PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 108


__ADS_3

"Astaga,,, Jeno..!" geram Bulan, seraya meletakkan telapak tangannya di depan dada.


Jeno hanya tersenyum memamerkan deretan giginya, berdiri tepat di pintu ruang ganti. "Ngapain kamu masuk?" tanya Bulan jengkel.


Padahal Bulan sudah mengatakan supaya Jeno menunggunya di luar saja. "Aku lihat Sella." tukas Jeno memberitahu Bulan, kenapa dirinya malah menyusul Bulan.


Bulan mengernyitkan dahinya. "Sella?" tanya Bulan memastikan. Karena saat ini masih pagi. Dan pastinya para siswa masih berada di lingkungan sekolah. Atau masih berada di dalam kelas untuk belajar.


"Memang dia nggak masuk sekolah?" tanya Bulan. Jeno hanya mengangkat kedua pundaknya tanda dirinya tidak mengetahui hal tersebut.


Beberapa menit yang lalu, Jeno melihat Sella turun dari mobil. Awalnya Sella berjalan menuju ke toko pakaian tanpa melihat sekelilingnya.


Entah kenapa, saat berada di ambang pintu, Sella menghentikan langkahnya. Dan malah kembali ke parkiran. Menatap mobil Jeno dengan intens.


"Bodoh,,, kenapa gue memakai mobil ini." geram Jeno menyalahkan dirinya sendiri. Sebab memakai mobil yang biasanya dia pakai untuk pergi ke sekolah. Bukan mobil uang dia pakai semalam.


Alhasil, Jeno langsung berpindah tempat duduk. Bersembunyi di kursi belakang, tapi duduk di bawah. Berharap Sella tidak melihatnya.


Jeno bernafas lega, Sella tidak melihat dirinya saat dia mengintip ke dalam dari balik kaca mobil. "Cckk,,, hapal sekali dia mobil gue." decak Jeno.


Jeno memastikan jika Sella masuk ke dalam toko pakaian. Segera dia turun dari mobil, mengikuti Sella dari jarak yang dia rasa aman. Dan Sella tak akan tahu.


Saat Sella berjalan ke arah lain, segera Jeno bertanya pada salah satu karyawan mengenai keberadaan Bulan.


Yang ternyata Bulan masih berada di dalam kamar ganti. Jeno hanya tidak mau jika sampai Sella melihat Bulan di toko ini.


Padahal, tidak akan terjadi apapun dan akan tetap aman, misalkan Sella bertemu dengan Bulan. Sebab Sella juga tidak tahu jika Bulan datang bersama dengan dirinya.


Jeno memang aneh. Dia memilih untuk menyusul Bulan dan segera mengajaknya meninggalkan toko pakaian.


Dikarenakan Bulan masih berada di ruang ganti, Jeno menunggu di depan ruangan tersebut. Dengan kedua mata melihat ke sekitar. Takut jika Sella memergokinya.


"Lalu Sella di mana?" tanya Bulan.


Belum sempat Jeno menjawab apa yang Bulan katakan, Jeno mendorong tubuh Bulan untuk masuk kembali ke ruang ganti.


"Hussttt..." Jeno membungkam mulut Bulan, saat Bulan hendak protes atas apa yang dilakukan Jeno.


"Ada Sella." ucap Jeno hanya menggerakkan bibir, tanpa bersuara.


Bulan memutar kedua matanya dengan jengah, menyingkirkan telapak tangan Jeno dari mulutnya. Lalu sedikit mendorong tubuh Jeno ke belakang. Sebab tubuhnya dan tubuh Jeno terlalu mepet. Hanya ada sekat beberapa centi saja.


Bulan sedikit menjauh, membalikkan badannya dengan membelakangi Jeno. Bulan menempelkan telinganya di pintu kamar pas. Memejamkan sejenak kedua matanya. Memfokuskan indera pendengarnya untuk mendengar suara yang berada di luar kamar pas.


Bulan memang mendengar beberapa suara. Dirinya juga bisa mengenali salah satu pemilik suara. Yakni milik Sella.


Bulan pernah berbincang dengan Sella saat mereka bertemu di sekolah. Oleh karenanya, dia tentunya pernah mendengar suara Sella. "Ternyata benar, ada dia." batin Bulan.


Yang awalnya Bulan tidak percaya dengan Jeno. Bulan mengira jika Jeno berbohong. Ternyata apa yang Jeno katakan benar.


Jeno tersenyum samar. Tentu saja di dalam otaknya yang kecil sudah ada rencana dadakan. Pastinya dia ingin membuat Bulan salting.


Tapi entahlah, Bulan yang salah tingkah. Atau malah Jeno sendiri yang akan baper dengan apa yang dia lakukan.


Kedua mata Bulan melotot sempurna, merasakan sentuhan di pinggang rampingnya. Bulan ingin menepis tangan Jeno.


Sayangnya, Jeno bergerak lebih cepat. Dia memeluk tubuh Bulan dari belakang dengan erat. "Jangan berisik, nanti terdengar dari luar." bisik Jeno tepat di samping telinga Bulan.


Ingin sekali Bulan membalikkan badan dan memukul kepala Jeno. Namun Bulan hanya bisa menghembuskan nafas kasar.


"Jeno,,, jangan begitu." kesal Bulan, dimana Jeno meletakkan kepalanya di pundak Bulan. Dengan wajah mengarah wajah Bulan. Sehingga hidung Jeno menyentuh pipi Bulan.


"Kamu wangi banget sih sayang." goda Jeno.


Bulan hanya diam tak bereaksi. Sungguh, dalam benaknya memikirkan mereka yang ada di villa Mikel.


"Jeno..." geram Bulan, merasakan paha Jeno mengenai pantatnya.


"Apa sayang...." bisik Jeno dengan nada parau. Hidungnya terus mengendus wangi tubuh Bulan yang membuatnya candu.


Lagi-lagi, Bulan hanya bisa menghela nafas kasar, saat merasakan pelukan Jeno semakin kencang. "Tuhan, anak ini benar-benar...!!" geram Bulan dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa usiaku masih belasan tahun." gumam Jeno terdengar jelas di telinga Bulan. Sebab memang bibir Jeno tepar berada di sebelah telinga Bulan.


"Memang kenapa?" lirih Bulan. Sebab suara Jeno terdengar seperti sebuah penyesalan.


'Jeno semakin mengeratkan pelukannya. Mencari tempat ternyaman untuk menaruh kepalanya. "Jika saja usiaku sudah berkepala dua, pasti aku akan segera menikahi kamu." cicit Jeno terdengar tulus.


Darah Bulan berdesir mendengar penuturan dari lelaki yang memeluknya dari belakang tersebut. Ada perasaan hangat menjalar di relung hati Bulan.


Entah karena memang ini pertama kalinya bagi Bulan berdekatan dengan lain jenis, atau karena memang Bulan sudah jatuh cinta terhadap anak didiknya tersebut.


Tangan Bulan terulur membelai rambut Jeno dengan pelan. "Jika usia kami segitu, mungkin kita akan terlambat bertemu. Kamu sudah dengan perempuan lain. Dan akupun sama. Mungkin, malah aku sudah berlekuarga." jelas Bulan dengan sabar.


Tak pernah Bulan sesabar ini menghadapi lelaki. Apalagi, selama ini Bulan merasa hanya akan membuang-buang waktu saja jika dirinya menjalin hubungan dengan lawan jenis.


Jeno tersenyum senang mendapatkan elusan di rambutnya. "Lepas sekarang. Teman-teman kamu sudah menunggu kita." tekan Bulan dengan nada lirih.


Senyum Jeno seketika menguap bersama dengan ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Bulan. "Bisa-bisanya kamu merusak suasana." sungut Jeno.


Bulan tersenyum, merasa lucu dengan sikap Jeno. "Yang ada kamu, yang tidak mengerti keadaan. Bisa-bisanya ngegombal di saat kita sedang terburu-buru."


"Kan aku sudah bilang, ada Sella di depan." tukas Jeno membela diri.


"Dan sekarang dia sudah pergi." jelas Bulan.


Jeno menaikkan sebelah alisnya. Dari mana Bulan tahu, padahal mereka berdua berada di dalam ruang ganti. Sementara ruang ganti tersebut sama sekali tidak memiliki celah. Meski hanya sedikit saja.


"Kamu paranormal?" tanya Jeno dengan wajah polosnya, terheran dari mana Bulan bisa mengetahuinya.


"Paralayang." celetuk Bulan, membuka pintu kamar ganti.


Tentu saja Bulan langsung membuka pintu tanpa khawatir jika ada yang melihatnya. Sebab dirinya tahu jika sudah tidak ada siapapun di depan kamar ganti tersebut.


"Ceroboh sekali, bagaimana jika di depan tadi masih ada Sella atau karyawan toko." gumam Jeno, saat Bulan membuka pintu begitu saja.


Jika saja Bulan mendengar apa yang Jeno katakan barusan. Pasti dia hanya akan tersenyum menang.


Keduanya dengan segera meninggalkan toko tersebut. Khawatir jika Sella masih berada di sekitar toko pakaian tersebut.


Tanpa keduanya tahu, dari dalam toko pakaian sepasang mata menatap ke arah mereka dengan lekat. Dimana Bulan dan Jeno masuk ke dalam satu mobil.


Sementara di villa Mikel, mama dari Rio menangis serta berteriak histeris. Tentu saja beliau tak serta merta percaya begitu saja dengan apa yang dia lihat.


Apalagi, selama ini beliau selalu bersama sang putra. Bahkan tinggal satu atap. Bagaimana bisa, dengan tiba-tiba. Tanpa ada angin dan tak ada hujan, seseorang lelaki mengaku sebagai putranya.


Apalagi, semalam dirinya diculik dan dibawa ke rumah ini. Ditambah, tiga lelaki di sekitarnya memakai penutup wajah.


Tentunya hal tersebut membuat mama Rio tak mudah percaya dengan apa yang ada di depan matanya.


Meski mama Rio menolak keberadaan Rio, tapi hati kecil beliau tak bisa dibohongi. Meski kondisi Rio sudah tak seperti dulu, tetap saja beliau bisa mengenalinya.


Hanya saja, mama Rio didera kebingungan yang luar biasa. Bagaimana bisa ada dua sosok Rio yang dia tahu. Padahal selama ini, Rio tidak punya kembaran.


Ditambah lagi, keadaan Rio yang dihadapannya saat ini sangatlah mengenaskan. Membuatnya sedikit ragu, tapi beliau tetap tak bisa mengelak jika di depannya adalah putranya. Sungguh, kenyataan yang membuat beliau kebingungan.


Jevo dan Arya, serta Mikel tak bisa memberi penjelasan yang logis pada mama Rio. Tentu saja mereka kebingungan untuk menyampaikan dari mana mereka memukai membuka semua kejadian ini.


Dan satu-satunya cara, Mikel dan Jevo terpaksa memberikan mama Rio obat bius kembali. Supaya beliau bisa tenang.


Mereka hanya bisa menunggu kedatangan Bulan untuk menyelesaikan semuanya.


Keempat lelaki duduk dengan suasana hening di antara mereka. Tak ada yang mengeluarkan suara, setelah Jevo dan Mikel membawa mama Rio masuk ke dalam kamar.


Juga dengan Jevo, yang harus mengobati terlebih dahulu telapak kaki mama Rio yang terkena pecahan vas bunga.


Dan untuk kakek Timo, beliau masih berdiri dengan tatapan kedua mata yang sulit diartikan. Selama mama Rio berteriak histeris, hingga beliau terpaksa di bius Jevo dan Mikel, kakek Timo hanya diam tak bereaksi. Entah apa yang ada di dalam benaknya.


"Duduklah kek." pinta Arya.


Bukannya duduk, sang kakek malah berjalan menghampiri Rio dengan kedua mata tak berkedip. Beliau menghentikan langkahnya tepat di depan Rio.


Namun, Mikel dan Arya serta Jevo seakan bisa menebak apa yang ada dalam benak kakek Timo. Semua dikarenakan beliaulah yang membuat topeng tersebut. Dan tentunya beliau juga tahu bagaimana wajah Rio yang sesungguhnya.

__ADS_1


Kakek Timo hanya berdiri dan menatap ke arah Rio tanpa bersuara. Dengan pelan, Rio menggerakkan kepalanya. Meski dirinya tak bisa melihat tapi indera penciumannya dan indera pendengarannya berfungsi dengan sangat baik.


"Siapa di sana?" tanya Rio, dengan tangan meraba ke sampingnya. Mencari keberadaan Arya. Dirinya merasa nyaman jika Arya ada di sampingnya. Mungkin karena Arya selalu berbincang dengan Rio menggunakan karakter Arya yang sedikit tengil dan apa adanya.


Arya tahu jika Rio mencarinya. Segera Arya memegang telapak tangan Rio. Membuat wajah cemas Rio seketika lenyap. "Beliau kakek dari Timo." cicit Arya memberitahu.


Rio mengernyitkan keningnya. Ekspresi wajah yang tadi tenang, seketika kembali merasa cemas. Arya saja merasakan Rio semakin erat menggenggam tangannya.


"Tenang, kami sengaja membawanya ke sini. Jika tidak, kami takut jika beliau juga akan menjadi korban Timo selanjutnya." jelas Arya, tak ingin Rio merasa khawatir.


Dan malah akan mengira jika mereka semua adalah pembohong yang berpura-pura ingin menolongnya. Padahal ada kakek Timo di antara mereka. Dan Rio malah mengira mereka berkomplot dengan Timo.


"Maksudnya?" tanya Rio dengan penasaran. Apalagi Arya memperkenalkan beliau sebagai kakek dari Timo. Tapi Arya juga mengatakan jika beliau bisa akan menjadi korban selanjutnya.


"Kami tidak bisa menjelaskan sekarang. Ada yang lebih paham dari kami. Dan beliau sedang dalam perjalanan." sahut Mikel.


"Kamu Rio?" tanya kakek Timo dengan suara bergetar.


"Iya kek, dia Rio." bukan Rio yang menjawab, tapi Jevo.


Tubuh kakek Timo merosot ke lantai, dan langsung menangis. Bahkan Rio sampai berdiri karena terkejut. Tapi, Arya segera memegang salah satu pundak Rio dari samping.


"Tenang, jangan khawatir." ujar Arya, membuat Rio duduk kembali di kursi.


Jevo dan Mikel segera membantu kakek Timo berdiri dan duduk di kursi. Tampak jelas ekspresi penyesalan yang sangat dalam dari raut wajah kakek Timo.


Pandangan beliau tak lepas dari sosok Rio. Air mata terus mengalir dari kedua kelopak matanya tanpa bisa berhenti.


Jevo segera berdiri, berlari ke belakang untuk mengambilkan segelas air mineral untuk kakek Timo. "Minum kek." ujar Jevo menyodorkan minuman tersebut.


Terdengar dengan jelas suara isak tangis dari kakek Timo. Tangis yang sedikit mereda, kembali lagi terisak saat beliau melihat keadaan Rio dengan kedua mata kepalanya sendiri.


"Biadab. Dia lebih kejam dari pada binatang. Terkutuk...!!" seru kakek Timo dengan ucapan yang terbata karena masih menangis.


Mikel dan Jevo saling pandang. Mereka bisa merasakan bagaimana terpukulnya sang kakek. Padahal selama ini, yang Timo katakan adalah Rio sudah meninggal dalam kecelakaan.


"Timo...!! Terkutuk...!! Sungguh betapa kejinya dia...!" lagi-lagi, sang kakek mengucapkan kata kasar yang dia tujukan pada sang cucu. Dengan tangis yang belum reda.


Kakek Timo yang hanya melihat keadaan Rio, bisa merasa terpukul. Bagaimana jika beliau melihat bagaimana Timo mengeksekusi dokter Vinc. Pasti beliau akan semakin merasa bersalah.


Rio mendengarkan dalam diam. Ada rasa sedih saat indera pendengarannya mendengar tangisan kakek dari Timo.


Dirinya bisa merasakan, setiap perkataan yang keluar dari mulut sang kakek adalah sebuah kesungguhan. Terlepas dari dirinya adalah kakek dari Timo.


"Maaf, datang terlambat." ucap Bulan yang baru saja bergabung dengan mereka. Juga dengan keberadaan Jeno di samping Bulan yang memakai penutup wajah.


Entah mengapa, Bulan tidak memakai penutup wajah seperti yang sebelumnya. Bulan menatap kakek Timo yang juga tengah menatapnya.


Arya dan Jevo, juga Mikel sebenarnya bertanya-tanya, kenapa Bulan tidak memakai penutup wajah. Kenapa Bulan seperti sengaja memperlihatkan wajahnya pada kakek Timo dan mama Rio.


Sedangkan Jeno, dia masih menyembunyikan wajahnya dibalik kain yang dia gunakan untuk menutupi wajahnya. Sama seperti yang lain.


Dan itu artinya, Bulan memang masih menginginkan mereke berempat untuk merahasiakan wajah mereka dari mama Rio dan kakek Timo.


Entah apa alasan Bulan melakukan hal tersebut. Membuka penutup wajahnya, tapi tetap merahasiakan wajah dari keempat muridnya.


"Kenapa kamu menolong saya? Kenapa kamu tidak membiarkan saya mati? Mungkin dengan begitu, semua dosa saya akan terampuni." cicit kakek Timo.


Dirinya sangatlah yakin jika sosok perempuan cantik di depannya yang sudah menggagalkan upayanya untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.


Bulan duduk di kursi single. Menatap dengan lembut kakek Timo yang terlihat terpukul. "Anda mungkin akan meninggal tanpa meninggalkan rasa bersalah. Tapi saya, akan merasa bersalah jika membiarkan anda meninggal sekarang." jelas Bulan.


"Jika saat ini, saya membiarkan anda meninggal. Maka Timo akan semakin menggila. Dan akan banyak lagi manusia yang akan menyusul anda ke alam baka. Lewat tangan Timo." lanjut Bulan.


"Saya tidak menyelamatkan anda tanpa tujuan. Ingat, dan jangan pernah lari dari kenyataan. Bahwa anda ikut andil dalam kejahatan yang Timo lakukan." tegas Bulan, tanpa memandang lelaki tersebut sudah berumur alias tua.


"Jangan menjadi pengecut di usia anda yang sekarang. Bertanggung jawablah atas apa yang anda lakukan." tegas Bulan.


"Aku akan berbicara dengan Timo. Mungkin dia akan berhenti melakukan perbuatannya." pinta kakek Timo, merasa jika dirinya masih begitu berarti di mata Timo.


Bulan terkekeh pelan. "Anda berpikir, Timo masih menganggap anda sebagai kakeknya. Salah besar. Lihat, anda tinggal di mana, dan Timo tinggal dimana. Anda seharusnya tahu, anda makan apa setiap hari. Dan Timo makan apa." ujar Bulan mencoba membuat sang kakek mengerti, jika dirinya hanya dimanfaatkan oleh Timo.

__ADS_1


Bulan sadar, meski kakek Timo mengutuk apa yang dilakukan Timo. Tapi sebagai seorang kakek yang selama ini membesarkannya, tentu saja beliau masih memiliki rasa sayang terhadap sang cucu. Terlepas apa yang pernah dilakukan Timo.


Dan sekarang bagian Bulan untuk menyakinkan kakek Timo. Jika selama ini beliau hanya diperalat oleh Timo. Tidak lebih. Sehingga kakek Timo akan melakukan apapun yang Bulan katakan.


__ADS_2