PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 143


__ADS_3

"Bersihkan badan kamu dulu. Setelah itu beristirahatlah." tutur Jeno, yang ternyata membawa Bulan ke apartemennya.


Bulan menatap dengan kesal ke arah Jeno. Masih berdiri, tak beranjak dari tempatnya. Jika bukan karena ancaman dari Jeno, mana mungkin Bulan bersedia masuk ke dalam apartemen Jeno.


Di area parkir, Jeno hanya mengatakan jik dirinya mampir sebentar ke apartemen. Untuk mengambil sesuatu. Meminta Bulan untuk ikut turun.


Perkataan serta ekspresi Jeno yang sama sekali tidak terlihat bohong, membuat Bulan mengikuti saja apa yang Jeno katakan.


Barulah Bulan merasa jika Jeno sedang menipunya, di saat keduanya sudah berada di lantai paling atas. Bulan yang biasanya akan dengan mudah mengetahui jujur atau tidaknya lawan bicara saat mereka berbicara dan memperlihatkan ekspresinya, entah kenapa tidak berlaku untuk Jeno.


Bulan sama sekali tak bisa membaca ekspresi dari Jeno. Entahlah, atau mungkin karena Bulan sudah terhipnotis terlebih dahulu dengan ketampanan sang kekasih.


Disaat Bulan hendak membalikkan badan untuk meninggalkan apartemen, Jeno mengancam akan membuat keributan. Yang akan menyebabkan semua penghuni apartemen keluar dari kamar mereka.


Bulan hanya mendengus sebal. Tentunya Bulan takut jika Jeno melakukan hal tersebut. Lantaran, sifat Jeno yang memang semaunya sendiri. Ditambah lagi, waktu menunjukkan tengah malam lewat. Dan Bulan tak ingin sampai ada keributan.


Dan bodohnya Bulan, baru menyadari. Jika di lantai paling atas hanya ada dua apartemen. Yakni milik Jevo. Dan satunya lagi milik Jeno.


Namun semua sudah terlambat. Bulan sudah berada di dalam apartemen dan tak mungkin bisa keluar. Tentu saja karena Jeno mengunci pintunya dari dalam. Dan Bulan tak mengetahui nomor pintu dari apartemen Jeno.


Jeno yang baru saja keluar dari kamar mandi tersenyum menatap ke arah sang pujaan hati. Entah apa yang baru saja Jeno lakukan di kamar mandi. Hanya Jeno yang tahu "Kenapa sayang?"


Jeno mendekat ke arah dimana Bulan berdiri mematung. Cup....."Tenang saja. Aku sudah membelikan kamu baju ganti." tutur Jeno, memandang wajah cantik sang kekasih sembari mengecup lembut pipi Bulan.


Meski kini rambut Bulan dipotong seperti lelaki, bahkan sangat berantakan. Sayangnya kecantikan yang Bulan miliki tak berkurang sedikitpun.


Jeno mendekatkan bibirnya ke telinga Bulan. "Calon suamimu ini juga sudah membelikan baju dalam." bisik Jeno.


Spontan wajah Bulan memerah mendengar apa yang diucapkan Jeno di samping telinganya. Malu, itulah yang Bulan rasakan. Tanpa berkata sepatah katapun, Bulan mendorong tubuh Jeno dengan kencang, berlari kecil menuju ke kamar mandi.


Jeno tertawa pelan penuh makna. "Sayang,,,, sakit....!" seru Jeno dengan suara manja, memegang dada.


Brak.... Bulan menutup pintu kamar mandi dengan keras. Terdengar suara tawa Jeno semakin keras saat Bulan sudah berada di dalam. "Bagaimana bisa dia berkata seperti itu." kesal Bulan menahan rasa malunya.


Bulan menghentakkan kedua kakinya di lantai seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Jeno...!! Kenapa kamu seperti itu." cicit Bulan sangat malu.


Bulan membuka kedua telapak tangannya. Pandangannya menatap lurus ke depan. Dan.... "Astaga.....!! Jeno...!!" geram Bulan dengan nada tertahan.


"Siapa yang membelikannya. Jeno sendiri, atau dia menyuruh orang lain."


Bulan menggigit bibir bawahnya melihat sepasang dalaman tergantung di gantungan baju yang ada di dalam kamar mandi. Dengan warna sepadan. Yakni coklat muda.


Di gantungan sampingnya tergantung satu stel baju tidur berbahan kaos berlengan pendek dengan celana pendek, dengan panjang tepat di atas lutut.

__ADS_1


Mempunyai warna yang sama seperti dalaman. Yakni coklat muda bergambar boneka lucu.


Jeno sengaja menaruh pakaian ganti untuk Bulan di dalam kamar mandi, supaya memudahkan Bulan. Karena Jeno tahu, Bulan tak akan mau keluar hanya dengan memakai handuk saja. Dan berganti di kamar ganti yang sebenarnya sudah tersedia di dalam kamar.


"Jeno." Bulan tersenyum malu-malu. Antara senang bercampur malu. Merasa jika Jeno sangat perhatian serta memanjakannya.


Sebagai seorang perempuan, tentunya Bulan merasa tersentuh. Terlepas Jeno membeli sendiri atau menyuruh orang lain. Tetap saja hati perempuan akan berbunga-bunga mendapat perhatian seperti ini.


Bulan mendekat ke arah dimana pakaian gantinya digantung. "Bagaimana Jeno bisa tahu ukuran dalaman gue." lirih Bulan mengedipkan kelopak matanya dengan lucu.


Jika pakaian, Bulan berpikir Jeno bisa membelinya karena ada ukuran. Serta Jeno bisa memperkirakan baju tersebut muat atau tidak di badannya.


Tapi bagaimana dengan dalaman. Bulan mengambilnya. "Gila." ujar Bulan, dimana ukuran ********** memang seperti yang Bulan pakai sehari-hari.


Bulan menghela nafas pelan. "Lebih baik gue membersihkan badan saja." tukas Bulan, mulai melucuti pakaian yang dia kenakan.


Tak lagi berpikir tentang pakaian lengkapnya yang telah tersedia. "Gue sangat penasaran. Bagaimana cara dia membeli." cicit Bulan.


Sementara di luar, Jeno memberi kabar pada sang papa lewat pesan tertulis yang dia kirimkan pada beliau. Jika dirinya tidak pulang. Dan menginap di apartemen.


Menunggu Bulan yang keluar dari kamar mandi, Jeno keluar dari kamar. Membuatkan segelas susu coklat hangat untuk Bulan.


Jeno menatap ke arah segelas susu yang telah dia buat dengan bangga. "Sepertinya gue sudah siap menjadi suami siaga." cicitnya, kembali masuk ke dalam kamar dengan segelas susu coklat di tangannya.


Bulan keluar dari kamar mandi, dilihatnya Jeno duduk di tepi ranjang seraya memainkan ponsel. Menyadari kedatangan Bulan, Jeno menyimpan ponselnya.


"Pinjam kantong kresek, atau paper bag kosong." pinta Bulan.


Jeno menepuk ranjang di sampingnya. Menyuruh Bulan duduk di dampingnya. "Tidak perlu. Biarkan saja di sini. Nanti sekalian aku laundry dengan pakaian kotorku yang lain." tukas Jeno.


Jeno memberikan segelas susu coklat hangat yang baru saja dia buatkan. "Aku tidak terbiasa Jeno." tolak Bulan dengan lembut. Berkata jujur, karena Bulan memang tidak terbiasa minum susu sebelum tidur.


Jeno mengalihkan pandangannya dengan menundukkan kepala dan wajah sendunya. Bulan menghela nafas panjang. Mengambil gelas berisi susu di tangan Jeno lalu meminumnya hingga tandas.


Jeno langsung tersenyum sempurna. Cup... Jeno mencuri ciuman sekilas di bibir Bulan. "Jeno." geram Bulan.


Dengan menggenggam gelas menggunakan kedua tangannya, Bulan menunduk, menatap ke bawah. "Apa kamu sendiri yang membeli pakaian ini?" tanya Bulan lirih.


Jeno memeluk tubuh Bulan dari samping. "Mana mungkin aku menyuruh orang lain. Bisa-bisa dia tahu lekuk tubuh calon istriku. Hanya dengan melihat ukurannya." tukas Jeno sembari menggoda Bulan.


Bulan hanya mengangguk pelan. Jeno melepaskan pelukannya. Keadaan hening sejenak. Membuat Bulan menoleh ke samping, dimana Jeno duduk di dekatnya.


"Kenapa? Pasti karena sekarang aku jelek." papar Bulan, karena Jeno terus memandanginya dengan lamat.

__ADS_1


Bukannya menyahuti apa yang Bulan katakan, Jeno menarik lengan Bulan dan langsung mendaratkan bibirnya di bibir seksi milik Bulan.


Bulan menahan nafasnya, memegang gelas dengan erat. Tapi Jeno masih menempelkan bibirnya. Dan berkali-kali mengecapnya. Seakan dia sedang mengecap sesuatu yang manis.


Bulan memejamkan kedua matanya, saat Jeno memperdalam ciumannya. Tangan Jeno mengambil alih gelas di tangan Bulan, meletakkannya di lantai tanpa melepaskan ciumannya.


Perlahan, Jeno membawa Bulan untuk berbaring di atas ranjang. Menikmati ciuman mereka. Bulan sedikit mendorong tubuh Jeno, yang entah bagaimana caranya, dan sejak kapan sudah berada di atas tubuh Bulan. Mengurung tubuh Bulan di bawah kungkungan tubuh kekar miliknya.


Ciuman keduanya terlepas. Tangan Jeno terulur mengusap bibir Bulan yang basah karena saliva mereka, membersihkannya dengan lembut.


Jeno tersenyum manis. Menjawil gemas hidung mancung milik Bulan. "Tenang saja. Aku tidak mungkin melakukan hal yang membuat kamu marah. Dan malah meninggalkan aku." ujar Jeno dengan nada rendah.


Masih di atas tubuh Bulan, Jeno menelungkupkan kepalanya di leher Bulan. Mengendus wangi tubuh sang pujaan hati. "Segeralah tidur. Bukankah besok hari pertama kamu melaksanakan ujian kenaikan kelas." ujar Bulan mengingatkan.


Jeno mengubah posisi tidurnya, berada di samping Bulan. Dengan posisi menyamping, diletakkan tangannya di atas perut Bulan. Menatap wajah cantik sang kekasih dari samping.


"Ingat. Kamu punya janji yang harus kamu tepati." timpal Jeno.


Bulan tersenyum, memutar sedikit kepalanya supaya bisa menatap wajah tampan Jeno. "Itupun, jika syarat dari aku bisa kamu penuhi. Jika tidak, jangan harap." tutur Bulan.


Jeno mengeratkan pelukannya. Menaruh kepalanya di samping kepala Bulan. Bahkan, hembusan nafas Jeno, sangat terasa di pipi Bulan. Tangan Bulan terulur mengelus lembut rambut Jeno.


"Bersiap saja. Aku pasti akan memenuhi syarat dari kamu." cicit Jeno dengan yakin.


Keadaan hening beberapa saat, perlahan Jeno mulai memejamkan kedua matanya. Tapi tidak dengan Bulan yang masih terjaga. Menatap ke langit-langit kamar.


"Apa kamu tidak malu. Rambut aku sekarang jelek." celetuk Bulan, disaat Jeno sudah memejamkan kedua matanya.


Kedua mata Jeno kembali terbuka karena perkataan Bulan. "Kenapa kamu memusingkan hal yang tidak penting. Bukankah aku sudah mengatakan. Aku akan menerima kamu, bagaimanapun penampilan kamu."


"Tapi rambut aku..."


Cup... Jeno mengecup singkat bibir Bulan. "Tidak masalah." Jeno menjadikan sikunya sebagai tumpuan kepala. Supaya dia bisa leluasa menatap wajah cantik sang kekasih.


"Aku tidak peduli. Tidak perlu kamu pikirkan." tukas Jeno. Kembali membaringkan badannya dan memeluk Bulan dari samping seperti semula.


Tanpa Jeno sadari, perkataannya sama sekali tidak mengurangi resah yang Bulan rasakan. "Bagaimana jika aku memakai wih saja?" tanya Bulan meminta saran.


Tentu saja memakai rambut palsu menjadi pilihan Bulan. Sebab dirinya merasa tidak percaya diri saat berjalan bersama Jeno yang terlihat begitu tampan.


Kenyataannya, kecantikan Bulan sama sekali tidak terpengaruh hanya karena potongan rambut yang Bulan miliki.


"Terserah. Yang terpenting kamu nyaman. Aku tidak mempermasalahkannya." ujar Jeno dengan mata yang sudah terpejam.

__ADS_1


Lambat laun, keduanya masuk ke dunia mimpi. Dua insan berbeda jenis kelamin tersebut saling berpelukan dalam tidur. Tampak terlelap dan terlihat nyaman dengan posisi mereka.


Melupakan sejenak hiruk pikuk dan masalah yang setiap hari mereka hadapi.


__ADS_2