
Revan melihat senyum licik terukir di bibir Claudia. Dari sana dirinya bisa menebak, apa yang ada di dalam otak kotor partner ranjangnya tersebut. "Rencana licik apa yang akan elo lakukan?" tanya Revan menatap Claudia penuh selidik.
Claudia tersenyum remeh menatap Revan. "Lelaki pengecut kayak elo, lebih baik diam dan duduk manis. Nikmati dan lihat saja apa yang akan gue lakukan." ejek Claudia dengan tangan berada di depan mulutnya, bergerak dari kiri ke kanan. Seperti sedang menutup resleting tas.
Revan tersenyum kesal. "Oke. Gue akan lihat, sejauh mana rencana ampuh elo akan berjalan." tantang Revan merasa kesal dengan setiap tingkah Claudia.
Revan bukan orang bodoh. Hanya dengan melihat interaksi Bulan dengan beberapa orang, Revan bisa menebak jika Bulan bukan perempuan yang bodoh.
Apalagi Bulan bisa diterima dengan mudah oleh keluarga Jeno. Tentu saja membuat Revan semakin yakin, jika Bulan bukan perempuan yang mudah digertak.
"Hanya beberapa bulan mengajar di sekolah. Dan sekarang tiba-tiba muncul sebagai calon menantu keluarga David. Sangat mengagumkan." batin Revan.
Dimana dirinya belum tahu jika Bulan saat ini bekerja di sebuah instansi pemerintah sebagai kepala kantor. Dan Claudia yang sudah tahu, memang tidak memberitahu Revan. Sebab Claudia merasa tidak penting juga memberitahu Revan.
"Elo lihat saja. Gue pasti akan membuat perempuan itu malu dihadapan banyak orang." tukas Claudia menatap Bulan dengan sorot mata penuh kebencian.
"Perempuan gila. Dia yang terobsesi ingin masuk keluarga Jevo, malah nyasar mencelakai orang lain." batin Revan tidak mengaca pada dirinya sendiri.
Padahal dia juga menargetkan Sapna, hanya karena dia tahu jika Sapna menjalin hubungan dengan Mikel, yang notabennya sahabat baik Jevo.
"Apa elo nggak sebaiknya mendekati Jevo. Lihat, dia dikelilingi banyak perempuan." ujar Revan mengompori Claudia.
Claudia melihat dengan jelas di mana Jevo berada. Sebenarnya Claudia ingin sekali melangkahkan kakinya ke sana. Melabrak para perempuan yang menurutnya kegatelan dan mencari perhatian dari Jevo. Tapi sekarang bukan itu prioritas utama Claudia.
Claudia lebih tertarik untuk menyingkirkan Bulan dengan segera. Dengan begitu dirinya bisa kembali ke rencana awal. Mendekati Jevo, dan masuk ke dalam keluarga Tuan David.
"Jevo,,,, atau Jeno. Keduanya sama. Gue harus mendapatkan salah satu diantara mereka." cicit Claudia setelah melihat penampilan Jeno sekarang. Sebab sedari awal tujuan Claudia hanya ingin masuk keluarga Tuan David. Dan menumpang hidup nyaman, bergelimang harta dan juga mempunyai kekuasaan.
Revan menahan tawa saat mendengar perkataan Claudia yang ingin masuk ke dalam keluarga Tuan David. "Apa elo nggak ngaca. Dulu saja Nyonya Rindi tak menyukai elo. Menolak elo dengan terang-terangan. Bagaimana sekarang? Ups... Maaf, elo nggak punya rumah. Makanya elo nggak punya kaca." ejek Revan dengan santai, tanpa rasa takut.
Sebab saat ini, Claudia hanyalah seekor kambing dengan tali di lehernya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa pada dirinya. Sebab masalah yang menimpa papa Claudia, termasuk papa Revan juga.
"Jika dengan cara baik tidak bisa. Gue akan gunakan cara lain." seringai Claudia dengan berbagai rencana licik di benaknya.
Revan mengambil segelas air yang disodorkan pelayan, menyeruputnya sedikit, dan menaruhnya kembali ke atas meja. "Lakukan. Lakukan apa yang elo mau. Gue akan berdoa, semoga elo sukses kawan." ujar Revan yang sebenarnya menertawakan rencana bodoh Claudia dalam hati.
"Atau malah rasa malu yang akan elo terima." batin Revan tak peduli.
Sesungguhnya Revan sedari tadi juga berpikir, kenapa Mikel datang seorang diri, tanpa mengajak Sapna. Padahal dirinya ingin sekali melihat wajah Sapna. Dan sedikit menggunakan trik licik untuk berdekatan dengan Sapna, dengan tujuan membuat Mikel cemburu.
"Apa Sapna menceritakan kejadian malam itu pada Mikel. Tapi,,, jika Mikel sudah tahu, kenapa dia terlihat begitu santai. Tidak mungkin, Sapna berani menceritakannya." batin Revan menebak.
Revan berpikir, jikapun Sapna sudah menceritakan kejadian malam itu pada Mikel, pasti sekarang Mikel langsung akan menghampirinya dan menghajarnya. Nyatanya Mikel tampak terlihat seperti biasanya.
"Apa gue hubungi Sapna. Gue suruh datang ke sini, sebagai pasangan gue." batin Revan bingung hendak melakukan apa.
"Jangan,,,, belum saatnya. Gue akan membuat Mikel tahu dengan sendirinya dengan cara gue. Sehingga Mikel akan benar-benar merasakan sakit hati yang teramat. Dan elo Jevo, semua karena kesalahan elo." batin Revan dengan yakin, jika rencananya berjalan dengan lancar sesuai apa yang dia inginkan.
Sementara Bulan duduk berdua di sebuah meja kecil di sudut ruangan, hanya berdua dengan Jeno. "Kita kok kayak sedang mojok ya." celetuk Bulan, mendapat kekehan kecil dari Jeno.
Bulan mengatakan kalimat tersebut seraya menatap ke arah Jevo yang sudah bergabung bersama kedua sahabatnya, Arya dan Mikel yang baru saja datang. Yang saat ini ketiganya tengah duduk di kursi dengan beberapa perempuan cantik di sana.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Jeno, meski dirinya tahu apa yang sedang ditatap oleh Bulan.
Bulan mengalihkan pandangannya ke arah Jeno. "Apa kamu juga sama seperti mereka, jika aku tidak ikut?" bukannya menjawab apa yang Jeno tanyakan, Bulan malah balik bertanya.
Jeno memandang saudara kembarnya yang tampak akrab dengan beberapa perempuan sembari menebar senyuman menawannya.
Jeno tersenyum samar. Tahu maksud pertanyaan sang kekasih. Terlintas ide jahil di dalam otak kecilnya. "Benar. Aku biasanya bergabung bersama mereka jika kamu tidak ikut." ujar Jeno menunggu reaksi Bulan.
__ADS_1
"Bergabung dengan mereka. Mana mungkin. Gue lebih baik duduk sendirian di luar." batin Jeno, sebab sebelum ini, Jeno selalu berpenampilan cupu. Meski saat menghadiri acara penting seperti sekarang ini.
Dan ini pertaman kalinya Jeno memutuskan untuk tidak lagi menggunakan kacamatanya, dan berdandan cupu. Dirinya ingin terlihat gagah saat berjalan di samping Bulan.
Bulan hanya mencebik seraya menganggu pelan mendengar apa yang baru saja Jeno katakan. "Memang seperti itulah laki-laki." lirih Bulan memasang wajah masam.
Sungguh, ekspresi wajah Bulan saat ini memang sangat ditunggu oleh Jeno. Dengan sekuat hati, Jeno menahan senyumnya. "Tuhan,,,, my moon cemburu." batin Jeno ingin sekali berteriak dan berjingkrak.
Bulan mengaduk-aduk makanan di piring yang ada di depannya. Selera makannya langsung lenyap seketika. "Kenapa dengan gue? Padahal Jeno berbicara jujur. Apa yang salah coba?" batin Bulan menelisik dirinya sendiri.
"Tapikan saat itu Jeno sendiri. Gue dan dia belum berpacaran. Jadi terserah Jeno. Tapi,,, kenapa gue malah merasakan perasaan kesal." batin Bulan, melirik sinis ke arah Jeno.
Tiba-tiba Jeno menggeser kursinya, merapatkan duduknya dengan sang kekasih. Mengambil tangan Bulan untuk dia genggam telapak tangannya. "Pertanyaan kamu aneh sayang." cicit Jeno, sehingga Bulan kebingungan.
Jeno tertawa pelan melihat cara Bulan berkedip. Tampak lucu dan menggemaskan. "Beruntung banyak orang. Jika hanya berdua, entah apa yang terjadi." tukas Jeno.
Bulan mengerutkan keningnya. Semakin bingung dengan arah pembicaraan Jeno. "Lepas Jeno,,, aku mau makan." pinta Bulan menarik tangannya dadi genggaman Jeno, tapi di tahan oleh Jeno.
"Sabar. Seharusnya kamu tahu, bagaimana penampilan aku sebelumnya. Mana ada perempuan yang mau sama lelaki dengan penampilan culun, cupu, dan terlihat kampungan." cicit Bulan.
"Tapi kamu berasal dari keluarga kaya. Dan aku yakin, bagaimanapun penampilan kamu, para perempuan akan berantri mendapatkan kamu." sahut Bulan mengalihkan pandangan ke arah lain.
Jeno memegang dagu Bulan, kembali mengarahkan pandangan Bulan untuk menatap kepadanya. "Tidak ada. Selain kamu, aku tidak pernah dekat dengan perempuan manapun sebelumnya. Hanya ada mama.... Lalu kamu." jelas Jeno.
"Tadi kamu bilang...." Bulan menggantung perkataannya, melihat senyum Jeno yang terlihat menyimpan maksud tertentu.
"Kamu berbohong, kamu mengerjai aku ya." lanjut Bulan dengan ekspresi yang imut.
Jeno menarik gemas hidung mancung sang kekasih. "Sumpah sayang, hanya kamu. Tidak ada perempuan lain." timpal Jeno.
Bulan sekarang sadar jika dirinya dikerjai oleh Jeno. "Jahat banget sih." rajuk Bulan, yang sebenarnya ingin menyembunyikan rasa malunya.
Bulan memukul pelan lengan Jeno. "Jahil." cicit Bulan.
"Jangan seperti itu. Ini di tempat umum." pinta Jeno dengan wajah memelas.
"Apa coba,,, kamu ada-ada saja." tukas Bulan mengalihkan pandangannya, menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.
"Aku takut kelepasan. Bisa-bisa aku ******* habis bibir seksi kamu di sini." ujar Jeno, langsung mendapatkan pelototan dari Bulan.
"Jangan macam-macam." tegur Bulan.
"Asal kamu selalu di samping aku. Aku tidak akan lepas kendali."
"Jeno,,,, bagaimana aku mau pergi dari kamu. Sedari tadi kamu selalu memegang pinggang aku, atau memegang tangan aku."
"Haruslah. Jika aku membiarkan kamu berjalan sendiri, bisa-bisa diambil orang."
Bulan tertawa lirih. Mencubit gemas pipi Jeno. "Mana ada seperti itu. Ngawur."
"Banyak sayang,,,, lihatlah mata para lelaki itu. Dari tadi memandang kamu dengan mesum."
"Itu hanya pikiran kamu saja."
"Tidak. Pakaian kamu terlalu seksi."
Bulan melongo. "Ingat sayang,,,, cintaku,,, gaun ini bukan aku yang memilih."
"Katakan lagi,,,, ayo,,,, sebut aku menggunakan kata tadi." pinta Jeno merengek seperti anak kecil.
__ADS_1
"Ogah. Jeno sudah, dilihat banyak orang. Malu." tegur Bulan, dimana Jeno biasanya akan bersikap tenang.
Tak jauh dari tempat keduanya, seorang perempuan menahan air mata serta amarah melihat kemesraan mereka. "Jeno,,, sial. Kenapa malah Bulan yang bisa masuk ke dalam hatinya. Lihat,,,, dia saja lebih tua dari Jeno. Dan gue,,, gue lebih cantik dari Bulan. Sebenarnya apa yang sudah Bulan lakukan, hingga membuat Jeno mau menerimanya?!" geram Sella, merasakan dadanya sesak melihat semua yang tersaji di depan matanya.
"Dan kenapa Jeno bisa bersikap seperti itu saat bersama Bulan. Tapi dia selalu acuh dan tidak peduli saat denganku." ujar Sella merasa tidak terima.
Pandangan Sella beralih pada Tuan David dan Nyonya Rindi. "Dan kalian, apa kalian berdua orang tua yang bodoh. Bisa-bisanya mengizinkan dan merestui Jeno berhubungan dengan Bulan." tukas Sella menyalahkan kedua orang tua Jeno.
Sella menggeleng pelan. "Nggak. Nggak bisa. Gue lebih baik dari pada Bulan. Dan seharusnya gue yang mendapatkan Jeno. Bukan Bulan." lirih Sella, menatap ke arah Bulan dengan tatapan kebencian yang teramat.
Tanpa Sella sadari, semua yang dia katakan di dengar oleh seorang lelaki yang berdiri di belakangnya. Dan dia adalah Rio.
Rio hanya diam, mendengarkan semua apa yang Sella katakan. Tanpa ingin bertindak atau mengatakan apapun.
Kelihatannya, Rio bermaksud menunggu apa yang akan dilakukan oleh Sella. Rio bisa menebak, jika Sella hendak melakukan sesuatu pada Bulan.
Rio mengeluarkan ponselnya. Entah siapa yang dia hubungi, tapi yang jelas, Rip tampak sedang menulis sesuatu di layar ponselnya. Lalu mengirimkannya pada seseorang.
Sella mengambil semangkuk sup panas dari meja. Dirinya ingin melangkahkan kakinya ke arah Bulan, tapi terhenti. Sebab Bulan dan Jeno dihampiri oleh beberapa orang. Dan mereka terlihat begitu akrab. "Sial. Siapa mereka, menganggu saja." ketus Sella, merasa rencananya harua di tunda.
Sella kembali duduk, dan menaruh semangkok sup tersebut di atas meja kembali. "Gue nggak boleh kehilangan Jeno. Tidak peduli, bagaimanapun caranya, gue harus menyingkirkan Bulan." lirihnya.
Rio yang mendengar perkataan Sella tersenyum samar. "Dasar anak kecil. Belum tahu dia, siapa yang akan dia lawan." batin Rio memandang remeh Sella.
Di tempat duduknya, Arya melihat Claudia yang tak melepaskan tatapannya pada Bulan. "Sepertinya Claudia menargetkan bu Bulan." tebak Arya.
Mikel mengambil segelas air minum, menggoyangnya dengan pelan, sehingga air didalam gelas bergerak pelan. "Apa dia sudah berpindah haluan?" Mikel memandang Jevo, sembari meneguk sedikit air di dalam gelas tersebut.
"Dan gue ngak peduli." sahut Jevo dengan enteng.
Ketiganya berani mengatakan perihal Claudia, disaat para perempuan yang tadi duduk di sebelah mereka telah pergi. "Bukan itu maksud gue. Tapi...." ujar Mikel.
"Tapi,,, Bulan bukan perempuan yang mudah di tindas." lanjut Jevo, menyela perkataan Mikel.
"Meski begitu, kita harus waspada. Kita tidak tahu, apa yang akan dia lakukan pada bu Bulan." timpal Arya khawatir pada Bulan.
Jevo tertawa pelan. "Kalian berdua kenapa sih. Apa kalian lupa, siapa perempuan yang sekarang duduk di samping Jeno. Apa menurut kalian, sosok seperti dia masih membutuhkan perlindungan kita?" tanya Jevo, sekaligus mengingatkan.
Arya dan Mikel tertawa pelan. Menertawakan kebodohan mereka. "Benar juga. Bukankah selama ini kita selalu di bawah perintahnya. Lantas kenapa kita mesti repot memikirkannya." sahut Mikel.
"Astaga... Sesekali kita tidak salah, jika kita lupa. Sebab dia memang perempuan. Sayangnya, dia perempuan limited edition." tukas Arya.
"Dan jangan sampai apa yang elo ucapkan di dengar oleh Jeno." canda Mikel.
"Bisa digorok leher gue." seloroh Arya tertawa pelan.
"Eehh... Lihat, mau kemana lampir itu?" Arya melihat Claudia berjalan menuju ke arah depan. Dimana di sana ada sebuah panggung kecil.
Jevo tersenyum remeh menatap Claudia. "Kita lihat, apa yang akan dilakukan ****** kecil itu." cicit Jevo.
"Gegabah dan ceroboh, jika dia bertindak sekarang. Apa dia tidak menyelidiki semua tentang Bulan. Tolol sekali." ejek Arya.
"Masalahnya, hatinya sudah tertutup dengan amarah dan rasa iri. Dia yang telah lama berusaha masuk ke keluarga Jevo, sama sekali tidak direspon oleh om David dan tante Rindi. Tapi bu Bulan dengan mudah mencuri perhatian kalian, bisalah kalian pikirkan." ujar Mikel.
"Kasihan sekali yang mengadakan acara. Ckk,,,, acaranya akan dirusak oleh Claudia." kekeh Arya.
Dan benar saja, Claudia naik ke sebuah panggung kecil, dimana panggung tersebut hanya berada di atas dua tangga dari lantai.
Nging....
__ADS_1
Suara mikropon yang diambil Claudia dari gagangnya membuat semua undangan yang hadir menatap ke arahnya.