
Jevo dan Jeno berhenti di jalan dimana mereka akan membuat mobil Timo berhenti di tempat tersebut. "Dimana posisi mobil Timo?" tanya Jevo pada Gara yang sedang berada di markas.
"Masih lumayan jauh dari tempat kalian." jelas Gara.
"Apa elo yakin, Timo akan melewati jalan ini?" tanya Jeno.
"Sorry, ada beberapa jalan menuju ke rumah Rio. Semoga saja dewi keberuntungan berpihak pada kita." tutur Gara.
"Oke. Elo langsung saja beritahu kita, jika elo sudah yakin Timo lewat jalan yang mana." pinta Jevo.
"Oke, kalian tenang saja. Persiapkan semua dengan baik." tukas Gara.
Jevo dan Jeno segera merubah penampilan mereka berdua. Tentu saja keduanya merubah wajah mereka, dengan menambahkan benda di wajah mereka.
"Bagaimana?" tanya Jeno, berpenampilan sebagai seorang sopir dari keluarga kaya. Dengan memberi kumis di bawah hidung, serta jenggot di dagu. Tak lupa, Jeno memakai pakaian yang sangat lusuh dan besar.
Jevo tertawa lepas melihat penampilan saudara kembarnya. "Sumpah, elo memang sudah pantas menjadi bapak-bapak." celetuk Jevo disela tawanya.
"Aaa...!!!" seru Jevo, mendapat toyoran di dahinya serta tatapan tajam dari Jeno.
"Sorry." cicit Jevo menahan tawanya dengan menggelembungkan kedua pipinya.
Jeno tersenyum senang. "Berarti penyamaran gue sempurna." ujar Jeno dengan ekspresi angkuh.
"Ccckkk..." decak Jevo merasa sebal dengan sikap Jeno.
"Elo cepetan rubah penampilan elo." ujar Jeno mengingatkan.
"Iya, beres....!! Gue mah, gampang." tukas Jevo mulai merubah penampilannya.
Jevo menambahkan riasan di bawah kelopak matanya. "Elo kayak ben**ng,,, pakai pensil alis segala." celetuk Jeno.
"Bego,,,,!! Gue menyamar sebagai anak jalanan. Ya kayak gini penampilannya." dengus Jevo dengan menambahkan lipstik berwarna hitam di bibirnya.
Kini, giliran Jeno yang tertawa lepas melihat penampilan aneh dari saudara kembarnya. "Elo habis makan arang." tukas Jeno.
"Diam...!! Berisik....!!" bentak Jevo melirik tajam ke arah Jeno.
Jeno masih tertawa dengan memegang perutnya yang terasa kaku. "Sumpah, penampilan elo aneh sekali."
"Terserah." tukas Jevo dengan kesal. Jevo mengambil sesuatu, menggunakannya di daun telinga serta hidung dan bibir.
"Iihh,,,, itu nggak sakit. Masa bibir dan hidung elo kasih anting juga."
"Ini namanya tindik gaul Jeno....!!" geram Jevo, sebab sedari tadi Jeno selalu mengomentari apa yang dia kenakan.
"Nggak sakit?" tanya Jeno lagi.
"Nggaklah, kan ada perekatnya." tukas Jevo.
"Mana,,,,, gue lihat." pinta Jeno.
"Apaan, janganlah. Ada-ada saja. Sudah diam..!!" bentak Jevo merasa kali ini Jeno sangat cerewet.
Jevo juga mengganti pakaiannya. "Gila.... baju robek elo pakai." Jeno memegang jaket yang Jevo kenakan.
"Gaullll....!! Elo bisa diem nggak sih...!!" seru Jevo kehilangan kesabaran.
Tak lupa, Jevo juga merobek celananya sendiri. "Kenapa elo robek. Bagusan tadi." ujar Jeno.
"Shut up." tekan Jevo, menyuruh Jeno diam.
Setelah merubah penampilan wajah serta pakaian yang dia kenakan, Jevo juga merubah bentuk rambutnya. Menjadi berdiri. Jika anak gaul menamakannya dengan mohak.
"Rambut elo." ujar Jevo mengingatkan Jeno, karena rambut Jeno tampak seperti tatanan pemuda. Bukan bapak-bapak.
Jeno segera menatap kaca pantau, menata rambutnya dengan membelah tengah rambutnya. Lalu di sisir dengan sangat klimis.
Jevo juga mengganti sepatu yang sudah dia persiapkan dari markas. "Jangan lupa ganti sepatu elo." ujar Jevo.
"Iya, gue lupa." tukas Jeno.
"Makanya, jangan banyak menertawakan gue. Lupa semuakan." ketus Jevo.
Jevo dan Jeno saling pandang. Keduanya tertawa lepas kembali melihat penampilan masing-masing dari mereka. Sungguh, mereka tampak menjadi orang lain. "Oke,,, diam... Diam... hufft...." Jeno berusaha untuk tidak tertawa lagi. Dan kembali ke mode serius.
"Oke. Slowww.... hufffttttt...." Jevo juga menghela nafas panjang berkali-kali.
"Jennn,,,, elo nggak lupakan obat biusnya?" tanya Jevo. Jeno mengeluarkan sesuatu dari dari saku celananya. "Aman." sahut Jeno.
Segera Jevo kembali menghubungi Gara. Menanyakan posisi Timo. "Bagaimana?" tanya Jeno, setelah Jevo selesai menghubungi Gara.
"Sial, dia tidak melewati jalan ini...!" umpat Jevo.
__ADS_1
"Dia lewat mana?"
"Perempatan warung yang biasanya gue nongkrong." jelas Jevo.
"Jev,,, elo elo sudah mencopot plat motor elo kan?" tanya Jeno memastikan.
"Aman, semua beres." ujar Jevo. Tapi tidak dengan Jeno. Dia mengganti plat mobilnya. Tidak melepaskannya. Sebab dirinya takut Timo akan mengenali mobilnya.
Meski mobil dengan model seperti milik Jeno banyak. Tapi Jeno teringat perkataan Bulan, jika orang psikopat seperti Timo biasanya akan lebih peka terhadap suatu hal. Oleh karenanya, jika ingin menyelidiki Timo, harus merencanakannya dengan sangat detail.
Segera Jevo keluar dari mobil Jeno, menyalakan motornya dan melajukannya ke tempat dimana mereka akan menjalankan rencananya.
Sementara Jeno mengekor di belakang motor Jevo. Beruntung, tempat yang akan mereka tuju tidak terlalu jauh.
Tidak ada sepuluh menit, mereka tiba di tempat yang akan mereka gunakan menjalankan aksi mereka. Jevo menaburkan beberapa paku payung di jalan yang hendak dilewati Timo.
"Elo siap?" tanya Jeno.
Jevo mengangguk sembari mengangkat sempol tangannya ke atas. Menandakan jika dirinya sudah sangat siap.
Jevo dan Jeno berpencar. Keduanya mencari temat masing-masing. Menunggu mobil Timo. "Jevo,,, Jeno,,, mobil Timo sebentar lagi akan melintas." ujar Gara memberitahu keduanya.
"Oke,,, laporan diterima." tukas Jevo.
Jevo menyalakan motornya. Dirinya bersiap melajukan motonya. "Semoga tidak ada kendaraan yang lewat." batin Jevo, sebab sedari tadi suasana tampak sepi.
"Itu dia." Jevo yakin, jika mobil yang melaju ke arahnya dengan kecepatan sedang adalah mobil yang dikemudikan oleh Timo. Dimana mama Rio ada di dalamnya.
Jeno dari tempatnya berdo'a dalam hati, semoga semuanya berjalan dengan lancar. Juga Jevo dalam keadaan baik-baik saja.
Jevo tersenyum smirk dengan melajukan perlahan motornya ke arah Timo. Dirasa tepat waktu, Jevo menambah kecepatannya.
"Ada apa Rio?" tanya mama Rio, dikarenakan mobil yang dia tumpangi oleng.
"Rio....!!" seru mama Rio berpegangan erat di kursi mobil.
Rio membanting stir ke kanan. Lalu tiba-tiba mobil Rio berhenti dengan sendirinya. "Rio,,,, apa yang kamu tabrak?" tanya mama Rio dengan ekspresi cemas.
Brak..... "Hoeyy,,,, keluar...!!" teriak seorang lelaki menggedor kaca mobil Rio. Dan lelaki tersebut adalah Jevo yang menyamar sebagai anak jalanan.
"Berhasil." gumam Jeno dari tempat yang tak jauh dari kejadian. Dimana Jevo berpura-pura tertabrak mobil Rio.
Sampai detik ini, semua berjalan dengan lancar. Sesuai dengan apa yang Jevo dan Jeno harapkan. Dimana Jevo akan berpura-pura menjadi korban yang ditabrak oleh mobil Rio, dikarenakan ban mobil Rio oleng karena terkena paku.
"Rio..." panggil mama Rio dengan nada ketakutan.
"Jangan nak. Lihat, keadaan sepi." cicit mama Rio.
Sementara Jevo berdiri dengan berkacak pinggang di depan mobil Rio. "Sumpah, ini dia saat yang dangat gue nantikan." geram Jevo dalam hati.
"Lama sekali sih. Sedang berdiskusi apa sih mereka." lirih Jevo, melihat keduanya dari kaca mobil bagian depan.
Mama Rio memegang lengan Rio, melarangnya untuk keluar dari mobil. "Ma, Rio harus membuatnya menyingkir. Lihat, dia berdiri di depan mobil kita." tukas Rio, tanpa tahu jika ban mobilnya juga sudah kempes.
"Tapi..."
"Ma.... Rio akan baik-baik saja. Mama jangan khawatir." Rio melepaskan tangan sang mama.
Seringai jahat terbit di bibir Timo, saat dirinya membuka pintu mobil. Dan turun dari mobil. "Siapa tahu, dia bisa gue jadikan mainan gue malam ini." batin Timo.
Jevo tersenyum samar melihat Timo mendekat ke arahnya. "Gue udah tahu. Apa yang ada di dalam otak elo. Brengsek." umpat Jevo dalam hati.
Bugh..... Baru saja Timo mendekat, Jevo langsung memberikan bogem mentah ke wajah Timo.
"Berhasil,,,, rusak nggak wajah palsu elo." batin Jevo dengan senang.
"Rio...!!" teriak sang mama dari dalam mobil, sembari membuka sabuk pengamannya.
Timo memandang kesal ke arah Jevo yang memperlihatkan ekspresi sombongnya sebagai anak jalanan yang tak kenal kata kalah.
"Dimana mata elo hah...!! Kalo elo nggak bisa nyetir, nggak usah nyetir bego...!!! Di rumah saja...!!" teriak Jevo menggebu-gebu.
Kenyataannya, Jevo ingin memancing amarah Timo. Dia masih ingat, jika sangat mudah membuat orang seperti Timo mengeluarkan amarahnya.
"Apa elo lihat-lihat....!! Hah...!!! Mau gue buat buta kedua mata elo...!!" seru Jevo.
"Ayo,,, marah. Tangan gue sudah nggak sabar pengen nonjok muka palsu elo." batin Jevo.
Mama Rio keluar dari mobil. "Stopp..!! Berhenti...!!" seru beliau menghentikan perdebatan keduanya.
Dari tempat lain, Jeno tersenyum senang. "Ini dia. Sebentar lagi giliran gue. Jevo kerjakan tugas elo dengan benar." ujar Jeno.
"Ooohhh,,,,, pantas...!!! Anak mama...!! Haaa... berlindung di ketiak sang mama...!!" seru Jevo, terus menggunakan nada tinggi.
__ADS_1
Jevo menampilkan ekspresi angkuh dan remeh saat menatap Timo. "Apa..!! Minta maaf. Cemen..!! Laki-laki sampah..!!!" teriak Jevo sembari meludah ke samping.
Jevo bisa melihat, kedua rahang Timo mengeras dengan kedua telapak tangannya terkepal sempurna. "Sudah, cukup. Kami minta maaf. Kami juga tidak sengaja menabrak kamu. Tenang saja, saya akan memberikan uang sebagai ganti rugi." jelas mama Timo, takut jika terjadi perkelahian.
"Uang,,, berapa banyak? sepuluh juta, dua puluh juta. Kalau hanya segitu, gue nggak terima." tukas Jevo dengan nada remeh.
Jevo bisa melihat, jika Timo sudah terbakar emosinya. "Memang benar, orang seperti elo mudah sekali diprovokasi." batin Jevo.
"Pak sopir datang." Jeno menjalankan mobilnya, mendekat ke arah mereka.
Segera Jeno keluar dari dalam mobil. Dan mendekat ke arah mereka. "Kenapa kalian memenuhi jalan. Saya mau lewat." ujar Jeno.
"Dia ini,,, dia menabrak saya. Malah mau kabur. Dasar pe-cun-dang." tekan Jevo menatap ke arah Timo, dengan tatapan menantang.
Jeno segera mendekati Timo. "Maaf mas, saya percaya sama mas. Pasti yang salah dia. Lihat saja penampilannya." ujar Jeno.
"Tapi mas, berhadapan dengan orang seperi dia harus berani. Jika dibiarkan, saat kita bertemu lagi, pasti dia akan menginjak-injak kita." lanjut Jeno, mengompori Timo.
"Benar." kata Timo, menatap Jevo dengan sadis, seakan Timo dangat bernafsu menguliti Jevo.
Sedangkan Jevo dengan sikap sombongnya menatap remeh Timo. "Tapi ada mama anda. Pasti dia tidak akan mengizinkan anda memberi pelajaran pada lelaki petakilan ini." ujar Jeno.
Rio palsu menatap ke arah sang mama. Apa yang dikatakan lelaki berkumis tebal di sampingnya memang benar. "Jika mas percaya, biarkan mama mas ikut dengan saya saja. Saya berkerja di rumah orang kaya sebagai sopir." jelas Jeno, juga menyebutkan nama alamat majikannya. Serta nama majikannya.
"Kenapa? mas kenal?" tanya Jeno dengan raut dibuat-buat.
Alamat yang Jeno sebutkan adalah alamat rumah yang ada di sekitar rumah Rio. Hanya berbeda nomor rumahnya saja. "Saya tinggal di nomor 7 pak."
"Wah,,, kebetulan. Mas bisa memberikan lelaki begundal ini pelajaran. Biar maka mas pulang bareng saya. Soalnya saya mau pulang. Baru saja mengantarkan majikan saya ke sebuah acara." jelas Jeno, berharap Timo setuju dengan sarannya.
"Rio,,, ayo kita balik dulu. Biar mama berikan dia uang." ajak sang mama.
"Haa...... haa... Lihat, benar-benar anak mama. Anak manja. Apa-apa mama. Mama minum,,, mama makan." cibir Jeno terlihat sangat menjengkelkan.
"Ma, mama pulang bersama dia saja." pinta Rio. Jevo dan Jeno sejenak saling melempar pandang dan tersenyum samar. "Dia, dia siapa. Mama saja tidak kenal. Ogah." tolak sang mama.
"Ma, Ti... maksudnya Rio kebal dengan dia. Dia sopir tetangga kita." jelas Timo dengan mudah menjelaskannya pada sang mama. Padahal apa yang dia dengar semua sebuah kebohongan yang dikarang Jeno.
Mama Rio menatap intens ke arah Jeno. "Bagaimana Nyonya, Nyonya bersedia. Jika bersedia, silahkan masuk ke mobil saya. Jika tidak, tolong minggir. Saya sedang terburu-buru." ujar Jevo menggunakan logat jawa medok.
"Mama ikut dia saja." pinta Rio.
"Tidak. Mama maunya pulang bersama dengan kamu. Tinggalkan dia. Jangan buat gara-gara...!!" bentak sang mama.
Sementara Jevo menampilkan ekspresi meremehkan Timo sembari tersenyum miring. "Memang beda. Jiwa pemberani dan jiwa rumahan. Meoowww...." cicit Jevo, kembali membuat Timo terbakar emosi.
"Rio...!! Apa yang kamu lakukan...!!" seru mama Rio, saat lelaki yang dia anggap sebagai putranya menarik lengannya mendekat ke mobil Jeno.
"Pak, saya titip mama saya. Antarkan dia ke rumah kami. Terimakasih." cicit Rio.
"Rio,,, mama nggak mau..!!!" teriak mama Rio, yang dipaksa masuk ke dalam mobil oleh Rio palsu.
Jeno tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia segera masuk ke dalam mobil, duduk di kursi pengemudi. "Jalan pak." seru Timo pada Jeno.
"Beres mas...!!" ucap Jeno.
Mama Rio menggedor pintu mobil. "Buka..!! Astaga, kenapa kamu malah membiarkan putra saya berdua dengan lelaki brandal itu. Hentikan mobilnya." seru mama Rio.
Jeno acuh dengan semua hang dikatakan mama Rio. Jeno memastikan jika mobilnya sudah tak terlihat oleh Timo.
Jeno menghentikan mobilnya. Dengan mudah Jeno membalikkan badannya, dengan tangan mengambil sesuatu di kantong saku celana.
"Mau apa kamu?!" tanya mama Rio dengan wajah panik.
"Rio....!!" seru mama Rio, saat Jeno membungkam beliau menggunakan sapu tangan hang telah Jeno berikan obat bius.
"Beres." ujar Jeno, segera membuang sapu tangan tersebut keluar dari mobil.
Jeno melajukan mobilnya dengan tenang menuju ke teman yang sudah diberitahu oleh Jevo. Yakni villa milik Mikel.
Sedangkan Jevo tersenyum sinis menatap Timo yang bersiap menyerangnya. "Jika satu lawan satu secara adil, gue jagonya." batin Jevo.
Dan benar saja, Timo bermaksud menyerang Jevo. Tapi dengan mudah Jevo menangkisnya dan balik menyerang Timo.
Jevo memukul beberapa kali di bagian tubuh Timo dengan kuat. Seakan Jevo memang telah lama menginginkan hal tersebut.
Pukulan-pukulan dari Jevo membuat Timo tersungkur di aspal. "Jika saja waktu gue banyak, pasti gue akan bermain lebih lama dengan elo." sinis Jevo.
"Jika saja Bulan mengizinkan gue membunuh elo. Pasti akan gue lakukan. Tapi apa yang dikatakan Bulan memang benar. Mati adalah hukuman termudah yang elo dapat. Karena elo harus mendapatkan yang lebih dari sekedar mati." batin Jevo.
Segera Jevo menaiki motornya. Menyalakan mesinnya dan segera menyusul Jeno. Membiarkan Timo yang sedang berusaha untuk bangun.
"Aaaa......!! Sial...!!!" teriak Timo melampiaskan amarahnya karana kalah dari Jevo.
__ADS_1
Tak terima dengan kekalahan yang dialaminya. Timo segera masuk ke dalam mobil. Bermaksud mengejar Jeno menggunakan mobilnya.
Sayangnya, mobil Timo tidak bisa berjalan. "Brengsek...!!" teriak Timo frustasi bercampur amarah yang meletup. Karena mendapati ban mobil depannya semua kempes.