PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 54


__ADS_3

Perlahan, Bulan mengerjapkan kedua matanya. Merasakan sakit dan perih di sekujur tubuhnya. Dia memandang ke langit-langit yang ada di atasnya.


Bulan sadar, dan tahu dimana dia sekarang berada. Bulan hapal betul seluk beluk kediaman Gara. Bahkan baunya juga, Bulan hapal sangat. "Bagaimana gue bisa ada di sini." ucapnya dalam hati.


Masih teringat jelas, bagaimana dirinya masuk di balik pintu yang terdapat banyak serigala liar. Dan bagaimana dirinya bisa menyelamatkan diri dari salah satu serigala yang menyerangnya.


Perlahan, Bulan menengok ke samping. Dilihatnya Gara tertidur sembari duduk di atas kursi roda. Bulan perlahan menggerakkan badannya.


Tangan kiri yang bebas dan tidak terpasang selang infus, tetap memegang selimut dan mengaitkannya seperti dia memakai handuk. Sebab Bulan tahu jika pakaiannya tak lagi melekat di tubuhnya.


Dengan perlahan, dan hati-hati Bulan melepas selang infus dari punggung telapak tangannya. Menutup bekas selang infus dengan plester kecil.


Bulan masih merasa badannya tidak enak. Tubuhnya terasa remuk dengan suhu tubuhnya sedikit panas. "Bulan." gumam Gara, melihat Bulan berdiri dengan selimut melilit di tubuh dengan tangan tak lagi terpasang selang infus.


Dia menggerakkan badannya seperti sedang melakukan pemanasan saat hendak berolah raga. "Apa yang elo lakukan?" tanya Gara menggerakkan kursi rodanya, mendekat pada Bulan.


"Ambilkan gue pakaian." pinta Bulan, memutar lehernya ke kiri serta ke kanan secara berulang.


Gara keluar dari ruangan Bulan, mengambilkan pakaian untuk Bulan. Segera Bulan memakainya saat Gara keluar dari ruangan.


"Siapa yang membawa gue ke sini?" tanya Bulan dengan wajah pucat. Beruntung, serigala tersebut tidak menyasar ke wajah mukus milik Bulan.


"Murid elo. Jeno."

__ADS_1


Bulan menatap ke arah Gara. "Jeno?"


Gara mengangguk. "Dia sedang istirahat di sana." ucap Gara mengangkat dagunya.


Dengan jalan yang sedikit pincang, Bulan keluar dari dalam ruangan. Dengan Gara mengekor di belakang. Bulan mengambil segelas air putih, meminumnya hingga tandas.


Melihat sekilas ke arah jam dinding yang tertempel di tembok sebelahnya. "Bagaimana semua ini bisa terjadi?" tanya Gara.


Dengan pelan, Bulan duduk di kursi single empuk. "Entahlah, seperti obat bius untuk mereka perlu di kaji ulang lagi." tukas Bulan.


Sepertinya Gara bisa menebak apa yang terjadi. "Berapa jumlah mereka? Kenapa elo nggak musnahkan saja mereka? Mereka hewan liar dan berbahaya. Lihat elo sekarang..!!" ucap Gara berentet.


"Hanya satu." ucap Bulan, terjeda sejenak. Bulan masih mengingat kejadiannya dengan gamblang. "Yang lain sudah tak sadar, termasuk yang menyerang gue, awalnya. Belum ada satu menit, satu serigala sudah sadar. Dan seperti inilah yang terjadi." Bulan melihat ke arah lengannya.


"Benar apa yang dikatakan teman ibu." Jeno datang dan langsung menimpali obrolan keduanya.


"Kenapa kamu bangun. Besok kamu harus sekolah." tukas Bulan.


Gara menaikkan sebelah alisnya. Kamu. Dan bukan elo. Mencurigakan. "Apa ada sesuatu di antara mereka berdua." tebak Gara dalam hati.


"Tenang saja, saya sudah terbiasa tidur sebentar saat malam. Lagi pula, saya bisa tidur lagi, saat jam istirahat." jelas Jeno, mengambil kursi plastik, dan duduk di samping Gara.


"Untuk apa elo masuk?" tak perduli ada Jeno di samping mereka, Gara bertanya pada Bulan.

__ADS_1


Gara yakin, jika Jeno adalah seseorang yang dapat dipercaya. Jika tidak, mana mungkin Bulan mau bekerja sama dengan anak tersebut.


Ditambah, Jeno sudah mengetahui kediamannya. Serta semua apa yang ada di dalamnya.


Bulan menyenderkan badannya, mencari posisi yang nyaman untuk tubuhnya yang masih sangat terasa sakit. "Rekaman itu ada di sana." jawab Bulan dengan santai.


Sama seperti Gara, Bulan pun juga tak mempermasalahkannya keberadaan Jeno diantara mereka. Sementara Jeno, dia hanya menyimak, tanpa ikut campur atau bertanya.


"Duduk saja. Tidak perlu pergi." tukas Bulan, ketika Jeno ingin berdiri meninggalkan dirinya dan Gara. Bulan tahu, jika Jeno merasa tidak enak hati.


Jeno kembali duduk, dan diam seperti sebelumnya. "Dan elo mendapatkannya?" tanya Gara.


Bulan mengangguk. "Elo sudah tahu isinya?"


Bulan menggeleng. "Belum."


Tiittt,,, tiittt,,, titttt.... suara alarm berbunyi nyaring. Dengan gerakan cepat, Gara menggerakkan kursi rodanya ke ruangan di mana ada banyak layar yang berada di tembok.


Bulan, dengan keadaannya, dia juga mengikuti Gara. Sedangkan Jeno, dia yang memang tidak tahu menahu apa yang terjadi, dia juga mengikuti mereka berdua masuk ke sebuah ruangan.


Bulan duduk di sebelah Gara yang jari jemarinya sedang menari indah di atas keyboard. Jeno menajamkan penglihatannya ke arah layar. "Ada yang hendak masuk." lirih Jeno.


Terlihat dengan jelas, beberapa orang berseliweran di sekitar markas.

__ADS_1


__ADS_2