PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 20


__ADS_3

Baru saja sekolah dihebohkan dengan Jevo yang dihukum keliling lapangan oleh Bulan. Sekarang pihak guru mendapat kabar jika penyandang dana terbesar di sekolah ini akan datang.


Siapa lagi jika bukan Tuan David dan Nyonya Rindi. Kedua orang tuan Jevo dan Jeno. "Ini pasti karena masalah tadi." sungut bu Vani, memandang sinis ke arah Bulan.


"Pasti bu, padahal kita sudah memperingatkan untuk dia. Jangan pernah menyentuh mereka. Apapun yang terjadi dan mereka lakukan. Malah sok hebat." timpal guru lain.


"Pokoknya kalau ada apa-apa saya nggak mau disangkut pautkan. Saya nggak mau kena getahnya." sahut yang lain.


"Sudah bu, sudah. Siapa tahu kedatangan mereka ke sini bukan untuk hal ini." ucap bu Lidya, menenangkan semuanya. Supaya keadaan tidak semakin kacau.


"Pasti untuk hal inilah. Sebelumnya mereka tidak pernah datang secara tiba-tiba." kesal seorang guru lelaki. Dia juga menatap kesal ke arah Bulan.


"Benar kata bu Lidya, sebaiknya kita berpikir positif. Siapa tahu beliau ada kepentingan lain. Makanya mengharuskan mereka datang ke sini." pak Hendri juga menenangkan keadaan.


Bulan acuh dengan segala ocehan mereka. Dirinya malah memasang sebuah benda kecil di telinganya. Fokus pada suara yang di dengar di seberang sana.


Suara seorang gadis yang dia selamatkan beberapa jam yang lalu. Bersama dengan beberapa orang.


Seorang petugas kebersihan masuk ke dalam ruang guru. Memberitahu para guru jika tamu yang mereka tunggu sudah datang.


"Mampus, Tuan David dan Nyonya Rindi sudah datang." keluh guru lain. Merasa dirinya dan guru yang lain akan terancam karena ulah guru baru. Bulan.


Bulan melepaskan benda kecil di telinganya. Memasukkan ke dalam saku bajunya. "Astaga, jadi dari tadi kita ngomel, dia nggak dengar apa-apa." kesal bu Vani, melihat apa yang dilakukan Bulan.


Beberapa guru menghela nafas dan menatap kesal ke arah Bulan. "Tenang bu, semua pasti akan baik-baik saja." seorang guru mencoba menenangkan Bulan.


Dia menebak Bulan pasti sedang takut atau memikirkan hal yang membuatnya depresi karena kedatangan orang tua Jevo.


"Kenapa harus khawatir. Kita guru. Sudah seharusnya melakukan tugas kita dengan baik. Jika orang tua tidak setuju, ambil saja anaknya. Pindahkan ke sekolah lain." papar Bulan, melangkahkan kakinya keluar ruangan.


Semua yang mendengar tampak syok. Sungguh, mereka tidak mengira Bulan akan setenang ini. "Apa dia bekum tahu, siapa Jevo?"


"Seharusnya sudah tahu sih bu."

__ADS_1


Beberapa guru yang sedang berada di jam kosong menyambut kedatangan Tuan David dan Nyonya Rindi. Termasuk pak Prapto, sang kepala sekolah.


"Selamat datang. Aku yakin, kamu pasti merasa penasaran." bisik pak Prapto sambil memeluk sahabatnya tersebut.


Semua guru yang berada di belakang kepala sekolah tersenyum ramah pada keduanya. Begitu juga Bulan. "Gila, seperti sedang menjamu jendral besar." batin Bulan.


Bulan bukan orang bodoh. Dia sudah mencari tahu semaunya sebelum masuk ke sekolah ini.


Bu Vani maju satu langkah dan langsung mengeluarkan suara. "Maaf Tuan, atas kelancangan guru baru yang menghukum Jevo."


Bulan tersenyum samar dan menggeleng. "Penjilat." gumamnya memutar kedua bola matanya dengan malas.


Nyonya Rindi menatap ke arah Bulan. Sekarang beliau tahu, kenapa Jevo tidak memberontak saat diberikan hukuman.


"Orang gurunya secantik itu. Anak itu, benar-benar keterlaluan. Pantas saja di menurut." bisik Nyonya Rindi di samping telinga sang suami.


Tuan David pun mempunyai pemikiran yang sama seperti sang istri. "Dasar Jevo. Apa sekarang dia suka dengan perempuan yang usianya lebih matang. Tapi, okelah. Dari pada cabe bubuk itu." batin Tuan David.


"Sebaiknya kita berbicara di dalam. Mari." ajak Pak Prapto.


"Om,,,, tante,,,,," seru Claudia, berlari menghampiri kedua orang tua Jevo.


Claudia tersenyum senang, melihat kehadiran kedua orang tua Jevo. "Pasti mereka ke sini karena Jevo baru saja dihukum." batin Claudia.


Claudia memanfaatkan kesempatan ini untuk menunjukkan pada semua orang. Jika hubungan antara dirinya dan Jevo sudah mendapat restu dari kedua orang tua Jevo.


Bukan hanya Claudia yang datang. Tak lama berselang, Jevo dan Jeno jiga menghampiri mereka. "Kenapa papa sama mama ke sini?" tanya Jevo ketus.


Sementara Jeno hanya diam, diam-diam matanya melirik ke arah Bulan yang tampak tenang dan santai. "Jevo,, pasti tante sama om khawatir sama kamu." ucap Claudia dengan lembut.


Jevo memandang Bulan yang tersenyum miring ke arahnya. "Pasti Bulan mengira gue yang mengadu. Sial." umpat Jevo dalam hati, merasa dirinya akan dipandang sebelah mata oleh Bulan.


Jevo menatap lekat ke arah Claudia. "Kamu yang memberitahu mereka?!" tanya Jevo dengan nada tinggi.

__ADS_1


Claudia malah tidak menjawab pertanyaan Jevo. Membuat Jevo yakin jika Claudia biang keroknya. "Itu nggak penting. Yang paling penting, supaya guru baru yang sok tersebut tidak lagi seenaknya menghukum kamu." jelas Claudia.


"Jevo." tegur sang mama. Tatapan mata kesal Jevo seketika berubah menjadi teduh, saat mendengar suara sang mama.


"Ma,,,, ckkk,,,, ngapain datang. Memalukan tahu nggak." keluh Jevo.


"Nggak perlu nahan senyum elo!" sarkas Jevo pada Jeno. Dirinya tahu, jika saudara kembarnya ini tengah menahan senyumnya.


Jeno membuang muka asal. Tapi siapa sangka, pandangannya malah bertemu dengan kedua mata indah milik Bulan.


Deggg,,,,,, "****..." umpat Jeno dalam hati. Segera menetralkan deru jantung dan juga nafasnya.


Claudia berjalan ke arah Bulan. "Tante, om. Dia guru baru itu. Dia yang sudah menghukum Jevo." jelas Claudia menggebu-gebu.


Bulan memicingkan kedua matanya. "Mana sopan santun kamu Nona. Saya guru kamu disini. Dan kamu, adalah seorang murid." tegas Bulan menegur Claudia.


"Ka-kamu...!!" Claudia melayangkan tangannya ke udara.


Tapi Bulan menangkapnya dengan mudah. "Apa memang seperti ini, sikap yang diajarkan kedua orang tua kamu, dan guru kamu." Bulan melepaskan tangan Claudia.


Tuan David dan Nyonya Rindi tersenyum melihat cara bicara dan tingkah tenang seorang Bulan.


"Lihat tante, om. Lihat dia. Sombong sekali. Pecat saja dia..!!" seru Claudia tidak terima.


"Kenapa kami harus memecat dia?" tanya Nyonya Rindi.


"Benar kata bu Bulan. Kamu gadis yang tidak punya etika dan sopan santun. Ringan sekali tangan kamu." lanjut Nyonya Rindi.


Claudia tercengang. Sungguh, dirinya tidak menyangka akan mendengar kalimat tersebut dari mulut Nyonya Rindi.


Claudia menduga jika kedua orang tua Jevo akan berada di pihaknya. "Jevo." Claudia ingin pembelaan dari sang kekasih.


"Ckkk,,,, gue nggak suka cewek bar-bar. Nggak punya aturan." decak Jevo.

__ADS_1


Lenyap sudah semua yang diangan-angankan Claudia. Niatnya memberitahu semua orang akan sespesial apa dirinya di keluarga Jevo tidak terwujudkan.


Yang Claudia terima adalah rasa malu yang luar biasa.


__ADS_2