PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
Puisi untukmu


__ADS_3

Sudah lima kali aku keluar masuk rumah, memerhatikan jendela Dilara juga bagian dalam rumahnya yang terlihat dari tempatku berdiri. Gadis itu tak tampak. Bahkan chat yang kukirimkan sejak tadi tak satu pun dibalas. Sial! Dia marah beneran.


"Ham! Ngapain lu dari tadi ngeliatin rumah gue terus?" tanya Galih yang sudah berdiri di depanku.


"Adek lu mana?" Aku bertanya balik. Masih melihat ke arah jendela kamar Dilara.


"Ada, tuh, di dalam. Lagi nungguin pacarnya."


"Hah? Nungguin gue?" tanyaku langsung memutari pagar pembatas rumah kami, lalu berdiri di depan teras rumah Galih.


"Emang lu pacar Dila? Sejak kapan?"


Aku tak menggubris pertanyaan Galih. Fokus melihat ke dalam, mencari sosok Dilara. Sial! Gadis itu tak kelihatan sedikit pun.


"Panggilin, dong," pintaku gusar. Bagaimanapun, malam ini aku harus berhasil bicara padanya.


"Lu nggak jawab pertanyaan gue. Emang kalian bedua pacaran?"


"Iyaa. Gih! Panggilin."


Galih melihatku dari atas hingga bawah. Tangannya menyentuh dagu, seakan menilaiku.


"Ah! Lamaaa. Minggir!" Aku mendorong tubuh pria itu agar tak menghalangi jalan. Namun, dia mencegah dengan menahan dadaku.


"Santai, Bro. Gue sebagai kakak, gimana pun harus jaga adiknya. Lu bikin salah apa sampai dia marah?"


"Lu nggak ingat kejadian sore tadi? Dia pulang sama cowok lain, Man. Siapa coba yang nggak marah?"


"Adik ipar gue? Ya, gue mah lebih milih dia timbang lu."


"Sialan, lu! Temen apa musuh, sih?" rutukku.


Galih terkekeh. Sementara aku menahan dongkol. Sahabat macam apa yang tak mendukung sahabatnya sendiri menjadi adik ipar.


"Awas lu, ya. Kagak gue bantuin PDKT ama Sandra."


"Jiah! Ancamannya. Yaudah, gue dukung lu."


"Nah, gitu, dong. Sekarang mana Dilara?"


Belum juga kami masuk, sebuah mobil memasuki halaman rumah. Saat pintu terbuka, sorang bocah keluar. Penampilannya cukup membuat anak gadis menjerit. Dandanan serta pakaiannya terlihat mahal dan berkelas. Namun bagiku, norak. Jaket denim dan celana jeans. Dari mana kerennya?


"Mau apa?" tanyaku.


"Mau ketemu Dilara, Kak."

__ADS_1


"Dilara lagi belajar di dalam. Pulang, gih," usirku.


"Dilaranya ada. Sini duduk dulu. Kakak panggilin," seru Galih dari belakangku.


Sialan ini anak. Katanya tadi mendukungku, kenapa sekarang beralih ke bocah tengik ini?


"Iya, Kak. Ini saya bawa martabak buat kakak." Bocah itu mengulurkan plastik putih bertuliskan Martabak Bangka, tapi segera kusahut sebelum Galih menerimanya.


"Nggak usah. Kamu pulang aja. Dilara nggak bisa ditemui." Seraya memberikan kembali bungkusan tadi.


"Apaan, sih, lu? Rejeki nggak boleh ditolak." Malah Galih yang menerima plastik tadi. Aku melihatnya geram, tapi pria itu Seolah-olah tak melihatku.


"Lu tadi bela gue, sekarang ada ni anak lu beralih sama dia. Dasar bermuka dua, lu!" bisikku.


"Mayan, 'kan, martabaknya, Ham," balasanya lirih.


"Rendy! Ngapain di situ? Masuk." Sebuah suara feminim yang berasal dari belakang kami, menginterupsi. Kami bertiga menoleh. Dilara berdiri di depan pintu, wajahnya semringah menatap temannya itu, sementara aku, tak diacuhkan.


Rendy melewatiku, lalu mengikuti Dilara masuk rumah. Aku pun mengekor di belakang mereka. Ikut duduk di ruang tamu sambil terus menatap muda-mudi itu. Mereka tertawa, aku tersenyum sinis. Mereka saling pukul, aku mengepalkan tangan.


Rendy ditawari minum. Aku, boro-boro ditawari, dilihat pun tidak. Parah memang. Untung cakep. Kalau tidak? Ya, tetep sayang karena sudah cinta mah.


Hingga si Rendy pamit pulang dan tak tampak lagi batang hidungnya, Dilara masih tak menganggapku ada.


Dilara hanya melirik sekilas, lalu kembali mengemasi cangkir bekas minuman tadi. Anak rambut turun ke bagian keningnya, sigap, aku membetulkan. Membuat Dilara kaget dan menatapku.


"Kamu pikir marahmu jelek? Cakep tau. Gemes kakak lihatnya." Aku menggombal. Dilara tak menanggapi, tapi kepalanya tertunduk.


"Bulan bersinar terang di luar, tapi saat kakak di dekat kamu kenapa silau, ya?"


Aku tertawa dalam hati, sejak kapan kenal dengan gombalan receh begini? Ah, semua itu demi Dilara yang cantik agar tak marah lagi.


"Bucin teroooos! Udah tua, kagak pantes, Ham. Kagak pantes!" Tawa Galih menggema terdengar mengejek.


Dilara masih tetap tak merespons. Asem! Gini ini, nih, kalau macarin adik teman. Bukannya dibantuin malah di-bully.


"Dasar manusia bermuka dua!" rutukku yang masih disambut gelak tawa Galih. Sementara Dilara sudah masuk ke dapur.


Nasib!


❤️❤️❤️


Karena tadi tak mampu membuat Dilara luluh, kini aku mencoba jurus lainnya. Kunamai jurus petikan gitar. Malam ini aku tidak akan menyanyi, tapi deklamasi dengan iringan gitar. Puisi-puisi yang kubuat selama ini sukses membuat Dilara jatuh cinta. Jadi, jika aku membacakannya dengan suara lantang, siapa tahu Dilara mau memaafkanku.


Seperti yang biasa kulakukan. Duduk di bangku yang terbuat dari anyaman bambu di halaman yang berada di antara rumah Dilara dan rumahku. Aku mulai memetik. Dentingan mengalun perlahan.

__ADS_1


Bibir merah alami tak lagi tersenyum


Matahari pun tak sehangat biasanya


Ada mendung menggelayut


Mengusir terang


Pun, hatiku


Kelam, meski kucoba lukis berbagai warna


Hasilnya tetap sama, pekat.


Selesai, kutengok jendela Dilara, tetap tertutup. Aku menghela napas, mengeluarkan ponsel dan mengetik.


"Mau jalan-jalan?" tanyaku.


Setelah menunggu lima menit, tak kunjung datang balasan dari Dilara. Aku menyerah. Kuputuskan untuk masuk ke dalam rumah karena nyamuk mulai menghisap darahku dengan tak tanggung-tanggung. Bukan maaf Dilara yang kudapat, tapi malah rasa gatal.


Aku bergegas masuk. Sampai di kamar, kutaruh gitar yang begitu berharga bagiku itu di sudut ruangan. Menyatu dengan bufet berisi buku bacaanku selain buku kuliah. Kemudian, duduk termangu di kursi meja belajar.


Dalam keadaan hampa seperti ini, imajinasiku liar. Segera kuambil ponsel dan berseluncur di akun media sosialku. Awalnya hendak menulis di beranda, tapi mata malah menjajah kolom. Komentar. Aku membaca komentar di postinganku kemarin. Cukup senang denah antusias para perempuan yang bergitu jatuh cinta pada tulisan beraroma cinta dan rindu. Banyak dari mereka yang memuji dan memintaku membuatkan satu untuk mereka. Bahkan tak segan meminta secara khusus di room chat.


Jujur, aku tidak mau melakukan hal itu. Sebab, tidak semua orang mampu menggali imajinasiku. Hanya Dilara wanita yang menjadi inspirasi dari tiap puisi yang kucipta. Karena dialah muncul kata-kata indah dari ketikan jariku. Segudang rindu, harap, luka, dan cinta terbuang dalam bait aksara.


Pejamlah temaramku


Balutlah mimpi dalam peraduan


Aku di sini berteman hening


Menunggu terang tanpa geming


Langitkan segala pinta atas namamu


Menanti tetes embun dahagaku


Esok tiba, aku ingin bersua bahagia


Tiga menit kuposting, like dan komentar bermunculan. Namun, tidak ada nama Dilara di sana. Semarah itukah dia? Atau sekasar itu sikapku?


Napas kuhela dengan kasar. Membuang ponsel ke sembarang arah, lalu beranjak ke ranjang. Tidur sajalah! Wajah kututup dengan bantal. Mencoba menghalau bayang Dilara yang berwajah masam. Setengah jam, bergulang-guling tetap saja tak mampu membuatku bisa tidur. Sial! Aku merutuk dan duduk kembali. Kali ini, aku lebih memilih membaca novel. Menunggu kantuk dan lelap.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2