PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 114


__ADS_3

"****....!!" Sella memukul keras stir mobil di depannya. Pandangan Sella mengarah pada lampu lalu lintas dengan jengkel.


"Lampu brengsek. Kenapa pake eror segala. Mending nggak usah ada lampunya. Menyebalkan. Sial...!!" umpat Sella pada benda mati yang tak bersalah, yakni lampu pengatur lalu lintas.


Sella mengira jika lampu lalu lintas di depannya sedang tidak baik-baik saja. Atau sistemnya yang sedang rusak. Tanpa dia tahu, jika semua sudah disetting oleh Gara. Supaya Jeno terbebas dari penguntit seperti dirinya.


"Jeno....!! Hah... Kenapa dia seperti belut. Astaga...!! Sulit sekali sih mendapatkan dia." geram Sella merasa frustasi. "Cupu." lanjut Sella menghina penampilan Jeno.


Awalnya, Sella meremehkan Jeno. Dengan penampilan Jeno yang sangat berbeda dari Jevo. Hingga Jeno yang terkesan pendiam dan pergaulannya tak sama dengan Jevo. Sella menebak jika sosok seperti Jeno mudah di dekati dan dibohongi.


Apalagi dengan tampang Sella yang cantik, badan lumayan seksi. Juga dirinya yang berasal dari salah satu keluarga kaya yang terpandang di kota ini.


Sella tak memandang penampilan Jeno sekarang. Sella berpikir, Jevo dan Jeno adalah saudara kembar. Pastinya ketampanan mereka berdua sama. Hanya perkara tampilannya atau covernya saja. Dan Sella bisa mengubahnya.


Ditambah keluarga keduanya. Yakni keluarga Tuan David yang sangat kaya dan terkenal di kota. Membuatnya semakin ingin mendapatkan Jeno. Menjadi bagian dari keluarga Tuan David.


Kenapa Sella tidak mendekati Jevo. Apalagi jika bukan dirinya tak ingin bersaing dengan Claudia. Lagi pula, Sella mendekati dan menginginkan Jeno bukan karena rasa cinta.


Sella mendekati Jeno karena mempunyai motif yang sama seperti Claudia. Bagi mereka, mendapatkan pasangan yang merupakan putra dari kalangan atas adalah suatu kebanggaan tersendiri. Karena mereka berpikir, orang kaya memang seharusnya mendapatkan pasangan dari keluarga kaya juga.


Lampu lalu lintas kembali berwana hijau. Tapi hal itu malah membuat Sella semakin jengkel. Sebab tujuannya mengejar dan membuntuti Jeno sudah gagal. Kesempatan mengetahui kemana Jeno pergi pupus sudah.


Perlahan, Sella kembali melajukan kendaraannya. "Orang tua Jeno. Benar. Terutama mamanya. Ya,,, gue harus mencari tahu semua tentang mama Jeno. Nyonya Rindi. Dan gue akan mendekatinya." seringai Sella sembari menyetir.


Dapat ditebak dengan mudah. Jika Sella akan beralih mendekati mama Jeno, untuk mendapatkan Jeno. Kita lihat saja, apa Sella akan berhasil. Atau malah, akan mendapatkan rasa sakit hati, layaknya Claudia.


Yang hingga detik ini, kedua orang tua Jevo tak pernah memberi restu untuk Claudia dan Jevo untuk mereka berhubungan.


Tapi sepertinya busa ditebak dengan mudah sebelum Sella mendekati mama Jeno. Sebab, beliau terlanjur menyukai Bulan.


Dan ternyata, mobil di belakang Sella adalah mobil Mita. Sahabat Sella. Dimana dia yang melihat Bulan dan Jeno masuk ke dalam satu mobil.


Tapi Mita tak memberitahu pada Sella dengan apa yang dia lihat. Dia memilih menyimpannya sendiri. Apalagi Mita hanya melihat saja. Tanpa mengetahui alasan keduanya masuk ke dalam mobil yang sama.


Mengingat bagaimana sifat gilanya Sella, itulah yang membuat Mita tidak mengatakan apa yang dia lihat. "Bisa-bisa Sella menargetkan bu Bulan. Padahal belum tentu antara kak Jeno dan bu Bulan ada apa-apa." tukas Mita sembari menyetir, mengekor di belakang mobil Sella.


"Ntar malah gue yang merasa bersalah. Jika terjadi apa-apa pada bu Bulan. Padahal gue nggak tahu sebenarnya yang terjadi." tukas Mita berpikir dengan rasional.


Ditambah, sekarang Mita melihat Jeno berkendara seorang diri tanpa teman di dalam mobil. Membuat Mita berpikir jika kemungkinan Jeno dan Bulan bertemu karena ketidaksengajaan.


Bulan membagi pekerjaan yang merata untuk semua anggota. Jeno menghampiri Gara di markas, untuk mengambil beberapa berkas penting juga beberapa benda yang dibutuhkan oleh Bulan.


Tapi Jeno tak tahu itu apa. Sebab Bulan hanya mengatakan untuk dirinya menemui Gara di markas. Tapi Jeno menebak jika semuanya berhubungan dengan masalah Timo yang akan diungkapkan oleh Bulan.


Sedangkan Mikel dan Jevo membeli bahan-bahan yang Bulan butuhkan. Dan Arya tetap di villa. Menjaga kemanan ketiga orang yang mereka selamatkan dari cengkeraman Timo.


Serta memastikan jika tak ada yang meninggalkan villa. Karena tak ada yang tahu apa yang dipikirkan ketiga orang yang saat ini berada di villa bersama dengan Arya.


Meskipun ketiganya terlihat patuh dan mengikuti apa yang Bulan katakan dan rencanakan, tapi siapa yang bisa mengetahui jalan pikir orang. Sebab, semua bisa berubah dalam hitungan detik.


Disaat Mikel dan Jevo sudah berada dalam perjalanan pulang, Jeno baru tiba di markas. Untuk menemui Gara. Dan semua terjadi kerena Sella yang membuntutinya dari belakang.


Gara tersenyum penuh makna menyambut kedatangan lelaki yang mencintai sahabat sekaligus malaikat penolong untuk dirinya. "Simpan senyum elo...!!" seru Jeno dengan ekspresi wajah kesal. Jeno tahu kenapa Gara menyambutnya dengan senyum tengilnya.


Bukannya marah karena bentakan Jeno, atau segera mengubah ekspresi wajahnya, Gara malah tertawa lepas. ''Seharusnya elo bangga. Perempuan secantik Sella mengejar-ngejar elo, si cupu." goda Gara yang langsung mendapat pelototan dari Jeno.


"Jangan banyak cakap kau... Cepat ambilkan apa yang mau kau bawakan ke saya. Segera...!!" ujar Jeno dengan logat yang terdengar lucu di telinga Gara.


Jeno duduk di kursi yang ada di depan Gara. "Bego,,, bahasa apa yang elo gunakan. Itu bukan Batak, juga bukan Madura." cicit Gara tersenyum, mendengar logat Jeno yang menurutnya lucu.


"Terserah gue. Mulut-mulut gue." sanggah Jeno.


"Kenapa elo nggak terima saja Sella. Dia cantik. Dari keluarga kaya lagi. Sepadan sama keluarga elo." ujar Gara kembali menggoda Jeno.


"Sorry nih,,,, hati gue hanya untuk Nona Bulan. Pokoknya penuh terisi. Sampai nggak ada rongga di dalamnya. Puas...!!" ujar Jeno sok romantis.


"Alaaaah,,,,, sekarang elo bisa bilang begitu. Nanti kalau Bulan tua. Elo pasti nggak mau jalan beriringan sama dia. Karena elo masih muda." cicit Gara.


"Nggak akan. Gue punya uang banyak. Tentunya gue akan menyuruh Bulan perawatan. Biar tetap cantik dan seksi, bahenolll..." ujar Jeno dengan cengengesan.

__ADS_1


Gara menjalankan kursi rodanya ke arah kamar. "Terserah elo deh anak kecil." papar Gara.


"Wwoooeeyy,,, gue bukan anak kecil. Buat anak kecil saja gue bisa. Tapi sama Bulan tersayang." sahutnya dengan menaikkan nada suaranya.


Jeno memandang kamar Bulan. Dimana pintunya terbuka. Jeno bisa menebak, jika Gara baru saja membersihkan kamar tersebut.


Sebab, bukan hanya kamar Bulan yang pintunya terbuka. Tapi semuanya. ''Hehh,,,, ingin sekali gue cepat lulus SMA." lirih Jeno sembari membuang nafas panjang.


Jeno mengalihkan pandangannya ke arah layar. Dimana di layar tersebut terlihat mobil Timo. Jeno tertawa pelan. "Elo masuk ke dalam jebakan kita." ujar Jeno melihat Timo saat ini berada di tempat yang dia beritahukan.


Tak berselang lama, Gara datang dengan sebuah map dan juga amplop berukuran tanggung yang terlihat tebal.


"Ini." Gara menaruhnya di atas meja. Dengan sebuah flash disk di atasnya.


"Apa ini sudah semua?" tanya Jeno yang mendapat anggukan dari Gara.


Jeno mengambil semuanya. Memasukkan ke dalam paper bag yang berasal dari plastik tebal. "Gue kembali ke villa dulu." pamit Jeno, dengan mata sekilas memandang ke layar.


"Tenang saja. Gue akan memantau Timo dari sini. Kalian fokus saja ke rencana kalian. Sebelum Timo menyadarinya." papar Gara.


"Oke." sahut Jeno yang segera pergi meninggalkan markas dan kembali ke villa Mikel.


Sementara Bulan sedang menemui Tuan David beserta Nyonya Rindi di sebuah restoran. Sebenarnya, Bulan hanya mempunyai kepentingan dengan Tuan David.


Hanya saja, Bulan merasa sungkan dan tak enak hati dengan Nyonya Rindi. Jika dirinya hanya mengajak bertemu Tuan David, berdua.


"Maaf Om, tante. Bulan mengganggu waktu kalian." tutur Bulan dengan sopan.


Nyonya Rindi tersenyum tulus. "Kenapa meminta maaf, tante malah senang. Lagi pula tante tidak sibuk sama sekali." sahut Nyonya Rindi. Padahal tadi pagi mereka juga berbincang.


Bulan memandang Tuan David dengan senyum yang terlihat ragu. Segera Nyonya Rindi mengeluarkan suaranya kembali. Seolah tahu apa yang ada di dalam benak Bulan.


"Tenang saja, papanya Jeno yang memiliki perusahaan. Lagi pula dia punya banyak karyawan." jelas Nyonya Rindi.


Kenyataannya, Tuan David meninggalkan rapat untuk menemui Bulan. Beruntung, rapat tersebut hanyalah rapat bulanan dengan beberapa staf perusahaan. Yang bisa diundur waktunya.


"Ada apa, kamu ingin menemui kami? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Tuan David.


"Saat ini, saya ingin meminta bantuan dari om." lanjut Bulan berbicara dengan hati-hati.


"Katakan, apa yang kamu inginkan. Suami saya pasti akan membantu kamu. Iyakan pa?" Nyonya Rindi memegang lengan sang suami.


"Katakan." pinta Tuan David.


"Saya ingin mengungkap misteri pembunuhan berantai yang selama ini tidak bisa di pecahkan oleh kepolisian. Dimana kebanyakan korbannya adalah siswa SMA." jelas Bulan.


"Apa yang kamu butuhkan?" tanya Tuan David. Sedangkan Nyonya Rindi hanya menyimak.


"Siaran di beberapa saluran televisi. Tanpa sensor. Dan tanpa jeda. Saya sendiri yang menghandlenya." jelas Bulan.


Bukannya Bulan tidak bisa menyabotase saluran televisi, guna menyiarkan apa yang dia inginkan. Hanya saja, dirinya ingin bekerja dengan tenang, tanpa terganggu.


Sebab, ada kalanya saat dia menyabotase, ternyata pihak televisi mempunyai orang yang juga ahli di bidangnya. Dan itu malah akan membuat pertarungan di dalam perangkat lunak.


Yang ada, Bulan tak akan fokus dengan rencananya. Dan malah mengurusi mereka yang mengacau. Oleh karenanya, Bulan memutuskan untuk mengambil langkah ini. Dengan bantuan Tuan David.


Tuan David dan Nyonya Rindi saling pandang sejenak, sebelum keduanya menatap penuh tanya pada perempuan yang dicintai sang putra. "Kenapa kamu tidak menyerahkan pada atasan kamu saja?" tanya Nyonya Rindi.


Bulan tersenyum. "Dalam kasus ini, tersangka sama sekali memang sama sekali tidak mengenal salah satu anggota pihak berwajib. Meski dia sulit di tangkap. Tapi bukan semudah itu permasalahannya." jelas Bulan.


"Lalu?"


Mereka berbicara di sebuah ruang pribadi. Dengan di luar, ada beberapa bawahan Tuan David yang menjaga keamanan mereka saat berbincang. Sehingga taka akan ada yang berani mencuri dengar apa yang mereka bicarakan di dalam.


"Ada seseorang yang mempunyai keahlian hebat dan langka di dalam kasus ini. Dan saya hanya berjaga-jaga, untuk melindungi dia dari tangan orang yang berniat jahat. Yang mungkin meliriknya untuk kepentingan dirinya sendiri." jelas Bulan.


"Sehebat itukah?" tanya Tuan David.


Bulan mengeluarkan beberapa lembar foto. Dimana, semuanya adalah Timo yang memakai topeng buatan sang kakek.

__ADS_1


Bulan menjejer dengan rapi foto tersebut di atas meja. Menghadap ke arah Tuan David dan Nyonya Rindi. "Semua ini adalah satu orang." Bulan mengeluarkan foto Timo dengan wajahnya yang rusak.


"Pa... mama bingung." ujar Nyonya Rindi yang memang tidak mengerti kejamnya dunia bawah tanah.


"Serius dia melakukan operasi wajah segitu banyak? Astaga, pasti akan ada dampak negatifnya." cicit Nyonya Rindi.


Tuan David menatap Bulan dengan lekat. "Bukankah dia sudah meninggal?" tanya Tuan David.


"Dia,,, dia siapa pa?" tanya Nyonya Rindi semakin kebingungan.


Tuan David dan Bulan hanya tersenyum. "Mama dengarkan saja ya. Ini terlalu ribet dan panjang bila dijelaskan." tutur Tuan David memberi pengertian pada sang istri.


"Baik." sahut Nyonya Rindi mengangguk. Beliau tidak memaksa ingin tahu, sebab beliau tahu jika apa yang dibicarakan sang suami dan Bulan adalah hal serius dan sangat penting. Menjadi pendengar memang pilihan yang tepat.


"Mereka saking kenal. Tapi memilih jalan yang berbeda." jelas Bulan tanpa menjabarkan secara terperinci. Bulan yakin, Tuan David bisa menelaah apa yang dia katakan.


"Apa semua bukti sudah kamu kantongi?" tanya Tuan David memastikan.


"Sudah om." tutur Bulan.


"Baiklah."


"Maaf om. Tapi, jika om setuju, apa Bulan boleh mengajukan beberapa permintaan lagi?" tanya Bulan dengan hati-hati. Karena dirinya terlalu banyak meminta sesuatu. Takut jika Tuan David tak akan setuju.


"Katakan saja." pinta Tuan David.


Bulan menghela nafas lega. "Jangan sampai nama Jeno dan Jevo, serta Arya dan Mikel om dan tante sebut. Selama ini, Bulan menyembunyikan identitas mereka. Juga wajah mereka. Bulan hanya ingin melindungi mereka. Biar bagaimanapun, mereka masih duduk di bangku SMA. Kita tidak tahu, apa yang ada dalam pikiran orang, saat tahu jika mereka berempat terlibat dalam penyelidikan masalah ini." jelas Bulan.


"Dan lagi, jujur saja. Bulan juga tidak ingin mendapat masalah serta hukuman karena mengajak mereka bergabung dalam misi Bulan kali ini. Karena seharusnya Bulan menjalankannya seorang diri tanpa rekan." jujur Bulan berbicara apa adanya.


Tuan David tersenyum sembari mengangguk. Dirinya acungi jempol dengan kejujuran yang dikatakan oleh Bulan. Jika dirinya takut akan terkena hukuman saat atasan mengetahui Bulan bekerjasama dengan anak SMA. Tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu dengannya.


''Biak. Saya akan menghubungi beberapa pemilik stasiun televisi. Dan sebaiknya kamu juga ikut. Sebab saya tidak tahu apa yang sedang kalian rencanakan." pinta Tuan David.


"Baik om."


"Pa, mama tidak usah ikut ya. Maka kok jadi merinding sendiri." ujar Nyonya Rindi merasa ngeri.


"Tapi tante, lebih baik tante ikut kami saja." pinta Bulan dengan segera mengatakan keinginannya.


"Kamu itu. Kamu pikir saya akan cemburu jika kamu pergi berdua dengan suami saya. Tidak akan sayang. Kamu lihat, dia pantas menjadi papa kamu." tukas Nyonya Rindi.


Bulan tersenyum canggung. "Kamu itu, pantasnya menjadi anak kami. Iyakan,,, pa,,,,?" tanya Nyonya Rindi mencari dukungan.


"Iya." sahut Tuan David segera. Sebab beliau tahu trik yang sedang dimainkan sang istri.


Bulan tertawa pelan. "Kelihatannya mereka tahu, jika putranya, Jeno menyukai gue." batin Bulan menebak. Bulan merasa ketar ketir, jika benar kedua orang tua Jeno mengetahuinya. Pasalnya, banyak perbedaan yang sangat mencolok di antara mereka berdua.


"Sudahlah. Bukan saatnya memikirkan hati. Yang paling penting, masalah Timo harus segera selesai." lanjut Bulan berkata dalam hati, menyingkirkan dulu masalah pribadinya.


Tuan David menghubungi beberapa pemilik stasiun televisi. Meminta mereka untuk bertemu sekarang juga. Apa mereka menyetujuinya, tentu saja. Pasalnya, Tuan David juga menanam saham di perusahaan tersebut.


Bulan tersenyum samar. ''Gila,,,!! Jika gue jadi menantunya, gue kaya mendadak." batin Bulan mendengar Tuan David menghubungi mereka dan meminta bertemu sekarang dengan mudahnya.


"Bagaimana pa?" tanya Nyonya Rindi, setelah Tuan David selesai menghubungi semuanya.


"Mereka akan datang ke sini." tukas Tuan David memberitahu, beliau segera menghubungi bawahannya yang berada di luar. Mengatakan padanya jika ada beberapa orang yang akan datang. Menyuruhnya untuk mengantarkan mereka ke ruangannya.


"Sayang,,, kamu makan dulu saja. Sembari menunggu kedatangan mereka." pinta Nyonya Rindi.


"Iya tante. Emm,,, tante, sebaiknya tante di sini saja." pinta Bulan, entah perasaannya tetap merasa tidak enak.


"Kamu kenapa sih. Tenang saja. Tante tidak akan cemburu. Masa cemburu sama anak sendiri." ujar Nyonya Rindi mengerlingkan sebelah matanya.


"Baiklah, tapi tante pergi setelah mereka semua datang. Bagaimana?" tanya Bulan meminta persetujuan.


"Benar kata Bulan ma." sahut Tuan David, yang tahu kenapa Bulan menginginkan hal tersebut. Tuan David menebak jika Bulan ingin menjaga nama baik dirinya, juga nama baik dirinya.


Sembari menunggu kedatangan mereka, Bulan bersama kedua orang tua Jeno menikmati makanan ringan. Sesekali berbincang santai. Sekedar mengisi waktu.

__ADS_1


Tak berselang lama, orang yang mereka tunggu datang. Dan Nyonya Rindi dengan sopan berpamitan pada semuanya. Beliau beralasan ada keperluan pribadi yang tak bisa ditinggalkan.


__ADS_2