PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 100


__ADS_3

"Apa yang harus aku lakukan sayang?" tanya Jeno, sembari menyetir, melihat sekilas ke arah Bulan yang berada di kursi sebelahnya.


Tampak Bulan telah memejamkan kedua matanya dengan keadaan yang tak seperti biasa. "Dokter. Bulan membutuhkan dokter." tukas Jeno.


Jeno menurunkan kecepatan laju mobilnya. Sembari menyetir, Jeno mengambil ponselnya. "Halo dok,,, Tolong ke rumah sekarang. Teman saya terkena racun." pinta Jeno pada dokter pribadi keluarganya.


Jeno menatap Bulan. "Wajahnya pucat, badannya panas. Tapi dia berkeringat." jelas Jeno pada dokter yang entah berada di mana.


"Dia sendiri yang mengatakannya. Saya sendiri juga kurang tahu." tukas Jeno dengan nada kesal. Kemungkinan sang dokter bertanya racun apa yang berada di dalam tubuh Bulan.


"Pokoknya cepat ke rumah sekarang...!! Saya sedang dalam perjalanan." perintah Jeno tak ingin di tolak dan dibantah.


Jeno memilih rumahnya yang menjadi tujuannya. Sebab tempat tinggalnya adalah tempat paling dekat dengannya saat ini.


"Sabar sayang." Jeno menggenggam telapak tangan Bulan sejenak, sebelum kembali fokus pada jalan di depannya.


Jeno melihat jika Bulan semakin lemas. Jeno menambah laju mobilnya. Dirinya tak lagi berpikir akan keselamatan mereka di jalan. Yang terpenting, cepat sampai di rumah. Dan Bulan segera ditangani dokter.


Sedangkan di kediaman Tuan David, sang dokter telah sampai. Beliau dipersilahkan untuk duduk di ruang tamu. Sementara salah satu pembantu membangunkan majikan mereka. Dan lainnya membuatkan minum untuk sang dokter.


Para pembantu sebenarnya terkejut dengan kedatangan dokter pribadi keluarga majikan mereka. Selain malam yang sudah menunjukkan lewat tengah malam, setahu mereka tidak ada penghuni rumah yang sakit.


Namun tak ada yang berani bertanya pada sang dokter akan maksud kedatangannya ke rumah Tuan David di saat semua penghuni rumah telah terlelap dalam tidurnya.


Tok... tok... "Nyonya,,,, Tuan,,,," panggil seorang pembantu sembari mengetuk pintu kamar sang majikan.


Tak berselang lama, pintu terbuka dari dalam. "Ada apa bik?" tanya Nyonya Rindi, sembari menggelung rambutnya ke atas. Tampak jika beliau juga baru terbangun. Dan kemungkinan karena ketukan pintu darinya.


Meski begitu, Nyonya Rindi tak lantas marah pada sang pembantu karena mengganggu tidur malam mereka. "Maaf Nyonya, saya menganggu. Di bawah ada pak dokter." ucapnya memberitahu.


Nyonya Rindi mengerutkan kening. "Pak dokter. Larut malam seperti ini? Mau apa dia datang?"


"Maaf Nyonya, saya tidak tahu. Beliau menunggu di bawah." jelas sang pembantu.


"Baiklah. Buatkan minum. Saya bangunkan suami saya dulu." tukas Nyonya Rindi.


"Baik Nyonya."


Segera Nyonya Rindi membangunkan sang suami. Memberitahu jika di bawah ada dokter pribadi keluarga mereka. "Siapa yang memanggil dokter malam-malam seperti ini?" tanya Tuan David dengan suara serak.


"Mama juga tidak tahu pa. Ayo kita ke bawah." ajak Nyonya Rindi.


Tuan David menghela nafas panjang. Menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Meski masih mengantuk, tapi beliau tak lantas mengacuhkan tamu yang datang tak mengenal waktu tersebut.


Tanpa mereka tahu, sang dokter mendatangi kediaman mereka lewat tengah malam karena perintah dari salah satu putra kembar mereka.


Keduanya berjalan beriringan menuruni anak tangga. Tanpa berganti pakaian, keduanya tetap menggunakan pakaian tidur mereka.


Sang dokter yang melihat keduanya hendak menghampirinya langsung berdiri. ''Selamat malam Tuan, Nyonya." sapa beliau dengan ramah.


Tuan David tersenyum sembari mengangguk. Sang dokter kembali duduk di kursi, juga dengan Tuan David dan Nyonya Rindi. "Ada apa dok?" tanya Nyonya Rindi, merasa bingung bercampur penasaran karena mereka merasa tidak memanggil sang dokter.


"Maaf Nyonya, Tuan muda Jeno menghubungi saya. Dia mengatakan jika temannya terkena racun." jelas sang dokter.


Tuan David dan Nyonya Rindi bersitatap. "Jeno, apa dia sudah berada di rumah?" tanya Nyonya Rindi.


"Tuan muda Jeno mengatakan masih dalam perjalanan." sahut sang dokter.


Nyonya Rindi mengangguk paham. "Pa, teman Jeno siapa. Arya,,, atau Mikel?" tanya Nyonya Rindi merasa cemas.


"Atau malah Jevo." lanjut Nyonya Rindi.


Perbincangan ketiganya terhenti, saat mendengar suara pintu terbuka dari luar. Tak lama, terlihat Jevo menggendong seorang perempuan. Dengan dibelakang Jeno, mengekor kedua satpam di rumah mereka.


Tentunya Jeno tidak akan rela jika tubuh Bulan disentuh, bahkan di gendong lelaki lain. Apalagi dirinya masih cukup sanggup.


Tuan David dan Nyonya Rindi, serta sang dokter beranjak dari duduknya. "Kita ke kamar dok..!!" ajak Jeno, dengan berjalan cepat menaiki anak tangga.

__ADS_1


"Pa, siapa yang dibawa Jeno?" tanya Nyonya Rindi, belum mengetahui jika Bulan lah yang digendong sang putra. Sebab wajah Bulan tertutup rambut panjang Bulan.


"Entahlah." Tuan David dan sang istri segera menyusul sang dokter dan Jeno ke lantai atas. Tepatnya ke kamar Jeno.


Jeno membaringkan Bulan dengan pelan di atas ranjang. Jeno melepaskan jaketnya begitu saja, melemparkan ke sembarang arah.


"Cepat periksa." perintah Jeno terlihat ketakutan. Tanpa membuang waktu, sang dokter segera memeriksa keadaan Bulan.


Tuan David dan Nyonya Rindi terkejut, melihat siapa yang berbaring di atas ranjang tempat tidur sang putra. "Pa." cicit Nyonya Rindi memasang wajah cemas, melihat wajah Bulan yang sangat pucat.


Tuan David memeluk erat sang istri. Pandangan beliau menatap intens ke arah putra yang terlihat khawatir.


Jeno duduk di samping Bulan. Memegang erat tangan Bulan. "Sayang,,, bangun. Buta mata kamu." cicit Jeno dengan raut khawatir.


Sedangkan sang dokter masih memeriksa keadaan perempuan yang dipanggil Jeno dengan panggilan sayang. Sejujurnya, sang dokter juga terkejut, tapi beliau tahu batasan.


Apalagi beliau adalah seorang dokter pribadi keluarga Tuan David. Segala sesuatu yang dia lihat dan dia dengar akan tetap tersimpan di dalam hati dan pikirannya.


"Bagaimana?" tanya Jeno pada sang dokter.


Sang dokter tersenyum. "Jika dilihat, Nona ini sudah mendapatkan suntik pereda nyeri sebelumnya. Dan itu sangat membantu."


Sang dokter memegang lengan Bulan, memperlihatkan sedikit goresan yang berada di lengan Bulan. "Racun tersebut hanya mengenai area kulit. Cukup kecil dan tidak berbahaya. Tidak masuk ke dalam aliran darah. Jangan khawatir." jelas sang dokter.


"Apa tidak perlu suntik lagi?" tanya Jeno.


"Tidak, apalagi tubuhnya baru saja di masuki cairan pereda nyeri. Malah akan berbahaya, jika saya menambahkan cairan lainnya." tukas sang dokter.


Jeno tahu, jika pasti Bulan sendiri yang memasukkan cairan pereda nyeri tersebut ke dalam tubuhnya.


Tak sengaja, Jeno melihat sang dokter memandang Bulan dengan intens. "Jaga pandangan anda." tegas Jeno tak rela sang pujaan hati di tatap oleh lelaki lain dengan pandangan terpesona.


Glek.. "Maaf, Tuan Muda." cicit sang dokter merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.


"Ketahanan serta kekebalan tubuh Nona ini juga sangat kuat. Tuan Muda tidak perlu khawatir." jelasnya, mengalihkan pembicaraan.


"Dan segeralah keluar dari kamar." usir Jeno, entah mengapa dia sama sekali tidak menyukai cara dokter muda ini memandang sang pujaan hati.


"Baik." segera dia menulis resep obat untuk diminum oleh Bulan. Dan memberikannya pada Jeno.


Sang dokter hanya bisa menghela nafas untuk menetralkan degup jantungnya karena peringatan yang diberikan Jeno.


Dirinya langsung tak berani menatap kembali wajah cantik Bulan. Jujur saja, sang dokter memang terkesima dengan kecantikan dari Bulan. Cantik natural tanpa polesan make up.


Tuan David tersenyum samar melihat sikap Jeno. Apalagi Nyonya Rindi, mendengar penjelasan dokter jika Bulan dalam keadaan baik-baik saja membuatnya lega.


"Bik,, antar pak dokter ke depan." pinta Nyonya Rindi, pada seorang pembantu yang berada di depan kamar Jeno. Pembantu tersebut sengaja mengekor pada majikannya, takut jika dirinya dibutuhkan sewaktu-waktu. Apalagi dia melihat keadaan sedang genting.


"Setelah itu beristirahatlah." ujar Nyonya Rindi.


"Baik Nyonya, saya permisi dulu." pamit sang pembantu.


"Jeno, bisa kita bicara." ajak Tuan David.


"Di sini saja pa." sahut Jeno, menolak jika sang papa mengajaknya meninggalkan Bulan.


Jeno terlihat enggan beranjak dari samping Bulan. "Biar Bulan sama mama. Kamu jangan khawatir." tukas Nyonya Rindi.


Jeno menggeleng. "Tidak. Jeno tidak mau meninggalkan Bulan." kekeh Jeno, terus menatap intens sang pujaan hati.


Tuan David serta Nyonya Rindi hanya bisa menghela nafas. Kali ini, sikap keras kepala Jeno benar-benar keluar. Kini keduanya sangat yakin, jika sang putra benar-benar menyukai Bulan.


"Sudah pa, di sini saja." bisik Nyonya Rindi, tidak ingin ada perdebatan di malam hari.


Nyonya Rindi duduk di samping Jeno, yang artinya duduk di tepi ranjang tempat Bulan berbaring. "Kenapa Bulan bisa seperti itu? Apa yang terjadi?" tanya Nyonya Rindi dengan lembut, memegang pundak Jeno.


Jeno masih diam. Jujur dirinya juga merasa tidak bisa menceritakan apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Tentunya tanpa persetujuan dari Bulan.

__ADS_1


"Papa dan mama tahu, siapa Bulan. Dia bukan guru yang sesungguhnya. Kami juga tahu, pekerjaannya sebagai abdi negara. Yang selalu mengangkat senjata api saat diperlukan." tutur Tuan David.


Jeno menatap sang papa dan sang mama bergantian. Jeno tak kaget, jika kedua orang tuanya mengetahui pekerjaan Bulan yang sebenarnya.


Sebab dengan uang serta kekuasaan hang dimiliki sang papa, beliau bisa menyelidiki tentang Bulan. Dan semuanya mengenai Bulan.


Tapi Jeno tetap enggan menceritakan apa yang terjadi dengan Bulan. Yang artinya dirinya akan membuka misi yang mereka kerjakan.


"Pa, ma. Maaf,,, Jeno tidak bisa menceritakan apa yang terjadi. Jeno tidak punya wewenang sebesar itu." ungkap Jeno berterus terang.


"Setelah Bulan sadar, papa dan mama bisa bertanya pada Bulan sendiri." jelas Jeno.


Selain itu, Jeno juga tidak mau bercerita karena dirinya takut Bulan akan kecewa. Yang pada akhirnya, dirinya akan semakin sulit mendekati Bulan.


Tuan David sama sekali tidak marah dengan penolakan yang diutarakan sang putra. Beliau malah salut akan jawaban sang putra.


Jawaban yang di ucapkan Jeno mencerminkan rasa tanggung jawab serta kesetiaan Jeno terhadap apa yang dia lakukan.


Dari yang dikatakan Jeno, Tuan David bisa menebak. Jika selama ini kedua putranya pasti berjalan di samping Bulan. Sebab orang suruhannya saja tidak bisa mencari tahu


Tapi Tuan David merasa lega. Sebab, dirinya tahu profesi Bulan yang sesungguhnya. Dan tak mungkin Bulan mengajak kedua putra kembarnya untuk melakukan hal yang buruk.


Jeno baru tersadar. Jika dirinya sedari tadi pasti bertindak yang membuat kedua orang tuanya tahu akan perasaannya pada Bulan.


Jeno memandang sang papa dan mama dengan ekspresi aneh. "Kenapa?" tanya Nyonya Rindi, bisa menebak apa yang sang putra rasakan.


Jeno menggeleng dan segera melepas tangannya di lengan Bulan. Tampak ekspresi wajah Jeno yang lucu. "Kami tahu, kamu terlihat sangat menyukai guru kamu ini." goda sang mama.


"Tidak. Jeno... Jeno,,, Jeno tidak menyukai Bulan,, eh,,, bu Bulan." tegas Jeno dengan cemberut.


Jeno tidak ingin kedua orang tuanya tahu perasaannya pada Bulan. Jeno takut keduanya menentangnya. Sebab selisih umur keduanya. Dimana Bulan lebih tua lima tahun dari Jeno.


Ditambah, Jeno sampai sekarang juga masih menyakinkan Bulan dengan rasa cinta yang dia rasakan. Jeno hanya tidak ingin, kehilangan Bulan sebelum berjuang, karena tolakan dari kedua orang tuanya.


Nyonya Rindi tersenyum jahil. "Memang benar, Bu Bulan, seorang polwan yang cantik bersanding dengan remaja kayak kamu. Nggak serasi. Lebih enak dilihat, jika bu Bulan sama dokter keluarga kita saja." goda Nyonya Rindi.


Jeno melotot tak percaya dengan ucapan sang mama. Bisa-bisanya menjodohkan Bulan dengan dokter tadi.


"Bagaimana pa? Papa setuju. Seorang dokter dan seorang polwan. Sungguh serasi." cicit Nyonya Rindi semakin menggoda sang putra.


"Tidak. Bu Bulan tentu akan menolaknya. Lagian, dokter macam apa dia. Masih tampan Jeno kemana-mana." ujar Jeno dengan kesal.


"Aaa...!! Mama sama papa keluar saja. Tinggalkan kamar Jeno." usir Jeno dengan kesal pada sang mama yang asal bicara.


"Enak saja. Kamu mau tidur sekamar dengan Bulan. Tidak bisa." tolak Nyonya Rindi, menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.


"Lah,,, paaaaa,,,, bawa istri papa keluar. Lagian ini kamar Jeno." tutur Jeno.


Nyonya Rindi mendorong tubuh Jeno untuk pergi dari ranjang. "Mama yang akan tidur di sini. Kamu tidur sama papa kamu."


Nyonya Rindi mengambil selimut di bawah kakinya, menutupkan ke badannya serta badan Bulan hingga dada mereka. "Nanti kamu apa-apain Bulan lagi."


"Wehhh,,,, ma, kok papa kena imbasnya." keluh Tuan David, sebab dirinya akan tidur seorang diri.


Nyonya Rindi melambaikan telapak tangannya. "Papa tidur sama Jeno saja."


Nyonya Rindi tidur berbaring, dengan menaruh satu tangannya di atas perut Bulan. Atau mengeloni Bulan.


Jeno tersenyum samar melihat pemandangan di depannya. Dirinya yakin, jika kedua orang tuanya pasti akan merestui jika dirinya berhubungan dengan Bulan.


"Papa ogah tidur sama kamu. Mending tidur sendiri." segera Tuan David berlari meninggalkan kamar Jeno dan pergi ke kamarnya. Tak lupa beliau mengunci pintunya dari dalam.


"Mama, mama,,,, papa ikut senang, jika kalian bahagia. Apalagi, Bulan perempuan baik-baik. Dia juga berasal dari keluarga baik-baik." tutur Tuan David, kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.


Sedangkan Jeno, dirinya tetap tidur di dalam kamarnya. Meski tidak seranjang dengan Bulan. Sebab Jeno memilih tidur di sofa panjang nan empuk yang sudah tersedia di dalam kamar.


Jeno memilih sofa asal masih bisa melihat sang pujaan hati. Dari pada tidur di kamar lain. Padahal kamar di rumah ini sangatlah banyak.

__ADS_1


Jeno menatap ke arah ranjang dengan helaan nafas panjang dan kasar. "Coba saja mama nggak ada. Pasti gue yang ada di sana." batinnya.


__ADS_2