PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 47


__ADS_3

Seorang lelaki dengan tas di punggungnya berjalan dengan santai dan tenang melewati gang. Senyumnya tak pernah pudar, saat dirinya berpapasan dengan warga sekitar.


Menandakan jika dirinya adalah seorang warga yang ramah terhadap tetangga. Dan juga mempunyai kepribadian baik.


Ditambah lagi wajah yang lumayan tampan. Siapa saja pasti akan terpikat. Terutama para gadis dan janda yang bermukim di sekitar rumahnya.


"Loh,,, mas. Kemana saja, lama nggak kelihatan?" tanya seorang perempuan dengan tubuh bohaynya.


Dia menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka kunci pintu rumah. "Beberapa hari nginep di rumah teman mbak." balasnya, dengan senyum di bibir.


Tak ingin terlalu lama berbincang, segera dia pamit pada perempuan tersebut. "Mari mbak, saya masuk dulu. Mau istirahat."


"Oalaaahh,,, iya, silahkan." ucap sang perempuan dengan melenggokkan badannya. Berniat menggoda lelaki muda yang tinggal di sampingnya.


Senyum di bibirnya seketika lenyap saat berada si dalam rumah. Sendirian. Dilepaskannya topeng yang membungkus wajah aslinya.


"Perempuan binal. Mana sudi gue sama elo. Yang ada, elo akan gue jadikan koleksi gue selanjutnya." seringainya menakutkan.


Timo melepaskan tas ransel di pundaknya. Dirinya segera membersihkan diri. Tak lupa, dia mengabari perempuan yang telah dia tipu. Yang dia panggil dengan sebutan mama.


Meski sang mama sedang berada di luar negeri, tapi Timo tetap memberinya kabar. Dirinya tidak ingin perempuan tersenut curiga terhadapnya.Timo mengatakan jika dirinya malam ini menginap di rumah sahabatnya.


"Menyusahkan." keluhnya, setelah mengirim pesan tertulis pada sang mama.


"Sekarang gue punya pekerjaan baru. Dan itu akan menambah pundi-pundi penghasilan gue." cicitnya merasa senang.


"Apa sebaiknya gue akhiri hidup perempuan tua itu." terbesit pikiran untuk melenyapkan perempuan yang dipanggilnya dengan sebutan mama.


"Dengan begitu, semua hartanya akan jatuh ke tangan gue. Lagipula, tak masalah juga jika gue nggak bisa menjalankan bisnisnya."


"Gue akan menjual semua perusahaan serta semua harta bendanya. Dan akan gue simpan menjadi uang." gumamnya.


Timo berpikir, sekarang dirinya tak memerlukan perempuan tersebut. Sebab dirinya sudah menjadi seorang dokter. Dan pastinya dia akan dengan mudah mendapatkan uang serta korban.


Sesampainya di markas, Bulan langsung menatap tajam ke arah Jevo. Ketiga teman Jevo yang tidak tahu menahu apa yang terjadi, memilih diam. "Sudah gue katakan. Diam dan amati. Jangan bertindak..!!" gertak Bulan menampilkan raut wajah kesal.


Mereka tersentak kaget. Bulan melepas jaketnya begitu saja, dan melemparkannya di kursi. Tampak raut kesal Bulan tunjukkan kepada Jevo.


Jevo bangkit dari duduknya. "Apa aku harus diam,,, saat ada seseorang meregang nyawa di depan mata..!!" seru Jevo tak mau kalah.


Keduanya berdebat layaknya rekan kerja. Tak lagi memandang sebagai guru dan murid.


Jeno memejamkan kedua matanya sesaat, sementara Mikel terhenyak, melihat keduanya sama-sama mengeluarkan suara dengan nada tinggi. Dan Arya masih dengan tenang duduk di kursi.


Ditambah Jevo yang mengatakan jika ada seseorang yang sedang meregang nyawa di depannya. Itu menandakan jika baru saja ada pembunuhan.


Bulan menatap remeh ke arah Jevo. "Lalu apa yang akan elo lakukan,,, hah..!!? Membawanya ke rumah sakit?!" tanya Bulan dengan nada tinggi.


"Pakai otak kamu,,, bodoh..!! Apa dia akan selamat sampai di rumah sakit?! Apa yang akan kamu katakan pada pihak rumah sakit?! Dan apa yang akan terjadi pada pelaku yang sebenarnya?! Pakai otak kamu untuk berpikir!!" jelas Bulan dengan panjang lebar.


Arya mulai paham. Mengapa Bulan dengan segera memilih meninggalkan markas dan segera melajukan motornya ke tempat Jevo.


Bulan hanya ingin menyelematkan Jevo. Itulah tujuan Bulan bergegas melajukan motornya dengan kecepatan super tinggi.


"Elo,,," Bulan menunjuk ke wajah Jevo. "Elo yang akan jadi tersangka utama. Elo. Tolol." lanjut Bulan, tak segan mengumpat di depan keempat muridnya.


Bulan berdiri. Berkacak pinggang sembari berjalan ke arah lain. "Karena elo masuk, tanpa permisi. Dan tiba-tiba elo keluar dengan pak dokter yang sedang sekarat."


Bulan membalikkan badannya. Kembali menatap Jevo dengan kesal. "Elo akan di tuduh sebagai seorang pembunuh. Apa elo pikir, harta dan kekayaan bokap elo, serta kedudukannya akan mampu menolong elo? Nggak akan bisa." cibir Bulan.


"Dan dia, akan lepas tangan, mencuci tangannya dengan bersih. Dan malah akan berperan sebagai saksi, atas pembunuhan yang elo lakukan. Pahamm...?!"


Bulan mendaratkan pantatnya dengan kasar di atas kursi kayu. Nafasnya masih tersengal karena rasa kesalnya pada Jevo.


"Jika sekali lagi elo bertindak di luar perintah gue. Jangan pernah kembali ke sini. Dan satu lagi. Jangan pernah membawa nama kita, jika terjadi sesuatu sama elo." tekan Bulan.


Arya segera berdiri. Berjalan dengan cepat menuju ke belakang. "Bu Bulan, minum dulu." Arya menyodorkan minuman kaleng pada Bulan.


Arya tahu, Bulan tak bermaksud berkata kasar dan membentak Jevo. Tapi keadaan hang membuat Bulan akhirnya berkata kasar.


Arya tahu niat Bulan adalah baik. Jika saja Bulan tidak datang tepat waktu, maka bisa dipastikan, saat ini Jevo akan mendekam di penjara.


Dan sang pelaku akan disanjung. Sebab dia berani membuka suara sebagai saksi. "Terimakasih Bu." cicit Jeno.


"Maafkan saudara saya. Ini pertama kalinya dia melihat hal semacam ini. Dan mungkin, Jevo masih belum terbiasa." papar Jeno, tidak bermaksud membela Jevo. Hanya saja, alasan tersebut dapat meredam suasana saat ini.


"Elo seharusnya bersyukur Jev,, bu Bulan datang tepat waktu. Asal elo tahu, bu Bulan segera meninggalkan markas dan melajukan motornya ke tempat elo. Beliau hanya membutuhkan waktu sepuluh menit." ungkap Arya, melihat di layar yang ada di depannya.

__ADS_1


Jevo memandang Bulan dengan tatapan menyesal. "Maaf. Saya sama sekali tidak berpikir sejauh itu. Yang saya pikirkan hanya menyelamatkan nyawa sang dokter." tutur Jevo, dengan jujur.


Meski begitu, Jevo berani meminta maaf atas apa yang dia lakukan. Setelah Bulan menjelaskannya dengan panjang lebar. Meski dengan intonasi tinggi.


"Tapi elo juga harus bisa menebak. Dia akan selamat atau tidak, jika elo selamatkan. Elo sendiri tadi juga lihat, bagaimana keadaan sang dokter. Apa dia akan selamat, dengan keadaan seperti itu." Bulan mulai bersikap tenang.


"Elo harus bisa mengkalkulasi waktu. Jika elo membawa ke rumah sakit, elo setidaknya membutuhkan waktu berapa lama. Dan selama itu, dia bisa diselamatkan atau tidak."


Bulan kembali meneguk minuman kaleng yang dia pegang di tangannya. "Jangan sampai, karena kecerobohan elo tanpa berpikir panjang, elo malah akan menjadi kambing hitam. Dan pelaku yang sebenarnya akan menjadi pahlawan." tutur Bulan.


Kini, Jevo perlahan mulai mengerti apa yang dimaksud Bulan. "Ini bukan untuk Jevo saja. Tapi untuk kalian bertiga. Boleh memakai perasaan saat kita sedang dalam tugas. Tapi kembali lagi, gunakan pikiran kalian untuk berpikir. Jangan asal bertindak."


"Baik bu."


"Jangan sampai, apa yang kalian lakukan akan merugikan rekan kalian. Jika saja kalian bertindak sendiri, resiko ditanggung sendiri. Tapi jika seperti kita, semua akan terkena imbasnya."


"Baik bu."


"Astaga, gue sepertinya akan menjadi guru sungguhan." Bulan menggeleng. Keempat muridnya hanya tersenyum. Jeno menatap Bulan dengan tatapan kagum.


"Dia benar-benar hebat." puji Jeno dalam hati, semakin ingin berusaha keras untuk bisa berdiri di samping Bulan.


Ponsel Bulan berdering. Segera Bulan mengangkat panggilan, yang ternyata dari Gara. "Ada apa?"


Bulan mendengarkan apa yang diucapkan oleh Gara di seberang ponselnya dengan tersenyum puas. "Buat, bagaimanapun caranya. Media tetap meliput berita itu. Jangan sampai berita itu reda. Biar mereka ketar-ketir."


Bulan diam sejenak. "Oke, sorry,,, gue belum bisa kembali ke tempat elo. Gue ada pekerjaan." ucap Bulan, dan menutup ponselnya setelah Gara juga mematikan panggilan teleponnya.


"Kalian beristirahatlah. Gue akan memberitahu sesuatu, setelah kalian beristirahat." tukas Bulan, sebab malam juga sudah semakin larut.


Dan Bulan juga tahu, ini pertama kalinya mereka melakukan hal semacam ini. Pastinya sangat menguras emosi mereka.


Bulan masuk ke dalam kamarnya. Namun, langkahnya terhenti, saat Arya mengatakan sesuatu.


"Bu..!!" panggil Arya. Bulan membalikkan badannya. "Mereka sangat berisik." lanjut Arya menunjuk ke arah pintu dengan tatapan takut.


Bulan memutar kedua matanya dengan malas. "Jika elo nggak mau mereka berisik. Elo buka pintu itu, lalu elo masuk ke sana." tukas Bulan.


Arya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mati gue." cicit Arya setelah Bulan menutup pintu kamarnya.


Jeno dan Mikel tertawa melihat raut wajah Arya. "Memang ada apa di sana?" tanya Jevo yang memang belum tahu.


"Peliharaan Bulan?" tanya Jevo.


"Bukan. Kata bu Bulan, milik temannya yang sudah meninggal." jelas Arya.


"Astaga, sepertinya besok kita harus membawa kasur serta perlengkapannya." cicit Arya, masuk ke dalam sebuah ruangan untuk memejamkan kedua matanya meski sejenak.


"Serius, malam ini kita tidur di sini?" tanya Mikel dengan ragu.


"Elo pulang saja kalau mau." ujar Jevo, masuk ke dalam ruangan sebelah Arya.


Begitu juga Jeno. Mau tak mau Mikel juga mengikuti apa.yanh dilakukan ketiga temannya.


Jeno mengingat apa yang baru saja Bulan katakan. "Media. Apa yang bu Bulan lakukan. Sehingga membawa media di dalamnya."


Segera Jeno mengeluarkan ponselnya. Mengecek apa berita yang sedang menjadi perbincangan saat ini. Kedua mata Jeno membulat sempurna.


"Ledakan, di tiga tempat sekaligus." cicit Jeno membaca sebuah artikel di layar ponselnya.


Jeno membaca secara keseluruhan berita yang dia dapat dari ponselnya. "Tiga ledakan secara bersaman di tiga tempat." cicit Jeno.


"Dan baru saja terjadi. Sekolah. Beberapa ruangan di sekolah hancur. Pasti ruangan itu." tebak Jeno.


Jeno mencoba menebak sesuatu. Saat dirinya dan yang lain menjalankan aksinya. Bulan juga pergi, tapi untuk hal lain. "Jangan-jangan, dia yang melakukannya." gumam Jeno.


Apalagi dirinya juga tahu, apa yang ada di dalam ruangan yang ada di sekolahnya tersebut. "Lantas, kedua tempat yang lainnya itu tempat apa."


Jeno segera berselancar, mencari tahu informasi terkait dua tempat yang meledak lainnya. Dan Jeno yakin, jika Bulan yang meledakkannya.


"Gudang padi sama gudang kertas." Jeno mencoba memikirkannya. "Pasti ada sesuatu yang besar di dalam gudang tersebut."


Jeno sama sekali tidak bisa memejamkan kedua matanya. Di memutuskan untuk keluar dari kamar. Dan melangkahkan kakinya ke lantai atas.


Dimana Jeno bisa melatih diri untuk lebih kuat lagi. Sebab, di lantai atas ada berbagai alat yang Jeno dapat gunakan untuk melatih diri, supaya dirinya lebih baik lagi. Tentunya dalam bidang bela diri.


Bulan merasakan pergerakan dari Jeno. "Siapa di atas?" gumam Bulan. Padahal dirinya meminta semuanya untuk beristirahat.

__ADS_1


Bulan keluar dari kamarnya. Melihat semua kamar terbuka, tak ada satupun yang mereka tutup. Bulan hanya menggeleng dan menghela nafas. "Mungkin mereka kepanasan." gumam Bulan, sebab tak ada AC di tempat ini.


Jeno. Hanya dia yang tidak Bulan lihat. Sementara yang lain tampak sudah masuk ke dalam mimpi mereka.


Esok adalah hari minggu. Sehingga mereka tak perlu risau dan khawatir. Untuk Jeno dan Jevo, tentu saja keduanya berbohong pad kedua orang tuanya. Mereka mengatakan akan menginap di rumah Mikel.


Begitu juga dengan Arya. Rumah Mikel adalah alasan yang kuat untuk mereka. Pasalnya, Mikel memang tinggal di rumah hanya dengan para pembantunya.


Sudah lama kedua orang tuanya pindah ke luar negeri. Namun Mikel menolak untuk ikut. Alhasil, dirinya tinggal tanpa kedua orang tuanya di rumah.


Dengan langkah seringan kapas, Bulan menaiki tangga. Tak terdengar langkah kaki Bulan sama sekali. Bulan tidak naik ke atas. Dirinya berhenti di anak tangga, saat sudah melihat Jeno.


Jeno begitu semangat berlatih. Memukul samsak di depannya. Dengan beberapa cara. Bulan tersenyum melihat penampilan Jeno.


Dengan kaos singlet melekat di tubuh, mencetak bentuk tubuh Jeno, karena terkena keringat. Serta rambut acak-acakan yang juga basah terkena keringat.


Jeno terlihat begitu tampan. Jeno sama sekali tidak terlihat seperti seorang anak yang masih berseragam putih abu-abu. Dia tampak sangat dewasa dan mempesona dengan penampilannya yang sekarang.


Bulan tersenyum sendiri. "Eehh,, apa yang gue pikirkan." Bulan menggelengkan kepalanya. Segera menerima anak tangga dan kembali masuk ke dalam kamar.


Bulan membaringkan badannya di atas ranjang keras. "Bisa-bisanya gue malah fokus sama badan Jeno. Ingat Bulan, dia masih anak-anak. Dia murid elo. Meski murid bohongan. Astaga...!! Apa yang ada di otak elo. Elo terlalu tua untuk dia." ucap Bulan merutuki diri sendiri.


Bulan menghela nafas pelan. Mengembalikan detak jantungnya yang sempat tak beraturan hanya karena anka SMA. "Lebih baik gue tidur." ucap Bulan memutuskan kembali memejamkan kedua matanya, dari pada dirinya berpikir yang bukan-bukan.


Seperti yang di rencanakan, pagi ini Moza bersama sang mama menjenguk Rani. Sebab, hari ini memang hari minggu, sehingga Moza tidak pergi ke sekolah seperti hari biasa.


"Silahkan masuk. Semalam Rani baru saja sadar." tutur mama Rani.


"Jika boleh, saya titip Rani sebentar. Saya ingin pergi keluar membeli sesuatu. Papa Rani juga sedang dipanggil oleh dokter yang menangani Rani." papar mama Rani.


Moza dan sang mama, berpapasan dengan mama Rani tepat di pintu masuk, dimana Rani di rawat. "Tentu saja jeng, kami akan menjaga Rani. Jangan khawatir." ucap mama Moza.


"Benar tante. Kami akan menjaga Rani." timpal Moza.


"Terimakasih sayang. Rani sangat beruntung mempunyai sahabat seperti kamu." puji mama Rani.


Moza tersenyum manis. "Sayangnya, Moza yang tidak beruntung mempunyai sahabat seperti anak tante." ucap Moza, yang hanya bisa dia katakan dalam hati.


Moza penasaran, bagaimana ekspresi Rani, saat melihat dirinya dalam keadaan baik-baik saja. "Pasti dia ketakutan. Seperti melihat hantu." ucap Moza dalam hati.


Moza dan sang mama masuk ke dalam. Dimana Rani sedang berbaring, dengan leher dipasang penyangga. Kedua kakinya dibalut perban.


Dengan gerakan pelan dan terlihat sulit, Rani melirik ke arah pintu yang terbuka dari luar. Awalnya, Rani tampak biasa, sebab hanya melihat mama dari Moza.


Namun, seketika raut wajahnya langsung berubah. Saat Moza muncul dengan senyumnya di belakang sang mama. "Moza." batin Rani, dengan wajah pucat dan ekspresi terkejut.


"Sayang, Tante ikut prihatin atas apa yang terjadi pada kamu." cicit mama Moza.


Mama Moza membelai wajah Rani dengan lembut dan pandangan sedih. "Kami datang untuk menjenguk kamu. Semoga cepat sembuh ya. Moza dari semalam menanyakan kamu."


Moza menampilkan wajah sedihnya. Saat sang mama menatap dirinya. "Kamu yang sabar ya. Tante yakin, kami akan segera sembuh seperti sedia kala." ucap mama Moza dengan tulus.


Moza menatap Rani dengan ekspresi dingin. "Apa mama akan berdo'a seperti itu, jika tahu apa yang telah Rani lakukan pada Moza. Pasti mama akan mengutuk Rani." ucap Moza dalam hati.


Sanga mama sedikit menggeser tubuhnya. Memberikan ruang untuk Moza bisa lebih dekat dengan wajah Rani.


"Rani, bagaimana ini bisa terjadi. Padahal, kemarin kita bersama." cicit Moza menampilkan ekspresi sedih.


Tampak nafas Rani berderu lebih kencang. "Sayang, Rani,,,, kamu kenapa?" tanya mama Moza melihat dari layar pendeteksi, saat nafas dan detak jantung Rani tidak stabil.


Rani hanya diam. Karena mang dirinya belum bisa mengeluarkan suaranya. Entah apa yang terjadi pada tenggorokannya, atau malah pita suaranya yang bermasalah karena kecelakaan yang dia alami.


"Ma,,,, mama panggil dokter." pinta Moza, dengan nada cemas.


Mama Moza bergegas keluar untuk memanggil dokter. Padahal, Moza tahu jika di ruangan Rani jiga ada tombol yang digunakan untuk memanggil petugas medis.


Moza sengaja melakukannya. Dirinya ingin berdua bersama dengan Rani. Namun Moza tidak ceroboh. Dirinya tahu pasti, ada kamera pengawas yang terpasang di ruang rawat Rani.


Moza menundukkan badannya. Sehingga wajahnya sangat dekat dengan Rani. "Karma di bayar tunai, teman." bisik Moza.


Detak jantung Rani semakin meningkat. Moza memasang wajah ketakutan serta khawatir. "Elo bisa merasakannya sekarang. Tuhan maha baik. Dan jiga maha adil." bisik Moza puas.


Moza berteriak memanggil dokter, seolah dirinya khawatir dengan keadaan Rani. Sedangkan Rani memejamkan kedua matanya, dengan nafas memburu. Entah apa sekarang yang ada di dalam benaknya.


Mama Moza datang bersama dokter dan juga beberapa petugas medis lainnya, serta papa dari Rani. Moza tampak menangis di pelukan sang mama.


Beberapa saat kemudian, Rani kembali tenang. Dan perlahan memejamkan kedua matanya. Terlihat sang dokter menyuntikkan sesuatu pada selang infus yang terpasang di lengan Rani.

__ADS_1


"Elo lihat Rani. Semua adil." batin Moza.


__ADS_2