
Bulan berjalan seperti udara. Cepat tanpa suara. Sehingga gadis itu sama sekali tidak menyadari kehadiran Bulan. "Bulan, apa yang terjadi?!" tanya Gara mulai dilanda kecemasan.
Bulan berjalan di belakang gadis tersebut. Sehingga dirinya tidak bisa melihat dia masih hidup atau sudah mati.
Bulan tidak bisa gegabah melakukan sesuatu. Dia harus tetap menjaga kewaspadaannya. Bulan berjongkok di belakangnya.
Hanya terlihat rambut yang gadis tersebut. "Bulan, katakan. Apa yang terjadi?!" teriak Gara dengan tidak sabar di seberang sana.
Terpaksa Bulan mencabut alat kecil di telinganya. Dirinya terganggu dengan suara dari Gara. "Sorry, elo sangat menganggu." batin Bulan.
Suara Gara membuat konsentrasi Bulan pecah. Dirinya malah merasa khawatir pada Gara. Membuat dia tidak bisa fokus.
Bulan masih diam tanpa bergerak. Menunggu dan mengamati. "Tuhan, selamatkan aku. Tubuhku rasanya sudah tidak kuat." lirih gadis itu tak bertenaga.
Tentu saja. Berjam-jam dengan tubuh di dalam tanah. Pasti rasanya nano-nano.
Bulan tersenyum samar. "Dia masih hidup."
Bulan mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku. Membekam hidung gadis tersebut dengan sapu tangan yang telah dia beri obat bius sebelumnya dari belakang.
Dirasa gadis di depannya sudah dalam keadaan tidak sadar, segera Bulan mencari alat untuk mengeluarkannya. "Pasti ada di sekitar sini." gumam Bulan, mencari sesuatu.
"Itu dia." Bulan melihat sebuah cangkul, segera mengambilnya dan menggali tanah di sekitarnya. Mengeluarkan tubuhnya dari dalam tanah.
Bulan meletakkan gadis yang belum sadar tersebut di atas rerumputan. "Dia tidak berniat membunuhnya, seperti para korban sebelumnya." gumam Bulan.
Dengan kejadian di depannya, Bulan dapat menyimpulkan jika pelaku pembunuhan memang menetapkan target sebelumnya.
"Kelihatannya dia nggak sengaja bertemu dengannya." terka Bulan.
Bulan membolak-balik badan gadis di depannya. Berharap ada sesuatu yang dapat dia temukan. Bulan mengendus aroma dari gadis di depannya.
"Cckk,,,, Ternyata bukan hanya satu bau." gumam Bulan, tak bisa mencari pelaku dari bau yang tertempel di pakaian gadis tersebut.
Bersih. Bulan sama sekali tidak menemukan petunjuk apapun di badan gadis di depannya. "Dia sangat jeli dan bekerja dengan rapi." ujar Bulan.
__ADS_1
Bulan tersenyum samar, melihat benda yang tergeletak di depannya. Segera Bulan mengambil ponsel gadis tersebut.
"Mati." ponselnya kehabisan daya baterai. Bulan mengambil sesuatu, menancapkannya ke lubang ponsel miliknya.
Bulan mengambil benda kecil dari dalam sakunya. Membuka ponsel gadis tersebut dengan alat yang selalu dia bawa kemanapun.
Dengan penuh kehati-hatian, Bulan memasukkan benda kecil tersebut di antara komponen yang lain ke dalam ponsel.
"Selesai." Bulan mengambil kembali sebuah alat kotak berukuran seperti ponsel. Lalu menyalakannya. Senyum di bibir Bulan tersungging.
"Satu pekerjaan selesai." ucapnya.
Bulan memandang kembali ke gadis di depannya. Menatapnya dengan intens. Senyum Bulan kembali tersungging.
Diambilnya benda yang sama seperti yang dia masukkan ke dalam ponsel. Namun kali ini, dia menaruh benda tersebut ke cincin gadis tersebut.
"Tunggu, percuma gue taruh di sini, jika nanti cincinnya di lepas. Tapi di mana?" Bulan kembali berpikir.
"Maaf, semoga saja elo nggak merasa sakit." ucap Bulan, melepas tindik kecil di hidung gadis berseragam SMA tersebut.
"Memang boleh anak SMA memakai seperti ini?" tanya Bulan heran. Pasalnya Gara mengatakan jika dia masih duduk di bangku SMA.
"Jangan dilepas ya, cantik." bisik Bulan.
Bulan berdiri. "Gue harus memasang sesuatu di sini. Tapi di mana?" ucap Bulan kembali berpikir.
"Mungkin harus menyingkirkan dia dulu."
Bulan menggendong gadis tersebut. Membawanya seperti dia sedang membawa karung, di sampirkan ke pundaknya.
"Tenang kawan, untuk sementara tempat elo aman. Sebelum gue tahu ada apa lagi di sini. Polisi nggak akan tahu tempat elo."
Bulan berjalan dengan santai dan cepat seperti tanpa beban. Padahal ada seorang manusia di pundaknya yang pastinya berat sekali.
Bulan meletakkan gadis tersebut dengan perlahan di atas aspal. Mengambil motornya. Menaikkan gadis tersebut di atas motornya sepeti karung.
__ADS_1
"Tenang, elo nggak akan jatuh, gue akan mengendarai motor dengan perlahan. Mungin badan elo doang yang akan terasa sakit." cicit Bulan.
"Sampai juga. Gue melajukan motor kayak siput." keluh Bulan.
Meletakkan tubuh gadis tersebut di dalam gedung kosong. Menyalakan ponsel gadis tersebut. Bulan tersenyum, tebakannya sama sekali tidak meleset.
Baru dinyalakan, ponselnya sudah langsung berdering. MAMA. Itulah nama yang tertera di layar ponsel gadis tersebut.
"Jadilah anak yang penurut. Lihat, pasti mereka sangat khawatir." cicit Bulan, meninggalkan gadis tersebut.
Sebentar lagi pasti pihak kepolisian akan datang ke tempat ini. Dan tugas Bulan selanjutnya, kembali ke tempat awal dia menemukan gadis ini.
Tapi sebelumnya, dia pergi ke sebuah tempat. Dimana dia bisa mendapatkan apa yang dia butuhkan.
Bulan tidak perlu menyembunyikan motornya seperti tadi. Dia mengendarai motornya sampai ke tempat tujuan dengan laju yang cepat.
Air sungai yang dangka dan tinggal sedikit, tak menjadi kendala bagi Bulan.
Saat dia baru turun dari motor, alat yang ada di dalam sakunya juga berbunyi seperti alarm. Bulan mengeluarkannya. "Cepat juga mereka sampai." cicit Bulan.
Pihak kepolisian sudah tiba di lokasi gadis itu diletakkan oleh Bulan. Segera mengamankannya dan membawanya ke rumah sakit.
Bulan mengeluarkan sesuatu yang baru saja dia beli dari toko yang paling dekat dari daerah ini. Sebuah bola, wig, dan ponsel yang sudah rusak.
Bulan segera memasang wing tersebut di bola. Meletakkannya tepat dimana gadis tersebut di kubur. Juga dengan ponselnya. Meletakkan dimana ponsel gadis tersebut berada sebelum dia ambil.
Bulan melihatnya. "Cukup menyakinkan." kekehnya melihat hasil kamuplasenya.
Bulan mengeluarkan ranting yang dia ambil di hutan yang dia lewati. Tidak panjang. Namun cukup membantu.
Bulan menancapkan ranting tersebut ke tanah. Menyisakan sedikit di atas tanah. Bulan kembali meletakkan sebuah alat kecil yang diikat dengan ranting tersebut.
Tak hanya dibiarkan begitu saja, Bulan mengambil beberapa rumput dan meletakkan di samping-samping alat tersebut.
"Cukup baik. Pasti dia nggak akan lihat." Bulan mengambil cangkulnya kembali. Menaruh di tempat awal.
__ADS_1
"Apalagi." gumam Bulan, melihat ke sekeliling. Bulan harus memastikan semuanya sama seperti sebelumnya. Sehingga, saat dia datang. Dia sama sekali tidak menaruh curiga.
Segera Bulan meninggalkan tempat. Kembali ke gedung tua, dimana sahabatnya tinggal. Gara.