
Istri pak Darto menyadarkan punggungnya ke kursi. Dengan wajah menengadah ke atas, dan kedua mata tertutup.
Beberapa kali beliau menghembuskan nafas kasar. Seakan sesuatu yang berat sedang berada di atas kedua pundaknya. "Papa... Kenapa papa memilih jalan ini?" lirihnya, menyesali perbuatan suaminya.
Dipijatnya keningnya yang seketika berdenyut, membuat kepalanya terasa pusing dengan apa yang dilakukan sang suami.
"Benar. Aku harus mengamankan asetku. Jangan sampai jika terjadi sesuatu dengan suamiku, aku dan Sella akan terseret. Tidak bisa. Kami tidak bersalah. Kami tidak tahu apapun." gumamnya.
Segera beliau mencari semua berkas atau apapun yang bisa membuatnya dan sang putri tidak terseret dengan tindak kejahatan yang dilakukan sang suami.
Untuk langkah awal, tentu saja dia menghubungi pengacara keluarganya. Memberi tahu apa yang baru saja dia terima di dalam emailnya.
Sang pengacara juga sempat tertegun sesaat. Hanya saja, dia menyadari betapa serius kejahatan yang sedang dilakukan oleh suami dari kliennya tersebut. "Apa yang ingin anda lakukan Nyonya?"
"Jangan sampai negara menyita seluruh aset kekayaanku. Sumpah demi Tuhan. Aku sama sekali tidak mengetahui perbuatan Darto." tukasnya menyakinkan sang pengacara.
"Siapapun dia yang mengirimi anda email. Dia ingin anda mempersiapkan semuanya dengan baik. Sebelum kasus ini dia sebarkan." tebak sang pengacara dengan cermat.
"Itu juga yang ada dalam benakku." sahut istri Pak Darto.
Sebab, hingga sekarang sama sekali belum berhembus kabar terkait kejahatan yang dilakukan sang suami dengan rekan-rekannya. "Maaf Nyonya, apa tidak ada niat dari Nyonya untuk menolong Tuan?" tanya sang pengacara dengan hati-hati.
Istri dari pak Darto tersenyum sinis. "Apa yang harus ditolong? Apa yang harus dibela? Bagian mana?" Katakan...?!" Membunuh nyawa banyak orang yang tak bersalah. Mencuri uang negara. Atau pekerjaan ilegal lainnya yang dia lakukan. Jawab...?" cecar istri pak Darto dengan pertanyaan berentet.
Sang pengacara hanya diam mengangguk paham. Sebab yang dia baca dari semua berkas tersebut, kejahatan yang dilakukan pak Darto memang bukan kejahatan ringan. Tidak ada jalan yang bisa dia lakukan untuk menyelematkan beliau dari jerat hukum.
"Astaga.....! Bahkan aku dengan suka rela memberikan dia salah satu perusahaan keluargaku untuk dia kelola. Tapi dia terlalu menjunjung tinggi egonya. Menolaknya, dan memilih jalan seperti ini. Sekarang aku bertanya, memang salah jika aku berasal dari keluarga punya. Sementara dia berasal dari keluarga biasa."
"Terkadang lelaki memang ingin terlihat lebih hebat dari perempuan dari sisi manapun Nyonya."
"Hebat.... Hebat dengan cara seperti ini." sinis istri pak Darto.
Keduanya berunding, memikirkan cara supaya dia dan putrinya tidak terseret kejahatan yang dilakukan kepala rumah tangga mereka.
"Jangan-jangan, Irawan dang putrinya,,,, mereka yang menculik. Pantas saja, papa bersikeras mengusir mereka. Jika benar, papa juga melakukan penculikan. Maka,,,,,,, " batinnya menebak.
Di dua tempat berbeda. Tuan Zain dan Tuan Tene sama-sama membulatkan kedua matanya melihat apa yang ada di layar laptop mereka, setelah keduanya membuka email yang dikirim oleh seseorang yang misterius.
"Darto... Beraninya dia membohongiku...!!" geram Tuan Tene. Merasa jika pak Darto mengkhianatinya. Menyembunyikan sandera yang sedang mereka cari keberadaannya.
"Darto.... Apa yang kamu rencanakan. Apa kamu akan mengkhianati kita." geram Tuan Zain, mengetahui fakta jika Nyonya Irawan dan Sapna berada di rumah Darto.
Kemarahan Tuan Tene dan Tuan Zain adalah bukti keberhasilan rencana Bulan untuk mengadu domba mereka. Dan memang inilah yang Bulan inginkan.
Mereka akan bertengkar. Dan Bulan akan menyerang dengan tenang. Dengan begitu, tak akan ada perlawanan. Ditambah lagi, hubungan Sapna dan Mikel yang terkuak ke publik. Pastinya akan semakin membuat mereka menyalahkan satu sama lain.
Dengan amarah yang sudah di ubun-ubun, keduanya meninggalkan ruang kerja masing-masing di perusahaan mereka yang berbeda tempat.
Meski berbeda pikiran, berbeda manusia, dan berbeda tempat. Tapi kini tujuan mereka hanya satu. Meluapkan amarahnya pada orang yang sama. Darto.
Keduanya melesatkan mobil, mengendarainya menuju ke tempat Darto bekerja. Seakan keduanya lupa, jika Darto bekerja di instansi pemerintah. Yang dimana keduanya tidak akan bisa membuat kegaduhan di sana dengan seenak hati.
Tanpa Pak Darto tahu, dirinya kini sedang dalam bahaya. Ketiganya telah masuk ke dalam permainan yang diciptakan oleh Bulan.
Pak Darto yang berada di ruangannya, menatap seorang lelaki di hadapannya dengan tajam. "Mikel. Kamu yakin, jika dia adalah Mikel?" tanya pak Darto pada bawahannya yang dia suruh mengawasi rumah.
Setelah dua orang tangan kanannya di ambil oleh secara paksa untuk mengawasi kakek Timo, mau tak mau pak Darto memilih seseorang lagi untuk dia jadikan tangan kanannya.
Melakukan apa yang dia inginkan. Tentunya dengan memberikan dia uang tutup mulut setelah menjalankan tugas yang dia berikan.
"Benar Tuan. Dia Mikel. Salah satu putra pengusaha terkenal dan sukses di kota ini." ucapnya dengan yakin. Jika dirinya tidak salah mengenali orang.
__ADS_1
"Sial...! Bedebah...!!! Bagaimana bisa semua ini terjadi." geram pak Darto dengan menekan nada suaranya.
Dirinya sadar, dengan Sapna menjalin hubungan dengan Mikel, maka baik dia ataupun rekannya yang lain tidak akan bisa menyentuh Sapna.
"Semua artikel di media bahkan sudah merilis hubungan mereka." ujar sang bawahan.
Segera Pak Darto membuka ponselnya. Dan benar saja. Semua berita dipenuhi dengan foto-foto Mikel dak Sapna. "Berita sampah...!?" geramnya, menggenggam erat ponsel di tangannya.
Jika mereka berani dan nekat mencari masalah dengan anak dan istri dari pak Bimo, maka mereka akan mempunyai dua masalah sekaligus. Media dan keluarga Mikel. Itulah yang ada di dalam benak pak Darto.
Pak Darto mengeluarkan ponsel. Menghubungi nomor telepon rumah. Menanyakan keberadaan Nyonya Irawan dan Sapna pada sang pembantu yang mengangkat panggilan teleponnya.
Rahang pak Darto mengeras mendengar apa yang disampaikan sang pembantu. Tanpa mengatakan atau bertanya lagi, pak Darto mengakhiri sambungan teleponnya.
"Sapna pergi. Pasti dia pergi dengan Mikel. Lalu Irawan juga pergi dari rumah. Kemana dia perginya? Bersama siapa? Bodoh mereka. Kenapa hanya fokus pada Sapna. Dan melupakan jika masih ada Irawan di dalam rumah." batin Pak Darto merasa kesal dengan keempat orang yang ditaruhnya untuk mengawasi rumahnya.
"Keluar. Jangan ada yang boleh masuk ke ruanganku tanpa izin dariku." tukas pak Darto, merasa pusing memikirkan Nyonya Irawan dan Sapna.
"Tapi setidaknya, aku bisa bernafas lega. Mereka berdua tidak lagi tinggal di rumahku." batinnya, tanpa tahu jika semua sudah diatur dengan baik oleh Bulan.
"Baik Tuan." ucap sang bawahan, sedikit membungkukkan badan untuk pamit undur diri.
Dia membalikkan badannya. Berjalan menuju luar. Menutup pintu dengan pelan setelah sampai di luar ruangan. Ekspresi wajahnya juga sedikit berubah. Ada senyum miring yang bisa dilihat dengan seksama. Seolah apa yang dia inginkan akan terjadi.
"Hanya menunggu Tene dan Zain. Pasti mereka akan datang ke sini." batinnya menatap ke arah pintu utama.
Belum sempat dia duduk di kursi yang biasanya dia pakai setiap hari, dua orang yang baru saja dia sebutkan namanya dalam hati datang dengan ekspresi yang sama.
"Wih... Gue harus mengabadikan apa yang terjadi. Dan mengirimnya ke seseorang. Pasti dia akan menyukainya." batinnya seperti mendapatkan undian berhadiah.
Segera dia berdiri. Berpura-pura menghalangi langkah Tuan Tene dan Tuan Zain untuk tidak masuk ke dalam ruangan pak Darto.
"Minggir...!!" seru Tuan Tene, membuat semua orang yang bekerja di tempat itu berdiri dan bersiaga, jika saja keduanya membuat onar di tempat ini.
Tuan Zain mendorong tubuh bawahan tersebut hingga membentur tembok. Dan keduanya masuk ke dalam ruangan pak Darto setelah membuka pintu dengan kasar.
"Maaf Tuan,,, mereka memaksa masuk. Apa perlu kami tahan?" tanya seorang bawahan Pak Darto lainnya.
Pak Darto menggerakkan tangannya. Menyuruhnya bawahannya untuk keluar dari ruangannya. "Jaga sikap kalian. Jangan lupa, dimana kalian sekarang ini." geram pak Darto yang merasa kesal dengan tingkah kedua rekannya tersebut.
"Silahkan duduk." pinta pak Darto, begitu juga dirinya yang beranjak dari kursi kebesarannya untuk beralih tempat duduk.
Tuan Zain dan Tuan Tene saling pandang sejenak. Emosi keduanya sedikit meredam. Mengingat dimana mereka berada. Tentu saja keduanya tidak ingin menambah masalah baru dalam hidup mereka.
"Kenapa kamu menyembunyikan mereka berdua?" tanya Tuan Tene secara langsung begitu pantatnya mendarat di kursi.
"Kamu ingin mengikuti jejak Bimo, dan berkhianat dari kita." tuduh Tuan Zain.
Pak Darto menatap bingung ke arah keduanya. Datang-datang mengajukan pertanyaan serta kalimat yang menurut Pak Darto sangatlah aneh. "Apa yang kalian katakan?" pak Darto balik bertanya, karena dirinya merasa kebingungan.
Tuan Zain tersenyum sinis. "Irawan dan Sapna. Anak dan istri Bimo."
Ekspresi wajah Pak Darto seketika berubah pias. Terkejut. Tentu saja. "Apa maksud kalian?" tanya pak Darto berusaha tenang.
Brak.... Tuan Tene menggebrak meja di depannya. Beruntung meja yang terbuat dari kaca itu tidak pecah. "Jangan memainkan sandiwara di depan kami Darto...!" geramnya, menatap pak Darto bagaikan melihat mangsa yang ingin dia lahap saat itu juga.
"Baiklah. Aku akan menceritakan semuanya. Saya sendiri juga tidak tahu bagaimana keduanya datang ke rumah saya. Tiba-tiba mereka berdua mendatangi rumah saya di malam itu. Hanya itu yang saya tahu. Tidak lebih." jelas pak Darto.
"Dan kamu menyembunyikannya dari kami." tuduh Tuan Zain, menuduh pak Darto mempunyai maksud tersendiri.
"Bia jadi, kamu orang di balik penyerangan malam itu." tuduh Tuan Tene menyudutkan pak Darto.
__ADS_1
"Jangan gila...!! Jangan menuduh sembarang tanpa bukti...!" seru pak Darto tidak terima dengan kedua rekannya yang menuduhnya.
"Bukti...!! Keberadaan mereka berdua di rumah kamu. Apa itu tidak cukup...!!" seru Tuan Zain tidak kalah.
"Ingat Darto. Kami bisa melenyapkan seluruh keluarga kamu. Jika kamu bertingkah." ancam Tuan Zain.
"Jangan pernah mengancamku." gertak pak Darto.
"Ini bukan ancaman. Tapi peringatan pada seorang pengkhianat." tegas Tuan Tene.
"Dari pada kalian sibuk menuduhku, lebih baik kalian memikirkan apa yang sekarang tejadi. Kalian tahu, Sapna mempunyai hubungan dengan Mikel." ujar Pak Darto memberitahu keduanya. Berharap rasa curiga yang ditujukan padanya berkurang.
Tuan Tene dan Tuan Zain saling pandang dan terdiam sejenak. "Jika Sapna masih berada di dalam rumah itu. Tidak mungkin ada berita ini." tekan Tuan Zain.
"Mata dan telinga kami akan selalu mengawasi gerak kamu. Jadi, bertindaklah sesuai keinginan kami. Ingat, keluarga kamu taruhannya." seringai Tuan Zain yang tidak lagi menaruh rasa percaya pada pak Darto. Begitu juga dengan Tuan Tene.
Tuan Zain dan Tuan Tene berdiri meninggalkan ruangan pak Darto tanpa berpamitan. "Kenapa semuanya jadi seperti ini." geramnya, meraup wajahnya dengan kasar.
Pandangan Pak Bimo mengarah ke sudut ruangan. Segera dia memanggil bawahannya yang dia jadikan tangan kanannya. Menyuruhnya untuk menghapus rekaman CCTV yang memperlihatkan kedatangan kedua rekannya.
"Baik Tuan." ucap sang bawahan.
"Jangan sampai rekaman tersebut akan menjadi bumerang untuk kita dikemudian hari." batin pak Darto, apalagi sekarang dirinya berada dalam masalah.
Di dalam ruangan yang memperlihatkan dan mengendalikan semua kamera CCTV, seorang lelaki tersenyum berhadapan dengan banyak layar yang menampilkan banyak sudut ruangan di tempat ini.
"Tenang saja Tuan Darto, saya akan menghapus semuanya untuk anda. Tapi sebelum itu, saya akan menyalinnya dulu. Lalu mengirimkannya pada seseorang. Baru saya akan menghapusnya." ucapnya mulai melakukan apa yang dia katakan.
Tuan Tene dan Tuan Zain tak langsung kembali ke perusahaan mereka. Keduanya pergi ke tempat dimana biasanya mereka bertemu untuk membicarakan hal yang penting dan privasi.
"Darto... Jangan sampai kita terperdaya olehnya. Kita harus berhati-hati. Dia lebih licik dari pada Bimo." tukas Tuan Tene.
"Benar. Suruh beberapa orang untuk mengawasi setiap gerak Darto. Jangan sampai kita kecolongan." timpal Tuan Zain.
"Apa perlu kita melenyapkan Darto. Kelihatannya dia mulai menginginkan sesuatu yang kita tidak tahu." saran Tuan Tene.
"Jangan dulu. Kita tunggu sebentar lagi." cegah Tuan Zain.
Tanpa mereka ketahui, sebentar lagi keduanya akan mendapat maslaah besar karena perbuatan yang selama bertahun-tahun mereka lakukan.
"Bagaimana kita bisa tidak tahu. Jika Sapna memiliki hubungan dengan Mikel. Bukankah sedikit aneh. Atau semua ini hanya sebuah rencana dari seseorang." ujar Tuan Zain, merasa curiga akan sesuatu.
"Entahlah. Tapi benar juga. Kita menyekap mereka selama berminggu-minggu. Tapi kita tidak merasakan pergerakan Mikel. Bukankah seharusnya Mikel mencari Sapna." tukas Tuan Tene.
"Ponsel Sapna. Bagaimana dengan benda itu?"
"Bukankah sudah hilang bersama dengan kartunya." sahut Tuan Tene.
"Aku curiga, ada seseorang yang mengendalikan semuanya di belakang kita. Tapi siapa?" tebak Tuan Zain.
"Jika tebakan kamu benar. Dia begitu hebat. Dan kita harus berhati-hati dalam setiap langkah."
Tuan Tene dan Tuan Zain menyuruh bawahannya untuk kembali menyelidiki rumah mewah yang sempat dijadikan tempat penyekapan Nyonya Irawan dan Sapna.
Meski beberapa waktu yang lalu, bawahan mereka sudah melakukannya. Dan tidak mendapatkan hasil apapun. Tapi kini, mereka melakukannya lagi. Dan para bawahan hanya bisa melakukan apa yang diperintahkan atasan mereka.
"Ckk,,, mau berapa kali kita akan menyelidiki tempat ini. Tetap saja tidak ada yang bisa kita temukan. Bahkan jika kita memutari rumah ini hingga seribu kali." keluh salah satu bawahan yang diperintahkan menyelidiki kembali rumah tersebut.
"Sudah lakukan saja. Jangan banyak mengeluh. Apa kamu ingin menyusul mereka." timpal yang lain, menatap ke arah damping rumah.
Dimana beberapa waktu yang lalu dirinya dan juga yang lainnya menggali lubang besar dan dalam. Untuk mengubur masal rekan mereka yang meninggal di rumah tersebut.
__ADS_1
"Benar. Meski kita hanya berpura-pura. Tapi setidaknya nyawa kita masih selamat." timpal yang lain, seolah dirinya sedang mencari sesuatu di bawah. Padahal dia hanya memainkan peran untuk menyelematkan nyawa.