
Seluruh kota, bahkan seluruh orang yang tinggal di negara ini membicarakan hal yang sama. Timo. Termasuk di sekolah, dimana Bulan mengajar di sana.
Selesai kasus Timo terpecahkan, juga tertangkapnya Timo. Hingga Timo yang mendapat hukuman mati, tak lantas membuat Bulan hengkang dari sekolah tersebut.
Tentu saja Bulan masih berada di sekolah tersebut. Meski tak menyelidiki kasus Timo, tapi ada kasus lain yang menunggunya. Dan kasus tersebut berhubungan dengan beberapa orang yang berada di sekolah tersebut.
"Gila, keren sekali. Sayang, orang yang menangkap orang psikopat itu tidak disebutkan. Bahkan tidak diperlihatkan di media." cicit seorang siswa merasa kecewa bercampur penasaran.
"Pasti dia tampan dan gagah." timpal siswa lainnya dengan nada sedikit centil.
Mereka pastinya mengira jika yanga mereka anggap sebagai pahlawan atau mengungkap kasus Timo adalah seorang lelaki.
Meski memang hanya Bulan yang seorang perempuan di kelompok kecil tersebut. Tetap saja, Bulan adalah otak utama atau penggerakan, sehingga Timo sekarang mendekam di balik jeruji besi.
Bagaimana jika mereka tahu. Bahwa pengungkap kasus Timo adalah orang-orang yang mereka kenal. Dan mereka adalah sosok populer di sekolah.
"Bukankah mereka pihak berwajib. Berarti banyak dong." sahut yang lain, mengira semua adalah aparat negara.
"Benar, lagian sudah terlalu lama kasus ini berlangsung. Itu juga sudah tugas mereka." timpal murid yang lain, terdengar cuek.
"Tapi, yang gue dengar. Hanya ada beberapa anggota yang terlibat langsung dalam penyelidikan kasus ini." jelas murid lain, entah dari mana dia mengetahui kabar angin tersebut.
"Alaaaahh,, ngapain bingung sih. Yang jelas, kita sudah aman dari predator yang bernama Timo. Selesai." ujar siswa yang lain, mengambil sisi positifnya saja. Tanpa ingin tahu gosip yang berkembang lebih banyak lagi.
"Kheem..." dehem Bulan, sebab dirinya tak bisa meneruskan langkahnya karena jalan dipenuhi para siswa yang berjalan juga sembari bergosip. Tapi, mereka berjalan seperti siput. Sangat lambat.
"Eehhh,, bu Bulan. Silahkan bu." ucap salah satu murid. Beberapa murid yang berada di tengah jalan segera minggir. Memberi jalan untuk Bulan lewat.
Bulan tak menyapa mereka atau tersenyum. Seperti biasa, Bulan menampakkan ekspresi datarnya. Berlalu begitu saja melangkahkan kakinya menuju ke ruang guru.
"Untuk cantik." gumam salah satu murid, yang merasa Bulan sombong.
"Galak tapi cantik." timpal yang lain.
"Dan smart." sambung siswa lainnya. Meski dia tidak berada di kelas yang Bulan ajar, tapi dia mendengar bagaimana sikap Bulan saat mengajar.
Sekarang mereka tak lagi membicarakan Timo, dan malah membicarakan Bulan sembari menatap punggung Bulan yang semakin menjauh.
Dasar anak-anak. Dengan mudah membicarakan sesuatu yang ada di depan mata. Lalu melupakan yang sebelumnya dengan mudah pula.
Langkah Bulan terhenti melihat pemandangan pagi yang sangat menusuk kedua matanya. Bulan menaikkan sebelah alisnya. Ada perasaan aneh menyeruak dalam hati Bulan.
Tapi jangan panggil dia dengan nama Bulan, jika tak bisa mengendalikan emosinya. Bulan menatap mereka dengan ekspresi datar.
Segera Jeno melepaskan pelukan Sella, melihat siapa yang menatap mereka dengan intens. Pandangan Sella mengarah ke mana Jeno memandang. "Bu Bulan." ucap Sella memasang wajah malu-malu, sehingga kedua pipinya tampak merah merona.
Sella memegang lengan Jeno dengan erat. "Ingat tempat. Ini area sekolah." tegur Bulan menatap tajam ke arah Jeno.
"Tahu tuh bu,,,, mereka memang sering mengumbar kemesraan." celetuk murid lainnya, asal omong. Padahal dia tak pernah melihat adegan mesra Jeno dan Sella sebelumnya.
Bulan berjalan begitu saja melewati Jeno dan Sella, juga beberapa murid lainnya. Tanpa mengatakan apapun lagi. "Cieee,, kalian sudah jadian ya...?!" ledek murid lainnya, melihat keakraban Sella dan Jeno.
Sebab seluruh murid tahu jika Sella sedang mendekati Jeno. Bahkan mereka semua menebak jika Jeno akan dengan mudah menerima Sella.
Tentunya karena kecantikan yang Sella miliki. Terlebih, Jeno terkenal dengan penampilannya yang cupu dan selalu menyendiri. Pasti sosok seperti Jeno tak akan menolak perempuan seperti Sella.
Beberapa menit yang lalu, Jeno berjalan menuju ruang guru. Dia bermaksud melihat wajah cantik bidadari hatinya. Bulan. Padahal, kemarin dirinya dan Bulan bersama seharian. Tapi tetap saja Jeno merasa kurang
Siapa yang menyangka, jika dia malah bertemu dengan Sella sebelum sampai di tempat yang dia tuju. Entah tertempel setan apa, Sella langsung memeluk Jeno dengan erat tanpa berkata apapun. Membuat Jeno terkejut dan hanya diam.
__ADS_1
Dan sialnya, bertepatan dengan hal tersebut, Bulan melihatnya. Bulan hanya melihat saat Jeno dipeluk Sella. Meski Jeno tak membalas pelukan Sella. Bulan juga tidak melihat apa yang terjadi sebelumnya.
Otak Jeno masih linglung, Sella memeluknya begitu saja dan Bulan menatapnya dengan ekspresi yang tak bisa dia baca. Membuat otak Jeno mencerna semuanya dengan sangat lambat.
"Aaaa....!!!" jerit Sella kesakitan saat Jeno mencengkeram lengannya dengan erat.
Beberapa murid yang berada di sekitar mereka berhenti dan menyaksikan apa yang akan terjadi. Diantara mereka ada Mikel yang hanya tersenyum melihat ekspresi kesakitan dari Sella.
"Ulat bulu. Pasti gatel." batin Mikel memandang Sella dengan tatapan jijik.
"Sakit Jeno..." ujar Sella dengan nada manja. Berharap Jeno melepaskan cengkeraman tangannya.
Bukannya melepaskan cengkeraman tangannya. Jeno malah semakin mengeratkannya. Hingga Sella meringis sembari mendorong tangan Jeno untuk lepas dari lengannya.
"Ini peringatan terakhir. Jangan pernah mendekati gue. Jika elo berani menyentuh tubuh gue, meski hanya baju yang gue pakai. Gue bersumpah, akan membuat elo menyesal." tekan Jeno sembari mendorong tubuh Sella dengan kasar.
Beruntung, beberapa siswa yang ada di belakang Sella menahan tubuh Sella. Sehingga Sella tidak sampai jatuh ke lantai. "Iiisss..." desis Sella mengelus lengannya yang memerah karena Jeno.
Jeno membalikkan badan tanpa mengatakan apapun. Pergi begitu saja. "Elo baik-baik saja?" tanya seorang murid melihat lengan Sella berwarna merah.
Sella segera tersenyum. Lalu mengangguk. "Tidak apa-apa. Jeno dan gue memang sedang bertengkar. Biasa, Jeno cemburu melihat gue dekat dengan murid lelaki." ujar Sella mengarang cerita.
Tentu dirinya ingin menggunakan momen ini dengan baik. Membuat semua percaya jika dirinya dan Jeno mempunyai hubungan.
Para murid yang melihat juga merasa terkejut. Jeno yang dikenal pendiam dan tak pernah berbicara. Terlihat dingin dan cuek, bisa semengerikan itu.
Mikel tertawa lepas mendengarkan alasan yang dibuat Sella. Membuat semua menatap lekat pada Mikel. Yang mereka kenal sebagai teman Jevo, dan salah satu murid lelaki yang tampan lainnya.
"Cemburu. Jeno,,, cemburu sama elo." ujar Mikel dengan jari telunjuk terangkat mengarah tepat pada wajah Sella.
"Bangun woeeyy,,, bangun...!! Jangan mimpi nona... Sella." lanjut Mikel membaca nama yang ada di seragam Sella dengan nada tinggi.
"Nama elo saja Jeno nggak tahu. Bagaimana kalian bisa mempunyai hubungan. Apalagi sampai Jeno cemburu. Hebat sekali. Pasti nilai mengarang elo sangat bagus." ejek Mikel tertawa sembari berjalan meninggalkan mereka semua dam bertepuk tangan.
Sella hanya mampu terdiam. Berdiri dengan kedua telapak tangannya terkepal erat menatap punggung Mikel dengan pandangan kesal bercampur benci. "Siapa elo,,, berani sekali membuat gue malu. Mikel. Gue akan membalas apa yang elo lakukan ke gue." geram Sella yang merasakan malu di hadapan banyak murid lainnya karena perkataan Mikel.
Tentunya mereka semua lebih percaya pada Mikel dari pada apa yang Sella katakan. Mengingat Mikel adalah sahabat dekat Jevo, yang notabennya saudara kembar Jeno. Pasti Mikel lebih tahu Jeno dari pada Sella.
"Sell... Sebaiknya sudahi apa yang elo lakukan. Jangan kejar Jeno. Elo tahu sendiri, Jeno nggak suka sama elo. Yang ada elo malah mempermalukan diri sendiri." tutur Mita, menasehati temannya tersebut. Jujur, Mita merasa kasihan pada Sella.
Sella menatap tajam pada Mita yang menatapnya dengan tatapan iba. "Jangan pernah ikut campur dengan apa yang gue lakukan. Paham. Elo bukan siapa-siapa gue. Ingat...!! Bokap elo hanya supir di rumah gue. So, jangan berlagak penting." sinis Sella.
"Seharusnya, elo bantu gue mendapatkan Jeno. Bukan malah ceramah yang nggak penting. Brengsek." Sella pergi berlalu meninggalkan Mita. Menabrakkan bahunya pada bahu Mita.
Mita hanya menghela nafas. Menerima apa yang Sella lakukan padanya. "Benar apa yang Sella katakan. Bahkan, biaya sekolah gue juga dibayar oleh mereka." cicit Mita.
"Lebih baik gue diam saja. Cari aman. Terserah Sella mau melakukan apa." lanjutnya dengan ekspresi sedih.
"Maaf Nyonya, Mita tidak bisa melakukan apa gang Nyonya minta." gumam Mita, ditujukan pada mama Sella. Yang sebenarnya mama Sella meminta Mita untuk selalu mengingatkan Sella saat Sella melakukan hal hang tidak baik.
Bulan meletakkan tasnya di atas meja. Duduk dengan perasaan yang dia sendiri tak tahu. "Nggak mungkin gue cemburu." batin Bulan, menolak apa yang dia rasakan.
Bulan tersenyum miring sembari menggeleng. Menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar. "Tidak. Gue nggak mungkin cemburu." lirihnya menolak perasaan hatinya yang sekarang sedang galau.
"Bu Bulan." panggil Hendri, mendekat ke arah Bulan. Membuyarkan lamunan Bulan.
Bulan lantas segera tersenyum. "Bagaimana, sudah baikan?" tanya Hendri dengan ramah.
Pasalnya, Bulan izin untuk tidak masuk mengajar karena sedang tidak enak badan. Sehingga semua guru serta murid mengira jika Bulan sedang sakit.
__ADS_1
"Sudah pak." tukas Bulan.
"Syukurlah kalau begitu." sahut Hendri.
"Jika bu Bulan merasakan sesuatu, atau membutuhkan sesuatu, bu Bulan bisa memanggil saya." ujar Hendri.
"Terimakasih pak." tutur Bulan.
"Baik bu, saya kembali dulu ke meja saya."
"Silahkan."
Interaksi antar Bulan dan Hendri mendapat perhatian dari beberapa orang. Salah satunya Jeno yang berada di luar ruang guru, melihat mereka dari jendela.
Jeno tak mungkin masuk ke dalam. Menjelaskan apa yang terjadi. Apalagi, Jeno melihat pak Hendri mencoba mendekati Bulan. "Sial,,, berani sekali guru sok itu mendekati Bulan." geram Jeno dalam hati.
Selain Jeno, ada seorang guru perempuan yang menatap sinis interaksi Bulan dsn Hendri. Padahal, interaksi keduanya sangat normal. Apalagi di ruang guru juga sudah banyak guru lainnya. Bukan hanya Bulan dan Hendri.
"Sok cantik. Dasar, tebar pesona. Memang perempuan nggak laku." batin Vani, yang memang sedari awal tidak menyukai kedatangan Bulan di sekolah ini.
Vani merasa jika kedatangan Bulan membuat semuanya mengabaikan dirinya. Dan malah lebih perhatian pada Bulan. Termasuk Hendri.
Jeno memilih pergi meninggalkan ruang guru. Dirinya tak ingin ada yang curiga pada dirinya. "Gue harus menjelaskan pada Bulan. Jangan sampai Bulan salah paham. Bahaya jika Bulan mengira gue dan Sella memiliki hubungan. Sial." batin Jeno sembari berjalan menuju kelas.
"Lihat,,,, siapa yang lewat...!" seru murid lelaki terlihat begitu sombong. Jeno terpaksa menghentikan langkahnya. Karena mereka berdiri menghadang langkah Jeno.
Diantara mereka ada Revan. Murid lelaki yang begitu membenci Jevo. Saudara kembar Jeno. "Rev,,, lihat siapa yang lewat." tukas salah satu teman Revan.
"Pagi yang sangat menyebalkan." batin Jeno merasa pagi ini adalah pagi tersialnya.
"Minggir. Gue mau lewat." pinta Jeno dengan nada datar.
"Widih.... Dia ngusir kita. Kalian dengar...!!" seru salah satu dari mereka.
Lorong tampak sepi. Semua murid sudah masuk ke kelas masing-masing. Sebab sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.
Jeno menghela nafas. "Minggir." tekan Jeno untuk kedua kalinya.
"Rev,,,, kembaran Jevo. Elo nggak mau ngasih salam." tukas teman Revan, memberi percikan api pada Revan.
Mendengar kata Jevo. Revan berdiri tegap, menatap Jeno dengan lamat. Membuat Revan dan Jeno saling pandang.
Bisa di tebak, jika mereka maju dan mencari masalah dengan Jeno, pasti mereka akan menjadi bahan pelampiasan amarah Jeno karena ulah Sella.
Teeeetttt..... bel masuk baru saja berbunyi. "Ayo, Rev,,,, elo kasih sedikit hadiah. Sebentar lagi guru akan lewat sini." ujar temannya mengompori Revan.
Dan benar saja, tanpa basa-basi, Revan melayangkan tinjunya pada wajah Jeno. Dengan mudah, Jeno menangkap kepalan tangan dari Revan.
"Aaaa....!!!" seru Revan, sebab Jeno memelintir lengannya.
"Hey,,, lepas...!!" seru teman Revan, bermaksud menolong Revan dengan menendang perut Jeno. Tapi Jeno langsung menghindar, dan langsung menendang tulang kering di kakinya, sehingga dia meringis kesakitan.
Sedangkan untuk teman Revan yang masih berdiri, Jeno langsung memberikan tendangan di perutnya. Hingga dia terjatuh ke belakang.
Jeno melepaskan tangan Revan, mendorongnya dengan kuat ke belakang. Hingga punggung Revan menabrak tiang yang ada di belakangnya. "Aaaaaiiissshhh." ringis Revan merasa kesakitan.
Satu teman Revan yang mencari aman, hanya diam dan segera menolong Revan yang meringis kesakitan. Tanpa ikut menyerang Jeno.
"Pecundang." ejek Jeno, berjalan meninggalkan mereka.
__ADS_1
Mereka bertiga hanya bisa meringis karena rasa sakit yang diberikan Jeno. Sedangkan seorang yang tak melakukan apapun memandang kepergian Jeno dengan tatapan terkejut.
"Dia lebih berbahaya dari Jevo." cicitnya merasa takut.