PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 102


__ADS_3

Tiiiittt..... tiiiiittt.... Suara bunyi klakson berkali-kali, terdengar nyaring di depan villa Mikel. Siapa lagi pelakunya jika bukan Arya yang sedang membawa kakek Timo.


"Sialan..!! Pasti Arya." tebak Jevo sembari berjalan bersama dengan Mikel menuju ke teras depan rumah.


"Malam Arya,,,!! berisik sekali sih elo...!!" tegur Mikel merasa kesal dengan ulah sahabatnya tersebut, Arya.


Tanpa turun dari mobil, Arya menaruh lengannya di jendela mobil. Melihat kedua sahabatnya sembari memamerkan deretan giginya yang rapi dan bersih. "Santai brow,, jauh dari perumahan warga." sahutnya merasa tak bersalah.


"Terserah elo." Mikel membalikkan badan. Hendak kembali masuk ke dalam rumah. Juga dengan Jevo.


"Eeehh,,, kalian mau ke mana? Bantu gue...?!" seru Arya.


Tanpa mengatakan apapun, Mikel dan Jevo kembali. Memandang Arya dengan lekat. "Orangnya ada di kursi belakang." jelas Arya.


"Gue mau masukin mobil elo ke bagasi lagi." sambung Arya. Mengatakan alasan kenapa dirinya memanggil keduanya.


Mikel dan Jevo sejenak saling bertatapan. "Memang elo bawa siapa?" tanya Jevo.


"Kakeknya Timo." jelas Arya.


Jevo dan Mikel memasang ekspresi aneh. "Cepat...!! Gue juga mau masuk ke dalam." seru Arya, lantaran keduanya malah diam di tempat.


"Lalu bu Bulan sama Jeno mana?" tanya Mikel.


"Ccckk,,, nanti gue jelasin di dalam. Ayok buruan, keluarkan kakek di kursi belakang." ujar Arya.


Mikel dan Jevo mengeluarkan sang kakek dari mobil. Menidurkannya di kamar yang terletak di samping kamar mama Rio.


Pandangan keduanya tak lepas dari leher kakek Timo. Sepemikiran. Pastinya mereka berpikir hal yang sama melihat tanda tersebut.


"Kelihatannya dia mau bunuh diri." tukas Mikel setelah membaringkan sang kakek di ranjang besar dan empuk.


Jevo hanya diam, mengangguk pelan. "Kita keluar, tanya Arya supaya lebih jelas." saran Jevo.


Keduanya keluar dari kamar. Didapatinya Arya sudah duduk di kursi dengan meneguk sisa minumannya yang tadi sempat dia minum sebelum menyusul Jeno.


"Bagaimana bisa?" tanya Mikel.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" lanjut Jevo, sebelum Arya menjawab pertanyaan Mikel.


Arya menaruh botol kosong di atas meja. "Gue sendiri juga tidak terlalu paham apa yang terjadi." Arya menjeda kalimatnya.


Mikel dan Jevo tak lantas memotong perkataan Arya. Keduanya mendengarkan apa yang hendak Arya sampaikan. "Saat gue dan Jeno sampai di sana, kita melihat bu Bulan dalam keadaan lemas. Dengan kakek Timo sudah pingsan di samping bu Bulan.'' jelas Arya.


Mikel dan Jevo saling pandang sejenak. Sebelum keduanya kembali memandang ke arah Arya. ''Bu Bulan menyuruh gue untuk membawa kakek Timo ke sini. Soal kenapa kakek Timo bisa pingsan, gue nggak tahu alasannya." jelas Arya mengatakan apa yang dia lihat.


"Tunggu, Bulan lemas. Maksud elo?" tanya Jevo penasaran.


"Sorry gue juga nggak tahu. Gue hanya melihat saja." tukas Arya.


Sebab, saat Bulan mengatakan jika dirinya terkena racun, Bulan hanya mengucapkannya dengan nada lirih di dalam pelukan Jeno. Sehingga Arya tak bisa mendengarkannya dengan jelas.


"Lalu kemana mereka perginya?" tanya Mikel.


"Entahlah. Tapi yang pasti, Jeno membawa bu Bulan untuk menyelematkan beliau." ujar Arya dengan yakin.


Jevo mengambil ponselnya di dalam saku jaket. Dirinya merasa tidak tenang, setelah mendengar keadaan Bulan. Bukan hanya Jevo, Arya dan Mikel pun juga merasa cemas.


Jevo tentu saja menghubungi saudara kembarnya, Jeno. Menanyakan keberadaan mereka, serta bertanya tentang keadaan Bulan.


"Di mama kalian? Bagaimana keadaan Bulan?" tanya Jevo berentet saat panggilan teleponnya di angkat oleh Jeno.


Jevo terdiam, mendengarkan apa yang Jeno katakan. Beberapa kali Jevo mengangguk pelan. "Baiklah. Jangan khawatir. Kita akan berjaga di sini." tukas Jevo, sebelum mematikan sambungan teleponnya dengan Jeno.


"Bagaimana?" tanya Mikel dengan tidak sabar, saat obrolan Jevo dan Jeno di ponsel berakhir.


"Jeno membawa Bulan pulang. Dan keadaan Bulan, baik-baik saja. Dia sudah diperiksa oleh dokter." jelas Jevo.


Keadaan hening sesaat. Ketiganya saling pandang. Lalu menunjukkan ekspresi yang sama. Dan semua dikarenakan kata rumah yang baru saja Jevo katakan.


Arya menyenderkan punggungnya di kursi. "Pulang ke rumah. Rumah Om David. Rum-rumah kalian?" tanya Arya memastikan.


Jevo tak lantas segera menjawab. Otaknya juga sama dengan Mikel yang masih mencerna. "Astaga." Jevo menyugar kasar rambutnya ke belakang.

__ADS_1


Ketiganya langsung memikirkan Jeno yang dengan berani membawa Bulan pulang ke rumah. Selain memikirkan kenapa Bulan bisa bersama dengan Jeno.


Ketiganya juga berpikir, bagaimana Jeno menjelaskan apa yang terjadi dengan Bulan pada Tuan David serta Nyonya Ratna. Sehingga bisa mengalami hal seperti itu.


"Aahh,,, biar saja. Itu urusan Jeno. Salah sendiri. Kenapa malah membawa bu Bulan pulang ke rumahnya." seru Mikel dengan suara tertahan.


"Terus mau di bawa ke mana? Keadaan bu Bulan tadi sangat lemas. Wajahnya saja sangat pucat." sahut Arya.


"Kenapa nggak di bawa ke markas. Gue yakin, di sana juga banyak obat untuk mengobati bu Bulan. Lagi pula Gara juga ada di sana. Dia pasti bisa diandalkan." sanggah Mikel.


"Mungkin, karena waktu dan jarak." timpal Jevo.


"Betul. Tempat bu Bulan dan kakek Timo lebih dekat jika di bawa ke rumah Om David." jelas Arya.


Itulah alasannya kenapa Jeno lebih dulu sampai di rumah. Sementara Arya baru sampai di villa Mikel. "Memang di mana tempatnya?" tanya Mikel penasaran.


"Tempat Timo membuang jasad dokter Vinc." ujar Arya.


"Pantas, Jeno memilih membawa bu Bulan pulang ke rumahnya. Tapi,,, hebat juga si Jeno. Berani membawa bu Bulan pulang ke rumah." tukas Mikel tersenyum.


Berbeda dengan Mikel dan Arya yang bernafas lega dan tidak lagi khawatir seperti sebelumnya, Jevo masih diam dan cemas memikirkan saudara kembarnya.


"Tenang saja. Gue yakin Jeno sudah memikirkannya dengan matang. Dia lelaki yang hebat." ujar Mikel, paham atas apa yang di khawatirkan oleh Jevo.


"Oh iya,,, apa kabar dengan Timo?" celetuk Arya tersenyum senang, kepikiran tentang Timo.


"Jika elo mau tahu, datangi saja rumah Rio." sahut Mikel.


"Ogah, ngapain. Setor nyawa." pungkas Arya dengan kesal.


Jevo membaringkan badannya di sofa, lalu memejamkan kedua matanya yang memang terasa lengket karena mengantuk. "Diamlah, elo berdua jangan berisik. Gue mau tidur." cicit Jevo.


"Jangan lupa pakai penutup wajah kalian. Kita tetap harus merahasiakan wajah kita dari kakek Timo dan mama Rio." ujar Mikel mengingatkan.


Jevo menurunkan penutup wajahnya yang terkumpul di dahi. Membuat wajahnya kembali tertutup. Menyisakan lubang hidung serta kedua matanya. Juga dengan Arya dan Mikel.


"Elo kenapa, geleng-geleng nggak jelas." tukas Mikel melihat tingkah Arya yang absurd.


Bukannya menjawab, Arya memberikan ponselnya pada Mikel. "Sudah." kata Arya, mengambil kembali setelah Mikel selesai membaca apa yang tertulis di layar ponsel Arya.


"Gue mau tidur nyenyak. Ingat, besok gue libur sekolah. Jadi jangan ganggu." Arya masuk ke dalam kamar Rio. Seperti yang dia janjikan, malam ini Arya akan tidur sekamar dengan Rio.


Sementara Mikel dan Jevo tak perlu mengirim pesan atau apapun ke wali kelas. Tentu saja mereka membolos. Pastinya aman. Asal mereka tidak sering melakukannya.


"Siapa di sana?" tanya Rio, mendengar suara pintu terbuka.


"Gue." sahut Arya, membaringkan badannya di kursi empuk nan panjang.


"Kamu. Apa mama sudah datang?" tanya Rio.


"Sudah. Beliau berada di kamar sebelah. Tapi maaf, beliau belum sadar dari obat bius yang diberikan rekan gue. Jangan khawatir, besok pagi pasti sudah bangun." jelas Arya.


Terlihat Rio tersenyum lega. "Terimakasih."


"Hemm.. Gue mau tidur, ngantuk." ucap Arya lirih dengan kedua mata yang sudah terpejam.


Rio tetap tersenyum. Tak lagi bersuara, bertanya atau mengajak Arya berbincang. Rio tahu, jika lawan bicaranya pasti juga lelah, sebab dia belum beristirahat.


Dan dirinya menebak, jika malam sudah larut. Dan mungkin sudah sekitar jam dua dini hari. Sudah saatnya mereka untuk beristirahat.


"Terimakasih Tuhan. Engkau kirimkan mereka." batin Rio. Merasa terbebas dari neraka dunia yang diciptakan Timo.


Senyum di bibir Rio seakan tak lenyap. Meski kini kedua matanya tak bisa digunakan seperti sebelumnya. Setidaknya, dirinya akan menjalani kehidupan yang nyaman dan aman ke depannya.


"Semoga akan datang pelangi, setelah hujan." batin Rio, berharap kehidupannya untuk ke depannya berjalan dengan baik.


Sementara di sebuah rumah besar dan mewah, seorang lelaki yang sempat pingsan karena pukulan bertubi-tubi yang dia terima dari sang pembantu perlahan mulai bergerak.


"Eeeuugghhh..." lenguhnya, memegang tengkuknya yang terasa sakit.


Timo perlahan berdiri, menggerakkan badannya yang terasa sakit. "Sial. Berani sekali mereka." umpat Timo, belum tahu jika saat ini dirinya sendirian berada di rumah besar ini.


Timo melihat jam dinding berukuran besar yang berada di tembok tepat di depannya. Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari lebih tiga puluh menit. Dan sebentar lagi akan terdengar adzan subuh.

__ADS_1


Timo berjalan ke dapur, tepatnya ke kamar para pembantu. Dia berpikir jika para pembantu masih berada di kamar mereka. Bersembunyi darinya.


"Kalian,,,!! keluarlah...!!" teriak Timo dengan lantang. Membuka tiga pintu kamar pembantu. Tapi ketiga kamar tersebut kosong. Tak berpenghuni.


"Mereka....!! Beraninya meninggalkan rumah...!!" geramnya.


Timo berjalan ke depan seperti orang frustasi. Mencari dan berteriak keberadaan para pembantu yang telah tak ada di rumah. "Keluarlah kalian...!!"


Timo duduk di kursi. Menundukkan kepala sembari memegangnya. "Bagaimana bisa. Rio keluar dari rumah ini, bersamaan dengan mama Rio. Siapa yang membantu mereka?" cicit Timo.


Timo kembali mengingat kejadian dimana mobilnya hampir menabrak pengemudi motor, hingga ban mobilnya kempes. Dan dirinya yang dengan mudah diperdaya, dan akhirnya kehilangan mama dari Rio. "Pasti mereka berdua bekerja sama." cicit Timo mengingat wajah Jevo dan Jeno yang menyamar.


Tapi sayangnya, meski Timo mengingat wajah keduanya. Dirinya tidak akan pernah lagi melihat wajah yang seperti itu. Sebab mereka hanya sekali itu menyamar seperti itu. Dan bisa jadi, mereka akan menyamar sebagai orang lain lagi ke depannya, saat berhadapan dengan Timo.


Timo teringat jika rumah ini dilengkapi kamera CCTV. Dirinya segera pergi ke ruangan dimana dirinya bisa melihat semua ruangan dari layar komputer. Yakni di dalam kamar Nyonya Besar, mama dari Rio.


Timo segera menyalakan komputernya. Melihat kejadian malam ini, bagaimana Rio bisa keluar dari rumah dengan mudah.


Timo mengernyitkan dahinya. Ada beberapa menit, layar di komputer tak menampilkan gambar. Alias hanya buram hitam seperti semut yang sedang berjalan di layar.


Dan layar komputer tiba-tiba menyala, menampilkan ketujuh pembantunya yang bergeletakan di lantai tak sadarkan diri. "Mereka merencanakannya dengan baik." tebak Timo.


Timo terus menatap layar komputer, mencari tahu keberadaan satu pembantu yang selama ini melayani kebutuhan biologisnya dan memberi makan serta minum Rio.


Timo tersenyum mengerikan, melihat sang pembantu tersebut dengan diam-diam meninggalkan rumah melewati pintu belakang. Sementara keenam pembantu berada di depan. Membersihkan sesuatu.


"Elo pikir, elo bisa bebas dengan mudah. Tidak akan pernah. Apalagi gue sudah memberikan banyak uang pada elo. Jangan harap kawan." seringai Timo.


Entah apa yang sekarang ada dalam otak Timo. Tapi yang jelas, hal tersebut tidaklah baik untuk sang pembantu yang telah mengetahui sebagian rahasia Timo.


Timo keluar dari kamar mama Rio. Meninggalkan rumah tersebut, dan pergi ke rumah sang kakek. Firasatnya mengatakan sesuatu akan terjadi.


Dan dirinya melajukan kuda besinya dengan laju bagai seorang pembalap yang melajukan mobilnya di area balap.


Segera Timo masuk ke dalam rumah sang kakek seperti seorang perampok. Membuka pintu depan tanpa mengetuk atau mengucapkan salam, Timo menggunakan kakinya untuk membuka pintu tersebut.


Akibatnya, pintu tersebut langsung roboh karena tendangan yang kuat dari kakinya. "Di mana pak tua itu berada!" geramnya.


Dicarinya sang kakek di setiap ruangan. "Pak tua... Keluarlah...!" teriak Timo tanpa sopan, setelah tidak berhasil menemukan keberadaan sang kakek.


Dicarinya di sekeliling rumah. Tapi tetap saja tidak ada. Timo pergi ke sebuah pohon, dimana pohon tersebut yang digunakan Bulan untuk memanjat.


Kedua mata Timo membola melihat peralatannya yang berada di tempat tersebut tak ada, satupun. "Kakek tua itu, dimana dia membuangnya?!"


Timo mengira jika sang kakeklah yang mengambil seluruh peralatan yang dia gunakan untuk menyiksa hewan tak bersalah.


Sebab selama ini, sang kakek selalu menasehati dirinya. Untuk menghentikan kegilaannya. Tapi Timo acuh. Sama sekali tidak pernah mendengarkan apa yang sang kakek katakan.


"Pak Tua...!! Jangan bersembunyi. Keluarlah...!!" teriak Timo dengan keras. Tanpa takut ada yang mendengar, sebab rumah sang kakek jauh, sangat jauh dari pemukiman warga lainnya.


"Aaaa,,,,,!! Sial...!!! Kenapa semua menghilang. Kemana kalian...!!" teriaknya melampiaskan emosi.


Timo mencabut tanaman ilalang di depannya dengan membabi buta. Bahkan, telapak tangannya yang berdarah karena tergores tanaman liar tersebut tak dia rasakan.


Bagaimana Timo tidak merasa frustasi. Hanya semalam, dia kehilangan tiga orang yang sangat penting dalam kelangsungan hidupnya untuk ke depan.


Rio, mama Rio, dan sang kakek. Padahal, Timo sudah menyiapkan rencana untuk ke depannya. Dia sudah menyusun rencana dengan baik.


Timo duduk di tanah. Tangannya gemetar, mencakar tanah dengan wajah yang menakutkan. "Kalian,,, gue akan mencari kalian...!!" geramnya.


"Aaaa....!!!" teriak Timo dengan nafas tersengal.


Timo berdiri, dilihatnya beberapa hewan yang masih hidup, tapi dalam keadaan lemas. Sebab mereka di rantai tanpa diberi makan dan minum. Sehingga mereka tak bisa pergi kemanapun.


Timo berjalan mendekat. Ditatapnya salah satu hewan tanpa ekspresi. Timo duduk jongkok, dielusnya hewan tersebut dengan pelan. "Kasihan sekali kamu. Bagaimana, jika aku membantumu, untuk segera melihat indahnya nirwana." ucapnya tersenyum manis.


Ngikk..... ngik..... Timo tersenyum miring melihat hewan tersebut terlihat kesakitan tanpa melawan. Sebab keadaannya yang sudah rak berdaya.


Darah mengucur dari sela-sela jari Timo. Karena Timo menancapkan kuku-kuku panjangnya ke kulit hewan tersebut.


"Haa... lihatlah, dia tertawa menjemput ajalnya." ucap Timo disertai tawa yang menggema.


Dan,,,, krekkkk..... Tangan Timo yang bebas memegang kepala hewan yang sudah tak berdaya tersebut. Memelintirnya hingga terdengar bunyi seperti dahan yang patah.

__ADS_1


Timo melepaskannya, menghela nafas panjang. Yang terdengar lega. Mencium darah yang berada di telapak tangannya dengan memejamkan kedua matanya. Layaknya Timo sedang menghirup wanginya bunga mawar. "Kalian, kalian akan menyusul hewan cantik ini." Timo tertawa lepas.


__ADS_2