
Bulan berjalan santai di lorong sekolahan, setelah dirinya selesai mengajar di kelas Jevo dan Jeno. Setelah ini, Bulan hanya akan duduk di ruang guru. Mengoreksi pekerjaan para muridnya yang baru saja mereka kumpulkan.
Langkah kaki Bulan terhenti, saat tiba-tiba Claudia berdiri di depannya. "Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Bulan.
Sebenarnya, Bulan bisa menebak kenapa siswi yang menyukai Jevo ini tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Ditambah ekspresi Claudia yang terlihat kesal.
Pasti karena tadi pagi, Nyonya Rindi menghampirinya. Memilih untuk berbincang dengannya, ketimbang dengan Claudia.
Padahal sudah jelas, jika kedudukan Claudia adalah kekasih dari Jevo. Dan semua orang tahu akan hal tersebut. Sedangkan Bulan hanya guru pengajar di sekolah ini. Dan itupun masih terbilang masih sangat baru.
Tapi Nyonya Rindi begitu mudah melihat kehadirannya, dan terlihat menerima sosok Bulan, dari pada Claudia. Yang dari dulu berusaha mendekat ke beliau. Namun sayangnya tak pernah berhasil.
"Dasar anak kecil. Pasti dia sedang cemburu." batin Bulan yang sebenarnya sangat malas berurusan dengan Claudia.
Bulan sangat tahu bagaimana karakter siswi seperti Claudia. Perempuan yang hanya bisa mengandalkan kekayaan serta kekuasaan orang tuanya. Tak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya.
"Gue peringatkan. Sebaiknya elo nyadar diri. Jangan sok kecantikan." bentak Claudia tanpa sopan sama sekali. Padahal, yang ada di hadapannya adalah salah satu guru di sekolah tempat dia mengenyam ilmu.
"Ingat umur. Elo itu sudah tua. Maunya sama daun muda. Ngaca." hina Claudia tersenyum remeh.
"Mulut anak ini. Sepertinya nggak bisa di diamkan begitu saja." batin Bulan menatap lekat Claudia yang berdiri dengan dagu terangkat didepannya. Sangat angkuh dan terlihat sengaja menantang Bulan.
"Sebaiknya elo nggak usah macam-macam. Apalagi, elo sudah kelas tiga. Apa perlu, gue buat elo tetap di kelas tiga. Menemani Jevo yang sebentar lagi akan mendiami kelas tiga." ancam Bulan tersenyum miring.
Claudia menahan amarahnya yang sudah berada di pucuk ubun-ubun. Apa yang dikatakan Bulan bukan hal yang bisa dia anggap enteng.
"Jika elo penasaran, gue akan melakukannya. Bagaimana. Bukankah menyenangkan, tidak lulus kelas tiga. Dan akan sekelas dengan sang kekasih. Pilihan yang sangat menarik bukan."
Tidak lulus sekolah. Sama artinya Claudia membuat dirinya masuk ke dalam jurang. Pastinya, jika itu terjadi, sudah dapat dipastikan jika dirinya akan mendapat masalah besar.
Kedua orang tuanya pasti akan murka. Belum lagi, restu dari keluarga Jevo yang hingga saat ini belum di dapatnya, akan semakin sulit dia dapat.
"Jadi, gue peringatkan. Nggak usah berlagak di hadapan orang tua seperti gue, anak kemarin sore." sindir Bulan.
Claudia terdiam. Dirinya hanya bisa menahan keinginannya untuk menyerang Bulan. Claudia masih sadar, jika dirinya masih berada dalam kawasan sekolah.
"Dan sebaiknya elo minggir. Jangan pernah sekali lagi menghalangi jalan gue." bentak Bulan dengan nada rendah.
Claudia menggeser dua langkah kakinya ke samping. Memberi jalan pada Bulan. Tapi, tetap dengan tatapan bagai ingin memakan Bulan hidup-hidup. "Bagus, jadilah siswi yang penurut." tukas Bulan tersenyum miring.
Bulan mulai melangkahkan kakinya beberapa langkah, tapi Bulan hentikan kembali, saat dirinya berada tepat di belakang Claudia.
"Bukankah ini masih dalam jam pelajaran. Sebaiknya elo belajar dengan benar. Jangan keluyuran tak jelas. Jangan menjadi siswi bodoh, yang hanya mengandalkan kekayaan orang tuanya." ejek Bulan sebelum benar-benar pergi meninggalkan Claudia seorang diri.
Perkataan Bulan yang terakhir benar-benar menusuk langsung ke jantung Claudia. Karena memang selama berseragam putih abu-abu, dirinya sama sekali tidak pernah mendapatkan prestasi.
Dan satu lagi, dirinya dikenal serta ditakuti para murid lainnya, serta beberapa guru yang memperlakukan dirinya dengan spesial karena tak lain karena Claudia putri dari salah satu penyokong dana di sekolah ini.
Claudia menggenggam erat kedua telapak tangannya. Dihentakkannya kedua kakinya di atas lantai dengan perasaan dongkol di saat Bulan telah meninggalkannya. "Bisa-bisanya Bulan yang malah membuat gue tak bisa berkutik." desis Claudia.
Awalnya, Claudia sengaja mencegat Bulan. Dirinya ingin menekan Bulan, supaya tidak mendekati keluarga Jevo. Entah siapapun itu.
Baik Jevo atau Jeno. Juga dengan kedua orang tua si kembar. Tuan David dan Nyonya Rindi. Dirinya tidak ingin Bulan menjadi saingannya.
Tapi nyatanya, dirinyalah yang malah ditekan oleh Bulan hingga membuat Claudia tak berkutik. "Gue harus memikirkan cara lain untuk membuat Bulan menjauh dari keluarga Jevo. Apapun itu." ujar Claudia geram.
Claudia segera meninggalkan tempat tersebut, untuk kembali ke kelas. "Claudia,,, Claudia,,, elo lihatkan. Bu Bulan itu guru. Mana mudah elo intimidasi." batin Tasya yang ternyata melihat serta mendengar percakapan Claudia dengan Bulan.
"Semoga Claudia tidak sampai membuat Bu Bulan celaka." gumam Tasya yang mendengar kalimat terakhir dari Claudia.
Tasya bernafas lega. Tanpa dia memberitahu Bulan, ternyata Bulan sudah bisa mengatasi Claudia. Dan juga tidak takut dengan Claudia.
Meski kedua orang tua Claudia salah satu penyandang dana di sekolah ini. Meski tak sebanyak dana yang di keluarkan oleh keluarga Jevo dan Jeno.
Di dalam ruangan, setelah pekerjaannya selesai, Bulan pulang terlebih dahulu. Dan semua itu bisa Bulan dapatkan karena Nyonya Rindi memberitahu kepala sekolah. Jika dirinya dan Bulan akan bertemu, saat makan siang.
Tentu saja, kepala sekolah menemui Bulan secara pribadi di ruang guru. Dan mengingatkan Bulan, agar dirinya lekas pulang. Agar Nyonya Rindi tidak sampai menunggu.
Tapi, apa yang dilakukan oleh pak Prapto, kepala sekolah di mana Bulan mengajar, malah membuat semua mata di ruang guru melirik ke arah Bulan. Tentu saja pikiran mereka tak sama.
Ada yang masa bodo dan acuh, karena apa yang Bulan lakukan sama sekali tidak ada gunanya atau tidak berimbas apapun untuk mereka. Ada juga yang memandang Bulan dengan remeh.
Apalagi Bu Vani yang sejak awal tidak menyukai sosok Bulan. Dirinya langsung berbisik pada guru yang ada di sampingnya, dengan menatap Bulan sinis.
Apa Bulan peduli, sama sekali tidak. Itulah Bulan.
"Semuanya, saya pulang dulu." pamit Bulan dengan sedikit mengangguk pelan sembari tersenyum.
"Iya bu, hati-hati." sahur guru lainnya.
Bulan hanya tersenyum, dan pergi meninggalkan ruang guru. "Belum apa-apa saja sudah pulang lebih dulu. Dasar penjilat." sarkas bu Vani, bermaksud merendahkan Bulan.
Tapi tak ada satu gurupun yang menyahuti perkataannya. Semua seakan tidak mendengar apa yang Bu Vani katakan. Dan melanjutkan apa yang mereka lakukan.
Sampai di parkiran, Bulan segera memakai jaketnya. "Orang kaya dan berkuasa memang berbeda." tukas Bulan menggeleng heran.
Bulan yang bekerja sebagai aparat negara, sudah terbiasa selalu taat dengan peraturan. Dirinya selalu bertindak disiplin, dan sama sekali tidak pernah melanggar peraturan yang sudah ada.
Sebab, biasanya para guru tidak boleh pulang sebelum jam pelajaran selesai. Sehingga mereka akan pulang bersamaan dengan para murid.
__ADS_1
Bulan memakai helm, melajukan motornya ke tempat dimana dirinya dan Nyonya Rindi berjanjian akan makan siang bersama.
Sedangkan Nyonya Rindi sudah terlebih dahulu mendatangi tempat dimana dirinya dan Bulan akan bertemu untuk melakukan makan siang.
Nyonya Rindi sengaja datang lebih awal. Tentu saja beliau ingin mensurvei tempat yang direkomendasikan oleh Bulan.
Bukannya Nyonya Rindi tidak percaya dengan pilihan Bulan. Tapi dirinya hanya ingin mempersiapkan semuanya dengan baik.
Beliau bahkan sampai melihat sendiri bagaimana koki rumah makan tersebut memasak di dapur. Tentunya, Nyonya Rindi membawa nama besar sang suami untuk melakukan apa yang dia inginkan.
Meski begitu, beliau tidak memesan makanan dan minuman terlebih dahulu. Tentunya, beliau hanya memesan segelas air putih untuk menunggu kedatangan Bulan.
Nyonya Rindi mengingat pesan yang disampaikan sang suami, sebelum dirinya berangkat ke rumah makan ini.
Tuan David menyuruh sang istri untuk tidak bertindak posesif. Juga mengingatkan pada sang istri untuk bersikap biasa, dan tidak berlebihan.
Karena setelah meninggalkan sekolah dimana kedua putranya mendapatkan pendidikan, Nyonya Rindi pergi ke perusahaan sang suami, untuk bertemu sang suami.
Setelahnya, barulah Nyonya Rindi pulang ke rumah untuk mempersiapkan diri bertemu dengan Bulan. Awalnya, Nyonya Rindi mengajak sang suami untuk makan siang bersama dengan mereka.
Tentu saja Tuan David menolaknya. Alasannya tak lain adalah beliau tidak ingin Bulan curiga. Karena akan sangat terlihat mencolok, jika Tuan David juga ikut makan bersama mereka.
Tapi, sepertinya Nyonya Rindi tidak melakukan semua yang dikatakan sang suami. Meski dirinya tidak memesan makanan sebelum Bulan datang, tapi Nyonya Rindi meminta ruangan khusus untuknya dan Bulan.
Tujuan Nyonya Rindi memang ingin menjaga privasi. Dirinya ingin terasa nyaman saat berbincang dengan Bulan. Namun sayangnya, Nyonya Rindi hanya berpikir dari sisinya, bukan dari sisi Bulan.
"Maaf, apakah anda Nona Bulan?" tanya seorang karyawan rumah makan tersebut pada Bulan yang baru tiba.
Bulan merasa aneh. Pasalnya, dirinya tidak pernah diperlakukan seperti ini saat datang. Tapi kali ini, dirinya yang baru melangkahkan kaki di teras rumah makan, ditanya siapa namanya oleh salah satu karyawan dia tempat tersebut.
"Iya, saya Bulan." tak ingin memusingkan hal yang menurutnya tidak penting, Bulan menyebutkan saja namanya.
"Silahkan Nona, Nyonya Rindi sudah menunggu anda di dalam." ujarnya, sembari menggerakkan tangannya mengarah dimana Nyonya Rindi berada.
Bulan menghela nafas perlahan, dirinya lupa sedang berjanjian dengan siapa. "Apa memang harus seperti ini." batin Bulan yang belum terbiasa diperlakukan khusus seperti ini.
Padahal, biasanya dirinyalah yang memperlakukan seseorang atau beberapa orang dengan khusus. Entah itu atasannya, orang-orang penting di negara ini atau luar negeri, atau malah musuhnya. Tapi khusus dalam arti yang berbeda di antara mereka.
Tapi Bulan bisa apa, dirinya tak mungkin marah atau melakukan hal yang nanti malah akan membuatnya malu karena hal sepele.
Bulan mengekor di belakang pegawai rumah makan yang berjalan di depannya untuk menuju ke tempat di mana Nyonya Rindi berada.
"Mau di bawa ke mana gue?" batin Bulan, karena mereka malah melewati meja dan kursi yang tertata rapi yang masih dalam keadaan kosong, belum ada yang menggunakannya.
Karyawan tersebut berhenti di sebuah ruangan. "Silahkan Nona. Nyonya Rindi ada di dalam." ujarnya memberitahu.
Bulan mengira jika dirinya akan makan seperti biasa. Duduk santai di meja, dengan melihat para pengunjung lain makan. Menikmati udara bebas.
Bulan menghela nafas perlahan. "Gue memang nggak cocok berada di keluarga mereka." batin Bulan, sebelum membuka pintu di depannya.
"Nona..." panggil karyawan rumah makan, sebab Bulan hanya diam sembari menatap pintu. Tak terlihat akan masuk ke dalam.
Bulan mengangguk. "Terimakasih mbak." cicit Bulan.
Bulan membuka pintunya perlahan. "Selamat siang tante." sapa Bulan, saat dirinya melihat Nyonya Rindi memainkan ponselnya.
Segera Nyonya Rindi menyimpan ponselnya. "Siang. Ayo masuk." pinta Nyonya Rindi tersenyum sempurna.
"Duduk." pinta Nyonya Rindi, setelah Bulan berada di dalam ruangan yang sama dengannya.
"Tante sudah lama?" tanya Bulan, melirik ke arah gelas berisi air mineral yang berada di depan Nyonya Rindi.
"Belum. Saya juga baru sampai." ujar Nyonya Rindi berbohong. Dan Bulan tahu, jika Nyonya Rindi berbohong.
Sebelum duduk, Bulan menaruh tasnya di kursi sebelahnya yang kosong. Melepas jaket yang dia kenakan, untuk dia taruh di atas tasnya.
Apa yang Bulan lakukan tak lepas dari pandangan Nyonya Rindi. "Kamu pasti sangat lelah?"
Bulan memundurkan sedikit kursinya, dan segera duduk dengan sopan. "Tidak tante. Saya sudah terbiasa." tukas Bulan.
"Kamu tidak apa-apakan, jika kita makan di ruangan seperti ini?" tanya Nyonya Rindi, takut jika Bulan tidak nyaman.
Jujur, sebenarnya Bulan memang tidak nyaman. Tapi dirinya masih punya tata krama untuk menghargai orang lain yang berbuat baik pada dirinya.
Tak mungkin dia mengatakan dengan jujur apa yang dia rasakan. Meminta Nyonya Rindi untuk berpindah tempat makan.
Bulan tersenyum. "Tidak apa-apa tante, Bulan senang." tukas Bulan, dan tentu saja dia berbohong untuk menyenangkan hati dari mama Jevo dan Jeno.
"Terimakasih sayang. Tante khawatir jika kamu tidak menyukainya." ujar Nyonya Rindi, merasa lega.
Bulan tersenyum. Dirinya tahu, jika sebenarnya Nyonya Rindi ingin dirinya merasa nyaman. Hanya saja, cara dia melakukannya kurang tepat.
"Baiklah, bagaimana kalau kita memesan makanan. Pasti kamu juga lapar. Saya saja sudah lapar." ujar Nyonya Rindi disertai kekehan kecil.
Nyonya Rindi memanggil pegawai rumah makan, lalu keduanya memesan makanan serta minuman. Sembari menunggu apa yang mereka pesan datang, keduanya berbincang.
Keadaan yang semula terasa tegang, perlahan mulai mencair. Nyonya Rindi yang super bawel, bisa membuat Bulan selalu tersenyum dengan setiap perkataannya.
Dan tujuan Nyonya Rindi mengajak makan siang Bulan sepertinya berhasil. Dirinya dan Bulan terlihat tidak lagi begitu berjarak. Keduanya perlahan bisa saling mengisi.
__ADS_1
"Ternyata tidak seperti yang gue duga." batin Bulan. Yang awalnya mengira dirinya akan canggung saat berbincang dengan sosok seperti Nyonya Rindi.
"Syukurlah. Aku bisa mendekatkan diri dengan Bulan. Dia perempuan yang manis dan baik." batin Nyonya Rindi, merasa klop dengan Bulan.
Tak berselang lama, makanan serta minuman yang mereka pesan akhirnya datang. "Hemm... akhirnya, cacing di perut tante akan berhenti berdemo." canda Nyonya Rindi.
"Ayo silahkan, makan." Nyonya Rindi mengisi piringnya dengan beberapa makanan yang tersaji di atas meja. Begitu juga dengan Bulan.
"Kamu bisa masak?" tanya Nyonya Rindi di sela-sela makan.
Bulan tersenyum canggung. "Hanya bisa membuat mie instan tante. Sama merebus air." tukas Bulan berkata jujur.
"Waaahhh,,, kita sama." ujar Nyonya Rindi tersenyum senang.
Bulan melongo tak percaya. Dia mengira jika Nyonya Rindi bertanya mengenai masakan karena beliau pandai memasak. Ternyata sama seperti dirinya.
"Tapi saya bisa membuat telur dadar juga." lanjut Nyonya Rindi, sontak membuat Bulan tertawa lepas.
Nyonya Rindi tersenyum melihat tawa Bulan. Karena sedari tadi, Bulan hanya tersenyum. "Tante, jika membuat telur ceplok, Bulan jagonya." tukas Bulan.
"Lalu kamu makannya bagaimana?"
"Bulan beli di warung tante. Nggak jauh dari rumah yang Bulan tempati." jelas Bulan.
Mulut Nyonya Rindi sebenarnya sangat gatal ingin sekali menanyakan tentang kedua orang tua Bulan, serta keluarga Bulan yang lain. Tapi beliau menahannya.
Nyonya Rindi teringat, jika sebenarnya pekerjaan Bulan bukanlah seorang pengajar, melainkan aparat negara.
Yang artinya, Bulan menyembunyikan identitasnya yang asli. "Pasti papa tahu." batin Nyonya Rindi.
Yang artinya, Nyonya Rindi akan menanyakan hal tersebut pada sang suami setelah dirinya sampai di rumah.
"Kamu nggak apa-apa, makan makanan yang di jual di warung pinggir jalan?" tanya Nyonya Rindi.
Bulan menggeleng. "Tidak tante. Asalkan tempatnya bersih. Bagi Bulan tidak masalah." jelas Bulan.
"Tante belum pernah makan di tempat seperti itu. Kapan-kapan, kamu ajak tante makan di sana ya." pinta Nyonya Rindi.
Bulan terdiam sesaat. Dirinya bingung mau menjawab apa. Jika menyetujuinya, pasti suatu saat Nyonya Rindi akan menagihnya.
Dan Bulan bisa menebak, pasti akan sangat ribet membawa Nyonya Rindi makan di tempat seperti itu. Lalu, bagaimana dirinya akan mengatasinya.
Apalagi, Nyonya Rindi memang terlahir dengan sendok emas di mulutnya. Yang tidak pernah mengalami kesulitan dalam hidup sejak kecil.
Tapi, jika Bulan menolaknya. Pasti Nyonya Rindi akan sedih. Dan yang lebih utama, Bulan terlihat tidak menghargai orang lain.
Bulan tersenyum. "Iya tante. Kapan-kapan jika ada waktu, kita makan di warung kecil yang ada di pinggir jalan." ujar Bulan terpaksa mengiyakan permintaan Nyonya Rindi.
"Terimakasih."
Keduanya melanjutkan makan dengan lahap. "Kamu pintar memilih tempat. Makanan di sini enak sekali. Tante suka."
"Bulan senang, jika tante menyukainya." sahut Bulan.
Nyonya Rindi mengeluarkan ponsel, memfoto makanan yang tinggal sedikit di atas meja, tanpa menampilkan wajah Bulan, ataupun dirinya. Lalu mengapluodnya di sosial media miliknya.
MAKANAN TERENAK BERSAMA ORANG SPESIAL.
Tak membutuhkan waktu lama, para teman arisan beserta istri rekan kerja sang suami mengomentari kolom komentar. Tentu saja mereka penasaran, siapa orang spesial yang dimaksud Nyonya Rindi.
"Sayang, kamu beneran tidak apa-apa naik motor?" tanya Nyonya Rindi, saat mereka berdua ada halaman rumah makan. Berdiri di dekat kendaraan mereka.
Nyonya Rindi berucap sembari menatap ke langit. Dimana matahari bersinar terik. Sehingga panasnya seakan membakar siapapun yang berada di bawahnya.
Bulan tersenyum. Mengerti mengapa Nyonya Rindi bertanya seperti itu. "Tante, sinar matahari itu sahabat Bulan. Tenang saja, Bulan tidak akan terbakar." canda Bulan, sambil memperlihatkan kulitnya yang putih mulus.
"Kamu itu. Bagaimana jika tante antar kamu saja." saran Nyonya Rindi.
"Tante, Bulan membawa motor."
"Gampang, biar motor kamu di bawa sopir tante. Lalu kamu yang membawa mobil, bersama tante di dalamnya." tukas Nyonya Rindi.
"Maaf tante, Bulan bukannya tidak mau. Bulan naik motor saja." tolak Bulan, yang merasa tidak enak dengan pak sopir.
Lagi pula, Bulan juga tidak akan pulang ke rumah. Melainkan akan langsung pergi ke markas, dimana Gara ada di sana.
Nyonya Rindi mengangguk, meski merasa tidak rela. Tapi dirinya tidak bisa mendesak Bulan untuk menuruti keinginannya.
"Tante hati-hati di jalan." Bulan membukakan pintu mobil untuk Nyonya Rindi.
Cup... "Kamu juga." sahut Nyonya Rindi sambil mencium sebelah pipi Bulan.
"Tidak anak, tidak mama. Sukanya main cium." batin Bulan, teringat akan tingkah Jeno. Sekarang Bulan menyimpulkan, sifat Jeno berasal dari sang mama.
Bulan menutup perlahan pintu mobil, setelah memastikan Nyonya Rindi masuk dan duduk dengan benar. "Pak, hati-hati bawa mobilnya." tukas Bulan pada pak sopir.
"Baik Non."
Bulan melambaikan tangan, begitu juga dengan Nyonya Rindi, saat mobil yang dinaiki Nyonya Rindi melaju meninggalkan rumah makan.
__ADS_1