
Seperti yang telah direncanakan pihak berwajib. Timo di bawa ke penjara pusat dengan pengawalan khusus.
Mereka bukan takut Timo kabur. Melainkan, mereka takut jika Timo tidak selamat sebelum sampai ke kantor pusat. Karena amukan dari masyarakat yang selama ini menginginkan nyawa Timo.
Layaknya mengawal seorang penjahat kelas kakap. Itulah yang pihak berwajib lakukan. Mereka membawa senjata lengkap untuk mengawal Timo.
"Lihatlah sayang. Seperti sebuah parade pertunjukkan." tukas Jeno tersenyum, memegang telapak tangan Bulan dan menciumnya.
Keduanya berada di dalam mobil Jeno, terjebak kemacetan karena pengawalan yang dilakukan pada Timo dari pihak berwajib. Serta banyaknya masyarakat yang ingin melihat.
Bulan hanya diam menatap ke depan. Tak menyahuti apa yang Jeno katakan. Cup.... Jeno mencium sekilas pipi Bulan.
"Masih ngambek?" tanya Jeno, kembali mencium telapak tangan Bulan dengan lembut.
Bulan merasa jengkel. Pasalnya Jeno menginginkan mereka menaiki satu mobil saat kembali ke villa Mikel. Yang artinya, mereka harus menggunakan mobil Jeno yang berada di belakang rumah Bulan.
Tak mungkin Bulan menggunakan mobilnya. Yang ada mereka akan mengetahui jika ada Jeno di dalam rumah Bulan. Sebab, Bulan memarkir mobilnya di halaman rumah. Yang akan bisa dilihat dengan mudah jika ada orang yang masuk ke dalam mobil.
Bulan juga sudah menyarankan untuk mereka menaiki kendaraan masing-masing. Tapi Jeno tetap bersikeras tak mau. Dia tetap menginginkan berdua dengan Bulan.
Alhasil, Bulan dan Jeno memanjat tembok di belakang rumah. Lalu pergi ke tempat Jeno menaruh mobilnya. Benar-benar, kedatangan dan perginya Jeno membuat Bulan jengkel.
Bulan menggeleng pelan menyahuti pertanyaan Jeno. "Lalu kenapa?" tanya Jeno penasaran, membelai pipi Bulan dengan lembut.
"Kamu lihat, bagaimana kemarahan masyarakat. Bisa ditebak, kemungkinan besar Timo selamat sangat kecil." tukas Bulan melihat pemandangan serta mendengar teriakan ancaman serta umpatan yang mereka tujukan pada Timo.
"Tapi Timo berada di dalam penjara." sahut Jeno.
"Tidak ada yang tidak mungkin. Apalagi korban Timo sangatlah banyak. Dan pastinya dari para korban ada yang berasal dari keluarga kaya." jelas Bulan, yang bisa dicerna dengan mudah oleh Jeno.
"Tidak masalah. Biarkan saja. Dia bahkan sudah melenyapkan banyak nyawa tanpa perasaan bersalah. Jika benar di dalam penjara dia mendapatkan neraka. Mungkin itu hukuman untuk Timo sebelum dirinya masuk ke dalam neraka yang sesungguhnya." tutur Jeno.
Fokus mereka teralih pada ponsel Bulan yang berbunyi. Bulan menarik tangannya yang digenggam Jeno. Mengambil ponselnya lalu melihatnya. "Siapa?" tanya Jeno kepo.
"Gara." sahut Bulan singkat.
Bulan membaca pesan tertulis dari Gara dengan ekspresi datar. Lalu mengembalikan ponselnya ke dalam saku. "Apa ada hal yang penting?" tanya Jeno.
Bulan menggeleng. "Tidak ada." sahut Bulan yang tentunya tidak ingin berterus terang.
Jeno hanya mengangguk pelan, kembali melajukan mobilnya dengan pelan. Sebab jalanan sangat macet.
Jeno yakin, jika Bulan dan Gara sedang menangani masalah lain. Tapi mereka tidak mengatakan pada dirinya ataupun pada yang lainnya.
Bulan menatap ke satu titik. Seorang lelaki berbadan besar, tinggi dan tegap berdiri di tepi jalan dengan topi menutupi kepala serta sebagian wajahnya. Berkerumun, berbaur bersama masyarakat umum untuk menyaksikan kendaraan yang membawa Timo.
"Dia." batin Bulan mengangkat sebelah alisnya. Meski wajah lelaki itu hanya kelihatan sebagian, tapi Bulan bisa menebak siapa dirinya. "Kenapa dia bisa berada di kota ini?" tanya Bulan dalam hati pada dirinya sendiri.
Jeno menyadari jika Bulan sedang memandang satu objek. Segera Jeno mencari apa yang menjadi fokus pandangan Bulan. "Lelaki itu. Apa dia yang sedang Bulan lihat." tebak Jeno dalam hati.
Jeno tak ingin bertanya, sebab dari ekspresi wajah Bulan, dia bisa menebak. Jika Bulan merasa terganggu dengan kedatangan lelaki tersebut. "Apa dia mantan pacar Bulan." batin Jeno.
"Ehh,,, tapi Bulan pernah mengatakan jika dirinya belum pernah berpacaran." lanjut Jeno dalam hati semakin penasaran dengan sosok yang diperhatikan Bulan lebih dari satu menit tersebut.
Sampai di villa, keduanya segera bergabung dengan yang lain. Duduk di teras belakang villa dengan menggelar karpet sebagai tempat duduk mereka.
"Kami tadi melihat dari berita, jika Timo dibawa ke penjara pusat." tutur Arya membuka percakapan.
"Iya." sahut Bulan dengan tangan terulur mengambil gorengan di depannya. "Nyonya yang membuatnya?" tanya Bulan pada mama Rio.
"Benar." sahut mama Rio sembari mengangguk. "Jangan panggil Nyonya. Panggil tante saja. Bagaimana?" tanya mama Rio meminta persetujuan.
Bulan tersenyum manis. "Baik. Terimakasih tante."
"Sama-sama." sahut mama Rio.
Rio hanya diam. Dan untuk pertama kalinya dia duduk tepat di samping Bulan. Bahkan indera penciuman Rio bisa menghirup wangi parfum Bulan dengan jelas. "Wangi ini, tidak pernah berubah. Menenangkan." batin Rio.
Karena memang dirinya beberapa kali berada satu ruangan dengan Bulan. Tapi kali ini, wanginya sungguh terasa di indera penciumannya.
"Ckkk... Dasar." gumam Jeno memutar kedua matanya dengan kesal, melihat sikap yang ditunjukkan mama Rio pada Bulan.
"Kapan saya akan di bawa ke penjara?" celetuk kakek Timo. Membuat suasana hening seketika.
"Sebentar lagi. Dan kakek akan langsung masuk ke pusat. Sama seperti Timo. Hanya berbeda penempatan." jelas Bulan.
"Penjara kantor pusat. Kenapa? Bukankah di sini sama saja?" tanya Jevo penasaran.
Bulan tidak segera menjawab, ditatapnya sang kakek dengan lamat. "Saya percaya dengan Bulan." ucap kakek Timo tersenyum tulus.
Bulan pun juga tersenyum lega mendengar apa yang kakek Timo katakan. "Bisa kita berbicara kek, berdua." pinta Bulan mengajak kakek Timo.
__ADS_1
Kakek Timo mengangguk. "Bisa." sahut beliau.
Kini, keduanya berada di ujung teras. Masih di tempat yang sama dengan yang lain. Hanya keduanya sedikit menjauh.
Bulan duduk lesehan di atas keramik, menyenderkan badannya ke tembok. Juga dengan kakek Timo yang duduk di sebelah Bulan.
"Katakan saja. Jangan sungkan." pinta kakek Timo.
"Bulan sengaja meminta pada kepala polisi pusat. Supaya kakek di masukkan ke dalam penjara yang ada di sana. Bukan penjara kota." jelas Bulan.
Ya, Bulan mengambil langkah lebih awal dan cepat. Setelah dirinya tahu jika ada dua orang yang berada di depan rumahnya. Mengawasi pergerakan dirinya.
Sebelum Gara memberitahu siapa mereka, Bulan bisa menebak identitas mereka, serta siapa yang menyuruh mereka.
Segera Bulan menghubungi kepala kantor pusat. Mengatakan tujuannya menginginkan untuk kakek Timo dimasukkan ke dalam penjara yang ada di sana.
Beruntung kepala kantor mempunyai pemikiran serta sudut pandang yang sama dengan Bulan. Sehingga Bulan menerima usulan dari Bulan.
Kakek Timo menebak jika ada sesuatu yang Bulan tahu. Sehingga dirinya ditempatkan di penjara pusat. "Jika saja saya bisa memasukkan kakek ke penjara di pulau terpencil itu. Saya akan melakukannya kek. Sayangnya, penjara itu hanya untuk penjahat dengan kejahatan yang yang tak termaafkan. Dan sebagian dihukum mati." jelas Bulan.
"Seperti Timo." sahut kakek Timo.
"Entahlah. Timo hanya di masukkan saja. Belum disidang. Sehingga Bulan tidak tahu." jelas Bulan.
"Tenang saja. Bukankah sejak awal saya mengatakan, jika saya percaya dengan kamu." ucap kakek Timo.
"Kekhawatiran Bulan hanya satu. Kemampuan yang kakek miliki." ungkap Bulan.
Kakek Timo menoleh. Memandang Bulan dari samping dengan lekat. "Di negara kita, hanya kakek yang memilikinya. Dan kini, semua orang sudah mengetahuinya." tutur Bulan.
Kakek Timo kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Beliau menghela nafas panjang. Tanpa Bulan jelaskan secara terperinci, kakek Timo bisa membaca apa yang Bulan khawatirkan.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan saya." ujar kakek Timo merasa tersentuh hatinya.
"Saya tahu. Jika masih banyak orang jahat di negara kita. Apalagi orang-orang serakah, yang hanya gila akan uang serta kekuasaan serta jabatan." lanjut beliau.
"Sebenarnya Bulan bisa membuat kakek bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang tersebut. Tapi Bulan khawatir. Apalagi, usia kakek yang sudah tidak muda lagi." tukas Bulan.
"Benar. Saya memang sudah tua." cicit kakek Timo tertawa pelan.
"Kek,,, bagaimana jika ada yang datang pada kakek. Menawarkan sesuatu yang membuat kakek harus berada di pihak mereka, dan bekerja di bawah tekanan mereka?" tanya Bulan langsung ke intinya.
Kakek Timo menghela nafa panjang, menghembuskannya secara perlahan. "Usia saya sudah banyak. Mungkin dua atau empat tahun ke depan saya sudah meninggal. Menurut kamu, apa yang saya perlukan selama itu. Hanya beberapa tahun saja." lanjut kakek Timo.
Dari perkataannya, Bulan bisa mengambil kesimpulan. Jika kakek Timo hanya membutuhkan ketenangan di usianya yang sekarang.
Dan pernyataan tersebut membuat Bulan lebih tenang. Sebab sang kakek akan menolak jika ada seseorang atau pihak tertentu yang mengajaknya untuk bekerjasama.
"Jangan bicara seperti itu kek. Siapa tahu kakek diberikan panjang umur." sahut Bulan.
"Amin. Benar kata kamu. Jika saya panjang umur, saya ingin melihat kamu dengan anak muda itu menikah." cicit kakek Timo tertawa pelan.
Bulan hanya diam, tak menyahuti apa yang kakek Timo katakan. "Jeno, dia terlalu memperlihatkan sikapnya. Lihat, kakek Timo saja sampai tahu." batin Bulan, menebak jika kakek Timo mendo'akan dirinya dan Jeno.
Padahal, siapa tahu kakek Timo mendo'akan dirinya dan Rio. Sebab mama Rio yang terlihat sedikit gencar mendekati Bulan untuk sang putra.
"Bulan tahu, jika kakek pastinya juga mengetahui. Jika ada pergerakan atau organisasi bawah tanah yang selama ini menjalankan pekerjaan kotor mereka. Bulan hanya takut, kakek direkrut oleh mereka. Masuk ke dalam kelompok mereka." ungkap Bulan.
"Dan jika sampai itu terjadi. Bulan dan kakek pasti akan jadi rival. Bisa saja, kita saling serang dan saling membunuh. Dan Bulan tidak mau itu terjadi." sambung Bulan mengatakan yang sejujurnya.
"Ya, saya tahu. Dulu saya juga pernah diajak seseorang untuk masuk dalam kelompok seperti yang kamu katakan. Dan saat itu, keluarga saya baru saja bangkrut. Sehingga saya menjadi terpuruk. Tapi saya menolak dan memilih hidup sederhana." jelas kakek Timo.
Kakek Timo menepuk pundak Bulan dengan pelan. "Tenang saja. Diusia saya ini, saya hanya menginginkan ketenangan serta kedamaian dalam hidup. Jangan khawatir." tukas kakek Timo. Bulan mengangguk seraya tersenyum.
Keduanya lantas kembali berkumpul bersama yang lain, setelah mereka merasa pembicaraan mereka selesai. "Bulan, bagaimana dengan kita? Tidak, maksud tante putra tante. Rio." tanya mama Rio meminta pendapat Bulan.
Bulan tahu rasa cemas yang mama Rio rasakan. Jika Rio masih menggunakan wajahnya yang asli, bisa-bisa ada orang yang salah mengira. Mereka mengira Rio adalah Timo.
Dan hal tersebut tentu saja sangat berbahaya untuk keselamatan Rio. Ditambah kedua mata Rio gang tidak lagi bisa digunakan seperti dulu. Sehingga Rio tidak bisa lagi menjaga dirinya sendiri.
"Operasi." tukas Bulan. Semuanya menatap ke arah Bulan dengan tatapan heran.
"Hanya itu yang bisa Bulan sarankan tante. Bulan hanya takut, Rio akan dalam bahaya jika masih menggunakan wajahnya ini." ungkap Bulan.
"Tante juga berpikir seperti itu. Tapi tante sedikit takut, keluar bersama Rio tanpa pengawalan." ujar mama Rio.
"Tante tenang saja. Nanti saya akan mengatakannya pada atasan saya. Sehingga tante dan putra tante akan mendapatkan keamanan dari kami selama perjalanan menuju ke tempat operasi." jelas Bulan.
"Bagaimana jika kamu sendiri yang menemani kami. Pasti saya akan lebih tenang." saran mama Rio.
Kedua mata Jeno langsung membulat sempurna. "Tenang, jangan bertindak ceroboh." bisik Jevo, memegang pundak saudara kembarnya tersebut.
__ADS_1
"Pintas sekali perempuan tua ini mencari alasan. Tidak akan gue izinkan Bulan menemani mereka." batin Jeno geram.
Bulan tersenyum tulus. "Maaf tante. Masalah Timo sudah selesai. Dan Bulan ada pekerjaan lainnya setelah ini. Jadi maaf, Bulan tidak bisa menemani kalian." tolak Bulan dengan sopan.
"Good girl. Itu baru perempuan milik Jeno. Lagian sok penting, pake nyuruh Bulan nemani kalian. Siapa kalian." batin Jeno merasa kesal.
Beruntung Bulan menolak keinginan mama Rio. Jika Bulan menerimanya, entahlah apa yang akan Jeno lakukan. Yang pasti, Bulan akan dibuat jengkel dan pusing dengan ulah Jeno, jika dia menerima keinginan mama Rio.
Di tempat lain, tiga lelaki paruh baya sedang berbincang di dalam ruangan. Brak.... "Bagaimana bisa, Bulan dengan mudah memecahkan kasus itu?!" tanya Tuan Tene sembari berdiri dari duduknya dan mendorong kursi yang dia duduki, membuat kursi tersebut tergelempang.
"Dia sangat berbahaya." tukas Pak Darto, seorang abdi negara dengan jabatan yang sama seperti atasan Bulan.
Sedangkan pak Tene, beliau adalah seorang pengusaha kaya. Dia terkenal dengan kelicikan otaknya dan sikapnya yang sombong.
"Kenapa dia ditarik untuk datang ke sini?" tanya Tuan Zain, yang dimana, pekerjaan beliau sama dengan Tuan Tene. Bahkan sifat dan perilakunya sebelas dua belas dengan Tuan Tene. Sangat angkuh dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Mereka bertiga adalah target Bulan selanjutnya. Sebab, ketiganya adalah poros utama atau pelaku utama dari perdagangan ilegal yang mengakibatkan negara mengalami kerugian besar.
Bahkan bukan hanya negara yang mengalami kerugian. Juga beberapa keluarga yang kehilangan anggota keluarga atau kerabat mereka karena ulah ketiganya.
Sayangnya, mereka tak hanya bertiga melakukan pekerjaan kotor tersebut. Bahkan Pak Bimo, atasan Bulan juga ikut terlibat. Meski sekarang dirinya sudah sadar dan ingin mengundurkan diri.
Tapi tidak semudah apa yang dia pikirkan. Sang istri dan putri semata wayangnya di culik. Dijadikan sandera oleh rekannya yang lain, supaya pak Bimo tetap berada di dalam kelompok.
Pastinya mereka tidak ingin pak Bimo keluar dari kelompok. Mereka masih sangat membutuhkan pak Bimo dalam setiap transaksi. Tentunya karena jabatan pak Bimo saat ini.
Bukan hanya pak Bimo dan ketiga orang tersebut yang terlibat dalam bundaran kegiatan terlarang ini. Ada beberapa anggota lainnya yang juga masuk ke dalam.
Apalagi jika bukan karena mereka tergiur dengan jumlah uang yang mereka dapatkan. Tanpa peduli bagaimana mereka mendapatkannya. Bahkan, nyawa orang lainpun mereka anggap tak berharga.
"Bimo. Jangan-jangan dia dalang dibalik kedatangan Bulan ke kota ini." tebak Tuan Tene sembari memandang ke arah pak Darto. Juga Tuan Zain.
Dia berkata seperti itu bukan tanpa sebab. Karena, Pak Bimo tetap bersikukuh keluar dari kelompok. Bahkan beliau rela jika harus kehilangan semua hartanya.
Pak Bimo juga berjanji tidak akan mengatakan apapun pada orang lain terkait pekerjaan yang mereka jalani selama ini. Jika dia keluar dari kelompok.
"Bukan. Setahu saya, pusat yang mengirimkan surat pada Bimo tentang misi Bulan. Jadi, saya rasa Bimo dama sekali tak ada sangkut pautnya dengan keberadaan Bulan di kota ini." jelas Darto.
"Hanya seorang perempuan. Mana mungkin bisa sehebat itu. Pasti ada seseorang dibelakangnya, yang selama ini membantu dia." tebak Tuan Zain meremehkan kemampuan Bulan.
"Akan lebih baik jika dia masuk ke dalam kelompok kita." saran Tuan Tene.
"Tapi bagaimana caranya. Biasanya orang macam dia sangat susah di bujuk." sahut Pak Darto yang tahu watak dari Bulan.
"Apa dia sudah mempunyai kekasih, atau mungkin ada lelaki yang dia sukai?" tanya Tuan Tena.
Pak Darto menggeleng. "Kedua anak buahku masih terus memantau rumah yang ditempati Bulan. Dan sampai saat ini, sama sekali tak ada yang datang berkunjung ke sana. Bahkan seorang perempuan sekalipun." jelas pak Darto.
Dan ternyata, dua lelaki yang berada di depan rumah Bulan adalah bawahan pak Darto. "Jangan sampai mereka tertangkap atau ketahuan Bulan." timpal Tuan Zain mengingatkan.
"Tenang saja. Mereka yang terbaik. Bulan tak akan mengetahuinya." ucap pak Darto dengan yakin.
Tanpa dia tahu, jika kemungkinan besar saat ini Gara sudah mengantongi nama kedua lelaki suruhannya tersebut. Tak mustahil, jika Gara mungkin terlah mengetahui jika pak Darto adalah atasan mereka berdua.
"Keluarganya?" tanya Tuan Zain, mencoba dari arah lain untuk membuat Bulan bertekuk lutut pada mereka. Sehingga Bulan bisa mereka jadikan boneka hidup yang bisa mereka kendalikan. Seperti pak Bimo.
"Akan saya cari tahu." sahut pak Darto.
"Jika dia belum mempunyai kekasih, ada baiknya kita carikan dia pasangan." tutur Tuan Tene tersenyum penuh makna.
Tuan Zain dan pak Darto mengangguk dan tersenyum. Mereka mempunyai pemikiran yang sama. Seseorang yang sudah dibutakan dengan cinta, biasanya akan melakukan apapun yang diminta oleh pasangan mereka.
Dan ketiganya berharap hal tersebut akan terjadi pada Bulan. "Apa kamu punya kandidatnya?" tanya pak Darto.
"Yang pasti bukan dari kalangan seperti dia. Mungkin putra pengusaha. Bagaimana?" tanya Tuan Tene.
"Benar." sahut Tuan Zain dan pak Darto serempak.
"Kakek Timo. Kita harus mendapatkannya. Dia sangat berguna bagi kita." tukas Tuan Zain, yang melihat keahlian sang kakek dari layar televisi.
"Tapi dia ada di tangan Bulan." sahut pak Darto.
"Maka itu akan menjadi tugas kamu. Membuat kakek Timo masuk ke dalam kelompok kita. Lakukan apapun, dan bagaimanapun caranya. Dia aset berharga." timpal Tuan Tena.
"Benar. Kita membutuhkannya dalam keadaan hidup dan normal. Dia akan membuat kita menjadi lebih kaya." ujar Tuan Zain sembari tertawa lepas.
Membayangkan jika kakek Timo berada di tangan mereka. Pundi-pundi uang yang mereka kumpulkan akan lebih banyak. Sungguh serakah.
"Gunakan kekuasaan kamu untuk hal tersebut." saran Tuan Tene pada pak Darto.
"Pasti. Saya akan melakukannya." seringai pak Darto. Menunjukkan rasa tertarik pada kemampuan kakek Timo.
__ADS_1