PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 110


__ADS_3

Mama Rio selalu memeluk sang putra dari samping, tampak beliau tak ingin melepaskan lagi. Tentu saja ada rasa khawatir yang menyeruak di relung hati mama Rio, jika sang putra pergi meninggalkannya lagi. "Ma,,, mama tidak malu dengan keadaan Rio sekarang?" tanya Rio lirih, dengan suara serak khas orang yang baru saja menangis.


"Kamu putra mama. Dan akan tetap menjadi putra kebanggaan mama. Apapun yang terjadi. Apapun yang kamu alami. Maka akan tetap menjadi mama kamu. Tidak ada yang akan berubah." jelas maka Rio.


Tiba-tiba, mama Rio melepaskan pelukannya. Menatap kakek Timo dengan tatapan tajam. "Saya tidak terima dengan apa yang dilakukan cucu anda pada putra saya...!!" serunya menahan amarah yang sudah memuncak.


Kakek Timo hanya diam tak mengatakan apapun. Beliau mengerti jika penderitaan yang dialami oleh Rio adalah ulah sang cucu.


"Mungkin saya bisa terima, jika cucu anda mengambil serta menghabiskan harta kekayaan kami. Tapi tidak dengan kelakuan iblisnya." lanjutnya dengan nada tinggi.


Mama Rio berdiri, menunjuk ke arah wajah sang putra sembari menatap kakek Timo. "Lihat...!! Lihat,,,!! Apa yang dilakukan cucu anda pada putra saya. Apa anda pikir saya akan membiarkannya begitu saja. Tidak akan...!!" teriak mama Rio tidak terima.


"Jangan harap ada kata maaf keluar dari mulut saya. Tidak akan pernah. Mata dibalas mata. Pahammmm...!!" serunya memberi peringatan.


Mama Rio mengalihkan pandangannya ke arah Bulan yang masih duduk tenang. Menyimak apa yang dikatakan mama Rio. "Saya meminta keadilan. Detik ini juga, saya ingin Timo diadili. Tangkap dia. Dan masukkan ke penjara." pintanya menggebu.


Bulan mengangguk paham. "Tenang Nyonya. Duduk dulu. Kita bicarakan dengan tenang dan santai. Jangan khawatir, semua akan diproses sesuai hukum." jelas Bulan.


"Tenang,,,!! Tidak bisa. Lebih dari setahun, dia menyamar sebagai Rio. Dan yang lebih parah, dia menyiksa putra saya. Bagaimana bisa saya bersikap tenang." mama Rio masih berdiri, dengan wajah memerah karena amarah.


"Ma,, turuti apa yang dikatakannya. Duduk. Tenang. Tanpa mereka, Timo hanya akan dihukum ringan. Apalagi jika maka berjuang sendirian. Apalagi mama tidak tahu siapa Timo." tutur Rio dengan lembut memberi pengertian pada sang mama.


Mama Rio menatap sang putra dengan tatapan sedih. Tangan Rio terukur mencari keberadaan sang mama dengan tetap duduk di kursi.


Segera sang mama menyambut tangan Rio, dan kembali duduk di samping Rio. "Ma,,, Rio masih beruntung, dari pada korban Timo yang lain. Meski sekarang Rio cacat, kedua mata Rio tal bisa melihat indahnya dunia. Tapi Rio bersyukur. Rio masih hidup, sehingga bisa bertemu dengan mama." papar Rio.


"Korban lain." lirih mama Rio mengerutkan dahinya antara kebingungan, dan takut jika apa yang ada dipikirannya ternyata salah.


"Iya tante, korban lain. Selain Rio, masih banyak korban dari Timo. Dan mereka semua tak bisa kembali pada keluarga mereka. Karena mereka harus kehilangan nyawa di tangan psikopat seperti Timo." jelas Mikel.


Mama Rio membuka mulutnya tak percaya. "Astaga." gumamnya. Tak menyangka jika selama ini dirinya tinggal serumah, serta selalu memperlakukan seseorang seperti Timo dengan penuh kasih sayang.


Mama Rio menatap sang putra dengan cemas. "Benar-benar gila. Segera tangkap dia. Dia sangat berbahaya." kembali mama Rio memeluk sang putra, mencium pipi Rio.


Setelah mendengar siapa Timo, ada perasaan lega. Sebab dirinya masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan sang putra, meski keadaan Rio tak seperti dulu.


Tapi tak apa. Mama Rio tetap bersyukur. "Itulah kenapa kita segera membawa tante ke sini. Karena kami takut, jika tante akan menjadi korban Timo selanjutnya." jelas Arya.


"Juga dengan kakek Timo. Tidak mungkin, Timo akan membiarkan saksi utama kejahatannya hidup dengan tenang." ujar Bulan.


Bulan memberikan ponselnya yang sudah menyala pada kakek Timo. "Lihatlah. Apa yang terjadi dengan rumah anda." pinta Bulan menyerahkan ponselnya pada kakek Timo.


Bukan hanya kakek Timo yang merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada rumahnya. Tapi juga semua yang ada di ruangan tersebut.


Sebab, mereka semua tak ada yang tahu. Sedangkan Bulan memang baru saja mendapatkan rekaman video yang dikirimkan oleh Gara. Entah dari mana Gara mendapatkannya.


Kakek Timo syok melihat si jago merah menyambar rumah tuanya serta tanaman liar yang ada di sekitar rumahnya. "Bagaimana bisa? Kenapa rumahku bisa terbakar?" tanyanya kebingungan.


Semua yang ada di sana menatap kakek Timo dan Bulan secara bergantian. Tentunya mereka juga merasa heran.


Kakek Timo mengembalikan ponsel Bulan, tapi Jeno mengambilnya sebelum sampai di tangan Bulan. Jevo, Arya, dan Mikel segera merapat ke Jeno, dan melihat apa yang terjadi lewat layar ponsel Bulan.


"Kenapa anda meski bertanya? Seharusnya anda tahu, dan bisa menebak. Siapa yang telah melakukan semua itu. Membakar rumah anda dengan sangat mudah." tutur Bulan tersenyum sinis.


Tubuh kakek Timo serasa lemas, di sandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Beliau memejamkan kedua matanya.


"Baiklah, sekarang lebih baik kita ke ruang tengah. Ada sesuatu yang ingin saya perlihatkan pada Nyonya dan kakek." ajak Bulan pada semua.


Karena di tempat mereka duduk, tak ada televisi. Sementara Bulan memerlukan sebuah layar yang akan dia gunakan untuk menampilkan sebuah video.


Bulan memberikan sesuatu pada Arya setelah mereka semua berpindah tempat di ruang tengah. "Sambungkan dengan televisi." pinta Bulan.


Arya yang belum sempat duduk, langsung menerima sebuah flash disk yang Bulan berikan padanya. Semua mata tertuju pada layar televisi.


Sayangnya, Rio tak bisa melihat apa yang akan mereka semua lihat. Terutama bagi mama Rio dan kakek Timo. Sebab Bulan beserta yang kain sudah pernah melihat adegan tersebut.


Adegan dimana Timo dengan sadis dan kejinya menghabisi dokter Vinc. Bahkan, Jevo dan Bulan melihatnya secara langsung di depan kedua mata mereka.


"Astaga....!! Tuhan...!!" seru mama Rio, padahal video masih memperlihatkan awal mula Timo menghabisi dokter Vinc.


Bulan menjeda gambar di televisi. "Perhatikan wajahnya." pinta Bulan, melirik pada kakek Timo yang menampilkan wajah pucat.


Tentu saja sang kakek tahu siapa lelaki tersebut. Walaupun wajahnya bukanlah wajah Timo. Melainkan wajah seorang pemuda yang telah tewas beberapa tahun yang lalu.


Sebab, beliaulah yang membuat topeng wajah tersebut. Bulan kembali memutar video tersebut. "Aaa.... astaga...!!! Matikan...!! Sungguh,,,!! aku tidak kuat...!!" teriak mama Rio.


Bukan hanya mama Rio yang merasa tidak kuat. Melainkan Jevo dan Arya, serta Jeno dan Mikel. Perut keempatnya terasa mual.


Bahkan, Jevo dan Arya memilih untuk membuang pandangan mereka ke arah lain. Meski mereka sudah pernah melihat adegan tersebut. Tapi mereka tetap tidak bisa seperti Bulan. Yang dengan tenang menyaksikannya.

__ADS_1


"Lihatlah kek,,, bagaimana cucu kesayangan anda melakukannya dengan ahli. Bagai seorang algojo." tutur Bulan tersenyum sinis.


Bukannya memandang ke arah layar, dimana video tersebut diputar, Jeno malah memandangi wajah ayu Bulan. "Apa ini dunianya." batin Jeno, merasa Bulan menjadi sosok lain saat berhadapan dengan hal seperti itu.


Bisa dilihat dengan jelas, ketenangan Bulan melihat video yang sama sekali tidak patut di lihat tersebut. "Dia bagai seekor serigala, yang terlepas bebas." tutur Jeno dalam hati. Mengumpamakan Bulan seperti seekor serigala liar. Sebab, serigala memang tidak pernah berada dalam pertunjukkan sirkus.


Mama Rio memeluk tubuh sang putra. Menyembunyikan wajahnya di lengan kecil Rio. "Maa,, apa yang mama lihat?" tanya Rio penasaran.


"Sayang,,, mama bersyukur. Kamu masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan." ujar mama Rio merasa beruntung setelah melihat apa yang ada di layar.


"Ma...?!" panggil Rio sedikit menaikkan nada suaranya. Penasaran dengan apa yang mereka semua lihat.


Mama Rio sungguh tak bisa menjelaskan apa yang dia lihat. Lidahnya kelu untuk mengatakannya. "Bagaimana Timo mengeksekusi korbannya, yang bernama dokter Vinc." jelas Bulan singkat dengan pandangan tetap fokus pada layar.


Rio bisa menebak jika Timo melakukannya dengan sangat sadis. Hingga membuat sang mama berteriak, tak mampu untuk melihat video tersebut.


"Matikan." pinta sang kakek.


Bulan tertawa ringan. Membuat semuanya langsung menatapnya. "Matikan. Kenapa? Anda tidak kuat melihatnya, atau anda tak percaya jika dia cucu anda." sindir Bulan.


"Ayolah. Masih ada lagi yang perlu anda lihat kek." lanjut Bulan.


Bulan menjeda kembali video di layar. Dimana saatnya Timo mengganti wajahnya dari seorang pemuda, menjadi dokter Vinc yang baru saja dia lenyapkan tanpa ampun. "Nyonya, anda harus melihat bagian ini." pinta Bulan.


"Ma..." panggil Rio, merasakan sang mama masih menyembunyikan wajahnya di lengannya.


Perlahan, mama Rio kembali menatap ke arah televisi. Dan Bulan melanjutkan video tersebut. "Tuhan....!! Bagaimana bisa. Dia,,, dia,,,, dokter tadi, astaga..... Sungguh hebat. Tapi sayang, digunakan untuk kejahatan." tutur mama Rio, melihat Timo berganti wajah menjadi sang dokter hang baru saja dia lenyapkan tanpa belas kasih.


Kakek Timo memandang mama Rio sejenak. Ada rasa bangga pada dirinya, sebab dirinyalah yang membuat topeng wajah tersebut.


Sekaligus rasa menyesal. Karena dirinya yang mempunyai ketrampilan langka, tak bisa mempergunakan dengan baik.


Dan malah membuat banyak nyawa melayang. Karena salah digunakan oleh sang cucu. Tidak seperti mama Rio, Kakek Timo tak bisa berkata-kata melihat sang cucu menghabisi nyawa dokter Vinc kayaknya membunuh nyamuk.


Tak hanya sampai di situ, Bulan melanjutkan video tersebut hingga Timo membuang beberapa kresek hitam ke rerimbunan tanaman ilalang di sekitar rumah kakek Timo.


"Sungguh psikopat. Jika dia dibiarkan terus di luar. Saya yakin seratus persen. Akan lebih banyak korbannya." tutur mama Rio menatap Bulan.


Bulan mengangguk seraya tersenyum. Mama Rio bernafas lega. Beliau tahu arti senyuman Bulan. "Terimakasih sudah menolong putra saya." cicit mama Rio.


"Sama-sama Nyonya." sahut Bulan.


Kakek Timo menunduk. Entah apa yang ada dalam benaknya saat ini. Hanya dia sendiri yang tahu. "Apa masih ada video lainnya yang kalian simpan?" tanya kakek Timo dengan tetap menundukkan kepalanya, memandang lantai yang ada di bawahnya.


Jika kakek Timo bersedia, tentu saja Bulan akan memutar video Sella. Salah satu korban Timo yang berhasil dia selamatkan. Dan masih hidup sampai sekarang.


"Tidak." sahut kakek Timo.


Bulan mengerutkan dahinya. Ada sebuah pesan dari Gara mengenai pergerakan Timo. "Dia sedang bergerak." tukas Bulan.


"Siapa?" tanya Arya.


"Timo." sahut Bulan, membuat semuanya menatap ke arah Bulan. Dan pastinya selain Rio. Tapi Rio tentunya menajamkan pendengarannya.


"Apa maksud kamu?" tanya kakek Timo meminta penjelasan atas perkataan Bulan.


"Rio menggunakan wajah dokter Vinc. Entah apa yang akan dia lakukan." ujar Bulan seraya memandang Jeno.


Jeno mengangguk, masuk ke salah satu kamar di villa Mikel untuk menghubungi Timo sebagai asisten dokter Vinc.


Tentu saja Jeno akan mencari tahu apa yang akan Timo kerjakan hari ini. Hanya berjaga-jaga, jika saja Timo mencari korban lagi.


Sebab, mereka tentu saja tidak akan membiarkan ada korban lagi dengan Timo sebagai tersangka. Apalagi sebentar lagi mereka akan mengungkap kejahatan yang dilakukan oleh Timo.


"Katakan di mana Timo. Biar saya yang mencegahnya." pinta kakek Timo dengan wajah penuh harap.


Bulan tersenyum. Kali ini, Bulan yakin jika kakek Timo bersedia berada di pihak mereka. "Kakek akan tetap di sini. Bersama Rio dan mamanya. Tidak akan saya biarkan kalian keluar dari tempat ini, sebelum Timo benar-benar masuk ke dalam jeruji besi."


"Kenapa?" tanya mama Rio yang artinya dirinya tidak bisa melakukan aktifitas seperti biasa.


Bulan menghela nafas. "Maaf, bukan maksud saya ingin mengurung kalian di rumah ini. Hanya saja, keselamatan, dan nyawa kalian lebih penting." tekan Bulan.


"Bagaimana jika Timo beraksi lagi. Saya tidak mau ada korban yang tidak bersalah?" tanya kakek Timo dengan cemas.


"Ada kami. Sebisa mungkin, kami akan mencegahnya. Tapi, apa kakek sudah setuju. Dan berada di pihak kami. Jika kami memasukkan Timo ke dalam jeruji besi?" tanya Bulan memastikan langkah selanjutnya.


Kakek Timo mengangguk pelan. Meski dengan ekspresi sedih. Bulan tersenyum. "Terimakasih." tutur Bulan.


Bulan mengalihkan pandangannya ke arah mama Rio. "Ada apa?" tanya mama, merasa Bulan ingin menanyakan sesuatu.

__ADS_1


"Saya ingin menunjukkan foto seseorang. Mungkin Nyonya kenal dengan orang ini." tukas Bulan, menunjukkan foto Timo dengan wajah tanpa cacat pada mama Rio dari layar ponselnya.


Dengan seksama, mama Rio melihatnya serta memastikannya. "Mungkin, sebelum kecelakaan menimpa keluarga anda, salah satu dari kalian mengenal orang ini?" tanya Bulan memastikan.


"Rio mengatakan jika Timo adalah teman dari sahabat Rio." tukas Mikel memotong obrolan keduanya.


"Benar, sebelum Timo membuat mata saya seperti ini, saya melihat wajah aslinya. Bahkan, saat itu wajah Timo tidak seperti saat saya melihat pertama kali. Wajahnya juga sudah cacat. Ada beberapa bekas goresan yang tidak bisa hilang." jelas Rio mengingat wajah Rio yang menurutnya ada dia versi.


"Sahabat kamu. Siapa?" tanya mama Rio.


"Hendi." sahut Rio.


"Ada apa Nyonya?" tanya Bulan, melihat perubahan ekspresi dari mama Rio.


"Setelah Rio dan papanya mengalami kecelakaan. Ya,,, tepat beberapa hari suami saya meninggal, Hendi juga meninggal. Tapi saya tidak tahu sebab dari meninggalnya Hendi." jelas mama Rio.


Bulan hanya mengangguk pelan. Seolah semua pikiran mereka sama. Yakni dalang dibalik semua peristiwa ini adalah Timo.


"Tapi, bagaimana bisa,,,, Timo menyamar sebagai Rio. Padahal saat itu Rio berada di ruang rawat. Dan hanya segelintir orang yang saya perbolehkan masuk." papar mama Rio.


"Termasuk Hendi?" tanya Bulan memastikan.


"Memang ada beberapa sahabat Rio yang datang menjenguk. Tapi, saya lupa. Siapa saja." ungkap mama Rio.


Kakek Timo beranjak dari duduknya, bersimpuh di hadapan Rio dan mamanya. "Loh,,, ada apa kek?" tanya mama Rio terkejut.


"Maaf,,, maaf,,, semua karena saya. Maaf." cicit kakek Timo tiba-tiba meminta maaf dengan menundukkan kepalanya seraya menangis.


Mama Rio memegang kedua pundak kakek Rio. Membantunya untuk berdiri dan duduk kembali di kursi bersama dirinya dan yang lain.


Setelah duduk kembali di kursi, kakek Timo menatap Rio dan mamanya dengan sendu. "Saya sumber semua masalah ini. Saya... Saya yang membuat Timo menjadi seperti itu." cicit kakek Timo penuh penyesalan.


Mama Rio mengernyitkan sebelah alisnya. Heran bercampur bingung dengan perkataan kakek Timo. Sebab beliau juga belum mengetahui jika sang kakeklah yang sudah membuat semua topeng yang selama ini dipakai oleh Timo saat Timo beraksi.


"Saya yang telah membuat semua topeng tersebut. Saya. Saya biang keladinya." ungkapnya pada mama Rio.


Rio beserta mamanya tampak syok dengan pengakuan kakek Timo. "Awalnya, saya hanya membuat topeng wajah Timo yang tanpa cacat. Hanya itu. Tapi, Timo membohongi saya. Yang pada akhirnya saya bersedia membuatkan beberapa topeng lagi untuk Timo pakai." ujar kakek Timo tidak menjelaskan secara terperinci.


"Dan anda tahu, jika Timo menggunakannya untuk kejahatan?!" seru mama Rio dengan amarah yang kembali membuncah mendengar pengakuan kakek Timo.


Kakek Timo menggeleng pelan. "Sungguh. Sumpah saya tidak tahu sama sekali." tutur kakek Timo dengan jujur.


Mama Rio tak lagi mengatakan sepatah katapun. Beliau memilih membuang wajah ke arah lain. Tak lagi memandang kakek Timo.


Sebab mama Rio tak mau jika emosinya kembali membuat karena teringat kelakuan Timo, dengan memandang kakek Timo. Yang ternyata mempunyai andil dengan kejahatan yang dilakukan Timo.


Suara pintu terbuka membuat fokus mereka terarah pada suara tersebut, yakni Jeno yang keluar dari kamar.


Jeno mendekat ke arah Bulan. Membisikkan sesuatu pada Bulan. Entah apa yang Jeno bisikkan. Tapi Bulan tersenyum senang. Lalu mengangguk.


Tampak raut wajah Bulan berseri, ada rasa bangga pada Jeno, karena cara berpikir Jeno.


"Bagaimana? Kemana Timo pergi?" tanya kakek Timo.


"Tenang kek. Timo akan murka beberapa jam ke depan. Setelah menyadari apa yang terjadi." ucap Jeno.


"Maksud elo?" tanya Jevo.


"Elo lupa apa peran gue jika Timo memainkan peran dokter Vinc?" tanya Jeno mengingatkan.


"Asisten dokter Vinc." timpal Arya.


"Benar." sahut Jeno.


"Lalu apa yang elo lakukan pada Timo? Kenapa dia akan marah jika menyadari apa yang terjadi?" tanya Rio.


"Sedikit tipu muslihat. Yapzz,,, tanpa bertindak, gue bisa menggagalkan rencana Timo." ujar Jeno dengan yakin, tanpa menjelaskan apa yang dia lakukan.


Ditambah ada Gara yang terus memantau pergerakan Timo. Sehingga mereka bisa mencari tahu apa yang sedang Timo lakukan.


Jeno hanya memberi alamat yang palsu pada Timo, terkait pasien yang akan dia datangi. Meski awalnya ada sedikit perdebatan. Karena alamat yang diberitahu oleh Jeno tak sama dengan alamat yang diberitahu sang pasien.


Tapi Jeno berhasil menyakinkan Timo. Dimana Timo mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jeno. Dan untuk pasiennya, Jeno menghubunginya. Mengatakan jika dokter Vinc tak bisa datang. Karena ada keperluan darurat yang sangat mendadak.


Bukan hanya itu saja. Jeno juga mengatakan jika ponsel dokter Vinc hilang. Dia juga mengatakan untuk tidak percaya dengan apa yang orang tersebut ucapkan.


Dan dari mana Jeno memperoleh nomor ponsel pasien dokter Vinc, tentunya dirinya memperoleh dari Gara.


"Kek,, bisa kita bicara berdua." pinta Bulan.

__ADS_1


Kakek Timo tersenyum dan mengangguk. Beliau mengekor kemana Bulan berjalan. Dan bicara empat mata. Hanya Bulan dan kakek Timo.


"Hari ini, gue pastikan. Semua media akan memberitakan Timo dan Timo." batin Bulan menyeringai.


__ADS_2