PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 125


__ADS_3

"Diam,,, ini aku sayang." bisik Jeno, menarik lengan Bulan. Padahal Bulan sudah bisa menebak siapa yang menarik lengannya. Tentu saja dari wangi parfum yang Jeno kenakan.


Jeno sengaja segera keluar dari kelas setelah jam pelajaran pertama selesai. Sungguh, kepalanya sama sekali tak fokus dengan pelajaran yang di sampaikan sang guru. Hanya ada wajah Bulan memenuhi otak kecilnya.


"Lepas." pinta Bulan sembari menarik tangannya dari cekalan Jeno.


"Sakit." lirih Bulan dengan wajah kesal.


"Maaf." ucap Jeno dengan lembut, Jeno tidak melepaskan cekalan tangannya di lengan Bulan. Hanya mengendurkan saja. Tentunya dia tidak ingin Bulan pergi darinya.


Jeno mengelus lengan Bulan, dan kembali memegangnya. "Kamu marah?" tanya Jeno langsung.


Bulan menautkan kedua alisnya mendapat pertanyaaan seperti itu dari Jeno. "Sumpah, aku dan Sella tidak memiliki hubungan apa-apa. Tadi, tiba-tiba Sella memeluk tubuhku. Sumpah, aku sendiri tidak tahu kenapa." jelas Jeno.


Entah kenapa, mendengar apa yang Jeno katakan membuat perasaan Bulan membaik. Bulan bisa membaca ekspresi wajah Jeno. Tak ada kebohongan yang tersirat.


"Untuk apa kamu menjelaskannya. Nggak penting." tukas Bulan. Seolah hal tersebut bukanlah sesuatu yang penting untuk dia ketahui.


"Minggir, aku mau ke ruang guru. Lagi pula, bukankah masih ada jam pelajaran. Ngapain keluyuran di sini." cicit Bulan.


Jeno menatap Bulan dengan intens. Membuat Bulan merasa aneh. "Ada apa?" tanya Bulan.


"Jauhi pak Hendri. Dia bukan lelaki baik." pinta Jeno dengan tegas.


Ingin rasanya Bulan menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Namun dia menahannya. Tak ingin Jeno sampai melihat jika dirinya merasa bahagia. "Kita sama-sama guru di sekolah ini. Kita selalu bertemu. Bagaimana aku bisa menjauhi dia. Jangan aneh-aneh kamu." tukas Bulan.


"Apa Jeno cemburu ya?" tanya Bulan menebak dalam hati.


"Terserah. Tapi aku tidak mau kamu dekat dengan dia. Hendri itu lelaki play boy." tukas Jeno.


"Pak. Panggil yang sopan. Dia guru kamu."


"Bodo. Dia memang guru. Tapi, jika dia berani mendekati kamu, dia akan jadi musuh aku." tegas Jeno.


"Kenapa malah Jeno yang marah. Bukannya dia tadi minta maaf." batin Bulan merasa semua menjadi aneh.


"Jeno, lepas. Ada yang datang." pinta Bulan, mendengar kasak-kusuk dari beberapa orang.


"Nanti malam kita bertemu." pinta Jeno, sebagai syarat.


Bulan menatap Jeno dengan jengah. "Oke. Lepas." tutur Bulan terpaksa menyetujui apa yang Jeno pinta. Dari pada ada orang yang melihat kebersamaan mereka berdua.


Cup,,,, "Lope youuu." bisiknya setelah mencium singkat pipi Bulan. Jeno segera berlari meninggalkan Bulan.


Dirinya tak masalah jika semua orang mengetahui hubungannya dengan Bulan. Tak apa jika semua orang tahu, jika dirinya mencintai perempuan bernama Bulan. Yang diketahui sebagai salah satu guru di sekolahnya.


Yang mana hal tersebut malah semakin baik. Dengan semua orang tahu hubungannya dengan Bulan. Maka tak akan lagi ada lelaki yang mendekati Bulan.


Dan yang paling penting, Jeno tak harus sembunyi-sembunyi untuk bertemu dengan Bulan. Tak perlu takut jika dilihat oleh orang lain.


Hanya saja, dirinya tidak ingin Bulan akan terkena imbasnya. Apalagi Bulan masih mengajar di sekolah ini. Jeno juga tidak hanya memikirkan keinginannya sendiri. Dia juga harus bertanya pada Bulan, jika ingin mengungkapkan semuanya.


Bulan merapikan penampilannya. Kembali melangkahkan kakinya untuk pergi ke ruang guru. "Bulan...!!" panggil seseorang dengan suara yang sangat familiar di telinga Bulan.


"Mamanya Jeno." lirih Bulan menebak, sebelum dia membalikkan badan.


Bulan membalikkan badan lalu tersenyum. "Tante." sahut Bulan. Lalu mencium punggung telapak tangan Nyonya Rindi.


Nyonya Rindi berjalan bersama pak Prapto, kepala sekolah dimana Bulan mengajar. Bulan tersenyum sembari sedikit mengangguk memandang kepala sekolah yang berdiri di samping Nyonya Rindi.


"Tante sendiri?" tanya Bulan dengan sopan.


"Iya, suami tante sedang ada pekerjaan penting."


Bulan hanya mengangguk paham. "Maaf tante, Bulan harus pergi ke ruang guru. Mau mengambil buku." jelas Bulan, dimana dirinya masih ada jam mengajar setelah ini.


"Silahkan. Tante juga ada perlu sama pak Prapto." sahut Nyonya Rindi.


Bulan segera pergi ke ruang guru setelah berpamitan pada Nyonya Rindi dan pak Prapto. Sementara Nyonya Rindi pergi bersama pak Prapto menuju ruang kepala sekolah.

__ADS_1


"Gara-gara Jeno gue jadi telat." oceh Bulan lirih, karena terlambat masuk kelas untuk mengajar.


Beberapa jam berlalu. Bulan selesai mengajar, dan Jeno juga selesai belajar. Jam istirahat berbunyi. Semua murid berhamburan keluar dari kelas. Menuju tempat yang mereka inginkan.


Juga dengan Nyonya Rindi yang telah menyelesaikan kepentingannya dengan pak Prapto. Beliau berjalan menuju area parkir seorang diri.


Sebenarnya pak Prapto ingin mengantar Nyonya Rindi hingga area parkir. Namun beliau menolak. Beliau beralasan ingin bertemu dengan kedua putra kembarnya.


Kedua mata Nyonya Rindi menatap ke beberapa arah. Seperti hendak mencari sesuatu. "Tante...!" panggil Sella menghampiri Nyonya Rindi.


Sella segera bersalaman, mencium punggung telapak tangan Nyonya Rindi. Tentu saja dirinya ingin dinilai sebagai pribadi yang baik oleh mama dari Jeno.


Dari arah lain, Jevo melihat sang mama sedang berbincang dengan Sella. "Tuh uler nempel terus. Nggak tahu apa, bulunya bisa membuat orang gatal." cetus Mikel yang berdiri di samping Jevo.


"Diakan nggak punya muka. Makanya cari muka." sahut Arya.


Ketiganya tak segera menghampiri Nyonya Rindi dan Sella. Apalagi mereka melihat ada seseorang lagi yang mendekat ke tempat mereka berdua. "Alaaahhh,,,, lihat Jev, pacar elo ikut nimbrung tuh." celetuk Arya melihat Claudia.


"Dua perempuan pilihan. Satu Jevo, satu Jeno." ledek Mikel terkekeh pelan.


Jevo menatap tajam ke arah Mikel. "Bercanda broww,,, bukannya elo dan lampir itu masih berhubungan?" tanya Mikel sekaligus menebak.


"Menurut elo, gue mau punya pacar kayak Claudia." ketus Jevo.


"Lah,,, terus selama ini kalian ngapain?" tanya Mikel merasa Jevo agak nyleneh.


"Cuma main-main saja. Dari pada nggak ada gang gue suruh-suruh." ujar Jevo tersenyum miring.


"Suruh apaan. Suruh membelai belelai panjang milik elo." tebak Arya dengan suara lantang.


Jevo segera membungkam mulut Arya dengan telapak tangannya. "Mulut elo...!" geram Jevo.


Arya segera menyingkirkan tangan Jevo. "Sialan, elo baru pegang apa?" tanya Arya dengan sinis, sembari mengusap hidungnya dengan ekspresi jijik.


Jevo tersenyum jahil. Membisikkan sesuatu di telinga Arya. "Jevo...!!! Jorok banget sih elo...!!" seru Arya dengan kedua mata melotot dan menjauh dari Jevo. Entah apa yang Jevo bisikkan pada Arya.


Sementara Jevo tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Arya yang terus mengelap hidungnya hingga memerah. Dan Mikel, dia hanya menggeleng melihat mereka berdua.


"Jevo,,, jahil sekali dia." tukas Nyonya Rindi, bisa menebak hanya dengan melihat tawa puas sang putra dan tingkah Arya yang terlihat jijik.


Tanpa berpamitan atau mengatakan sesuatu pada Sella dan Claudia, Nyonya Rindi meninggalkan keduanya untuk menghampiri Jevo dan dua sahabatnya tersebut.


Sella dan Claudia melongo tak percaya dengan sikap yang mereka terima dari Nyonya Rindi. "Demi apa,,, kita diabaikan begitu saja." tukas Claudia tak percaya.


Sella masih diam. Memandang ke arah Claudia serta Nyonya Rindi yang berjalan menjauhi mereka secara bergantian. "Mungkin dia malas, karena ada elo." celetuk Sella.


Claudia langsung menatap nyalang pada Sella. "Jaga omongan elo. Jangan sampai bokap elo kehilangan posisinya sekarang." ancam Claudia tersenyum penuh makna.


"Kenapa?" tanya Claudia seakan menantang Sella yang menatapnya dengan tatapan tak terima akan perkataan yang Claudia ucapkan.


"Ingat, bokap gue akan dengan mudah membuat bokap elo dipecat dari jabatannya sebagai abdi negara. Mau bukti?" tantang Claudia.


Sella hanya bisa menahan kesal dengan menatap sinis ke arah Claudia yang sedang tersenyum remeh menatap dirinya. "Nggak guna." tukas Sella memilih meninggalkan Claudia seorang diri.


Sella tak lantas pergi begitu saja. Dia menghentikan langkah kakinya, lalu membalikkan badannya. Menatap keakraban Nyonya Rindi bersama Jevo dan kedua sahabatnya.


"Brengsek. Tenyata sulit juga mendekati perempuan tua itu." lirihnya.


Memang jika dilihat dari jauh, Nyonya Rindi dan Sella serta Claudia terlihat sangat akrab. Sebab Nyonya Rindi selalu memasang senyum di bibirnya. Terlihat menerima keduanya dengan tangan terbuka.


Tapi, beliau hanya mengucapkan sepatah dua patah kata, itupun jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan Sella atau Claudia.


Nyonya Rindi tentunya menempatkan diri, dimana mereka sedang berbincang. Sebab tak mungkin, Nyonya Rindi langsung mengungkapkan secara frontal, jika dirinya tidak menyukai Claudia maupun Sella.


Tanpa Jevo dan Arya serta Mikel ketahui, Moza mendengarkan apa hang mereka perbincangkan dari balik pintu yang tertutup setengah.


"Belalai." ucap Moza dalam hati. Menebak apa arti kata belalai yang diucapkan oleh Arya.


Moza menggelengkan kepalanya dengan ekspresi tak biasa. Dia segera meninggalkan tempatnya. Takut jika dirinya sampai ketahuan menguping apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


"Tante... Lihat, Jevo sangat menyebalkan." ujar Arya langsung mengadu pada Nyonya Rindi.


"Kalian ini. Tidak di sekolah, tidak di rumah, selalu saja berantem." ujar Nyonya Rindi mengacak-acak rambut Arya.


"Jeno mana,, sayang?" tanya Nyonya Rindi, tak melihat putranya yang lain.


"Tadi masih di kelas ma." sahut Jevo.


Pandangan Nyonya Rindi menangkap sosok yang sedari tadi dia cari. "Bulan,,, sayang...!!" serunya berlari mengejar Bulan yang berjalan membelakangi mereka.


"Ma.... jangan lari...!!" seru Jevo menggelengkan kepalanya. Heran dengan tingkah sang mama.


"Lihat, belum apa-apa kita sudah diabaikan." tukas Mikel bersedekap dada.


Claudia yang memang masih berada di tempatnya mengerutkan keningnya. "Sayang. Telinga gue nggak salah dengarkan. Tante Rindi memanggil Bulan dengan panggilan sayang." gumamnya tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Kenapa bisa begini? Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Claudia. Merasa jika Nyonya Rindi sangat dekat dengan Bulan.


"Gue harus mencari tahu. Tak mungkin, jika tidak ada apa-apa." lanjutnya, merasa ada yang janggal dengan sikap yang Nyonya Rindi tunjukkan pada Bulan.


"Mama elo Jev,,, lihat, sepertinya lampir mendengar tante manggil bu Bulan dengan panggilan sayang." ujar Mikel menatap ke arah Claudia.


"Ckk,,, mama. Dia akan membuat calon menantunya kesusahan." decak Jevo.


"Jaga pacar elo...! Jangan sampai menyakiti my moon." celetuk Jeno yang tiba-tiba berada di belakang Arya.


"My moon." ujar Jevo, Arya, dan Mikel serempak, mengedipkan kedua matanya dengan lucu.


"Iya. Bulanku." tegas Jeno, sembari melenggang pergi begitu saja.


Pastinya dia akan mengikuti kemana sang mama dan Bulan pergi. Sebab, Jeno melihat sang mama mengejar Bulan dari jendela kelas. Oleh karena itu, dia segera meninggalkan kelas.


Ketiganya tertawa lepas sembari menatap punggung Jeno yang menjauh. "Sumpah, dari tadi pagi, semua bersikap aneh." tukas Mikel masih dengan sisa tawanya..


Bahkan Jevo sampai menitikkan air mata karena tertawa. "Jeno,,, Jeno,,, cowok secuek dia bisa romantis juga." ujar Jevo merasa bahagia.


Benar saja, Bulan dan Nyonya Rindi makan di warung makan sederhana yang ada di depan sekolah. Dan tentu saja Jeno ikut duduk di meja mereka. "Siang dua perempuan cantikku." sapa Jeno lebay.


"Kamu, mengganggu saja." ketus Nyonya Rindi.


Bukannya merasa kesal dengan sikap sang mama, Jeno malah memandang Bulan seraya menggodanya dengan mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


"Jeno." geram Bulan, lalu menatap Nyonya Rindi dengan senyum canggungnya karena ulah Jeno.


Nyonya Rindi menggenggam telapak tangan Bulan. "Tidak apa-apa sayang, tante sama om setuju kok, jika kalian menjalin hubungan." ungkap Nyonya Rindi langsung ke intinya, tanpa basa-basi.


Bulan memandang Nyonya Rindi dengan ekspresi yang sulit diungkapkan. Antara canggung, malu, senang, dan entahlah. Semua perasaan Bulan seakan menjadi satu.


Berbeda dengan Jeno yang lebih antusias. "Jadi mama sama papa sudah tahu. Jika Jeno sangat menyukai Bulan?" tanya Jeno tanpa tedeng aling-aling.


Nyonya Rindi mengangguk. Jeno segera berhambur memeluk sang mama. Bersamaan dengan lepasnya tangan Nyonya Rindi yang menggenggam telapak tangan Bulan.


Bulan menyenderkan punggungnya, dirinya seakan linglung sejenak melihat apa yang terjadi. "Astaga Tuhan..." batin Bulan tak tahu harus mengatakan apa, atau harus melakukan apa.


Isi kepalanya seakan tak bisa berpikir dengan apa yang dia alami sekarang. "Jeno,,, dia dengan mudah mengatakan jika gue kekasihnya. Dan sekarang, mama Jeno dengan enteng mengatakan merestui hubungan kami. Apa-apaan sih." batin Bulan malah merasa kebingungan.


Pasalnya, ini kali pertama Bulan mengalami rasa suka pada lawan jenis. Dan ini pertama kalinya juga Bulan mengalami kejadian seperti sekarang.


Kewaspadaan Bulan kembali muncul, saat dirinya merasa ada yang memperhatikan meja mereka. Bulan memandang kaca yang ada di depan. Lumayan jauh, tapi Bulan bisa melihat siapa yang duduk di belakang mejanya.


"Siapa dia?" batin Bulan, merasa lelaki tersebut seolah sedang menikmati makanan yang dia pesan. Tapi telinganya mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.


"Bulan..." panggil Nyonya Rindi, membuyarkan insting Bulan.


"I,,,i-iya tante." sahut Bulan dengan gugup. Rasanya hanya untuk menelan ludah saja, Bulan merasa kesulitan.


"Terimakasih sudah mau menerima putra tante." tukas Nyonya Rindi.


Bulan hanya tersenyum kaku sembari mengangguk. Sungguh, dirinya tak tahu harus melakukan apa. "Lebih baik gue memegang senjata api saja." batin Bulan, merasa keadaan sekarang sangat membuatnya tegang.

__ADS_1


Dan Jeno, terus memperlihatkan senyum sempurna di bibirnya. Pandangannya tak lepas dari wajah cantik Bulan.


__ADS_2