
"Mau kemana sayang?" tanya Nyonya Irawan pada sang putri Sapna.
Sebenarnya, Nyonya Irawan sudah mengetahui kemana dan dengan siapa Sapna akan pergi. Setelah menyetujui rencana Bulan, tak perlu mengulur waktu, Sapna segera menceritakan rencana Bulan yang dia setuju pada sang mama.
Tentu saja, Nyonya Irawan menyetujui juga dan mendukung sang putri. Apalagi, dibalik semua rencana untuk menyelematkan nyawanya dan sang putri, ada sosok Bulan.
Sosok yang tidak perlu dipertanyakan lagi kesetiannya. Sosok yang tidak perlu dipertanyakan lagi cara berpikir dan kinerjanya.
Lebih dari seratus persen, keluarga pak Bimo percaya dengan Bulan. Karena memang hanya pada Bulan, mereka menaruh rasa percaya itu. Tak ada yang lain.
Sella yang duduk tak jauh dari Nyonya Irawan, sembari membaca majalah fashion, mencuri pandang ke arah Sapna. Melihat penampilan Sapna yang tampak anggun dan cantik, serta mendengarkan percakapan anak dan mama tersebut.
Sapna tahu, jika tatapan Sella tertuju padanya. Dan itu malah bagus, keingintahuan Sella bisa membuat hubungan Sapna dan Mikel akan segera terendus. Meski hanya sebuah kebohongan.
"Sapna mau keluar dengan teman ma. Bolehkan? Izinkan Sapna ma. Apa perlu, Sapna menyuruh teman Sapna masuk dan meminta izin langsung pada mama?" tanya Sapna, memainkan perannya dengan baik. Merengek meminta izin pada sang mama.
Nyonya Irawan menatap sang putri dengan haru. Keadaan dalam sekejap mampu merubah sosok manja seorang Sapna menjadi perempuan mandiri, dan dengan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan.
"Sebenarnya mama cemas kamu keluar dari rumah. Di luar pasti banyak pasang mata yang mengawasi kita." tutur Nyonya Irawan, menghubungi peran Sapna.
Sella tersenyum miring dengan mata menatap ke majalah yang ada di tangannya, tapi tidak dengan indera pendengarannya yang mendengar dengan jelas perkataan Nyonya Irawan. "Sangat bagus, jika putri elo tertangkap. Dasar parasit." batin Sella.
Sapna menatap sendu ke arah sang mama. "Ma,,, apa mama tidak percaya dengan Sapna?"
"Mama percaya sama kamu. Mama juga percaya sama dia. Pergilah." sahut Nyonya Irawan.
"Jadi, mama mengizinkan Sapna keluar?"
"Tapi kalian harus selalu waspada."
Sapna tersenyum serta mengangguk kecil. "Iya ma,,, Sella,,, kamu mau ikut saya." ajak Sapna menawarkan.
Tanpa menaruh atau menutup majalahnya, dan tanpa melihat ke lawan bicara, Sella menyahuti ajakan Sapna. "Gue sibuk." ketus Sella.
Meski pada kenyataannya, Sella merasa penasaran dengan siapa Sapna akan pergi keluar rumah. Terlebih, dirinya mengetahui dari sang mama, jika Nyonya Irawan dan Sapna sedang dalam bahaya. Itulah kenapa mereka berada di rumah mereka.
Sella merasa kedatangan mereka untuk bersembunyi di rumahnya adalah sebuah masalah besar. Dirinya takut jika keluarganya akan mendapatkan imbas dari keberadaan keduanya di rumahnya.
Itulah kenapa, Sella sama sekali tidak menyukai Sapna dan Nyonya Irawan. Bahkan, beberapa kali Sella mengatakan kalimat yang membuat mereka berdua hanya bisa sabar dan mengelus dada.
Karena keduanya terpaksa harus tinggal di rumah pak Darto yang notabennya adalah salah satu tersangka dalang penyekapan mereka.
"Baiklah. Ma,,, Sella,,, Sapna pergi dulu." pamit Sapna.
"Hati-hati." ujar Nyonya Irawan yang mendapat anggukan dari Sapna.
Selama tinggal di rumah pak Darto, keduanya diperlakukan baik oleh pak Darto. Sama sekali tidak terlihat sosok pak Darto yang berhati busuk. Ditambah lagi, pak Darto selalu mengumbar janji akan menolong mereka.
Tak... Sella meletakkan majalah yang sebelumnya dia pegang ke aras meja dengan kasar.
"Astaga." gumam Nyonya Irawan yang merasa terkejut. Namun seperti biasa, beliau tidak berani menegur. Dan hanya bisa bersabar.
Sella beranjak dari duduknya dna langsung menaiki anak tangga. Tentunya kamar tidur adalah tujuan utamanya.
__ADS_1
"Maaf Nyonya, maafkan Nona Sella. Dia memang sedikit kasar." papar sang pembantu yang melihat kelakuan Sella. Yang dimana dia yang malah meminta maaf atas kelakuan putri dari majikannya tersebut.
Nyonya Irawan hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi permintaan maaf sang pembantu.
Segera Sella menuju ke balkon kamarnya. Rasa ingin tahunya sangat besar. Dia ingin tahu, dengan siapa Sapna pergi.
Begitu membuka pintu rumah, Sapna menghela nafas panjang. Menetralkan detak jantungnya. Jujur saja, Sapna merasa khawatir. Ini pertama kalinya Sapna menampakkan diri di depan umum, setelah kejadian penyerapannya bersama sang mama.
"Percaya dengan Mikel, dia adalah orangnya Bulan. Semua akan baik-baik saja." batin Sapna sembari mempercepat langkah kakinya.
Sayang sekali, di lantai atas, Sella hanya melihat sosok Sapna yang berjalan sendiri keluar gerbang. "Mobil itu, sepertinya gue pernah lihat." cicit Sella.
Mikel memang tidak turun dari mobil. Dia tetap berada di dalam mobil menunggu kedatangan Sapna. "Alaaahh,,, mobil kayak gitu kan banyak." lanjut Sella memilih kembali masuk ke dalam.
Toh, dia juga tidak akan bisa melihat dengan siapa Sapna akan pergi. "Nanti malah Sapna melihat gue. Yang ada dia malah besar kepala." ketus Sella.
Begitu masuk ke dalam mobil Mikel, Sapna duduk di kursi depan sebelah Mikel. Langsung dia menghembuskan nafas panjang.
"Tidak perlu takut atau khawatir. Hilangkan semua perasaan itu. Jangan sampai musuh curiga." pinta Mikel, mulai melajukan mobilnya meninggalkan depan rumah Sella.
"Oke." sahut Sapna.
Sejenak, keduanya terdiam. Suasana dalam mobil tampak hening. "Kita mau pergi ke mana?" tanya Sapna.
Sapna memang belum pernah menjalin kasih dengan lelaki. Hanya saja, dia mempunyai banyak teman dan kenalan lelaki. Sehingga dia tidak begitu kaku berhadapan dengan Mikel.
"Ke kafe saja. Bagaimana?" sahut Mikel, serta meminta persetujuan Sapna.
"Bersikaplah biasa. Ada beberapa pasang mata yang sedang mengawasi kita." ujar Mikel memberitahu.
Segera Sapna menoleh ke belakang. Di belakang mobil mereka, memang ada dua buah motor. Dengan masing-masing motor dinaiki oleh dua orang.
Sapna mengalihkan pandangannya pada Mikel. "Jangan khawatir, mereka tidak akan berbuat macam-macam. Ingat,,,! Tetap bersikap tenang. Jangan sampai mereka malah menaruh rasa curiga." ujar Mikel mengingatkan kembali.
Sapna menghembuskan nafas panjang. Menipiskan bibirnya. Memejamkan kedua matanya sesaat untuk menghilangkan perasaan cemas dalam dirinya.
Mikel melirik ke arah Sapna. Dapat Mikel lihat dengan jelas, raut khawatir di wajah Sapna. "Sudah,,,, santai saja. Pikirkan kita adalah teman. Dan ya,,,, kita sedang bersenang-senang. Bukankah mengasyikkan." ujar Mikel, berharap suasana lebih sinkron. Dan tak ada kecanggungan antara dirinya dan Sapna.
Sapna mengerlingkan sebelah matanya. "Sudah. Jangan khawatir. Kita akan melakukannya dengan baik. Bulan pasti akan memuji kita."
"Baguslah kalau begitu."
Sampai di cafe yang dikatakan Mikel, keduanya turun dari mobil. Mikel menunggu Sapna mendekat ke arahnya, dengan mengulurkan tangannya.
Sapna tersenyum. Dia mengerti apa yang diinginkan oleh Mikel. Segera Sapna menyambut uluran tangan Mikel. Keduanya berjalan masuk ke dalam cafe, dengan menyatukan telapak tangan mereka.
Sapna lebih mendekat ke tubuh Mikel. "Mereka masih mengawasi kita?" tanya Sapna tak berani menoleh ke belakang.
"Tentu saja. Sudah,,, jangan dipikirkan. Bertingkah saja sesuai dengan keinginan kamu. Anggap mereka tidak ada." sahut Mikel, mengangkat tangan mereka, mencium telapak tangan Sapna.
Sapna tersenyum. "Elo nggak punya pacarkan?" tanya Sapna mulai rileks.
Sampai di dalam, Mikel menggeser sedikit kursi yang akan di duduki oleh Sapna. Membuat Sapna dengan mudah duduk. "Terimakasih." tutur Sapna sembari mendaratkan pantatnya ke kursi.
__ADS_1
"Jika gue punya pacar, gue nggak mungkin mengambil keputusan bermain dengan elo." tukas Mikel, mengimbangi ucapan Sapna yang mulai santai.
Mikel melambaikan tangan. Memanggil pelayan kafe. "Gue samakan saja kayak elo." tukas Sapna, sebelum Mikel bertanya.
"Oke." sahut Mikel.
Mikel menyebutkan makanan ringan serta minuman. Masing-masing dua porsi.
Keduanya berbincang sembari menyantap makanan yang dipesan Mikel. "Apa yang perlu kita lakukan?" tanya Sapna.
"Bagaimana kita bertemu? Kapan jadian? Dan,,,, keluarga kita." ungkap Mikel.
"Orang tua gue, pasti okelah. Elo gimana?"
"Bisa diurus. Jangan khawatir."
Sapna mengangguk pelan. "Elo akan jujur?" tanya Sapna penasaran.
Mikel menggeleng. "Gue akan mengatakan jika kita memang berhubungan."
Uhuk.... Uhuk.... "Hati-hati." tukas Mikel, melihat Sapna terkejut, sampai tersedak air minum yang dia sedot dari sedotan.
"Sorry. Gue kaget saja." jujur Sapna.
"Oke gue paham. Jika gue jujur, gue takut orang tua gue malah nggak akan menyetujuinya. Dan bukan itu yang gue takutkan. Misi kita akan ketahuan oleh orang luar." jelas Mikel.
"Benar juga. Lebih baik, hanya kita-kita saja yang tahu." sahut Sapna menyetujui perkataan Mikel.
Mikel dan Sapna membicarakan semuanya dengan detail. Mereka benar-benar akan melakukan dengan baik. Tak lupa, Sapna menceritakan kedua orang tuanya. Juga dengan Mikel.
Di luar cafe, beberapa pasang mata mengawasi Mikel dan Sapna yang sedang menikmati makanan di dalam kafe.
Diantara mereka, ada Arya. Menggunakan pakaian tertutup, juga dengan masker dan kaca mata hitam yang menutupi wajahnya, Arya berada di dalam mobil, yang dia parkir di area parkir kafe.
Sebuah kamera canggih berada di tangannya. Bagaikan seorang fotografer profesional, Arya membidik kameranya pada fokus yang dia ambil. Kebersamaan Mikel dan Sapna.
Setiap memperoleh satu bidikan, Arya melihat hasilnya. Lalu mengangguk. Seandainya saja yang lain tahu tingkah Arya, pasti mereka akan menjitak kepala Arya yang sok ahli dalam jepretan kamera.
"Tidak kalah dengan fotografer handal." pujinya pada hasil jepretannya sendiri.
Tak hanya Mikel dan Sapna yang menyadari empat pasang mata yang mengawasi momen kebersamaan meraka. Ternyata Arya juga mengetahuinya.
"Amatir. Anak PAUD saja pasti tahu jika mereka sedang mengintai." cibir Arya melihat betapa mencoloknya mereka berempat.
Arya menunggu Mikel dan Sapna keluar dari cafe. Dia juga mengikuti kemanapun keduanya pergi. Mengabadikan setiap momen yang sengaja diciptakan Mikel dan Sapna.
S!bab, setelah dari cafe, Mikel tak lantas mengajak pulang Sapna. Mereka pergi berbelanja. Berdua, bergandengan tangan, bagai kekasih yang saling menyayangi.
"Padahal nggak mau menyeberang. Ngapain harus gandengan tangan." lirih Arya, yang berada di balik tiang tak jauh dari Mikel dan Sapna berada.
Saat ini, Mikel dan Sapna tengah berada di pusat perbelanjaan. Sapna tak lagi kaku seperti di cafe. Dia lebih santai, dan bersikap sewajarnya. Mungkin karena Mikel bisa membawa pikiran Sapna untuk lebih tenang.
Sementara Arya menggerutu melihat keakraban mereka berdua. "Gue curiga, jangan-jangan mereka berdua memang kenal sedari dulu." tukas Arya menatap ke arah Mikel dan Sapna.
__ADS_1