PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 99


__ADS_3

Mikel dan Arya telah sampai di villa milik Mikel terlebih dahulu dengan membawa Rio bersama mereka. "Hati-hati." tukas Arya memapah Rio berjalan dengan pelan. Sedangkan Mikel memasukkan mobilnya ke dalam bagasi.


Villa milik Mikel memang terletak di tempat terpencil. Dikelilingi perbukitan yang dikelola oleh warga setempat. Dengan ditanami berbagai tumbuhan yang bisa menghasilkan uang untuk mereka makan sehari-hari.


Setiap seminggu sekali, selalu ada beberapa orang yang datang, yang pastinya orang suruhan Mikel. Dan mereka datang untuk membersihkan villa. Mereka adalah warga setempat yang tinggal tak jauh dari villa. Karena itulah, meski villa tersebut tidak dihuni, tapi tampak bersih.


Segera Mikel bergegas dan membantu Arya. "Apa perlu kita gendong saja." saran Mikel.


"Jangan, gue berat." tolak Rio, yang sebenarnya dia merasa tidak enak hati.


Mikel dan Arya saling pandang, keduanya tersenyum samar. Dan,,,, "Kalian." teriak Rio, merasa badannya tiba-tiba melayang.


"Sudah, tenang saja. Jangan bergerak. Nanti elo malah jatuh." tukas Arya memberitahu Rio.


"Di kamar bawah saja." saran Mikel sembari sedikit mengangkat dagunya, memberitahu kamar yang akan ditempati oleh Rio. Yang mendapat anggukan dari Arya.


Sampai di dalam, Arya membantu Rio membersihkan dirinya. Sedangkan Mikel menuju ke dalam kamarnya. Mencari pakaian yang bisa dipakai oleh Rio.


"Elo bisa keluar." cicit Rio, saat Arya tetap berada di dalam kamar mandi. Menunggunya membersihkan diri.


"Sudahlah, tidak perlu malu. Kita sesama lelaki." sahut Arya dengan santai, yang tidak tega meninggalkan Rio sendiri di dalam kamar mandi.


Arya takut jika sampai terjadi sesuatu kepada Rio. Atau saat Rio membutuhkan sesuatu tapi tak ada yang membantu.


"Gue akan baik-baik saja." dengan sopan, Rio kekeh mengusir Arya dari kamar mandi.


Arya menghela nafas panjang. "Memang benar, elo alan baik-baik saja. Tapi apa elo tahu letak semua alat mandi di sini." tukas Arya menjeda kalimatnya.


"Sorry,,, bukan maksud gue memandang rendah elo, karena keterbatasan elo. Hanya saja, gue nggak mau elo kesulitan. Apalagi jika sampai elo kenapa-napa. Percuma kita keluarkan elo dari sana." jelas Arya dengan jujur.


Rio tersenyum. Dirinya juga mengerti kenapa lelaki yang menolongnya bersikap demikian. "Baiklah." pasrah Rio.


Rio melepas celananya. Membuat badannya sama sekali tidak tertutup sehelai benangpun. Arya yang sedang menyenderkan badannya di tembok, langsung berdiri tegap melihat apa yang tersaji di depannya.


Rio kembali tersenyum. Dia bisa menebak apa yang sedang Arya lakukan. "Ini sudah tidak sakit." tutur Rio tersenyum tulus.


Arya membalikkan badannya. Tangannya terkepal kuat. Kedua matanya memerah. Dan,,,


bugh,,,, bugh,,,, "Aa...!!" teriak Arya sembari memukul tembok di depannya sekuat tenaga.


"Jangan. Jangan sakiti diri elo seperti itu...!!" teriak Rio, mendengar teriakan Arya dibarengi suara pukulan. "Maaf, kita terlambat. Sangat terlambat." cicit Arya merasa bersalah.


Mikel yang mendengar teriakan Rio bergegas masuk ke kamar mandi. Tapi tubuh Mikel juga membeku melihat apa yang ada di depan kedua matanya.


Dilihatnya Arya yang berdiri menghadap tembok dengan dahi ditempelkan di tembok.


Mikel segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menahan amarah yang ingin meletup, seperti halnya yang dilakukan Arya baru saja.


Rio hanya diam berdiri. Dia tidak mendekat ke arah Arya. Takut jika menabrak sesuatu, atau malah terpeleset karena lantai telah basah karena air.


"Kalian tidak bersalah. Kalian belum terlambat. Kalian benar-benar pahlawan." tutur Rio setulus hati.


"Mandilah. Bersihkan badan elo." papar Arya dengan nada lirih.


Siapa yang akan sanggup melihat keadaan Rio. Yang ternyata, bukan hanya kedua mata serta badannya saja yang memperoleh perlakuan sadis dari Timo.


Bahkan, alat vital Rio juga tak luput dari kekejaman Rio. Sehingga baik Mikel maupun Arya tak sanggup untuk melihatnya.


Mikel dan Arya membantu Rio keluar dari kamar mandi secara perlahan. Keduanya juga membantu Rio memakai baju.


''Tenang saja. Semua pakaian serta dalaman ini masih baru. Belum pernah gue pakai.'' jelas Mikel, tidak ingin Rio mengira jika pakaian tersebut adalah pakaian yang sudah pernah dia pakai.


"Terimakasih. Meski bekas elo juga tidak masalah. Dari pada gue nggak pake baju. Bisa-bisa gue kedinginan." cicit Rio.


"Tidurlah." pinta Mikel membantu Rio berbaring di atas ranjang empuk dan besar.


"Apakah mama sudah datang?" tanya Rio, saat sudah berbaring.


"Dalam perjalanan. Tapi maaf, rekan kami terpaksa membius mama elo. Elo pasti mengerti kenapa sebabnya." tutur Arya.


"Iya, pasti mama tidak akan mau di bawa ke sini dengan sadar. Apalagi jika Timo masih memakai topeng wajah yang mirip dengan wajah gue." sahut Rio.


"Bukan mirip. Tapi sama." timpal Arya.


"Benar. Sama." tukas Rio.

__ADS_1


"Beristirahat. Tidurlah yang nyenyak. Nanti Arya yang akan menemani elo di sini." jelas Mikel, tak mungkin membiarkan Rio berada di kamar sebesar ini seorang diri.


Apalagi ini pertama kalinya Rio berada di kamar ini. Pasti dirinya masih asing dan belum terbiasa. Ditambah keadaannya yang tidak seperti mereka.


"Kira-kira, kapan gue akan bertemu dengan mama?" tanya Rio sudah tak sabar.


Mikel dan Arya paham dan mengerti, kenapa Rio bertanya seperti itu. Terkesan sangat tidak sabar. Keduanya tidak menyalahkan sikap tidak sabar Rio. Sebab, memang sudah lama Rio tidak bertemu dengan sang mama.


Yang ada dalam benak keduanya adalah, bagaimana situasi saat Rio bertemu dengan mamanya. Dengan keadaan Rio yang seperti ini.


"Mungkin baru besok pagi, bius tersebut akan hilang." jelas Mikel yang juga tidak bisa memberi jawaban pasti.


"Sekarang tidurlah. Gue sama rekan gue mau keluar dulu. Memastikan mama elo sudah sampai apa belum." tukas Arya.


"Lampunya,,,,,," lanjut Arya, dengan kalimat menggantung. Mikel menatap Arya dengan kesal.


Arya seakan tak sadar, jika meski lampunya dibiarkan menyala atau dimatikan. Bagi Rio akan tetap sama. "Maaf,,,, gue... emm..." ujar Arya menjadi canggung dan merasa bersalah.


"Tidak apa, mungkin elo belum terbiasa. Tidak perlu merasa bersalah." ujar Rio, yang paham jika Arya pasti tidak bermaksud menghinanya.


"Oke. Elo tidur. Kita keluar dulu." pamit Mikel.


Keduanya berjalan beriringan. "Apa kita perlu memanggil dokter?" tanya Mikel.


"Tunggu. Kita tanya pada bu Bulan dulu." saran Arya.


Mikel mengangguk. "Benar juga." jeda Mikel.


"Ngomong-ngomong, bu Bulan ke mana ya?" tanya Arya yang sebenarnya meras penasaran kemana perginya Bulan yang tanpa pamit.


Mikel mengangkat kedua pundaknya. "Mungkin itu Jevo dan Jeno." tukas Arya.


Keduanya melangkahkan kaki dengan cepat menuju ke depan saat mendengar deru suara mesin kendaraan. "Mana mama Rio?" tanya Arya, melihat Jevo turun dari motornya.


"Di dalam." sahutnya, memandang ke mobil yang dikendarai Jeno.


Arya segera membantu Jevo dan Jeno menggendong mama Rio masuk ke dalam kamar yang bersebelahan dengan kamar yang ditempati Rio.


"Sebelah kamar Rio?" tanya Jevo memastikan.


Arya hanya mengangguk. "Kapan dia sadar?" tanya Arya menatap mama Rio yang seperti sedang tertidur pulas.


Segera Jeno mengambil cairan yang dia usapkan ke tisu, dan kembali menghirupkannya di hidung mama Rio. Jeno memakai tisu yang tersedia di mobil, sebab dia sudah membuang sapu tangan yang dia gunakan pertama kali.


"Rio juga sedang beristirahat." jelas Mikel pada Jevo dan Jeno.


Keempatnya pergi dari kamar mama Rio. Membiarkan mama dan anak tertidur tanpa mereka ganggu. Apalagi malam semakin larut.


"Bu Bulan tidak bersama kami." ujar Arya, yang mengetahui jika Jeno mencari pujaan hatinya.


"Kemana?" tanya Jeno khawatir.


Keempatnya mendaratkan pantatnya di kursi empuk yang berada tak jauh dari kamar Rio dan mama Rio. Keempatnya beristirahat sejenak. Tanpa mereka tahu, jika saat ini Bulan sedang dalam bahaya.


"Bu Bulan tidak mengatakan apapun. Dia hanya menyuruh kita ke sini terlebih dulu. Membawa Rio." jelas Mikel.


"Tenang, Bulan pasti baik-baik saja." Jevo tampak menenangkan Jeno. Dirinya tahu jika saudara kembarnya sedang merasa cemas.


Mikel berdiri. Mengambil minuman dingin dari dalam lemari pendingin. Memberikannya pada masing-masing. Termasuk dia juga. Dan kembali duduk.


"Minum dulu." tukas Arya, membuka tutup botolnya, lalu meneguknya.


Jeno hanya memegangnya tanpa berniat meminumnya. "Perasaan gue nggak enak." celetuk Jeno dengan ekspresi cemasnya.


Jevo dan Arya, serta Mikel sejenak saling pandang. Ketiganya juga merasa resah. Sebab Bulan juga belum memberikan kabar pada mereka.


"Hubungi Gara." tukas Arya.


Mereka berempat segera menyalakan kembali alat komunikasi mereka. Yang beberapa saat lalu mereka matikan. Setelah mengatakan pada Gara jika misi berhasil.


Belum sempat mereka menghubungi Gara, ponsel Jeno bergetar. "Sebentar." tukas Jeno, mengambil ponselnya yang berada di dalam saku.


"Bulan." Jeno memandang ketiga rekannya bergantian, dan segera mengangkat panggilan telepon dari Bulan.


Jeno hanya diam. Tidak mengatakan sepatah katapun, tapi raut wajahnya jelas menunjukkan kecemasan. "Halo... Bulan..!! Bulan..!!" panggil Jeno, manakala sambungan teleponnya terputus begitu saja.

__ADS_1


"GPS." gumam Jeno, mencoba mencari keberadaan Bulan melalui sebuah aplikasi yang sudah tersedia di dalam ponsel.


"Ada apa?" tanya Jevo, tak kalah khawatir. Juga dengan Arya dan Mikel.


"Entahlah. Tapi Bulan mengatakan untuk di jemput di titik ini. Sekarang." tegas Jeno, seraya berdiri.


Mereka yakin jika Bulan sedang dalam bahaya. Karena tak biasanya Bulan menginginkan hal tersebut. Penjemputan. "Gue ikut." sahut Jevo dan Arya, serta Mikel.


Tapi Jeno tak menggubris seruan mereka. Dia segera berlari keluar. Yang ada dalam benaknya hanya Bulan, dan Bulan.


"Jangan semua. Ada yang tetap harus berada di sini." tukas Mikel.


"Biar Jeno sama Arya saja. Elo sama gue tetap di sini." saran Mikel.


"Mana kunci motor elo?" minta Arya.


Jevo mencari di sakunya, tapi tidak ketemu. "Cepat...!!" bentak Arya, takut ketinggalan Jeno.


Mikel memberikan kunci mobilnya. "Pakai ini saja." serunya.


"Mungkin masih tertancap di motor." ujar Jevo.


Arya mengambil kunci mobil Mikel, dan segera berlari mengejar Jeno. "Mobil gue ada di bagasi...!" seru Mikel.


"Ya...!!"


"Apa kita perlu memberitahu Gara?" tanya Mikel.


"Jangan. Yang ada kita nanti malah susah. Sorry, bukan gue menghina Gara. Tapi dengan keterbatasan yang Gara miliki. Bukankah lebih baik dia tidak perlu tahu. Lagi pula, belum tentu juga Bulan dalam bahaya." ujar Jevo.


"Benar juga. Siapa tahu bu Bulan hanya membutuhkan tenaga bantuan." sahut Mikel.


Keduanya berusaha berpikir positif. Meski kenyataannya apa yang ada dalam benak mereka tak sama dengan apa yang mereka katakan.


Jeno mengendari mobil dengan perasaan tak tenang. Rapalan do'a untuk Bulan dia panjatkan dalam hati.


"Tuhan, semoga Bulan baik-baik saja."


Meski dalam hatinya, Jeno merasakan sesuatu yang memang tidak baik-baik saja. Seperti sebuah ikatan batin, dimana Jeno merasa jika terjadi sesuatu yang serius pada sang pujaan hati.


Sedangkan Arya, melajukan mobilnya dengan kencang. Dirinya tentu saja tidak ingin kehilangan mobil yang dikendarai Jeno, sebab Jeno pergi terlebih dahulu.


"Itu dia." ujar Arya, menambah kecepatannya. Untuk mengekor tepat di belakang mobil Jeno.


"Mau kemana sih Jeno?" tanya Arya pada dirinya sendiri. Sebab Jeno dari tadi melewati jalanan yang sepi dan gelap.


"Merinding juga gue." cicit Arya, saat kanan dan kiri jalan yang dia lalui hanya ada pohon serta tanaman liar lainnya. Dan sama sekali tidak ada lampu penerangan.


Jeno berbelok ke arah kanan saat ada perempatan. "Ini,,,," ujar Arya, saat dia merasa tak asing dengan jalan yang akan dia lalui.


Arya teringat, saat dirinya yang selalu ditugaskan untuk memantau misi dari layar komputer. "Tempat ini tidak jauh dari tempat Timo membuang jasad dokter Vinc." gumam Arya.


Perasaan Arya semakin tak karuan. "Kenapa Jeno menuju ke sini. Bu Bulan,,,, semoga baik-baik saja."


Arya melihat Jeno menghentikan mobilnya. Juga demikian dengan Arya.


"Bulan." Jeno langsung memeluk tubuh Bulan.


Jeno menangkup kedua pipi Bulan. "Kamu kenapa sayang?" tanya Jeno khawatir melihat wajah Bulan yang pucat.


"Bu Bulan...!!" seru Arya.


Sampainya di tempat yang Bulan beritahu, Jeno dan Arya masih menemukan Bulan dalam keadaan sadar. Meski kondisi tubuh Bulan tak seperti biasanya. Wajah pucat, dengan suhu tubuh panas. Serta Bulan terlihat lemas.


"Bawa kakek ini ke villa. Dia kakek Timo. Segera. Kemungkinan besar Timo akan ke sini, setelah sadar apa yang terjadi." lirih Bulan, dengan keringat di sekujur tubuhnya.


"Bulan,,, apa yang terjadi?! Katakan, aku harus apa?" Jeno dengan cemas memeluk tubuh Bulan.


"Aku terkena racun yang dipasang Timo." cicit Bulan.


Arya dan Jeno langsung terkejut. Tanpa berpikir panjang, Jeno mengangkat tubuh Bulan. Dan Arya segera membuka pintu mobil Jeno bagian depan.


"Elo bawa bu Bulan, selamatkan dia. Biar kakek itu gue yang urus." ujar Arya.


Tak ingin membuang waktu, Jeno melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


Dan Arya, segera membuka pintu mobilnya. "Beruntung gue bawa mobil." cicit Arya, menggendong kakek Timo untuk di masukkan ke dalam mobil.


Arya merinding menatap sekitar. "Gue harus segera pergi. Jangan sampai ketahuan Timo. Hancur sudah rencana kita." Arya menyalakan mesin mobil, dan memacu kuda besi tersebut untuk menuju ke villa milik Mikel. Bergabung dengan yang lain.


__ADS_2