
Timo menghentikan mobilnya di tepi jalan. Dirinya tetap berada di dalam, duduk di kursi sembari menatap ke layar ponselnya.
''Kenapa asisten culun itu mengatakan jika alamatnya salah.'' cicit Timo merasa ada yang janggal.
Timo menyandarkan badannya sembari berpikir. Ditengah perjalanan menuju rumah pasien, ponselnya berdering. Ternyata Jeno menghubungi dirinya, tentu saja Jeno berperan sebagai asisten dari dokter Vinc.
"Apa gue menghubungi pasien Vinc lagi." cicit Timo menimbang-nimbang apa yang akan dia lakukan. Bagaimana Timo tidak merasa bingung.
Alamat yang diberikan pasien dengan alamat yang diberitahu Jeno sanga bertolak belakang. Sang pasien mengatakan alamat rumahnya mengarah ke utara. Sementara Jeno mengatakan alamat rumahnya menuju ke arah selatan.
Beruntung, Jeno menghubungi Timo tepat waktu. Terlambat sedikit saja, sudah dipastikan jika Timo sudah berada di alamat pasien. Melancarkan aksinya untuk bersenang-senang.
Timo akhirnya memutuskan untuk kembali menghubungi nomor ponsel pasien yang akan dia hampiri dan akan dia periksa.
Tutt.... Tuttt...
"Loh...." Timo memandang ke layar ponsel dengan heran. Pasalnya, panggilannya terhubung. Tapi ditolak oleh sang pemilik nomor.
Tanpa Timo tahu, jika Jeno sudah merencanakan semuanya. Menghubungi sang pasien dengan mengarang sedikit cerita.
Lagi, Timo kembali menghubungi nomor ponsel sang pasien. Dan seperti yang pertama, panggilannya kembali di tolak. "Sial...!! Kenapa bisa begini...?!" serunya memukul stir di depannya dengan kesal.
Sebab, Timo sudah sangat bersemangat. Dirinya berniat menggunakan pasien dokter Vinc sebagai pelampiasan kekesalannya atas semua yang terjadi pada dirinya sejak semalam.
Sayangnya, apa yang sudah dia rencanakan dalam benaknya gagal kembali. "Lalu gue harus kemana?!" tanyanya dengan nada tinggi. Merasa frustasi.
Timo tersenyum menakutkan. "Asisten culun itu..!!" geram Timo. Yang sekarang berniat untuk menghubungi Jeno.
Tentunya dirinya ingin mengajak Jeno bertemu. Dan menjadikan Jeno kelinci permainannya. Tapi tanpa Timo tahu, jika dirinyalah yang masuk dalam permainan Bulan beserta yang lainnya.
"Brengsek...!!" umpat Timo, saat panggilan teleponnya tak diangkat dan malah diacuhkan oleh oleh Jeno. "Kemana si culun itu pergi." kesal Timo semakin bertambah.
"Aaa...!!" teriak Timo sembari memukul stir berulang kali. "Kenapa?! Kenapa akhir-akhir ini semua rencana gue nggak ada satupun yang berjalan dengan baik." tukas Timo.
Sebab semua yang sudah dia rencanakan dengan matang selalu gagal. Padahal, sebelumnya semua yang Timo inginkan selalu berjalan sesuai keinginannya. Apapun itu dan di mana tempatnya.
"Tunggu. Dari mana si jongos itu tahu. Jika gue akan ke sana?" tanya Timo merasa heran.
Timo berpikir sejenak. Menebak dari mana asisten dokter Vinc alias Jeno tahu jika dirinya akan mendatangi salah satu rumah pasien.
"Diakan asisten Vinc. Berarti dia juga punya semua jadwal yang dokter Vinc punya." lirih Timo mencoba berpikir rasional.
"Tapi tetap saja, bukan itu masalahnya. Aaaiisshhh,,, brengsekk...!! Apa yang harus gue lakukan sekarang.'' geramnya tak mempunyai rencana.
Timo tersenyum sumringah. "Ya,,,, benar. Alamat yang diberikan si culun saja. Benar. Lebih baik gue pergi ke sana saja. Siapa tahu memang benar itu alamatnya."
Dengan semangat dan senyum di bibir, Timo melajukan mobilnya dengan kencang membelah jalanan ke alamat yang diberitahukan Jeno.
"Gila,,,!! Kenapa alamatnya jauh sekali." cicit Timo merasa lelah terus menyetir. Tapi tidak lekas sampai di tempat yang di tuju.
Timo menggunakan sebuah aplikasi di ponsel untuk menemukan alamat yang di beritahukan Jeno pada dirinya.
Timo membutuhkan waktu kurang lebih empat puluh lima menit untuk sampai ke tempat yang diberitahukan oleh Jeno.
Timo menghentikan mobilnya di tengah jalan. Dirinya tak perlu khawatir jika ada kendaraan lain yang akan melintas. Atau jika mobilnya menghalangi jalan kendaraan lain yang kewat jalan tersebut.
Sebab, mobil Timo adalah satu-satunya mobil yang ada di tempat tersebut. Tak ada kendaraan apapun, bahkan sepeda pancal sekalipun.
"Tempat macam apa ini?" tanyanya pada diri sendiri. Merasa jika dirinya berada di tempat antah berantah.
Di sepanjang mata memandang, hanya akan ada bangunan rumah yang sudah tak bisa ditinggali karena telah rusak.
Terlihat tanama liar, juga banyaknya pohon yang tak terawat di depan rumah-rumah. Kemungkinan rumah-rumah tersebut rusak karena memang sengaja ditinggalkan oleh para pemiliknya.
Dan entah apa alasan mereka melakukannya, yakni meninggalkan rumah mereka. Tapi bukan hanya satu atau dua rumah. Namun semua rumah terlihat kosong.
"Apa gue salah alamat?" Timo melihat kembali alamat yang dia ketikkan di sebuah aplikasi di layar ponselnya.
"Cupu sialan...!!! Jongos brengsek...!!" teriak Timo tersadar jika dirinya sedang dipermainkan oleh seseorang.
Timo hanya bisa meluapkan kekesalannya dengan menendang angin di sekitarnya. "Aaa...!! Bagaimana bisa,,, gue yang pandai dengan mudah dibohongi oleh si cupu itu...!!" geramnya tak terima, sebab Timo merasa jika dirinya lebih hebat dari pada Jeno.
Timo berkacak pinggang. Kedua matanya bagai elang yang sedang mencari mangsa. Tentu saja Timo mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk permainannya.
Tanpa Timo tahu, jika di setiap rumah masih tersedia kamera CCTV yang masih aktif. Bahkan kamera CCTV juga terpasang di beberapa titik jalan.
Hal tersebut tentu saja tidak begitu saja dilewatkan oleh Gara. Sebab, di markas Gara duduk manis di depan layar. Memantau setiap gerakan yang Timo lakukan dari layar tersebut.
"Timo,,, Timo,,, dulu elo yang sangat senang membuat orang lain menjadi boneka mainan elo. Bahkan memperlakukan mereka seperti binatang. Lihatlah,, sekarang masa elo sudah selesai." cicit Gara. Sebab, kini saatnya Timo membayar atas apa yang dia perbuat selama ini.
__ADS_1
Gara tentu saja mengetahui letak keberadaan Timo. Sebab, dirinyalah yang menyuruh Jeno untuk menggiring Timo ke tempat tersebut. Agar dirinya bisa leluasa melihat apa yang akan dilakukan oleh Timo.
Sedangkan di villa Mikel, Bulan mengajak kakek Timo untuk berbicara empat mata. Hanya Bulan dan kakek Timo.
"Saya ingin, kakek membuat sebuah topeng yang selama ini Timo gunakan." pinta Bulan, saat dirinya dan kakek Timo berdua di sebuah kamar.
Kakek Timo menatap Bulan dengan tatapan aneh. "Kita butuh bukti. Jika hanya dengan omongan saja, saya yakin jika mereka akan menganggap kita seperti orang gila." jelas Bulan, mengapa dirinya memerlukan hal tersebut.
Kakek Timo mengangguk paham. "Tapi, rumah saya sudah terbakar." tutur kakek Timo. Sebab semua peralatan dan juga semua bahan untuk membuat topeng terbakar bersama terbakarnya rumah beliau, yang dilakukan oleh Timo dengan sengaja.
"Saya tahu. Kakek tidak perlu khawatir. Saya akan membelikan semua yang kakek butuhkan." jelas Bulan.
"Baiklah. Lalu wajah siapa yang harus saya buatkan kembarannya?"
"Wajah saya." sahut Bulan tak ingin mengambil resiko terlalu besar.
Bulan bermaksud untuk langsung membakar topeng tersebut setelah selesai dibuat dan dipergunakan sesuai tujuan awalnya.
Jika topeng tersebut ternyata jatuh ke tangan orang yang ingin membuat Bulan mendapat masalah, Bulan hanya perlu mencari dan menemukannya. Tanpa melibatkan orang lain. Sebab topeng tersebut sama dengan wajah Bulan.
Itulah alasannya, kenapa Bulan lebih memilih untuk sang kakek membuat wajah yang sama dengan wajahnya.
"Tapi, daya akan memberitahu semuanya dari sekarang. Konsekuensi apa saja yang akan anda hadapi. Jika anda muncul sebagai pembuat topeng wajah yang selama ini digunakan oleh Timo." jelas Bulan.
Tentunya Bulan tak sampai hati jika hanya menyuruh sang kakek melakukan apa yang dia inginkan. Untuk membuka tabir semua kejahatan Timo. Tanpa mengatakan yang sejujurnya pada kakek Timo.
"Kemungkinan besar, anda akan menjadi tersangka. Karena anda berperan penting dalam hal ini. Sebab, tanpa anda, pastinya Timo sudah bisa kami tangkap sejak dulu." ungkap Bulan.
Kakek Timo tidak terkejut. Beliau paham kenapa Bulan mengatakan hal tersebut. Jika saja dirinya tahu sejak awal. Pasti beliau juga tidak akan membuatkan topeng untuk Timo.
Hanya saja, seandainya beliau tahu apa yang dilakukan Timo dengan topeng tersebut. Dan dia menolak untuk membuatnya, pasti sekarang kakek Timo tak akan bisa bertemu Bulan dan yang lainnya. Karena sudah bisa ditebak. Beliau akan langsung dieksekusi oleh Timo. Lantaran tak ada gunanya.
Bulan menatap kakek Timo dengan intens. Sejujurnya, ada rasa iba di hati Bulan. Hanya saja, dirinya tak mungkin bisa menyembunyikan sang kakek. Karena beliau salah satu pemeran dalam kejahatan hang dilakukan Timo.
Bulan bisa saja mengarang cerita, entah bagaimana caranya kakek Timo tidak terlibat. Tapi tidak mungkin Bulan melakukannya. Sebab Bulan membutuhkan kehadiran beliau untuk memperkuat semuanya.
"Jika kakek ingin mundur, saya tidak masalah. Mungkin, saya akan mencari jalan keluar lainnya." lanjut Bulan merasa tak tega.
Dihari tuanya, kakek Timo yang selama ini sudah hidup cukup menderita di rumah reyotnya, harus menghadapi hukum. Dan kemungkinan besar beliau akan di masukkan ke dalam penjara.
Kakek Timo tersenyum. Ada rasa hangat menjalar di hatinya mendapatkan sedikit perhatian dari Bulan. Yang selama ini, dirinya tak pernah menerimanya. Meskipun dari Timo.
"Benar kata mama Rio. Timo sangat berbahaya. Dan dia akan memakan korban lebih banyak jika dibiarkan berkeliaran di luar." lanjutnya memantapkan hati untuk memasukkan Timo ke dalam jeruji besi.
Kakek Timo berpikir dari sisi kemanusiaan. Dirinya hanya kehilangan Timo, yang harus masuk ke dalam penjara. Tapi mereka yang menjadi korban Timo, mereka tak bisa lagi melihat kedua orang tuanya, serta semua keluarganya dan orang yang mereka sayang. Karena Timo telah melenyapkan nyawa mereka.
"Jika Timo hanya membunuh satu dua orang saja, mungkin saya akan berdiri di depan cucu saya. Dan membelanya. Tapi,,,,,," kakek Timo tak melanjutkan perkataannya.
"Kakek tenang saja. Sebisa mungkin, saya akan memantau terus kakek di dalam penjara. Dan saya akan menjamin. Kakek akan ditempatkan di penjara yang seharusnya." tekan Bulan, pastinya ada maksud tertentu.
"Baik. Saya percaya sama kamu. Dihukum matipun, saya rela." cicit kakek Timo yang tidak tahu, jika ada makna dari perkataan Bulan. Apalagi beliau semalam sudah bertekad mengakhiri hidupnya.
Mengapa Bulan tak mengatakan jika dirinya bisa membuat masa tahanan kakek Timo tak terlalu lama. Semua itu karena Bulan sengaja melakukannya.
Bulan berpendapat, jika kakek Timo akan lebih aman jika tetap berada di dalam jeruji besi dengan pantauan dia.
Karena, jika beliau berada di luar penjara, ada dua kemungkinan yang Bulan bisa perkirakan. Nyawa kakek Timo akan terancam oleh keluarga para korban.
Dan yang kedua, Bulan khawatir jika akan ada orang jahat yang sengaja mempergunakan keahlian kakek Timo untuk sesuatu kejahatan. Dan itu akan lebih berbahaya.
"Kakek tenang saja. Kakek tak akan dihukum mati." tekan Bulan.
Kakek Timo tersenyum sembari menghembuskan nafas kasar. "Dipenjara seumur hidup saya juga rela. Lagi pula, saya sudah tak punya siapa-siapa. Mungkin memang takdir saya untuk hidup di penjara." ujarnya tersenyum pahit.
Bulan terkekeh pelan. "Kek, apa kakek mengira jika penjara itu menakutkan?" tanya Bulan.
"Karena memang, penjara identik dengan hal seperti itu." sahutnya.
"Tidak semua penjara kek. Kakek tenang saja. Saya berjanji, saya sendiri yang akan memastikan keamanan kakek di penjara." ujar Bulan berjanji.
Kakek Timo tertawa pelan. "Astaga,,, saya berasa menjadi orang yang istimewa." cicitnya.
"Oh iya kek,,, dari mana kakek memperoleh pengetahuan hang begitu hebat dan mengagumkan tersebut?" tanya Bulan yang memang penasaran.
Sebab tak mungkin kakek Timo mempelajarinya sendiri, tanpa ada seseorang atau mungkin dia belajar dari buku.
Sejenak, kakek Timo memandang ke atas. Dimana hanya ada langit-langit kamar. "Dulu,,, kehidupan saya tidak seperti saat kamu temukan." ujar kakek Timo mulai bercerita.
Bulan diam, dan mendengarkan kisah sang kakek. Hingga dirinya bisa membuat topeng yang sama persis dengan wajah orang, bahkan teksturnya juga.
__ADS_1
Kakek Timo berasal dari keluarga kaya raya. Kedua orang tua kakek Timo adalah orang terkaya di negara ini. Sehingga beliau mempunya kenalan dari berbagai kalangan.
Dan dari kenalannya tersebut, beliau belajar. Yang awalnya hanya iseng di saat jenuh dengan kesehariannya yang selalu berhadapan dengan tumpukan kertas, beliau mulai intens mempelajarinya.
Ketekunannya dalam membuat topeng, semakin hari semakin membaik. Bahkan topeng buatannya jauh lebih lebih sempurna dari pada orang yang mengajarinya.
"Apa dia sudah meninggal?" tanya Bulan memotong cerita kakek Timo. Dari ekspresi wajahnya, kemungkinan besar Bulan tahu siapa yang mengajari kakek Timo.
"Ya,,, sebelum kedua orang tua saya meninggal. Dia terlebih dahulu meninggal." jelas kakek Timo. Yang dimana kedua orang tua kakek Timo juga meninggal dalam kecelakaan.
Sama seperti kedua orang tua Timo. Hanya saja, jika kedua orang tua kakek Timo meninggal dalam kecelakaan pesawat, kedua orang tua Timo meninggal dalam kecelakaan mobil.
Bulan menyebutkan nama belakang dari kenalan kakek Timo yang telah meninggal. Dimana dialah yang juga mengajari kakek Timo membuat topeng.
Kakek Timo terkejut mendengar nama yang disebutkan oleh Bulan. "Bagaimana kamu bisa tahu, jika dia orangnya. Jika dia orang yang mengajari saya membuat topeng itu?" tanya kakek Timo tak percaya.
Bulan tersenyum. "Dia tidak meninggal sebelum kedua orang tua anda meninggal kek." ujar Bulan.
Kakek Timo mengerutkan keningnya. Dan Bulan, mengambil senjata api dari balik bajunya. "Dan dia yang sudah membuatnya meninggal." lanjut Bulan, menatap ke arah senjata api yang dia pegang.
Tampak raut wajah kakek Timo sedang berpikir keras. Seperti sedang mengingat sesuatu yang menurutnya bisa mengacu atas apa yang Bulan katakan.
"Seperti kata kakek tadi. Kemampuannya masih di bawah kakek. Meski dia senior kakek. Dan itu malah membuat kami dengan mudah mendapatkannya."
"Apa yang dia lakukan?" tanya kakek Timo. Beliau tidak bertanya bagaimana dia bisa hidup, padahal sudah dinyatakan meninggal.
Karena mengaca pada Rio. Semua orang mengira Rio sudah meninggal. Nyatanya, dia disekap oleh Timo lebih dari setahun lamanya.
"Dia merugikan keuangan negara. Sangat banyak. Tak perlulah saya sebut." jelas Bulan.
Kakek Timo menghela nafas panjang. Dirinya tak mengira jika kenalannya bisa melakukan hal seperti itu. Padahal dia juga berasal dari keluarga kaya raya. Dama seperti dirinya.
Bulan menatap kakek Timo dengan sendu. Jika saya dulu beliau mempunyai pemikiran yang sama seperti kenalannya tersebut. Mungkin sekarang mereka hidup bergelimang harta. Dan Timo tak akan menjadi predator darah.
Tapi Bulan bersyukur. Kakek Timo tetap berada di jalan yang baik. Tak mau menggunakan keahliannya untuk hal yang merugikan orang lain.
Bahkan dirinya rela hidup dalam kemiskinan, dan tidak membuat orang lain kesusahan. "Seandainya Timo memiliki pemikiran seperti kakeknya. Pasti hidupnya akan lebih bahagia." batin Bulan.
Sedangkan di luar kamar, tepatnya di ruang tengah, semuanya tampak menunggu kedatangan Bulan dan kakek Timo kembali.
"Apa kalian juga seorang abdi negara seperti mbak Bulan?" tanya mama Rio, menatap keempat lelaki di sekitanya, Jeno, Jevo, Arya, dan Mikel secara bergantian.
"Maaf tante, kami tidak bisa memberitahu. Jika tante penasaran, tante tanyakan saja pada Bulan. Sebab beliau pimpinan kami." jelas Jevo menolak memberitahu dengan cara yang sopan.
"Ma,,," tegur Rio pada sang mama karena ingin tahu tentang mereka.
"Sayang, mama penasaran dong. Mbak Bulan hanya perempuan. Dia sendiri. Dan mereka berempat lelaki. Terus, mbak Bulan tidak memakai penutup wajah. Mereka berempat memakai." jelas mama Rio.
Mikel hanya memutar kedua matanya dengan malas. "Ternyata dimana-mana yang namanya ibu-ibu itu memang kepo." batin Mikel.
"Sayangnya kamu tidak bisa melihat. Timo...!! Awas saja dia. Mama akan ambil matanya, lalu mama kasih ke kamu." geram beliau.
Rio tertawa renyah. "Mana bisa ma. Jangan aneh-aneh. Lagian Rio nggak mau memakai mata Timo. Yang ada Rio malah melihat para korban Timo." canda Rio berniat membuat sang mama tak marah-marah terus.
"Memang kelereng. Diambil lalu diberikan pada yang lain." batin Arya.
"Pokoknya mama akan mencarikan donor mata buat kamu. Mama akan mengusahakannya." cicit mama Rio.
"Benar tante. Saya yakin, akan ada yang cocok dengan Rio. Dan Rio akan kembali melihat seperti dulu lagi." timpal Jeno.
"Benar kata dia. Mama akan mengusahakan. Agar kamu bisa melihat lagi. Melihat indahnya dunia. Melihat mama lagi." ucap mama Rio terjeda sejenak.
"Dan kami juga harus tahu. Jika yang namanya mbak Bulan itu, sangat cantik dan seksi." lanjut mama Rio mampu membuat senyum Jeno hilang seketika.
Jevo, Arya, dan Mikel menahan tawa mereka sembari melirik Jeno. Ketiganya bisa menebak bagaimana ekspresi wajah Jeno dibalik penutup wajah tersebut.
Ketiganya bahkan juga bisa menebak, apa yang ada di dalam hati Jeno. Pasti Jeno sedang mengumpat. Dan menarik perkataannya yang baru saja dia ucapkan.
"Ma.... Maaf semuanya. Mama saya memang seperti itu." tutur Rio merasa tidak enak hati, menegur sang mama.
Meski pada kenyataannya dia sekarang merasa penasaran dengan wajah Bulan. Sehingga sang mama yang sejak dulu tak pernah memuji perempuan, untuk pertama kalinya memuji kecantikan seorang perempuan.
"Tidak mengapa sayang. Kelihatannya mbak Bulan juga belum punya pasangan. Kalian cocok. Kamu tampan, dan dia cantik." ujar mama Rio membuat Jeno semakin panas.
"Lahh,,, lah,,,, nggak bisa dibiarkan ini. Lebih tampan gue kemana-mana dari pada dia." batin Jeno dengan kedua tangan menggenggam erat.
Segera Jevo memegang lengan Jeno, dia tak mau jika Jeno hilang kendali. "Nggak tahu terimakasih. Sudah ditolong, malah maj ngambil cewek gue." batinnya kesal.
Lagi pula, mana tahu mereka jika Jeno menyukai Bulan. Arya menepuk pundak Jeno beberapa kali. Sementara Mikel mengelus kepala Jeno.
__ADS_1