
Tuan David dan Nyonya Rindi baru saja sampai di rumah. Keduanya di sambut dengan hangat oleh para pembantu yang bekerja di rumah tersebut seperti biasanya.
"Dimana Jevo dan Jeno? Apa mereka sudah tidur?" tanya Nyonya Rindi, setelah menyeruput teh hangat yang ada di dalam cangkir, kemudian dia letakkan lagi di atas meja.
Tubuhnya yang tadi terasa dingin, sedikit menghangat karena baru saja meminum teh hangat tersebut.
Begitu juga dengan Tuan David. Hanya saja, beliau bukan meminum teh. Melainkan secangkir kopi yang masih panas dan kental dengan tingkat kemanisan yang sedang.
Beberapa pembantu yang berada di sekitar keduanya saling bersitatap. Mereka pasti juga tidak akan menyangka jika majikan mereka akan datang saat malam.
Karena biasanya, mereka akan datang siang hari. Saat kedua putra kembar mereka sedang berada di sekolah. "Apa ada sesuatu?" tanya Tuan David.
"Emmm,,,, maaf Tuan, Nyonya. Tuan muda Jevo dan Tuan muda Jeno sedang tidak berada di rumah." ungkap salah satu pembantu.
Tuan David melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Kemana mereka?" gumamnya, sebab malam hampir menunjukkan pukul satu dini hari.
"Sejak pukul berapa mereka keluar?" tanya Tuan David.
"Emmm,,,, anu Tuan, kedua tuan muda keluar sejak pagi. Menggunakan seragam." tuturnya, padahal mereka hanya melihat Jevo tanpa adanya Jeno di meja makan.
Tapi Jevo mengatakan pada mereka jika Jeno, saudara kembarnya tidur di rumah Arya.
Nyonya Rindi terkejut mendengar kedua putranya tidak berada di rumah. "Belum pulang sama sekali?" tanya Nyonya Rindi menyakinkan apa yang didengarnya.
"Benar Nyonya." sahutnya dengan nada cemas.
Tentu saja, dirinya merasa takut. Takut jika salah ucap dan malah akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Apalagi dia hanya seorang pembantu.
"Apa perlu kita hubungi mereka pa?" tanya Nyonya Rindi khawatir dengan keadaan kedua putranya tersebut.
"Kita tunggu dulu. Jika tidak segera datang, kita akan menghubungi mereka." ujar Tuan David memutuskan.
"Baiklah." sahut sang istri menuruti apa yang dikatakan sang suami.
Sementara di halaman rumah, Jevo dan Jeno saling memandang sekilas, setelah keduanya melihat sebuah mobil yang biasanya dipakai kedua orang tuanya berada di halaman rumah.
"Mampus." ujar keduanya bersamaan. Apa yang ada di dalam otak mereka saat ini pasti memikirkan hal yang sama.
Keduanya memutar otak, mencari alasan yang akan mereka berikan pada kedua orang tuanya. Karena sudah dapat di pastikan, mereka berdua akan langsung di sidang.
Awalnya, mereka kekeh untuk menginap di markas bersama dengan yang lain. Tapi Bulan melarangnya. Bulan menyuruh mereka pulang.
Bukan hanya Jevo dan Jeno. Tapi semuanya. Keempat anak didiknya. Sebab, mereka berempat harus pergi ke sekolah besok pagi.
Ditambah lagi, jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Tentu saja Bulan merasa khawatir. Juga dengan Bulan, dirinya juga pulang ke rumah dia mana dia tinggal. Dia juga tidak menginap di markas.
Menyisakan Gara seorang yang berada di markas. Karena memang, setelah ini dan seterusnya, Gara akan tinggal di sana.
"Beruntung Bulan menyuruh kita pulang." tukas Jevo, dengan masih berdiri di teras bersama Jeno.
Keduanya tak segera melangkahkan kakinya untuk masuk. "Benar. Aku tidak bisa membayangkan jika kita tidak pulang." sahut Jeno.
"Bulan sepertinya mempunyai insting yang kuat." timpal Jevo.
"Sudah. Jangan malah membahas Bulan. Pikirkan, alasan apa yang akan kita berikan pada papa dan mama." ujar Jeno.
Kedua pundak Jevo merosot ke bawah. "Mana gue tahu. Apalagi gue nggak pernah berbohong." ujar Jevo.
"Pret... Nggak pernah jujur iya." sungut Jeno memutar kedua matanya dengan malas.
Keduanya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Dan mengenai alasan yang akan mereka berikan pada kedua orang tua mereka, entahlah.
"Dari mana kalian?!" tanya Tuan David, di saat Jevo dan Jeno sudah berdiri di depan mereka.
"Apa kalian tidak mengerti waktu. Keluyuran tengah malam. Kalian masih SMA. Mau jadi apa kalian nanti?!" bentak sang mama.
Jevo dan Jeno hanya diam sembari menunduk. "Apa setiap hari kalian memang seperti ini. Selalu keluyuran malam jika mama dan papa tidak ada di rumah?!" lanjut Nyonya Rindi mengomel.
"Jangan seenak kalian sendiri. Tinggal di rumah ini juga punya aturan." cerocos Nyonya Rindi.
"Jawab...!! Kalian punya mulutkan?!" bentak Nyonya Rindi.
"Mama diam dulu? Biar mereka jelaskan." sahut Tuan David.
__ADS_1
Bagaimana Jevo dan Jeno akan menjelaskan, jika Nyonya Rindi masih terus berkata tanpa henti. "Duduk." pinta Tuan David.
"Katakan. Dari mana kalian?!" tanya Tuan David untuk kedua kalinya.
Jevo dan Jeno mendaratkan pantat mereka dengan pelan di atas kursi empuk yang panjang. "Tanya Jeno saja, Jevo malas berbicara." tukas Jevo dengan santai.
Jeno langsung memandang tajam ke arah saudara kembarnya yang juga duduk di sampingnya. Bisa-bisanya Jevo mengatakan hal itu.
"Jevo sialan. Seenaknya melempar tanggung jawab pada gue." batin Jeno geram.
Perkataan Jevo mengartikan jika keduanya keluar bersama. Dengan berada di tempat yang sama selama mereka berada di luar malam ini.
Jeno terdiam sesaat. Memikirkan alasan yang akan dia berikan. Sedangkan Jevo tampak santai, sebab dirinya tak perlu berpikir.
"Maafkan aku sayang." batin Jeno memejamkan kedua matanya sesaat.
"Kita dari rumah bu Bulan." ujar Jeno. Pantas saja Jeno mengatakan -maafkan aku sayang- ternyata, dia menyeret nama Bulan untuk lolos dari masalahnya di rumah.
Jevo seketika menoleh ke arah Jeno. Jevo menipiskan bibirnya. "Gila, berani sekali Jeno. Terserahlah, alasan apa yang mau dia berikan. Yang penting gue aman." batin Jevo minta enaknya saja.
"Guru kamu yang cantik itu?" tanya Nyonya Rindi dengan antusias.
Jeno mengangguk. "Kita belajar di sana. Bukan hanya berdua, ada beberapa murid lainnya juga." jelas Jeno, dan tentu saja dia berbohong.
Nyonya Rindi segera mengeluarkan ponselnya. "Mama mau apa?" tanya Jevo terdengar khawatir.
"Menghubungi guru cantik kalian. Mama takut kalian berbohong." tukas Nyonya Rindi.
"Ma... jangan ma. Kami malu, masa harus sampai segitunya." larang Jeno, menghentikan apa yang akan dilakukan sang mama.
Tuan David hanya diam sembari tersenyum. Dirinya bisa melihat raut khawatir di wajah kedua putranya. Tuan David tak sabar menunggu apa yang akan dikatakan oleh Bulan.
"Kita lihat, apa guru cantik kalian bisa menyelamatkan kalian, atau malah membuat kalian dalam masalah." batin Tuan David merasa penasaran.
"Jangan-jangan kalian berbohong." tuduh Nyonya Rindi, memandang tajam kedua putranya yang duduk di depannya.
"Tidak ma. Mana mungkin Jeno berbohong ma." ujar Jevo dengan wajah memelas.
"Lalu kenapa kalian melarang mama?!" tanya Nyonya Rindi curiga.
"Pa...." panggil Jeno, meminta bantuan pada sang papa untuk menghentikan apa yang akan dilakukan sang mama.
Tuan David hanya mencebik sembari mengangkat kedua pundaknya. Seakan Tuan David tak mau ikut campur dengan apa yang akan dilakukan sang istri.
"Ckkk.... papa.. Kami nanti akan malu." rengek Jeno.
"Malu kenapa, justru guru kalian akan senang. Itu artinya, kami sebagai orang tua tidak lepas tangan begitu saja. Dan tetap memantau kalian, saat kalian berada di rumah." jelas Nyonya Rindi panjang lebar.
Nyonya Rindi tidak peduli dengan rengekan kedua putranya yang melarangnya agar tidak menghubungi Bulan.
Jevo dan Jeno terlihat pasrah. Keduanya hanya bisa menunduk. Menunggu apa yang akan dikatakan Bulan pada sang mama.
"Matilah kita." batin Jeno.
"Jeno, kenapa elo meski menggunakan nama Bulan." batin Jevo merutuki apa yang dilakukan Jeno.
"Halo.... selamat malam bu Bulan." sapa Nyonya Rindi, ketika panggilan teleponnya di angkat oleh Bulan.
Nyonya Rindi langsung mengaktifkan loud speaker pada ponsel miliknya. Agar semuanya bisa mendengar apa yang sedang Bulan katakan.
"Saya Rindi, mama dari Jevo dan Jeno. Maaf, jika menggangu anda waktu malam anda." tukas Nyonya Rindi.
"Selamat malam juga bu. Tidak apa-apa, saya juga tidak merasa terganggu. Maaf, jika boleh tahu, ada perlu apa ibu menghubungi saya?" tanya Bulan di seberang telepon.
Nyonya Rindi menatap kedua putranya yang menundukkan kepalanya. Beliau tersenyum samar. "Begini bu, saya hanya ingin memastikan. Apa benar, jika malam ini anak-anak sedang mengadakan bimbingan belajar di rumah ibu. Makanya mereka pulang larut malam." tanya Nyonya Rindi.
Suasana hening sejenak. Bulan tak segera menyahuti pertanyaan yang terlontar dari mulut Nyonya Rindi.
"Bu Bulan...." panggil Nyonya Rindi.
"Ehh... maaf bu. Begini, jadi memang benar, malam ini mereka berada di rumah saya untuk mengikuti bimbingan belajar tambahan. Termasuk Jevo dan Jeno." jelas Bulan.
Jevo dan Jeno langsung saling memandang dan tersenyum. Rasanya sungguh lega, mendengar apa yang Bulan katakan.
__ADS_1
Keduanya seakan terbebas dari masalah besar. Dengan senyum di bibir, Jevo dan Jeno kini berani memandang ke arah kedua orang tuanya.
"Tapi, bimbingan belajarnya hanya sampai pukul sepuluh malam bu. Tidak lebih." lanjut Bulan menjelaskan.
Senyum di bibir Jevo dan Jeno langsung menghilang. Baru saja keduanya terasa terbang bebas ke langit. Terbebas dari sangkar. Dan kini, sudah terjatuh, dan langsung mendarat di tanah yang sangat amat keras.
Tuan David memalingkan wajahnya ke arah lain, menahan tawa yang sudah berada di tenggorokan. "Bulan, dia memang punya pemikiran yang cerdik. Tidak menjatuhkan anak didiknya. Tapi punya cara lain, supaya mereka tetap mendapat hukuman dari kami." batin Tuan David.
"Ooohhh... pukul sepuluh malam ya bu. Baiklah, terimakasih informasinya. Selamat malam bu. Maaf sudah menganggu." ujar Nyonya Rindi.
"Sama-sama bu, selamat malam." sahut Bulan di kediamannya.
"Bulan...." geram Jeno dalam hati.
Jevo melirik ke arah Jeno. "Lihatlah, apa yang dilakukan kekasih elo." batin Jevo merasa dongkol.
Nyonya Rindi memandang tajam ke arah kedua putranya setelah mematikan panggilan telepon dengan Bulan.
"Kalian dengar. Sekarang, kemana kalian setelah melakukan bimbingan belajar?!" tanya Nyonya Rindi, bak singa yang hendak memakan mangsanya.
"Baiklah, Jevo akan jujur. Kami ikut Mikel dan Arya. Kita nongkrong di pinggir jalan." tukas Jevo, yang kembali berbohong.
Jeno memandang Jevo dengan tatapan tak percaya. "Nongkrong, di pinggir jalan. Ngapain." batinnya. Sebab, selama ini Jeno tak pernah melakukannya.
"Jangan bilang kalian ikutan balap liar?!" seru Nyonya Rindi.
"Ma,,,, ralat. Bukan ikutan. Hanya melihat." sahut Jevo membela diri.
Jeno kembali mengedipkan kedua matanya dengan lucu. "Alasan yang sama sekali tidak berkelas." batin Jeno.
"Tetap saja, dari melihat, kalian akan menjadi penasaran. Lalu kalian akan mencoba." tekan Nyonya Rindi.
Jeno menghela nafas panjang. "Siapa juga yang mau mencoba balap liar. Naik motor saja takut." batin Jeno, teringat akan ketakutannya dengan kendaraan beroda dua tersebut.
Tuan David hanya diam. Menyimak percakapan mereka, serta memperhatikan ekspresi kedua putranya.
Beliau bisa menebak, jika apa yang dikatakan Jevo semuanya adalah kebohongan. Tampak jelas dari raut wajah keduanya.
Apalagi, Tuan David tahu betul jika Jeno memiliki trauma dengan kendaraan beroda dua tersebut. "Sebenarnya, apa yang kalian lakukan di luar sana." batin Tuan David mulai curiga.
Sementara di rumah Bulan, dia memandang ponsel yang baru saja mati dengan menggelengkan kepala. "Bisa-bisanya mereka membawa nama gue untuk mencari alasan. Dasar anak bandel." ujar Bulan.
Bulan segera membersihkan badan dan berganti pakaian, sebelum membaringkan badannya di atas ranjang kecil yang empuk.
"Timo. Kakek." gumam Bulan, berbaring sembari menatap ke langit-langit kamar.
Bulan memikirkan kehidupan Timo sebelumnya. "Jika kakek Timo tinggal tak jauh dari tempat itu, kemungkinan besar Timo juga dibesarkan di sana." gumam Bulan.
Bulan menyingkirkan selimut di atas tubuhnya. Segera dia membuka laptop dan mencari tahu mengenai Timo. "Dari pada gue nggak bisa tidur karena penasaran." tukasnya mulai memainkan jari jemarinya di keyboard.
"Timo...." gumam Bulan, sekaligus menuliskan alamat sang kakek sesuatu insting Bulan. Pasalnya beliau mengatakan jika tinggal tak jauh dari daerah dimana Bulan menolong kedua gadis tersebut.
"Ini dia." Bulan menemukannya.
"Timo. Kedua orang tuanya meninggal saat dirinya masih kecil. Pantas saja jika dia dibesarkan oleh kakeknya."
Bulan memperbesar beberapa foto Timo yang memakai seragam sekolah. Hanya dua foto. Berseragam SD dan SMP.
"Wajahnya. Kenapa dengan wajahnya." cicit Bulan, melihat wajah Timo yang penuh luka. Seperti bekas luka sayatan. Dan juga luka lainnya.
Bulan mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi. "Kakek begitu baik. Tapi Timo." gumam Bulan.
Bulan menutup kembali laptopnya. "Pasti ada sesuatu yang melatarbelakangi, kenapa Timo seperti itu." gumam Bulan.
"Kematian orang tuanya juga tidak ditulis dengan jelas. Satu-satunya semua kunci kejahatan Timo hanya satu orang. Kakek."
Bulan kembali berpikir. Tentu saja memikirkan cara menguak semuanya. Sebab, semua bukti sudah ada di tangannya.
Tapi Bulan meski berjalan dengan waspada dan juga sangat hati-hati. Dirinya harus memastikan rencananya berjalan sesuai dengan apa yang ada di dalam otaknya.
"Gue harus menyelesaikan semua satu persatu. Kasus Timo, akan gue selesaikan lebih dulu. Sebelum gue masuk ke kasus lain." gumamnya.
"Semoga istri dan anak atasan gue dalam keadaan baik-baik saja."
__ADS_1
Itu artinya, Bulan harus segera menyelesaikan kasus Timo. Jika tidak, semua akan terlambat. "Tuhan, lindungi kami." cicit Bulan menengadahkan kepalanya ke atas.