tenang. Tanpa takut terganggu oleh pihak lain. Sehingga dirinya hanya akan fokus pada rencana Bulan.


Bukan hanya di televisi, bahkan Gara juga sudah menyiapkan beberapa akun palsu untuk menyebarkan berita ini di ponsel serta media lainnya, seperti permintaan Bulan.


"Apa mereka bisa dipercaya? Apalagi, mereka tahu siapa Bulan?" gumam Gara, menebak ketiga pemilik stasiun televisi tersebut. Sembari memakan sesuatu.


Sebab dirinya juga merasa tegang. Sama seperti yang lain. Hingga melupakan waktunya sarapan.


Gara hanya takut, mereka akan mengatakan jika Bulan yang bertindak sebagai dalang atas tayangnya semua berita terkait pembunuhan berantai di televisi.


Sebab, Bulan hanya maju seorang diri. Tanpa menyebut nama lain di sampingnya. Yang artinya, jika Bulan mendapatkan hukuman dari instansinya, dia akan menanggungnya seorang diri. Dan hal tersebut yang membuat Gara khawatir.


Tanpa Gara tahu, jika Tuan David juga membantu Bulan. Dengan adanya Bulan yang bersatu dengan Tuan David, mustahil bagi mereka berani membuka suara.


Sambil menunggu video tersebut, Gara mengamati mobil Gara yang masih tenang di tempat yang sama. Tak berpindah seincipun. "Kemana dia?" tukas Gara, memainkan jari jemarinya di atas keyboard untuk mencari keberadaan Gara.


Dengan telaten, Gara mencari keberadaan Timo dengan teliti. Gara menebak pasti ada sesuatu yang sedang Timo lakukan. Sehingga Timo tak segera beranjak meninggalkan tempat kosong tersebut.


Beberapa menit Gara mencari keberadaan Timo. Dan,,,,, glekk.... kedua mata Gara membola melihat apa yang ada di layar.


Tak ada manusia, binatangpun tak apa. Begitulah Timo. Dan sekarang, Timo sedang asyik bermain dengan seekor anjing liar di sebuah rumah kosong.


Memperlakukan hewan malang tersebut dengan sesuka hatinya. Tak peduli hewan tersebut mengeluarkan suara kesakitan sekalipun.


Malah, Timo tertawa puas mendengar suara hewan yang merasakan penderitaan yang diberikan oleh dirinya. Seakan dirinya merasakan kepuasan tersendiri.


Gara menyandarkan punggungnya di sandaran kursi roda yang dia duduki sembari menggeleng tak percaya. "Sungguh psikopat." ujar Gara melihat apa yang dilakukan Timo pada hewan tak berdosa tersebut.


Ingin sekali Gara mematikan layar di depannya. Tapi dia tak bisa melakukannya. Jujur, antara tak tega dan mual yang menjadi satu. Itulah yang dirasakan Gara.


"Astaga....!!" seru Gara memejamkan kedua matanya sembari mendongak ke atas.


Masih dengan kedua mata terpejam, Gara menghela nafas menormalkan perasaan yang tak karuan di dalam hatinya. "Ayolah guys,,, kirim videonya." cicit Gara.


Gara kembali memainkan jemarinya di atas keyboard. Menyimpan secara otomatis apa yang sedang Timo lakukan di rumah kosong tersebut.


"Padahal rumah itu sudah lama kosong. Apa tidak ada hantunya." cicit Gara absurd.


"Yaeeelaa,,, memang orang gila seperti Timo takut hantu." celetuknya lagi, berbicara sendirian.

__ADS_1


''Lagian bagaimana bisa Timo mendapatkan hewan tersebut. Bukankah hewan liar seperti itu sangat galak dan sulit di taklukkan.'' lanjut Gara tak habis pikir.


Di rumah makan, meski tak memakai riasan di wajah, Bulan memang sudah nampak cantik. Ditunjang dengan kulit mulusnya, serta body goalnya. Membuat dirinya menjadi pusat perhatian para pengunjung di rumah makan tersebut.


Ada beberapa lelaki serta perempuan berseragam polisi yang juga sedang makan di tempat tersebut. Sontak saja, mereka mencuri pandang kepada Bulan.


Apa Bulan peduli? Sama sekali tidak. Bulan bahkan tidak terganggu dengan apa yang mereka lakukan.


Fokus Bulan hanya pada ponselnya. Dimana dirinya menunggu kiriman video daei anak didiknya di villa. Bulan membenarkan rambutnya, mengambil semuanya menjadi satu dan menguncirnya di belakang seperti ekor kuda. Membuat leher jenjang Bulan yang mulus terlihat begitu jelas.


Beberapa lelaki di sekitar Bulan yang seprofesi dengan dirinya hanya bisa meneguk ludah dengan kasar. Dan menghela nafas.


Sedangkan beberapa diantaranya yang perempuan menatap Bulan dengan sinis. Tentu saja mereka mengira Bulan mencari perhatian dengan apa yang dilakukan.


Beberapa menit berlalu, bahkan Bulan sudah menghabiskan segelas jus segar serta sepiring nasi dengan lauk pauknya. Tapi dirinya belum mendapatkan kirimkan video.


Dan beberapa aparat yang sempat makan di tempat yang sama dengan Bulan sudah meninggalkan rumah makan sederhana tersebut. Meski para lelaki sepertinya enggan mengangkat pantat mereka dari kursi.


Ting.... dengan tak sabar Bulan melihat apa yang masuk ke dalam ponselnya. Senyum Bulan terpampang sempurna. Dan pastinya suara tadi adalah pesan video yang dikirim oleh Jeno.


Bulan terkekeh pelan melihat tanda yang Jeno kirimkan lagi ke ponselnya. "Dasar anak kecil." gumam Bulan, dengan hati dipenuhi bunga.


Tentunya bukan hanya pada Bulan, mereka juga mengirimkannya pada Gara yang ada di markas. Tapi entah ponsel siapa yang digunakan untuk mengirimkan video pada Gara.


Tapi,, sepertinya Arya. Sebab Arya pastinya ingin pamer pada Gara. Dengan apa yang dia lakukan.


Bulan memindah video tersebut ke flash disk. Lalu membersihkan semua yang ada di ponselnya. Termasuk menghapus beberapa kontak teleponnya. Juga nomor ponsel Jeno dan Gara.


"Selesai. Kalian bekerja dengan baik." puji Bulan pada mereka yang ada di villa.


Bulan memasukkan semua bukti ke dalam amplop besar berwarna coklat. "Sekarang, waktunya gue dan Gara yang bekerja. Kalian, duduklah manis melihat hasil kerja kita selama ini." batin Bulan, melangkahkan kakinya keluar dari rumah makan. Setelah membayar minuman yang dia minum.


Seperti tebakan Bulan, mereka yang ada di villa mengambil makanan di meja makan. Dimana makanan tersebut telah dimasak oleh mama Rio yang dibantu kakek Timo.


Mereka tidak makan di meja makan. Melainkan makan di ruang tengah, sembari menonton televisi. Tentunya mereka juga penasaran, apa yang akan ditayangkan oleh Bulan dan Gara di layar televisi.


Dan Bulan, dia sudah menginjakkan kakinya di pekarangan kantor polisi. "Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang polisi, saat Bulan masih berada di halaman kantor kepolisian.


Belum sempat Bulan menjawab, dia sudah mengatakan sesuatu lagi. "Silahkan, lebih baik kita bicara di dalam. Di sini terlalu panas." ajaknya. Dan dia adalah salah satu anggota polisi yang makan di rumah makan tadi.


Bulan hanya diam, melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. Beberapa petugas kepolisian yang sedang bekerja di mejanya menatap ke arah Bulan dan rekan mereka yang baru saja masuk.


Tentunya beberapa dari mereka mengetahui wajah Bulan. Sebab mereka baru saja melihat Bulan di rumah makan yang berada tepat di depan kantor mereka.


"Maaf, atasan kami sedang sibuk. Katakan saja, alasan kamu mendatangi kantor ini. Biar kami yang menyelesaikan masalah kamu." sahut seorang polisi wanita dari kursinya.


Bulan memandang sekilas wanita tersebut. Terlalu lama, dan Bulan tak punya waktu bermain-main. Dikeluarkan ponselnya dari dalam saku, lali dia menghubungi seseorang.


Bulan tahu, jika semua mata sedang mengarah padanya. Sebab dia malah menghubungi seseorang, bukannya duduk di kursi untuk mengatakan alasannya datang ke tempat ini.


"Saya sudah berada di depan. Tolong, buka pintu ruangan anda." pinta Bulan dengan nada tegas.


Tanpa menunggu lawan bicaranya membalas ucapannya, Bulan memutuskan sambungan teleponnya. Bulan mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. Lalu tersenyum miring.


"Gara, sebentar lagi bagian elo untuk beraksi, kawan." batin Bulan.


Hanya membutuhkan hitungan detik, pintu ruangan kepala kepolisian tersebut terbuka. Segera beliau menghampiri Bulan.


Bulan berdiri dengan tegap, dan memberi hormat. Begitu juga dengan sang kepala. "Maaf, membuat anda kesulitan untuk masuk." tuturnya merasa tak enak hati.


"Tidak apa-apa pak, saya paham." cicit Bulan setelah menurunkan telapak tangannya di samping kening.


Semua yang berada di tempat tersebut pastinya bertanya dalam hati, tentang siapa Bulan. Kenapa dengan mudah, dia bisa bertemu dengan pimpinan mereka.


Bulan tersenyum melihat sang kepala kantor menatap ke arah map yang dia bawa. "Atasan saya mengatakan, untuk menyerahkan ke kantor polisi di kota ini. Meski kejadiannya ada di beberapa tempat. Bukankah di kota ini, dia membuat banyak daftar korban." sindir Bulan, sembari melihat ke sekitarnya. Dimana semua mata memandangnya.


Sang kepala kantor tersenyum kaku. Antara malu bercampur kesal dengan apa yang Bulan katakan. Secara tak langsung, Bulan mengatakan jika mereka tak becus menangani masalah ini.


Kepala kantor tersebut memang sudah diberitahu oleh atasan Bulan yang berada di pusat. Jika Bulan yang akan mengambil alih kasus tersebut. Tapi beliau mendapatkan kabar seminggu yang lalu.


Siapa yang akan mengira, jika Bulan datang begitu cepat. Dan lagi, sang kepala mengira jika Bulan masih akan memulai penyelidikan. Bukan datang untuk menyerahkan hasil penyelidikan.


"Silahkan masuk. Kita bisa bicara di dalam." ajak sang kepala.


"Di sini saja. Saya hanya ingin menyerahkan semua laporan saya. Dan tugas kalian. Menangkap pelaku." tekan Bulan.


"Tunggu, maaf menyela. Apa maksudnya?" tanya seorang anggota yang penasaran. Sama seperti yang lainnya.


"Dia Bulan. Anggota kepolisian pusat. Dia diberikan wewenang untuk mengambil alih dan mengungkap pembunuhan berantai yang terjadi di kota kita. Dan beberapa kota tetangga." jelas pak kepala.


"Selamat datang. Sepertinya kita akan bekerjasama dengan baik." sahut anggota yang lain.

__ADS_1


Bulan tersenyum. Mereka pasti mengira Bulan naru saja datang. Dan baru akan memulai penyelidikan. "Khemm..." sang kepala berdehem dengan raut wajah terlihat kaku.


"Kita tidak perlu bekerjasama. Saya sudah mengantongi namanya. Tinggal menangkapnya saja. Mudah bukan." ujar Bulan menunjukkan sisi arogannya.


Semua anggota yang berada di ruangan tersebut berdiri tak percaya. Bersamaan dengan mereka yang berdiri, saluran televisi yang awalnya menyiarkan tentang berita, kini berubah menyiarkan berita terkait pembunuhan Timo.


"Apa ini....?? Bagaimana bisa...??" seru seorang anggora kepolisian tak percaya.


Sang kepala menatap Bulan dengan mengeraskan rahangnya. Tapi, Bulan hanya tersenyum tenang. Seolah semuanya akan berjalan sesuai rencananya.


"Hubungi televisi tersebut. Bagaimana bisa mereka menyiarkan ini. Padahal kita belum mengatakan apapun...!" seru seorang anggota polisi.


"Lihat. Bukan hanya satu saluran. Tapi tiga." seru yang lain, dimana tangannya memegang remote.


"Astaga,, bahkan media sosial di ponsel juga menyiarkan hal yang sama." timpal yang lain, melihat ke layar ponselnya.


"Biarkan saja." ujar kepala polisi, saat bawahannya ingin menuju ke tempat di mana televisi tersebut di putar.


"Tapi pak,,, mereka menyalahi aturan." ucapnya.


"Bagaimana jika sistem perangkat lunak mereka di bobol oleh seseorang yang hebat." tukas sang kepala.


"Hacker." timpal anggota yang lain.


Bulan bersedekap dada. Memandang ke arah televisi. "Hebat juga Gara merangkai semuanya." batin Bulan memuji rekan kerjanya tersebut. Sehingga publik akan dengan mudah menangkap apa isi berita tersebut.


"Pak,,, bukankah kita juga memiliki orang yang ahli di bidang perangkat lunak." tuturnya.


Sang kepala kepolisian menatap ke arah Bulan, lalu menghela nafas. Beliau seakan bisa menebak. Jika Bulan lah yang menginginkan semua ini tersebar di dunia maya. Sehingga semua orang tahu.


"Kalian tidak akan bisa menandinginya. Hanya akan membuang-buang waktu." ujarnya.


Meski Bulan saat ini berada di kantornya, tapi dia yakin jika Bulan adalah pemegang kendali atas semuanya. Dan dia, sangat tahu siapa Bulan. Dan bagaimana kehebatannya.


Sayangnya, dia tidak mempunyai bukti. Sebab tayangan di televisi tersebut tersebar di saat Bulan sedang bersama dengannya.


"Bagaimana dia bisa mengetahui, jika lelaki itu adalah pelakunya?" heran seorang anggota kepolisian.


Semua mata terbelalak, saat kakek Timo membuat topeng yang sama persis seperti wajah manusia. "Itu,,,, bagaimana bisa dia melakukannya?" seru yang lain.


"Kita harus segera mencarinya. Dan menangkapnya. Hanya dia yang bisa kita jadikan saksi." timpal yang lain.


Bulan menyerahkan map yang ada di tangannya. "Sebaiknya segera di proses. Kita berkejaran dengan waktu." tukas Bulan.


Bulan mendengar ada bisik-bisik di belakangnya. Tapi Bulan hanya tersenyum miring. Tak penting bagi Bulan untuk mengurusinya.


"Lakukan sekarang." perintah sang kepala terhadap bawahannya.


"Baik pak." sahutnya dengan tegas.


Ting.... Bulan membuka ponselnya. Sebelah alis Bulan terangkat ke atas. "Maaf pak, jika diperkenankan. Saya ingin meminjam beberapa bawahan bapak." pinta Bulan.


"Saya sudah mengetahui dimana pelaku berada." ujar Bulan.


Semua terdiam. Kepala polisi hanya bisa menahan emosinya. Dirinya seperti dipermalukan Bulan di hadapan bawahannya. Meski Bulan melakukannya dengan cara yang halus.


"Baik. Katakan berapa yang kamu inginkan. Sepuluh, dua puluh?" tanya beliau.


Bulan terkekeh pelan. "Tidak sebanyak itu. Saya hanya ingin menangkap seorang saja. Bukan kelompok pengendara obat-obatan terlarang." sindir Bulan.


Sang kepala tersenyum terpaksa seraya mengangguk. "Baiklah. Katakan."


Bulan cukup tahu apa yang sekarang dirasakan lelaki yang berada di depannya. "Andre dan Hilman. Cukup mereka berdua." ucap Bulan menyebut nama dua anggota di kepolisian tersebut. Dan dua orang tersebut sangat bar-bar saat menjalankan tugas.


"Kamu yakin?" tanya sang kepala menatap Bulan dengan bingung. Bulan mengangguk.


Dua lelaki bertubuh tegap, tinggi dan besar berdiri di samping Bulan. "Siap. Kami bersedia." ujar mereka serempak.


"Lepaskan atribut kalian. Kita akan berpakaian santai. Tidak perlu membawa senjata." pinta Bulan.


Andre dan Hilman saling pandang. Lalu mereka kembali menatap ke arah Bulan. "Baik. Siap." seru keduanya bersamaan.


"Sekarang." tegas Bulan.


Bulan menatap sang kepala dengan senyum. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah anggota yang sedang membuka amplop yang dia berikan. "Maaf pak,,, jika boleh meminta. Tolong, jangan sentuh lelaki yang ada di video tersebut." pinta Bulan. Lelaki yang Bulan maksud adalah kakek Timo.


Sedari tadi, Bulan mengatakan maaf saat memulai percakapan. Yang akhirnya dia akan meminta sesuatu. Namun sayangnya, semua yang Bulan pinta hanya bisa disetujui oleh sang kepala kantor tanpa bisa membantah.


Entah beliau mengatakan setuju dengan ikhlas, atau karena terpaksa. Bulan tak peduli. Yang terpenting, apa yang Bulan rencanakan berjalan dengan lancar. Dan Bulan tak segan menyingkirkan duri yang menghalanginya.


''Lelaki tua itu?" tanya sang kepala.

__ADS_1


"Benar. Dia ada di tangan saya. Dan siapa yang berani mengusiknya, saya juga akan mengusik orang tersebut." tegas Bulan.


"Baik." tekan sang kepala menahan amarahnya.


__ADS_2