
Bulan mengambil jaket, lalu mengenakannya. Memasukkan semua buku serta barang yang dia perlukan ke dalam tas ransel.
Bulan sama sekali tak terlihat seperti seorang guru yang hendak mengajar. Tapi seperti seorang mahasiswa yang hendak pergi ke kampus.
Sembari melihat jam yang terpasang di dinding, Bulan menyambar kunci motor yang dia gantung di sebelah lemari.
Bulan melajukan motornya melalui rumah dimana pembantunya terdahulu tinggal di sana. Dilihatnya ada perempuan muda sedang menjemur pakaian di depan rumahnya.
Untuk sekarang, Bulan memang tidak mempunyai pembantu. Dirinya yang sudah terbiasa hidup sendiri, dengan mudah bisa melakukan pekerjaan rumah, meski tak ada yang membantunya.
Mencuci pakaian, membersihkan rumah. Serta pekerjaan lainnya. Dan pastinya selain memasak. Sebab Bulan memang tidak bisa memasak.
Bulan yang terbiasa hidup di alam bebas tidak terlalu kesulitan dalam memilih jenis makanan. Dirinya tidak perlu makan makanan yang di jual di restoran mewah dengan harga mahal. Cukup pergi membeli makanan di warung sekita rumah, dan perut sudah terisi kenyang.
Bulan tak lantas langsung pergi ke sekolah. Dirinya memutar sebentar. Melewati jalan di mana semalam dia telah membantu dua orang gadis dari cengkeraman Timo.
Ada sesuatu yang ingin Bulan pastikan. Polisi. Jika di tempat tersebut di datangi oleh pihak berwajib, berarti mereka berdua tidak mengindahkan apa yang Bulan katakan. Dan tetap melaporkannya pada pihak berwajib.
Tapi sebaliknya. Jika tempat tersebut sepi, tanpa adanya petugas berpakaian seragam, berarti mereka tidak melaporkannya pada pihak berwajib.
Dan itu malah aman untuk mereka. Sebab Timo tidak merasa jika dirinya berada dalam bahaya. Dan pastinya dia tidak akan mengejar keduanya.
Jika Serra, mungkin saat ini dia masih dalam keadaan aman. Sebab kemanapun dirinya pergi, selalu ada bayangan dari pihak berwajib yang melindunginya. Meski Serra serta keluarganya sendiri tak tahu akan hal tersebut.
Tapi dapat dipastikan, jika kelak Serra tak lagi mendapatkan perlindungan. Maka dapat dipastikan, Timo pasti akan segera kembali mengejarnya, menargetkannya sebagai mainannya.
Dan sebelum itu terjadi, Bulan bertekad akan membuat semua yang Timo lakukan terbongkar. Sehingga Timo akan masuk jeruji besi. Dan tidak akan pernah keluar.
Bila perlu, Bulan akan berbuat sesuatu. Dimana Timo akan menghembuskan nafasnya di balik jeruji besi dengan cara yang tak biasa. Seperti dia mempermainkan nyawa korbannya selama ini.
Sepi. Jalanan tersebut tampak sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang lewat. Bulan dengan tenang melajukan motornya membelah jalanan di mana kanan kirinya tumbuh ilalang yang sangat lebat.
"Ternyata, di sekitar sini ada sebuah rumah. Dan gue harus menemukannya." kedua mata Bulan di dalam helm full face melirik ke beberapa arah untuk menemukan sesuatu.
Bulan tersenyum. Dari arah lain, Bulan melihat ada asap mengepul ke udara. "Sebentar lagi akan ada tamu tak diundang yang akan ke rumah anda kek." ucap Bulan dalam hati.
Dirinya bisa menebak, jika di sanalah kediaman sang kakek yang semalam telah membantu dirinya saat menolong dua gadis yang menjadi mainan Timo. Yang tak lain adalah cucunya sendiri.
"Berarti mereka mengikuti perkataan gue untuk tidak melapor pada pihak berwajib." batin Bulan, mulai menambah laju kecepatan motornya.
Bulan tersenyum lega. Dengan keduanya mengikuti apa yang Bulan katakan. Setidaknya keduanya tidak menambah pekerjaan Bulan dan kelima lelaki yang juga sebagai rekan kerja Bulan.
Bulan kembali menurunkan laju kecepatan motornya saat memasuki area sekolah. Kedua mata Bulan menatap sosok yang sangat berbeda dari para murid di sekolah.
"Bukankah dia...." batin Bulan menebak.
Bulan hanya acuh. Dirinya sama sekali tidak terlalu antusias atas kedatangan mama dari lelaki yang menaruh perasaan padanya.
Seperti biasa, Bulan memarkir kendaraannya bersama kendaraan para guru dan staf lainnya di tempat yang sudah disediakan pihak sekolah.
Tampak Bulan melepas helmnya, dan menaruhnya di atas motor gede yang dia naiki. "Lihatlah, mana ada seorang guru berpenampilan seperti itu." celetuk Claudia bermaksud membuat nama Bulan jelek di mata Nyonya Rindi.
"Benar. Penampilannya sangat memukau. Untung saja dia guru gue. Jika bukan,,,, behhh.... gue jadikan pacar gue." timpal Arya, bermaksud membuat kesal Claudia.
Claudia menatap Arya dengan sinis. "Arya sialan. Perusak." batin Claudia dengan kesal. Karena Arya malah memuji penampilan Bulan.
Jeno tahu, jika ucapan Arya hanyalah sebuah ucapan yang di maksudkan untuk mengenai Claudia. Tapi tetap saja, Jeno merasa tidak suka dengan apa yang dia dengarnya. Alias cemburu.
Ditambah lagi, ada kata pacar. Dan lagi, Arya memuji akan kecantikan Bulan. Yang membuat hati Jeno merasa panas. Padahal suasana pagi ini masih begitu sejuk. Sebab sinar matahari belum terik.
Bulan sadar, jika pandangan mereka mengarah kepada dirinya. Tapi tetap saja, itu sama sekali tidak menganggu apa yang Bulan lakukan, yakni melepas jaketnya. Lalu dia taruh di atas stir motor.
Sella tersenyum samar. Dia tak seperti Claudia yang begitu saja nyeplos tanpa melihat keadaan sekitarnya. Sella bisa menebak, jika Nyonya Rindi begitu menyukai Bulan.
Sella mengetahuinya dari raut wajah Nyonya Rindi yang begitu berseri saat menatap Bulan. "Claudia bodoh." ejek Sella dalam hati.
__ADS_1
Sella juga bisa melihat, keempat lelaki di sekitarnya juga menyukai Bulan. Yang artinya, dirinya juga harus menyukai Bulan, jika ingin masuk ke dalam lingkaran mereka.
Yang tanpa Sella tahu, jika Bulan adalah saingan utamanya untuk mendapatkan hati Jeno. "Benar, bu Bulan memang sangat cantik. Baik lagi. Tapi tetap tegas sebagai guru." tukas Sella menatap Bulan yang masih melepaskan jaket yang melekat di badannya.
Claudia tersenyum miring menatap Sella. "Sial,,,!! licin sekali lidahnya. Dia pikir akan semudah ucapannya, untuk mendapatkan Jeno." umpat Claudia, tahu tujuan Sella mengatakan kalimat tersebut.
Mikel menggeleng pelan. "Hebat juga cara menjilatnya." batin Mikel.
Nyonya Rindi yang tak sabar menunggu Bulan, melangkahkan kakinya lebih dahulu untuk menghampiri Bulan.
"Loh...,,, tante, mau ke mana." tukas Arya, melihat mama dari Jevo dan Jeno meninggalkan mereka begitu saja.
"Apa sih sebenarnya maunya mama." batin Jeno merasa cemas.
Bukan hanya Jeno yang dibuat bingung dengan tingkah Nyonya Rindi. Tapi semua yang melihatnya. Pasalnya, Bulan masih tergolong sebagai guru baru.
Tapi dengan mudah bisa mengambil hati Nyonya Rindi. Tanpa mereka tahu, jika Nyonya Rindi ingin sekali menjadikan Bulan sebagai menantunya.
Meski umur putranya dan sang guru terpaut beberapa tahun. Tapi Nyonya Rindi sama sekali tidak mempermasalahkannya. Yang terpenting, sang putra bahagia.
Dan satu lagi. Perempuan yang akan menjadi pendamping putranya harus perempuan yang masuk ke dalam kriterianya.
Tidak harus berasal dari keluarga kaya. Namun berasal dari keluarga baik serta bersahaja. Dan satu lagi, bukan perempuan yang hanya ingin memanfaatkan putranya serta keluarganya.
Beberapa guru yang berada di sana juga merasa heran. Akan tingkah Nyonya Rindi. "Pakai pelet apa sih si Bulan." ketus Vani, salah satu guru yang memang tidak menyukai keberadaan Bulan di sekolah ini.
"Pelet kebaikan." timpal Lidya sembari meneruskan langkahnya untuk menuju ke ruang guru. Membiarkan Vani yang masih saja mengoceh tidak jelas.
"Kamu juga. Dibayar berapa sama Bulan." sinis Vani, dimana Lidya selalu bersikap ramah dan baik kepada semua guru. Termasuk Bulan.
"Seratus ribu." seru Lidya, yang membuat beberapa guru yang mendengarnya tersenyum.
Vani memandang ke arah Bulan dengan tatapan tak sukanya, sebelum membalikkan badan untuk menuju ke ruang guru. Menyusul Lidya beserta beberapa guru yang terlebih dahulu menuju ke sana.
Sementara dirinya, sudah bertahun-tahun mendekati beliau. Tapi tetap tidak dianggap. "Bulan...!!" geram Claudia.
Ditambah lagi, sekarang Jevo menjauhi dirinya. Dan itu terlihat sangat jelas. Dari pesan tertulisnya yang tak pernah dibalas. Panggilan teleponnya yang tidak pernah Jevo angkat.
Claudia menebak jika Jevo saat ini sedang mengincar perempuan lain. Dan dia adalah Bulan. Guru mereka sendiri.
Apa yang ditebak Claudia memang tidak salah. Jevo memang menyukai Bulan. Sayangnya, Jevo tidak sedang mengincar Bulan. Sebab, Bulan adalah milik dari saudara kembarnya. Jeno.
Sella perlahan mendekatkan diri ke tempat Jeno. Dan tentu saja Jeno menyadari akan hal itu. Baru saja Sella ingin membuka mulutnya, tapi Jeno sudah melangkahkan kakinya menuju ke tempat Bulan yang sedang berbincang bersama Nyonya Rindi.
"Bagaikan pungguk merindukan bulan." celetuk Mikel tersenyum miring. Ikut ke mana langkah kaki Jeno melangkah. Begitu juga Jevo dan Arya.
"Sialan..." geram Sella, menatap kesal ke punggung Jeno yang menjauh darinya.
Claudia terkekeh pelan. "Kasihan sekali. Diacuhkan oleh pujaan hati. Sakit ya rasanya." ejek Claudia dengan nada senang.
Sella menatap sinis ke arah Claudia. "Kakak kelas. Itu kalimat untuk siapa. Adik kelas mu ini, atau kakak kelas sendiri." tukas Sella meninggalkan Claudia seorang diri.
"What...!!" seru Claudia tertahan. Tidak percaya jika Sella seberani itu pada dirinya.
Kenyataannya, apa yang dikatakan Sella memang benar. Jika Claudia yang seharusnya lebih merasakan kata sakit hati dari pada Sella.
Sella berjalan dengan ekspresi seperti serigala yang siap menerkam mangsanya. "Jeno. Cupu. Bisa-bisanya dia menolak perempuan seperti gue. Coba lihat. Apa kurangnya gue. Brengsek. Tak tahu diri sekali." lirih Sella.
"Gue minta uang." celetuk murid lelaki yang tiba-tiba berada di samping Sella. Berjalan beriringan membarengi Sella.
"Menjauh dari gue. Apa mau elo?!" seru Sella, takut jika dirinya terlihat sedang bersama murid lelaki yang selama ini semua yang ada di sekolah tahu, jika murid lelaki tersebutlah yang sering menggoda dan pernah hampir melecehkan Sella.
"Temui gue di tempat biasa." ujarnya, pergi meninggalkan Sella.
Sella menghentikan langkah kakinya. "Brengsek. Semua rencana gue nggak ada satupun yang berhasil. Dan gue malah diperes. Nggak bisa. Gue harus menyingkirkan dia. Dasar parasit." umpat Sella dalam hati.
__ADS_1
Mita melihat keduanya sedang berjalan bersama. Mita hanya bisa menghela nafas. "Bukankah dia tidak lebih baik dari Claudia." tukas Tasya yang tiba-tiba berada di belakang Mita.
Tanpa menoleh, Mita busa menebak siapa pemilik suara tersebut. Apalagi dia menyebutkan nama Claudia. "Mereka berdua sama. Padahal gue selalu menasehati Sella. Tapi apalah daya gue. Omongan gue hanyalah angin lalu bagi dia." ujar Mita.
"Ckk,,, ternyata sama saja. Gue juga berkali-kali menyuruh Claudia berhenti. Tapi tetap saja, iblis tak akan pernah bisa berubah menjadi ibu peri." jelas Tasya.
Tasya dan Mita saling pandang. Lalu keduanya menggeleng bersama disertai kekehan kecil. "Sudahlah, yang terpenting elo sudah mengingatkan pada dia. Jika dia tidak mengindahkannya. Bukan salah elo. Dan juga bukan salah gue." ungkap Mita.
"Benar. Tapi kita harus memberitahu bu Bulan, untuk berhati-hati dengan mereka." ujar Tasya.
Mita menaikkan sebelah alisnya. "Lagian, mana mungkin bu Bulan mau dengan Jevo, atau dengan Jeno. Bu Bulan perempuan sempurna. Dia bisa mendapatkan yang lebih dari mereka." ujar Mita.
"Bukan soal itu. Tapi elo tahu, bagaimana sifat Sella dan Claudia. Yang pada dasarnya sama. Elo pahamkan, kemana arah pembicaraan kita?" tanya Tasya menegaskan kalimatnya.
Mita menganggu. "Otak kecil mereka bisa mempunyai pikiran licik dan picik. Mencelakai bu Bulan." tebak Mita.
"Tepat." Tasya mengetikkan jari tengah dan jempolnya. Hingga menimbulkan suara ctek.
Keduanya lantas segera meninggalkan tempat mereka. Dan pergi ke kelas masing-masing.
Sedangkan di parkiran, Nyonya Rindi sedang berbincang ringan dengan Bulan.
"Kalian, kenapa malah ke sini?" tanya Nyonya Rindi, pada keempat siswa lelaki tersebut. Dimana di antara mereka ada putranya.
"Mama sendiri ngapain ke sini?" bukannya menjawab pertanyaan sang mama, Jeno malah balik bertanya.
"Ini urusan guru dengan wali murid. Kalian tidak perlu tahu. Sudah sana, pergi ke kelas." usir Nyonya Rindi.
Jeno menatap ke arah Bulan. Tapi Bulan malah membuang muka ke arah lain dengan ekspresi acuh. "Pasti karena semalam." tebak Jeno.
Jeno menebak jika Bulan sedang marah pada dirinya, karena nama Bulan Jeno sangkut pautkan dengan masalahnya bersama kedua orang tuanya.
Padahal, apa yang dikatakan Jeno semalam tidak semuanya salah. Sebab dirinya dan saudara kembarnya memang bersama dengan Bulan. Meski keduanya sedang tidak melakukan melakukan bimbingan belajar.
"Kalian semua, segera ke kelas. Jam pelajaran sebentar lagi akan di mulai." pinta Bulan.
"Baik bu." sahut Mikel.
Arya segera menarik lengan Jeno untuk dibawanya pergi dari parkiran. "Sudah, nggak perlu menoleh. Bu Bulan tidak akan dimakan mama elo." goda Arya, sebab Jeno hendak menoleh kembali ke belakang.
Jevo tersenyum melihat ekspresi khawatir dari saudara kembarnya. "Jevo, kelihatannya elo senang banget?" tanya Mikel dengan senyum, sama seperti Jevo.
Jeno yang mendengarnya memandang ketiganya dengan tajam. "Kalian bertiga benar-benar...!" geram Jeno, melangkahkan kaki dengan cepat meninggalkan ketiganya.
Tentu saja ketiganya bisa menebak jika saat ini Jeno sedang merasa cemas meninggalkan sang mama hanya berdua dengan pujaan hatinya.
Tapi mau bagaimana lagi. Keadaan yang tak memungkinkan untuk Jeno berada di sana. Berdiri dan mendengarkan apa yang diperbincangkan oleh keduanya.
Jeno duduk dengan tak tenang. Di kursinya seperti ada paku, sehingga Jeno ingin sekali berdiri dan membuang kursi tersebut. Berlari dimana sang mama dan pujaan hatinya sedang berbincang.
"Kenapa Bulan tak segera masuk ke kelas." batin Jeno, selalu menatap ke arah pintu.
"Bel belum berbunyi. Tak mungkin Bulan masuk ke dalam kelas. Dia guru. Bukan murid." goda Jevo, berbisik di telinga Jeno. Seakan Jevo bisa membaca pikiran Jeno.
"Sialan...!!" geram Jeno mendorong pelan tubuh Jevo.
Dari kursi belakang, Moza menatap lekat ke arah Jevo. Dimana hanya terlihat punggung Jevo. Beberapa kali, Moza menghela nafas panjang.
"Apa yang harus gue lakukan?" tanya Moza dalam hati.
Moza benar-benar merasa stres sendiri. Ini pertama kalinya bagi Moza merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta.
Sialnya, rasa itu terpaut pada sosok lelaki yang sama sekali tak dia sangka. Jevo. Murid lelaki dengan berjuta pesona. Dimana dia senang sekali mempermainkan perasaan para perempuan.
Di parkiran, Nyonya Rindi segera berpamitan pada Bulan, setelah keduanya sepakat akan bertemu dan berbincang berdua di tempat yang telah mereka setujui untuk bertemu.
__ADS_1