PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 95


__ADS_3

"Kalian." seru Gara, melihat kedatangan Jevo dan Jeno yang masuk bersama.


Entah bagaimana caranya, mereka bisa sampai di markas bersamaan. Padahal jalan yang mereka lalui berbeda.


"Apa acaranya sudah selesai?" tanya Gara, karena Arya mengatakan kepada Gara, alasan Jevo dan Jeno tidak bisa bergabung bersama mereka.


"Dimana mereka?"


"Apa mereka sudah berangkat?"


Jevo dan Jeno bertanya secara bersamaan. Dan tak ada satupun yang menyahuti pertanyaan dari Gara. "Mereka sudah berangkat. Dan sekarang, mereka berada di rumah Rio." jelas Gara pada Jevo dan Jeno.


"Kita terlambat." tukas Jeno, menampilkan raut penyesalan.


"Sebaiknya kita susul mereka ke rumah itu." ajak Jevo, menyarankan pada Jeno agar keduanya pergi menyusul mereka bertiga.


Jevo dan Jeno langsung membalikkan badan tanpa mengatakan apapun pada Gara dan bertanya pendapat Gara. "Hey,,,!! Kalian mau ke mana, tunggu....!! Jangan asal nyusul saja. Hubungi dulu Bulan...!!" seru Gara, merasa kesal dengan tingkah keduanya yang seenak udelnya tersebut.


"Benar juga." cicit Jevo, menatap ke arah Jeno. Keduanya lantas kembali ke samping Gara. Menunggu perintah apa yang akan diberikan Bulan pada mereka berdua.


Gara memutar kedua matanya dengan jengah. ''Memang benar. Bekerjasama dengan bocil harus ekstra sabar.'' batinnya. Padahal dirinya sendiri terkadang juga tidak sabaran. Bahkan lebih parah dari mereka berdua.


"Sebaiknya elo cepat hubungi Bulan." pinta Jevo dengan tidak sabar.


"Iya...." sahut Gara dengan nada kesal karena Jevo menyuruhnya terburu-buru.


"Bagaimana?" tanya Jeno, setelah Gara selesai menghubungi Bulan.


"Kalian diberi tugas sendiri oleh Bulan. Jadi jangan menyusul ke sana. Cukup Mikel dan Arya yang menemani Bulan." jelas Gara, menyodorkan dua buah benda kecil pada keduanya.


Jevo dan Jeno mengambilnya. Dan segera memasang di telinga masing-masing. Sebab benda tersebut adalah alat komunikasi yang akan mereka gunakan saat beraksi.


"Mengambil mama Rio dari tangan Timo." ungkap Gara.


Sesaat, Jevo dan Jeno saling memandang. Setahu mereka, misi kali ini hanya menyelamatkan Rio, kenapa sekarang bertambah menjadi mama dari Rio. Ada apa sebenarnya.


"Jangan tanya kenapa pada gue." Gara mengangkat kedua tangannya ke atas, seperti orang yang menyerah saat perang. "Bulan yang mengatakannya." lanjut Gara.


Gara paham, jika keduanya pasti berpikir kenapa mereka juga harus mengamankan mama Rio. Padahal yang sedang dalam bahaya adalah Rio. Begitu juga dengan dirinya.


Tapi mereka yakin, jika Bulan mempunyai maksud dan tujuan tersendiri, mengapa mereka harus mengambil mama Rio dari tangan Timo.


"Lalu apalagi yang Bulan katakan?" tanya Jeno.


"Jangan sampai Timo ataupun mama Rio curiga dengan aksi kalian. Bermain rapi dan can....tik." ungkap Gara.


Jevo dan Jeno kembali saling memandang. "Baiklah. Dimana mama Rio sekarang berada?" tanya Jevo.


"Masih di dalam pesawat. Dan sebentar lagi pesawatnya akan mendarat di bandara." Gara menjeda kalimatnya sebentar.


"Timo sendiri yang menjemputnya. Pastinya dengan identitas sebagai Rio." lanjut Gara meneruskan kalimatnya.


Gara memutar sedikit badannya, menatap ke arah layar. "Ini mobil Rio palsu, alias Timo." Gara menunjuk ke area parkir kendaraan yang berada di bandara.


"Dan ini,,, dia,,, Rionya. Alias Timo." tunjuk Gara ke layar yang berbeda. Dimana Rio sedang duduk disebuah kursi, untuk menunggu kedatangan mama dari Rio.


Jevo dan Jeno menatap ke dua layar di depannya dengan intens. "Dan satu lagi. Apa kalian tahu dimana letak villa milik Mikel?" tanya Gara memastikan.


"Villa yang mana?" Jevo bertanya balik, sebab Jevo tahu jika keluarga Mikel mempunyai lebih dari satu villa.


Gara mengangguk sembari memasang ekspresi heran. "Betul juga. Orang kaya. Pasti mempunyai lebih dari satu." gumam Gara.


"Villa yang tidak diketahui kedua orang tua Mikel." tukas Gara.


Jeno memandang ke arah Mikel. Jevo tidak begitu dekat dengan Mikel. Dan pastinya tidak tahu di mana letak villa yang dikatakan oleh Gara.


Berbeda dengan Jevo, yang memang sahabat dekat Mikel. "Villa yang tidak diketahui nyokap bokap Mikel." lirih Jevo memikirkan dimana letak villa yang dikatakan oleh Gara.


"Sepertinya gue tahu." ucap Jevo.


"Sebaiknya kita bertanya pada lagi pada Mikel. Jangan sampai kita salah alamat." saran Jeno. Yang mendapat anggukan dari Jevo.


"Sebaiknya kalian segera bergerak. Ingat, lakukan dengan rapi, jangan ceroboh." tukas Gara mengingatkan.


Jeno dan Jevo tentu saja mengubah penampilannya. Tapi Jevo tidak berpura-pura sebagai asisten sang dokter. Sebab mereka akan menghadapi Rio palsu. Bukan dokter Vinc palsu.

__ADS_1


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Jevo, sebab mereka harus memikirkan rencana dengan matang sebelum keluar dari markas.


"Bagaimana kalau kita telepon Bulan. Bertanya padanya." saran Gara.


"Jangan." sahut Jeno dengan segera. Tentu saja Jeno tidak mau terlihat bodoh di depan Bulan. Hanya ingin mengambil mama Rio dari Timo. Tak mungkin Jeno harus bertanya pada Bulan.


Jeno tidak ingin terlihat bodoh dan hanya bisa mengandalkan Bulan. Jeno juga ingin dipandang oleh Bulan sebagai lelaki yang berotak.


"Lalu kita harus melakukan apa?" tanya Jevo memandang saudara kembarnya.


Jeno terdiam. Dia sedang berpikir, bagaimana caranya untuk memisahkan Timo dan mama Rio. Jeno tersenyum samar. Dirinya sudah mendapatkan cara untuk membawa mama Rio ke villa milik Mikel.


Setelah Jeno mengatakan idenya pada Jevo dan Gara, keduanya segera meninggalkan markas dan menuju ke tempat dimana mereka akan menjalankan rencana yang ada di otak Jeno.


"Kalian berhati-hatilah...!!" seru Gara, saat Jevo dan Jeno melangkahkan kaki keluar dari markas.


Jevo hanya mengangkat tangannya, memperlihatkan jempol tangannya pada Gara tanpa membalikkan badan. Dengan Jeno hanya diam, terus melanjutkan langkahnya.


Keduanya menaiki kendaraan masing-masing. Jevo tetap menaiki mobilnya, sementara Jevo mengendarai motornya.


Di jalan, Arya dan Mikel tengah menuju ke tempat yang sudah disetujui. Yakni villa milik Mikel.


Arya menoleh ke belakang, dimana di kuris belakang, Rio duduk sembari menyenderkan punggungnya ke senderan kursi. "Nggak ada air minum?" tanya Arya pada Mikel.


Arya merasa kasihan melihat keadaan Rio yang menurutnya sangat mengenaskan. "Nggak ada." sahut Mikel.


"Kita berhenti sebentar. Cari minum dan roti." ajak Arya. Yang diangguki oleh Mikel.


Seperti yang dikatakan Arya, Mikel menghentikan mobilnya saat melihat sebuah toko. "Jangan terlalu lama." tukas Mikel, saat Arya hendak keluar dari mobil.


"Kenapa berhenti?" tanya Rio.


"Temanku ingin membeli makan dan minum." sahut Mikel.


"Maaf merepotkan." cicit Rio.


"Tidak. Santai saja." tukas Mikel.


Mikel menatap Rio dari kaca pantau. Berkali-kali Mikel menghela nafas kasar. Dan itu jelas terdengar di telinga Rio.


Mikel tak menyangka, jika Rio bisa menebak dengan tepat apa yang dia lakukan. "Maaf. Aku tidak takut. Hanya saja...." Mikel menggantung kalimatnya, dia tidak melanjutkannya. Rasanya sungguh tidak tega, mengatakannya dengan jujur.


Rio tersenyum. "Pasti elo merasa kasihan." lirih Rio.


Tak berselang lama, Arya kembali. Dia tidak duduk di kursi depan, di samping Mikel. Melainkan di kursi belakang, di samping Rio.


Mikel segera melajukan kembali mobilnya. Sedangkan Arya membuka tutup botol minuman. Memberikan pada Rio. "Minum dulu." ucap Arya, membantu Rio meminum air dalam botol, dengan memegang botolnya.


"Bahkan untuk memegang botol plastik saja gue tidak mampu." Rio tersenyum kecut.


"Nanti juga pasti bisa. Elo seperti inikan karena kurang asupan makan dan minum." tukas Arya, sembari menyuapkan roti ke dalam mulut Rio.


"Maaf, membuat mobil kalian bau." lirih Rio disela mengunyah roti.


"Tidak apa. Teman saya ini kaya. Tinggal beli mobil lagi." canda Arya disertai kekehan.


"Nanti, jika gue bertemu mama, gue akan meminta mama membelikan mobil untuk teman kamu." papar Rio.


"Santai saja. Bisa dicuci. Bayar nggak seberapa. Sudah nggak bau." sahut Mikel.


"Apa teman elo sudah menolong mama?" tanya Rio. Arya menatap Mikel dengan tatapan penasaran. Tak ada pembicaraan mengenai mama dari Rio. Tapi kenapa Rio bertanya mengenai mamanya.


"Tenang saja. Percaya sama gue. Mereka akan berhasil membawa mama elo." ucap Mikel dengan yakin.


Mikel tersenyum miring, menatap Arya dari kaca pantau. Dimana Arya menatap dirinya dengan intens. Mikel tahu, jika Arya pasti penasaran. Kenapa mama dari Rio masuk ke dalam misi penyelamatan. Tapi mustahil Mikel menjelaskan pada Arya sekarang.


"Siapa yang menyelamatkan mama Rio." batin Arya. Tapi dirinya tak berani bertanya secara langsung. Arya tahu, apa yang bisa diucapkan saat menjalankan misi. Dan apa yang tidak boleh diucapkan.


"Pasti. Gue percaya dengan kalian." tutur Rio dengan yakin.


Suasana hening sejenak. "Maaf, saya sudah kenyang." tolak Rio, saat Arya hendak menyuapkan kembali roti di tangannya.


Kenyang. Padahal Rio hanya makan roti sedikit. Bahkan roti masih tersisa separuh lebih. "Mungkin karena selama ini, saya hanya makan sedikit. Jadi lambung saya tidak terbiasa jika makan banyak." jelas Rio.


Mikel dan Arya saling memandang lewat kaca pantau. Ada yang aneh dengan Rio. Dan keduanya tahu, jika Rio sedang berusaha menahan rasa sakit. Tapi keduanya hanya diam tak bertanya pada Rio.

__ADS_1


Mereka berdua tidak ingin Rio merasa tidak nyaman. Apalagi mereka baru bertemu. "Teman perempuan kalian kemana?" tanya Rio memecah keheningan.


"Kita juga tidak tahu. Tapi yang pasti, dia pergi menyelesaikan masalah Timo." ungkap Arya.


"Timo. Apa dia semengerikan itu?" tanya Rio.


"Sangat. Dia lelaki psikopat." jelas Arya singkat.


"Oh iya, bagaimana elo bisa mengenal Timo?" tanya Arya penasaran.


"Timo. Dia teman dari kenalan gue." ungkap Rio, yang ternyata mengenal Timo sebelum kejadian ini.


Mikel memandang Arya dan Rio bergantian dari kaca pantau. Arya mengangguk pelan. Dia tak lagi bertanya. Pasti ada sesuatu yang terjadi sebelum kejadian dimana Rio mengalami kecelakaan bersama sang papa.


Dan mereka tidak ingin bertanya lebih jauh pada Rio. Tanpa Bulan di samping mereka. Bukannya mereka tidak penasaran. Hanya saja mereka takut salah dalam bertanya.


"Apa tempatnya masih jauh?" tanya Rio.


Arya menatap intens ke arah Mikel. Pasti ada yang disembunyikan oleh Rio. "Katakan, ada apa?" tanya Arya secara langsung.


Tampak keringat muncul di kening Rio. Padahal AC di dalam mobil dalam keadaan menyala. Bahkan Mikel dan Arya saja merasa sejuk berada di dalam mobil. Tapi kenapa Rio malah berkeringat.


"Gue tidak bisa duduk lama." cicit Rio dengan menahan rasa sakit.


Segera Mikel menghentikan mobilnya. Dirinya dan Arya menata kursi bagian belakang, supaya Rio bisa berbaring dengan nyaman.


"Berbaringlah." pinta Mikel dengan pelan membantu Rio untuk berbaring.


Tangan Rio memegang perutnya, seraya berbaring. Rio bernafas lega setelah berbaring. "Bagaimana? Sudah nyaman?"


"Terimakasih. Maaf, sudah membuat kalian repot." lagi-lagi Rio mengatakan kalimat itu.


"Apa elo nggak punya kain?" tanya Arya, sebab Rio hanya menggunakan celana pendek tanpa menggunakan pakaian.


Mikel membuka dashboard, mengambil kain tipis dari dalamnya. Sejenis sarung pantai. "Hanya ada ini." Mikel memberikan pada Arya.


Arya segera menutupkan ke tubuh Rio. "Tidurlah, kita akan beritahu jika sudah sampai." tukas Arya.


Rio mengangguk lemas tanpa bersuara. Mikel dan Arya tentu saja tidak bisa membedakan. Apakah Rio sudah tidur atau belum. Sebab kedua mata Rio yang memang tidak seperti mata pada manusia umumnya, karena ulah Timo.


Sejenak, Mikel dan Arya saling pandang. Mereka yakin, jika Rio membutuhkan dokter. Segera Mikel melajukan mobilnya kembali menuju villa miliknya.


Dengan Arya kembali duduk di samping kursi kemudi. Sebab mereka ingin Rio berbaring dengan nyaman.


Tuan David dan Nyonya Rindi dalam perjalanan pulang. Keduanya tidak menunggu hingga acara selesai. Tuan David mengatakan jika besok dirinya harus bertolak ke negara tetangga saat pagi buta.


"Pa, kemana perginya mereka berdua?" tanya Nyonya Rindi dengan ekspresi cemas.


Tuan David merangkul pundak sang istri dengan nyaman. "Tenang saja. Aku sudah menyuruh orang untuk mengikuti mereka berdua." jelas Tuan David.


Kenyataannya, beliau tahu jika orang suruhannya gagal dalam menjalankan tugas. Tapi dirinya tentu saja tidak mengatakan yang sebenarnya pada sang istri. Yang ada Nyonya Rindi malah akan semakin khawatir.


"Memangnya mereka kemana pa?" tanya Nyonya Rindi lagi.


Tangan Tuan David menepuk pundak Nyonya Rindi dengan pelan. "Yang pasti mereka mengerjakan hal yang baik. Mama tidak perlu khawatir. Papa akan terus memantau mereka." ujar Tuan David terpaksa berbohong pada sang istri.


Namun beliau juga yakin, jika kedua putranya tidak akan melakukan perbuatan tercela yang melanggar norma dan melanggar hukum.


Tuan David yakin, kedua putra kembarnya adalah lelaki yang bertanggung jawab dan juga tidak akan membuat malu dirinya serta sang istri.


"Syukurlah, jika mereka tidak melakukan hal yang berbahaya. Mama hanya takut, mereka salah pergaulan. Ikut balap liar. Jadinya malah lari ke obat terlarang, dan malah mabuk-mabukan." ungkap Nyonya Rindi, mengatakan apa yang ada di dalam hatinya.


"Tenang saja. Mereka putra kita. Kita membesarkan dengan harta yang halal dan dengan cara baik. Kita mendidik mereka untuk menjadi anak yang bertanggung jawab. Percaya dengan mereka." papar Tuan David, menenangkan sang istri.


Tuan David paham apa yang dirasakan sang istri. Sebagai orang tua, pastinya mereka menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Dan tidak ingin kedua putranya mengalami hal yang tidak dia inginkan.


Sejujurnya, Tuan David sendiri juga merasa penasaran mengenai kedua putranya. Dan apa yang mereka lakukan di belakangnya.


Sebab, Tuan David bahkan tidak sanggup mencari tahu. Seakan ada seseorang yang melindungi kedua putranya. Sehingga Tuan David sendiri tidak bisa mencaritahunya. Meski sudah menyuruh seseorang.


Bahkan, Tuan David juga sudah menyuruh seorang yang handal dalam perangkat lunak untuk melacak keberadaan mereka. Namun hasilnya nihil.


Keberadaan Jevo dan Jeno akan hilang di tengah jalan. Dan tak bisa dilacak kembali. "Dengan siapa sebenarnya kalian berteman." batin Tuan David.


Bukan hanya menyelidiki kedua putranya. Bahkan Tuan David juga menyelidiki kedua sahabat sang putra. Arya dan Mikel.

__ADS_1


Namun hasilnya sama. Beliau tidak menemukan apapun yang mencurigakan pada keduanya.


__ADS_2