
Gara berada di balkon, duduk di atas kursi rodanya. Menatap lurus ke depan. Dimana pemandangan seperti ini sudah lama tak dia lihat. "Sungguh indah." cicitnya.
Menikmati hembusan angin pagi, dengan cuaca cerah. Jauh di depan, banyak kendaraan berlalu lalang.
Entah apa yang Gara rasakan, seketika dadanya terasa sesak. Kedua matanya memburam. Nampak air telah terkumpul di kedua pelupuk matanya.
Segera tangan Gara mengusap kedua matanya. Tak ingin air di pelupuk matanya sampai terjatuh di pipinya. "Bersyukurlah dengan apa yang elo terima, Gara. Berterimakasih, Tuhan mengirimkan malaikat cantik untuk menolong kamu." Gara tersenyum, kembali dalam benaknya berkelebat masa lalunya, dimana Bulan datang menolong dirinya dari maut.
Sesaat Gara terdiam. Melihat ke atas, dimana sekumpulan burung terbang tampak menikmati kegiatan mereka.
Kedua sudut bibir Gara terangkat ke atas. Senyum pahit nampak terlihat dengan jelas. "Lihatlah kawan,,,, kalian terbang bebas tanpa memikirkan apapun." cicit Gara, seakan membandingkan kehidupannya dengan sekumpulan burung tersebut.
Pandangan Gara beralih turun, dimana berjejer kendaraan tengah memadati jalan. Padahal waktu jam siang belum tiba. Namun jalan sudah dipadati oleh kendaraan.
"Bagaimana rasanya bisa beraktifitas normal seperti kalian." tukas Gara. Ada rasa iri menyeruak dalam hatinya. Manakala melihat kehidupan orang lain.
Sebelumnya, Gara memang menjalani kehidupan normal. Tapi hanya jika dilihat dari luar saja. Kenyataannya, dia sama sekali tidak pernah merasakan kehidupan yang nyaman, karena pekerjaannya sebagai tangan kanan seorang pemimpin bawah tanah.
Dimana dirinya harus selalu waspada dan memikirkan banyak cara untuk bertahan hidup dan terus menjalankan bisnis ilegal milik pimpinannya.
Sayangnya, ada pengkhianat di antara mereka. Dan setelah terjadi insiden tersebut. Dimana nyawanya hampir melayang, beruntungnya diselamatkan oleh Bulan. Dan sejak saat itu, Gara mengurung diri di markas.
"Apa gue harua mencobanya." lirih Gara.
Gara ingin sekali beraktifitas seperti orang normal pada umumnya. Meski keadaan tubuhnya tak seperti orang normal, karena kekurangannya.
Meski Gara menginginkan kebebasan tersebut, tapi tak terelakkan, ada rasa trauma dan juga perasaan takut menyerang dalam hati.
Terlebih dirinya yang mempunyai keterbatasan gerak. Dan tak bisa mengandalkan diri sendiri saat terjadi sesuatu padanya di luar sana. Gara hanya khawatir, dirinya akan membuat orang lain malah repot karena dirinya.
"Apa gue bicara dulu sama Bulan." tukas Gara, ingin meminta persetujuan Bulan. Terkait keinginannya yang hendak keluar dari markas dan beraktifitas layaknya orang normal pada umumnya.
"Tapi...." Gara teringat akan kelompoknya terdahulu. Dimana mereka juga yang membuatnya seperti sekarang.
"Bagaimana, jika mereka masih mengejar gue." imbuhnya merasa ragu dengan keinginannya.
Gara menghela nafas panjang yang terdengar hanyalah sebuah keputusasaan. Memutar balik dan mendorong kursi rodanya untuk kembali ke dalam apartemen.
Gara berhenti di ambang pintu penghubung balkon dengan kamar. "Jika saja kaki gue normal seperti dulu." tutur Gara berandai-andai.
"Ckkk... apa yang elo sesalkan. Semua sudah berjalan sesuai dengan takdirnya. Lebih baik elo banyak bersyukur. Terlebih sekarang elo punya banyak reman baru."
Gara tersenyum, mendorong kursi rodanya untuk masuk ke dalam. Rasanya sungguh berbeda. Antara di markas dan apartemen Mikel.
"Meski apartemen ini sangat mewah dan bersih, tapi kenapa gue malah merasa lebih enak tinggal di markas." cicit Gara, merasa kerasan berada di markas.
Bisa saja hal tersebut terjadi. Kemungkinan Gara merasa nyaman berada di markas karena memang selalu hidup di sana.
Di jalan, Jeno mengendarai mobilnya bagai seorang pembalap. Menyalip beberapa mobil serta kendaraan lainnya di depannya dengan lincah bagai seorang joki pembalap.
Jeno tak sabar ingin segera sampai di apartemen. Tentu saja dirinya ingin segera bertemu dengan sang pujaan hati. Bulan. Berharap Bulan masih terlelap di kamar apartemennya.
Sayang seribu sayang, perjalanan Jeno terhenti karena di tengah jalan terjadi kemacetan. Dan penyebabnya adalah kecelakaan. "Siall...!!" Jeno memukul stir mobilnya.
Ingin sekali Jeno membunyikan klakson dengan kencang. Supaya semua kendaraan di depannya berjalan seperti biasanya.
__ADS_1
Tapi tak mungkin Jeno melakukannya. Apalagi dirinya tahu penyebab kemacetan terjadi. "Jika gue sekuat manusia hijau. Gue pindahin semua mobil di depan sana." gerutunya berandai-andai mempunyai kekuatan super.
Jeno duduk dengan tidak tenang. Seperti ada banyak paku di atas kursi yang dia duduki. Selalu bergerak tak bisa diam.
Dilepasnya kacamata yang bertengger di hidungnya. Tangannya mengacak rambutnya dengan kesal. "Semoga Bulan ku belum bangun." cicit Jeno berharap.
Perlahan, mobil di depan Jeno kembali berjalan. Begitu juga mobil yang dikendarai Jeno. Meski melaju pelan, asalkan meninggalkan tempat. "Sampai jam berapa gue di apartemen." gerutunya kesal, jika terus berjalan bagai siput pasti akan memakan waktu lama tiba di apartemen.
Kembali, mobil Jeno berhenti karena mobil di depannya juga berhenti. Tok,,,, tok... indera pendengaran Jeno menangkap suara di sebelahnya. Dimana kaca jendela mobilnya diketuk dari luar.
Rasa kesal karena kemacetan yang Jeno rasakan, kini malah semakin bertambah melihat sosok yang berdiri di sebelah mobilnya sembari mengetuk kaca jendela mobil.
"Apa dia sejenis hewan pengendus. Tahu saja jika gue di dalam mobil. Sial...!! Lagian bagaimana dia bisa mengenali jika ini mobil gue." gerutu Jeno, tak segera membuka pintu.
Sella terus mengetuk berulang-ulang kaca jendela mobil Jeno dengan getol. Berharap jika pintu mobil segera dibuka.
Entah dari mana tiba-tiba Sella bisa berdiri di sebelah mobil Jeno. "Aaa...!! Kenapa sih nggak jalan-jalan...!!" teriak Jeno merasa frustasi sendiri.
Jeno berharap mobil di depannya segera berjalan. Sehingga dirinya mengikutinya. Dan tak harus membuka pintu mobil. Yang nantinya Sella pasti akan masuk.
Kepala Jeno terasa mau pecah. Niat hati segera pulang dan bertemu sang pujaan hati malah tertunda dengan jalanan yang macet. Ditambah lagi sosok perempuan yang sangat dia hindari. Sella.
Sella terus mengetuk kaca jendela mobil Jeno tanpa rasa lelah. Bahkan berteriak memanggil nama Jeno. Mau tak mau Jeno membuka pintu mobil. Dirinya tak ingin dipermalukan Sella di tempat umum.
Bibir Sella tersenyum sempurna, saat pintu mobil tak lagi terkunci. Sehingga dirinya bisa membukanya dari luar dan masuk ke dalam. "Jeno... Aku masuk ya."
Sella langsung masuk dan duduk di kursi sebelah Jeno tanpa menunggu Jeno mengeluarkan suaranya. Jeno hanya busa diam, menatap ke arah depan. Sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Sella di sampingnya.
"Jeno,,, maaf merepotkan. Mobil aku tadi mogok di sana. Beruntung aku melihat mobil kamu. Jadi aku tinggal mobil aku, untuk mengejar mobil kamu. Syukurlah kamu mau menghentikan mobil kamu." cerocos Sella.
Kenyataannya Jeno menghentikan mobil bukan karena panggilannya. Tapi karena memang jalanan yang macet. Jeno saja tak tahu jika Sella mengikuti mobilnya.
"Kamu tidak perlu khawatir. Nanti orang di rumah akan mengurusnya." lanjutnya, padahal Jeno sama sekali tak bertanya apapun pada Sella. Sungguh tak tahu malu.
Sella tersenyum senang. Hal yang didambanya untuk bisa bersama satu mobil bersama dengan Jeno terwujud. Beberapa kali Sella menatap ke arah Jeno.
"Tebakan gue benar. Jeno sangat tampan. Tak kalah tampan dengan Jevo." batin Sella. Melihat Jeno tidak memakai kacamata tebalnya, dengan rambut acak-acakan.
Sella tersenyum-senyum malu sendiri. Padahal Jeno sama sekali tidak menganggapnya. Menatap ke arahnya saja tidak.
"Jeno,,, emmm,,, apa boleh aku ikut kamu. Ingin sekali aku bisa bertemu dengan mama kamu." pinta Sella berkata dengan nada manja. Berharap Jeno yang mendengar suaranya bisa terpikat.
Jeno masih diam, fokus menatap ke depan sembari menyetir. Sella menunggu sahutan dari Jeno. Tapi Jeno masih diam.
Sella malah salah mengartikan kediaman dari Jeno. Sella mengira jika Jeno setuju dengan apa yang dia minta. Yang artinya Jeno mengabulkan keinginannya bertemu dengan Nyonya Rindi.
"Yes.... Akhirnya,,,,," batin Sella merasa dirinya akan semakin dekat dengan Jeno.
Jalanan tak lagi macet. Jeno mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Sella selalu memandang penuh kagum ke arah Jeno yang sedang menyetir di sampingnya.
"Jangan Sella, dengan Jeno membawa kamu ke rumahnya saja sudah lebih dari cukup untuk hari ini." batin Sella, ingin sekali memegang lengan Jeno.
"Gila,,,, tampan sekali elo Jeno... Gue nggak menyesal tujuh turunan mengejar elo. Dari keluarga kaya, plus tampan. Sudah dipastikan kehidupan gue ke depannya akan mapan. Semua orang akan tunduk dan memandang tinggi gue." batin Sella membayangkan jika dirinya bersama Jeno.
Namun sayang sekali, semua hanya angan seorang Sella. Sebab Jeno tak akan pernah berpaling dari perempuan yang sejak pertama kali mencuri hatinya. Bulan.
__ADS_1
Hati Sella semakin berbunga melihat jalanan yang di lewati oleh mobil Jeno. Arah menuju rumah Tuan David. Siapa yang tidak mengenal keluarga Jeno. Dan pastinya Sella juga.
Bukan rahasia lagi, jika semua orang yang tinggal di kota ini semua tahu alamat dari Tuan David. Begitu juga dengan Sella.
Apalagi Sella sedang mendekati Jeno. Dapat dipastikan jika orang seperti Sella sudah menyelidiki semua yang berhubungan dengan Jeno.
"Sungguh,,,, gue sudah nggak sabar menunggu saat ini." batin Sella menatap senang ke arah Jeno yang fokus menyetir.
Sella yakin, setelah Jeno mengenalkan dirinya dengan kedua orang tuanya. Sella akan lebih mudah mendekati mereka. "Sella,,, jalan masuk ke dalam keluarga Jeno ada di depan mata. So,,, jangan elo sia-siakan." batin Sella dengan percaya diri, jika Jeno membawanya menemui mama dari Jeno.
"Ehh,,, Jeno tunggu. Bukankah tidak sopan, jika aku tidak membawa apapun. Apalagi ini pertama kalinya aku datang ke rumah kamu." tukas Sella, merasa sungkan jika tidak membawa apa-apa saat mendatangi rumah Jeno.
Sella ingin mama Jeno menilainya sebagai perempuan yang baik dan pengertian. Dengan begitu mereka akan merestui hubungannya dengan Jeno.
Sella memang aneh. Berpikir terlalu jauh. Padahal, selama ini Jeno selalu acuh padanya. Meskipun di awal-awal Jeno selalu menolong Sella dalam beberapa kesempatan. Tapi bukan berarti Jeno menyukai Sella.
Dan lagi, Jeno hanya diam. Tak menyahuti perkataan Sella. Jeno fokus menatap ke depan dengan ekspresi datar. "Jeno..." panggil Sella dengan lembut.
Cit....Jeno menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah mewahnya yang begitu besar dan megah. "Astaga,,,, maaf, ternyata kuta sudah sampai. Aku kira masih jauh." cicit Sella tersenyum manis.
"Turun." usir Jeno.
"Hahh,,, maksud kamu?" tanya Sella seperti orang cengo. Sebab Jeno tidak memasukkan mobilnya ke dalam pekarangan rumah. Dan malah berhenti di depan pagar.
"Bukankah elo mau ke rumah gue?"
Sella mengangguk. "Iya benar. Aku ingin bertemu mama kamu. Tante Rindi." sahutnya, menyebut Nyonya Rindi dengan sok akrab.
"Ini sudah sampai. Jadi turun dari mobil gue."
"Loh,,, mobilnya nggak sekalian masuk ke dalam." ujar Sella bingung.
"Turun,,, atau gue jalankan mobilnya lagi." ancam Jeno, tetap tanpa menatap ke arah Sella.
"Ba-baik." Sella segera turun. Dirinya tak ingin Jeno malah berubah pikiran. Apalagi sekarang dirinya sudah berada di depan rumah Jeno.
Wuzzzz...... Tak menunggu waktu lama, Jeno langsung tancap gas, melajukan mobilnya kembali dengan kencang menuju ke apartemen.
Sella melongo tak percaya. "Jeno... Jeno... kok,,, elo,,, gue.... Aduh,,, ini gimana sih. Kok Jeno malah pergi. Terus gue bagaimana?" cicit Sella merasa kebingungan.
Sella menghentakkan kakinya ke bawah dengan kesal. "Sialan...!! Jangan-jangan Jeno hanya mau mengerjai gue. Brengsek...!!" seru Sella.
Sella memandang ke arah rumah di depannya. Yang sayangnya dia tak bisa melihat secara keseluruhan karena tertutup pagar di depannya. "Ngapain dia nganter gue ke sini. Jeno sialan...!!" umpat Sella.
Sella tak mungkin masuk seorang diri ke rumah Jeno. Apalagi dia sama sekali tidak akrab dengan mama dari Jeno.
Lagi pula alasan apa yang akan dia berikan pada kedua orang tua Jeno saat dirinya memutuskan untuk masuk ke dalam. Yang ada dirinya malah akan terlihat seperti badut.
"Jeno....!!!" teriak Sella yang ternyata hanya ditipu oleh Jeno.
Sella yang sudah merasa terbang di angkasa, kini terjatuh langsung ke dasar bumi dengan keras. Kenyataan menamparnya, menyadarkannya jika dirinya tidak semudah membalikkan tangan mendekati seorang Jeno.
Di dalam mobil, Jeno tersenyum puas karena telah berhasil mengerjai Sella. "Salah sendiri. Siapa suruh memilih menjadi perempuan bermuka badak. Dasar tak tahu malu." cibir Jeno merasa puas dengan apa yang telah dia lakukan pada Sella.
"Sok cantik. Bedak tebal saja merasa paling cantik. Cih,,, lihat pacar gue, tanpa make up saja sudah cantik apalagi memakai make up. Bidadari mah lewat...." cicit Jeno memuji sang kekasih hati.
__ADS_1
Jeno menambah kecepatan mobilnya. "Gara-gara perempuan tak tahu malu itu, perjalanan gue jadi berantakan." gerutu Jeno.
"Sayang,,, semoga kamu masih berada di apartemen." batin Jeno, berharap Bulan masih di apartemennya. Meskipun dia sudah terjaga dari tidurnya.