
Seperti apa yang dikatakan Bulan, dia bergerak cepat tanpa membuang-buang waktu. Bulan yakin, jika pasti akan ada seseorang yang meminta dirinya untuk segera menyerahkan kakek Timo ke kantor polisi di kota tersebut.
Sebelum apa yang Bulan pikirkan terjadi, Bulan segera membawanya kakek Timo ke kantor pusat. Hanya berdua dengan Bulan. Tanpa melibatkan keempat lelaki yang selama ini bekerja sama dengannya.
Pastinya Bulan tak ingin ada yang mengetahui jika mereka berempat selama ini bekerja sama membuka tabir kejahatan Timo. Semua Bulan lakukan untuk kebaikan mereka berempat, supaya kehidupan pribadi mereka yang nyaman terganggu.
Dan hal tersebut Bulan tanyakan pada keempatnya. Apakah mereka menyetujui saran Bulan, atau tidak. Jikapun mereka tidak setuju, dan kekeh ingin menampilkan wajah mereka sebagai orang yang telah berhasil mengungkap kejahatan Timo, Bulan tentu tidak bisa melarang.
Tapi keempatnya ternyata menyetujui saran Bulan. Mereka beranggapan tak ada faedahnya juga menampakkan wajah mereka. Untuk apa? Uang, keluarga mereka tak pernah kekurangan materi. Sanjungan, selama ini, mereka bahkan sudah mendapatkannya.
Bahkan, Bulan meminta secara khusus pada Rio beserta mamanya, dan juga kakek Timo untuk tidak pernah mengatakan keberadaan empat lelaki muda tersebut.
Bulan meminta pada ketiganya untuk mengaggap bahwa keempatnya tak pernah ada. Bulan beralasan jika keempatnya adalah orang yang Bulan rekrut sendiri tanpa sepengetahuan pihak berwajib.
Dan jika pihak berwajib mengetahuinya, Bulan yang akan mendapatkan teguran atau malah hukuman.
Rio beserta sang mama dan juga kakek Timo mengerti dan paham akan permintaan Bulan. Ketiganya berjanji tidak akan menyebutkan keempat lelaki yang juga telah menolong mereka.
Seperti yang Bulan katakan, seolah selama ini mereka tak pernah bertemu dengan mereka. Selain itu, Bulan juga meminta pada ketiganya untuk tidak memberitahu villa yang selama ini mereka tempati.
Dan untuk alasan tempat tinggal, Bulan mengatakan pada mereka jika selama ini mereka tinggal di penginapan. Dimana Bulan juga sudah bersekongkol dengan pemilik penginapan tersebut. Tentunya dengan sedikit uang di dalam amplop. Sehingga pemilik mau mengatakan apa yang Bulan inginkan.
Sedangkan untuk Jeno, Jevo, Arya, dan Mikel. Mereka mengantarkan Rio serta sang mama kembali ke rumah mereka. Sebab keadaan sekarang sudah lebih aman dan kondusif.
Sesampainya di rumah Rio, Bulan menyuruh keempatnya segera meninggalkan mereka berdua. Sebab akan ada petugas dari pihak berwajib yang akan mendatangi rumah tersebut.
Mereka tentunya akan meminta keterangan mereka berdua sebagai saksi. Juga memberi keamanan untuk mereka berdua, dengan cara menempatkan beberapa anggota kepolisian di rumah Rio untuk berjaga.
Sebelum mama Rio kembali ke rumah, beliau terlebih dahulu menghubungi beberapa orang yang dulu pernah bekerja di rumah beliau. Dimana mereka diberhentikan oleh Timo dengan alasan yang tak masuk akal.
Mama Rio meminta mereka untuk kembali ke rumahnya, bekerja kembali di kediaman Rio. Tentu saja mereka bersedia dan dengan senang hati kembali bekerja di rumah beliau.
Apalagi, mereka juga sudah melihat berita di berbagai media terkait Timo, yang ternyata selama ini menggunakan topeng yang sama dengan wajah putra majikan mereka Rio.
Tapi, mama Rio tak menghubungi kembali pembantu yang pernah bekerjasama dengan Timo. Beliau mengetahui perilaku sang pembantu dari Rio sendiri. Dan juga rekaman CCTV yang Bulan perlihatkan pada beliau.
Bahkan, mama Rio bermaksud membawa sang pembantu untuk menyusul Timo masuk ke dalam jeruji besi. Dan untuk hal tersebut, Bulan tak ikut campur. Sebab, Bulan hanya mendapatkan misi untuk menangkap Timo.
Meski Bulan tak ikut campur dalam perkara pembantu Rio yang bekerjasama dengan Timo. Namun Bulan tak begitu saja lepas tangan dan pergi tanpa memberikan sesuatu pada mama Rio.
Selain memberikan rekaman CCTV sebagai salah satu buktinya, Bulan juga juga memberikan salinan transfer uang dari Timo, atas nama Rio pada pembantu tersebut.
Dan juga, Bulan memberikan alamat tempat tinggal sang pembantu pada mama Rio. Untuk mempermudah semuanya. Sebab, beliau juga harus segera fokus pada operasi yang akan dilakukan Rio. Mengubah wajahnya, serta mencari donor mata yang tepat untuk Rio. Supaya bisa melihat kembali.
"Jadi dia kakek Timo?" tanya pak kepala kantor pusat pada Bulan, sembari memandang intens pada sang kakek.
"Benar pak. Beliau orangnya." tegas Bulan dengan berdiri.
Bukan hanya Bulan serta sang kakek dan kepala kantor pusat yang berada di ruangan. Melainkan ada beberapa orang lagi di ruangan tersebut.
Diantara mereka, ada pak Bimo. Atasan Bulan. Dan juga pak Darto. "Bulan bergerak dengan cepat dan tepat. Dia menembakkan peluru tepat sasaran." batin pak Bimo tersenyum samar, melirik ke arah pak Darto yang berwajah kesal.
"Perempuan sial. Bagaimana bisa dia selancang ini. Bertindak tanpa memberitahu atasannya. Benar-benar tak tahu adab." batin pak Darto merasa geram.
Mereka semua yang ada di ruangan juga di undang mendadak. Sehingga tak ada yang tahu, jika Bulan datang dengan membawa kakek Timo. Hanya kepala kantor pusat dan Bulan saja yang mengetahuinya.
__ADS_1
Bulan selangkah di depan pak Darto. Sebab, pak Darto bermaksud memerintahkan kepala kantor kota untuk menahan kakek Timo. Sehingga dirinya bisa membuat rencana, mengeluarkan sang kakek dan membawanya masuk ke dalam kelompoknya.
Pak Darto menatap pak Bimo dengan ekspresi kesal. "Apa Bimo tahu, langkah yang Bulan ambil." batinnya bertanya. "Awas saja, jika ternyata dia mengetahuinya. Aku tak segan-segan mencelakai anak dan istrimu." batin pak Darto geram.
Malam penuh kejutan. Itulah judul yang tepat untuk keterkejutan yang dirasakan pak Darto.
Bagaimana pak Darto tidak merasa kesal. Belum melangkah, tapi dia sudah kalah. Apalagi, rekannya mempercayainya untuk membawa kakek Timo kedalam kelompok mereka.
"Maaf sebelumnya. Apakah saya boleh mengajukan permintaan. Mengingat sayalah yang sudah mengungkap kejahatan Timo yang selama ini, tak bisa di ungkap oleh siapapun. Dan di sini, saya hanya bekerja seorang diri. Tanpa partner." jelas Bulan.
Semua yang ada di ruangan terdiam. Tentunya mereka penasaran apa yang ingin diminta oleh Bulan. "Apa yang Bulan inginkan?" tanya kakek Timo dalam hati
"Katakan." ujar sang kepala.
"Siap..!! Saya ingin, kakek Timo dimasukkan ke dalam penjara khusus. Dan tidak dicampur dengan tahanan lainnya. Saya juga menginginkan, ada pengawasan dua puluh empat jam pada kakek Timo." pinta Bulan.
"Apa-apaan ini. Yang bersalah Timo, mengapa kamu meminta pengecualian pada kakeknya. Bukan pada Timonya?!" seru pak Darto dengan raut wajah dipenuhi emosi.
"Katakan alasan kamu." ujar pak kepala.
"Keberatan. Pak, saya tidak setuju dengan keinginan Bulan." seru pak Darto.
"Duduklah. Jangan buat keributan." tegas pak kepala.
"Beliau mempunyai keahlian khusus. Semua pasti sudah mengetahuinya, tanpa saya jelaskan dengan terperinci. Saya hanya takut, jika beliau melakukan sesuatu untuk bisa keluar dari penjara ini." ucap Bulan beralasan. Dan tentu saja dia berbohong.
Bulan dan kakek Timo saling pandang. Keduanya sama-sama tersenyum samar. Seolah masing-masing bisa mengetahui apa yang ada di pikiran lawannya. "Terimakasih, telah menjaga saya. Bahkan di dalam penjara sekalipun." batin kakek Timo.
"Alasan...!!" seru pak Darto.
"Memang benar apa yang dikatakan Bulan." timpal yang lain.
Sedangkan pak Bimo hanya diam. Beliau sama sekali tak mengeluarkan suara. Pak Bimo yakin, jika Bulan mampu mengatasi apa yang dia rencanakan.
Pak Darto hanya bisa menahan rasa kesalnya. Dia bisa menebak, jika dia akan kalah dalam perdebatan ini. "Bulan,,, dia harus segera di singkirkan. Dia sangat berbahaya." batin pak Darto mengeraskan rahangnya.
"Permintaan diterima." ujar sang kepala.
"Terimakasih. Dan jika diperbolehkan, saya sendiri yang memilih anggota polisi yang akan mengawasi kakek Timo selama beliau dipenjara." pinta Bulan.
Sang kepala tak segera menjawab apa yang Bulan. Beliau tampak berpikir. "Katakan, siapa orangnya. Kami akan menyetujuinya. Jika dia orang yang tepat." jelas sang kepala tak langsung menyetujui permintaan Bulan.
"Tunggu. Kenapa kita membicarakan, bahkan memutuskan hal seperti ini sekarang. Bahkan Timo dan kakek Timo saja belum masuk ke dalam pengadilan. Apa hukuman yang akan mereka terima, belum kita ketahui." tukas pak Darto bermaksud membuat mereka kembali berpikir, dan menolak keinginan Bulan yang sudah disetujui sang kepala kantor pusat.
"Sepertinya kita tak perlu mengetahui apa hukuman untuk mereka. Sebagai aparat negara, tentu saja kita busa menebak, apa yang akan mereka berdua hadapi. Timo,,,, dan juga kakek Timo." tekan Bulan.
Pak Darto lagi-lagi hanya bisa menahan rasa kesal. Bulan kembali mematahkan perkataannya. Membuatnya merasa malu di hadapan banyak orang. "Bocah sialan." geramnya dalam hati.
Jika hanya ada Bulan dan dirinya, pasti pak Darto akan mengeluarkan senjata api hang tersimpan rapi di pinggangnya. Lalu mengarahkan pada Bulan.
Bulan menatap pak Darto dengan senyum miring. Lalu menyebut dua nama anggota polisi yang dia rekomendasikan untuk menjaga dan mengawasi kakek Timo.
Dua nama yang disebut Bulan, mampu membuat nafas pak Darto berhenti sejenak. Sebab keduanya adalah orang kepercayaannya. Dan mereka berdua juga menjadi tangan kanannya dalam bisnis ilegal yang selama ini dia jalani bersama rekannya yang lain.
Pak Bimo mengerutkan keningnya mendengar kedua nama yang disebutkan oleh Bulan. Tentu dirinya sama terkejutnya dengan pak Darto. "Mengapa Bulan memilih musuh?" tanya pak Bimo dalam hati, seraya menerka apa yang Bulan rencanakan.
__ADS_1
"Bukankah mereka berdua bawahan pak Darto. Bagaimana menurut anda, pak Darto?" tanya kepala kantor pusat pada pak Darto.
"Bulan,,, brengsek." umpat pak Darto, bisa menebak apa yang Bulan rencanakan.
"Darto. Elo nggak akan bisa menolak. Mau tak mau, elo akan menyetujuinya." batin Bulan.
Jika pak Darto menolak keinginan Bulan untuk kedua bawahannya mengawasi kakek Timo, sama artinya pak Darto mengatakan pada semua orang yang ada di ruangan. Jika keahlian serta kepiawaian kedua bawahannya masih di bawah standar. Yang artinya, dirinya akan malu sendiri.
Dan jika pak Darto menerima keinginan Bulan, dia akan kehilangan dua orang kepercayaannya. Sebab, dua puluh empat jam kedua orang tersebut selalu siap kapanpun pak Darto perintahkan. Untuk hal apapun.
Yang artinya, pak Darto akan kehilangan mereka. Sebab keduanya harus terus mengawasi kakek Timo selama dua puluh empat jam di kantor pusat.
Pak Bimo tersenyum samar. Sekarang dirinya mengerti apa yang Bulan rencanakan. "Bahkan belum berperang, Bulan sudah menumbangkan musuhnya." batin pak Bimo.
Kakek Timo merasa sejak tadi pak Darto selalu menentang apapun yang Bulan inginkan. "Kemungkinan besar, dia adalah orang itu." batin kakek Timo yang mulai paham keadaan.
Kakek Timo mengangguk pelan. "Tenang saja Bulan. Aku akan membantumu. Meski aku berada di dalam penjara." lanjut sang kakek dalam hati.
"Bagaimana pak Darto?" tanya sang kepala kantor pusat lagi, sebab pak Darto masih diam dan belum menjawab.
"Maaf menyela. Bawahan saya selalu siap, seandainya kedua bawahan pak Darto belum siap." tukas anggota lainnya.
Bulan tersenyum samar. "Bagai menyiram bensin dalam kobaran api. Tapi gue suka." batin Bulan.
Pak Darto menatap rekannya tersebut dengan tatapan sinis. "Pasti Darto akan setuju." batin pak Bimo menebak. Pastinya Darto akan kehilangan muka jika ada anggota lain yang mengambil penawaran yang Bulan sampaikan.
"Siap. Saya setuju...!" tegas pak Darto. Meski hatinya sama sekali tak menerima
"Dua burung masuk ke dalam sangkar tanpa gue harus bersusah payah menangkapnya." batin Bulan.
Rencananya awal berhasil tanpa halangan. Dan pastinya Bulan mempunyai rencana berikutnya. ''Dua pengusaha itu. Tunggu saja, gue juga akan menyapa mereka berdua." batin Bulan.
Tentunya Bulan mengetahui semuanya dari hasil penyelidikan yang Gara lakukan. Dan sekarang, Bulan menyuruh Gara melacak keberadaan keluarga atasannya yang disekap entah dimana, pak Bimo.
Bulan memandang ke arah kakek Timo yang ternyata juga sedang memandangnya. Sang kakek tersenyum lalu mengangguk, yang juga dibalas senyum manis oleh Bulan.
Keesokan hari, persidangan Timo digelar. Sungguh luar biasa. Depan kantor pengadilan dipenuhi oleh ribuan manusia. Bahkan juga dengan halaman kantor pengadilan.
Sehingga pihak kepolisian dikerahkan untuk mengamankan proses persidangan. Wartawan dari berbagai mediapun tak ketinggalan. Mereka juga datang untuk meliput jalannya persidangan.
Sedangkan untuk kakek Timo beserta Rio dan sang mama, tidak didatangkan secara langsung. Mereka hanya ditampilkan secara virtual sebagai saksi. Mengingat bagaimana kondisi kantor pengadilan.
Tak tampak raut penyesalan dan ekspresi takut di wajah Timo. Dia berjalan masuk dengan dagu diangkat dan tersenyum, memperlihatkan betapa bahagianya dia.
Hal tersebutlah yang memicu emosi semua orang yang datang. Diantara mereka bahkan melempari Timo dengan barang yang sengaja mereka bawa dari rumah.
Suara teriakan serta umpatan dan sumpah serapah mereka tunjukkan pada Timo. Namun, hal tersebut sama sekali tidak mengganggu seorang Timo.
Saat dipersidangan, bahkan Timo tertawa lepas. Seolah menegaskan, jika dirinya adalah pemenang yang sebenarnya. Sidang keputusan untuk Timo beserta kakek Timo tak berlangsung lama.
Timo dijatuhi hukuman mati. Sedangkan kakek Timo dijatuhi hukuman kurungan penjara beberapa tahun.
Dan selama di dalam penjara, menunggu hukuman berlangsung, Timo benar-benar merasakan neraka dunia. Dia mendapat perlakuan yang tak pantas dan kejam dari sesama nara pidana yang berada di dalam tahanan.
Timo mengadu dan melapor pada penjaga atau sipir penjara terkait tindakan yang dilakukan tahanan lain pada dirinya. Tapi percuma. Mereka seakan menulikan pendengaran serta membutakan kedua matanya akan apa yang Timo terima.
__ADS_1