
Bulan telah dalam perjalanan menuju markas. Sementara Jeno, dirinya masih berada di restoran. Bersama dokter Vinc gadungan dan mantan kekasih sang dokter.
Terlihat Rio duduk dengan tidak tenang. Nampak juga ekspresi wajah Rio terlihat gelisah. Sama sekali tidak nyaman. Kursinya seakan terdapat paku-paku kecil yang membuatnya ingin segera beranjak dari duduknya.
Apalagi, si perempuan mantan kekasih sang dokter terus berbicara. Menceritakan kisah masa lalunya dengan dokter Vinc. Membuat telinga seketika langsung penuh.
Jeno memasang senyum di bibirnya sedari tadi. Rasanya sungguh membuat kedua sudut bibirnya kaku. "Jika bukan karena Bulan, mana mungkin aku mau menahan dia di sini. Malah ketambahan burung beo ini. Pantas dokter Vinc memutuskan dia. Cerewet sekali." batin Jeno.
Sebab perempuan di hadapannya selalu saja ada bahan topik pembicaraan. Yang membuat mereka selalu berbincang.
Meski Jeno dan Rio hanya menanggapinya sesekali saja. Jeno bisa melihat dengan jelas, beberapa kali Rio memandang ke arah dirinya.
Tapi Jeno berpura-pura tidak melihatnya. Jeno tahu arti dari tatapan Rio. Tentunya Rio ingin Jeno melakukan sesuatu, supaya dirinya bisa meninggalkan tempat tersebut.
Dan tak lagi terjebak dengan perempuan yang sebenarnya sama sekali tidak mereka kenal. Tapi inilah yang Jeno inginkan. Rio tetap berada di tempat ini.
Ponsel Jeno bergetar. Segera Jeno mengambil dan memeriksanya. Ternyata pesan tertulis dari Arya. Dia mengatakan jika Bulan sudah dalam perjalanan menuju markas. Yang artinya Bulan sudah keluar dari rumah mewah tersebut.
Jeno tersenyum samar. Dirinya sekarang memikirkan cara supaya bisa pergi meninggalkan mereka berdua. "Khemm,,, maaf dok, Nona. Saya pamit dahulu. Mama saya menyuruh saya untuk pulang." pamit Jeno.
Segera Jeno berdiri. "Permisi. Saya duluan." Jeno sedikit membungkukkan badannya sebelum pergi meninggalkan keduanya. Tanpa menunggu keduanya mengatakan sesuatu.
Begitu membalikkan badan, memunggungi keduanya, Jeno tersenyum sempurna. "Pasti dalam hatinya Rio sedang mengumpati gue." batin Jeno.
Sebab, Jeno malah meninggalkan Rio bersama perempuan tersebut tanpa mengajaknya pergi bersama dengan dirinya.
Ternyata sesuai apa yang ada dalam benak Jeno. Dokter palsu tersebut memandang tajam punggung Jeno yang semakin menjauh.
Ekspresi wajahnya tampak sangat kesal. "Asisten brengsek. Awas saja nanti." ucapnya dalam hati.
"Kenapa kamu memilih asisten seperti itu?" tanya mantan kekasih sang dokter, memandang ke arah punggung Jeno dengan tatapan jijik.
Pastinya perempuan tersebut merasa wajah Jeno yang sangat jauh dari kata tampan. Ditambah lagi penampilannya yang sangat amat culun.
Pastinya semua wanita pasti tidak akan memandang Jeno. Lagi pula, apa peduli Jeno. Dihatinya cukup ada nama Bulan. Hanya Bulan.
"Astaga,,,, apa lelaki tampan dan pintar di dunia ini sudah mulai menipis." lanjutnya, tersenyum mengejek.
Rio berdiri. Menggeser sedikit kursinya ke belakang. "Maaf, aku juga harus segera pergi. Ada hal penting yang harus aku lakukan." pamit Rio.
Rio pergi begitu saja tanpa menunggu mantan kekasih dokter Vinc mengeluarkan suaranya. "What....!! Dia..." ujar sang perempuan menggelengkan kepalanya. Merasa Vinc tidak menghormatinya.
Pergi meninggalkannya begitu saja. "Gila. Dari dulu, gue memang selalu dinomor duakan. Pekerjaannya yang dia katakan mulia selalu menjadi yang nomor satu." dengusnya.
Perempuan tersebut juga hendak meninggalkan kursi, tapi seorang pelayan restoran menghampirinya. Mengatakan jika makanan serta minuman yang mereka makan belum di bayar.
Sang perempuan membuka mulutnya tak percaya. "Astaga,,,, benar-benar hari sial buat gue." ucapnya dengan geram.
Diambilnya dompet di dalam tasnya. Dikeluarkan sebuah kartu dari dompet miliknya, untuk segera diberikan pada pelayan tersebut.
Sembari menunggu pelayan kembali, dia duduk kembali di kursi dengan perasaan kesal. "Vinc. Dia tidak seperti dulu." gumamnya.
Membandingkan sang dokter yang dulu dan sekarang. Lalu dia tersenyum. "Apa itu artinya dia mau menerima gue lagi." ujarnya menebak.
Sebab, dulu sikap sang dokter sangat dingin padanya. Meski keduanya sepasang kekasih. Tak pernah sang dokter tersenyum padanya.
Tapi tadi, sang dokter selalu memasang senyum di bibirnya. Berbincang dengan baik dengannya. "Apalagi, asistennya tadi bilang jika dia belum bisa move on dari gue. Jangan-jangan selama ini..." tebaknya, dengan kalimat menggantung.
"Apa gue datangi rumahnya." gumamnya berpikir.
Tanpa dia tahu, jika orang yang sedari duduk berdamanya adalah orang paling berbahaya yang wajib dia jauhi. Jika tidak, mustahil jika nyawanya tetap aman dalam tubuhnya. Bisa-bisa dia bernasib sama seperti sang dokter.
__ADS_1
Sedangkan Jeno langsung tancap gas begitu keluar dari restoran. Tentu saja tujuannya adalah markas. Sementara Mikel masih berada di pelataran parkir.
Dirinya ingin memastikan jika dokter gadungan tersebut tidak akan mengejar Jeno. Mikel menyipitkan sebelah matanya melihat Rio setengah berlari keluar dari dalam.
Apalagi raut wajah Rio sangat tidak bersahabat. "Apa ada kejadian di dalam tadi. Tapi, Jeno tidak mengatakan apapun." gumam Mikel mencoba menebak.
Saat membuka serta menutup pintu mobil saja, Rio sangat keras. Sangat nampak jika Rio sedang marah. "Waooww... Apa gue melewatkan sesuatu?" tanya Mikel seorang diri.
Tak membutuhkan waktu, Rio melajukan mobilnya meninggalkan restoran. Disusul oleh Mikel. Hanya saja, tujuan keduanya berbeda.
Jika Mikel pastinya ingin ke markas. Menemui rekannya yang lain. Mikel tidak mengikuti ke mana perginya Rio. Pasalnya, Mikel hanya diminta Bulan untuk menemani Jeno, meski secara tak langsung.
Itu artinya dirinya tak perlu mengikuti kemana Rio pergi setelah ini. Lagi pula tak ada yang tahu Rio mau kemana. Hanya Rio sendiri yang mengetahuinya.
Dengan gerakan kasar, Rio membuka topeng di wajahnya. "Perempuan sialan...!!" teriaknya melampiaskan emosi yang sedari tadi terpendam.
Ditambah, Rio harus selalu tersenyum sepanjang dirinya berada di dalam restoran. Tentu saja Rio hanya bisa menahan kesal. Sebab tak mungkin dirinya langsung bertindak di hadapan orang banyak.
"Asisten brengsek...!!" serunya lagi. Berpikir jika Jeno sama sekali tak mempunyai sopan santun. Meninggalkan dirinya begitu saja di dalam restoran bersama perempuan yang begitu cerewet layaknya burung beo.
"Aaa....!!!" teriaknya, sembari memukul stir berulang kali.
Emosi Rio sangat tidak stabil. Dan di saat seperti inilah, dirinya membutuhkan pelampiasan untuk menyalurkan emosinya.
Rio mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sembari terus berteriak. Dirinya langsung menghentikan mobilnya mendadak saat melihat ada sepasang remaja yang berada di pinggir jalan. Mendorong sepeda motor mereka.
Rio tersenyum senang. "Sudah lama gue nggak melakukan kesenangan yang tiada tara. Terakhir kali, gue melakukannya pada dokter sialan itu." seringai jahat terukir di bibir Rio alias Timo.
"Gue juga belum pernah melakukan pada dua orang sekaligus. Pasti sangat menyenangkan." gumamnya, merasa jika apa yang akan dia lakukan adalah sesuatu yang sangat menyenangkan.
Timo menghentikan mobilnya. Mengambil topeng yang selalu dia gunakan untuk beraksi. Yakni topeng wajah milik seorang lelaki yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Dimana, wajah itulah yang dia gunakan saat dia menculik Serra. Yang dimana, sekarang kuburan lelaki tersebut sedang digali kembali dan diselidiki oleh pihak berwajib.
"Kenapa?" tanya Timo tanpa keluar dari dalam mobil. Hanya membuka kaca jendela mobil tersebut. Memperlihatkan wajahnya dari sana.
"Ban motor kami kempes kak." sahut salah satu perempuan tersebut, sembari menatap ban motornya bagian depan.
"Memang kalian mau kemana?" tanya Timo dengan ramah.
"Pulang." sahut keduanya bersamaan. Salah satu dari mereka menyebutkan alamat yang akan mereka tuju.
Dan Timo, tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. "Bagaimana jika saya antar. Kebetulan, saya juga melewati alamat tersebut." ajak Timo, menawarkan diri.
Kedua hadis tersebut saling menatap sesaat. "Tenang saja, taruh saja motor kalian di sini. Biar nanti saya teleponkan bengkel langganan daya untuk mereka ambil." ujar Timo berbohong.
Bengkel langganan, memang dia punya. Tidak. "Ayo, keburu malam. Lihat, kelihatannya akan turun hujan." rayu Timo.
Tampak kedua gadis tersebut berbicara dengan cara berbisik-bisik. "Sialan, apa yang mereka bicarakan. Tapi tenang saja, ini terakhir kalinya kalian berbisik. Karena sebentar lagi, suara jeritan kalian yang akan terdengar." batin Timo.
Timo merasa jika kedua gadis tersebut terlalu lama, dan malah membuang-buang waktu. "Halloo.... bagaimana? Jika tidak bersedia, saya duluan. Soalnya saya sedang ada kepentingan." tekan Timo.
Timo yakin, kedua gadis tersebut akan menerima ajakannya. Masuk ke dalam mobilnya dengan suka rela. Sebab, alamat yang akan mereka tuju masih jauh dari tempat mereka sekarang.
"Mau kak." sahutnya segera.
Keduanya lantas segera masuk ke dalam mobil, dengan satu duduk di kursi depan samping Timo yang sedang mengemudi. Dan satunya lagi duduk di kursi belakang.
"Terimakasih kak." cicit salah satu dari mereka.
Keduanya merasa dalam keadaan aman. Karena mereka tidak sendirian. Tapi berdua. Sehingga mereka bisa saling melindungi jika terjadi sesuatu.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, lelaki yang sedang menyetir mobil tersebut sangatlah berbahaya. Dialah pelaku yang sejak dulu di cari oleh banyak orang.
Jalan yang dilalui Timo bukanlah jalan yang biasanya mereka lewati. "Kak,,, kok lewat sini?" tanya salah satu dari mereka. Saat Timo melajukan mobilnya melewati jalan sepi.
"Kalian belum pernah lewat sini?" Timo malah balik bertanya.
"Belum kak." sahut keduanya serempak.
"Saya selalu melewati jalan ini jika hendak ke arah sana. Memang jalannya sepi, tapi lebih cepat. Sehingga tidak memakan waktu dan cepat sampainya." tukas Timo beralasan.
Keduanya hanya manggut-manggut, percaya dengan apa yang dikatakan Timo. Mereka merasa Timo adalah orang baik. Buktinya dia mau menolong mereka berdua yang sedang kesusahan.
Kenyataannya, memang kebaikan Timo tidaklah gratis. Timo tersenyum samar. Merasa di sinilah tempat yang tepat untuk dia melakukan aksinya.
"Astaga,,, kenapa ini...." ucap Timo memulai aksinya, dengan melajukan mobil tiba-tiba berhenti di pinggir jalan yang sepi.
"Kenapa kak?" tanya salah satu gadis tersebut.
"Sial... !! Kenapa mobilnya malah berhenti di tempat seperti ini?!" Timo tampak sangat marah. Padahal, itu semua hanyalah peran baginya.
"Kalian tunggu di dalam. Saya akan memeriksa mobilnya dulu." tukas Timo, dengan tangan menaruh sesuatu di dalam mobil. Lalu dia segera turun, mengunci semua pintu mobil. Sehingga kedua gadis tersebut tidak bisa keluar.
Timo berdiri dengan santai di luar mobil. Bersedekap dada dengan memandang ke arah mobil. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas dengan sempurna.
"Kenapa dia malah berdiri sambil menatap ke sini?" tanya salah satu hadis di dalam mobil, melihat ke arah Timo.
"Pintunya terkunci." timpal gadis yang satunya lagi, saat dirinya berusaha membuka pintu mobil.
"Bau apa ini?!" serunya, mencium sesuatu yang membuat kepalanya terasa pusing.
"Buka....!!" teriaknya menggedor-gedor kaca mobil.
Gadis yang duduk di kursi depan menemukan sebuah benda kecil berbentuk kotak yang ditebaknya sebagai asal bau yang menyengat tersebut.
"Dia sengaja." tukasnya, mengikuti apa yang dilakukan temannya dengan menggedor kaca mobil.
Sedangkan Timo tertawa terbahak di liar mobil. "Kalian seperti tikus yang masuk ke dalam perangkap....!!" serunya sembari tertawa puas, layaknya dia sedang menikmati pertunjukkan yang tersaji di depannya.
"Keluarkan kami dari sini....!! Bajingan...!!" teriak salah satu gadis di dalam mobil.
Timo sengaja membuat keduanya terkurung di dalam mobil, dan akhirnya lemas karena bau yang mereka hirup. Baru setelahnya, keduanya akan menjadi mainan Timo.
"Cari alat apa saja, yang bisa kita gunakan untuk memecah kaca." ujar salah satu gadis tersebut.
Mereka membutuhkan udara baru. Satu-satunya jalan hanyalah memecahkan kaca mobil tersebut. Sayangnya, mereka tidak menemukan benda yang mereka dapat gunakan untuk memecahkan kaca tersebut.
Penyesalan. Kini keduanya menyesal, dengan mudahnya percaya pada lelaki yang tidak mereka kenal. Dan inilah yang terjadi.
"Tuhan... tolong kami." gumamnya, menyandarkan badan di sandaran kursi mobil. Dengan pandangan mulai kabur. Serta nafas mulai tersengal. Serta keringat membasahi badan.
Timo tertawa sembari bertepuk tangan. Dengan tanpa merasa bersalah, dia menampilkan senyum di bibirnya. Membuka pintu mobil.
Kedua gadis di dalamnya menggunakan sisa kekuatannya keluar dari dalam mobil. Dan Timo, dia malah tertawa lepas melihat kedua gadis tersebut kesulitan keluar dari dalam mobil.
Lagi-lagi, Timo bertepuk tangan saat salah satu gadis berhasil keluar. "Hoeee... lihat...!! teman elo bisa keluar. Apa elo nggak iri...?!" serunya.
Timo berjalan ke mobil, membuka bagasinya setelah kedua gadis tersebut berhasil keluar dari dalam mobil. Dan kini, keduanya tergeletak di jalan dengan keadaan yang tidak sadar sepenuhnya.
Timo membawa dua buah rantai. Merantai salah satu kaki mereka dengan masing-masing rantai. "Selesai." ucap Timo tertawa senang, melihat salah satu kaki dua gadis di depannya terikat rantai.
"Kalian, akan jadi hewan mainan... Ti-mo...!!" tekannya menyeringai jahat.
__ADS_1
Tanpa Timo sadari, seseorang melihat apa yang dia lakukan dari balik semak yang rimbun. Menatap ke arahnya dengan tajam.